Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020

p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

Studi Karakteristik Sifat Kualitatif Dan Morfometrik Induk Ayam Kampung Dengan
Berbagai Tipe Jengger Di Pulau Lombok
(A Study on Characteristic of Qualitative Traits And Morphometric Of Kampung Chickens
With Various Comb-Types In Lombok Island)
Lestari, Maskur, R. Jan, Tapaul Rozi , Lalu M. Kasip, M. Muhsinin
Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Jl. Majapahit Mataram Lombok. Nusa Tenggara Barat.
83125
Email: taribambang@yahoo.com
Diterima : 5 Maret 2020/Disetujui : 18 Mei 2020

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman sifat kualitatif dan morfometrik
induk ayam kampung berdasarkan tipe jengger di Pulau Lombok. Materi yang digunakan yaitu
induk ayam kampung yang dipelihara secara tradisional sebanyak 417 ekor. Metode yang
digunakan yaitu survei. Penentuan lokasi dilakukan secara purposif sampling dan pengambilan
sampel dilakukan secara random sampling. Data kualitatif meliputi tipe jengger, warna bulu,
warna kulit, warna kaki. Data morfometrik meliputi tinggi jengger, panjang shank, panjang
tibia, panjang femur, jarak antar tulang pubis, jarak antara tulang pubis dengan tulang dada dan
bobot badan. Data dianalisis menggunakan analisis statistik sederhana. Hasil penelitian
menemukan 4 (empat) tipe jengger walnut 36.45 persen, tunggal 30.45 persen, pea 24.46 persen
dan rose 8.64 persen. Warna bulu yaitu hitam, keemasan, lurik dan putih. Warna bulu putih
hanya ditemukan pada ayam jengger pea. Warna cuping telinga yaitu merah dan putih. Warna
shank yaitu hitam, putih dan kuning. Warna kulit yaitu kuning dan putih. Morfometrik ayam
kampung tertinggi dicapai ayam tipe jengger rose yaitu tinggi jengger 12.16 + 2.78mm, panjang
shank 74.26 + 11.62mm, panjang tibia 88.47 + 11.87mm, panjang femur 82.11 + 12.45mm,
jarak dua tulang pubis 35.95 + 7.32mm, jarak tulang pubis dengan tulang dada 54.74 + 9.86mm
dan bobot badan 1658.19+339.63gram.
Kata kunci : sifat kualitatif, morfometrik, induk, ayam kampung, tipe jengger.
ABSTRACT
This study aimed to identify the diversity of qualitative and morphometric traits of Kampung
chickens based on the comb-types in Lombok Island. Four hundred and seventeen Kampung
chickens that are maintained traditionally were used in this study. The method used was a
survey. The determination of location was done by purposive sampling, and samples taken were
selected by random sampling. Qualitative data included comb-type, fur color, skin color, and
foot color. Morphometric data included comb height, shank length, tibia length, femur length,
the distance between pubic bones, the distance between the pubic bone and breastbone and body
weight. Data were analyzed using simple statistical analysis. The results show that there were
4 (four) types of comb namely walnut comb (36.45 percent), single (30.45 percent), pea (24.46
percent) and rose (8.64 percent). Fur colors found were black, golden, striated and white. White
fur color was only found in pea combs. The earlobe colors were red and white. Shank colors
were black, white and yellow. The skin colors were yellow and white. The highest
morphometrics of Kampung chicken was found in chickens with the type of rose comb which
showed comb height of 12.16 + 2.78mm, shank length of 74.26 + 11.62mm, tibia length of
88.47 + 11.87mm, femur length of 82.11 + 12.45mm, distance of two pubic bones of 35.95 +
7.32mm), distance between the pubic bone and breastbone of 54.74 + 9.86mm and body weight
of 1658.19 + 339.63gram.
Keywords: qualitative trait, morphometrics, hen, Kampung chicken, comb-type.

24
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

PENDAHULUAN Ridhwan (2012) menyatakan


Ayam kampung merupakan ternak bahwa pada makhluk hidup terjadi
unggas andalan yang mempunyai potensi keberagaman pada perbedaan warna,
tinggi dalam menyambung ketersediaan ukuran, bentuk, jumlah, tekstur,
pangan asal hewan dalam bentuk daging penampilan dan sifat-sifat lainnya.
dan telur ayam. Ayam kampung banyak Iskandar dkk. (1991) yang disitasi Melani
digemari konsumen karena memiliki cita (2010) menyatakan bahwa keragaman
rasa yang khas dan dapat ditemukan di karakteristik ayam kampung sebagai
berbagai wilayah di Indonesia. Ayam informasi dalam membangun tatalaksana
kampung di pulau Lombok memiliki pemeliharaan secara khusus di setiap
kontribusi besar sebagai bahan dasar ayam daerah. Tampilan individu ditentukan oleh
Taliwang, yaitu produk pangan lokal di kemampuannya dan kesempatan yang ada
Kota Mataram. Permintaan ayam (Hardjosubroto,1994).
Kampung untuk ayam Taliwang terus Ayam kampung sebagai ayam
meningkat pada setiap restoran yaitu yang tidak mempunyai ciri-ciri khas
sebanyak 585 ekor/hari (Akhsan,1995), tertentu, saat ini banyak terlihat
400 ekor/hari (Awaludin, 2012) serta berkeliaran di desa-desa di Indonesia.
1.372.800 kg/hari (Zaenuri, dkk., 2016). Sartika dkk. (2013) yang disitasi Mayora
Ayam kampung merupakan ternak (2017) mengemukakan bahwa ayam
unggulan daerah dan nasional, yang juga kampung merupakan hasil domestikasi
merupakan kekayaan alam dunia. Oleh ayam hutan merah dengan fenotip dan
karena itu Indonesia mempunyai tanggung genotip yang sangat beragam.
jawab moral untuk melestarikan Keragaman sifat fenotip dan
sumberdaya genetik ternak unggas lokal genotip dapat dilihat dari bentuk jengger.
secara mantap dan berkelanjutan. Menurut Jengger sebagai identitas potensi produksi
Zein dan Sulandari (2008), akibat dan reproduksi ayam kampung. Jengger
pemotongan yang tidak diimbangi yang tumbuh dan berkembang dengan
peningkatan produksi, ayam kampung baik menunjukkan kinerja produksi dan
Lombok mengalami deversitas genetic reproduksi yang tinggi. Menurut Lestari,
dan ekspansi populasi yang sangat tinggi. dkk. (2007) dan Subekti dan Arlina
Eksploitasi spesies flora dan fauna (2011), ada empat macam tipe jengger
berlebihan akan menimbulkan kelangkaan ayam kampung yaitu rose, pea, walnut
dan kepunahan spisies (Sutoyo, 2010). dan tunggal. Ukuran dan tekstur jengger
Upaya melestarikan unggas lokal sangat penting untuk seleksi bibit. Jengger
dilakukan dengan memperhatikan habitat yang tumbuh dan berkembang dengan
asli dan pewilayahannya terutama untuk baik menunjukkan kinerja produksi dan
sistem penangkaran insitu, yaitu reproduksi yang tinggi. Di dalam
mempertahankan populasi dan genetik keragaman produksi dan reproduksi ayam
dihabitat aslinya secara terprogram. kampung terdapat sifat-sifat unggul, yang
Pelestarian sumberdaya genetik unggas mungkin dapat dimanfaatkan di masa
lokal dapat dilaksanakan apabila telah mendatang.
diidentifikasi karakteristiknya Suatu metode pengukuran
(Samariyanto, 2005). terhadap variasi dan perubahan bentuk

25
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

serta ukuran tubuh dari suatu organisme dari daerah penelitian tersebut
disebut morfometri (Zelditch et al., 2004). (Singarimbun dan Efendi, 1989).
Pengukuran morfometrik dapat membantu
proses seleksi dan perkawinan silang HASIL DAN PEMBAHASAN
ternak antar bangsa maupun jenis Sifat kualitatif dan morfometrik
(Kurnianto et al., 2013). Penelitian ini ayam kampung di Pulau Lombok sangat
merupakan langkah awal dalam variatip. Sartika dan Iskandar (2007)
menentukan kriteria seleksi yang tepat menyatakan bahwa ayam kampung
untuk pelaksanaan program seleksi atau sebagai ayam yang tidak mempunyai ciri-
perbaikan mutu yang berkelanjutan. ciri khas tertentu. Warwick et al. (1995)
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyatakan bahwa penampilan suatu sifat
mendapatkan data karakteristik sifat-sifat tergantung pada gen-gen yang dimiliki
kualitatif dan morfometrk produksi ayam ternak, tetapi keadaan lingkungan yang
Kampung yang dipelihara secara menunjang diperlukan untuk memberikan
tradisional di Pulau Lombok berdasarkan kesempatan penampilan suatu sifat secara
tipe jengger. penuh. Faktor genetis menjadi perhatian
METODE PENELITIAN utama untuk memperbaiki kualitas ternak,
yakni seleksi menuju satu tujuan antara
Alat dan Bahan lain seleksi kearah produksi daging dan
Alat yang digunakan yaitu jangka telur (Samariyanto, 2005).
sorong merk Modern kapasitas 30 cm
dengan kepekaan 0.01cm; timbangan Sifat kualitatif (Tabel 1) meliputi
elektronik merk Camry kapasitas 5 kg tipe jengger, warna bulu, warna cuping,
dengan kepekaan 0.01 kg dan kamera HP warna shank dan warna kulit. Hasil
merk Samsung Galaxy A6. Materi yang penelitian menemukan empat macam tipe
digunakan adalah ayam kampung betina jengger yaitu walnut (36.45%), tunggal
dewasa yang dipelihara secara tradisional (30.45%), pea (24.46%) dan rose (8.64%).
se pulau Lombok sebanyak 417 ekor, dan Suryo (1994) menyatakan bahwa William
jantan sebanyak 395 ekor. Bateson dan R.C. Punnet mengawinkan
ayam Wyandotte berjengger mawar (R-
Metode pp) dengan ayam Brahma berjengger ercis
Penelitian dilakukan (rrP-) mendapatkan F1 berjengger walnut
menggunakan metode survey di lima (P-R-). Kemudian ayam-ayam F1 tersebut
daerah yaitu Kota Mataram, Lombok dibiarkan kawin sesamanya menghasilkan
Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur F2 dengan empat macam jengger yaitu
dan Lombok Utara. Setiap daerah diambil walnut, mawar, ercis tunggal. Jengger
3 kecamatan, setiap kecamatan diambil 3 mawar ditentukan oleh gen dominan R,
desa, setiap desa diambil 3 dusun dan jengger ercis oleh gen dominan P. Jengger
setiap dusun diambil 3 peternak yang walnut (P-R-) dan tunggal (pprr)
memiliki ayam kampung betina dewasa. merupakan jengger baru. Jull (1951) yang
Pemilihan lokasi dilakukan secara disitasi Syakir (2018) menyatakan bahwa
purposive sampling, yaitu cara jengger ros dan kapri bersifat dominan
pengambilan daerah penelitian dengan terhadap jengger tunggal. Jika gen ros dan
mempertimbangkan alasan yang diketahui Pea bertemu maka akan terbentuk jengger

26
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

walnut yang dominan terhadap jengger tunggal, seperti yang dimiliki ayam Hutan
rose, pea dan tunggal, jengger walnut yang Merah, ayam Hutan Abu-Abu dan ayam
dominan terhadap jengger ros, kapri, dan Hutan Ceylon. Lebih lanjut dijelaskan
tunggal. bahwa selama domestikasi terjadi mutasi
Williamson dan Payne (1993) sehingga ada perubahan-perubahan
menyatakan sebagian besar ayam bentuk jengger di antaranya bentuk rose,
didomestikasi memiliki bentuk jengger pea, walnut, V dan bahkan tidak
berjengger sama sekali.

Tabel 1. Sifat Kualitatip dan Morfometrik Ayam Kampung Di Pulau Lombok


VARIABEL TIPE JENGGER
Pea Rose Walnut Tunggal
(24.46%) (8.64%) (36.45%) (30.45%)
Sifat Kualitatip :
- Warna bulu :
a. Hitam (%) 7.19 1.67 10.55 8.39
b. Liar (%) 2.91 1.24 6.23 4.09
c. Emas (%) 3.11 2.15 4.84 5.51
d. Lurik (%) 6.23 1.91 8.36 5.51
e. Abu (%) 1.19 1.67 6.47 6.95
f. Putih (%) 3.83
- Warna Cuping :
a. Merah (%) 17.5 4.79 22.3 18.46
b. Putih (%) 6.96 3.85 14.15 11.99
- Warna Shank :
a. Hitam (%) 2.39 3.11 11.51 11.51
b. Putih (%) 5.99 2.18 11.03 8.64
c. Kuning 16.08 3.35 13.9 10.31
- Warna Kulit :
a. Kuning (%) 9.59 4.79 15.78 14.14
b. Putih (%) 14.87 3.85 20.67 16.31
Morfometrik :
- Tinggi Jengger (mm) 9.60 + 2.4 12.16 + 2.78 6.04 + 3.21 9.91 + 3.66
- Panjang shank (mm) 73.96 + 10.14 74.26 + 11.62 71.77 + 9.83 73.74 + 10.92
- Panjang Tibia (mm) 86.77 + 14.18 88.47 + 11.87 85.65 + 12.85 87.56 + 13.17
- Panjang Femur (mm) 82.08 + 12.54 82.11 + 12.45 75.84 + 13.27 81.09 + 15.49
- Jarak dua tl pubis (mm) 35.25 + 8.16 35.95 + 7.32 35.64 + 7.03 35.60 + 7.72
- Jarak tl pubis- dada (mm) 51.27 + 12.76 54.74 + 9.86 50.39 + 11.73 52.12 + 13.26
Bobot badan (gr) 1464.26+293.58 1658.19+339.63 1646.92+297.89 1492.93+371.26
Sumber : data primer (2019)

Induk ayam kampung berjengger menyebabkan bulu lurik dan gen I/W+
walnut paling banyak ditemukan yaitu menyebabkan warna bulu putih (Untari
sebesar 36,45%. Warna bulu ayam dkk., 2013).
jengger walnut sangat variatip. Warna Ayam kampung merupakan ayam
bulu hitam paling banyak ditemukan yaitu Indonesia yang masih memiliki gen asli
sebanyak 7,19%, diikuti warna lurik sebanyak lebih kurang 50% dengan ciri-
6.23%, putih 3.83%, keemasan 3,1%, liar ciri pola bulu liar (e+), kerlip bulu
2,91dan abu 1,19%. Warna bulu hitam keemasan (ZS), warna shank hitam (Zid)
dipengaruhi oleh gen E, sedangkan gen e+

27
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

dan bentuk jengger pea (P), sedangkan oleh keturunan berkulit kuning dan
50% sisanya merupakan campuran dari makanan yang mengandung xantophyl.
bangsa ayam unggul Eropa dan Amerika Ayam kampung dengan jengger
seperti Australope, New Hampshire, tipe walnut memiliki tinggi jengger,
White Cornish, Rhode Island Red, White panjang shank, panjang tibia, panjang
Leghorn dan Barred Plymouth Rock femur, jarak antara dua tulang pubis dan
(Nishida et al.,1980). jarak tulang pubis dengan tulang dada
Warna cuping telinga sebanyak paling pendek dibandingkan tipe jengger
17,5% berwarna merah dan 6.96% lain. Tinggi jengger dapat digunakan
berwarna putih. Khaeruddinsyah (2018) untuk mengetahui sifat produksi ayam.
menyatakan bahwa rata-rata persentase Mukhtar dan Khan (2012) menyatakan
warna cuping telinga ayam kampung bahwa sifat-sifat produksi ayam petelur
betina didominasi warna merah (92,59) berkorelasi positif dengan ukuran jengger.
persen. Menurut Crawford (1990), Semakin tinggi ukuran jengger, maka
sebagian besar breed ayam mempunyai semakin banyak hormon reproduksi yang
cuping telinga berwarna merah, tetapi tersimpan (Tarigan, 2010).
breed dari kelas mediteranean (Leghorn, Mansjoer (1985) menyatakan
Minorca, dan Spanish) mempunyai cuping bahwa panjang shank merupakan penduga
berwarna putih. Bangsa-bangsa ayam paling tepat untuk bobot badan.
Mediteranean bercuping telinga putih Pertumbuhan tulang berkaitan erat
adalah tipe ayam petelur (Syakir, 2018). dengan pertumbuhan otot pada ayam.
Sedikitnya ayam kampung yang Tulang tibia memiliki ukuran yang lebih
bercuping telinga putih karena nenek panjang dari tulang femur. Tulang tibia
moyang ayam Mediteranean sudah punah berkorelasi positip dengan bobot badan
dan sekarang menjadi ayam kelas Asia (Sartika, 2007). Semakin panjang tulang
(Tarigan, 2010). femur maka semakin banyak daging yang
Warna shank didominir warna melekat (James,1990) yang disitasi
kuning yaitu sebanyak 16,08%, diikuti Khaeruddinsyah ( 2018).
warna putih sebanyak 5,99% dan hitam Yuwanta (2004) menyatakan
sebanyak 2,39%. Warna shank kuning bahwa tulang pubis digunakan untuk
dipengaruhi oleh adanya pigmen mendeteksi produksi telur. Jarak ideal
karotenoid pada epidermis dan tidak ukuran tulang pubis pada ayam kampung
adanya pigmen melanin pada epidermis yaitu sekitar dua jari orang dewasa yang
maupun dermis. Apabila kedua pigmen artinya jika dibuat dalam satuan ukuran
tersebut tidak ada, maka shank berwarna mm sekitar 30,00 mm. Semakin panjang
putih (Ensminger, 1992). Individu dengan jarak tulang pubis maka kemampuan
cakar berwarna putih/kuning dipengaruhi ayam bertelur semakin baik (Tarigan,
oleh gen Id, sedangkan cakar hitam 2010).
dipengaruhi gen id (Somes, 1988).
Jarak antara tulang pubis dengan
Warna kulit didominir warna putih tulang dada digunakan untuk menduga
yaitu sebesar 14,87% dan warna kuning kemampuan produksi telur. Ayam yang
hanya 9,59%. Menurut Crawford (1990) telah memasuki fase produksi memiliki
bahwa warna kulit kuning disebabkan

28
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

jarak antara tulang pubis dengan tulang KESIMPULAN DAN SARAN


dada sekitar 3-4 jari orang dewasa. Kesimpulan
Kemampuan produksi yang tinggi dapat Sifat kualitatif dan morfometrik
dilihat setelah memasuki fase layer dan ayam kampung di Pulau Lombok sangat
masa puncak produksi, untuk mengetahui beragam. Terjadi introgresi (pemasukan
kemampuan bertelur dengan produksi darah) ayam ras unggul luar negeri.
tinggi dapat digunakan hubungan lebar Ditemukan 4 tipe jengger Pea (24.46),
antara lebar tulang pubis dengan tulang Rose (8.64), Walnut (36.45) dan Tunggal
dada sebagai acuan untuk menyeleksi (30.45). Mormometrik tertinggi terdapat
ayam yang potensial sebagai penghasil pada ayam tipe jengger rose.
telur yang baik (Khairul,2016).
Saran
Ayam berjengger walnut memiliki Keragaman sifat kualitaif dan
bobot badan 1.646,92 + 297,89gr hampir morfometrik ayam kampung di Pulau
sama dengan ayam jengger rose yang Lombok dapat digunakan sebagai bahan
mencapai bobot badan tertinggi seleksi untuk perbaikan mutu genetik
1.658,19+339.63. Buwono, (2007) yang berkelanjutan. Seleksi yang tepat
menyatakan bahwa bobot badan diharapkan akan terjadi respon yang
dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas positif untuk meningkatkan heritabilitas.
pakan yang dikonsumsi. Banyaknya
pakan yang dikonsumsi akan memberikan DAFTAR PUSTAKA
pengaruh terhadap pertambahan bobot Agustina, D; Iriyanti, N dan Mugiyono, S.
badan yang dihasilkan. Kandungan zat-zat 2013. Pertumbuhan dan Konsumsi
pakan yang seimbang dan cukup sesuai Pakan pada Berbagai Jenis Itik
dengan kebutuhan sangat diperlukan
Lokal Betina yang Pakannya
untuk pertumbuhan yang optimal.
disuplementasi Probiotik. Jurnal
Menurut Kurniawan, dkk (2012) bahwa
Ilmiah Peternakan, 1(2): 691-698
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
yaitu faktor genetik, jenis kelamin, umur, Akhsan. 1995. analisa Permintaan Ayam
penyakit dan manajemen pemeliharaan. Kampung oleh Pedagang Ayam
Bakar (Goreng) Kaki Lima di
Menurut Daryono dkk. (2012) Kodya Dati II Mataram. Skripsi.
ayam tipe pedaging umumnya mengacu Fakultas Peternakan. UNRAM.
pada prtumbuhan otot. Masa percepatan
Mataram.
pertumbuhan terjadi sebelum ternak
mengalami pubertas (dewasa kelamin) Buwono, F. A. 2007. Pengaruh Tingkat
yang kemudian setelahnya terjadi Protein Pakan dan Frekuensi
perlambatan (Agustina, dkk, 2013). Pada Pemberian Pakan terhadap Kinerja
ayam petelur dengan berat badan pre-layer Itik Mojosari (Anas Domesticus)
yang lebih tinggi akan bertelur lebih cepat Jantan Periode Awal. Skripsi.
dibanding ayam dengan berat badan Universitas Brawijaya Malang.
sedang maupun ringan (Yusri, 2015).

29
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

Crawford, R.D. 1990. Origin and Kurniawan, L.A; Atmomarsono, U dan


Historyof Poultry Spesies. Dalam Mahfudz, L. D. 2012. Pengaruh
R.D. Crawford (ed) : Poultry berbagai Frekuensi Pemberian
Breeding and Genetics. Pp. : 239 – Pakan dan Pembatasan Pakan
256. Elsevier Science Publishing terhadap Pertumbuhan Tulang
Company. Inc. Canada. Ayam Broiler. Jurnal Agromedia,
Daryono, B.S., R. Satriya, Z. Rohmah dan 30 (2): 14—22.
Y. Erwanto. 2012. Penguatan Lestari; Rahma Jan dan N.Kt.D.Haryani.
Industri Bibit Unggas Nasional 2007. Kontribusi Gen Na terhadap
Melalui Produksi Indukan Gama Kualitas Daging Ayam Taliwang.
Ayam Lokal Unggul. Jurnal Ilmu Laporan Penelitian. Fakultas
Pengetahuan dan Teknologi Tepat peternakan UNRAM.
Guna. UGM. ISSN 2089-2721. Mansjoer, S.S. 1985. Pengkajian Sifat-
Ensminger, M.A. 1992. Poultry Science sifat Produksi Ayam Kampung
(Animal Agriculture Series). 3th serta Persilangannya dengan
Edition. Interstate Publisher, Inc. Rhode Island Red. Disertasi.
Danville, Illinois. Fakultas Psca Sarjana Institute
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pertnian Bogor. Bogor.
Pemuliaan Ternak Di Lapangan. Mayora,W.I. 2017. Performa Ayam Kub
Grasindo. Jakarta. Periode Starter Pada Pemberian
Khaeruddinsyah. 2018. Fenotipe Ayam Ransum dengan Protein Kasar
Kampung Di Kecamatan Alas, yang Berbeda. Skripsi. Jurusan
Alas Barat, Dan Utan Kabupaten Peternakan, Fakultas
Sumbawa. Publikasi Ilmiah. PertanianUniversitas Lampung
Progam Studi Peternakanprogram Melani, 2010. Karakteristik Sistem
Studi Peternakanfakultas Pemeliharaan Ayam Kampung
Peternakanuniversitas Mataram Dan Ayam Leher Gundul Di
Mataram. Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Skripsi. Fakultas Peternakan
Khairul, R. 2016. Hubungan Antara Lebar
Tulang Pubis Dengan Tulang Dada Institut Pertanian Bogor.
Terhadap Bobot Telur, Indeks Mukhtar, N. dan S.H. Khan. 2012. Comb
Telur, Dan Jumlah Produksi Telur : An Important Reliable Visual
Strain Lohmann Brown. Thesis, Ornamental Trait For Selection on
Universitas Brawijaya. Chicken. World’s Poult. Sci. Vol.
Kurnianto, E., S. Sutopo, E. Purbowati, 68 : 425 -431.
E.T. Setiatin, D. Samsudewa and
T. Permatasari. 2013. Multivariate
analysis of morfphological traits of
local goats in Central Java-
Indonesia. Iranian J. App. Anim.
Sci. 3 (2):361- 367.

30
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

Nishida,T., K. Nozawa, Y.Hayasi, Sutoyo, 2010. Eksploitasi spesies flora


T.Hsyiguchi and S.S. Mansjoer. dan fauna berlebihan akan
1982. Body Measurement and menimbulkan kelangkaan dan
Analysis On Eksternal Genetic kepunahan spisies. Buana Sains
Characters of Indonesian Native Vol 10 N0 2: 101-106, 2010.
Fowl. The Orig. Ang Phy. Of Ind. Syakir, A. 2018. Identifikasi Karakteristik
Nat. Liv. III : 73 - 83 Sifat Kualitatif Ayam Gaga Di
Ridhwan, M. 2012. Tingkat Kabupaten Sidrap Sulawesi
Keanekaragaman Hayati Dan Selatan. Skripsi. Universitas
Pemanfaatannya Di Indonesia. Hasanudin.
Jurnal Biology Education Vol 1, Tarigan, R.T. 2010. Karakteristik Sifat
No 1 (2012) Kualitatif Dan Kuantitatif Ayam
Samariyanto. 2005. Arah Pengembangan Walik Di Sumedang Dan Bogor.
Pembibitan Ayam Lokal di Skripsi. Departemen Ilmu
Indonesia Prosiding Lokakarya Produksi Dan Teknologi
Nasional Inovasi Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan
Pengembangan Ayam Institut Pertanian Bogor.
Lokal . Puslitbang Peternakan Warwick, E.J., J.M. Astuti dan W.
Sartika T. dan S. Iskandar. 2007. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan
Mengenal Plasma Nutfah Ayam Ternak. Edisi kelima. Gadjah
Indonesia dan Pemanfaatannya. Mada University Press,
Edisi pertama. Balai Penelitian Yogyakarta.
Ternak, Bogor. Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993.
Singarimbun, M. dan S. Efendi. 1989. Pengantar Peternakan di Daerah
Metodelogi Penelitian Survei. Tropis (Diterjemahkan oleh
LP3ES: Jakarta.Halaman 156 _ S.G.N.D. Darmadja). Edisi ke-1.
Somes, N. 1988. Molecular Evolutionary Gadjah Mada University Press.
Genetics. Columbia University Yogyakarta.
Press, New York. Yusri. 2015. Performa Ayam Ras Petelur
Subekti, K. dan F. Arlina. 2011. Pada Periode Awal Bertelur
Karakteristik Genetik Eksternal Dengan Kombinasi Berat Badan
Ayam Kampung di Kecamatan Pre-Layer Dan Pemberian Jumlah
Sungai Pagu Kabupaten Solok Pakan Yang Berbeda. Skripsi.
Selatan. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Fakultas Peternakan Universitas
Peternakan. November 2011. Vol. Hasanuddin. Makassar.
XIV. No. 2. Yuwanta. T. 2004. Dasar Ternak Unggas.
Suryo.1994. Genetika. Gadjah Mada Penerbit Kanisius Yogyakarta.
University Press.

31
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Indonesia Volume 6 (1) 24 - 32; Juni 2020
p-ISSN: 2460-6669 e- ISSN: 2656-4645

Zaenuri, A. Zaini, W. Werdiningsih dan T.


Sjah. 2016. Keragaman Pangan
Lokal Di Pulau Lombok untuk
Menunjang Pengembangan
Pariwisata. Agritech. Vol. 36, No.
2. Maret 2016.
Zein, M.S.A dan Sulandari, S. 2008.
Keragaman Genetik Ayam
Lombok Berdasarkan Sekuen D-
LOOP DNA Mitokondria. Jurnal
Ilmu Ternak dan Veteriner.
13(4):307-314.
Zelditch, M.; D. Swiderski; D.H. Sheets;
and W. Fink. 2004. Geometric
Morphometrics for Biologists: A
Primer. Academic Press, New
York.

32