Anda di halaman 1dari 2

Commentary 2 SP5106.

Pembiayaan Sektor Publik


Rian Fahminuddin (24019003)

Public Goods and Publicly Provided Private Goods


& Efficiency and Equity

Dalam bukunya (Stiglitz. 1986 : 102) barang publik (public goods) barang yang dicirikan oleh
konsumsi non-saingan (non-rival) dan tidak dapat dikecualikan (non-excludability). Setuju dengan pernyataan
tersebut, karena non-saingan (non-rival) bermaksud bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang
tidak akan mengurangi kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut, sehingga setiap
orang dapat mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi manfaat yang diperoleh orang lain.
Dan memang seharusnya barang publik memiliki sifat seperti itu. Satu lagi ciri dari barang publik yaitu non-
excludability, yang berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi
siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut.. Salah satu contoh barang publik murni adalah
pertahanan nasional. Setiap warga negara mendapatkan perlindungan tanpa mengurangi jatah perlindungan
yang lain (non-rivalry) dan juga setiap warga negara mendapatkan perlindungan tanpa terkecuali (non-
excludability). Pada beberapa kondisi, meski barang tersebut merupakan non-rivalry tapi memungkinkan
dilakukan pengecualian bagi siapa yang menggunakan, sebagai salah satu contoh adalah siaran TV kabel. Pada
kenyataannya barang-barang non-rival yang mengharuskan penggunanya mengeluarkan biaya tertentu, akan
mengalami penurunan konsumsi (under-consumption). Namun penyediaan barang non-rival yang tidak ada
penarikan biaya tertentu kepada pengguna, juga akan mengalami kekurangan suplai (under-supply) akibat
peningkatan pengguna karena merasa bebas menggunakan tanpa harus mengeluarkan biaya tertentu. Disinilah
perlu adanya strategi khusus dari dari penyedia barang, dalam hal ini pemerintah. Sebagai contoh adalah
penyediaan jembatan. Pada penyediaan jembatan menganut prinsip bahwa mereka yang mendapat manfaat
dari jembatan harus menanggung biayanya, sehingga diperlukan partisipasi dari para pengguna dalam rangka
mendukung ketersediaan barang publik tersebut, salah satunya dengan penarikan pajak. Dengan adanya
kebijakan penarikan pajak, maka akan terjadi sebuah keseimbangan dari penyedia barang dan pengguna yang
merasakan manfaatnya. Satu hal yang menjadi perhitungan adalah tentang adanya free riders problem
(masalah pengguna gratis), yaitu para pengguna yang enggan membayar biaya yang ditetapkan, namun turut
merasakan manfaat dari barang tersebut, yang mengakibatkan terjadinya penumpukan jumlah pengguna, yang
melebihi dari jumlah kapasitas.
Ekonomi kesejahteraan erat kaitannya dengan kriteria untuk mengevaluasi alternatif kebijakan
ekonomi yang diambil, yang mana perlu memperhitungkan efisiensi dan ekuitas. Banyak pendekatan-
pendekatan ketika Perbaikan Pareto tidak tercapai, yang menurut saya pendekatan tersebut merupakan upaya
yang efektif dalam penyelesaian masalah ini.
Commentary 2 SP5106. Pembiayaan Sektor Publik
Rian Fahminuddin (24019003)

Pertanyaan :
1. Adanya pengguna gratis (free ride problem) tentu saja akan berpotensi mengurangi manfaat yang
dirasakan bagi pengguna lain yang bersedia membayar pajak tertentu maupun dan merugikan penyedia
barang, dalam hal ini pemerintah, dikarenakan biaya pemeliharaan yang kemungkinan mengalami
peningkatan dengan adanya pengguna yang berlebih. Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah terkait
adanya free ride problem ini?
2. Pendapatan yang dihasilkan dari sebuah individu berbeda satu dengan yang lainnya, mengakibatkan
perspektif tentang besarnya jumlah uang juga berbeda-beda. Sistem pemungutan pajak seperti apa yang
seharusnya dilakukan dengan pandangan yang berbeda tentang uang dari individu satu dengan yang
lainnya, agar tercipta efisiensi dan keadilan?