Anda di halaman 1dari 13

MANAJEMEN RUMAH SAKIT

Manajemen di Rumah Sakit haruslah dilaksanakan seperti “bebek merenangi


kolam,” tampak tenang di permukaan dan tetap aktif bergerak di bawah
permukaan (Wilan, 1990). Hal ini perlu dilakukan karena rumah sakit
berhadapan dengan orang khususnya orang sakit sehingga harus tampak
tenang di satu pihak. Di pihak lain, karena kompleksnya masalah yang
dihadapi di rumah sakit, maka para manajernya harus betul-betul aktif
bergerak terus untuk mampu memberi pelayanan yang terbaik.
Konsep manajemen rumah sakit telah bermula sejak jaman Arab kuno dulu,
juga pada rumah sakit dalam sejarah islam, rumah sakit Budha di India, dan
semacam rumah sakit di Israel dimana dokter yang ada juga bertindak
sebagai pendeta dan pemaham kekuatan magis. Pada masa Nabi
Muhammad SAW sistem perumahsakitan yang modern dibentuk dengan
baik. Rumah sakit jiwa telah dibangun di Arab sepuluh abad sebelum Eropa
membangun rumah sakit sejenis. Selain itu, dokter-dokter islam juga
berperan sentral dalam perkembangan ilmu farmasi dan ilmu kimia.
Beberapa rumah sakit yang masyhur di jazirah arab ketika itu antara lain di
Bagdad, Damaskus dan Kairo.
Istilah Hospital konon berakar dari kata latin hostel yang biasa digunakan di
abad pertengahan sebagai tempat bagi para pengungsi yang sakit, dan
miskin. Pendapat lain oleh Yu (1997) menyatakan bahwa istilah hospital
berasal dari bahasa Perancis kuno dan medieval English, yang dalam kamus
inggris Oxford didefinisikan sebagai :
• Tempat untuk istirahat dan Hiburan
• Institusi sosial untuk mereka yang membutuhkan akomodasi, lemah
dan sakit.
• Institusi sosial untuk pendidikan dan kaum muda
• Institusi untuk merawat mereka yang sakit dan cedera.
Dalam bahasa indonesia sendiri istilah rumah sakit mungkin berasal dari
bahasa Belanda zieken huis.

Definisi Rumah Sakit


Rumah sakit itu sebuah tempat, tetapi juga sebuah fasilitas, sebuah institusi,
sebuah organisasi. Untuk dapat mengatur rumah sakit dengan baik maka
seseorang tentu harus dapat mendefinisikannya dengan tepat pula.
Definisi yang paling klasik hanya menyatakan bahwa rumah sakit adalah
institusi (fasilitas) yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap, ditambah
dengan beberapa penjelasan lain. American Hospital Association tahun 1978
menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya
adalah memberikan pelayanan kepada pasien, diagnostik dan terapeutik
untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan, baik yang bersifat bedah
maupun non bedah.
SK menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 menyebutkan bahwa
rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan subspesialistik.

Definisi Manajemen Rumah Sakit


Manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya
(unsur manajemen) melalui proses perencanaan, pengorganisasian, ada
kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan rumah sakit seperti :
Menyiapkan sumber daya, mengevaluasi efektivitas, mengatur pemakaian
pelayanan, Efisiensi, Kualitas.
Banyak definisi manajemen yang ada, dan masing-masing akan
menunjukkan penekanan tertentu, yang penting diambil pada pokok fungsi
manajemen dan unsur dari manajemen.
Perencanaan Teknologi Strategik Rumah Sakit
Sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit sudah dikenal luas
sebagai salah satu institusi yang paling kompleks dan banyak bergantung
pada teknologi, seperti prosedur kerja, obat-obatan, dan berbagai fasilitas
fisik. Rumah sakit harus beroperasi 24 jam setiap hari, dan melibatkan para
pakar dan teknologi yang amat murni. Karena itu, perencanaan yang
strategik perlu dapat perhatian utama.
Elemen-elemen untuk pelaksanaan perencanaan strategik teknologi
pelayanan kesehatan meliputi :
• Analisis kebutuhan
• Penilaian teknologi
• Evaluasi staf dan fasilitas
• penentuan skala prioritas
sementara itu, implementasi teknologi dalam perencanaan strategik ini
meliputi :
• Perencanaan peralatan secara rinci
• Koordinasi arsitektural
• Dukung enjinering
Pengorganisasian Rumah Sakit
Dalam rangka mengembangkan secara lebih konsepsional organisasi rumah
sakit maka diperlukan adanya kejelasan-kejelasan yang memungkinkan
pihak direksi bisa berpartisipasi aktif dalam melaksanakannya dengan
batasan yang jelas, untuk itu diperlukan sebagai berikut :
• Pengertian yang sama tentang tugas dan batasannya
• Adanya itikad untuk melaksanakan secara konsepsional dan konsisten
• perlu secara bersama-sama memperbaiki dan mengembangkan lebih
lanjut

DOKTER DI RUMAH SAKIT

Griffith (1987) menyebutkan bahwa ada interdependensi antara Rumah Sakit


dengan Dokter. Antara keduanya haruslah ada kerjasama yang
menguntungkan kedua belah pihak. Menggambarkan hugungan antara
dokter dengan rumah sakit dalam bentuk cojoint staff, suatu istilah yang
diperkenalkan oleh sosiolog WR Scott. Dalam konsep ini, hubungan akan
terbina secara intensif, di mana para dokter secara aktif berpartisipasi
dalam berbagai aspek manajemen di rumah sakit dan belajar mengerti sisi
lain di Rumah sakit.
Dalam paradigma lama dikenal peran dokter adalah paling dominan di
Rumah sakit. Dokter cenderung otonom dan otokratik. Profesi lain di rumah
sakit dianggap hanya berfungsi membantu tugas para dokter. Pasien pun
tidak banyak haknya, dan cenderung menurut saja apa pun yang diputuskan
dokter. Dalam perkembangan paradigma baru tentu hanya jadi dan telah
berubah. Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 telah secara tegas
menyebutkan “hak pasien” yang meliputi hak informasi, hak untuk
memberikan persetujuan, hak atas rahasia kedokteran dan hak atas
pendapat kedua. Dalam Undang-Undang ini juga disebutkan bahwa tenaga
kesehatan termasuk dokter tentunya dalam melakukan kewajibannya
berkewajiban mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien. Suatu
penelitian di Amerika Serikat yang dikutip dari tulisan Tjandra Yoga Aditama
menyebutkan tujuh keluhan pasien terhadap dokternya di rumah sakit.
Keluhan itu meliputi tidak diberi cukup waktu oleh dokter, biaya terlalu
tinggi, keangkuhan dokter, tidak diberi informasi lengkap tentang
penyakitnya, tidak diberi informasi lengkap tentang biaya, waktu menunggu
terlalu lama serta tidak adanya kerjasama antara dokter pribadi dan spesialis
yang dikonsul.
Timbulnya paradigma baru, disertai dengan kemajuan teknologi dan
globalisasi akan memaksa rumah sakit dan dokter mendefinisikan kembali
hubungan kerja antara keduanya. Rumah sakit perlu menangani dokter
sebagai salah satu jenis pelanggan mereka dengan berbagai harapan yang
ingin dipenuhinya.
Ingerani dalam makalahnya pada kongres PERSI VII 1996 menyatakan bahwa
dalam hal membina hubungan antar rumah sakit dan para dokter maka
pihak pengelola rumah sakit perlu memperhatikan beberapa hal. Pengelola
perlu mengetahui kebutuhan dokternya, perlu mendukung dokter yang
berminat dan mampu memberi masukan berguna, turut menjaga integritas
dokter dan mampu memenuhi kebutuhan dokter-dokternya serta melibatkan
mereka dalam pembuatan keputusan tanpa mengurangi otonomi pimpinan
rumah sakit. Pihak rumah sakit punya kewajiban untuk mengadakan seleksi
tenaga dokter, mengadakan koordinasi serta hubungan yang baik antar
seluruh tenaga di rumah sakit.

KEPUSTAKAAN
Aditama, Tjandra Y., Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta : Universitas Indonesia,
2003.
Daft, Richard L., Management. Jakarta : Salemba Empat, 2003.
Darmawi, H., Manajemen Asuransi. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2001
Gaspersz, Vincent., Total Quality Management.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Kotler, Philip., Manajemen Pemasaran. Jakarta : PT. Indek Kelompok Gramedia, 2005.
Muninjaya, A. A. Gde., Manajemen Kesehatan. Jakarta : EGC, 2004.
Siagian, Sondang P., Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006.
Stoner, James A.F., Manajemen. Jakarta : PT. Prenhallindo, 2006.
Thabrany, H., Asuransi Kesehatan di Indonesia. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan UI, Depok,
2002.
Terry, George R., Prinsip Prinsip Manajemen. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2008.
Wijono, Djoko., Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Surabaya : Airlangga
University Press, 1997.
___________., e-course.usu.ac.id/content/manajemen/manajemen0/textbook.
Baca Juga :

PERAWAT DI RUMAH SAKIT

Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi luhur bidang kesehatan.


Pengertian pelayanan keperawatan sesuai WHO Expert Communitee on
Nursing (1982) adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni
melayani/merawat (care), suatu gabungan humanistik dari ilmu
pengetahuan, filosofi keperawatan, kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu
sisoal.
Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting
dalam menyelenggarakan upaya menjaga mutu, pelayanan kesehatan di
rumah sakit.
Jhon Griffith (1987) menyatakan bahwa kegiatan keperawatan di rumah sakit
dapat dibagi menjadi keperawatna klinik dan manajemen keperawatan.
Kegiatan
keperawatan klinik antara lain terdiri dari :
• Pelayanan keperawatan personal, yang antara lain berupa pelayanan
keperawatan umum dan atau spesifik untuk sistem tubuh tertentu,
pemberian motivasi dan dukungan emosi pada pasien, pemberian
obat, dll.
• Berkomunikasi dengan dokter dan petugas penunjang medik,
mengingat perawat selalu berkomunikasi dengan pasien setiap waktu
sehingga merupakan petugas yang seyogyanya paling tahu tentang
keadaan pasien.
• Berbagai hal tentang keadaan pasien ini perlu dikomunikasikan
dengan dokter atau petugas lain.
• Menjalin hubungan dengan keluarga pasien. Komunikasi yang baik
dengan keluarga/kerabat pasien akan membantu proses penyembuhan
pasien itu sendiri. Keluarga perlu mendapat kejelasan sampai batas
tertentu tentang keadaan si pasien, dan berpartisipasi aktif dalam
proses penyembuhannya.
• Menjaga lingkungan bangsal tempat perawatan. Dalam hal ini perlu
diingatkan bahwa dulu Florence Nightingale dan teman-temannya
secara langsung mengepel dan menyikat lantai bangsal perawatan
tempat mereka bekerja. Kini situasinya mungkin telah berubah, tetapi
perawat tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan bangsal
perawatan pasien, baik lingkungan fisik, mikro biologik, keamanan, dll.

Dalam hal manajemen keperawatan di rumah sakit, tugas yang harus


dilakukan adalah :
• penanganan administratif, antara lain dapat berupa pengurusan
masuknya pasien kerumah sakit, pengawasan pengisian dokumen
catatan medik dengan baik, membuat penjadwalan proses
pemeriksaan /pengobatan pasien, dll.
• Membuat penggolongan pasien sesuai berat-ringannya penyakit, dan
kemudian mengatur kerja perawatan secara optimal pada setiap
pasien sesuai kebutuhannya masing-masing.
• Memonitor mutu pelayanan pada pasien, baik palayanan keperawatan
secara khusus maupun pelayanan lain secara umumnya.
• Manajemen ketenagaan dan logistik keperawatan, kegiatan ini meliputi
staffing, schedulling, assignment dan budgeting.

PELAYANAN PENUNJANG MEDIK

Pelayanan penunjang medik di rumah sakit menurut Jhon R. Griffith meliputi


pelayanan diagnostik, terapeutik dan kegiatan di masyarakat umum.
Pelayanan Penunjang Medik diagnostik meliputi :
• Laboraturium : kimiawi, hematologi, histopologi, bakteriologi, virologi,
otopsi dan kamar jenazah.
• Diagnostik imaging : radiologi, tomografi, radioisotop, ultra-sonografi
dan CT scan
• Laboraturium kardiopulmoner : elektrokardiografi, tes fungsi paru dan
kateterisasi jantung.
• Lain-lain : elektroensefalografi, elektromiografi dan audiologi.
Pelayanan Penunjang Medik terapeutik meliputi :
• Farmasi
• Ruang operasi : anastesi, ruang bedah, ruang pulih
• ruang melahirkan/persalinan
• unit gawat darurat
• bank darah
• rehabilitasi medik : terapi fisik, terapi respirasi, terapi wicara dan
terapi okupasi.
• Pelayanan sosial
• radioterapi
• psikologi klinik
• terapi di rumah penderita : homecare, hospice

Pelayanan Penunjang Medik di Masyarakat umum meliputi :


• Imunisasi
• Program skrining berbagai penyakit tertentu
• pelatihan resusitasi kardiopulmoner
• Keluarga berencana dan KIA
• Program kebugaran jasmani dan pengendalian berat badan.

SK menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman


organisasi rumah sakit umum, maka rumah sakit umum harus menjalankan
beberapa fungsi, satu diantaranya adalah fungsi menyelenggarakan
pelayanan penunjang medik dan non medik.
Bidang penunjang medik membawahi tiga buah seksi yaitu :
• Seksi ketenagaan dan pengendalian mutu penunjang medik
• Seksi pengembangan fasilitas penunjang medik
• Seksi pemeliharaan fasilitas penunjang medik

Jhon Griffith menyatakan bahwa seorang manajer di dalam kegiatan


penunjang medik di rumah sakit punya dua fungsi, yaitu fungsi klinik dan
fungsi manajerial.
Fungsi seorang manajer penunjang medik di bidang klinik utamanya adalah
menjamin mutu pelayanan yang baik. Produk pelayanan penunjang medik
harus dapat memuaskan pasien dan juga memuaskan dokter yang meminta
tindakan itu dilakukan pada pasiennya. Kunci keberhasilan pelayanan
dengan kualitas teknis yang baik adalah dengan melakukannya secara baik,
secara terus menerus dalam berbagai keadaan dan sedapat mungkin
mencapai hasil seperti yang diharapkan.

PELAYANAN FARMASI
Pelayanan farmasi di rumah sakit merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari pelayanan rumah sakit secara keseluruhannya.
Pedoman organisasi rumah sakit umum menyatakan bahwa rumah sakit
umum harus melaksanakan beberapa fungsi, satu diantaranya adalah
pelayanan farmasi. Instalasi farmasi di rumah sakit merupakan satu-satunya
unit di rumah sakit yang mengadakan barang farmasi. Mengelola dan
mendisrtibusikannya kepada pasien, bertanggung jawab atas semua barang
farmasi yang beredar di rumah sakit serta bertanggung jawab atas
pengadaan dan penyajian informasi obat yang siap pakai bagi semua pihak
di rumah sakit, baik petugas maupun pasien. Instalasi farmasi di rumah sakit
harus memiliki organisasi yang memadai serta di pimpin oleh seorang
apoteker dengan personalia lain meliputi para apoteker, asisten dokter,
tenaga administrasi serta tenaga penunjang medis.
Rumah sakit perlu dilengkapi dengan manajemen farmasi yang sistematis.
Manajemen farmasi tentu tidak terlepas dari konsep umum manajemen
logistik, dimana unsurnya meliputi :
• Pengadaan yang berencana
• Pengangkutan eksternal yang terjamin
• distribusi internal yang selamat dan aman
• Pengendalian persediaan yang teliti
Dalam hal pengadaan ada empat faktor penting yang perlu dapat perhatian,
yaitu mutu, jumlah, waktu dan biaya. Sementara itu, empat aspek dalam
komponen pengangkutan adalah pengemasan, pengiriman, serta
perencanaan penerimaan barang yang terencana baik dan dilaksanakan
sesuai norma keselamatan, efisiensi dan menguntungkan. Secara umum,
arus barang di dalam rumah sakit (termasuk barang-barang farmasi
tentunya) meliputi proses penerimaan, penyimpanan, penyaluran dan
pencatatan.

FUNGSI MANAJEMEN
1. Perencanaan
Perencanaan menentukan dimana organisasi ingin berada dimasa depan dan
bagaimana agar dapat sampai kesana. Perencanaan (planning) berarti
menentukan tujuan untuk kinerja organisasi dimasa depan serta
memutuskan tugas dan pengguna sumber daya yang diperlukan untuk
mencapai
tujuan tersebut.
Langkah pertama dalam merencanakan adalah memilih sasaran organisasi.
Kemudian sasaran ditetapkan untuk setiap subunit organisasi-divisi,
departemen, dan sebagainya. Setelah semuanya ini ditetapkan, program
ditentukan untuk mencapai sasaran dengan cara yang sistematik. Tentu
saja, dalam memilih tujuan dan program pengembangan, manajer puncak
mempertimbangkan apakah semuanya layak dan dapat diterima oleh
manajer organisasi berserta dengan semua karyawan. Kurangnya
perencanaan, atau perencanaan yang buruk dapat menghancurkan kinerja
organisasi.

2. Pengorganisasian
Mengorganisasikan adalah proses mengatur dan mengalokasikan pekerjaan,
wewenang, dan sumber daya diantara anggota organisasi, sehingga mereka
dapat mencapai sasaran organisasi.
Pengorganisasian umumnya dilakukan setelah perencanaan dan
mencerminkan bagaimana perusahaan mencoba untuk mencapai
rencananya. Pengorganisasian (organizing) meliputi penentuan dan
pengelompokkan tugas kedalam departemen, penentuan otoritas, serta
alokasi sumber daya diantara organisasi.

3. Kepemimpinan
Memberikan kepemimpinan merupakan fungsi manajemen yang semakin
penting. Kepemimpinan (leading) merupakan penggunaan pengaruh untuk
memberikan motivasi kepada karyawan untuk mencapai tujuan organisasi.
Memimpin berarti menciptakan budaya dan nilai bersama,
mengkomunikasikan tujuan kepada karyawan diseluruh organisasi, dan
memberikan masukan kepada karyawan agar memiliki kinerja dengan
tingkat yang lebih tinggi. Memimpin juga melibatkan pemberian motivasi
kepada seluruh departemen, divisi, dan individu yang bekerja langsung
dengan manajer.

4. Pengendalian
Pengendalian (controlling) berarti mengawasi aktivitas karyawan,
menentukan apakah organisasi dapat memenuhi target tujuannya, dan
melakukan koreksi bila diperlukan. Manajer harus memastikan bahwa
organisasi bergerak menuju tujuannya.

Kepustakaan/Sumber Bacaan
Aditama, Tjandra Y., Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta : Universitas Indonesia,
2003.
Daft, Richard L., Management. Jakarta : Salemba Empat, 2003.
Darmawi, H., Manajemen Asuransi. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2001
Gaspersz, Vincent., Total Quality Management.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Kotler, Philip., Manajemen Pemasaran. Jakarta : PT. Indek Kelompok Gramedia, 2005.
Muninjaya, A. A. Gde., Manajemen Kesehatan. Jakarta : EGC, 2004.
Siagian, Sondang P., Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006.
Stoner, James A.F., Manajemen. Jakarta : PT. Prenhallindo, 2006.
Thabrany, H., Asuransi Kesehatan di Indonesia. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan UI, Depok,
2002.
Terry, George R., Prinsip Prinsip Manajemen. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2008.
Wijono, Djoko., Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Surabaya : Airlangga
University Press, 1997.
___________., e-course.usu.ac.id/content/manajemen/manajemen0/textbook.

UNSUR MANAJEMEN

Untuk mencapai tujuan organisasi diperlukan keahlian dan seni (art) seorang
manajer dalam menjalankan fungsi manajemen dan mendayagunakan
sebaik – baiknya unsur manajemen yang dimiliki supaya berhasil guna.
Unsur manajemen (Tool of management), biasa dikenal dengan 6 (enam) M ,
yaitu :
• Men, tenaga yang dimanfaatkan;
• Money, anggaran yang dibutuhkan;
• Materials, bahan atau material yang diperlukan;
• Machines, mesin atau alat yang dipergunakan dalam berproduksi;
• Methode, cara yang dipergunakan dalam bekerja;
• Market/marketing, pasar dan pemasaran hasil produksi yang dihasilkan
HUBUNGAN FUNGSI DAN UNSUR MANAJEMEN
Seorang manajer atau pemimpin menjalankan fungsi – fungsi manajemen
dan unsur – unsur manajemen secara terpadu (integratif) dan menyeluruh
(komprehensif), artinya dalam mencapai tujuan manajer membuat
perencanaan, pengorganisasian, mengendalikan semua unsur manajemen
secara bersamaan dalam satu kesatuan gerak secara simultan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, seorang manajer akan bertanya apakah yang
seharusnya direncanakan, digerakkan, diawasi dan dikendalikan ? kalau
diperhatikan dari pengertian manajemen obyeknya adalah orang, namun
dalam prakteknya semua unsur manajemen (6 M) dibuat perencanaan,
diorganisasikan, digerakkan untuk pelaksanaannya, dan dikendalikan untuk
mencapai tujuan. Oleh karena itu dilakukan :
• Perencanaan (Planning) terhadap : Tenaga, Anggaran, Bahan,
Peralatan, Metode dan Pemasaran.
• Pengorganisasian (Organizing) terhadap : Tenaga, Anggaran, Bahan,
Peralatan, Metode dan Pemasaran.
• Penggerakkan (Action), terhadap : Tenaga, Anggaran, Bahan,
Peralatan, Metode dan pemasaran.
• Penganggaran (Budgeting) terhadap : Tenaga, Anggaran, Bahan,
Peralatan, Metode dan Pemasaran.
• Pengendalian (Controlling) terhadap : Tenaga, Anggaran, Bahan,
Peralatan, Metode dan Pemasaran.

TINGKATAN MANAJER
Penentu pekerjaan manajer yang paling penting adalah tingkatan hierarki.
Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan
menjadi tiga tingkatan yaitu : manajer puncak (top manager), manajer
menengah (middle manager) , dan manajer lini pertama.
Gambar.5

1.Manajer Puncak (top manager)


Manajer puncak berada pada puncak hierarki dan bertanggung jawab atas
keseluruhan organisasi. Mereka menyandang jabatan seperti presiden,
ketua, direktur eksekutif, presiden direktur (chief executive officer - CEO),
dan wakil presiden eksekutif. Manajer puncak bertanggung jawab untuk
menentukan tujuan organisasi, menetapkan strategi untuk mencapai tujuan
tersebut, mengawasi dan menginterpretasikan lingkungan eksternal, serta
mengambil keputusan yang mempengaruhi seluruh organisasi. Mereka
memandang kedepan dalam jangka panjang , memperhatikan tren
lingkungan secara umum, dan keberhasilan perusahaan secara keseluruhan.
Di antara tanggung jawab yang paling penting untuk manajer puncak adalah
mengkomunikasikan visi bersama untuk organisasi, membentuk budaya
perusahaan, dan menjaga semangat kewirausahaan yang dapat membantu
perusahaan menyeimbangi perusahaan yang cepat. Terlebih pada masa
sekarang, manajer puncak harus melibatkan pengetahuan, keahlian, dan
kemampuan unik dari masing – masing karyawan.
2. Manajer Menengah (middle manager)
Manajer menengah bekerja pada tingkat menengah organisasi dan
bertanggung jawab atas unit usaha dan departemen utama. Contoh manajer
menengah ini adalah kepala departemen, kepala divisi, manajer kendali
mutu, dan direktur laboratorium riset. Manajer menengah umumnya
memiliki dua atau lebih tingkatan manajemen di bawahnya. Mereka
bertanggung jawab atas implementasi strategi secara keseluruhan dan
kebijakan yang ditentukan oleh manajer puncak. Manajer menengah
umumnya berurusan dengan masa depan yang tidak terlalu jauh dan
diharapkan dapat membina hubungan baik dengan sesama manajer di
dalam organisasi, mendorong kerja tim, dan menyelesaikan konflik.
3. Manajer Lini Pertama (first-line manager)
Manajer lini pertama secara langsung bertanggung jawab atas
produksi barang dan jasa. Mereka merupakan tingkatan pertama atau kedua
manajemen dan memegang jabatan sebagai penyelia, manajer lini, kepala
seksi, dan manajer kantor. Mereka bertanggung jawab atas sekelompopk
karyawan non manajemen. Perhatian mereka yang utama adalah penerapan
aturan dan prosedur untuk mencapai produksi yang efisien, memberikan
bantuan teknis, dan memotivasi bawahan. Jangka waktu pada tingkat ini
terbilang pendek , dengan penekanan pada pencapaian tujuan dari hari
kehari.

vv