Anda di halaman 1dari 4

METODE PEMBELAJARAN

TK PERTIWI I MLESE
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
DESA MLESE KECAMATAN GANTIWARNO

KOORDINATOR WILAYAH PENDIDIKAN


KECAMATAN GANTIWARNO KABUPATEN KLATEN
TAHUN 2020
YAYASAN DIAN DHARMA
TAMAN KANAK-KANAK PERTIWI I MLESE
Alamat : Dk Birin RT 02/RW 04, Ds Mlese, Kec. Gantiwarno, Kab. Klaten

METODE PEMBELAJARAN
TK PERTIWI I MLESE
TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Kurikulum dalam pembelajaran di lembaga TK Pertiwi I Mlese menggunakan


pendekatan pembelajaran bermuatan STEAM dengan media pembelajaran Loose Part,
juga mengusung muatan lokal. Selain itu kurikulum pada tahun pelajaran 2020/2021
menyesuaikan dengan masa pandemik covid-19 maka diterapkan kegiatan Belajar Dari
Rumah (BDR).

1. Pengertian STEAM dan Loose Part

STEAM adalah sebuah singkatan untuk Sains (science), Teknologi


(technology), Teknik (engineering), Seni  (art) dan Matematika (mathematic). Adapun
Pengertian dari STEAM adalah sebuah pendekatan pembelajaran terpadu yang
mendorong siswa untuk berpikir lebih luas tentang masalah di dunia nyata. STEAM
juga mendukung pengalaman belajar yang berarti dan pemecahan masalah, dan
berpendapat bahwa sains, teknologi, teknik, seni dan matematika saling terkait.
Dalam STEAM, sains dan teknologi dapat diartikan melalui seni dan teknik, termasuk
juga komponen matematika (Binus University, 2019,
https://binus.ac.id/knowledge/2019/03/steam/, 18 Februari 2020)

Loose parts adalah benda-benda terlepas yang dapat dipindahkan,


dimanipulasi dan cara menggunakannya ditentukan oleh anak. Apabila digunakan
dengan tepat, maka akan meningkatkan kreativitas anak. Jadi pembelajaran
metode STEAM dengan bahan loose parts adalah metode pembelajaran metode
steam yang menggunakan bahan ajar yang berasal dari bahan bekas yang mudah
dipindahkan, dimanipulasi dan cara penggunaannya ditentukan oleh anak (PKG
PAUD Pekuncen, 2019, https:// pkgpaudpekuncen. wordpress.com/2019/10/15/baru-
metode-belajar-steam-dengan-bahan-loose-parts/, 8 Juli 2020).

2. Tujuan Pembelajaran dengan bahan ajar Loose Parts

Anak anak akan menjadi kreatif dengan adanya prinsip penggunaan bahan
ajar loose parts, mereka bebas berkreasi membongkar pasang bahan ajar sesuai
dengan imajinasi mereka Anak-anak akan belajar menghargai bahan-bahan atau
benda-benda di sekeliling mereka, seperti bahan loose parts alam. Anak-anak juga
akan dapat ikut memelihara lingkungan ketika mereka memahamai bahwa barang-
barang bekas dapat didaur ulang dan dijadikan sebagai bahan untuk bermain dan
berkativitas merakitnya menjadi barang yang berguna. Akan mengembangkan sikap
ekonomis anak.

3. Manfaat Loose Parts


a. Meningkatkan tingkat permainan kreatif dan imajinatif anak
b. Meningkatkan sikap kooperatif dan sosialisasi anak
c. Anak menjadi lebih aktif secara fisik
d. Mendorong kemampuan komunikasi dan negosiasi terutama ketika dilakukan
di ruang terbuka.
e. Memberikan pengalaman bermain yang kaya akan kualitas, memungkinkan
anak-anak untuk sepenuhnya terlibat, serta menginspirasi kemampuan
kreativitas mereka (Wyse, 2004; Mc Clintic, 2014; Daly dan Beloglov sky,
2015; Houser et al. 2016; Gibson et al. 2017).
f. Lebih hemat, karena murah dan mudah di dapat.
g. Menjadi lebih menarik dari waktu ke waktu, seiring dengan meningkatnya
keterampilan anak-anak, karena dapat di desain ulang setiap hari

4. Cara menggunakan Loose Parts dalam pembelajaran


a. Pertimbangan Keamanan ketika memilih bahan ajar bahan ajar loose part
b. Karateristik peserta di dalam kelas - penting untuk dipertimbangkan
c. Sesuai usia - Ada loose parts yang tidak aman untuk anak usia dini.
d. Waspadai bahaya tersedak, tertelan, atau terluka dan selalu harus dalam
pengawasan.

5. Komponen loose parts


a. Bahan dasar alam
Bahan-bahan yang dapat ditemukan di alam, misal: batu, tanah, pasir, lumur,
air, ranting, daun, buah, niji, bunga, kerang,bulu, potongan kayu, dsb.
b. Plastik
Bahan-bahan yang terbuat dari plastik, misal: sedotan, botol-botol plastik,
tutup-tutup botol, pipa pralon, selang, ember, corong, dsb.
c. Logam
Barang-barang yang terbuat dari logam, misal: kaleng, uang koin, perkakas
dapur, mur, baut, skrup, paku, sendok dan garpu alumunium, plat mobil, kunci,
dsb
d. Penggunaan kembali Kayu dan bambu
Seruling, tongkat, balok, kepingan puzzle, dsb
e. Kaca dan keramik
Botl kaca, gelas kaca, cermin, manik-manik, kelereng, ubin keramik,
kacamata, dsb
f. Benang dan Kain
Kapas, kain perca, tali, renda, pita, karet, dsb
g. Bekas kemasan
Kardus, gulungan tissue, gulungan benang, bungkus makanan, karton wadah
telur, dsb.

6. Belajar Dari Rumah (BDR).

Belajar dari rumah atau BDR adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk
memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Tentunya tanpa
terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum serta difokuskan pada
pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemik Covid-19. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menerbitkan Surat Edaran Nomor
15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa
Darurat Penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran ini disebutkan tujuan dari
pelaksanaan BDR adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan
layanan pendidikan selama darurat COVID-19 (Nadya Novia, 2020,
https://www.fimela.com/parenting/read/4266158/pedoman-belajar-dari-rumah-secara-
daring-luring-kemendikbud, 22 Juli 2020)

Tujuan pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah untuk memastikan


pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat
COVID-19. Selain itu, tujuan yZZang lain ialah melindungi warga satuan pendidikan dari
dampak buruk COVID-19, mencegah penyebaran dan penularan COVID-19 di satuan
pendidikan, dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta
didik dan orang tua.