Anda di halaman 1dari 2

Commentary 11 SP5106.

Pembiayaan Sektor Publik


Rian Fahminuddin (24019003)

Principles and Forms of Public-Private Partnership

Dalam buku Kim, Julie, New Cities Foundation (2016) secara umum partisipasi sektor swasta
dalam infrastruktur dapat didefinisikan sebagai tindakan mengurangi peran tradisional pemerintah dan
meningkatkan peran lembaga swasta dalam menyediakan infrastruktur yang diperlukan untuk melayani
kepentingan publik. Terdapat banyak bentuk partisipasi swasta dalam infrastruktur dengan beragam
implikasi pembiayaan, tetapi umumnya terbagi dalam dua kategori utama: delegasi dan divestasi.
Public-Private Partnership (P3) atau Kemitraan publik-swasta ini adalah model penyampaian
infrastruktur khusus di mana tanggung jawab keuangan utama berada di sektor swasta. Di bawah P3,
pemerintah memberikan entitas swasta (disebut pemegang konsesi) hak eksklusif dalam bentuk
waralaba jangka panjang atau sewa (disebut konsesi) untuk menyediakan layanan infrastruktur spesifik
kepada publik. Privatisasi yang juga disebut penjualan aset atau transfer aset, merupakan cara lain di
mana pembiayaan sektor swasta dapat memainkan peran penting. peran dalam menyediakan layanan
infrastruktur dasar. Privatisasi umumnya dicapai dengan melepaskan, yaitu pengalihan kepemilikan
dengan menjual aset infrastruktur yang beroperasi penuh yang berada dalam domain publik ke sektor
swasta.
Di Indonesia, privatisasi bukanlah hal yang baru karena telah menjadi kebijakan pemerintah
sejak era Suharto dan bahkan telah menjadi faktor utama penyebab keterpurukan perekonomian
nasional. Konsep kebijakan privatisasi sebetulnya merupakan bagian dari kebijakan deregulasi secara
umum dan kelanjutan proses deregulasi itu sendiri. Pada kasus privatisasi di Indonesia, kebijakan
tersebut lahir dan berawal dari keterpurukan perekonomian Indonesia akibat krisis moneter yang telah
berkembang menjadi krisis multidimensi dan mengakibatkan BUMN-BUMN mengalami kesulitan
untuk meneruskan usahanya, sehingga perlu adanya usaha untuk menyelamatkan BUMN-BUMN
tersebut agar tetap eksis.
Kebijakan privatisasi masa Pemerintahan Soeharto yang dimulai pada 1980-an dinilai telah gagal
dalam mewujudkan tujuan dan misi utamanya. Beberapa hal yang dapat diperkirakan sebagai penyebab
kegagalan privatisasi pada era tersebut, antara lain: arah pembangunan lebih ditekankan pada
pertumbuhan daripada pemerataan, tujuan privatisasi lebih ditekankan kepada usaha mencari modal
tanpa mempertimbangkan cita-cita pembangunan perekonomian sebagaimana diamanatkan oleh UUD
1945 Pasal 33, pemerintah tidak konsisten dalam penetapan bidang usaha yang boleh diusahakan oleh
pihak swasta asing, mekanisme usaha serta perangkat hukum yang ada tidak menjamin terciptanya
kompetisi yang fair, bahkan cenderung lebih memberikan perlindungan serta keuntungan kepada
investor asing. Dari berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan, jelas bahwa privatisasi yang telah
berlangsung selama masa itu telah melenceng dari maksud dan tujuan yang sesungguhnya, yang pada
akhirnya telah menghancurkan perekonomian Indonesia.
Privatisasi tujuan mulanya merupakan upaya mengurangi keterlibatan langsung Pemerintah
dalam urusan ekonomi. Diharapkan, pemerintah dapat lebih fokus pada fungsi regulasi. Dengan
hadirnya swasta dalam kepemilikan saham BUMN, hal ini akan menghambat campur tangan semena-
mena dari berbagai pihak sehingga kinerja BUMN dapat ditingkatkan. Dalam perjalanannya, privatisasi
BUMN di Indonesia selalu mengundang pertentangan dan perdebatan yang panjang. Hal tersebut tidak
terlepas dari segala kecurangan dan kurangnya transparasi dalam proses dan pelaksanaannya. Salah satu
contoh adalah kasus divestasi PT Indosat yang menimbulkan kekisruhan. Proses divestasi tersebut tidak
saja kurang transparan, tetapi juga berbau kecurangan di sana sini, baik berkaitan dengan teknis proses
tender maupun dalam penentuan harga jual yang tidak realistis.
Commentary 11 SP5106. Pembiayaan Sektor Publik
Rian Fahminuddin (24019003)

Pertanyaan :
1. Privatisasi menjadi jalan yang dilematis apabila tidak memiliki dukungan dan akseptabilitas. Sebagai
suatu kebijakan publik, tentu saja proses privatisasi harus dapat mengadopsi aspek-aspek berupa
dukungan politik dan akseptabilitas publik. Bagaimana cara menyelaraskan antara dua aspek
tersebut agar dalam implementasinya dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat dan tidak
mengundang kontroversi dan pertentangan?
2. Bagaimanakah kondisi ideal untuk melakukan privatisasi di Indonesia?