Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN & ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI

Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Keperawtan Medikal Bedah (KMB) 3
Dosen Pengampu: Saiful Nurhidayat S.Kep.Ns.,M.Kep

Disusun Oleh:
Kelompok 3/6B
Nama NIM
Mufaliha Sabila Iswari 18631725
Imaniar Dwi Alda 18631716
Rizka Safitri 18631712
Viseis Nandi Sutomo 18631708
Lina Desi Utami 18631699
Retno Meilani Purbaningsih 18631660
Dela Trika Buana 18631652

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2021
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha esa atas segala rahmat, serta taufik dan hidayah-
Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih kepada Bapak Saiful Nurhidayat, S.Kep.Ns.,M.Kep. selaku dosen mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3 yang telah memberikan tugasini kepada kami.
Karena kami menyadari keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami
yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, mengingat tidak ada sesuattu yang sepurna
tanpa saran yang membangun. Oleh karena itukami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Dan dari harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi parapembaca, untuk kedepannnya dapat memperbaiki isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi dan sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata.

Ponorogo, 18 Juni 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL........................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 4
1.3 Tujuan ........................................................................................................................ 5
1.4 Manfaat ...................................................................................................................... 5
BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................................................ 6
2.1 Konsep Penyakit ........................................................................................................ 6
2.1.1 Definisi ............................................................................................................... 6
2.1.2 Klasifikasi .......................................................................................................... 7
2.1.3 Etiologi ............................................................................................................... 11
2.1.4 Patofisiologi ....................................................................................................... 12
2.1.5 Manifestasi Klinis .............................................................................................. 14
2.1.6 Pathway .............................................................................................................. 16
2.1.7 Komplikasi ......................................................................................................... 17
2.1.8 Penatalaksanaan ................................................................................................. 17
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan .................................................................................... 18
2.2.1 Pengkajian .......................................................................................................... 18
2.2.2 Diagnosa Keperawatan (SDKI) ......................................................................... 21
2.2.3 Intervensi ............................................................................................................ 22
2.2.4 Implementasi ...................................................................................................... 29
2.2.5 Evaluasi .............................................................................................................. 29
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................. 30
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 30
3.2 Saran ............................................................................................................................ 30
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 31

iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Epilepsi didefinisikan sebagai suatu sindrom yang ditandai oleh gangguan fungsi
otak yang bersifat sementara dan paroksismal, yang memberi manifestasi berupa gangguan,
atau kehilangan kesadaran, gangguan motorik, sensorik, psikologik, dan sistem otonom,
serta bersifat episodik. Defisit memori adalah masalah kognitif yang paling sering terjadi
pada pederita epilepsy.
Pada dasarnya setiap orang dapat mengalami epilepsi. Setiap orang memiliki otak
dengan ambang bangkitan masing-masing apakah lebih tahan atau kurang tahan terhadap
munculnya bangkitan.Selain itu penyebab epilepsy cukup beragam; cedera otak, keracunan,
stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak. Epilepsy dapat terjadi pada laki-laki maupun
perempuan, umur berapa saja, dan ras apa saja. Jumlah penderita epilepsy meliputi 1-2%
dari populasi. Secara umum diperoleh gambaran bahwa insidensi epilepsy menunjukkan
pola bimodal: puncak insidensi terdapat pda golongan anak dan usia lanjut.
Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi.Pengguna
narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin
mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan
terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari narkotik.Di Inggris, satu orang diantara
131 orang mengidap epilepsi. Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para
orang tua bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi
dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di
Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang epilepsi, dan kurang
lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut
World Health Organization (WHO) sekira 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap
epilepsi (2004 Epilepsy.com).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Konsep Penyakit Epilepsi?
2. Bagaiamana Asuhan Keperawatan Pada Pasien Epilepsi?
4
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Konsep Penyakit Epilepsi
2. Mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Pasien Epilepsi
1.4 Manfaat
1. Menambah Pengetahuan Tentang Konsep Penyakit Epilepsi
2. Menambah Pengetahuan Tentang Asuhan Keperawatan Untuk Penyakit Epilepsi

5
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP PENYAKIT
2.1.1 Definisi
Epilepsi adalah istilah untuk cetusan langsung listriklokal pada subtansi
grisea otak yang terjadi sewaktu waktu, mendadak, dan sangat cepat.
Secara klinis epilepsi merupakan gangguan paroksimal dimana cetusan
neuronkorteks serebri mengakibatkan serangan penurunan kesadaran, perubahan
fungsi motorik atau sensorik, perilaku atau emosional yang intermiten dan
stereotipik. Epilepsi adalah gangguan kronis pada otak yang terdapat di seluruh
dunia yang ditandai dengan kejang berulang. Di beberapa bagian dunia, orang-
orang yang menderita epilepsi dan keluarga mereka menerima stigma yang buruk
sehingga mengakibatkan terjadinya diskriminasi.
Epilepsi juga dapat diartikan adalah salah satu kelainan neurologi kronik
yang bisa terjadi pada segala usia terutama pada usia anak. Epilepsi merupakan
manifestasi gangguan fungsi otak dengan gejala yang khas yaitu kejang berulang
akibat lepasnya muatan listrik neuron otak secara berlebihan dan paroksismal.
Epilepsi ditandai dengan sedikitnya 2 kali atau lebih kejang tanpa provokasi
dengan interval waktu lebih dari 24 jam.
Keadaan ini tidak hanya berdampak pada segi medis tetapi juga
berdampak pada neurobiologis, kognitif, psikologis, dan sosial. Kejang
merupakan ciri yang harus ada pada epilepsi, tetapi tidak semua kejang dapat di
diagnosis sebagai epilepsi. Kejang epilepsi harus dibedakan dengan sindrom
epilepsi. Kejang epilepsi yaitu timbulnya kejang akibat berbagai penyebab yang
ditandai dengan serangan tunggal atau tersendiri. Sedangkan sindroma epilepsi
adalah sekumpulan gejala dan tanda klinis epilepsi yang ditandai dengan kejang
berulang, meliputi berbagai etiologi, umur, onset, jenis serangan, faktor pencetus,
kronisitas.
Definisi menurut ILAE (International League Against Epilepsy) Epilepsi
adalah penyakit otak yang didefinisikan oleh salah satu kondisi berikut
6
1. Minimal terdapat dua bangkitan tanpa provokasi atau dua bangkitan refleks
dengan jarak waktu antar bangkitan pertama dan kedua lebih dari 24 jam.
2. Satu bangkitan tanpa provokasi atau satu bangkitan refleks dengan
kemungkinan terjadinya bangkitan berulang dalam 10 tahun kedepan sama6
dengan (minimal 60%) bila terdapat dua bangkitan tanpa provokasi/ bangkitan
refleks.
3. Sudah ditegakkan diagnosis sindrom epilepsi. Bangkitan refleks adalah
bangkitan yang muncul akibat induksi oleh faktor pencetus spesifik, seperti
stimulasi visual, auditorik, somatosensitif, dan somatomotor. Epilepsi
dianggap terselesaikan bagi individu yang memiliki sindrom epilepsi
tergantung usia tetapi sekarang melewati usia yang berlaku atau mereka yang
telah bebas kejang selama 10 tahun terakhir, dengan tidak ada menggunakan
obat kejang selama 5 tahun terakhir.
2.1.2 Klasifikasi
Epilepsi diklasifikasikan menjadi dua pokok umum klasofikasi epilepsi
dengan sindrom epilepsi dan klasifikasi berdasarkan tipe kejang.
a) Klasifikasi epilepsi dan sindrom epilepsi
Berdasarkan penyebab
1. Epilepsi idiopatik : bila tidak diketahui penyebabnya, epilepsi pada
anak dengan paroksimal oksipital
2. Simtomatik : bila ada penyebabnya, letak fokus pada semua lobus otak
b) Klasifikasi tipe kejang epilepsi ( brown, 2008 )
1. Epilepsi kejang parsial (lokal fokal )
a. Epilepsi parsial sederhana, yaitu epilepsi parsial dengan kesadaran
tetap normal.
Dengan gejala motorik :
• Fokal motorik tidak menjalar : epilepsi pada satu bagian tubuh
saja
• Fokal motorik menjalar : epilepsi di mulai dari satu bagian
tubuh dan menjalar meluas kedaerah lain. Disebut juga epilepsi
jacson.
7
• Versif : epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata, tubuh
• Postural : epilepsi disertai dengan lengan atau tungkai kaku
dalam sikap tertentu
• Disertai gangguan fonasi : epilepsi disertai arus bicara yang
terhenti atau pasien mengeluarkan bunyi bunyi tertentu.
Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial ( epilepsi di
sertai halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indra dan
bangkitan yang disertai vertigo )
• Somatosensoris : timbul rasa kesemutan atau seperti di tusuk
tusuk jarum.
• Visual : terlihat cahaya
• Auditoris : Terdengar sesuatu
• Gustoris : terkecap sesuatu
• Disertai vertigo
Dengan gejala atau tanda gangguan saraf atonom (sensasi
epigastrium, pucat , berkeringat, membera, pioreksi, dilatasi pupil)
Dengan gejala psikis ( gangguan fungsi luhur )
• Disfagia : gangguan bicara misalnya mengulag suatu suku
kataatau bagian kalimat
• Dimensia : gangguan proses ingatan seperti merasa sudah
mengalami, mendengar, melihat atau sebalinya. Mungkin
mendadak suatu peristiwa dimasa lalu, merasa seperti
melihatnya lagi
• Kognitif : gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah.
• Afektif : merasa sangat senang susah, marah, takut
• Ilusi : perubahan persepsi bendayang dilihat tampak lebih kecil
atau lebih besar.
• Halusinasi kompleks : mendengar ada yang bicara, musik,
melihat suatu fenomena tertentu dll.

8
b. Epilepsi parsial kompleks, yaitu kejang ditandai gangguan
kesadaran.
Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran
mula mulai baik kemudian baru menurun
• Dengan gejala parsial sederhana A1-A4, gejala gejala pada
golongan A1-A4 diikuti dengan menurunya kesadaran
• Dengan Automatisme, gerak gerakan perilaku yaang timbul
dengan sendirinya, misal gerak menelan, mengunyah, raut
muka berubah seringkali seperti ketakutan, memegang kancing
baju, berjalan.
Dengan penurunan kesadaran sejak serangan: kesadaran
menurun sejak pemulaan kesadaran.
• Hanya dengan penurunan kesadaran
• Dengan automatisme
c. Epilepsi Parsia yang berkembang menjadi bangkitan umum ( tonik-
klonik )
• Epilepsi parsial sederhana yang berkembang menjadi
bangkitan umum
• Epilepsi parsial kompleks yang berkembang yang menjadi
bangkitan umum
• Epilepsi parsial sederhan yang menjadi bangkitan parsia
kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum.
2. Epilepsi kejang umum
a. Lena atau kejang absant ( petit mal )
Lena khas ( tipical absence )
Pada epilepsi ini kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, maka
tampak membengon, bola mata dapat memutar keatas, tak ada
reaksi bila diajak bicara. Biasanya epilepsi ini berlangsung selama
¼ - ½ menit dan biasanya dijumpai pada anak.
• Hanya menurun kesadaran
9
• Dengan komponen klonik ringan. Gerakan klonis ringan
biasanya dijumpai pada kelopok mata atas, sudut mulut, atau
otot otot lainya bilateral.
• Dengan komponen atonik. Pada epilepsi ini dijimpai otot-otot
leher, lengan, tangan, tubuh mendadak melemas sehingga
tampak mengulai.
• Dengan komponen klonik. Pada epilepsi ini, dijumpai otot-otot
ekstremitas, leher atau punggung mendadak mengejang,
kepala, badan menjadi melengkug kebelakang, lengan dapat
ngetul atau mengedang.
• Dengan automatisme
• Dengan komponen autonom
Lena tak khas ( atipical absence )
• Gangguan tonus yang lebih jelas
• Pemulaan dan berakirnya bangkitan tidak mendadak
b. Grand Mal
Kejang mioklonik
Pada epilepsi mioklonik terjadi kontraksi mendadak,
sebentar, dapat kuat, atau lemah sebagian otot atau semua otot,
seringkali atau berulang ulang.bangkitan ini dapat dijumpai pada
semua umur.
Kejang klonik
Pada epilepsi ini tidak terjadi gerak menyentak, repetitif,
tajam, dan tunggal multiple, di lengan tungkai atau torso. Dijumpai
sekali pada anak.
Kejang tonik
Pada epilepsi ini tidak ada komponen klonik, otot otot
hanya menjadi kaku pada wajah dan bagian tubuh bagian atas,
flaksi lengan dan ekstensi tungkai. Epilepsi ini juga terjadi pada
anak.

10
Kejang tonik-klonik
Epilepsi ini sering dijumpai pada umur diatas balita yang
terkenal dengan nama grand mal. Serangan dapat diawali dengan
aura, yaitu tanda tandayang mendahului epilepsi. Pasien mendadak
jatuh pingsan, otot otot seluruh badan kaku. Kejang kaku
berlangsung kira kira ¼-½ menit bangkitan ini biasanya berhenti
sendiri. Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila
pembetuka ludah ketika kejang meningkat, mulut menjadi berbusa
karena hembusan nafas.mungkin pula pasien kencing ketika
mendapat serangan. Setelah berhenti pasien tidur berapa lamanya,
dapat pula bangun dengan kesadaran yang rendah, atau langsung
menjadi sadar dengan keluhan badan pegal pegal, lelah, nyeri
kepala
Kejang Atonik
Pada keadaan ini otot otot seluruh badan mendadak
melemas sehingga pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau
menurun sebentar. Epilepsi ini sering dijumpai pada anak.
c. Epilepsi Kejang tak tertolongkan
Ini termasuk golongan bangkitan pada bayi berupa gerak
bola mata yang ritmik, mengunyah, gerakan seperti berenaang,
menggigil, atau pernapasan yang mendadak berhenti sebentar.
2.1.3 Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik), sering
terjadipada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera kepala, infeksi sistem saraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alcohol
4. Demam, gangguan metabolic (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor otak
6. Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007)

11
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab
utama, ialah epilepsy idopatik, remote simtomatik epilepsy (RSE), epilepsy
simtomatik akut, dan epilepsy pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan
otakpada saat peri atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsy
menonjol, ialah epilepsy idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak
etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik
dan yang buruk.
Dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan,
definisi neurologic dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai
prediksi sebagai berikut:
Apabila pada saat lahir telah terjadi deficit neurologic maka dalam waktu
12 bulan pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang. Apabila deficit
neurologic terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang
adalah 75% pada 12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu,
bangkitan pertama yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan
mempunyai resiko 40% dalam 12 bulan petama dan 36 bulan pertama untuk
terjadinya bangkitan ulang. Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan
ulang tidak konstan. Sebagian besar kasus menunjukkan bangkitan ulang dalam
waktu 6 bulan pertama.
2.1.4 Patofisiologi
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus
pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-juta neuron.
Pada hakekatnya tugas neuron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik
saraf yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps
terdapat zat yang dinamakan neurotransmiter. Asetilkolin dan norepinerprine
ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain dinamakan GABA (gama-
amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik saraf
dalam sinaps. Bangkitan epilepsy dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik di
otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan
menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neuron-neuron disekitarnya dan demikian
seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan
12
listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadan demikian akan terlihat kejang yang
mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke anggota/bagian gerak yang
lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang
mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis
dan inti pada thalamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke
belahan otak yang lain dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum
yang disertai penurunan kesadaran.
Selain itu, disebabkan oleh instabilitas memban sel saraf, sehinggal sel
lebih mudah mengalami pengaktifan. Hal ini terjadi karena adanya influx natrium
ke intraseluler. Jika natrium yang seharusnya banyak di luar membrane sel itu
masuk ke dalam membrane sel sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ion
yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang menggangu
homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan depolarisasi neuron.
Gangguan keseimbangan ini menyebabkan peningkatan berlebihan
neurotransmitter aksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik.
Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari
sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang terganggua akibat suatu
keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi muatanynag
berlebihan tersebut. Lesi di otak tengah, thalamus, dan korteks serebrum
kemungkinan besar bersifat apileptogenik, sedangkan lesi di serebrum dan batang
otak umumnya tidak memcu kejang. Di tingkat membrane sel, sel fokus kejang
memperlihatkan beberapa fenomena biokimiawi, termasuk yang berikut:
1. Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami
pengaktifan.
2. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan
muatan menurun dan apabila terpicu akan melepaskan muatan
menurun secara belebihan.
3. Kelainan polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau selang
waktu dala repolarisasi) yang disebabkan oleh asetilkolin atau
defisiensi asam gama-aminobutirat (GABA).

13
4. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau
elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga
terjadi kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini
menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter inhibitorik.
Perubahan-perubahan metabolic yang terjadi selama dan segera setelah
kejang sebagian disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan energy akibat
hiperaktivitas neuron. Selama kejang, kebutuhan metabolic secara drastic
meningkat, lepas muatan listrik sel-sel saarf motorik dapat meningkat menjadi
1000 per detik. Aliran darah otak meningkat, demikian juga respirasi dan
glikolisis jaringan. Asetilkolin muncul di cairan serebrospinalis (CSS) selama dan
setelah kejang. Asam glutamate mungkin mengalami deplesi (proses
berkurangnya cairan atau darah dalam tubuh terutama karena pendarahan; kondisi
yang diakibatkan oleh kehilangan cairan tubuh berlebihan) selama aktivitas
kejang.
2.1.5 Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda dari epilepsi dibagi berdasarkan klasifikasi dari Epilepsi, yaitu :
1. Kejang parsial
Lesi yang terdapat pada kejang parsial berasal dari sebagian kecil dari otak
atau satu hemisfer serebrum. Kejang terjadi pada satu sisi atau satu bagian
tubuh dan kesadaran penderita umumnya masih baik.
a. Kejang parsial sederhana
Gejala yang timbul berupa kejang motorik fokal, femnomena
halusinatorik, psikoilusi, atau emosionalkompleks. Pada kejang parsial
sederhana, kesadaran penderita masih baik.
b. Kejang parsial kompleks
Gejala bervariasi dan hampir sama dengan kejang parsial sederhana, tetapi
yang paling khas terjadi adalah penurunan kesadaran dan otomatisme.
2. Kejang umum
Lesi yang terdapat pada kejang umum berasal dari sebagian besar dari otak
atau kedua hemisfer serebrum. Kejang terjadi pada seluruh bagian tubuh dan
kesadaran penderita umumnya menurun.
14
a. Kejang Absans
Hilangnya kesadaran sessat (beberapa detik) dan mendadak disertai
amnesia. Serangan tersebut tanpa disertai peringatan seperti aura atau
halusinasi, sehingga sering tidak terdeteksi.
b. Kejang Atonik
Hilangnya tonus mendadak dan biasanya total pada otot anggota badan,
leher, dan badan. Durasi kejang bisa sangat singkat atau lebih lama.
c. Kejang Mioklonik
Ditandai dengan kontraksi otot bilateral simetris yang cepat dan singkat.
Kejang yang terjadi dapat tunggal atau berulang.
d. Kejang Tonik-Klonik
Sering disebut dengan kejang grand mal. Kesadaran hilang dengan cepat
dan total disertai kontraksi menetap dan masif di seluruh otot. Mata
mengalami deviasi ke atas. Fase tonik berlangsung 10 - 20 detik dan
diikuti oleh fase klonik yang berlangsung sekitar 30 detik. Selama fase
tonik, tampak jelas fenomena otonom yang terjadi seperti dilatasi pupil,
pengeluaran air liur, dan peningkatan denyut jantung.
e. Kejang Klonik
Gejala yang terjadi hampir sama dengan kejang mioklonik, tetapi kejang
yang terjadi berlangsung lebih lama, biasanya sampai 2 menit.
f. Kejang Tonik
Ditandai dengan kaku dan tegang pada otot. Penderita sering mengalami
jatuh akibat hilangnya keseimbangan.

15
2.1.6 Pathway
Trauma
Trauma
lahir,
lahir,
cedera
cedera
kepala,
Faktor idiopatik Kerusakan
Kerusakan
neuron demam, gangguan
kepala, demam,
metabolic,
neuron tumor
gangguan
otak
metabolic, tumor
Penurunan
Penurunan
stabilisasi Ketidak
Ketidakseimbangan
seimbanganotak
membranstabilisasi
sinaps neurotransmitter
neurotransmiter
membran sinaps
Invlux Na ke intraseluler
Invlux Na ke Depolarisasi asetilkolin (zat GABAGABA
menurun
menurun
zat inhibitif
zat
intraseluler eksitatif) inhibitif

Peningkatan
Peningkatan
Na dalam
Na
Gangguan
Gangguan
palarisasi
palarisasi
(hiper(hiper
palarisasi) Kerusakan berfikir
intrasel
dalam
berlebihan
intrasel
palarisasi)
berlebihan

Ketidak
Ketidak
seimbangan
seimbangan
ion Gangguan
Gangguan
Persepsi
Na
ion&Ka
Na &Ka Sensori
Persepsi
Sensori
Ketidak
Ketidakseimbangan
seimbangan
elektrolit
elektrolit
Risiko Cedera

Gangguan depolarisasi Kejang Isolasi Sosial


(kelistrikan syaraf)

Kesadaran Gangguan Aktivitas otot


menurun peredaran darah meningkat

Refleks menelan CO menurun Metabolisme


menurun meningkat

Permeabilitas kapiler
Akumulasi
menurun
mukus

Bersihan Jalan Risiko Perfusi


Napas Tidak 16Serebral Tidak
Efektif Efektif
2.1.7 Komplikasi
Komplikasi yang di akibatkan oleh epilepsi adalah terjadinya gangguan listrik
di otak yang terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan kerusakan otak akibat
hypoksia bahkan bisa berakibat kematian.
Menurut Baticaca (2008), komplikasi penyakit epilepsy antara lain; kerusakan
otak akibat hipoksia dan retardasi mental, timbul depresi dan keadaan cemas.
Purba (2008): Retradasi mental, IQ rendah, Kerusakan otak akibat hipoksia
jaringan otak (Hal ini akan menyebabkan efek samping pada penurunan prestasi
belajar terutama bagi penderita yang masih dalam masa belajar (penurunan fungsi
kognitif)).
2.1.8 Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi.
a. Amati faktor pemicu.
b. Menghindari faktor pemicu (jika ada), misalnya: stress, konsumsi kopi dan
alkohol, perubahan jadwal tidur, terlambat makan, dll.
2. Farmakologi.
Menggunakan obat-obat antiepilepsi, yaitu :
a. Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na+:
Inaktivitasi kanal Na, meurunkan kemampuan syaraf untuk meghantarkan
muatan listrik. Contoh: Fenitoin, Karbamazepin, Lamotrigin, Okskarbazepin,
Valproat.
b. Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitor GABAergik:
• Agonis reseptor GABA, meningkatkan transmisi inhibitori dengan
mengaktifkan kerja reseptor GABA. Contoh: Benzodiazepin, Barbiturat.
• Menghambat GABA transaminase, konsentrasi GABA meningkat.
Contoh: Vigabatrin.
• Menghambat GABA transporter, memperlama aksi GABA. Contoh:
Tiagabin.
• Meningkatkan konsentrasi GABA pada cairan cerebrospinal dengan
menstimulasi pelepasan GABA dari non-vesikularpool, contoh:
Gabapentin
17
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.2.1 Pengakjian
a. Pengumpulan data
1. Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku
bangsa, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan.
b) Keluhan Utama Klien
Pada anamnese ini yang perlu dikaji adalah apa yang diperlukan pada
saat itu seperti yang sering menjadi alasan klien adalah terjadinya
kejang berulang dan penurunan tingkat kesadaran.
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Dalam pengkajian ini meliputi riwayat terjadinya seperti kapan mulai
serangan, stimulus yang menyebabkan respon kejang, dan seberapa jauh
saat kejang dengan respon fisik dan psikologis klien. Apakah
sebelumnya klien pernah mengalami trauma kepala dan infeksi serta
kemana saja klien sudah meminta pertolongan setelah mengalami
keluhan. Tanyakan tentang pemakaian obat sebelumnya seperti obat-
obatan antikonvulsan, antipiretik dan lain-lain.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang pernah diderita sebelumnya (apakah mengalami keadaan
yang sama seperti sekarang, seperti mengalami kejang berulang).
e) Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita kejang, penyakit saraf,
dan penyakit lainnya.
2. Pengkajian Psiko-Sosial-Spiritual
Klien akan lebih banyak menarik diri, ketakutan akan serangan kejang
berulang dan depresi akan prognosis dari kondisi yang akan datang.
a) Aktivitas dan Istirahat
Gejala yaitu keletihan, kelemahan umum, keterbatasan dalam
beraktivitas yang ditimbulkan oleh diri sendiri atau orang lain. Tanda
18
yaitu perubahan tonus, kekuatan otot, gerakan involunter, kontraksi
otot.
b) Sirkulasi
Gejala yaitu hipertensi, peningkatan nadi, sianosis.
c) Eliminasi
Gejala yaitu inkontinensia ditandai dengan peningkatan tekanan
kandung kemih, dan tonus sfingter.
d) Makanan dan Cairan
Gejala yaitu sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang
berhubungan dengan aktivitas kejang. Ditandai dengan kerusakan
jaringan lunak dan gigi (cedera selama kejang)
e) Neurosensori
Gejala riwayat sakit kepala, kejang berulang, pingsan, pusing dan
riwayat trauma kepala, anoksia, infeksi serebral.
f) Nyeri dan Kenyamanan
Gejala yaitu sakit kepala, nyeri otot, nyeri abnormal paroksismal,
ditandai dengan sikap atau tingkah laku yang hati-hati, distraksi,
perubahah tonus otot.
g) Pernafasan
Gejala yaitu gigi mengatup, sianosis, pernafasan cepat dan dangkal,
peningkatan sekresi mukus, fase postikal apnea.
h) Keamanan
Riwayat terjatuh, fraktur, adanya alergi. Ditandai dengan trauma pada
jaringan lunak, penurunan kesadaran, kekuatan tonus otot secara
menyuluruh.
i) Interaksi sosial
Gejalanya yaitu terdapat masalah dalam hubungan interpersonal dalam
keluarga atau lingkungan sosial melakukan pembatasan, penghindaran
terhadap kontak sosial.

19
3. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum Klien
Pada pengkajian fisik secara umum sering didapatkan pada awal pasca
kejang klien mengalami konfusi dan sulit untuk bangun. Pada kondisi
yang lebih berat sering dijumpai adanya penurunan kesadaran.
Pengkajian untuk peristiwa kejang perlu dikaji tentang bagaimana
kejang sering terjadi pada klien, tipe pergerakan atau aktivitas, berapa
lama kejang berlangsung, diskripsi aura yang menimbulkan peristiwa,
status poskial, lamanya waktu klien untuk kembali kejang, adanya
inkontinen selama kejang.
b) Selain itu juga dilakukan pemeriksaan 6B yaitu:
• B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas dan
peningkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada
klien epilepsy disertai adanya gangguan pada sistem pernapasan.
• B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler terutama dilakukan pada
klien epilepsy tahap lanjut apabila klien sudah mengalami syok.
• B3 (Brain)
Peningkatan B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih
lengkap dibandingkan pengakjian pada sistem lainnya.
Tingkat kesadaran: Tingkat kesadaran klien dan respons terhadap
lingkungan adalah indikator paling sensitive untuk disfungsi sistem
persarafan.
Fungsi serebral, status moral: observasi penampilan dan tingkah
laku, nilai gaya bicara, dan observasi ekspresi wajah, aktifitas
motorik pada klien epilepsi tahap lanjut biasanya mengalami
perubahan status mental seperti adanya gangguan perilaku, alam
perasaan, dan persepsi.

20
• B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistem kemih biasanya didapatkan berkurangnya
volume output urine, hal ini berhubungan dengan penurunan
perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal.
• B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi
asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien epilepsi menurun
karena anoreksia dan adanya kejang.
• B6 (Bone)
Pada fase akut setelah kejang sering didapatkan adanya penurunan
kekuatan otot dan kelemahan fisik secara umum sehingga
mengganggu aktifitas perawatan diri.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan (SDKI)
1. Risiko cedera berhubungan dengan kejang yang tidak terkontrol (gangguan
keseimbangan)
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekresi
saliva
3. Isolasi sosial berhubungan dengan rendah diri terhadap keadaan penyakit dan
stigma buruk penyakit epilepsi dalam masyarakat
4. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan pada nervus organ
sensori persepsi
5. Risiko perfusi serebral tidak efektif berhubungan dengan penurunan suplai
oksigen ke otak

21
2.2.3 Intervensi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
1. D.0136 L.14136 I.14537
Resiko Cedera Tingkat Cedera Pencegahan Cedera
Definisi : Luaran tambahan : Observasi
Beresiko mengalami bahaya a. Fungsi Sensori a. Identifikasi area lingkungan yang
atau kerusakan fisik yang b. Keamanan Lingkungan Rumah berpotensi menyebabkan cedera
menyebabkan seseorang tida c. Keseimbangan Terapeutik
lagi sepenuhnya sehat atau d. Kinerja Pengasuhan a. Sediakan pencahayaan yang memadai
dalam kondisi baik. e. Kontrol Kejang b. Pastikan bel panggilan atau telepon
f. Koordinasi Pergerakan mudah dijangkau
g. Mobilitas c. Pertahankan posisi tempat tidur di posisi
h. Orientasi Kognitif terendah saat digunakan
i. Tingkat Delirium d. Diskusikan mengenai latihan dan terapi
j. Tingkat Demensia fisik yang diperlukan
k. Tingkat Jatuh e. Diskusikan mengenai alat bantu mobilitas
Kriteria hasil : yang sesuai (mis. tongkat atau alat bantu
a. Toleransi aktivitas meningkat jalan)
b. Kejadian cedera menurun f. Diskusikan bersama anggota keluarga
c. Ketegangan otot menurun yang dapat mendampingi pasien
d. Ekspresi wajah kesakitan g. Tingkatkan frekuensi observasi dan
menurun pengawasan pasien, sesuai kebutuhan

22
e. Gangguan mobilitas menurun Edukasi
f. Tekanan darah membaik a. Jelaskan alasan intervensi pencegahan
jatuh ke pasien dan keluarga
b. Anjurkan berganti posisi secara perlahan
dan duduk selama beberapa menit
sebelum berdiri
2. D.0001 L.01001 I.01011
Bersihan Jalan Napas Tidak Bersihan Jalan Napas Manajemen Jalan Napas
Efektif Luaran Tambahan : Observasi
Definisi: a. Kontrol Gejala a. Monitor pola napas (frekuensi,
Ketidakmampuan b. Pertukaran Gas kedalaman, usaha napas)
membersihkan sekret atau c. Respons Alergi Lokal b. Monitor bunyi napas tambahan (mis.
obstruksi jalan napas untuk d. Respons Alergi Sistemik gurling, mengi, wheezing, ronkhi kering)
mempertahankan jalan napas e. Respons Ventilasi Mekanik c. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
tetap paten. f. Tingkat Infeksi Terapeutik
Kriteria Hasil : a. Pertahankan kepatenan jalan napas
a. Batuk efektif meningkat dengan heat-tilt dan chin-lift (jaw-thrust
b. Produksi sputum menurun jika curiga trauma servikal)
c. Frekuensi napas membaik b. Posisi semi – fowler atau fowler
c. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
d. Berikan oksigen, jika perlu

23
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu
3. D.0121 L.13116 I.13498
Isolasi Sosial Keterlibatan Sosial Promosi Sosialisasi
Definisi : Luaran tambahan : Observasi
Ketidakmampuan untuk a. Adaptasi Disabilitas a. Identifikasi kemampuan melakukan
membina hubungan yang erat, b. Citra Tubuh interaksi dengan orang lain
hangat, terbuka dan c. Dukungan Sosial b. Identifikasi hambatan melakukan
inderdependen dengan orang d. Harga Diri interaksi orang lain
lain. e. Interaksi Sosial Terapeutik
f. Resolusi Berduka a. Motivasi meningkatkan keterlibatan
g. Status Perkembangan dalam suatu hubungan
h. Tingkat Demensia b. Motivasi kesabaran dalam
Kriteria Hasil : mengembangkan suatu hubungan
a. Minat interaksi meningkat c. Motivasi berpartisipasi dalam aktivitas
b. Verbalisasi isolasi menurun baru dan kegiatan kelompok
c. Verbalisasi ketidakamanan di d. Motivasi berinteraksi di luar lingkungan
tempat umum menurun (mis. jalan – jalan, ke toko buku)
d. Afek murung/sedih menurun e. Diskusikan kekuatan dan keterbatasan
e. Kontak mata membaik dalam berkomunikasi dengan orang lain
f. Diskusikan perencanaan kegiatan di masa

24
depan
g. Berikan umpan balik positif dalam
perawatan diri
h. Berikan umpan balik positif pada setiap
peningkatan kemampuan
Edukasi
a. Anjurkan berinteraksi dengan orang lain
secara bertahap
b. Anjurkan ikut serta kegiatan sosial dan
kemasyarakatan
c. Anjurkan berbagi pengalaman dengan
orang lain
d. Anjurkan meningkatkan kejujuran diri
dan menghormati hak orang lain
e. Anjurkan penggunaan alat bantu (mis.
kacamata dan alat bantu dengar)
f. Anjurkan membuat perencaan kelompok
kecil untuk kegiatan khusus
g. Latih bermain peran untuk meningkatkan
keterampilan komunikasi
h. Latih mengekspresikan marah dengan
tepat

25
4. D.0085 L.09083 I.08241
Gangguan Persepsi Sensori Persepsi Sensori Minimalisir Rangsangan
Definisi : Luaran tambahan : Observasi
Perubahan persepsi terhadap a. Fungsi Sensori a. Periksa status mental, status sensori, dan
stimulus baik internal maupun b. Orientasi Kognitif tingkat kenyamanan (mis. nyeri,
eksternal yang disertai dengan c. Proses Informasi kelelahan)
respon yang berkurang, d. Status Neurologis Terapeutik
berlebihan atau terdistorsi. e. Status Orientasi a. Diskusikan tingkat toleransi terhadap
Kriteria hasil : beban sensori (mis. bising, terlalu terang)
a. Verbalisasi mendengar bisikan b. Jadwalkan aktivitas harian dan waktu
meningkat istirahat
b. Verbalisasi melihat bayangan Edukasi
meningkat a. Ajarkan cara meminimalisasi stimulus
c. Verbalisasi merasakan sesuatu Kolaborasi
melaui indra perabaan meningkat a. Kolaborasi dalam meminimalkam
d. Distorsi sensori meningkat prosedur/tindakan
e. Respons sesuai stimulus membaik b. Kolaborasi pemberian obat yang
mempengaruhi persepsi stimulus

26
5. D.0017 L.02014 I.06194
Risiko Perfusi Serebral Perfusi Selebral Manajemen Peningkatan Tekanan
Tidak Efektif Luaran tambahan : Intrakranial
Definisi : a. Komunikasi Verbal Observasi
Beresiko mengalami b. Kontrol Resiko a. Identifikasi penyebab peningkatan TIK
penurunan sirkulasi darah ke c. Memori (mis. lesi, gangguan metabolisme, edema
otak. d. Mobilitas Fisik serebral)
e. Status Neurologis b. Monitor tanda/gejala peningkatan TIK
Kriteria hasil : (mis. tekanan darah meningkat, tekanan
a. Tingkat kesadaran meningkat nadi melebar, bradikardia, pola napas
b. Sakit kepala menurun ireguler, kesadaran menurun)
c. Kesadaran membaik c. Monitor MAP (Mean Arterial Pressure)
d. Nilai rata – rata tekanan darah d. Monitor status pernapsan
membaik e. Monitor intake dan ouput cairan
Terapeutik
a. Minimalkan stimulus dengan
menyediakan lingkungan yang tenang
b. Berikan posisi semi fowler
c. Hindari manuver valsava
d. Hindari menggunaan PEEP
e. Cegah terjadinya kejang
f. Pertahankan suhu tubuh normal

27
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian sedasi dan anti
konvulsan, jika perlu
b. Kolaborasi pemberian diuretik osmosis,
jika perlu
c. Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika
perlu

28
2.2.4 Implementasi
Implementasi merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. (Wahyuni, 2016).
2.2.5 Evaluasi
Evaluasi keperawatan adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk
menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana
keperawatan dilanjutkan, merevisi rencana atau menghentikan rencana
keperawatan (Manurung, 2011).
Evaluasi menggunakan format S.O.A.P, yaitu :
S : Data subjektif : yaitu data yang diutarakan klien dan pandangannya terhadap
data tersebut.
O : Data objektif : yaitu data yang didapat dari hasil observasi perawat, termasuk
tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan denganpenyakit pasien
(meliputi data fisiologis, dan informasi dan pemeriksaan tenaga kesehatan).
A : Analisis : yaitu analisa ataupun kesimpulan dari data subjektif dan data
objektif.
P : Perencanaan : yaitu pengembangan rencana segera atau yang akan datang
untuk mencapai status kesehatan klien yang optimal. (Hutahaen, 2010).
Adapun ukuran pencapaian tujuan tahap evaluasi dalamkeperawatan
meliputi:
1. Masalah teratasi, jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan tujuan dan
kriteria hasil yang telah ditetapkan
2. Masalah teratasi sebagian, jika klien menunjukkan perubahan sebagian dari
kriteria hasil yang telah ditetapkan.
3. Masalah tidak teratasi, jika klien tidak menunjukkan perubahan dankemajuan
sama sekali yang sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan
dan atau bahkan timbul masalah/diagnosa keperawatan baru.

29
BAB 3
PENTUP
3.1 Kesimpulan
Epilepsi merupakan gangguan neurologi kronis yang dapat terjadi di segala usia
yang timbul akibat terganggunya sinyal listrik di dalam otak. Epilepsi merupakan
keadaan gangguan sinyal listrik di otak yang bermanifestasi menjadi kejang maka prinsip
umum pengobatan Epilepsi adalah membebaskan mereka dari kejang.
Epilepsi merupakan kondisi medis yang menimbulkan dampak neurobiologik,
kognitif, psikologik, dan sosial yang bermaka terhadap pasiennya. Hal ini disebabkan
karena bangkitan yang terjadi dapat terus berulang sehingga menyebabkan kematian sel-
sel neuron secara luas.
Penanganannya epilepsi dengan Menghindari faktor pemicu (jika ada) dan
Menggunakan obat-obat antiepilepsi sesuai anjuran medis.
3.2 Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah keinginan penulis atau
partisipasi para pembaca, agar sekiranya mau memberikan kritik dan saran yang sehat
dan bersifat membangun demi kemajuan penulisan makalah ini. Kami sadar bahwa
penulis adalah manusia biasa yang pastinya memiliki kesalahan. Oleh karena itu, dengan
adanya kritik dan saran dari pembaca, penulis bisa mengkoreksi diri dan menjadikan
makalah kedepannya menjadi makalah yang elbih baik lagi dan dapat memberikan
manfaat yang lebih bagi kita semua.

30
DAFTAR PUSTAKA

Epilepsy – Symptoms. 2012. [cited 2014 Februari 9]. Available from : URL
http://www.nhs.uk/Conditions/Epilepsy/Pages/Symptoms.aspx
Harsono.2007. Epilepsi, Kapita Selekta Neurologi . Gadjah Mada University Press : Yogyakarta
H, Herpan Syafii, Yanna Indrayana, Emmy Amalia. (2017). Pola Pengobatan dan Fungsi
Kognitif Pasien Epilepsi di RSJ Mutiara Sukma. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 29 (4),
335-340.
Hutahaean, Berman. 2010. Model Evaluasi Kurikulum Multidimensi. FKIP Universitas Prima
Indonesia : Medan
Laoh, Erna Yulianti N. (2019). “Hubungan Frekuensi Kekambuhan Kejang Terhadap
Perubahan Fungsi Kognitif Pada Pasien Dewasa Dengan Epilepsi di Poliklinik
Neurologi RSUD Budhi Asih”. Ilmu Keperawatan. Universitas Binawan. Jakarta.
Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. Gangguan kejang pada bayi dan Anak. In : Rudolph
AM, Hoffman JIE, editors. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 3. Jakarta : EGC;
2007.p.2134-40.
Subentar, M. 2015. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Dengan Epilepsi. Program
Sarjanah Keperawatan Profesi Ners Sekolsh Tinggi Ilmu Kesehatan Banjarmasin.
Susanti, Komang Ari, Zamzanariah Ibrahim, Muhammad Ibnu Sina. (2017). HUBUNGAN
KEPATUHAN PENGOBATAN TERHADAP KEJADIAN KEJANG PADA PASIEN
EPILEPSI YANG BEBAS KEJANG SELAMA MINIMAL 1 TAHUN PENGOBATAN
DI POLI NEUROLOGI RSUD DR. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG.
Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 4 (2), 137-143.
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Dianostik, Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan Hasil Keperawatan, Edisi 1.
Jakarta: DPP PPNI.
Vera R, Nursiah, Dewi M. 2014.Sindrom Epilepsi Pada Anak.MKS,Th 46, No. 1, Januari 2014
Wahyuni, Nurul Sri. 2016. Dokumentasi Keperawatan. Ponorogo: UNMUH Ponorogo Press.
31

Anda mungkin juga menyukai