Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang


diperlukan untuk menjalani kehidupannya. Lewat pendidian manusia ditempa
menjadi seorang pemikir dan dapat hidup di masyarakat. Jika dunia pendidikan
suatu bangsa sudah buruk maka kekalahan dalam persaingan segala aspek akan
kalah terutama pada persaingan posisi sumber daya manusia.
Disebutkan dalam (UU RI No 20 Tahun 2003:1) tentang sistem
pendidikan Nasional pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilih kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, bangsa, dan Negara.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan dan mencetak lulusan yang siap
menjadi tenaga kerja yang terampil dan mempunyai keterampilan-keterampilan
dalam bidang tertentu sesuai dengan minat dan bakat serta berkesempatan untuk
melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pendidikan kejuruan melatih siswa
untuk menguasai kompetensi dan kemampuan yang dibutuhkan dalam dunia kerja
sebagai modal pengembangan diri.
SMK Negeri 2 Surakarta merupakan salah satu sekolah kejuruan yang ada
di Kota Surakarta yang ingin mewujudkan SMK sebagai pencetak sumber daya
manusia yang kompeten dibidang tekhnologi dan industri. Salah satu tujuan dari
sekolah ini adalah menyiapkan peserta didik berkualitas untuk memasuki dan
mengisi dunia kerja. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut maka membutuhkan
pembelajaran yang mampu mengembangkan kualitas siswa.
Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya SMK Negeri 2
Surakarta terdiri dari banyak sekali mata pelajaran, pada program keahlian Teknik
Pemesinan salah satu mata pelajaran yang diajarkan adalah Mekanika Teknik,
Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin .
2

Mata pelajaran Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin .


sebagai salah satu mata pelajaran di SMK mempunyai peran pendukung yang
sangat penting dalam bidang pengetahuan siswa yang nantinya akan diterapkan
pada saat masuk ke dunia kerja. Mata pelajaran Mekanika Teknik, Teknologi
Mekanik dan Elemen Mesin merupakan langkah awal bagi siswa untuk maju ke
peralatan pemesinan yang lebih canggih dan modern sesuai dengan perkembangan
zaman. Namun, pada kenyataannya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran
Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin masih terbilang kurang
optimal apabila dibandingkan minat siswa pada saat mengikuti kegiatan praktik
bengkel permesinan. Hal ini dilihat dari hasil observasi pada saat kegiatan
pembelajaran masih banyak siswa yang kurang menanggapi penjelasan guru.
Selain hasil observasi permasalahan itu juga didapat dari hasil wawancara guru
mata pelajaran. Kurangnya minat belajar siswa ini karena pada proses
pengajarannya cendrung menggunakan model pembelajaran konvensional.
Berdasarkan masalah yang tertera di atas, perlu dikembangkan suatu
model pembelajaran yang dapat memberikan jalan keluar yaitu model
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif
untuk meningkatkan minat belajar siswa karena pembelajaran kooperatif
menuntut semua siswa aktif dalam proses belajar dan harus selalu memperhatikan
temannya untuk dapat berkompetisi dengan kelompok lain. Sehingga
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa karena
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja
sama dalam memecahkan masalah dan berpikir kritis.
Model pembelajaran kooperatif yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament). Model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model
pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh
siswa tanpa harus ada perbedaan status, peran siswa sebagai tutor sebaya dan
mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan
permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT (Teams
3

Games Tournament) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks akan tetapi
bertanggung jawab. Disamping itu dapat menumbuhkan sikap kerja sama,
persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Kelebihan model TGT (Teams Games
Tournament) yang lain yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri, kekompakan
hubungan antar anggota kelompok, waktu kegiatan belajar mengajar terasa lebih
singkat dan minat belajar para siswa lebih optimal.
Metode TGT merupakan pembelajaran sambil bermain maka metode ini
dianggap sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Belajar sambil bermain
tidak selalu berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Penyajian materi
yang melibatkan siswa aktif dalam belajar dan bermain bersama kelompoknya
diharapkan mampu memberi kontribusi pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Sasaran dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar
siswa pada mata pelajaran Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen
Mesin , yang dapat tercapai bila materi pelajaran dapat dikemas menjadi pelajaran
yang menarik dan mudah dimengerti melalui penyampaian materi dengan metode
yang sesuai. Relevansi metode belajar dengan materi ajar perlu diperhatikan oleh
guru, agar siswa dapat dengan mudah memahami materi ajar. Diharapkan dengan
model pembelajaran TGT pada proses pembelajaran Mekanika Teknik, Mekanika
Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin dan Elemen Mesin dapat
meningkatkan minat belajar siswa dan tidak merasa bosan lagi serta dapat aktif
dalam belajar Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan
Elemen Mesin dan Elemen Mesin.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dirumuskan judul
penelitian: “Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin
dan Elemen Mesin, Mekanika Teknik Dan Elemen Mesin Melalui
Pembelajaran Kooperatif TGT (Teams Games Tournament) Di Kelas X TM-
D Smk N 2 Surakarta Tahun Ajaran 2017/2018”.
4

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat
disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut: apakah penggunaan model
pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) efektif meningkatkan minat
belajar siswa pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik, Mekanika Teknik,
Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin dan Elemen Mesin di Kelas X TM-C
SMK N 2 Surakarta Tahun Ajaran 2017/2018?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa pada Mata
Pelajaran Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen
Mesin dan Elemen Mesin di Kelas X TM-C SMK N 2 Surakarta Tahun Ajaran
2017/2018
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Guru:
Menyajikan sebuah pilihan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang dapat
diatasi melalui penerapan model pembelajaran TGT (Teams Games
Tournament).
2. Siswa
Memberikan pengalaman secara nyata kepada siswa melalui penerapan model
pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) sebagai perangsang
munculnya keberanian bertanya dan menyampaikan pendapat. Memberikan
suasana baru dalam pembelajaran sehingga minat belajar siswa meningkat.
3. Sekolah
Menyusun program peningkatan kualitas pembelajaran Mata Pelajaran
Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin
dan Elemen Mesin pada tahap berikutnya
5

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka
Untuk menghindari salah pengertian dalam memahami judul penelitian ini,
maka peneliti akan mengemukakan berbagai teori dari beberapa ahli, tentang
definisi dari beberapa istilah yang erat kaitannya dengan masalah yang akan
diteliti.
Dalam penelitian ini peneliti telah melakukan kegiatan kajian pustaka yang
meliputi kegiatan mencari, membaca, mengevaluasi dan menganalisis teori-teori
yang sesuai dengan permasalahan. Landasan teori yang peneliti gunakan meliputi:

1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Istilah dalam Bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR).
Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu
sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas. Penelitian tindakan kelas
adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan
subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuri, atau suatu
usaha seorang untuk memahami apa yang sedang terjadi sambil terlibat dalam
sebuah proses (Komara E. & Anang M. 2016:72).
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu hal yang penting untuk
membantu guru dalam hal memahami lebih baik tentang pembelajarannya,
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan, sekaligus dapat melakukan
tindakan untuk meningkatkan belajar siswa (Darmadi, 2015:11)
Kemmis dalam Komara E. & Anang M. (2016:73) Menyatakan bahwa
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan upaya untuk memperbaiki atau
merubah suatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) sebagai penelitian yang dilakukan untuk membantu guru
mengatasi permasalahan di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan
6

untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa


menjadi meningkat. Dalam model penelitian ini, si peneliti (guru) bertindak
sebagai pengamat (observer) sekaligus sebagai patisipan.

b. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Dalam Darmadi (2015:11) ada beberapa tujuan dari Penelitian tindakan
kelas, yaitu:
1. PTK bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran di
sekolah. Membantu guru dan tenaga kependidikan hanya memperoleh
masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam serta di luar sekolah,
2. PTK bertujuan meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga
kependidikan,
3. PTK bertujuan menumbuhkembangkan budaya di lingkungan sekolah
dan Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), sehingga tercipta
sikap produktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan
pembelajaran secara berkelanjutan ,
4. PTK bertujuan meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga
kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK dan
5. PTK bertujuan meningkatkan kerjasama profesional antara pendidik dan
tenaga kependidikan di sekolah dan Lembaga Pendidikan Tenaga
Keguruan (LPTK).

2. Pengertian Belajar
Pengertian belajar telah mengalami perkembangan secara evolusi, sejalan
dengan perkembangan cara pandang dan pengalaman para ilmuwan. Pengertian
belajar dapat didefinisikan sesuai dengan nilai filosofis yang dianut dan
pengalaman para ilmuwan dalam membelajarkan peserta didiknya. Belajar
menurut teori Aqib (2013:66) diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku.
Perubahan tersebut disebabkan oleh seringnya interaksi antara stimulus, respon,
dan kemampuan dalam melakukan respon terhadap stimulus yang datang kepada
dirinya. Kegiatan belajar cendrung diketahui sebagai suatu proses psiologis,
7

terjadi dalam diri seseorang. Oleh karena itu, sulit diketahui dengan pasti
bagaimana terjadinya (Sardiman, 2014:29).
Belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosio menuju
keperkembangan pribadi seutuhnya. Namun realitas yang dipahami oleh sebagian
besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggapnya properti sekolah,
kegiatan belajar selalu dikaitkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagian besar
masyarakat belajar disekolah adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan.
Anggapan tersebut tidak seluruhnya salah, sebab seperti dikatakan Rober, belajar
adalah proses mendapatkan pengetahuan (Suprijono, 2013:3). Pengertian belajar
yang dikemukakan Hamzah B. Uno (2007:22) bahwa belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu
kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan dan usaha untuk mengubah tingkah
secara keseluruhan. Perubahan tersebut disebabkan oleh seringnya interaksi antara
stimulus, respon, dan kemampuan dalam melakukan respon terhadap stimulus
yang datang kepada dirinya.

3. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan sejumlah siswa
sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.
Dalam pembelajaran kooperatif, belajar belum dikatakan selesai jika salah
satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran (Isjoni,
2013:14-15). Pentingnya kerjasama dalam menyelesaikan tugas dan
terciptanya persaingan sehat antar individu maupun kelompok akan terlihat
dalam model pembelajaran kooperatif (belajar bekerja sama). Tugas
kelompok memacu siswa untuk bekerja bersama-sama dan saling membantu
satu sama lain dalam menggabungkan pengetahuan-pengetahuan baru
dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
8

Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam


menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk kerja sama pada suatu tugas
bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan guru (Daryanto, 2012:241-242).
Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran
dimana upaya-upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang
pencapaian tujuan individu lain guna mencapai tujuan bersama. Dengan kata
lain, pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran yang
menggunakan pendekatan melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama
dan memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar
(Fathurrohman, 2015: 45).
Menurut Panitz dalam Suprijono (2012:54) pembelajaran kooperatif
adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kelompok termasuk
bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau yang diarahkan oleh guru.
Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru,
dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta
menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirangcang untuk membantu
peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya
menetapkan ujian tertentu pada akhir tugas.
Teknik pembelajaran kooperatif sangat sesuai didalam sebuah kelas
yang berisi siswa-siswa yang mempunyai berbagai tingkat kecerdasan.
Pembelajaran kooperatif memerlukan kemahiran sosial dalam penggunaan
dan arahan yang penting untuk mengerjakan tugas secara kelompok (Isjoni,
2013:20-21).
Dari berbagai hal penjelasan dan pendapat ahli di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai
suatu pendekatan mengajar dimana murid bekerja sama antara satu sama
lain dalam kelompok belajar yang kecil untuk menyelesaikan tugas individu
9

atau kelompok yang diberikan dan diarahkan oleh guru. Belajar belum
dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
bahan pelajaran.
b. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif
Dalam pemebelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi
dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir
kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberikan kesempatan untuk
menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai
kemampuan kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain
(Daryanto dan Mulyo, 2012:242).
Stahl dalam Isjoni (2013:35) menjelaskan dengan melaksanakan
pembelajaran kooperatif, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan
dalam belajar, disamping itu juga bisa melatih siswa untuk melatih
keterampilan siswa, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun
keterampilan sosial (social skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan
pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerjasama, rasa setia
kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam
kehidupan kelas.
Jarolimek dan Parker dalam Isjoni (2013:35) mengatakan keunggulan
yang diperoleh dalam pembelajaran koopertaif adalah :
1) Saling ketergantungan yang positif,
2) Adanya pengakuan dalam merespon individu,
3) Siswa dilibatkan dalam perancangan dan pengelolaan kelas,
4) Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan,
5) Terjadinya hubungan hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru,
dan
6) Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman
emosi yang menyenangkan.
10

Sedangkan untuk kelemahan pembelajaran kooperatif dalam Isjoni


(2013:36) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif bersumber pada dua
faktor, yaitu faktor dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern).
Faktor dari dalam (intern) yaitu:
1) Guru harus menyiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu
memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu,
2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan
dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai,
3) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecendrungan
topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak
yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan
4) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini
mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
4. Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Turnament (TGT)
a. Pengertian Teams Games Turnament (TGT)
Metode TGT dikembangkan pertama kali oleh David De Vries dan Keith
Edward dan dikembangkan lagi oleh Slavin untuk membantu siswa mereview
dan menguasai materi pelajaran. Slavin menemukan bahwa TGT berhasil
meningkatkan skill-skill dasar, pencapaian, interaksi positif antar siswa, harga
diri, dan sikap penerimaan pada siswa lain yang berbeda (Huda, 2014:197).
Karakteristik pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT)
memunculkan adanya kelompok dan kerjasama dalam belajar, selain itu juga
terdapat persaingan antar kelompok maupun individu. Teams Games
Tournament (TGT) lebih banyak dipilih karena faktor menyenangkan dan
waktu relatif lebih singkat, jadi guru tidak harus menjelaskan materi secara
maraton lagi tetapi cukup dengan mengarahkan dan membimbing siswa.
Dalam Rusman, (2014:224) menyatakan TGT adalah satu pembelajaran
kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang
beranggotakan 5-6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan
suku atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam
11

kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan


LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama
dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak
mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain
bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum
mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.
Menurut Saco dalam Rusman, (2014:224) pada TGT siswa memainkan
permainan dengan anggota-anggota tim yang lain untuk memperoleh skor bagi
tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis
berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran kadang-
kadang juga dapat diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan
kelompok (identitas kelompok mereka).
Permainan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis
pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa, misalnya, akan mengambil
salah satu kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab
pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus
memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian)
untuk menyumbangkan poin ke kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak
pintar dan soal yang tidak terlalu sulit untuk anak yang kurang pintar. Hal ini
dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor pada
kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat
berperan sebagian penilaian alternatif atau dapat pula sebagai review materi
pembelajaran (Rusman, 2014:224).
Aktivitas ini mendorong siswa untuk bermain sambil berpikir, bekerja
dalam suatu tim dan kompetitif terhadap tim yang lain(Warsono & Hariyanto,
2012:197). Dengan TGT, siswa akan menikmati bagaimana suasana turnamen
itu, dan karena mereka berkompetisi dengan kelompok-kelompok yang
memiliki komposisi kemampuan yang setara, maka kompetisi dalam TGT
terasa lebih fair dibandingkan dengan kompetisi dalam pembelajaran-
pembelajaran tradisional pada umumnya.
12

b. Prosedur Teams Games Turnament (TGT)


Slavin dkk dalam Huda (2014:116-117) menjelaskan penerapan TGT
mirip dengan STAD dalam hal komposisi kelompok, format instruksional, dan
lembar kerjanya.bedanya, jika STAD fokus pada komposisi kelompok
berdasarkan kemampuan, ras, etnik, dan jenis kelamin, maka TGT umumnya
fokus hanya pada level kemampuan saja. Selain itu jika STAD yang digunakan
adalah kuis maka dalam TGT istilah tersebut biasanya berganti menjadi game
akademik.
Dalam Huda, (2014:198) penentuan kelompok dilakukan secara
heterogen dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Membuat daftar rangking akademik siswa,
2) Membatasi jumlah maksimal anggota setiap tim adalah 4 siswa,
3) Menomeri siswa mulai yang dari atas (misalnya 1,2,3,4,5,6,7,8,9 dan
seterusnya), dan
4) Membuat setiap tim heterogen dan setara secara akademik, dan jika
perlu keragaman itu dilakukan dari segi jenis kelamin, etnis, agama,
dan sebagainya.
Teknis pelaksanannya mirip dengan STAD, setiap siswa ditempatkan
dalam satu kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemmpuan rendah,
sedang, dan tinggi. Dengan demikian, masing-masing anggota kelompok
memiliki anggota comparable. Komposisi ini dicatat dalam tabel khusus (tabel
turnamen), yang setiap minggunya harus diubah. Dalam TGT setiap anggota
ditugaskan untuk mempelajari materi terlebih dahulu bersama-sama dengan
anggota kelompok yang lain, lalu mereka diuji secara individual melalui game
akademik. Nilai yang mereka peroleh dari game ini akan menjadi skor
kelompok mereka masing-masing (Huda, 2013:117).
Warsono & Hariyanto (2012:198) juga menjelaskan sintaks atau cara
kerja dalam model pembelajaran TGT sebagai berikut:
1) Sama dengan struktur STAD hanya sebagai pengganti kuis, guru
melaksanakan permainan.
13

Permainan biasanya dilakukan dengan menggunakan meja-meja,


setiap meja mewakili tim yang berbeda. Permainan terdiri dari
sejumlah pertanyaan yang dirancang guru untuk mengetahui sejauh
mana pengetahuan siswa tentang konten kurikulum tertentu.
Permainan berupa kartu-kartu yang diberi nomer, setiap siswa
perwakilan tim mengambil kartu soal tersebut dan berusaha
menjawabnya. Setiap tim diberi kesempatan untuk berlatih.
2) Turnamen merupakan struktur terkait pelaksanaan permainan tersebut.
Biasanya dilaksanakan pada minggu terakhir setiap bulan. Untuk
turnamen pertama, guru menetapkan siapa yang bertanding pada meja
permainan. Guru juga menetapkan tiga siswa peringkat atas dari setiap
tim untuk duduk di meja 1, tiga siswa berikutnya, juga mewakili
timnya duduk di meja 2 dan seterusnya. Dengan demikian, setiap meja
akan diisi oleh siswa yang berkompetensi seimbang.
3) Pada minggu kedua siswa boleh berpindah meja bergantung kepada
kinerjanya pada turnamen minggu pertama tersebut. Pada prinsipnya
pemenang dari setiap meja naik ke meja yang lebih tinggi berikutnya.
4) Skor tim yang dihitung berdasarkan seluruh anggota tim.

c. Komponen Utama Teams Games Turnament (TGT)


Menurut Slavin (2015: 166) Teams Games Tournament (TGT) dibagi
menjadi beberapa komponen-komponen yaitu:
a. Presentasi di Kelas
Materi dalam TGT pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di
dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali
dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga
memasukkan presentasi audiovisual.
b. Tim
Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian
dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas.
Fungsi utama dari tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-
14

benar belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan


anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik.
c. Game
Permainan adalah fakta yang dianalisis untuk memahami proses
prilaku dalam permainan, pilihan keputusan masing-masing dalam bertindak
atau berkata menjadi kesimpulan sebagai pembelajaran memproduksi diri
sendiri. Menggunakan permainan untuk membangkitkan energi dan
keterlibatan. Permainan juga sangat berguna untuk membentuk poin-poin
dramatis yang jarang peserta lupakan (Silberman, 2009:21).
Gamenya terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang isinya relevan yang
dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari
presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Permainan dalam model
pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat berupa permainan yang mudah dan
banyak dikenal. Dalam penelitian ini permainan yang akan digunakan yaitu
kuis. Setelah guru memberikan materi dan masing-masing kelompok telah
mencoba permainan kuis, guru menentukan juara dari kegiatan tersebut.
Nilai dari masing-masing kelompok kemudian dirangking.
d. Turnamen
Turnamen adalah sebuah struktur di mana game berlangsung.
Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru
memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok
terhadap lembar kegiatan. Pada turnamen siswa dibagi kelompok secara
homogen yang masing-masing mewakili tim yang berbeda, guru menunjuk
siswa berprestasi tinggi pada meja 1, berikutnya siswa berprestasi sedang
pada meja 2, dan seterusnya. Hubungan antara tim heterogen dan meja
turnamen homogen dapat dilihat pada Gambar 2.1 Penempatan pada Meja
Turnamen. Penentuan turnamen dilakukan secara homogen dengan langkah
sebagai berikut:
a) Menggunakan daftar rangking yang telah dibuat sebelumnya,
15

b) Membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari


4-6 siswa,
Menentukan setiap anggota dari masing-masing kelompok
berdasarkan kesetaraan kemampuan akademik, jadi ada turnamen yang
khusus utuk kelompok pandai, dan ada turnamen yang khusus untuk
kelompok-kelompok yang lemah secara akademik. (Huda, 2014:198).

e. Penghargaan (Rewards)
Pemberian penghargaan (Rewards) berdasarkan pada rerata point yang
telah diperoleh dari permainan. Teams yang memperoleh nilai atau skor
tertinggi adalah team yang menjadi juara atau pemenang. Jenis permainan
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuis. Kuis adalah bentuk
permainan atau pikiran dimana para pemain (sebagai individu atau dalam
tim) upaya untuk menjawab pertanyaan dengan benar. Kuis yang digunakan
dalam model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT) ini selain ada unsur permainannya juga ada unsur pendidikannya.
Permainan kuis dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, siswa
akan berlomba-lomba untiuk dapat menemukan jawaban yang benar
sehingga akan muncul persaingan yang sehat.
16

d. Kelebihan dan kekurangan model Teams Games Tournament (TGT)


Menurut Shoimin (2007: 207-208) menjelaskan kelebihan dan
kekurangan model Teams Games Tournament (TGT) sebagi berikut :
1. Kelebihan:
a. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas
(berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran,
tetapi peserta didik yang berkemampuan akademis lebih rendah juga ikut
aktif dan mempunyai peran penting dalam kelompoknya.
b. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan
dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.
c. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat
dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru
menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok
terbaik.
d. Dalam pembelajaran peserta didik ini, membuat peserta didik lebih
senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa
turnamen dalam model ini.
2. Kekurangan:
a. Membutuhkan waktu yang lama.
b. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik. Misalnya, membuat
soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan
akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga terendah.

5. Minat Belajar
a. Pengertian Minat
Minat atau interest senatiasa erat hubungannya dengan perasaan individu,
obyek, aktivitas dan situasi. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “minat”
berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah yang tinggi
terhadap sesuatu; keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Sesuatu itu bisa
benda, bisa juga interaksi dengan benda tersebut. Minat merupakan penggerak
17

untuk melakukan sesuatu. Minat, adalah kata benda abstrak. Minat tak bisa
ditimbang, tak bisa di depa tak bisa di pandang. Minat adalah aspek psikis
manusia. Minat ada pada setiap manusia.
Slameto dalam Wahyudin, Sutikno, dan A. Isa (2010) Minat termasuk
faktor intrinsik yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang.
Seseorang yang berminat pada suatu mata pelajaran, maka akan cenderung
bersungguhsungguh dalam mempelajari pelajaran tadi. Sebaliknya, seseorang
yang kurang berminat terhadap suatu pelajaran, maka ia akan cenderung
enggan mempelajari pelajaran tadi. Minat sangat berhubungan dengan sikap
seseorang. Minat juga merupakan suatu fungsi jiwa untuk mencapai sesuatu.
Pada setiap orang, minat berperan sangat penting dalam kehidupannya.
Minat mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap orang tersebut.
Di dalam belajarpun minat dapat menjadi sumber motivasi yang kuat dalam
mendorong seseorang untuk belajar. Minat dapat diartikan pula sebagai suatu
kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang,
aktivitas, atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai
dengan perasaan senang (Yayat S, 2009:8).
Minat adalah gejala psikologis yang menunjukan bahwa minat adanya
pengertian subyek terhadap obyek yang menjadi sasaran karena obyek tersebut
menarik perhatian dan menimbulkan perasaan senang sehingga cenderung
kepada obyek tersebut (Agustina, 2011).
Dari berbagai pendapat ahli di atas, dapat diungkapkan dengan singkat
bahwa minat adalah kecenderungan jiwa yang sifatnya aktif dan senantiasa
berhubungan dengan kesadaran, kemauan, kesenangan dan perhatian dalam
bidang atau aktivitas tertentu yang bersangkut paut dengan dirinya.

b. Indikator Minat Belajar


Menurut Slameto (2010: 180) beberapa indikator minat belajar yaitu:
perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, dan keterlibatan siswa.
18

1. Perasaan Senang
Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang terhadap pelajaran
tertentu maka tidak akan ada rasa terpaksa untuk belajar. Contohnya
yaitu senang mengikuti pelajaran, tidak ada perasaan bosan, dan hadir
saat pelajaran.
2. Ketertarikan
Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap ketertarikan pada
sesuatu benda, orang, kegiatan atau bias berupa pengalaman afektif yang
dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Contoh: keinginan dalam mengikuti
pelajaran serta tidak menunda tugas dari guru.
3. Penerimaan
Penerimaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia proses atau cara
menerim. Penerimaan merupakan perasaan yang menerima tanpa adanya
rasa keterpaksaan. Dalam pembelajaran siswa dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran merasa dengan senang hati tanpa adanya rasa keterpaksaan
untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
4. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan obyek yang mengakibatkan orang
tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan
dari obyek tersebut. Contoh: aktif dalam diskusi, aktif bertanya, dan aktif
menjawab pertanyaan dari guru.

B. Penelitian yang Relevan


Ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan strategi pembelajaran untuk
meningkatan minat belajar siswa. Penelitian tersebut menunjukan adanya
pengaruh antar model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament). Seperti
yang dilakukan oleh :
1. Sridayu 2017, UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI
BELAJAR PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI MEKANIK
MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TGT (TEAMS GAMES
TOURNAMENT) DI KELAS X TMC SMK N 5 SURAKARTA TAHUN
19

AJARAN 2016/2017. Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan


perbandingan hasil tindakan antar siklus, dapat diketahui bahwa
penggunakan model pembelajaran koopretif tipe Teams Games Tournamet
(TGT) mampu meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa.
Prosentase minat mengalami peningkatan dari tahap pra siklus, siklus I
dan terakhir pada siklus II. Pada tahap pra siklus hasil minat belajar siswa
adalah 41,4% meningkat pada siklus I menjadi 68,8% dan pada siklus II
meningkat lagi menjadi 87,5%. Hal ini menunjukan bahwa prosentase
hasil minat belajar siswa sudah memenuhi indikator keberhasilan minat
belajar siswa yaitu ≤80%. Prosentase hasil prestasi belajar sebelum
tindakan atau tahap pra siklus siswa yang dinyatakan lulus ada 11 siswa
atau 34,4% sedangkan pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang
dinyatakan lulus atau tuntas sebanyak 19 siswa atau 59,4% dari 32 siswa
dan pada siklus II mengalami peningkatan 25% sehingga siswa yang
dinyatakan lulus atau tuntas pada siklus II sebanyak 27 siswa atau 84,4%
dari 32 siswa.
2. DEWI, AGUSTIN KUMALA, 2016, PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT) DISERTAI
VIDEO COMPACT DISK (VCD) DAN TEKA TEKI SILANG (TTS)
UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR KIMIA
PADA MATERI KONSEP MATERI DAN PERUBAHANNYA KELAS X
SMK MUHAMMADIYAH 2 SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014.
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa: (1)
Penerapan metode TGT disertai VCD dan TTS dapat meningkatkan minat
belajar siswa kelas X TKR-2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen pada materi
konsep materi dan perubahannya. Hal ini dapat dilihat dari minat siswa
pada siklus I dan siklus II. Persentase minat belajar siswa pada siklus I
68,78% dan pada siklus II 75,05%. (2) Penerapan metode TGT disertai
VCD dan TTS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas kelas X
TKR-2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen pada materi konsep materi dan
20

perubahannya. Dalam penelitian ini prestasi belajar yang dimaksud adalah


ketuntasan belajar dan prestasi afektif. Pada siklus I, persentase ketuntasan
belajar siswa sebesar 34,38% dan pada siklus II persentase ketuntasan
belajar siswa meningkat 90,62%. Pada aspek afektif, 73,17% pada siklus I
dan 78,33% pada siklus II.

C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah pembelajaran melalui model
kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) mampu merubah pembelajaran
yang semulanya konvensional dimana siswa pasif dan bosan mengikuti pelajaran
Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin dan Elemen Mesin
menjadi lebih berminat sehinga siswa aktif dan penuh perhatian.
Alur kerangka berpikir yang menunjukan pola hubungan antar variabel di
sajikan oleh Gambar 2.2. Kerangka Berpikir.

GURU: Siswa:
Kondisi
Pembelajaran secara Minat Belajar Mekanika
Awal
konvensional Teknik, Teknologi Mekanik
Dan Elemen Mesin Rendah

Penerapan SIKLUS I:
Pemberian
pembelajaran Penggunaan
Tindakan
kooperatif tipe TGT pembelajaran
kooperatif tipe TGT

Penerapan pembelajaran
Kondisi kooperatif tipe TGT dapat SIKLUS II:
Akhir meningkatkan minat belajar Penggunaan
siswa pada mata pelajaran pembelajaran
Mekanika Teknik, kooperatif tipe TGT
Teknologi Mekanik Dan memperbaiki siklus I
Elemen Mesin Rendah

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir


21

Berdasarkan pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa dengan


menggunakan metode pembelajaran TGT dapat meningkatkan minat siswa dalam
menerima materi yang disampaikan oleh guru.

D. Hipotesisi Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah melalui penerapan metode TGT dapat
meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Mekanika Teknik,
Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin dan Elemen Mesin.

BAB III
METODE PENELITIAN
22

A. Tempat Dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X TM-C Sekolah Menengah Kejuruan


(SMK) Negeri 2 Surakarta tahun ajaran 2017/2018.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, mulai dari pengajuan judul
bulan Desember 2017 sampai dengan bulan Mei 2018 diharapkan telah
menyelesaikan laporan penelitan. Rincian tahapan pelaksanaan kegiatan penelitian
dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Bulan
Kegiatan
Des Jan Feb Mar Apr Mei
1. Persiapan Penelitian
a. Koordinasi peneliti dengan
kepala sekolah dan guru mata
pelajaran
b. Diskusi dengan Guru dan
mengobsevasi permasalahan
serta merancang tindakan
c. Menyusun proposal penelitian
d. Seminar proposal
e. Revisi proposal
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Siklus I
 Perencanaan
 Pelaksanaan tindakan
 Observasi
 Refleksi
b. Siklus II
 Perencanaan
 Pelaksanaan tindakan
 Observasi
 Refleksi
3. Analisis Data dan Pelaporan
a. Analisis data
b. Menyusun laporan
B. Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis
penelitian yang digunakan yaitu tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas
23

menurut Carr & Kemmis dalam (Kunandar, 2013:43) menjelaskan bahwa


penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri kolektif yang
dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan sosial mereka serta pemahaman
mereka terhadap praktik-praktik mereka dan terhadap situasi tempat-tempat
praktik-praktik tersebut dilakukan.
Kunandar, (2013:45) dalam penelitian tindakan kelas ada tiga unsur atau
konsep, yaitu:
1) Penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui
metodologi ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk
menyelesaikan suatu masalah.
2) Tindakan adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan
tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki
atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar.
3) Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima
pelajaran yang sama dari seorang guru.
Dalam pelaksanaanya PTK selalu melalui empat tahapan dalam setiap
siklusnya. Mulai dari perencanaan, tindakan, pengumpulan data atau observasi,
refleksi atau menganalisis hasil dari penelitin untuk mengetahui sujauh mana
keberhasilan dari penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan bantuan
guru dan secara kolaborasi antara guru mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan
dengan peneliti yang dilakukan di sekolahan. Guru nantinya akan berperan
sebagai kolaborator dan juga sekaligus sebagai pengamat atau observer.

C. Subjek Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas X TM-C SMK Negeri 2
Surakarta tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah siswa laki-laki 32 orang siswa.
D. Data Dan Sumber Data
Data penelitian adalah hasil pencatatan peneliti atas pengamatannya terhadap
suatu subjek penelitian. Data yang dikumpulkan dalam penelitian meningkatkan
minat belajar siswa dengan menerapkan TGT yaitu data minat belajar.
24

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa peristiwa dan
dokumen. Dengan melakukan pengamatan, peneliti dapat mengetahui
permasalahan-permasalahan selama proses belajar mengajar mata pelajaran
Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin dan
Elemen Mesin. Dokumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa
nama siswa, hasil tes siswa, daftar nilai siswa, silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), dan foto kegiatan pembelajaran.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik atau cara pengumpulan data yang tepat dan baik diperlukan untuk
memperoleh data yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Nana Syaodih
Sukmadinata, (2012:216) menjelaskan ada beberapa teknik pengumpulan data,
yaitu wawancara, angket, observasi, dan studi dokumenter.
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data
meliputi pengamatan atau observasi, dokumentasi, dan wawancara yang masing-
masing secara singkat diuraikan sebagai berikut:

1) Pengamatan Atau Observasi


Pengamatan atau observasi merupakan suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan
yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara
mengajar, siswa belajar, kepala sekolah yang sedang memberi pengarahan,
personil bidang kepegawaian yang sedang rapat.
Pengamatan atau observasi penelitian dapat dilakukan terhadap guru dan
siswa. Observasi terdiri dari dua macam, yaitu observasi untuk siswa dan
observasi untuk guru. Pengamatan terhadap kinerja guru diarahkan pada
kegiatan guru dalam menjelaskan pelajaran, memotivasi siswa, mengajukan
pertanyaan dan menanggapi jawaban siswa, mengelola kelas, memberikan
latihan dan umpan balik, dan melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.
Sementara itu, pengamatan terhadap siswa difokuskan pada tingkat minat
siswa dalam pelajaran dapat dilihat dari 2 aspek yaitu aspek kesediaan
25

memperhatikan (perhatian siswa) dan aspek berpartisipasi/ keterlibatan siswa


(siswa aktif).
Pada penelitian ini observasi dilakukan pada siswa. Observasi untuk
siswa adalah observasi sistemik dimana peneliti bersama guru telah merancang
bentuk instrumen pengamatan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran
beserta aspek-aspek yang akan diteliti. Kerjasama ini sangat membantu peneliti
dalam memfokuskan apa yang akan diteliti. Penelitian ini melakukan
pengamatan kepada siswa kelas X TM-C SMK N 2 Surakarta terhadap minat
belajar pada Mata Pelajaran Mekanika Teknik, Mekanika Teknik, Teknologi
Mekanik dan Elemen Mesin dan Elemen Mesin dengan indikator minat belajar
yang terdiri dari enam aspek dan telah disusun pada lembar observasi yang
akan digunakan pada saat kegiatan belajar mengajar dari mulai pra siklus,
siklus I serta siklus II.

2) Dokumentasi
Dokumentasi pada penelitian ini yaitu pengumpulan dokumen yang
digunakan berupa RPP, daftar nilai yang menunjukan hasil belajar mata
pelajaran Teknologi Mekanik, dan segala arsip yang berkaitan dengan
pembelajaran meliputi data sekolah, data siswa kelas X TM-C dan
dokumentasi rekaman tindakan penelitian.

3) Wawancara
Sugiyono (2015: 194) mengatakan bahwa wawancara digunakan sebagai
teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan
untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti
ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Dalam
rancangan penelitian ini, pihak yang disebut pewawancara adalah peneliti dan
pihak yang terwawancara adalah guru kelas X TM-C SMK Negeri 2 Surakarta
tahun ajaran 2017/2018.
Wawancara akan dilakukan kepada beberapa siswa setelah tindakan
diberikan yaitu sebanyak dua kali setiap kegiatan refleksi setelah akhir siklus,
26

tujuannya untuk mengetahui efektivitas penerapan model pembelajaran TGT


serta kendala-kendala yang dihadapi guru dalam menigkatkan pemahaman
pengefraisan pada pembelajaran Gambar Teknik kelas X TM-C SMK Negeri 2
Surakarta tahun ajaran 2017/2018 pada setiap siklusnya dan dijadikan bahan
perbaikan dalam pelaksanaan siklus selanjutnya.

F. Teknik Uji Validitas Data


Arikunto S. (2010:211) Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Sebuah instrumen
dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat
mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Uji variabel minat belajar pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik
validitas konstruk. Validitas konstruk merupakan hasil pengukuran yang dianggap
mencerminkan konstruk yang meluputi minat, sikap, kemampuan dalam suatu
teori yang dilakukan dengan melihat kesesuaian konstruk indikator variabel minat.
Dikatakan konstruk karena semuanya merupakan konstruksi teoritik yang
digunakan untuk menjelaskan tingkah laku.
Adapun aspek penelitian yang digunakan sesuai dengan teori minat yang
telah tercantum yaitu sebanyak empat aspek, antara lain:
1) Perasaan Senang mengikuti pembelajaran
2) Penerimaan
3) Tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran
4) Terlibat dalam pemecahan masalah.

G. Teknik Analisis Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teknik
statistik deskriptif komparatif, yaitu membandingkan hasil hitung dari statistik
deskriptif.
Hasil data yang digunakan diperoleh dari :

1. Analisis observasi minat belajar siswa


27

Untuk memperoleh prosentase minat belajar siswa dilakukan


pehitungan menggunakan rumus :

P = Σ PI
NI
Keterangan : P = Prosentase Minat
ΣPI = Jumlah Semua Persentase Indikator
X = Banyak Indikator
2. Menghitung nilai rata-rata
Untuk menghitung nilai rata-rata digunakan rumus rata-rata
nilai. Dengan rumus sebagai berikut :
X= Σ X
N
Keterangan : X = Nilai rata-rata
N = Jumlah siswa
ΣX = Jumlah prosentase minat

H. Indikator Kinerja Penelitian


Indikator kinerja memuat acuan atau tolak ukur dalam menentukan
keberhasilan tindakan. Rumusan indikator penelitian ini dapat dilihat pada tabel
3.2 :
Tabel 3.2. Indikator Kinerja Penelitian
Aspek yang Diukur Target Pencapaian Cara Mengukur
Minat Belajar Siswa Mengamati saat pembelajaran dan
dihitung dari jumlah siswa yang
aktif, berpartisipasi, dan mampu
80%
memecahkan masalah dalam proses
pembelajaran baik tahap pengajaran
maupun diskusi
I. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan
dengan bantuan guru. Penelitian ini berupa siklus-siklus pembelajaran. Siklus
dalam penelitian ini terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan dan refleksi.
Prosedur penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.3. Siklus Tindakan Kelas
28

Identifikasi Masalah pada Pra Siklus


dari hasil Observasi

Pelaksanaan Perencanaan Tindakan I


Tindakan I:
Siklus I

Pengamatan I Refleksi I

Berhasil Tidak Berhasil

Pelaksanaan Perencanaan Tindakan


Tindakan II II

Siklus II

Pengamatan II Refleksi II

Lanjutkan siklus berikutnya bila


permasalahan belum terselesaikan

Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas


Pada gambar 3.1 terlihat bahwa penelitian tindakan kelas ini direncanakan
melalui dua siklus yang masing-masing siklusnya meliputi tahap refleksi awal
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Namun demikian jika
setelah dua siklus indikator keberhasilan ketuntasan belum dapat dicapai maka
akan dilakukan siklus selanjutnya dengan tahapan sama dengan siklus pertama
dan kedua sampai dicapainya indikator keberhasilan sebagaimana telah ditetapkan
sebelumnya.
29

Adapun langkah-langkah kegiatan dalam setiap siklus adalah sebagai


berikut :
1. Siklus I
a. Perencanaan
1) Peneliti meminta kesediaan sekolah dan guru mata pelajaran Mekanika
Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin di SMK Negeri 2
Surakarta sebagai mitra PTK.
2) Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran
Mekanika Teknik, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin kelas X TM-D
SMK Negeri 2 Surakarta .
3) Menentukan dan mempersiapkan kelompok secara heterogen untuk
mempersiapkan diri bermain game. Kelompok dibagi berdasarkan
dengan nilai pra siklus, dalam satu kelas ada 6 kelompok. Peringkat 1
sampai 6 di beri tanggung jawab sebagai ketua kelompok dan siswa lain
menyesuaikan sehingga kelompok bisa heterogen.
4) Menentukan dan mempersiapkan kelompok secara homogen untuk
turnamen. Setiap anggota kelompok mewakili kelompoknya di meja
turnamen, pembagian kelompok turnamen berdasarkan nilai pra siklus.
Enam siswa tertinggi nilai pra siklusnyanya dikelompokkan pada meja I,
enam siswa selanjutnya pada meja II, dan seterusnya.
5) Mempersiapkan instrumen penelitian berupa kartu soal, lembar observasi
kegiatan pembelajaran, dan hadiah.
b. pelaksanaan
1) Peneliti bertindak sebagai guru di dalam kelas.
2) Guru mengawali pelajaran dengan berdoa dan dilanjutkan dengan
melakukan presensi kehadiran siswa
3) Guru memberikan sebuah masalah untuk didiskusikan secara kelompok
setelah materi selesai di sampaikan.
30

4) Guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan


pembelajaran Mekanika, Teknologi Mekanik dan Elemen Mesin.
5) Guru membagi kelas dalam 6 kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya
secara heterogen.
6) Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
7) Membantu siswa jika menemui kesulitan.
8) Guru membagi kelompok secara homogen dengan mengambil satu orang
dari tiap-tiap kelompok berdasarkan prestasinya untuk bertanding di meja
turnamen mewakili kelompoknya.
9) Guru memberikan permainan berupa kuis kepada siswa dengan cara
mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, bagi siswa yang
mengangkat tangan terlebih dahulu diberi kesempatan menjawab pertanyaan
tersebut.
10) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki skor
tertinggi.
11) Guru mengajak semua siswa untuk menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
12) Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan mengajak siswa berdoa
dan menyampaikan materi apa yang akan disampaikan pada pertemuan
selanjutnya.
c. Observasi
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, peneliti mengamati dan
menganalisis apa saja kendala yang menghambat proses belajar mengajar.
Pengamatan dilakukan dari awal pelajaran hingga berakhirnya pelajaran. Hasil
observasi selanjutnya di ukur menggunakan lembar observasi yang sudah
dibuat sebelumnya dan selanjutnya melalui pengamatan tadi peneliti dapat
menentukan apa saja perbaikan yang dilakukan pada siklus selanjutnya.
d. Refleksi
31

Tahap ini dilakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang


dilakukan pada siklus 1. Peneliti dan guru menyimpulkan hasil evaluasi tentang
pelaksanaan pembelajaran dan mengidentifikasi masalah serta kendala yang
dialami, respon, dampak siswa terhadap tindakan yang dilakukan pada siklus 1,
hal apa saja yang perlu diperbaiki, dan apa saja yang harus menjadi perhatian
pada tindakan berikutnya. Kemudian data yang dihasilkan dari evaluasi dan
refleksi digunakan untuk membuat revisi pada tindakan siklus berikutnya.
2. Siklus 2
a. Perencanaan Tindakan
1) Memperbaiki hal-hal yang kurang pada siklus I
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament pada mata
pelajaran Teknologi Mekanik kelas X TM-D SMK Negeri 2
Surakarta.
3) Mempersiapkan instrumen penelitian berupa kartu soal, kartu
jawaban, lembar observasi kegiatan pembelajaran, dan soal tes.
b. Pelaksanaan Tindakan
1) Peneliti bertindak sebagai guru di dalam kelas.
2) Guru mengawali pelajaran dengan berdoa dan dilanjutkan dengan
melakukan presensi kehadiran siswa.
3) Guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan
pembelajaran Teknologi Mekanik.
4) Guru membagi kelas dalam 6 kelompok yang sudah ditentukan
sebelumnya secara heterogen.
5) Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
6) Membantu siswa jika menemui kesulitan.
7) Guru membagi kelompok secara homogen dengan mengambil satu
orang dari tiap-tiap kelompok berdasarkan nilai pra siklus untuk
bertanding di meja turnamen mewakili kelompoknya.
32

8) Guru memberikan permainan kepada siswa dengan cara mengangkat


kartu jawaban untuk menjawab pertanyaan, bagi siswa yang
mengangkat kartu jawaban dan jawabannya benar mendapatkan skor.
9) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki skor
tertinggi.
10) Guru mengajak semua siswa untuk menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
11) Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan mengajak siswa
berdoa dan menyampaikan materi apa yang akan disampaikan pada
pertemuan selanjutnya.
c. Observasi
Peneliti melakukan pengamatan pada proses pembelajaran yang telah
dikembangkan pada siklus sebelumnya, kemudian peneliti mengukur hasil
pengamatan sehingga diketahui bahwa tidak perlu dilakukan siklus 3
karena target yang diharapkan sudah tercapai.
d. Refleksi
Pada hasil refleksi dan evaluasi siklus 2 menunjukan adanya peningkatan
hasil belajar, target keberhasilan 80% telah tercapai sehingga memutuskan
untuk tidak perlu melakukan tindakan pada siklus 3 sehingga penelitian ini
hanya dilakukan 2 siklus.
33

Daftar Pustaka
Agustina, R. (2011). Upaya Meningkatkan Minat Belajar Mahasiswa Melalui
Model Pembelajaran Group Investigation Pada Mata Kuliah Pengetahuan
Lingkungan Di Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur. Sains Riset, 1, (2).

Aqib, Z. (2013). Model-model, media, dan strategi pembelajaran kontekstual


(inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT


Rineka Cipta.

B. Uno, Hamzah. 2007. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar


Mengajar yang Kreatif dan Efektif). Jakarta : PT. Bumi Aksara

Darmadi, H. (2015). Desain Dan Implementasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK).


Bandung: CV. Alvabeta

Daryanto, & Mulyo, R. (2012). Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta:Gava


Media.

Fathurrohman, Muhammad. (2015). Model-model Pembelajaran Inovatif.


Jogjakarta: AR-Ruzz Media.

Huda, M. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis


dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Huda, Miftahul. (2013). Model-model Pengajaran Dan Pembelajaran.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Isjoni. (2013). Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi


Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Komara, E. & Mauludin, A. (2016).Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


(PKB) Dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru. Bandung:PT.
Rafika Aditama

Kunandar, (2013). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai


Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Rusman, (2014). Model-model pembelajaran:mengembangkan profesionalisme


guru. Jakarta. PT Rajagrafindo Persada

Sardiman, A. M. (2014) Kharisma Putra Utama Offset. Interaksi dan Motivasi


Belajar- Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
34

Shoimin, Aris. (2016). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.


Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Silberman, M. (2009). Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif.


Yogyakarta:Pustaka Insan Madani

Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:


Rineka Cipta.
Slavin, Robert. (2015). Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media.

Sugiyono. (2015). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif,


kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, cv

Sukmadinata, N.S. (2012). Metode penelitan pendidikan. Bandung. PT Remaja


Rosdakarya
Suprijono, A. (2012). Cooperative Learning teori dan aplikasi PAIKEM..
Jogyakarta: Pustaka Pelajar
Wahyudin, Sutikno, & A. Isa. (2010) Keefektifan Pembelajaran Berbantuan
Multimedia Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan
Minat Dan Pemahaman Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 6, 59.

Warsono, & Haryanto. (2012). Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Yayat, S. (2009). Hubungan Antara Sikap, Minat dan Perilaku Manusia. Region,
Volume I. No. 2, 8.