Anda di halaman 1dari 4

Berdasarkan artikel Membangun Efektifitas Pelayanan Publik Melalui Mall Pelayanan Publik, masalah

pokok yang ada yaitu semakin berkembangnya suatu negara maka semakin berlomba-lomba untuk
meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakatnya. Namun tidak semua usaha
meningkatkan pelayanan ini membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan dan mampu
memecahkan masalah terkait pelayanan publik. Masalah yang ada terkait dengan pelayanan publik
selama ini yaitu masih sedikit instansi yang wajib memberikan layanan yang berstandar operasional
prosedur, dan adanya kejelasan. Masih ada beberapa instansi penanggung jawab dan penyedia
layanan yang masih belum mempunyai SOP berupa alur dan prosedur yang jelas dalam menyediakan
pelayanan. Aspek durasi waktu pemberian layanan masih belum ada sehingga kurang efektif dan
efisien serta dapat merugikan waktu masyarakat yang sedang mengakses pelayanan. Dalam konteks
pemberian pelayanan, seringkali ditemukan ketidakmampuan petugas pemberi layanan disebabkan
karena kompetensi yang rendah serta kurang sesuai dengan pekerjaan untuk menyediakan
pelayanan yang baik; Masih ada penyedia layanan yang bersikap kurang ramah, kurang sopan atau
tidak jelas dalam berbicara, memberitahukan suatu informasi dengan tidak ramah/santun. Selain itu
masih ada penyedia layanan masih belum menggunakan sarana prasarana yang layak serta sesuai
kebutuhan konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel, ruang laktasi, antrian khusus bagi lansia,
dan sistem konektivitas jaringan komputer, internet sehingga pada saat pengurusan layanan yang
membutuhkan koneksi server pusat, layanan tidak dapat diberikan karena tidak ada koneksi
jaringan. Oleh karena itu Mall Pelayanan Publik yang merupakan the new public service diharapkan
mampu memecahkan masalah-masalah yang ada.
Sedangkan untuk aktor pada artikel tersebut tidak terdapat aktor khusus, tetapi bisa disimpulkan
beberapa pihak terkait serta peran-perannya dalam artikel tersebut, diantaranya Pemeritah Daerah
yang berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat; Kemenpan RB sebagai yang
menghadirkan Mall Pelayanan Publik di Indonesia; Deputi Bidang Pelayanan Publik Diah Natalisa
yang menjelaskan bahwa Pembangunan MPP sejalan dengan Gerakan Indonesi Melayani yang
tertuang dalam Instruksi Presiden No. 12/2016; serta selain itu pihak-pihak yang terkait tentunya
adalah masyarakat yang merupakan tolak ukur dari keberhasilan dari suatu layanan yang diukur
melalui tinkat kepuasan dari masyarakat.
A. berdasarkan artikel tersebut dapat diperoleh beberapa penerapan dan pelanggaran terhadap
nilai-nilai dasar PNS Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dan NKRI oleh setiap aktor yang
terlibat berdasarkan konteks deskripsi kasus sebagai berikut :
1. pelanggaran terhadap komitmen mutu dimana setiap jenis layanan publik, setiap instansi
seharusnya memiliki dan wajib memberikan layanan yang berstandar operasional prosedur, dan
adanya kejelasan. Namun berdasarkan artikel di atas masih ada beberapa instansi penanggung
jawab dan penyedia layanan yang masih belum mempunyai SOP berupa alur dan prosedur yang jelas
dalam menyediakan pelayanan. Dari hal ini mengakibatkan pelayanan menjadi tidak efisien dan
efektif. Selain melanggar komitmen mutu yang merupakan peran PNS, hal ini juga melanggar asas-
asas pelayanan publik yang tertuang di UU No. 25 Tahun 2009 diantaranya Ketepatan waktu
dimaksudkan setiap jenis pelayanan dapat dilakukan tepat waktu sesuai dengan standar
pelayanan serta Kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan. Pelanggaran terhadap komitmen
mutu yang selanjutnya yaitu Aspek durasi waktu pemberian layanan masih belum ada sehingga
kurang efektif dan efisien serta dapat merugikan waktu masyarakat yang sedang mengakses
pelayanan. Hal ini sudah menyimpang dari syarat adanya SOP di setiap instansi.

2. pelanggaran selanjutnya yaitu ketidakmampuan petugas pemberi layanan disebabkan karena


kompetensi yang rendah serta kurang sesuai dengan pekerjaan untuk menyediakan pelayanan yang
baik. Hal ini jelas sudah melanggar nilai dasar untuk menjadi ASN yang akuntabel yaitu ASN harus
memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Kompetensi seseorang
tentunya sangat mempengaruhi kinerjanya, sehingga apabila terdapat ASN yang bekerja tidak sesuai
dengan kompetensi yang diperlukan tentunya akan menjadi sebuah masalah.

3. pelanggaran yang ketiga yaitu Masih ada penyedia layanan yang bersikap kurang ramah, kurang
sopan atau tidak jelas dalam berbicara, memberitahukan suatu informasi dengan tidak
ramah/santun. Hal ini telah melanggar kode etik seorang ASN dimana seorang ASN harus
memberikan pelayanan prima diantaranya melalui memberikan pelayanan dengan sikap hormat,
sopan, dan tanpa tekanan.

4. pelanggaran keempat yaitu masih ada penyedia layanan masih belum menggunakan sarana
prasarana yang layak serta sesuai kebutuhan konsumen, misalnya sarana khusus bagi difabel, ruang
laktasi, antrian khusus bagi lansia, dan sistem konektivitas jaringan komputer, internet sehingga
pada saat pengurusan layanan yang membutuhkan koneksi server pusat, layanan tidak dapat
diberikan karena tidak ada koneksi jaringan. Hal ini jelas-jelas telah melanggar asas-asas pelayanan
publik yang tertuang di UU No. 25 Tahun 2009 diantaranya Fasilitas dan perlakuan khusus
bagi kelompok rentan yaitu adanya pemberian kemudahan terhadap kelompok yang rentan
sehingga tercipta keadilan dalam layanan. Jika penerima layanan tidak dilayani sesuai
kebutuhan atau bahkan selama proses pelayanan, penerima pelayanan merasakan
ketidaknyamanan tentunya hal ini telah mengarah pada pelayanan yang tidak prima.

b. dampak dari tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang kedudukan dan
peran PNS dalam NKRI berdasarkan konteks deskripsi kasus adalah sebagai berikut :

1. tidak diterapkannya komitmen mutu berdasarkan konteks deskripsi kasus di atas adalah kocar-
kacirnya pelayanan yang disediakan. Dikatakan kocar-kacir karena SOP saja tidak ada sehingga
pemberi layanan tidak akan memiliki panduan dalam melakukan tugas dan kewajibannya sehingga
pemberi layanan akan seenaknya sehingga akan banyak layanan yang tidak terpenuhi. Serta hal ini
tentunya akan memberikan kebingungan pada penerima layanan karena mereka juga tidak akan
memiliki panduan serta kejelasan mengenau layanan yang dimintanya. Dari pelayanan yang kocar-
kacir ini tentunya akan mengakibatkan semakin merosotnya sistem dari semua sektor yang ada dalam
suatu negara.
2. jika setiap ASN yang bertugas tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugas yang diberikan
maka seluruh pelayanan publik yang ada di masyarakat akan mengalami kemunduran. Tidak hanya di
sektor pelayanan publik tetapi juga di sektor pendidikan serta kesehatan. Kemajuan suatu negara
bergantung pada SDM di negara tersebut dan yang bisa meningkatkan SDM adalah melalui kegiatan
pendidikan. Jika pendidikan mengalami penurunan akibat guru tidak memiliki kompetensi yang
dibutuhkan maka SDM yang ada juga akan mengalami degradasi serta dari menurunnya SDM ini
akan menjadi kemunduran bagi suatu negara. Sedangkan jika seluruh ASN yang bertugas di bidang
kesehatan tidak memiliki kompetensi yang dimiliki, bisa dikatakan bahwa suatu negara akan benar-
benar punah.
3. pelayanan yang tidak ramah akan mengurangi tingkat kepuasan dari penerima layanan sehingga
nantinya setiap layanan yang ada di masyarakat tidak akan memberikan kepuasan dan masyarakat
juga tidak akan meminta layanan di instansi tersebut. Maka seluruh aktivitas masyaraat akan
terganggu dan akan ada banyak sekali regulasi yang tumpang tindih, sebagai contoh jika pelayanan
dalam pembuatan SIM tidak memberikan kepuasan pada masyarakat dan masyarakat memilih untuk
tidak membuat SIM maka setiap pekerjaan yang menjadikan kebutuhan akan SIM sebagai kebutuhan
utama akan terus kosong. Berdasarkan contoh kasus ini maka nantinya yang akan pusing sendiri
memikirkan solusi adalah pemerintah yang isinya juga ASN. Sehingga amat sangat diperlukan ASN
yang berintegritas dan sangat menjunjung tinggi kode etik demi kepentingan bersama.
4. pelayanan publik yang tidak menyediakan tempat sesuai dengan kebutuhan khusus dari setiap
penerima layanan akan membuat antrian yang sangat berjubel dan dipenuhi oleh masyarakat dadi
berbagai lapisan yang tentunya akan menciptakan keribetan tersendiri di tempat pelayanan publik
tersebut.

Gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah berdasarkan konteks deksripsi kasus diantaranya


yaitu :
1. memaksimalkan pemanfaatan Mall Pelayanan Publik dengan cara membangun MPP di setiap
pemerintahan daerah yang diawasi secara langsung oleh kepala daerah

2. setiap instansi pemerintahan atau penyedia layanan publik lainnya harus menerapkan dan
menjaga komitmen mutu sebagai contoh berdasarkan kasus ini setiap penyedia layanan publik harus
memiliki SOP berupa alur dan prosedur yang jelas dalam menyediakan pelayanan

3. dilakukan rekrutmen yang benar-benar selektif terkait dengan kompetensi yang harus dimiliki ASN
terhadap CASN serta jika terdapat ASN yang tidak berkompeten sebaiknya dilakukan pelatihan

4. setiap ASN harus benar-benar memiliki dan menerapkan nilai-nilai dasar PNS, jika diperlukan ASN
harus benar-benar digembleng dan dilatih sehingga memiliki tanggung jawab dan mampu
menerapkan nilai-nilai dasar PNS tersebut

5. setiap pelayanan publik harus menyediakan tempat khusus bagi difabel, ruang laktasi, antrian
khusus bagi lansia, dan sistem konektivitas jaringan komputer.

6. antrian yang berjubel bisa diurai dengan mengubah layanan tatap muka menjadi layanan online

Konsekuensi penerapan dari setiap alternatif gagasan pemecahan masalah berdasarkan konteks
deskripsi kasus diantaranya :
1. diperlukan banyak dana untuk membangun MPP serta diperlukan juga tenaga ekstra karena dengan
dibangunnya suatu layanan publik maka akan dibutuhkan pula penyedia layanan yang benar-benar
mampu melaksanakan tugasnya
2. harus ada reformasi atau perubahan peraturan, sehingga hal ini akan mengakibatkan perlunya
penyesuaian diri dari penyedia layanan dan penerima layanan untuk terbiasa tertib yang tentunya tidak
akan langsung tercipta dalam sehari dua hari. Akibatnya akan membutuhkan ekstra kesabaran dari
semua pihak.
3. dari rekrutmen yang benar-benar selektif dan pelatihan bagi ASN yang telah bertugas tentunya akan
membutuhkan tenaga ekstra dari penyeleksi ASN serta biaya yang lebih untuk pelatihan ASN
4. jika setiap ASN digembleng disini akan terdapat dua konsekuensi, konsekuensi positifnya tercipta
ASN yang benar-benar sesuai sedangkan konsekuensi negatifnya akan semakin menurunnya kualitas
ASN tersebut setelah melaksanakan tugasnya. Sehingga solusi yang diperlukan yaitu harus ada
lembaga khusus yang mengawasi dan melakukan pendekatan sesuai dengan karakter ASN untuk
membangun dan meningkatkan kualitas ASN tersebut.

5. penyediaan tempat khusus bagi difabel, ruang laktasi, antrian khusus bagi lansia, dan sistem
konektivitas jaringan komputer ini selain memerlukan biaya yang lebih juga harus ada kemauan dari
setiap penyedia layanan publik. Sedangkan konsekuensi untuk sistem konetivitas jaringan komputer
ini tidak semua wilayah mampu menjangkau oleh internet, sehingga akan membutuhkan biaya dan
tenaga yang lebih untuk menyediakan sesuai kebutuhan penerima layanan.

6. tidak semua lapisan masyarakat terbiasa dengan layanan online sehingga untuk memulai
perpindahan layanan tatap muka ke layanan online diperlukan masyarakat yang terbiasa, sehingga
untuk penerapan awalnya tentu akan memberikan banyak kesulitan.

Namun segala konsekuensi di atas rasanya sebanding dengan hasil dalam jangka panjang yang
nantinya akan diperoleh, dimana setiap pelayanan publik yang ada akan memberikan pelayanan
yang prima serta negara tersebut akan semakin maju dengan masyarakat yang maju juga.

Anda mungkin juga menyukai