Anda di halaman 1dari 19

MEMPELAJARI NILAI SENSITIVITAS DAN SPESIFIVITAS DARI ALAT UKUR

PADA PERAWATAN ANESTESI : “SKOR SINCLAIR SEBUAH PREDIKTOR


POST OPERATIVE NAUSEA AND VOMITING (PONV) PADA PASIEN DEWASA
DENGAN ANESTESI UMUM”

Oleh :
Iza Diana Putri
Mata Kuliah :
Epidemiologi Klinik

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESI
T.A 2019/ 2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Post operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan komplikasi yang sering
pada anestesi umum, terjadi pada 24 jam pertama setelah operasi sebanyak 30-70% pada
pasien rawat inap. Angka ini menurun bila dibandingkan masa anestesi yang masih
menggunakan ether yaitu 75%. Walaupun PONV hampir selalu hilang sendiri dan tidak
fatal, namun menunjukkan angka morbiditas yang signifikan, dehidrasi, ketidak
seimbangan elektrolit dan dehisiensi. Setiap kejadian PONV akan menyebabkan pasien
lebih lama keluar dari ruang pemulihan.
PONV dihindari oleh sebagian besar pasien dan anestesiologis. Namun, profilaksis
antiemetik non selektif tidak memperbaiki hasil akhir kecuali pada pasien dengan risiko
tinggi. Belakangan ini skor risiko untuk prediksi PONV telah digunakan sebagai cara
mengklasifikasi pasien sesuai dengan prediksi risiko dan memberikan profilaksis sesuai
dengan klasifikasi ini. Dalam rangka mengidentifikasi pasien berisiko tinggi yang
mendapat manfaat dari pengobatan antiemetik dengan biaya hemat, beberapa model dan
nilai telah diusulkan.
Belum ada sistem skoring yang dijadikan sebagai baku emas (gold standart)
berdasarkan akurasinya. Perkembangan utama dalam sistem skoring terfokus pada
penyederhanaan sistem skor untuk kemudahan dalam penilaian. Salah satu cara yang
digunakan untuk mengidentifikasi pasien berisiko PONV dengan menggunakan skor
Apfel yang memiliki sistem skoring paling sederhana yaitu empat faktor risiko dan
mempunyai nilai sensitifitas dan spesifisitas berkisar antara 0,669 sampai 0,691 pada
kurva ROC (Receiver Operating Characteristic) sehingga dapat dikategorikan lemah
dalam memprediksi PONV.
Skor Sinclair merupakan model lain untuk memprediksi PONV yang telah dilaporkan
dalam penelitian Sinclair et al. (1999). Model ini memprediksi PONV dengan mengguna-
kan skor Sinclair yang mempunyai tujuh faktor risiko. Eberhartet al. (2004) melakukan
penelitian penerapan skor risiko PONV dewasa untuk anak, melaporkan bahwa nilai
kurva ROC untuk skor Apfel yaitu 0,58 (IK 95%: 0,54-0,62) dan skor Sinclair yaitu 0,65
(IK 95%: 0,61-0,69). Hasil penelitian ini nampak bahwa skor Sinclair memperlihatkan
hasil sensitifitas dan spesifisitas yang lebih akurat dalam memprediksi PONV pada anak.

2
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Post operative Nausea and Vomiting (PONV)?
2. Apa saja klasifikasi Post operative Nausea and Vomiting (PONV)?
3. Bagaimana fisiologi Post operative Nausea and Vomiting (PONV)?
4. Apa saja faktor risiko Post operative Nausea and Vomiting (PONV)?
5. Bagaimana manajemen Post operative Nausea and Vomiting (PONV)?
6. Bagaimana cara mengetahui keakuratan pada skor Sinclair sebagai predictor Post
operative Nausea and Vomiting (PONV) pada pasien dewasa dengan anestesi umum?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Post operative Nausea and Vomiting (PONV)
2. Mengetahui klasifikasi Post operative Nausea and Vomiting (PONV)
3. Mengetahui fisiologi Post operative Nausea and Vomiting (PONV)
4. Mengetahui faktor risiko Post operative Nausea and Vomiting (PONV)
5. Mengetahui manajemen Post operative Nausea and Vomiting (PONV)
6. Mengetahui sensitivitas dan spesifisitas skor Sinclair dalam memprediksi kejadian
PONV pasca anestesi umum sehingga didapatkan skoring yang lebih akurat dan dapat
digunakan sebagai prediktor mual dan muntah pada pasien pasca anestesi umum.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Anestesi Umum
Anestesi umum menurut American Association of Anestesiologist merupakan
pemberian obat yang menginduksi hilangnya kesadaran dimana pasien tidak
arousable, meskipun dengan stimulasi yang sangat menyakitkan. Kemampuan untuk
mengatur fungsi pernafasan juga terganggu. Pasien seringkali membutuhkan bantuan
untuk menjaga patensi jalan nafas, dan tekanan ventilasi positif dibutuhkan karena
hilangnya ventilasi spontan atau hilangnya fungsi neuromuskular. Fungsi
kardiovaskular juga terganggu (ASA., 2013).
Anestesi umum dibagi menjadi tiga tehnik yaitu tehnik anestesi total
intravena, anestesi total inhalasi, dan anestesi kombinasi antara intravena dan inhalasi
yang sering disebut balance anestesia. Masing-masing dari tehnik tersebut memiliki
kekurangan dan kelebihan. Pemilihan tehnik seriingkali ditentukan oleh karakteristik
pasien sehingga tepat penggunaan dan resiko efek samping yang paling minimal. Saat
ini penggunaan tehnik ini sudah umum dan sering dikerjakan
a. Teknik anestesi umum
Anestesi umum menurut Mangku dan Tjokorda (2010), dapat dilakukan dengan 3
teknik, yaitu:
1) Anestesi umum intravena
Merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jalan
menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung ke dalam pembuluh darah
vena.
2) Anestesi umum inhalasi
Merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jalan
memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas dan atau cairan
yang mudah menguap melalui alat/ mesin anestesi langsung ke udara inspirasi.
3) Anestesi imbang
Merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi obat – obatan
baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau kombinasi
teknik anestesi umum dengan analgesia regional untuk mencapai trias anestesi
secara optimal dan berimbang.

4
2. Post Operative Nausea and Vomiting (PONV)
a. Pengertian PONV
Komplikasi paling umum yang dialami pasien berhubungan dengan
anestesi dan operasi adalah mual dan muntah pasca operasi atau Post Operative
Nausea and Vomiting (PONV). Komplikasi ini sangat menyusahkan, dan sangat
dicegah untuk terjadi. PONV didefinisikan sebagai mual dan atau muntah terjadi
dalam waktu 24 jam setelah operasi.
Mual dan muntah pasca operasi (PONV) tetap merupakan masalah klinis
yang signifikan yang dapat mengurangi kualitas hidup pasien difasilitas rumah
sakit/ perawatan, serta pada hari dimana dapat segera post discharge. Selain itu,
PONV dapat meningkatkan biaya perioperatif, meningkatkan morbiditas
perioperatif, meningkatkan lama perawatan di Post Anesthesia Care Unit (PACU),
memperpanjang rawat inap, memperlama waktu tinggal/ delay discharge,
menunda waktu dimana pasien dapat kembali bekerja, dan menyebabkan admisi
kembali (Lichtor dan Kalghatgi, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Islam dan
Jain melaporkan bahwa angka kejadian PONV berkisar antara 20 – 30%.
b. Klasifikasi PONV
American Society Post Operative Nurse (ASPAN, 2006) menyatakan bahwa,
berdasarkan waktu timbulnya mual muntah pasca operasi atau PONV digolongkan
sebagai berikut:
1) Early PONV: timbul 2 – 6 jam setelah pembedahan
2) Late PONV: timbul pada 6 – 24 jam setelah pembedahan.
3) Delayed PONV: timbul 24 jam pasca pembedahan
c. Fisiologi PONV
Mual adalah sensasi subjektif dan tidak menyenangkan terkait dengan
kesadaran dari dorongan untuk muntah (Tinsley dan Barone, 2012). Muntah
didefinisikan sebagai refleks mengejeksi secara paksa isi lambung melalui mulut.
Muntah biasanya dimulai oleh retching. Hal ini dikendalikan oleh sekelompok inti
yang terkait erat dalam batang otak disebut sebagai “pusat muntah” yang kaya
akan reseptor dopaminergik, histamin, 5HT (5hidroksitriptamin), neurokinin dan
kolinergik muskarinik. Ketika pusat muntah dirangsang, serangkaian kompleks
impuls saraf mengkoordinasikan relaksasi simultan dari otot – otot lambung serta
kontraksi perut otot dan diafragma, mengeluarkan muntah dari perut.Gejala
muntah bersifat subjektif untuk setiap pasien (Doubravska,et al, 2010).
5
Zainumi (2009) menyatakan bahwa, beberapa mekanisme fisiologis yang
menyebabkan mual dan muntah telah diketahui. Koordinator utama adalah pusat
muntah, kumpulan saraf – saraf yang berlokasi di medulla oblongata. Saraf –saraf
ini menerima input dari :
1) Chemoreceptor trigger zone (CTZ) di area postrema. CTZ kaya akan reseptor
dopamine dan 5HT (5hydroxytryptamine). CTZ tidak dilindungi oleh sawar
darah otak, oleh karena itu ia bisa terpapar oleh berbagai stimulus contohnya
obat – obatan dan toksin. CTZ yang terletak pada area postrema bisa
mengenali toksin yang beredar lalu menstimulasi pusat muntah di medulla
sebagai akibat dari operasi yang berhubungan dengan telinga tengah atau
gerakan post operative.
2) Sistem vestibular (yang berhubungan dengan mabuk darat dan mual
karenapenyakit telinga tengah). Menurut Bagir (2015), gerakan tiba – tiba dari
kepala pasien setelah bangun menyebabkan gangguan vestibular ke telinga
tengah, dan menambah insiden PONV. Asetilkoline dan histamin berhubungan
dengan transmisi sinyal dari system vestibular ke pusat muntah. Pusat kortikal
yang lebih tinggi seperti sistem limbik juga berhubungan, terutama jika adanya
riwayat PONV. Hal ini mencetuskan mual dan muntah yang berhubungan
dengan rasa, penglihatan, bau, memori yang tidak enak dan rasa takut.
3) Nervus vagus (yang membawa sinyal dari traktus gastrointestinal).
4) Sistem spinoreticular (yang mencetuskan mual yang berhubungan
dengancedera fisik). Nukleus traktus solitarius (yang melengkapi refleks)

Ada 3 komponen utama dari terjadinya muntah yaitu detektor reflex muntah,
mekanisme intergrasi dan gerakan motoric yang akan terjadi

d. Faktor Risiko PONV


Faktor risiko terkait PONV dibagi menjadi 4 faktor antara lain faktor pasien,
operasi, farmakologi dan faktor lain (Tinsley dan Barone, 2012; Doubravska,et al,
2010).Zainumi (2009) menyatakan bahwa, etiologi muntah pada PONV terdiri
dari banyak faktor. Faktor – faktornya bisadiklasifikasi berdasarkan frekuensi
terjadinya PONV pada pasien yaitu :
1) Faktor – faktor pasien
Faktor – faktor pasien yang mempengaruhi terjadinya PONV yaitu:
a) Umur

6
b) Jenis Kelamin
c) Menurut Sweis, Sara, dan Mimis (2013), tingginya risiko PONV pada
perempuan dipengaruhi oleh fluktuasi kadar hormon dengan risiko
tertinggi terjadi pada minggu ketiga dan keempat dari siklus menstruasi
serta hari keempat dankelima pada masa menstruasi. Selama fase
menstruasi dan fase praovulasi dari siklus menstruasi paparan folicel
stimulating hormone (FSH), progesteron, dan estrogen pada CTZ dan pusat
muntah dapat mengakibatkan terjadinya PONV. Namun, perbedaan jenis
kelamin ini tidak berpengaruh pada kelompok usia pediatric dan risiko
PONV pada perempuan akan menurun setelah usia 60 tahun.
d) Obesitas
BMI>30, dilaporkan bahwa pada pasien tersebut lebih mudah terjadi
PONV baik karena adipos yang berlebihan sehingga penyimpanan obat –
obat anestesi atau produksi estrogen yang berlebihan oleh jaringan adipos.
e) Motion sickness
Pasien yang mengalami motion sickness lebih mungkin terkena PONV.
Pasien dengan riwayat baik motion sickness atau PONV diyakini memiliki
batas bawah toleransi yang rendah, sehingga meningkatkan risiko episode
PONV di masa depan dua sampai tiga kali.
f) Bukan perokok
Doubravska, et al (2010) menyatakan bahwa pada perokok resiko
mengalami PONV jelas lebih rendah bila dibandingkan dengan non-
perokok, hal ini disebabkan karena bahan kimia dalam asap rokok
meningkatkan metabolisme beberapa obat yang digunakan dalam anestesi,
mengurangi resiko PONV.
g) Lama operasi
Collins (2011) menyatakan bahwa lama operasi dapat meningkatkan resiko
PONV karena pasien tidak dapat memposisikan diri akibat anestesi dan
terjadi blokade neuromuskular. Kurangnya gerakan dapat menyebabkan
penyatuan darah dan sensasi pusing yang dapat merangsang disekuilibrium
vestibular. Ekuilibrium ini dapat menyebabkan aktivasi CTZ lebih lanjut
dengan saraf vestibular sehingga memicu PONV. Menurut Chatterjee,
Rudra, dan Sangupta (2011) pemanjangan durasi operasi selama 30 menit
kemungkinan dapat meningkatkan resiko PONV 60%.
7
e. Faktor Pembedahan
f. Faktor Anestesi
g. Faktor Pasca Anestesi

h. Manajemen PONV
Update terbaru oleh American Society of Anesthesiologists menerbitkan
pedoman praktek pasca operasi untuk perawatan postoperative (Gan, 2006):
1) Identifikasi pasien berisiko mual muntah
Identifikasi pasien yang berisiko harus dilakukan secara objektif
menggunakan skor prediksi terjadinya mual muntah yang valid.
2) Kurangi faktor risiko munculnya mual muntah
Mengurangi faktor risiko pada awal dapat menurunkan secara signifikan
kejadian PONV. Strategi dianjurkan untuk mengurangi risiko dasar
meliputi:
a) Menghindari anestesi umum dan menggunakan regional anesthesia.
b) Menggunaan propofol untuk induksi dan maintenance anestesi.
c) Meminimalkan penggunaan nitrous oksida.
d) Meminimalkan anestesi volatile.

8
e) Meminimalkan pemberian opioid intraoperative dan postoperative.
f) Hidrasi yang memadai
3) Kelola pencegahan mual muntah
Identifikasi pasien – pasien dengan risiko PONV, sehingga dapat
dilakukan pemberian profilaksis untuk mencegah terjadinya PONV.Pasien
dengan risiko rendah tidaklah memerlukan profilaksis. Pasien risiko
sedang dapat diberikan profilaksis dengan antiemetik tunggal atau
kombinasi 2 obat. Pasien dengan faktor risiko PONV tinggi dapat
dipertimbangkan menggunakan kombinasi lebih dari 2 obat antiemetik.
Bila terjadi kegagalan profilaksis PONV dianjurkan jangan memberikan
terapi antiemetik yang sama dengan obat profilaksis, tetapi menggunakan
obat yang berkerja pada reseptor yang berbeda.

9
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sistem Prediktor PONV


PONV dihindari oleh sebagian besar pasien dan anestesiologis. Namun, profilaksis
antiemetik non selektif tidak memperbaiki hasil akhir kecuali pada pasien dengan risiko
tinggi. Belakangan ini skor risiko untuk prediksi PONV telah digunakan sebagai cara
mengklasifikasi pasien sesuai dengan prediksi risiko dan memberikan profilaksis sesuai
dengan klasifikasi ini. Dalam rangka mengidentifikasi pasien berisiko tinggi yang
mendapat manfaat dari pengobatan antiemetik dengan biaya hemat, beberapa model dan
nilai telah diusulkan. Belum ada sistem skoring yang dijadikan sebagai baku emas (gold
standart) berdasarkan akurasinya.
Perkembangan utama dalam sistem skoring terfokus pada penyederhanaan sistem skor
untuk kemudahan dalam penilaian. Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifi-
kasi pasien berisiko PONV dengan menggunakan Skor Sinclair yang merupakan model
untuk memprediksi PONV yang telah dilaporkan dalam penelitian Sinclair et al. (1999).
Model ini memprediksi PONV dengan menggunakan tujuh faktor risiko. Pada hasil salah
satu sumber penelitian nampak bahwa skor Sinclair memperlihatkan hasil sensitifitas dan
spesifisitas akurat dalam memprediksi PONV.

B. Tujuan Prediktor PONV


Pemeriksaan dengan alat ini bertujuan untuk memprediksi kejadian Post Operative
and Vomiting (PONV) pada pasien dewasa dengan anestesi umum sehingga didapatkan
skoring yang akurat dan dapat diaplikasikan sebagai prediktor PONV.

C. Subjek Penelitian Prediktor Skor Sinclair


Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menjalani operasi elektif
dengan anestesi umum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah
subyek 93 pasien dan tidak ada yang drop out
Data Demografi Subyek Penelitian Berdasarkan Faktor Risiko Pada Skor Sinclair

Variabel Jumlah
Jenis Kelamin :
Perempuan 66

10
Laki-laki 27
Umur :
18-50 tahun 65
50-60 tahun 28
Riwayat Tidak Merokok :
Ya 61
Tidak 32
Riwayat PONV/Motion Sickness :
Ya 21
Tidak 72

Jenis Pembedahan :
78
Berisiko PONV (THT, mata, laparaskopi, abdomen dan
ginekologi)
15
Tidak berisiko PONV (mastektomi dan urologi)

Opioid Pascaoperatif :
Ya 25
Tidak 68
Total N= 93

11
Table Hasi Uji Signifikansi Dan Risiko Relatif Factor Risiko

Dari tabel diatas kecuali jenis kelamin semua faktor risiko yaitu umur, riwayat
tidak merokok, riwayat PONV atau motion sickness, jenis pembedahan, dan opioid
pascaoperatif memiliki nilai p>0,05 yang berarti : tidak berbeda secara bermakna.

Hasil penelitian table diatas juga menunjukkan semua faktor risiko mempunyai
RR>1, yang artinya : pajanan merupakan faktor risiko. Khusus pada Jenis kelamin
memiliki nilai p<0,05 dan RR 1.468 (IK 95% : 1.090-1.976), hal ini menunjukkan faktor
risiko perempuan merupakan prediktor kuat terhadap kejadian PONV.

D. Cara Kerja Prediktor


Pasien yang diikutkan dalam penelitian adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi
meliputi pasien dengan status fisik ASA I-II, laki-laki atau perempuan usia 18-60 tahun,
prosedur operasi bedah elektif dengan anestesi umum teknik intubasi (THT, mata,
laparoskopi, abdomen, ginekologi, mastektomi dan urologi), Kooperatif dan bersedia
menjadi peserta penelitian.
Sedangkan kriteria eksklusi meliputi: pasien yang menggunakan obat-obatan
antiemetik selama perioperatif, pasien dengan peningkatan tekanan intracranial, pasien
dengan kehamilan dengan kriteria Drop Out meliputi pasien meninggal saat operasi,

12
pasien meninggal dalam 24 jam pascaoperatif, pasien menjalani perawatan di ICU dengan
ventilator.
Pada salah satu jurnal yang mengadakan penelitian tentang keakuratan skor Sinclair
menggunakan cara studi kohort. Perhitungan besar subyek penelitian dihitung
berdasarkan proporsi tunggal untuk menghitung estimasi sensitifitas dan spesifisitas
diagnosis. Jumlah perhitungan sampel didapatkan 93 pasien. Penelitiannya dilaksanakan
setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Biomedis Manusia FK UGM
dan persetujuan dari bagian Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Kemudian pasien mengisi dan menandatangani lembar Informed Consent, setelah
mendapat penjelasan dari peneliti mengenai hal yang berhubungan dengan penelitian ini.
Setelah itu pasien dinilai dengan skor Sinclair di bangsal rawat inap.

Tabel Skor Sinclair


Faktor Risiko Skor Poin
Umur < 50 tahun 1
Perempuan 1
Riwayat tidak merokok 1
Riwayat PONV atau motion sickness 1
Jenis pembedahan (THT, mata, plastik, 1
abdomen, ginekologi , orthopedi
lutut/bahu)
Anestesi umum 1
Lama anestesi > 30 menit 1 1
Skor Total 0-7
Prosedur penelitian selanjutnya adalah :

Pasien di bangsal telah terpasang infus sejak mulai puasa, dengan tetesan rumatan
2 ml/kgBB/jam. Setelah pasien masuk di ruang operasi, dipasang monitor
Elektrokardiografi (EKG), Non Invasive Blood Pressure (NIBP) dan saturasi oksigen.
Dengan premedikasi midazolam 0,05 mg/kgBB iv , fentanyl 1-2 μg/kgBB iv, induksi
propofol 2-2,5 mg/kgBB iv, fasilitas intubasi menggunakan rocuronium 0,6 mg/kgBB iv
atau atracurium 0,5 mg/kgBB iv. Pemeliharaan anestesi menggunakan O2 : N2O = 50% :
50% dan isofluran atau sevofluran. Ventilasi dikontrol secara manual dengan tidal
volume 8-10 cc/kgBB dan frekuensi pernafasan 12-14 kali/menit. Setelah ekstubasi
dalam, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Setelah pasien sadar penuh, lalu PONV
dinilai dalam 24 jam dimulai dari skor Aldrete diatas 9 di ruang pemulihan dan bangsal
rawat inap. Pasien dinilai dengan skala PONV. Skala PONV dinyatakan dengan angka :

13
Skor 1). Tidak mual/ muntah,
Skor 2). Mual saja,
Skor 3). Muntah satu kali,
Skor 4). Muntah lebih dari satu kali dan
Skor 5). Muntah sampai memerlukan obat tambahan antiemetik.

Lembar Monitor Mual Dan Muntah Pasca Operasi


Petunjuk pengisian : Berilah tanda (√) pada kolom 1 jika tidak mual muntah, pada kolom
2 jika mual saja, kolom 3 jika muntah 1 kali, dan seterusnya sesuai dengan jam pada
kolom waktu.

Wakt Skor
u

1 2 3 4 5

Tidak Mual Muntah Muntah Muntah sampai


mual dan saja 1 kali >1 kali memerlukan obat
muntah tambahan antiemetik

Jam 1

Jam 2

Jam 3

Jam 4

Jam 5

Jam 6

Kesimpulan:
PONV atau Tidak PONV

Pengukuran skor PONV(Nortclife, 2003) :

Skor 1 = tidak PONV (karena secara objektif belum terlihat)

Skore 2 – 5 = PONV

E. Spesifikasi Alat

14
Table 2x2 Skor Sinclair

Skor Sinclair PONV : Jumlah


PONV : Tidak
Ya
Ya 75 (a) 8 (b) 83
Tidak 3 (c) 7 (d) 10
Jumlah 78 15 N = 93
Keterangan :

a = Jumlah pasien yang menggunakan Skor Sinclair dan didiagnosis PONV = 75


b = Jumlah pasien yang menggunakan Skor Sinclair tetapi tidak didiagnosis PONV = 8
c = Jumlah pasien tidak menggunakan Skor Sinclair tetapi didiagnosis PONV = 3
d = Jumlah pasien tidak menggunakan Skor Sinclair dan tidak didiagnosis PONV = 7
****************************************************
a + b = Jumlah pasien yang menggunakan Skor Sinclair = 83
c + d = Jumlah pasien yang tidak menggunakan Skor Sinclair = 10
a + c = Jumlah pasien dengan diagnosis PONV = 78
b + d = Jumlah pasien tidak didiagnosis PONV = 15
a + b + c + d = Total dari keempat sel atau total besar sampel penelitian

F. Sensitifitas Dan Spesifitas Alat


Menurut kamus Epidemiologi (A Dictionary of Epidemiology), sensitivitas adalah
proporsi orang yang benar-benar sakit dalam populasi yang juga diidentifikasi sebagai
orang sakit oleh tes skrining/penapisan/penapisan. Sensitivitas adalah kemungkingkinan
kasus terdiagnosa dengan benar atau probabilitas setiap kasus yang ada teridentifikasi
dengan uji skrining/penapisan/penapisan.
Rumus sensitivitas :
Jumlah pasien yang menggunakan
a Skor Sinclair dan didiagnosis PONV
=
a+c Jumlah pasien yang menggunakan
Skor Sinclair dan didiagnosis PONV + Jumlah pasien
tidak menggunakan
Skor Sinclair tetapi didiagnosis PONV
Sedangkan spesifisitas berdasarkan Kamus Epidemiologi adalah proporsi orang yang
benar-benar tidak sakit dan tidak sakit pula saat diidentifikasi dengan tes skrining/
penapisan/ penapisan. Ini adalah ukuran dari kemungkinan benar mengidentifikasi orang
tidak sakit dengan tes skrining/penapisan/penapisan (frase: angka true negatif).

15
Rumus sensitivitas :
Jumlah pasien tidak menggunakan
d Skor Sinclair dan tidak didiagnosis PONV
=
b+d Jumlah pasien yang menggunakan Skor Sinclair
tetapi tidak didiagnosis PONV + Jumlah pasien tidak menggunakan
Skor Sinclair dan tidak didiagnosis PON
Perhitungan :

Skor
Indikator Rumus Artinya
Sinclair
Kemampuan Skor
a 75 Sinclair untuk mendeteksi
Sensitifitas = =0,961 96,1%
a+c 78 96,1% pasien dengan
PONV
Kemampuan Skor
Sinclair mendeteksi
d 7
Spesifitas = =0,4666 46,6% 46,6% pasien yang tidak
b+d 15
PONV dideteksi tidak
PONV
Kemampuan Skor
Nilai prediktif a 75 Sinclair untuk
= =0,903 90,3%
positif a+b 83 memprediksi benar benar
PONV 90,3%
Kemampuan Skor
Nilai prediktif d 7 Sinclair untuk
= =0,7 70%
negatif c+ d 10 memprediksi benar benar
tidak PONV 70%

16
G. Interpretasi Hasil
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapatkan skor Sinclair mempunyai
sensitifitas 96,1% yang artinya kemampuan Skor Sinclair untuk mendeteksi 96,1%
pasien dengan PONV, dan spesifisitas 46,6% yang artinya kemampuan Skor Sinclair
mendeteksi 46,6% pasien yang tidak PONV dideteksi tidak PONV, serta memiliki
kualitas diskriminasi yang sedang dengan nilai AUC 0,726 (IK 95% : 0,562-0,890)
sehigga skor Sinclair lebih akurat dalam memprediksi terjadinya PONV pada pasien
dewasa dengan anestesi umum dibandingkan alat ukur lainnya.

17
BAB III

KESIMPULAN

Post operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan komplikasi yang sering
pada anestesi umum, terjadi pada 24 jam pertama setelah operasi sebanyak 30-70% pada
pasien rawat inap. Angka ini menurun bila dibandingkan masa anestesi yang masih
menggunakan ether yaitu 75%. Setiap kejadian PONV akan menyebabkan pasien lebih
lama keluar dari ruang pemulihan. Waktu timbulnya mual muntah pasca operasi atau
PONV digolongkan sebagai berikut Early PONV, Late PONV, dan Delayed PONV
(ASPAN, 2006). Faktor risiko terkait PONV dibagi menjadi 4 faktor antara lain faktor
pasien, operasi, farmakologi dan faktor lain (Tinsley dan Barone, 2012; Doubravska,et al,
2010). Salah satu manajemen PONV yaitu : mengidentifikasi pasien berisiko mual
muntah dengan sebuah alat predictor yang akurat.
Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien berisiko PONV dengan
menggunakan Skor Sinclair yang merupakan model untuk memprediksi PONV yang telah
dilaporkan dalam penelitian Sinclair et al. (1999). Model ini memprediksi PONV dengan
menggunakan tujuh faktor risiko.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapatkan skor Sinclair mempunyai
sensitifitas 96,1% dan spesifisitas 46,6% serta memiliki kualitas diskriminasi yang sedang
dengan nilai AUC 0,726 (IK 95% : 0,562-0,890) sehigga skor Sinclair lebih akurat dalam
memprediksi terjadinya PONV pada pasien dewasa dengan anestesi umum.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bagir, M. 2015. Perbandingan Skor Apfel dengan Sinclair Sebagai Prediktor PONV pada
Pasien Dewasa dengan Anestesi Umum.Thesis Pascasarjana Universitas Gajah Mada.

Chatterjee, S., Rudra, A., Sengupta, S. 2011. Current concepts in the management of
postoperative nausea and vomiting (Jurnal). Anaesthesiology Research.

Collins, Angela, Smith. 2011. Postoperative Nausea and Vomiting in adults: implications for
critical care. American Association of Critical – Care Nurses Journal.

Yusuf,G.M. dkk. 2020. Sensitivity And Specificity Comparison Between Apfel, Koivuranta,
And Sinclair Score As Ponv Predictor In Post General Anesthesia Patient .Surabaya :
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UM Surabaya Vol 4, No 1 (2020)

19

Anda mungkin juga menyukai