Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI KLINIK

DIAGNOSTIC TEST COVID-19 : RAPID TEST DAN PCR

Dosen Pengampu : Tri Prabowo, S.Kp,M.Sc

Kelompok

FX JIMMIE MANTOW P07120721039

KHAIRIL FUADI P07120721007

MOH. ASRUL P07120721005

PAMUJI P07120721040

SUPRIADINATA P07120721033

SUSILO P07120721025

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA


BAB I

PENDAHULUAN

Pada tanggal 15 Mei 2020, WHO menyatakan sebanyak 213 negara sudah
melaporkan ditemukannya kasus COVID-19 di Negara mereka. Data tercatat
sebanyak 4.417.903 kasus dengan 297.382 kematian dan tingkat pertumbuhan kasus
baru sebesar 7% per hari di seluruh dunia. Indonesia mencatat sejumlah 15.483
kasus dengan 1.028 kematian pada saat yang sama.

Beberapa negara telah berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 dengan


baik. Cina sebagai negara yang paling awal melaporkan kasus ini berhasil
mengendalikan keadaan kurang lebih hanya setelah 30 hari sejak 100 hari confirmed
cases pertama terjadi sedangkan Korea Selatan berhasil mengendalikan dalam waktu 20
hari sejak kasus pertamanya dilaporkan. Sedangkan negara-negara yang terkenal
dengan kehebatan sistem kesehatan mereka ternyata tidak berdaya berhadapan dengan
COVID-19 ini. Indonesia sampai saat ini masih berjuang untuk bisa megalahkan virus
ini. Beberapa program baik di bidang kesehatan atau progrsm lain telah digulirkan agar
kehidupan masyarakat masih dapat terlaksana dengan aman.

COVID-19 telah menjadi angsa hitam pada seluruh sektor dalam kehidupan
manusia pada saat ini. Angsa hitam adalah sebuah metafora untuk menggambarkan
suatu kejadian tidak terduga yang menimbulkan konsekuensi ektrim. Kejadian ini juga
memunculkan istilah baru “The New Normal” yang menunjukkan perubahan perilaku
dan budaya luar biasa yang terpaksa dilakukan masyarakat di seluruh dunia untuk
mencegah semakin menyebarnya virus ini.
BAB II
PEMBAHASAN

Pemeriksaan Diagnostik COVID – 19: Rapid Test dan PCR

A. RAPID TEST ANTIBODI


1. Pengertian

Rapid test yang banyak beredar saat ini adalah metode untuk mendeteksi
antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus
Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus Corona.
Dengan kata lain, bila antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang, artinya
tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus Corona. Namun,
perlu Anda ketahui, pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa
sampai beberapa minggu.
Hal inilah yang menyebabkan keakuratan dari rapid test antibodi ini sangat
rendah. Bahkan dalam sebuah pengamatan, disimpulkan bahwa keakuratan rapid
test dalam mendeteksi antibodi terhadap SARS-CoV-2 hanya 18%.
Artinya, jika 100 orang mendapatkan hasil negatif dari rapid test, hanya 18
orang yang benar-benar tidak terinfeksi virus ini. Sementara itu, 92 orang lainnya
sebenarnya telah terinfeksi, tapi tidak terdeteksi dengan alat ini.
WHO secara tegas tidak menyarankan rapid test antibodi sebagai sarana untuk
mendiagnosis COVID-19. Meski begitu, WHO tetap memperbolehkan
penggunaan tes ini untuk penelitian atau pemeriksaan epidemiologi.
2. Prosedur pemeriksaan tes rapid COVID-19 adalah sebagai berikut:
a. Mengambil sampel darah dari orang yang akan diperiksa sesuai standar.
Untuk whole blood atau plasma, gunakan tabung dengan antikoagulan EDTA,
heparin atau Na-Sitrat. Sampel darah sebaiknya langsung diperiksa. Stabilitas
sampel:
1) Whole blood      : 7 hari pada suhu 2-8 0C
2) Serum/ plasma   : 8 jam pada suhu kamar, 3 hari pada suhu 2-8 0C dan 9
hari pada suhu -20 0C
b. Masukkan 10 µl sampel ke dalam lubang sampel pada alat rapid test yang
telah disimpan di suhu kamar (10-30 0C)
c. Tambahkan cairan antibodi (buffer) ke dalam lubang buffer (2-3 tetes/ 80 µl)
d. Hasilnya akan berupa garis ungu yang muncul setelah 15 menit. Jangan
membaca hasil setelah 20 menit
 
3. Interpretasi Hasil
Jika hasilnya negatif, pasien diinformasikan untuk:
a. Melakukan isolasi mandiri selama 14 hari dan memeriksa ulang tes rapid pada
hari ke 7-10 setelah tes awal
b. Bila kondisi memburuk, dirujuk ke RS dan dilakukan pemeriksaan PCR. 
ODP yang memiliki riwayat kontak harus menunggu dua minggu hingga
gejalanya muncul sebelum dapat menjalani tes rapid. Setelah masa inkubasi ini
lewat, barulah pasien memasuki fase awal infeksi yang ditandai dengan hasil IgM
yang positif dan IgG yang negatif.
 
Apabila hasil tes rapid positif, maka langkah selanjutnya adalah:
a. Dilakukan pengambilan swab (pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR)
yang bisa mendeteksi langsung virus COVID-19)
b. Isolasi mandiri atau dirujuk ke shelter selama menunggu hasil PCR
c. Bila kondisi memburuk sebelum hasil PCR diperoleh, maka pasien akan
dirujuk ke RS

B. POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)


1. Pengertian

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk


mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR
juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi
material genetik virus Corona.
Material genetik yang ada di dalam setiap sel, termasuk di dalam bakteri atau
virus, bisa berupa DNA (deoxyribonucleic acid) atau RNA (ribonucleic acid). Kedua
jenis materi genetik ini dibedakan dari jumlah rantai yang ada di dalamnya.
DNA merupakan material genetik dengan rantai ganda, sedangkan RNA
merupakan material genetik dengan rantai tunggal. DNA dan RNA setiap spesies
makhluk hidup membawa informasi genetik yang unik. Keberadaan DNA dan RNA
ini akan dideteksi oleh PCR melalui teknik amplifikasi atau perbanyakan. Nah,
dengan adanya PCR, keberadaan material genetik dari beberapa jenis penyakit akibat
infeksi bakteri atau virus akan bisa dideteksi dan akhirnya bisa membantu diagnosis
untuk penyakit tersebut.
Beberapa penyakit yang bisa didiagnosis melalui tes PCR adalah:

 Infeksi human immunodeficiency virus (HIV)


 Hepatitis C
 Infeksi cytomegalovirus
 Infeksi human papillomavirus (HPV)
 Gonore
 Klamidia
 Penyakit Lyme
 Pertusis (batuk rejan)

Selain untuk mendiagnosis sejumlah penyakit di atas, tes PCR juga digunakan
untuk mendeteksi virus Corona penyebab COVID-19. COVID-19 adalah penyakit
infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang lebih sering disebut virus
Corona. Virus Corona penyebab COVID-19 ini merupakan jenis virus RNA.
2. Tes PCR untuk Mendiagnosis COVID-19
Prosedur pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau
cairan dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian
antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus
Corona.
Pengambilan sampel dahak ini dilakukan dengan metode swab, yang prosedurnya
memakan waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya,
sampel dahak akan diteliti di laboratorium.
Nah, karena virus Corona penyebab COVID-19 merupakan virus RNA, deteksi
virus ini dengan tes PCR akan diawali dengan proses konversi (perubahan) RNA yang
ditemukan di sampel menjadi DNA.
Proses mengubah RNA virus menjadi DNA dilakukan dengan enzim reverse-
transcriptase, sehingga teknik pemeriksaan virus RNA dengan mengubahnya dulu
menjadi DNA dan mendeteksinya dengan PCR disebut reverse-
transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).
Setelah RNA diubah menjadi DNA, barulah alat PCR akan melakukan
amplifikasi atau perbanyakan materi genetik ini sehingga bisa terdeteksi. Jika mesin
PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel dahak atau lendir yang diperiksa, maka
hasilnya dikatakan positif.

3. Tes PCR untuk Memastikan Hasil Rapid Test


Selain tes PCR, mungkin Anda pernah mendengar tes serologi rapid test atau
deteksi virus Corona melalui alat GeNose untuk COVID-19. Sebenarnya, rapid
test bukanlah tes untuk mendiagnosis COVID-19. Rapid test hanyalah pemeriksaan
penyaring atau skrining untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM dan IgG yang
dihasilkan tubuh ketika terpapar virus Corona.
Perlu diketahui, pembentukan antibodi IgM dan IgG membutuhkan waktu yang
cukup lama, bisa hingga 2–4 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab
itu, hasil negatif pada rapid test tidak bisa dijadikan penentu seseorang tidak
terinfeksi virus Corona.
Hasil positif pada rapid test juga tidak bisa dijadikan penentu bahwa seseorang
terinfeksi virus Corona. Hal ini karena antibodi yang terdeteksi bisa saja IgM dan IgG
yang dibentuk oleh tubuh karena infeksi virus yang lain, termasuk virus dari
kelompok coronavirus selain SARS-CoV-2. Hasil seperti ini dikatakan hasil positif
palsu (false positive).
Di sinilah pentingnya melakukan tes PCR. Tes PCR akan memastikan hasil
dari rapid test. Sampai saat ini, tes PCR merupakan pemeriksaan diagnostik yang
dianggap paling akurat untuk memastikan apakah seseorang menderita COVID-19
atau tidak.
BAB III
KESIMPULAN

Pemeriksaan diagnostik untuk COVID-19 diantaranya adalah Rapid test dan


Polymerase Chain Reaction (Pcr). Rapid test dilakukan dengan mengambil sampel darah
yang diambil di pembuluh darah vena, sedangkan PCR dilakukan dengan menggunakan
sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan. Keuntungan Rapid Test
adalah waktu yang relative singkat untuk tunggu hasilnya, sedangkan PCR bisa memakan
waktu beberapa jam sampai berhari- hari. Rapid test ini bisa digunakan untuk menguji ada
atau tidaknya virus dalam tubuh namun tidak bisa digunakan langsung untuk mendiagnosis
pasti COVID-19, sehingga pilihan terbaik untuk memastikan terinfeksi atau tidaknya pasien
adalah dengan metode tes PCR.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.alodokter.com/kenali-apa-itu-rapid-test-untuk-virus-corona
http://www.bbkpm-bandung.org/blog/2020/04/covid

https://www.alodokter.com/mengenal-tes-pcr-untuk-mendiagnosis-covid-19

Anda mungkin juga menyukai