Anda di halaman 1dari 18

KELEMBAGAAN PENYULUH PERTANIAN

DI INDONESIA

Makalah Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyuluhan Pertanian

Oleh:
Dasep Abdul Rahman
NPM. 41185009120007

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM “45”
BEKASI
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufiq dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kelembagaan Penyuluh Pertanian di Indonesia“.
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyuluhan
Pertanian pada Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam “45”
Bekasi. Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan mengingat kemampuan penulis sangat terbatas, oleh karena itu
kritik dan saran-saran membangun akan penulis terima.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih atas segala
bantuan, bimbingan, dan saran kepada:
1. Ir. H. Wardiawan, MM., M.Si. selaku dosen mata kuliah Penyuluhan
Pertanian yang telah memberikan tugas dan pengarahan dalam proses
pembuatan makalah yang dilakukan penulis.
2. Secara khusus untuk keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan moril
maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
3. Rekan-rekan faperta serta semua orang yang telah membantu penulis dalam
penyelesaian makalah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pembaca.

Bekasi, Oktober 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I. PENDAHULUAN1
1
1
1
BAB II. PEMBAHASAN4
2.1 Definisi Pertanian organik4
2.2 Syarat-syarat Pertanian Organik5
2.3 Manfaat Pertanian Organik6
2.4 Peran Penyuluh Pertanian terhadap Pertanian Organik9
BAB III PENUTUP11
3.1 Simpulan11
iv

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan
Pertanian, Perikanan dan Kehutanan telah mengamanahkan pembentukan
kelembagaan penyuluhan secara berjenjang dari pusat hingga kecamatan, Pasal 18
menyebutkan “ketentuan lebih lanjut mengenai kelembagaan penyuluhan
sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat (2) diatur dengan peraturan presiden.
Amanah undang-undang diupayakan sesegera mungkin untuk dapat
diimplementasikan, namun apa daya hingga pembahasan yang tercatat telah lebih
dari empat puluh dua kali, kehadiran regulasi ini yang dinantikan masih
menggeliat dalam penyempurnaan. Pertanyaan mendasar kemudian mencuat,
mengapa kehadiran regulasi ini menjadi sedemikian likat dalam pembahasannya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu mengurai lebih
detail bagaimana Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem
Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan beririsan dengan regulasi lain
dalam penerapannya. Substansi regulasi penyuluhan tersebut memiliki
konsekuensi hukum dan digerakkan melalui peraturan operasional dengan
ekspektasi pewujudan serta perbaikan kelembagaan di tingkat lapang.
Diawali dengan pembahasan internal tiga kementerian, yakni Kementerian
Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Kehutanan,
pembahasannya diinisiasi dengan DIM (daftar inventerisasi masalah) dalam kurun
waktu 2009 sampai dengan 2013. Keterlibatan MenPAN dan BKN intens
menyelingi proses dan selanjutnya draft regulasi kelembagaan penyuluhan
tersebut mengalir kepada pembahasan antarkementerian hingga harmonisasi oleh
Kementerian Hukum dan HAM.
Kondisi kekinian dapat dideskripsikan sebagai berikut, kendatipun belum
terbentuk Peraturan Presiden, namun karena telah diamanatkan Undang-undang
Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan, saat ini dari 34 provinsi, terdapat 22 provinsi yang telah membentuk
Badan Koordinasi Penyuluhan, sementara 9 provinsi membentuk Badan

1
Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, dan 3 provinsi belum membentuk, yaitu DKI
Jakarta, Papua dan Kalimantan Utara.
Kelembagaan penyuluhan di kabupaten kota juga telah banyak dibentuk,
dari 497 kabupaten/kota, 154 sudah membentuk Badan Pelaksana Penyuluhan,
186 membentuk Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, dan 160 belum
membentuk sehingga masih menjadi eselon III pada Dinas. Begitu pula ditingkat
kecamatan, dari 6.900 kecamatan telah terbentuk 5.232 unit, artinya 75 % sudah
terlaksana sampai tingkat kecamatan.
Menilik dari eksisting yang telah ada, maka terbitnya regulasi
kelembagaan ini memiliki urgensi penting yang menaungi keberadaan lembaga
yang telah terbentuk selama ini. Payung hukum yang bersifat operasional sangat
dibutuhkan untuk mereduksi permasalahan ditingkat lapang yang kerap menjadi
batu sandungan dalam pelaksanaan penyuluhan secara integral. Pertama, tanpa
ada regulasi yang jelas, pelaksanaan penyuluhan tidak akan berjalan optimal.
Kedua, memberikan solusi bagi daerah dalam kebijakan penyuluhan secara
sangkil dan mangkus.
Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi
adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang
terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan, namun tidak berarti bahwa setiap
penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri.
Dengan perubahan terminologi pembagian urusan pemerintah yang bersifat
konkuren berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka dalam
implementasi kelembagaan setidaknya terwadahi fungsi-fungsi pemerintahan
tersebut pada masing-masing tingkatan pemerintahan.
Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib,
diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten, dan kota, sedangkan
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat
diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan
daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah.
Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masing-
masing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam
rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat.

2
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah dalam Pasal 22, membagi perumpunan urusan pemerintahan dalam bentuk
dinas atau badan, kantor, inspektorat, dan rumah sakit. Ditinjau dari tugas dan
fungsi penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib bidang
pertanian yang meliputi tanaman pangan, peternakan, perikanan darat, kelautan
dan perikanan, perkebunan dan kehutanan diwadahi dalam bentuk dinas,
sementara penyuluhan dapat dikategorisasi dalam ketahanan pangan yang
notabene penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan sehingga
diwadahi dalam bentuk badan/kantor. Berkorelasi dengan substansi pasal
sebelumnya, dinyatakan pula bahwa perangkat daerah yang dibentuk untuk
melaksanakan urusan pilihan, harus berdasarkan pertimbangan adanya urusan
yang secara nyata ada sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan
daerah.

1.2 Identifikasi Masalah


Untuk mengkaji dan membahas tentang “Kelembagaan Penyuluh
Pertanian di Indonesia”, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa definisi kelembagaan penyuluh pertanian?
2. Bagaimana klasifikasi kelembagaan penyuluh pertanian?
3. Bagaimana peran kelembagaan penyuluh terhadap pertanian di
Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah “Kelembagaan Penyuluh Pertanian
di Indonesia” antara lain:
1. Mengetahui definisi kelembagaan penyuluh pertanian.
2. Mengetahui klasifikasi kelembagaan penyuluh pertanian.
3. Mengetahui peran kelembagaan penyuluh terhadap pertanian di
Indonesia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kelembagaan Penyuluhan


Berdasarkan UndangUndang No.16 Tahun 2006, Kelembagaan
penyuluhan adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai
tugas dan fungsi menyelenggarakan penyuluhan. Kelembagaan penyuluhan terdiri
atas:
a. kelembagaan penyuluhan pemerintah,
b. kelembagaan penyuluhan swasta,
c. kelembagaan penyuluhan swadaya.
Kelembagaan penyuluhan pertanian merupakan salah satu wadah
organisasi yang terdapat dalam dinas pertanian. Kelembagaan pertanian
menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada antara lain:
1. Kebutuhan ketrampilan yang lebih cakap dibanding usaha produk serelia.
2. Tuntutan petani untuk mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas
produknya.
3. Pengetahuan dari berbagai macam sumber.
4. Pembiayaaan organisasi penyuluhan dari pihak swasta yang semula hanya
dari pihak pemerintah.
Penyesuaian dengan kondisi tersebut maka lembaga penyuluhan dalam
menghadapi perubahan tersebut menyikapi dengan:
1. Pengembangan SDM
2. Pengembangan sistem
3. Metode dan materi
4. optimalisasi sarana
5. Prasarana dan alat Bantu
6. Pemberdayaan masyarakat sasaran
7. Pengembangan jaringan kerja serta kemitraan
Kelembagaan badan dinas dan subdinas berdasarkan debirokratisasi
entrepreneurship beureneraey dengan kombinasi minimal empat organisasi yaitu
organisasi administrasi, Vs organisasi teknis dan organisasi structural Vs
organisasi fungsional yang berbeda ciri. Organisasi administrasi di bentuk

4
menyangkut pengurusan tugas-tugas dan fungsi administrasi umum, protokoler,
logistic dan perlengkapan, personil dan kepegawaiaan serta pengawasan internal.
Organisasi bersifat teknis fungsional adalah dinas-dinas dan unit pelaksana
teknis atau unit pelaksana teknis daerah (UPTD). Kelembagaan Struktural
dibentuk karena pelaksanaan tugas pokok dan fungsi lebih banyak mengacu
kepada garis komando yang lazim dilakukan pada organisasi militer. Penyuluhan
pertanian harus memperhaikan hal-hal seperti penghargaan profesinya,
kesejahteraannya serta adanya aturan operasional penyuluhan yang jelas dan
trasparan, dengan kata lain harus memperhatikan karier bagi penyuluhnya. Fungsi
utama dari kelembagaan penyuluhan pertanian adalah sebagai wadah dan
organisasi pengembangan sumberdaya manusia pertanian serta menyelenggarakan
penyuluhan.
Adanya kelembagaan penyuluhan pertanian berdiri sendiri diharapkan
dapat menjamin terselengaranya :
1. Fungsi perencanaan dan penyusunan program penyuluhan di tingkat
Kabupaten Kota dan tersusunnya program di tingkat BPP.
2. Fungsi penyedian dan penyebaran informasi teknologi, model usaha
agrobisnis dan pasar bagi petani di pedesaan.
3. Fungsi pengembangan SDM pertanian untuk meningkatkan produksi,
produktivitas dan pendapatan.
4. Penataan administrasi dan piningkatan kinerja penyuluh pertanian yang
berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.
5. Kegiatan partisipasi petani-penyuluh dan peneliti.
6. Fungsi supervise, monitoring, evaluasi serta umpan balik yang positif bagi
perencanaan penyuluhan kedepan.
Peran kelembagaan di tingkat Kabupaten kota, kecamatan, dan tingkat
kelembagaan petani antara lain:
1. Sebagai Sentra pelayanan pendidikan non-formal dan pembelajaran petani
dan kelompoknya dalam usaha agrobisnis.
2. Sebagai sentra komunikasi, informasi dan promosi teknologi, sarana
produksi, pengolahan hasil peralatan danmodel-model agribisnis.

5
3. Sebagai sentral pengembangan SDM pertanian dan penyuluhan berbasis
kerakyatan, sesuai kebutuhan petani dan profesionalisme penyuluhan
pertanian.
4. Sebagai sentral pengembangan kelembagaan social ekonomi
petani.Sebagai sentra pengembangan kompetensi dan profesionalisme
penyuluh pertanian.
5. Sebagai sentra pengembangan kemitraan dengan dunia usaha agribisnis
dan lainnya.

2.2 Struktur Kelembagaan Penyuluhan


2.2.1 Kelembagaan Penyuluhan Pemerintah
Kelembagaan penyuluhan pemerintah terdiri atas:
a. pada tingkat pusat berbentuk badan yang menagani penyuluhan,
b. pada tingkat provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan
c. pada tingkat kabupaten/kota berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan,
d. pada tingkat kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan (UU No.16 tahun
2006)

2.2.2 Kelembagaan Penyuluhan Pusat


Kelembagaan Penyuluhan di tingkat pusat bertanggung jawab kepada
menteri. Untuk melaksanakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan optimalisasi
kinerja penyuluhan pada tingkat pusat, diperlukan wadah koordinasi penyuluhan
nasional nonstruktural yangpembentukannya diatur lebih lanjut dengan
peraturan presiden.
Badan Penyuluhan di tingkat pusat mempunyai tugas:
1. Menyusun kebijakan nasional, program penyuluhan nasional, standarisasi
dan akreditasi tenaga penyuluh, saran dan prasarana, serta pembiayaan
penyuluhan;
2. Menyelenggarakan pengembangan penyuluhan, pangkalan data, pelayanan
dan jaringan informasi penyuluhan;
3. Melaksanakan penyuluhan, koordinasi, penyeliaan, pemantauan dan
evaluasi, serta alokasi dan distribusi sumber daya penyuluhan;

6
4. Melaksanakan kerjasama penyuluhan nasional, regional, dan internasional;
5. Meningkatkan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, swadaya dan
swasta.
Untuk menetapkan kebijakan dan strategi penyuluhan, menteri dibantu
oleh Komisi Penyuluhan Nasional. Komisi Penyuluhan Nasional mempunyai
tugas memberikan masukan kepada menteri sebagai bahan penyusunan kebijakan
dan strategi penyuluhan.
Pasca Indonesia merdeka, pengembangan SDM pertanian diupayakan
lebih serius lagi dibawah pembinaan Kementrian Kemakmuran (1945-1950).
Lembaga ini mengalami reorganisasi menjadi Kementrian Pertanian (1950-1960)
dan kemudian menjadi Departemen Pertanian hingga saat ini. Setelah berdirinya
Departemen Pertanian, penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan pertanian
bagi rakyat pribumi menjadi lebih mantap.
Agar penyelenggaraan pengembangan SDM pertanian dapat lebih
memenuhi tuntutan pembangunan pertanian, maka Departemen Pertanian
membentuk lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian di tingkat pusat, yang
langsung berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Pertanian.
Seiring dengan perjalanan waktu, lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian
terus mengalami perubahan dan perkembangan, saat ini lembaga pendidikan dan
penyuluhan pertanian di Indonesia adalah Badan Pengembangan SDM Pertanian
(BPPSDMP) yang berada di Jakarta dari tahun 2001- sekarang.
Visi dan Misi BPPSDMP
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 24 tahun 2010,
nomenklatur Badan Pengembangan SDM Pertanian berubah menjadi Badan
Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). BPPSDMP
memiliki tugas melaksanakan penyuluhan dan pengembangan sumberdaya
manusia pertanian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam
melaksanakan tugas tersebut, BPPSDMP menyelenggarakan fungsi: a)
penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penyuluhan, pendidikan dan
pelatihan, standarisasi dan sertifikasi sumber daya manusia pertanian sesuai
dengan peraturan perundang-undangan, b) pelaksanaan penyuluhan, pendidikan
dan pelatihan, standarisasi dan sertifikasi sumber daya manusia pertanian sesuai

7
dengan peraturan perundang-undangan, c) pemantauan, evaluasi dan pelaporan
pelaksanaan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, standarisasi dan sertifikasi
sumber daya manusia pertanian sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
serta d) pelaksanaan administrasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM
Pertanian.
Sesuai tugas dan fungsi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM
Pertanian dan memperhatikan potensi, capaian hasil pada periode sebelumnya,
serta tantangan dan permasalahan yang ada, maka visi Badan Penyuluhan dan
Pengembangan SDM Pertanian periode 2010-2014 adalah “Terwujudnya
sumberdaya manusia pertanian yang profesional, kreatif, inovatif dan berwawasan
global dalam rangka meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor, dan
kesejahteraan petani. Untuk mewujudkan visi tersebut di atas, BPPSDMP
menetapkan misi sebagai berikut:
1. Mengembangkan sistem penyuluhan pertanian yang komprehensif dan
terpadu.
2. Mengembangkan sistem pelatihan pertanian yang berbasis kompetensi
kerja.
3. Mengembangkan pendidikan, standarisasi dan sertifikasi profesi SDM
pertanian yang kredibel.
4. Mengembangkan sistem administrasi dan manajemen yang transparan dan
akuntabel.
Tupoksi BPPSDMP
Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
mempunyai tugas melaksanakan penyuluhan dan pengembangan sumber daya
manusia pertanian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1070, Badan Penyuluhan
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penyuluhan,
pendidikan dan pelatihan, standardisasi dan sertifikasi sumber daya
manusia pertanian sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

8
b. Pelaksanaan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, standardisasi dan
sertifikasi sumber daya manusia pertanian sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
c. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penyuluhan, pendidikan
dan pelatihan, standardisasi dan sertifikasi sumber daya manusia pertanian
sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan
d. Pelaksanaan administrasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pertanian.

2.2.3 Kelembagaan Penyuluhan Provinsi


Kelembagaan penyuluhan di tingkat provinsi disebut dengan Badan
Koordinasi Penyuluhan, yang berkedudukan di provinsi.
Badan Penyuluhan di tingkat provinsi mempunyai tugas:
1. Melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi lintas sektor, optimalisasi
partisipasi, advokasi masyarakat dengan melibatkan unsur pakar, dunia
usaha, institusi terkait, perguruan tinggi dan sasaran penyuluhan;
2. Menyusun kebijakan dan program penyuluhan provinsi yang sejalan
dengan kebijakan dan program penyuluhan nasional;
3. Memfasilitasi pengembangan kelembagaan dan forum masyarakat bagi
pelaku utama dan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya dan
memberikan umpan balik kepada pemerintah daerah; dan
4. Melaksanakan peningkatkan kapasitas penyuluh PNS, swadaya dan
swasta.
Penetapan kebijakan dan strategi penyuluhan provinsi, gubernur dibantu
oleh Komisi Penyuluhan Provinsi. Komisi Penyuluhan Provinsi bertugas
memberikan masukan kepada gubernur sebagai bahan penyusunan kebijakan dan
strategi penyuluhan provinsi.

2.2.4 Kelembagaan Penyuluhan Kabupaten/Kota


Kelembagaan penyuluhan di tingkat kabupaten/kota disebut Badan
Pelaksana Penyuluhan. Badan Pelaksana Penyuluhan di tingkat kabupaten/kota
dipimpin oleh pejabat setingkat eselon II dan bertanggung jawab kepada

9
bupati/walikota, yang pembentukannya diatur lebih lanjut dengan peraturan
bupati/walikota. Badan penyuluhan di tingkat kabupaten/kota mempunyai tugas:
1. Menyusun kebijakan dan programa penyuluhan kabupaten/kota yang
sejalan dengan kebijakan dan programa penyuluhan provinsi dan nasional;
2. Melaksanakan penyuluhan dan mengembangkan mekanisme, tata kerja
dan metode penyuluhan;
3. Melaksanakan pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan penyebaran
materi penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha
4. Melaksanakan pembinaan pengembangan kerjasama, kemitraan,
pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasaran, serta
pembiayaan penyuluhan;
5. Menumbuhkembangkan dan menfasilitasi kelembagaan dan forum
kegiatan bagi pelaku utama dan pelaku uasaha; dan
6. Melaksanakan peningkatan kapasitas penyuluh PNS, swadaya dan
swakarsa melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Penetapkan kebijakan dan strategi penyuluhan kabupaten/kota, bupati
dibantu oleh Komisi Penyuluhan Kabupaten/Kota. Komisi Penyuluhan
Kabupaten/Kota mempunyai tugas memberikan masukan kepada bupati/ walikota
sebagai bahan penyusunan kebijakan dan strategi penyuluhan kabupaten/kota.

2.2.5 Kelembagaan Penyuluhan Kecamatan


Kelembagaan penyuluhan di tingkat kecamatan disebut Balai Penyuluhan.
Balai Penyuluhan berfungsi sebagai tempat pertemuan para penyuluh, pelaku
utama dan pelaku usaha. Balai Penyuluhan bertanggung jawab kepada Badan
Pelaksana Penyuluhan kabupaten/kota yang pembentukannya diatur lebih lanjut
dengan peraturan bupati/walikota.
Badan penyuluhan di tingkat kecamatan mempunyai tugas:
1. Menyusun programa penyuluhan pada tingkat kecamatan sejalan dengan
programa penyuluhan kabupaten/kota;
2. Melaksanakan penyuluhan berdasarkan programa penyuluhan;
3. Menyediakan dan menyebarkan informasi teknologi, saran produksi,
pembiayaan dan pasar;

10
4. Memfasilitasi pengembangan kelembagaan dan kemitraan pelaku utama
dan pelaku usaha;
5. Memfasilitasi peningkatan kapasitas penyuluh PNS, penyuluh swadaya
dan penyuluh swasta melalui proses pembelajaran secara
berkelanjutan;
6. Melaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan
pengembangan model usahatani bagi pelaku utama dan pelaku usaha.
BPP berfungsi sebagai tempat pertemuan para penyuluh, pelaku utama dan
pelaku usaha. BPP bertanggung jawab kepada badan pelaksana penyuluhan
Kabupaten/Kota yang pembentukannya diatur lebih lanjut dengan peraturan
bupati/walikota. (UU-SP3K Pasal 15).

2.2.6 Kelembagaan Penyuluhan Desa/Kelurahan


Kelembagaan penyuluhan di tingkat desa/kabupaten disebut Pos
Penyuluhan. Pos Penyuluhan desa/ kelurahan merupakan unit kerja nonstruktural
yang dibentuk dan dikelola secara partisipatif oleh pelaku utama.
Pos Penyuluhan berfungsi sebagai tempat pertemuan para penyuluh,
pelaku utama dan pelaku usaha untuk:
1. Menyusun programa penyuluhan;
2. Melaksanakan penyuluhan di desa/kelurahan;
3. Menginventarisasi permasalahan dan upaya pemecahannya;
4. Melaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan
model usahatani bagi pelaku utama dan pelaku usaha;
5. Menumbuhkembangkan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kelembagaan
pelaku utama dan pelaku usaha;
6. Melaksanakan kegiatan rembuk, pertemuan teknis, temu lapang dan metode
penyuluhan lain bagi pelaku utama dan pelaku usaha;
7. Memfasilitasi layanan informasi, konsultasi, pendidikan, serta pelatihan bagi
pelaku utama dan pelaku usaha; dan
8. Memfasilitasi forum penyuluhan pedesaan.
Kelembagaan penyuluhan pemerintah sebagaimana dimaksud :
a. Pada tingkat pusat berbentuk badan yang menangani penyuluhan;

11
b. Pada tingkat provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan;pada tingkat
kabupaten/kota berbentuk badan pelaksana penyuluhan; dan
c. Pada tingkat kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan.
2.3 Kelembagaan Penyuluhan Swasta
Penyuluh swasta adalah penyuluh yang berasal dari dunia usaha dan/atau
lembaga yang mempunyai kompetensi dalam bidang penyuluhan. Kelembagaan
penyuluhan swasta dapat dibentuk oleh pelaku usaha dengan memperhatikan
kepentingan pelaku utama serta pembangunan pertanian, perikanan, dan
kehutanan setempat.

2.3.1 Kelembagaan Penyuluhan Swadaya


Penyuluh swadaya adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan
warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu
menjadi penyuluh. Kelembagaan penyuluhan swadaya dapat dibentuk atas dasar
kesepakatan antara pelaku utama dan pelaku usaha. Penyuluhan swasta dan/atau
swadaya mempunyai tugas:
a. Menyusun perencanaan penyuluhan yang terintegrasi dengan programa
penyuluhan;
b. Melaksanakan pertemuan dengan penyuluh dan pelaku utama sesuai dengan
kebutuhan
c. Membentuk forum, jaringan, dan kelembagaan pelaku utama dan pelaku
usaha;
d. Melaksanakan kegiatan rembug, pertemuan teknis, lokakarya lapangan, serta
temu lapang pelaku utama dan pelaku usaha;
e. Menjalin kemitraan usaha dengan berbagai pihak dengan dasar saling
menguntungkan;
f. Menumbuhkembangkan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kelembagaan
pelaku utama dan pelaku usaha;
g. Menyampaikan informasi dan teknologi usaha kepada sesama pelaku utama
dan pelaku usaha;
h. Mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian, perikanan, dan
kehutanan serta perdesaan swadaya bagi pelaku utama dan pelaku usaha;

12
i. Melaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan
model usaha tani bagi pelaku utama dan pelaku usaha;
j. Melaksanakan kajian mandiri untuk pemecahan masalah dan pengembangan
model usaha, pemberian umpan balik, dan kajian teknologi; dan
k. Melakukan pemantauan pelaksanaan penyuluhan yang difasilitasi oleh pelaku
utama dan pelaku usaha

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kelembagaan penyuluhan merupakan salah satu wadah organisasi yang
terdapat dalam dinas pertanian, perikanan serta kehutanan. Kelembagaan
penyuluhan menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada antara lain:
 Kebutuhan ketrampilan yang lebih cakap dibanding usaha produk serelia.
 Tuntutan pelaku usaha untuk mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas
produknya.
 Pengetahuan dari berbagai macam sumber

14
DAFTAR PUSTAKA

No name. 2013. http://kandhiejaya27.blogspot.co.id/2013/12/peranan-dan-fungsi-


kelembagaan. Html
No name. 2014.
http://www.bakorluh.malukuprov.go.id/penyuluhan/kelembagaan-
penyuluhan/

iv