Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR COLON

MK. KEPERAWATAN KRITIS

Disusun oleh :
Asri Wulandari
NIM SN201095

PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Kanker kolon merupakan kanker yang menyerang bagian usus besar,
yakni bagian akhir dari sistem pencernaan. Sebagian besar kasus kanker
kolorektal dimulai dari sebuah benjolan/polip kecil, dan kemudian
membesar menjadi tumor (Yayasan Kanker Indonesia, 2018).
Kanker kolon adalah keganasan yang berasal dari jaringan usus besar,
terdiri dari kolon (bagian terpanjang dari usus besar) (Komite
Penanggulangan Kanker Nasional, 2015).

2. Etiologi
Sebagian orang memang memiliki risiko tinggi terkena kanker
kolorektal. Beberapa faktor risiko tersebut ada yang tidak bisa diubah,
seperti usia lebih dari 50 tahun, riwayat menderita polip, riwayat
menderita infeksi usus besar (colitis ulcerative atau penyakit Chron), dan
memiliki anggota keluarga yang mempunyai riwayat polip atau kanker
usus besar. Faktor risiko lain adalah pola hidup yang tidak sehat yang
dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal di usia muda dibawah 40
tahun. Salah satunya adalah mengonsumsi daging merah dan daging
olahan secara berlebihan.
Oleh sebab itu, untuk mencegah timbulnya kanker kolorektal,
batasi makanan tinggi lemak termasuk daging merah. Merokok juga
merupakan faktor risiko terjadinya kanker kolorektal. Diperkirakan, satu
dari lima kasus kanker usus besar di Amerika Serikat dihubungkan
dengan rokok. Merokok berhubungan dengan kenaikan risiko
terbentuknya adenoma dan peningkatan risiko perubahan adenoma
menjadi kanker usus besar. Faktor risiko tinggi lain adalah pengonsumsian
alkohol. Usus mengubah alkohol menjadi asetildehida yang meningkatkan
risiko kanker kolorektal. Lebih baik konsumsi buah dan sayur yang
mengandung probiotik, karena kandungan seratnya akan mengikat sisa
makanan dan membuat feses lebih berat sehingga mudah dibuang
(Kemenkes RI, 2019).

3. Manifestasi Klinis
Manifestasi kanker kolon menurut (Yayasan Kanker Indonesia, 2018):
a. Perubahan pada pola buang air besar termasuk diare, atau konstipasi
atau perubahan pada lamanya saat buang air besar, dimana pola ini
berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan. Kadang-kadang
perubahan pola itu terjadi sebagai perubahan bentuk dari feses atau
kotoran dari hari ke hari (kadang- kadang keras, lalu lunak, dan
seterusnya)
b. Pendarahan pada buang air besar atau ditemukannya darah di feses,
seringkali hanya dapat dideteksi di laboratorium
c. Rasa tidak nyaman pada bagian abdomen atau perut seperti keram, gas
atau rasa sakit yang berulang
d. Perasaan bahwa usus besar belum seluruhnya kosong sesudah buang
air besar
e. Rasa cepat lelah, lesu lemah atau letih
f. Turunnya berat badan secara drastis dan tidak dapat dijelaskan
sebabnya

4. Komplikasi
Komplikasi awal yang dapat terjadi adalah sumbatan (obstruksi)
saluran cerna. Sumbatan tersebut tentu diakibatkan tumor yang memenuhi
saluran usus. Adanya sumbatan tersebut menyebabkan penderitanya
mengalami konstipasi dan nyeri perut. Selain obstruksi, tumor juga dapat
menyebabkan usus mengalami kebocoran (perforasi). Perforasi usus dapat
menimbulkan gejala yang berat seperti nyeri perut hebat, perut terlihat
membesar dan tegang, muntah, serta infeksi berat.
Tak berhenti di situ, kanker usus juga dapat menimbulkan
perdarahan. Hal tersebut dapat terjadi bila tumor berada di sekitar rektum,
salah satu bagian terakhir usus besar. Perdarahan tumor dapat
menyebabkan penderitanya kehilangan darah yang cukup banyak,
sehingga menimbulkan anemia (kekurangan sel darah merah).
Komplikasi lain dari kanker usus adalah penyebaran sel tumor ke
organ yang lain. Proses yang disebut metastasis ini lazim terjadi pada
berbagai jenis kanker, terutama yang sifatnya ganas. Organ tubuh yang
paling sering menjadi sasaran metastasis sel kanker usus adalah kelenjar
getah bening, paru, dan selaput rongga perut. Metastasis dapat
menimbulkan gejala sesuai organ yang terkena, misalnya benjolan di
sekitar leher, sesak napas, dan nyeri perut serta perut yang semakin
membesar (Timurtini, 2019).

5. Patofisiologi dan Pathway


a. Patofisiologi
Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang
berkembang dari polip adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan
meningkat, meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon
sigmoid. Polip tumbuh dengan lambat, sebagian besar tumbuh dalam
waktu 5-10 tahun atau lebih untuk menjadi ganas. Ketika polip
membesar, polip membesar di dalam lumen dan mulai menginvasi
dinding usus. Tumor di usus kanan cenderung menjadi tebal dan
besar, serta menyebabkan nekrosis dan ulkus. Sedangkat tumor pada
usus kiri bermula sebagai massa kecil yang menyebabkan ulkus pada
suplai darah (Black & Hawks, 2014).
Pada saat timbul gejala, penyakit mungkin sudah menyebar ke
dalam lapisan lebih dalam dari jaringan usus dan organ-organ yang
berdekatan. Kanker kolorektal menyebar dengan perluasan langsung
ke sekeliling permukaan usus, submukosa, dan dinding luar usus.
Struktur yang berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor lambung,
duodenum, usus halus, pankreas, limpa, saluran genitourinary, dan
dinding abdominal juga dapat dikenai oleh perluasan. Metastasis ke
kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran tumor.
Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar yang jauh sudah
dikenai namun kelenjar regional masih normal. Sel-sel kanker dari
tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem limpatik atau sistem
sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paru-paru, otak, tulang, dan
ginjal. “Penyemaian” dari tumor ke area lain dari rongga peritoneal
dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa atau selama
pemotongan pembedahan (Black & Hawks, 2014).
Sebagian besar tumor maligna (minimal 50%) terjadi pada area
rektal dan 20–30 % terjadi di sigmoid dan kolon desending. Kanker
kolorektal terutama adenocarcinoma (muncul dari lapisan epitel usus)
sebanyak 95%. Tumor pada kolon asenden lebih banyak ditemukan
daripada pada transversum (dua kali lebih banyak). Tumor bowel
maligna menyebar dengan cara (Black & Hawks, 2014):
1) Menyebar secara langsung pada daerah disekitar tumor secara
langsung misalnya ke abdomen dari kolon transversum.
Penyebaran secara langsung juga dapat mengenai bladder, ureter
dan organ reproduksi.
2) Melalui saluran limfa dan hematogen biasanya ke hati, juga bisa
mengenai paru-paru, ginjal dan tulang.
3) Tertanam ke rongga abdomen.
b. Pathway
(Wahyuningsih, 2018 dan PPNI, 2017)
6. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
a. Penatalaksanaan Medis

1) Keberhasilan pengobatan Carcinoma Colorectal ditentukan oleh


stadium saat diagnosis dibuat. Penentuan stadium sebelum
tindakan operasi khususnya pada Carcinoma Colorectal berguna
untuk menentukan strategi pengobatan seperti pemberian
kemoterapi dan pemilihan jenis operasi yang dilakukan.

2) Penatalaksanaan medik berdasarkan stadium:

a) Stadium 0, dengan terapi eksisi lokal atau polipektomi


sederhana (pemotongan polip dengan kolonoskopi).

b) Stadium 1, wide surgical resection dengan anastomosis, tanpa


terapi adjuvan.

c) Stadium 2, wide surgical resection dengan anastomosis, terapi


adjuvan setelah pembedahan pada pasien dengan risiko tinggi.

d) Stadium 3, wide surgical resection dengan anastomosis, terapi


adjuvan setelah pembedahan.

e) Stadium 4, reseksi tumor primer dengan metastasis yang dapat


direseksi, kemoterapi sistemik.

3) Tempat pemasangan kolostomi

a) Kolostomi asenden terletak pada abdomen sebelah kanan dan


cairan yang dihasilkan sangat encer.

b) Kolostomi transversal sering mengeluarkan isi usus karena isi


kolon tranvesum tidak padat sehingga tidak mudah diatur.

c) Kolostomi desenden terletak pada abdomen sebelah kiri


bawah, feses yang dikeluarkan pada kolostomi ini lebih padat.
b. Penatalaksanaan Keperawatan

1) Pra Operatif

a) Penandatanganan informed consent sebagai dokumentasi


bahwa klien dan keluarga memahami prosedur dan
kemungkinan terjadinya risiko.

b) Klarifikasi dan interpretasikan sesuai kebutuhan, beri instruksi


selama periode pra operatif, meliputi penanganan nyeri.

Tujuan perawatan pra operatif :


a) Menghilangkan nyeri.

b) Meningkatkan toleransi aktivitas.

c) Memberikan tindakan nutrisional.

d) Mencegah infeksi.

2) Pasca Operatif

a) Monitor vital sign kaji perdarahan dari insisi abdomen dan


perineal, kolostomi atau anus, evaluasi komplikasi luka yang
lainnya dan pertahankan integritas psikologis.

b) Monitor bising usus dan derajat distensi abdomen.

c) Sediakan obat untuk mengurangi nyeri dan pemberian rasa


nyaman seperti perubahan posisi.

d) Kaji warna, jumlah dan bau drainase dan kolostomi (bila ada).

Tujuan perawatan pasca operatif :


a) Perawatan luka.

b) Pendidikan klien dan pertimbangan perawatan di rumah.

c) Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi.


3) Pemeriksaan Diagnostik

a) Colok dubur : melihat pertumbuhan sel.

b) Sigmoidoskopi : menunjukkan obstruksi usus (sigmoid).

c) Contoh feses : melihat ada atau tidaknya bakteri atau


bentuknya.

d) Darah lengkap : dapat menunjukkan anemia hiperkronik.

e) Kadar besi serum : rendah karena kehilangan darah.

f) Foto kolon dengan enemabarium atau pemeriksaan radiografi.

g) Kolonoskopi (alat seperti tabung kecil yang panjang dan


fleksibel).

h) Biopsi : melihat keganasan sel kanker.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan merupakan catatan tentang hasil pengkajian yang
dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar
tentang pasien, dan membuat catatan tentang respons kesehatan pasien.
Pengkajian yang komprehensif atau menyeluruh, sistematis yang logis akan
mengarah dan mendukung pada identifikasi masalah-masalah pasien.
Pengumpulan data dapat diperoleh dari data subyektif melalui wawancara dan
dari data obyektif melalui observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang (Dinarti & Yuli Muryanti, 2017)
a. Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia mudah),
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk
rumah sakit, no registrasi, diagnosa medis.
b. Riwayat penyakit
1) Riwayat kesehatan: perasaan lelah, nyeri abdomen (PQRST), pola
eliminasi terdahulu dan saat ini, deskripsi tentang warna, bau, dan
konsistensi feses, mencakup adanya darah dan mukus.
2) Riwayat masa lalu tentang penyakit usus inflamasi kronis atau polip
kolon, riwayat keluarga dari penyakit kolon dan terapi obat saat ini.
Kebiasaan diet diidentifikasi mencakup masukan lemak dan atau serat
serta jumlah konsumsi alkohol. Penting dikaji riwayat penurunan berat
badan.
c. Pengkajian fokus
1) Breathing (pernapasan): Biasanya ditandai dengan napas pendek
dispnea, ditandai dengan takipne dan frekuensi napas menurun.
2) Blood (Sirkulasi/kardio): Terdapat takikardi, perubahan perfusi
ditandai dengan turgor buruk, kulit pucat.
3) Brain (persarafan): Kesadaran composmentis–coma refleks menurun
4) Blader (perkemihan): Oliguria, inkontenensia, penurunan jumlah urin
akibat kurangnya intake cairan, dehidrasi.
5) Bowel (pencernaan): Ditandai dengan anoreksia, mual, muntah,
penurunan BB, tidak toleran terhadap diet, kehilangan nafsu makan,
feses bervariasi dari bentuk lunak sampai keras, diare, feses berdarah,
menurunnya bising usus.
6) Bone (muskuloskeletal): Penurunan kekuatan otot, kelemahan, dan
malaise.
d. Pemeriksaan fisik
1) Kepala dan leher : Dengan tehnik inspeksi dan palpasi
2) Rambut dan kulit kepala : Pendarahan, pengelupasan, perlukaan,
penekanan
3) Telinga : Perlukaan, darah, cairan, bau ?
4) Mata : Perlukaan, pembengkakan, replek pupil, kondisi kelopak mata,
adanya benda asing, skelera putih ?
5) Hidung : Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping, kelainan anatomi
akibat trauma ?
6) Mulut : Benda asing, gigi, sianosis, kering ?
7) Bibir : Perlukaan, pendarahan, sianosis, kering ?
8) Rahang : Perlukaan, stabilitas ?
9) Leher : Bendungan vena, deviasi trakea, pembesaran kelenjar tiroid
10) Pemeriksaan dada
b) Inspeksi : Bentuk simetris kanan kiri, inspirasi dan ekspirasi
pernapasan, irama, gerakkan cuping hidung, terdengar suara
napas tambahan.
c) Palpasi : Pergerakkan simetris kanan kiri, taktil premitus sama
antara kanan kiri dinding dada.
d) Perkusi : Adanya suara-suara sonor pada kedua paru, suara
redup pada batas paru dan hepar.
e) Auskultasi : Terdengar adanya suara visikoler di kedua lapisan
paru, suara ronchi dan wheezing
11) Kardiovaskuler
a) Inspeksi: Bentuk dada simetris
b) Palpasi: Frekuensi nadi,
c) Parkusi: Suara pekak
d) Auskultasi: Irama regular, systole/ murmur
12) System pencernaan / abdomen
a) Inspeksi : Pada inspeksi perlu diperliatkan, apakah abdomen
membuncit atau datar, tapi perut menonjol atau tidak, lembilikus
menonjol atau tidak, apakah ada benjolan benjolan / massa.
b) Palpasi : Adakah nyeri tekan abdomen, adakah massa (tumor,
teses) turgor kulit perut untuk mengetahui derajat bildrasi pasien,
apakah tupar teraba, apakah lien teraba?
c) Perkusi : Abdomen normal tympanik, adanya massa padat
atau cair akan menimbulkan suara pekak ( hepar, asites, vesika
urinaria, tumor).
d) Auskultasi : Secara peristaltic usus dimana nilai normalnya 5-
35 kali permenit.
13) Pemeriksaan extremitas atas dan bawah meliputi:
a) Warna dan suhu kulit
b) Perabaan nadi distal
c) Depornitas extremitas alus
d) Gerakan extremitas secara aktif dan pasif
e) Gerakan extremitas yang tak wajar adanya krapitasi
f) Derajat nyeri bagian yang cidera
g) Edema tidak ada, jari-jari lengkap dan utuh
h) Reflek patella
14) Pemeriksaan pelvis/genitalia
Kebersihan pertumbuhan rambut pubis, terpasang kateter, terdapat lesi
atau tidak.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis
keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respon klien individu,
keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan
kesehatan (SDKI,2017).
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis D.0077
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit D.0130
c. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
makanan D.0019
d. Resiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan obstruksi
intestinal D.0036
e. Resiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasive D.0142
f. Resiko syok (Hipovolemik) dibuktikan dengan kekurangan
volume cairan D.0039

3. Intervensi Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis D.0077
Tujuan Intervensi
Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :
keperawatan selama …. diharapkan nyeri a. Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,
pada pasien berkurang atau menurun frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
dengan kriteria hasil: b. Identifikasi skala nyeri
a. Keluhan nyeri menurun a. Identifikasi respons nyeri non verbal
a. Meringis menurun c. Identifikasi faktor yang memperberat dan
b. Sikap protektif menurun memperingan nyeri
c. Gelisah menurun d. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
d. Kesulitan tidur menurun tentang nyeri
e. Menarik diri menurun e. Identifikasi pengaruh budaya terhadap
f. Berfokus pada diri sendiri respon nyeri
menurun f. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas
g. Diaforesis menurun hidup
h. Frekuensi nadi membaik g. Monitor keberhasilan terapi komplementer
i. Pola nafas membaik yang sudah diberikan
j. Tekanan darah membaik h. Monitor efek samping penggunaan
k. Prilaku membaik analgetik
l. Pola tidur membaik Terapeutik :
a. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
b. kontrol lingkungan yang memperberat rasa
nyeri
c. fasilitasi istirahat dan tidur
d. pertimbangkan jenis dan sumber nyeri
dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi :
a. jelaskan penyebab, periode, dan pemicu
nyeri
b. jelaskan strategi meredakan nyeri
a. anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
c. anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat
d. ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit D.0130

Tujuan Intervensi
Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :
keperawatan selama …. Diharapkan suhu a. Identifikasi penyebab hipertermia
tubuh pasien membaik dengan kriteria hasil: a. Monitor suhu tubuh
a. Mengigil menurun b. Monitor kadar elektrolit
a. Kulit merah menurun c. Monitor haluan urine
b. Akrasianosis menurun d. Monitor komplikasi akibat
c. Pucat menurun hipertermia
d. Piloereksi menurun
e. Kejang meurun Terapeutik :
f. Suhu tubuh membaik a. Sediakan lingkunga yang dingin
g. Suhu kulit membaik a. Basahi dan kipasi permukaan
h. Kadar glukosa darah membaik tubuh
i. Pengisian kapiler membaik b. Berikan cairan oral
j. Ventilasi membaik b. Ganti linen setiap hari atau lebih
k. Tekanan darah membaik sering jika terjadi hyperhidrosis
c. Hindari pemberian antipiretik dan
aspirin
d. Berikan oksigen
Edukasi :
a. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian cairan dan
elektrolit intravena
Defisit nutrisi b.d ketidakmampuan mencerna makanan D.0019
Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :


keperawatan selama … Diharapkan status a. Identifikasi status nutrisi
nutrisi pasien membaik dengan kriteria a. Identifikasi alergi dan intoleransi
hasil: makanan
a. Porsi makanan yang dihabiskan b. Identifikasi makanan disukai
meningkat b. Identifikasi kebutuhan kalori dan
b. Berat badan membaik jenis nutrient
a. Indeks massa tubuh membaik c. Identifikasi perlunya penggunaan
c. Frekuensi makan membaik selang nasogastric
d. Nafsu makan membaik d. Monitor asupan makanan
e. Nyeri abdomen menurun e. Monitor berat badan
f. Perasaan cepat kenyang menurun f. Monitor hasil pemeriksaan
g. Kekuatan otot menelan meningkat laboratorium
h. Membrane mukosa membaik
i. Bising usus membaik Terapeutik
a. Lakukan oral hygiene sebelum
makan, jika perlu
b. Fasilitas menentukan pedoman
diet
c. Sajikan makanan secara menarik
dan suhu yang sesuai
d. Berikan makanan tinggi
seratuntuk mencegah konstipasi
e. Berikan makanan tinggi kalori
dan tinggi protein
f. Berikan suplemen makanan, jika
perlu
g. Hentikan pemberian makanan
melalui selang nasogastric jika
asupan oral dapat ditoleransi
Edukasi :
a. Anjarkan posisi duduk, jika perlu
a. Ajarkan diet yang deprogramkan
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian medikasi
sebelum makan, jika perlu
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrient yang di
butuhkan, jika perlu
Resiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan obstruksi intestinal

D.0036
Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :


keperawatan selama …. Diharapkan a. Monitor status hidrasi (mis.
keseimbangan cairan pasien meningkat Frekuensi nadi, kekuatan
dengan kriteria hasil: nadi,akral,pengisian
a. Asupan cairan meningkat kapiler,kelembapan mukosa,
a. Keluaran urin meningkat turgor kulit, tekanan darah)
b. Kelembapan membrane Mukosa b. Monitor berat badan harian
c. Asupan makanan meningkat a. Monitor berat badan sebelum dan
d. Edema menurun sesudah dialysis
e. Asites menurun b. Monitor hasil pemeriksaan
f. Tekanan darah membaik laboratorium
g. Denyut nadi radial membaik c. Monitor status hemodinamik
h. Tekanan arteri rata-rata membaik
i. Mata cekung membaik Terapeutik :
j. Turgor kulit membaik a. Catat intake dan output lalu hitung
k. Berat badan membaik balance cairan 24 jam
b. Berikan asupan cairan , sesuai
kebutuhan
c. Berikan cairan intravena , jika
diperlukan
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian diuretic,
jika diperlukan

Resiko syok (Hipovolemik) dibuktikan dengan kekurangan volume cairan

D.0039
Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :


keperawatan selama …. Diharapkan pasien a. Monitor status kardiopulmonal
sudah tidak mengalami syok dengan a. Monitor status oksigenasi
kriteria hasil: b. Monitor status cairan
a. Kekuatan nadi meningkat c. Monitor tingkat kesadaran dan
a. Output urinei meningkat respon pupil
b. Tingkat kesadaran meningkat d. Periksa riwayat alergi
c. Saturasi oksigen meningkat
d. Akral dingin menurun Terapeutik :
e. Pucat menurun a. Berikan oksigen untuk
f. Haus menurun mempertahan kan saturasi oksigen
g. Tekanan darah sistolik membaik b. Persiapan intubasi dan ventilasi
h. Tekanan darah diastolic membaik mekanis, jika perlu
i. Tekanan nadi membaik c. Pasang jalur IV, jika perlu
j. Frekuensi nafas membaik a. Pasang kateter urine untuk
menilai produksi urine, jika perlu
b. Lakukan skin test untuk
mencegah reaksi alergi
Edukasi :
a. Jelaskan penyebab atau faktor
risiko syok
b. Jelaskan tanda dan gejala awal
syok
c. Anjurkan melapor jika
menemukan atau merasakan tanda
dan gejala syok
d. Anjurkan memperbanyak asupan
cairan oral
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian IV, jika
perlu
b. Kolaborasi pemberian transfuse
darah, jika perlu
c. Kolaborasi pemberian
antiinflamasi, jika perlu

Resiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasive D.0142


Tujuan Intervensi

Setelah dilakukan tindakan asuhan Observasi :


keperawatan selama … diharapkan pasien a. Monitor tanda dan gejala infeksi
tidak mengalami infeksi dengan kriteria local dan sistemik
hasil:
a. Demam menurun Terapeutik
a. Kemerahan menurun a. Batasi jumlah pengunjung
b. Nyeri menurun a. Berikan perawatan kulit pada area
c. Bengkak menurun edema
d. Vesikel menurun b. Cuci tangan sebelum dan sesudah
e. Cairan berbau busuk menurun kontak dengan pasien dan
f. letargi lingkungan pasien
g. Kebersihan tangan meningkat c. Pertahankan teknik aseptic pada
h. Kebersihan badan meningkat pasien beresiko tinggi
i. Kadar sel darah putih membaik
j. Kultur area luka membaik Edukasi :
k. Kadar sel darah putih membaik
a. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
a. Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
b. Ajarkan etika batuk
b. Jarkan cara memeriksa kondisi luka
atau luka oprasi
c. Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
d. Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian imunisasi,
jika perlu

4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi, yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil
menentukan seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran
dari tindakan. Penilaian proses menentukan apakah ada kekeliruan
dari setiap tahapan proses mulai dari pengkajian, diagnosa,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi itu sendiri (Ali, 2009). Evaluasi
adalah membandingkan secara sistematik dan terencana tentang
kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan
kenyataan yang ada pada pasien, dilakukan dengan cara
bersinambungan dengan melibatkan psien dan tenaga kesehatan
lainnya. Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian
proses keperawatan yang berguna apakah tujuan dari tindakan
keperawatan yang telah dilakukan tercapai (Dinarti & Yuli Muryanti,
2017). Evaluasi disusun menggunakan SOAP yaitu (Suprajitno dalam
Wardani, 2013):
S: Ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subjektif
oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O: Keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat
menggunakan pengamatan yang objektif.
A: Analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif.
P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, N. S. A., Rafli, R., & Zeffira, L. (2019). Profil dan Kesintasan Penderita
Kanker Kolorektal di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Health & Medical
Journal, 1(1), 45–49. https://doi.org/10.33854/heme.v1i1.218

Dinarti & Yuli Muryanti. (2017). Bahan Ajar Keperawatan: Dokumentasi


Keperawatan. 1–172.
Firdaus, Y. (2017). Penatalaksanaan Pada Setiap Stadium Kanker Kolon.

PPNI, T. P. S. D. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia :


Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Sayuti, M., & Nouva. (2018). Kanker Kolorektal. Yayasan Kanker Indonesia,
2(April), 60.
SDKI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: DDP
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

SIKI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.

SLKI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria


Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.

Smeltzer, C Suzanne & Bare, G Brenda. (2015). Buku Ajar Keperawatan


Medikal-Bedah Brunner&Suddarth, Ed.8, Vol.2. Jakarta: EGC

Wahyuningsih, A. (2018). Pathway Ca Colon.