Anda di halaman 1dari 12

Materi

ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA FOLIUM


I. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengindentifikasi ciri-ciri makroskopik, mikroskopik, dan organoleptic
dari simplisia daun.
2. Mahasiswa mampu mengindentifikasi dan mengetahui fragmen pengenal simplisia
serbuk daun.

II. Tinjauan Pustaka


1. Definisi Folium
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna
hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis.
Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena
tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri
melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia (Sutarmi, 1983).
Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab disitu terjadi
proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Hasil fotosintesis akan
didistribusikan ke seluruh organ untuk pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti
organ lain dari tumbuhan karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan
sinar dan klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun
mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti ketersediaan air,
adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan juga berpengaruh terhadap
struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).
Daun yang lengkap terdiri atas helai daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan pelepah
daun (vagina). Bentuk dan ukuran daun berbiji sangat bervariasi. Seperti halnya batang dan akar,
daun juga tersusun atas beberapa sistem jaringan yaitu jaringan pelindung, jaringan dasar yang
menyusun mesofil daun, jaringan pengangkut (Savitri, 2008).
Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk terdapat
sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai dun atau panjangannya. Sumbu bersama itu
disebut rakis. Jika anak daun muncul disisi lateral dari rakis, daun disebut majemuk bersirip, dan
kalau semua anak daun muncul di ujung rakis yang amat pendek sehingga dapat dikatakan
melekat di ujung tangkai daun bersama, maka daun seperti itu disebut daun majemuk menjari
(Tjitrosoepomo, 1993).
2. Morfologi Daun
Morfologi daun sangat bervariasi pada group tanaman yang berbeda, beberapa tanaman
primitif daunya merupakan perluasan secara lateral dari tumbuh dimana epidermis batang dan
pada beberapa tanaman paku-pakuan dan tanaman berbiji kemungkinan merupakan sistem
cabang dengan komponen yang bergabung sebagian besar daun tanaman dikotil dan monokotil
pasti phyllase yaitu: berupa petiole yang pipih dan meluas dan disokong dengan petiole (Heddy,
1987).

3. STRUKTUR ANATOMI DAUN


Terdapat 3 struktur jaringan penyusun dari daun, diantaranya jaringan epidermis, jaringan
mesofil, dan jaringan pengangkut.
4. JARINGAN EPIDERMIS
Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin
(kutikula) atau kadang dari lignin. Pada epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang diapit oleh
dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di permukaan atas saja, misalnya pada tumbuhan
yang daunnya terapung (pada daun teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula
yang terdapat di kedua permukaan daun (atas dan bawah). Tanaman Ficus mempunyai epidermis
yang tersusun atas dua lapis sel. Alat-alat tambahan yang terdapat di antara epidemis daun,
antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas (Mulyani, 2006).
Epidermis daun dari tumbuhan yang berbeda beragam dalam hal jumlah lapisan, bentuk,
struktur, susunan stomata, penampilan, dan susunan trikoma, serta adanya sel khusus. Struktur
dalamnya biasanya berbentuk pipih. Daun memiliki dua jenis jaringan epidermis yaitu
permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan
abaksial. Pada lapisan ini tidak ada ruang antar sel.

Di antara sel epidermis terdapat sel penjaga yang membentuk stomata. Struktur stomata yang
dapat membuka dan menutup ini berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dan air.
Sifat terpenting pada jaringan daun ini adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula
serta stomata (Campbel, 2005).
5. JARINGAN MESOFIL
Mesofil merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas dan epidermis
bawah dan diantara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas parenkim yang relative
homogen atau berdifferensiasi menjadi parenkim palisade dan parenkim spons. Sesuai dengan
fungsinya, parenkim mesofil merupakan daerah fotosintesis utama karena mengandung kloroplas
(Sutrian, 2004).
Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat berjajar seperti
pagar. Parenkim palisade umumnya dijumpai pada lapisan atas daun, menempati sampai ½
hingga 2/3 mesofi, tetapi dapat pula dijumpai pada kedua sisi permukaan daun. Jumlah lapisan
sel palisade dapat satu lapis atau lebih (Hidayat, 1995).
Mesofil terdiri atas jaringan parenkim yang terdapat di sebelah dalam epidermis. Mesofil
mengalami diferensiasi membentuk jaringan fotosintetik yang berisi kloroplas. Pada kebanyakan
tumbuhan terdapat dua jenis parenkim dalam mesofil, yaitu parenkim palisade dan parenkim
spons.
a. Parenkim Palisade
Sel parenkim palisade memanjang dan pada penampang melintangnya tampak berbentuk
batang yang tersusun dalam deretan. Pada tumbuhan tertentu, sel palisade berbeda bentuknya.
Pada Lilium terdapat lobus besar pada sel palisade dan tampak bercabang (Fahn, 1991).
Sel palisade terdapat di bawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral (berlapis
banyak). Seringkali terdapat hipodermis di antara epidermis dan jaringan palisade. Sel parenkim
palisade tersusun atas satu atau lebih lapisan. Apabila tersusun lebih dari satu lapisan, panjang
sel pada tiap lapisan atau sama, atau malah semakin ke tengah semakin pendek. Jaringan palisade
biasanya terdapat pada permukaan abaksial daun.

Meskipun jaringan palisade tampak lebih rapat, sisi panjang selnya saling terpisah sehingga
udara dalam ruang antarsel tetap mencapai sisi panjang; kloroplas pada sitoplasma melekat di
tepi dinding sel itu. Hal tersebut mengakibatkan proses fotosintesis dapat berlangsung efesien
(Kertasapoetro, 1991).
b. Perenkin Spons
Jaringan spons terdiri dari sel bercabang yang tak teratur bentuknya. Bentuk sel parenkim
spons dapat berbentuk bermacam-macam. Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang
terdapat antara sel satu dan lainnya. Membedakan antara sel parenkim palisade dengan parenkim
spons tidaklah selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas beberapa lapisan.
Alasannya adalah apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan, biasanya lapisan paling
dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada di dekatnya (Mulyani, 2006).

6. JARINGAN PENGANGKUT
Berkas pengangkut ini biasanya terbagi menjadi 2 jenis yaitu, xylem dan floem. Sel berkas
pengangkut ini berdinding tipis untuk memudahkan terjadinya transpor antar sel, mungkin
memiliki kloroplas seperti mesofil. Sering kali terdapat kristal. Kebanyakan daun Dikotil,
parenkim berkas pengangkut memperluas ke arah epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel
yang mencapai arah epidermis ini berfungsi dalam pengangkutan pada daun. Bukan hanya pada
daun Dikotil saja yang memiliki berkas pengangkut akan tetapi berkas pengangkut juga terdapat
dalam daun Monokotil (Campbel, 2005).
III. Alat Dan Bahan
a) Alat Yang Digunakan :

1.Mikroskop
2.Kaca objek
3.Kaca Penutup
4.Pipet tetes

b) Bahan Yang Digunakan :

1. Daun teh (Camellia sinensis)


2. Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra)
3. Daun Sembung (Blumea balamiferu)
4. Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)
5. Kloral hidrat 70%

IV. Prosedur Kerja :

AMBIL SERBUK FOLIUM


Amati Organoleptis :
 Bau
 Rasa
 Warna

BUAT SEDIAAN MEDIA KLORAL HIDRAT
MASING-MASING SEBUK FOLIUM :
a. Ambil sedikit simplisia serbuk folium, letakkan pada
object glass (kaca preparat)
b. Tambahkan satu tetes larutan kloralhidrat
c. Tutup dengan gelas penutup

AMATI DAN GAMBAR HASIL PENGAMATAN MIKROSKOP

 Dibuat laporan hasil kerja praktikum


HASIL
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Daun teh (Camellia sinensis)
- Nama Latin : Camellia sinensis
- Nama Simplesia : Camellia Folium
- Suku : Theaceae
- Fragmen Pengenal : Trikom uniseluler
- Perbesaran : 10x10
- Medium : Kloralhidrat 70%
- Mikroskopis : Terdapat kelanjar minyak , trikom
uniseluler, dan kristal kalsium oksalat.
- Makroskopis : Serbuk hijau kehitaman, rasa agak pahit
dan kelat serta bau aroatis.
Bentuk daun : Lanset
Tepi daun : Bergregi
Ujung daun : Runcing
Pangkal daun : Runcing
Tulang daun : Menyirip

2. Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra)


- Nama Latin : Melaleuca leucadendra
- Nama Simplesia : Melaleuca Folium
- Suku : Myrtaceae
- Fragmen Pengenal : Kristal kalsium oksalat
kelenjar minyak dan rambut
penutup.
- Perbesaran : 10 x 10
- Medium : Kloralhidrat 70%
- Mikroskopis : Terdapat kristal kalsium oksalat, kelanjar minyak serta rambut
penutup bersel tunggal.
- Makroskopis : Serbuk hijau kehitaman, bau aromatis, serta rasa agak pahit dan
kelat.
Bentuk daun : Lancip
Tepi daun : Melengkung
Ujung daun : Runcing
Pangkal daun : Runcing
Tulang daun : Sejajar

3. Daun Sembung (Blumea balamiferu)


- Nama Latin : Blumea balamiferu
- Nama Simplesia : Blumea Folium
- Suku : Asteraceae
- Fragmen Pengenal : Rambut penutup multiseluler
yang runcing.
- Perbesaran : 10 x 10
- Medium : Kloralhidrat 70%
- Mikroskopis : Terdapat rambut penutup multi seluler terdiri
dari 2-10 sel.
- Makroskopis : Daun tunggal, permukaan bawah daun berbulu tebal seperti

buludru, rasa sedikit pahit dan bau seperti kamper.

Bentuk daun : Lonjong

Ujung daun : Runcing

Pangkal daun : Runcing

Tulang daun : Menyirip


4. Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)
- Nama Latin : Orthosiphon aristatus
- Nama Simplesia : Orthosiphon Folium
- Suku : Lamiaceae
- Fragmen Pengenal : Rambut kelenjar
rambut penutup dan saluran
minyak.
- Perbesaran : 10 x 10
- Medium : Kloralhidrat 70%
- Mikroskopis : Terdapat rambut penutup, rambut kelenjar, dan
saluran minyak.
- Makroskopis : Serbuk tidak halus tidak berbau, rasa agak pahit,
bewarna hijau kecoklatan.
Bentuk daun : Lonjong
Tepi daun : Bergerigi
Ujung daun : Runcing
Pangkal daun : Runcing
Tulang daun : Meruncing
B. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan analisis terhadap simplesia folium, yang bertujuan
agar praktikan dapat mengidentivikasi simplesia folium secara mikroskopik dan
makroskopik. Pengamatan secara mikroskopik meliputi mengamati sel epidermis, rambut
penutup, stomata, mesofil (palisade, bunga karang, dan berkas pembuluh). Pengamatan
secara mikroskopis dilakukan dengan bantuan mikroskop sehingga praktikan dapat
melihat bentuk spesifik sel dari simplesia yang digunakan. Sedangkan untuk pengamatan
makroskopis mengidentifikasi secara organoleptis yang meliputi bau, rasa, warna, serta
bentuk fisik nya yang dapat dilihat secara lengsung tanpa menggunakan bantuan
mikroskop.
Pada praktikum ini menggunakan sampel daun sembung, daun the, daun kumis
kucing, dan daun minyak kayu putih. Sebelum dilakukan pengamatan dibawah
mikroskop dilakukan pengamatan secara organoleptis dari tiap masing-masing sampel.
Pengamatan selanjutnya dengan mengambil serbuk daun dari masing-masing sampel lalu
dibuat preparate kemudian diamati dibawah dibawah mikroskop.
Untuk sampel kumis kucing, daun minyak kayu putih, dan daun sembung setelah
pengamatan secara mikroskopis diketahui bahwa terdapat fragmen pengenal yang sama
terdapat pada pada tiga sampel, rambut penutup. Rambut penutup pada kumis kucing
berfungsi untuk melindungi sel dari kondisi lingkungan luar tumbuhan, terdapat juga
saluran minyak yang berfungsi untuk mengangkut minyak. Dalam literatur fragmen
pengenal pada daun kumis kucing yaitu epidermis atas dan bawah, rambut penutup
dengan kutikula bergaris dan berisi at warna ngu, rambut kelenjar, mesofil, pembuluh
kayu dengan penebalan spiral, tangga dan jala. Namun yang dapat diamati pada
praktikum ini hanya fragmen rambut kelenjar, rambut penutup dan saluran minyak saja
yang terlihat.
Pada daun minyak kayu putih pada saat pengamatan terlihat adanuya fragmen
pengenal yaitu terdapatnya kristal kalsium oksalat, kelenjar minyak dan rambut penutup.
Kelenjar minyak pada daun minyak kayu putih ini lah yang menghasilkan minyak.
Sedangkan untuk daun sembung setelah diamti dengan mikroskop terlihat rambut
penutup multiseluler yaitu rambut penutup yang memili cabang yang runcing.
Untuk daun teh yang terlihat saat pengamatan dengan mikroskop terdapt trikom
uniseluler yaitu trikom yang hanya memiliki satu sel, kelenjar minyak dan krisstal
kalsium oksalat. Kristal kalsium oksalat yang terdapat pada daun teh dan daun minyak
kayu putih adalah salah satu bahan ergastic didalam sel bersifat padat dan tidak larut.
Kristal kalsium oksalat merupakan bentuk hasil akhir metabolisme di dalam jaringan
tumbuhan. Kelenjar minyak yang terdapat pada sampel daun merupakan hasil sekresi
intraseluler yang disimpan didalam sel.
KESIMPULAN
Pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa setiap simplesia folium yang
digunakan memiliki fragmen pengenal yang berbeda namun ada juga yang memiliki
fragmen yang sama. Seperti daun sembung, daun minyak kayu putih, dan daun kumis
kucing memiliki fragmen yang sama yaitu rambut penutup. Sedangkan untuk pengamatan
organoleptis memiliki cirikhas nya masing-masing tiap sampel yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA

Sianturi Sister. 2021. Panduan Praktikum Farmakognosi. Samarinda : Universitas Stikes


Dirgahayu Samarinda.
Heddy S, 1987. Biologi pertanian. Rajawali, Press Jakarta.
Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan
(Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press.
Sutarmi. 1983. Botani Umum 1. Jakarta: Gramedia.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta :  UGM Press.
Anonim.1980. materia medika indonesia. Jakarta : Depkes RI.
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Jakarta
: PT Rineka Cipta.
Tim Penyusun Farmakognosi Studi Farmasi. (2017). Petunjuk praktikum farmakognosi. Bandung
: UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Manusia, Jilid 1: Jakarta, PT Pustaka
Pembangunan Swadaya Nusantara

Anda mungkin juga menyukai