Anda di halaman 1dari 13

GAS KROMATOGRAFI

1. Definisi dan Sejarah Kromatografi

Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-


macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu
fasa gerak yang bisa berupa gas ( kromatografi gas ) ataupun cair ( kromatografi
cair ) dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Hal ini
dikarenakan adanya perbedaan polaritas dari fasa diam dan gerak. Penemu
Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1903, mencoba memisahkan
pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang berisi kapur
(CaSO4). lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-
daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir
bersamaan, D.T. Day juga menggunakan kromatografi untuk memisahkan fraksi-
fraksi petroleum, namun Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu dan
yang menjelaskan tentang proses kromatografi.

Perkembangan tentang kromatografi agak lambat untuk beberapa tahun


sampai digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC).
Kemudian pada akhir tahun 1930 an dan permulaan tahun 1940 an,
kromatografi mulai berkembang. Dasar kromatografi lapisan tipis (TLC)
diletakkan pada tahun 1938 oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian
diperhalus oleh Stahl pada tahun 1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin
dan Synge pada tahun 1941 (untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak
hanya mengubah dengan cepat kroinatografi cair tetapi seperangkat umum
langkah untuk pengembangan kromatografi gas dan kromatografi kertas. Pada
tahun 1952 Martin dan James mempublikasikan makalah pertama mengenai
kromatografi gas. Diantara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an kromatografi
gas dikembangkan menjadi suatu teknik analisis yang canggih.

Kromatografi merupakan medan yang bergerak cepat karena sangat


pentingnya dalam praktek dalam banyak bidang penelitian. Usaha-usaha
berlanjut sepanjang banyak jalur, beberapa diantaranya adalah : detektor yang
lebih baik, bahan kemasan kolom yang baru, hubungan dengan instrument lain
(seperti spektrometer massa) yang dapat membantu untuk mengidentifikasi
komponen-komponen yang dipisahkan.
Kromatografi berkembang menjadi teknik pemisahan untuk zat kimiawi
dengan sifat yang sangat mirip, dan dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif
dan penetapan kuantitatif untuk zat-zat yang sudah dipisahkan.
Selain itu sumber lain Pada tahun 1952, james dan martin menciptakan
suatu bentuk kromatografi yang menggunakan gas sebagai fasa gerak.
Terjadinya pemisahan disini, selain didasarkan pada interaksi komponen dengan
fasa diam, juga bergantung dari perbedaan titik didih komponen-komponen yang
akan dipisahkan. Tetapi tidak semua campuran komponen dapat dipisahkan
dengan kromatografi gas, terutama apabila komponen tersebut mempunyai titik
didih yang terlalu tinggi sehingga sukar untuk menguap atau jika komponen
mengurai pada suhu yang relatif tinggi.

Kromatografi gas merupakan metoda secara fisika kimia, yang digunakan


untuk senyawa-senyawa yang volatil. Pada cara ini komponen-komponen
campuran mengalami partisi antara fasa gerak dan fasa diam. Kromatografi gas-
padat adalah kromatografi gas yang fasa gerak gas murni, sedangkan sebagai
fasa diam bisa berupa padatan (gas solid chromatography). Untuk kromatografi
gas-cair, fase geraknya juga gas murni tetapi fasa diam berupa cairan (gas liquid
chromatography ; GLC).

Apabila konsentrasi masing-masing komponen didalam fasa gerak


dialurkan terhadap banyaknya fasa gerak (ml) yang dibutuhkan untuk membawa
keluar setiap komponen dari kolom, maka akan diperoleh kurva yang disebut
kromatogram.

2. Keuntungan-keuntungan Kromatografi
Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi diantaranya :

1. Kromatografi merupakan metoda pemisahan yang cepat, mudah dan


menggunakan peralatan yang murah serta sederhana, kecuali untuk
kromatografi gas, hingga campuran yang kompleks dapat dipisahkan
dengan mudah.
2. Kromatografi hanya membutuhkan campuran cuplikan.yang sangat
sedikit sekali, bahkan tidak menggunakan jumlah yang besar,
disamping itu kromatografi pekerjaannya dapat diulang.
3. Tabel Klasifikasi Kromatografi
Kriteria Nama
Fasa mobil Kromatografi cair, kromatografi gas, kromatografi absorbsi
dan kromatografi partisi
Mekanisme Kromatografi pertukaran ion dan kromatografi gel
Fasa stationer Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis dan
kromatografi kertas

4. Kromatografi Gas

Umumnya metode kromatografi diklasifikasikan atas jenis fasa yang


digunakan dan sebagian berdasarkan mekanisme pemisahannya, salah satunya
adalah kromatografi gas. Kromatografi Gas adalah metode kromatografi pertama
yang dikembangkan pada jaman instrument dan elektronika yang telah
merevolusikan keilmuan selama lebih dari 30 tahun. Kromatografi gas
merupakan alat analitik yang telah lama populer dan merupakan enis yang
umum digunakan dalam analisis kromatografi kimia untuk memisahkan dan
menganalisis senyawa yang dapat menguap tanpa dekomposisi. Khas
penggunaan GC termasuk pengujian kemurnian zat tertentu, atau memisahkan
komponen yang berbeda dari campuran (jumlah relatif komponen tersebut juga
dapat ditentukan). Dalam beberapa situasi, GC dapat membantu dalam
mengidentifikasi suatu senyawa. Dalam persiapan kromatografi, GC dapat
digunakan untuk mempersiapkan senyawa murni dari campuran.. Alat ini
biasanya digunakan untuk analisa campuran senyawa organik menjadi
komponen-komponennya. Sekarang GC dipakai secara rutin di sebagian besar
laboratorium industri dan perguruan inggi. GC dapat dipakai untuk setiap
campuran yang komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti pada suhu
yang dipakai untuk pemisahan.

Tekanan uap atau keatsirian memungkinkan komponen menguap dan


bergerak bersama-sama dengan fase gerak yang berupa gas. Pada kromatografi
cair pembatasan yang bersesuaian ialah komponen cairan harus mempunyai
kelarutan yang berarti di dalam fase gerak yang berupa cairan. Secara sepintas
tampaknya pembatasan tekanan uap pada kromatografi gas lebih serius
daripada pembatasan kelarutan pada kromatografi cair, secara keseluruhan
memang demikian. Akan tetapi, jika kita ingat bahwa suhu 400¬0C dapat
dipakai pada kromatografi gas dan bahwa kromatografi dilakukan secara cepat
untuk meminimumkan penguraian, pembatasan itu menjadi tidak begitu perlu.
Disamping itu, pada GC senyawa yang tak atsiri sering dapat diubah menjadi
turunan yang lebih atsiri dan lebih stabil sebelum kromatografi.

Dalam kromatografi gas, Fase yang bergerak (mobile phase) adalah sebuah
operatir gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak reaktif
seperti gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap mikroskopis
lapisan cair atau polimer yang mendukung gas murni, di dalam bagian dari
sistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut kolom.
Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut gas
chromatograph (”aerograph”, ”gas pemisah”). Zat yang dipisahkan dilewatkan
dalam kolom yang diisi dengan fasa tidak bergerak yang terdiri dari bahan halus
yang cocok. Gas pembawa mengalir melalui kolom dengan kecepatan tetap,
memisahkan zat dalam gas atau cairan ataupun dalam keadaan normal. Cara ini
digunakan untuk percobaan identifikasi dan kemurnian atau untuk penetapan
kadar.

Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk


memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam,
mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk
campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat
diidentifikasikan dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang khas
pada kondisi yang tepat. Waktu tambat ialah waktu yang menunjukkan berapa
lama suatu senyawa tertahan dalam kolom. waktu tambat diukur dari jejak
pencatat pada kromatogram dan serupa dengan volume tambat dalam KCKT
( kromatografi cair kinerja tinggi ) dan Rf dalam KLT ( kromatografi lapisan tipis ).
Dengan kalibrasi yang patut, banyaknya (kuantitas) komponen campuran dapat
pula diukur secara teliti.
Pada prinsipnya kromatografi gas digunakan untuk semua zat yang
berbentuk gas atau dapat menguap tanpa penguraian. Kromatografi gas juga
bisa digunakan pada pemisahan alkaloid, senyawa aktif sintetik, gula, lemak,
steroid, asam amino, bahkan senyawa polimer yang bisa digunakan kromatografi
gas.
5. Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi Gas

Kelebihan kromatografi gas, diantaranya kita dapat menggunakan kolom


lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi. Gas dan uap
mempunyai viskositas yang rendah, demikian juga kesetimbangan partisi antara
gas dan cairan berlangsung cepat, sehingga analisis relatif cepat dan
sensitifitasnya tinggi. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak
bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat-zat terlarut. Selain itu keuntungan
menggunakan kromatografi gas adalah analisa cepat, resolusi baik, bahkan
komponen dengan titik didih berdekatan mampu dipisahkan dimana pemisahan
dengan destilasi biasa tidak dapat dilakukan.

kekurangan kromatografi gas adalah bahwa ia tidak mudah dipakai untuk


memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat ( mg )
mudah dilakukan, pemisahan campuran pada tingkat ( g ) mungkin dilakukan,
tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika tidak
ada metode lain. Selain itu teknik ini terbatas untuk zat yang mudah menguap.

6. Kegunaan Kromatografi Gas

Kromatografi gas telah digunakan pada sejumlah besar senyawa-senyawa


dalam berbagai bidang. Dalam senyawa organik dan anorganik, senyawa logam,
karena persyaratan yang digunakan adalah tekanan uap yang cocok pada suhu
saat analisa dilakukan. Berikut akan kita lihat beberapa kegunaan kromatografi
gas pada bidang-bidangnya adalah :
1. Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang penting karena daya pemisahan
yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan pemilihan detector GLC
menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak senyawa yang
terdapat dalam udara yang kotor, KGC ( kromatografi gas cair ) dipakai
untuk menentukan Alkil-Alkil Timbal, Hidrokarbon, aldehid, keton, SO ,
HS, dan beberapa oksida dari nitrogen dll.
2. Klinik
Diklinik kromatografi gas menjadi alat untuk menangani senyawa-
senyawa dalam klinik seperti : asam-asam amino, karbohidrat, CO , dan
O dalam darah, asam-asam lemak dan turunannya, trigliserida-
trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan vitamin
3. Bahan-bahan pelapis
Digunakan untuk menganalisa polimer-polimer setelah dipirolisa, karet
dan resin-resin sintesis.
4. Minyak Atsiri
Digunakan untuk pengujian kualitas terhadap minyak permen, jeruk
sitrat, dll
5. Bahan makanan
Digunakan dengan TLC ( kromatografi lapis tipis ) dan kolom-kolom,
untuk mempelajari pemalsuan atau pencampuran, kontaminasi dan
pembungkusan dengan plastik pada bahan makanan, juga dapat
dipakai untuk menguji jus, aspirin, kopi dll.
6. Sisa-sisa peptisida
KGC ( kromatografi gas cair ) dengan detektor yang sensitif dapat
menentukan atau pengontrolan sisa-sisa peptisida yang diantaranya
senyawa yang mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor.
7. Perminyakan
Kromatografi gas dapat digunakan untuk memisahkan dan
mengidentifikasi hasil-hasil dari gas-gas hidrokarbon yang ringan
8. Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam pengontrolan kualitas, analisa hasil-
hasil baru dalam pengamatan metabolisme dalam zat-zat alir biologi.
9. Bidang kimia/ penelitian
Digunakan untuk menentukan lama reaksi pada pengujian kemurnian
hasil.

10. Jenis-jenis Kromatografi Gas

Ada dua jenis kromatografi gas, yaitu kromatografi gas padat (KGP), dan
kromatografi gas cair (KGC). Dalam kedua hal ini yang bertindak sebagai fasa
bergerak adalah gas ( hingga keduanya disebut kromatografi gas ), tetapi fasa
diamnya berbeda. Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banyak
persamaan. Perbedaan antara kedunya hanya tentang cara kerja. Pada
kromatografi gas padat (KGP) terdapat adsorbsi dan pada kromatografi gas cair
(KGC) terdapat partisi (larutan).
Untuk memahami prinsip kerja dari kromatografi gas khususnya
kromatografi gas cair (KGC), yang lazim ditemui adalah pada helium, hydrogen,
dan juga nitrogen dapat digambarkan dengan menggunakan gambar dari kamar-
kamar khayal yang masing-masing berisi suatu porsi cairan atsiri, yang berfungsi
sebagai fase stasionernya. Pada kamar pertama dimasukan suatu sampel fasa
gerak, suatu gas seperti nitrogen, yang mengandung uap suatu senyawa
organik, katakan benzena, jika cairan itu cocok maka sejumlah benzena akan
melarut kedalamnya, dan sejumlah lain akan tetap tinggal dalam ruang
diatasnya. Hal ini dinyatakan dalam Hukum Henry dalam bentuknya yang biasa
menyatakan bahwa tekanan parsial yang dilakukan oleh suatu zat terlarut dalam
larutan encer akan berbanding lurus dengan fraksi molnya.

11. Komponen-komponen Kromatografi Gas

Fungsi dari komponen-komponen di atas adalah sebagai berikut :


1. Gas pembawa, berfungsi sebagai fasa bergerak
2. Sistem pencuplikan sample, sample diinjeksi dengan mikrosyringe
melalui septum karte silikon kedalam kotak logam yang panas
3. Injector, digunakan untuk memasukkan atau menyemprot gas dan
sample kedalam column. Ada beberapa jenis injection system yaitu :
Packed column injector; umumnya digunakan dengan package column
atau capillary column dengan diameter yang agak besar. injeksi
dilakukan secara langsung (direct injection), Split/Splitless capillary
injector; digunakan dengan capillary column. sebagian gas/sample
dibuang melalui split valve dan Temperature programmable cool on-
column, digunakan dengan cool capillary column, injeksi dilakukan
secara langsung.
1. Oven, digunakan untuk memanaskan column pada temperature
tertentu sehingga mempermudah proses pemisahan komponen sample.
1. Kolom, merupakan jantung dari kromatografi gas. Kolom berisi
stationary phase dimana mobile phase akan lewat didalamnya sambil
membawa sample. Secara umum terdapat 2 jenis column, yaitu: 1)
Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil
dengan panjang 1 – 5 m dan diameter kira-kira 5 mm. 2) Capillary
column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang
10-100 m dan diameter kira-kira 250 mm.
2. Detektor, berfungsi mendeteksi adanya komponen yang keluar dari
column. Detektor ditempatkan pada ujung kolom kromatografi gas
sehingga dapat menganalisis aliran gas yang keluar. Ada beberapa
jenis detector, yaitu: Atomic-Emission Detector (AED), Atomic-Emission
Spectroscopy (AES) atau Optical Emission Spectroscopy (OES).
3. Rekorder atau data sistem, berfungsi untuk merekam data yang akan
disajikan dalam bentuk kromatogram secara grafik.

4. Prinsip kerja Kromatografi Gas


Kromatografi gas atau yang biasa disebut carrier gas digunakan untuk
membawa sample melewati lapisan (bed) material. Karena gas yang
bergerak, maka disebut mobile phase (fasa bergerak), sebaliknya lapisan
material yang diam disebut stationary phase (fasa diam). Ketika mobile
phase membawa sample melewati stationary phase, sebagian komponen
sample akan lebih cenderung menempel ke stationary phase dan bergerak
lebih lama dari komponen lainnya, sehingga masing-masing komponen
akan keluar dari stationary phase pada saat yang berbeda. Dengan cara ini
komponen-komponen sample dipisahkan. Dalam kromatografi gas, fase
bergeraknya adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan
tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam
berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat
pada zat padat penunjangnya.

5. Petunjuk Cara Kerja

Walaupun beberapa system KG sangat rumit, pada dasarnya cara kerjanya


sama. Jika KG telah dinyalakan maka dapat dilakukan beberapa langkah
berikut ini ;

1. Instrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini


dilakukan untuk mengecek apakah telah dipasang kolom yang tepat,
apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang besar atau bocor
karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah
tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan
baik, dan apakah detector yang terpasang sesuai.
2. Aliran gas kekolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan
membukan katup utama pada tangki gas dan kemudian memutar katup
(diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka katup jarum sedikit.
Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk kolom
kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system
dan melindungi kolom dan detector terhadap perusakan secara oksidasi.
Dalam banyak instrument modern, aliran gas dapat diatur dengan
rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat
dimasukkan melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor. Apapun
jenisnya, sambungan system (terutama sambungan kolom) harus dicek
dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada yang bocor, atau
dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau dapat
juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.
3. Kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini
dilakukan, pada instrument buatan lama, dengan memutar
transformator tegangan peubah yang mengendalikan gelungan pemanas
dalam tanur kesekitar 90 V.

Waktu retensi

Waktu yang digunakan oleh senyawa tertentu untuk bergerak melalui kolom menuju ke detektor
disebut sebagi waktu retensi. Waktu ini diukur berdasarkan waktu dari saat sampel diinjeksikan pada
titik dimana tampilan menunujukkan tinggi puncak maksimum untuk senyawa itu.

Setiap senyawa memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk senyawa tertentu, waktu retensi sangat
bervariasi dan bergantung pada:

• Titik didih senyawa. Senyawa yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi daripada
temperatur kolom, akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berkondensasi sebagai
cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik didih yang tinggi akan memiliki waktu
retensi yang lama.
• Kelarutan dalam fase cair. Senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair, akan mempunyai
waktu lebih singkat untuk dibawa oleh gas pembawa.. Kelarutan yang tinggi dalam fase cair
berarti memiiki waktu retensi yang lama.
• Temperatur kolom. Temperatur tinggi menyebakan pergerakan molekul-molekul dalam fase
gas; baik karena molekul-molekul lebih mudah menguap, atau karena energi atraksi yang
tinggi cairan dan oleh karena itu tidak lama tertambatkan. Temperatur kolom yang tinggi
mempersingkat waktu retensi untuk segala sesuatunya di dalam kolom.

Untuk memberikan sampel dan kolom, tidak ada banyak yang bisa dikerjakan menggunakan titik
didih senyawa atau kelarutannya dalam fase cair, tetapi anda dapat mempunyai pengatur temperatur.

Semakin rendah temperatur kolom semakin baik pemisahan yang akan anda dapatkan, tetapi akan
memakan waktu yang lama untuk mendapatkan senyawa karena kondensasi yang lama pada bagian
awal kolom!

Dengan kata lain, menggunakan temperatur tinggi, segala sesuatunya akan melalui kolom lebih cepat,
tetapi pemisihannya kurang baik. Jika segala sesuatunya melalui kolom dalam waktu yang sangat
singkat, tidak akan terdapat jarak antara puncak-puncak dalam kromatogram.

Jawabannya dimulai dengan kolom dengan suhu yang rendah kemudian perlahan-lahan secara teratur
temperaturnya dinaikkan.

Pada awalnya, senyawa yang menghabiskan lebih banyak waktunya dalam fase gas akan melalui
kolom secara cepat dan dapat dideteksi. Dengan adanya sedikit pertambahan temperatur akan
memperjelas “perlekatan” senyawa. Peningkatan temperatur masih dapat lebih `melekatan`
molekul-molekul fase diam melalui kolom.

Detektor

Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor ionisasi nyala dijelaskan pada bagian
bawah penjelasan ini, merupakan detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada
detektor alternatif lainnya.

Detektor ionisasi nyala

Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik merupakan hal yang sangat kompleks.
Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektron-elektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan
elektron dapat dideteksi.

Seluruh detektor ditutup dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu
menghentikan kondensasi dalam detektor.

Jika tidak terdapat senyawa organik datang dari kolom, anda hanya memiliki nyala hidrogen yang
terbakar dalam air. Sekarang, anggaplah bahwa satu senyawa dalam campuran anda analisa mulai
masuk ke dalam detektor.

Ketika dibakar, itu akan menghasilkan sejumlah ion-ion dan elektron-elektron dalam nyala. Ion positif
akan beratraksi pada katoda silinder. Ion-ion negatif dan elektron-elektron akan beratraksi
pancarannya masing-masing yang mana merupakan anoda.

Hal ini serupa dengan apa yang terjadi selama elektrolisis normal.
Pada katoda, ion positif akan mendatangi elektron-elektron dari katoda dan menjadi netral. Pada
anoda, beberapa elektron dalam nyala akan dipindahkan pada elektroda positif; ion-ion negatif akan
memberikan elektron-elektronnya pada elektroda dan menjadi netral.

Kehilangam elektron-elektron dari satu elektroda dan perolehan dari elektroda lain, akan
menghasilkan aliran elektron-elektron dalam sirkuit eksternal dari anoda ke katoda. Dengan kata lain,
anda akan memperoleh arus listrik.

Arus yang diperoleh tidak besar, tetapi dapat diperkuat. Jika senyawa-senyawa organik lebih banyak
dalam nyala, maka akan banyak juga dihasilkan ion-ion, dan dengan demikian akan terjadi arus listrik
yang lebih kuat. Ini adalah pendekatan yang beralasan, khususnya jka anda berbicara tentang
senyawa-senyawa yang serupa, arus yang anda ukur sebanding dengan jumlah senyawa dalam nyala.

Kekurangan detektor ionisasi nyala

Kekurangan utama dari detektor ini adalah pengrusakan setiap hasil yang keluar dari kolom
sebagaimana yang terdeteksi. Jika anda akan mengrimkan hasil ke spektrometer massa, misalnya
untuk analisa lanjut, anda tidak dapat menggunakan detektor tipe ini.

Penerjemahan hasil dari detektor

Hasil akan direkam sebagai urutan puncak-puncak; setiap puncak mewakili satu senyawa dalam
campuran yang melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam kolom,
anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang tampak-
tentu saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada
kondisi yang sama.

Area dibawah puncak sebanding dengan jumlah


setiap senyawa yang telah melewati
detektor, dan area ini dapat dihitung secara
otomatis melalui komputer yang
dihubungkan dengan monitor. Area yang akan
diukur tampak sebagai bagian yang
berwarna hijau dalam gambar yang
disederhanakan.

Perlu dicatat bahwa tinggi puncak tidak merupakan masalah, tetapi total area dibawah puncak. Dalam
beberapa contoh tertentu, bagian kiri gambar adalah puncak tertinggi dan memiliki area yang paling
luas. Hal ini tidak selalu merupakan hal seharusnya..

Mungkin saja sejumlah besar satu senyawa dapat tampak, tetapi dapat terbukti dari kolom dalam
jumlah relatif sedikit melalui jumlah yang lama. Pengukuran area selain tinggi puncak dapat
dipergunakan dalam hal ini.

Perangkaian kromatogram gas pada spektrometer massa

Hal ini tidak dapat dillakukan menggunakan detektor ionisasi nyala, karena detektor dapat merusak
senyawa yang melaluinya. Anggaplah anda menggunakan detektor yang tidak merusak. Senyawa,

Ketika detektor menunjukkan puncak, beberapa diantaranya melalui detektor dan pada waktu itu
dapat dibelokkan pada spektrometer massa. Hal ini akan memberikan pola fragmentasi yang dapat
dibandingkan dengan data dasar senyawa yang telah diketahui sebelumnya pada komputer. Itu berarti
bahwa identitas senyawa-senyawa dalam jumlah besar dapat dihasilkan tanpa harus mengetahui waktu
retensinya

Identifikasi dengan Logaritma Retensi

Mengambarkan grafik dari data retensi relatif atau yang disesuaikan terhadap berbagai
parameter fisik senyawa atau serangakaian homologi dapat memberikan petunjuk dari
identitas sampel yang belum diketahui.

Identifikasi dengan Menggunakan Retention Index

Konstanta bahan terlarut Kovats Indices dan Rohschneider dapat memberikan petunjuk yang baik
mengenai identitas atau jumlah karbon untuk beberapa senyawa. Data ini tersedia dalam Jurnal
Kromatografi dan publikasi ASTM. Metode pergeseran puncak juga merupakan alat yang baik untuk
identifikasi kualitatif.

Identifikasi dengan Menggunakan Dua Detektor

Perbandingan rasio respon dari senyawa yang dianalisa oleh dua detektor yang berbeda dibawah
kondisi yang telah ditetapkan bersifat karakteristik pada senyawa tersebut.

Sampel biasanya dikromatografikan pada satu kolom dan kolom dibagi untuk dua detektor yang
berbeda dengan yang masing-masing di rekam ke kromatogram secara bersamaan.

Kedua detektor tersebut spesifik seperti detektor “flame photometric detector (FPD)” akan memberi
respon pada senyawa-senyawa sulfur dan phosporus, detektor “electron captive detector (ECD)” akan
memberi respon pada senyawa-senyawa halogen, sementara thermionic spesific detector (TSD) akan
memberi respon pada senyawa-senyawa nitrogen dan phosphorus. Detektor-detektor tersebut
diterapkan secara luas dalam analisa obat-obatan dan pestisida.

Pendekatan ini umumnya direkomendasikan untuk deteksi senyawa spesifik dibandingkan general
qualitative digunakan sebagai kromatogram yang sulit untuk diinterpretasikan. Identifikasi dengan
Penggabungan dengan Metode penentuan Fisik lainnya

Pada saat fraksi dari senyawa yang dielusi telah dikumpulkan ini memungkinkan untuk diidentifikasi
oleh teknik fisik lainnya. Teknik ini termasuk :

1. Mass Spectrometry – Berhubungan langsung dengan kolom kapiler


2. Infra red spectrometry – langsung ke dalam cell sampel gas atau cair
3. Nuclear Magnetic Resonance
4. Coulometry
5. Polarography
6. UV Visible Spectroscopy
7. Atomic absorption
8. Inductively coupled plasma
9. Flamephotometry
DAFTAR PUSTAKA

Madbardo.____. Gas Kromatografi. Artikel (online).


http://madbardo.blogspot.com/2010/02/kromatografi-gas.html diakses
tanggal 12 April 2010.

Edrushiman. 2009. Gas-Liquid Chromatography. Artikel (online)


http://edrushimawan.com/gas-liquid-chromatography/ diakses tanggal 12
April 2010.

Puspita, Chrisye Dewi. 2007. Kromatografi. Artikel (online). http://ilmu-


kedokteran.blogspot.com/2007/11/kromatografi.html diakses tanggal 12
April 2010.