Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

SISTEM INDERA

OLEH :
Nama : Usman D.W
NIM : 18010108039
Jurusan : Tadris Biologi
Dosen Pembimbing : Jumarddin La Fua S.Ssi, M.Ssi

PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH ILMU PENDIDIKAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI IAIN
KENDARI
2021

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Rabb seluruh alam, yang telah menciptakan
manusia dengan sempurna. Memberikan nikmat terbesaar iman dan islan yang
tertancap mantap dilubuk hati kita. Sholawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya,
tabi’innya, dan seluluh umatnya yang istiqomah mengikuti tuntunan dan teladan
sampai akhir zaman. Atas berkat rahmat Allah SWT, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan Makalah  ini dengan judul “SISTEM INDRA”
Penyusun menyadari bahwa Makalah  ini tidak terlepas dari bantuan dan
dorongan dari beberapa pihak, maka pada kesempatan ini penulis menguncapan
terima kasih kepada:
1)      Ibu Tita Juita, Dra, M.Pd, M.Kes selaku dosen mata kuliah Anatomi
Fisiologi Tubuh Manusia yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan
makalah ini.
2)      Kedua orang tua kami, serta semua pihak yang telah memberikaan
semangat, ide dan bantuannya sehingga penyusun dapat menylesaikan Makalah
ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan ini, masih banyak terdapat
kekeliruan, seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, penulis akan sangat
berlapang dada dan besar hati menerima saran dan kritik yang bersifat
membangun, bermanfaat bagi kelanjutan pembuatan makalah yang selanjutnya.
                                                                                                                                     
                          
Ciamis , Desember 2011

 Penyusun
DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR
ISI...................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.1     Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2     Rumusan Masalah....................................................................................... 1
1.3     Tujuan Pembahasan..................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN................................................................................................... 2
A.       Indera Penglihat (Mata).......................................................................... 2
B.       Indera Pendengar (Telinga)...........................................................................
6
C.       Indera Peraba (Kulit).................................................................................. 10
D.       Indera Pengecap
(Lidah).................................................................................. 11
E.        Indera Pembau (Hidung).................................................................................
11
BAB III
KESIMPULAN................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................... 14
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Alat indera adalah organ yang berfungsi untuk menerima jenis rangsangan
tertentu. Semua organism memiliki reseptor sebagai alat penerima informasi.
Informasi tersebut dapat berasal dari dalam dirinya atau datang dari luar. Reseptor
diberi nama berdasarkan jenis rangsangan yang diterimanya, seperti kemoreseptor
(penerima rangsang zat kimia), fotoreseptor (penerima rangsang cahaya),
aodioreseptor (penerima rangsang suara), dan mekanoreseptor (penerima rangsang
fisik, seperti tekanan, sentuhan, dan getaran). Selain itu dikenal pula beberapa
reseptor yang berfungsi mengenali perubahan lingkungan luar yang
dikelompokkan sebagai eksoreseptor. Sedangkan kelompok reseptor yang
berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam tubuh disebut interoreseptor.
Interoreseptor terdapat diseluruh tubuh manusia.
Eksoreseptor yang kita kenal ada lima macam, yaitu indera penglihat(mata),
pendengar (telinga), peraba (kulit), pengecap (lidah), dan pembau (hidung). Untuk
lebih memahami kelima eksoreseptor tersebut, maka kami akan membahasnya
dalam Sistem Indera.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah
sebagai berikut:
1.      Apa saja bagian- bagian yang terdapat dalam kelima alat indera tersebut?
2.      Bagaimana cara kerja dari kelima alat indera tersebut?

1.3  Tujuan Pembahasn
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan pembuatan makalah adalah untuk :
1.      Mengetahui bagian- bagian yang terdapat dalam kelima alat indera tersebut.
2.      Mengetahui cara kerja dari kelima alat indera tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Indera Penglihat (Mata)


Mata memiliki sejumlah reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan
warna. Selain itu terdapat otot- otot yang berfungsi sebagai penggerak bola mata.
1.      Lapisan Bola Mata
Bola mata memiliki garis tengah kira- kira 2,5 cm, bagian depannya bening. Bola
mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu sklera, koroid dan retina.
a)      Sklera
Sklera merupakan lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat fibrosa dan berwarna
putih. Fungsi lapisan ini sebagai pelindung. Disebelah luar sclera terdapat lapisan
sel- sel ephitelium yang membentuk membrane mukosa yang disebut konjungtiva.
Lapisan konjungtiva menjaga kelembapan mata. Lapisan sclera dibagian depan
bersifat transparan, disebut kornea. Kornea berfungsi menerima cahaya yang
masuk ke bagian dalam mata dan membelokkan berkas cahaya sedemikian rupa
sehingga dapat difokuskan. Lapisan konjungtiva tidak menutupi sclera.
b)      Koroid
Koroid adalah lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat yang memiliki banyak
pembuluh darah dan sejumlah sel pigmem. Letaknya disebelah dalam sclera.
Dibagian depan mata, lapisan koroid memisahkan diri dari sclera membentuk iris
yang tengahnya berlubang. Lubang itu disebut orang- orangan mata atau pupil.
Sinar masuk melalui pupil. Dibelakang iris terdapat selaput berpigmen yang
memancarkan warna biru, hijau, coklat, atau hitam. Melebar atau menyempitnya
pupil diakibatkan oleh kontraksi dan relaksasinya otot yang mengelilingi iris (otot
sirkuler). Jadi iris berfungsi sebagai diafragma.
Tepat dibelakang iris terdapat badan siliaris yang tersusun atas serabut otot
sirkuler dan serabut- serabut otot yang letaknya seperti jari- jari sebuah lingkaran.
Selain itu dibelakang iris terdapat sebuah lensa cembung (bikonveks) yang diikat
oleh otot- otot lensa. Badan siliaris ini berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi
dan relaksasi otot sirkuler pada badan siliaris menentukan tebal- tipisnya lensa
(akomodasi). Akomodasi mata berarti memfokuskan bayangan, sedangkan
kemampuan pemfokusan objek pada jarak yang berbeda disebut daya akomodasi.
Akomodasi bertujuan agar bayangan yang terjadi jatuh tepat pada bintik kuning.
Apabila melihat objek yang letaknya jauh, lensa mata menjadi lebih pipih, tetapi
jika melihat objek yang letaknya dekat, lensa mata menjadi lebih cembung.
Pengaturan kecembungan lensa ini diatur oleh otot- otot lensa yang melingkar
(otot siliaris). Saat melihat objek yang jauh otot lensa berelaksasi, sedangkan bila
melihat objek yang dekat otot lensa berkontraksi.
Lensa mata berbentuk bikonveks. Lensa mata membagi mata menjadi dua rongga,
yaitu ruangan antara kornea denga lensa (rongga muka), dan ruangan dibelakang
lensa (rongga belakang). Kedua rongga tersebut diisi cairan kental dan transparan
seperti jeli. Rongga depan berisi aqueous humour (humor berair), sedangkan
rongga belakang berisi vitreous humour (humor bening). Kedua macam cairan
tersebut berfungsi membantu memfokuskan cahaya kedalam retina.
c)      Retina
Retina merupakan lapisan bagian dalam yang sangat halus dan sangat sensitive
terhadap cahaya. Pada retina terdapat reseptor (fotoreseptor). Fotoreseptor
berhubungan dengan bagian badan sel- sel saraf yang serabutnya membentyuk
urat saraf optic yang memanjang sampai ke otak. Bagian lapisan retina yang
dilewati berkas urat saraf yang menuju ke otak tidak memiliki reseptor dan tidak
peka terhadap sinar. Apabila sinar mencapai bagian ini kita tidak dapat mengenali
cahaya. Oleh karena itu, daerah ini disebut bintik buta.
Gambar. Benda dan bayangan pada retina
Gambar. Struktur retina mata
2.      Reseptor Mata
Pada retina terdapat dua macam sel reseptor (fotoreseptor), yaitu sel kerucut (sel
konus) dan sel batang (sel basilus). Jika diurutkan dari arah depan ke belakang,
cahaya akan menembus melewati kornea, aqueous humour, lensa, vitreous
humour, dan lapisan retina yang mengandung sel kerucut dan sel batang. Pada
retina terdapat satu daerah yang disebut fovea atau bintik kuning yang hanya
berisi sel- sel kerucut. Penyebaran sel kerucut dan sel batang pada retina tidak
merata. Dibagian tepi (perifer) yang paling jauh dari bintik kuning hanya berisi sel
batang.
Gambar. Penampang sel batang
Sel batang berjumlah sekitar 125 juta buah dalam setiap mata. Sel batang sangat
peka terhadap intensitas cahaya rendah, tetapi tidak mampu membedakan warna.
Oleh karena itu kita dapat melihat dimalam hari tetapi yang terlihat hanya warna
hitam dan putih saja. Bayangan yang dihasilkan dari sel ini tidak tajam.
Sel kerucut jumlahnya sekitar 5 juta pada setiap mata. Sel kerucut sangat peka
terhadap intensitas cahaya tinggi. Sehingga berperan untuk penglihatan siang hari
dan untuk membedakan warna.
Gambar. Sel- sel yang berperan dalam menghantarkan impuls cahaya
3.      Kelainan pada Mata
Jarak titik dekat adalah jarak terpendek antara benda atau objek dengan mata
sehingga mata masih dapat mengenali benda itu dengan jelas. Lebih pendek lagi
jaraknya, mata sudah tidak dapat mengenali benda dengan jelas. Usia seseorang
dapat menyebabkan perubahan jarak titik dekat. Pada usia anak- anak, jarak titik
dekat pendek, tetapi dengan bertambahnya usia, jarak titik dekat semakin panjang.
Sebagai perbandingan pada usia 11 tahun jarak titik dekat sekitar 9 cm, namun
pada seseorang yang berusia 40- 50 tahun jarak titik dekat menjadi 50 cm. itulah
sebabnya orang yang berusia lanjut menjauhkan buku bacaannya apabila dia
membaca buku. Untuk menolongnya digunakan kacamata lensa cembung (+).
Berbagai macam kelainan penglihatan terjadi apabila unsur- unsur sistem optic
tidak menunjang. Macam- macam kelainan mata diantaranya sebagai berikut:
Jenis kelainan
Penyebab     
Ditolong dengan
Hipermetropia (rabun dekat)
Lensa mata tidak dapat mencembung atao bola mata terlalu pendek sehingga
bayangan benda jatuh dibelakang retina.
Lensa cembung (konvergen/ positif)
Miopia (rabun jauh)
Lensa mata terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga bayangan
benda jatuh didepan retina.  
Lensa cekung (divergen/ negatif)
Presbio       
Elastisitas mata berkurang karena usia tua.
         
Lensa rangkap (dua macam lensa)
Astigmatisme
         
Permukaan lensa mata tidak sama sehingga fokusnya tidak sama, dan bayangan
benda yang terbentuk tidak sama.
         
Lensa silindris (silinder)
Katarak
         
Lensa mata buram, tidak elastis akibat pengapuran sehingga daya akomodasi
berkurang.
         
Operasi
Glaukoma
         
Adanya penambahan tekanan dalam mata, karena cairan dalam bilik anterior mata
(aqueous humour) belum sempat disalurkan keluar sehingga tegangan yang
ditimbulkan dapat menyebabkan tekanan pada saraf optik; lama- kelamaan akan
menyebabkan hilangnya daya penglihatan.
         
Obat- obatan, operasi dengan menggunakan laser.

B.       Indera Pendengar (Telinga)


Telinga merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga
bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.
Gambar. Struktur telinga manusia

1.        Telinga luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga damn lubang telinga luar. Daun telinga terdiri
atas tulang rawan dan jaringan fibrosa, kecuali pada ujung telinga bawah, yaitu
cuping telinga, terdiri atas lemak. Daun telinga berfungsi untuk menerima dan
mengumpulkan suara yang masuk. Saluran luar yang dekat denga lubang telinga
dilengkapi dengan rambut- rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak
masuk, dan terdapat kelenjar lilin yang berperan menjaga agar permukaan saluran
luar dan gendang telinga tidak kering.

2.        Telinga tengah
Telinga tengah merupakan rongga yang berhubungan dengan faring melalui
saluran eustachius. Fungsi saluran ini menjaga keseimbangan tekanan udara
antara udara luar dengan udara didalam telinga tengah. Pada telinga tengah
terdapat membrane timpani dan tulang- tulang telinga tengah. Membrane timpani
(disebut juga dengan istilah gendang telinga) merupakan selaput yang
menerima \gelombang bunyi dan memisahkan antara telinga luar dan telinga
dalam.
Tulang- tulang telinga tengah terdiri atas tiga macam, yaitu tulang matil(malleus)
yang menempel pada gendang telinga, tulang landasan (incus), dan tulang
sanggurdi (stapes). Tulang martil(bentuknya seperti matil) melekat pada gendang
telinga dan tulang sanggurdi (bentuknya enyerupai sanggurdi, tempat pijakan kaki
dalam menunggang kuda) berhubungan dengan jendela oval pada telinga dalam.
Rangkaian ketiga tulang ini berfungsi untuk mengalirkan getaran suara dari
gendang telinga menuju ke rongga telinga dalam.

3.        Rongga telinga dalam


Rongga telinga dalam terdiri dari rongga yang menyerupai saluran saluran.
Rongga rongga ini disebut labirin tulang dan dilapisi dengan membrane sehingga
disebut juga labirin membrane. Labirin tulang terdiri dari tiga bagian, yaitu
vestibula, koklea(rumah siput),dan tiga saluran satengah lingkaran.labirin
membrane terdiri dari utrikulus dan sakulus didalam vastibula,saluran koklea
didalam koklea,dan membrane saluran setengah lingkaran.vestibula (mengandung
utrikulus dan sakulus) dan saluran setengah lingkaran merupakan orga
keseimbangan, sedangkan koklea merupakan organ pendengar.
Rumah siput atau koklea merupakan suatu tabung yang panjangnya sekitar 3 cm
dan bergelung seperti cangkang keong srta berisi cairan limpa. Koklea tersebut
berbentu saluran melingkar yang terdiri atas tiga ruangan, yaitu skala vestibuli,
skala media, dan skala timpani. Skal vestibule dan skala timpani mengandung
cairan yang disebut perilimfe. Skala media juga mengandung cairan yang disebut
endolimfe. Skala festibuli berhubungan dengan skala timpani melalui lubang kecil
yang disebut helikontrema. Skala festibuli berakhir pada jendela oval (foramen
ovale), sedangkan skala timpani berakhir pada jendela bundar. Antara skala
festibuli denga skala media terdapat membran reissner, sedangkan anrata skala
media denga skala timpani terdapat membrane basiler. Didalam skala media
terdapat suatu tonjolan yang disebut membrane tektorial yang sejajar dengan
membrane basiler.
Didalam skala media bagian dalam atau tengah terdapat organ korti. Organ korti
berisi ribuan sel rambut sensori yang merupakan reseptor getaran (reseptor
fibrasi). Sel- sel rambut tersebut terletak di atara membrane basiler dan membrane
tektorial dasar dari sel reseptor pendengar tersebut berhubungan dengan serabut
saraf  yang bergabung membentuk saraf pendengar.
Gambar. Telinga tengah dan dalam

4.        Proses mendengar
Mekanisme mendengar dimulai dengan adanya gelombang bunyi yang masuk
melalui liang telinga, yang akan menggetarkan membrane timpani. Getaran ini
akan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui tulang- tulang pendengaran.
Selanjutnya getaran di teruskan ke telinga dalam melalui selaput jendela oval dan
mengetarkan cairan perilimfe yang terdapat di dalam skala vestibuli.
Getaran cairan tersebut akan menggetarkan membrane reissner dan
menghgetarkan cairan endolimfe di dalam skala media. Getaran cairan ini
menggerakan membrane basiler yang selanjutnya menggetarkan cairan dalam
skala timpani. Pada saat membrane basiler bergetar  akan menggerakan sel- sel
rambut, dan ketika se- sel rambut tersebut menyentuh membrane tektorial
terjadilah rangsangan (impuls) yang akan dikirim ke pusat pendengar didalam
otak melalui saraf sensori (saraf pendengar).
Gambar. Proses mendengar

5.        Alat keseimbangan
Alat ini berupa saluran setengah lingkaran dan setiap saluran menggembung pada
salah satu ujungnya yang disebut ampula. Di dalam ampula terdapat reseptor yang
berupa kelompok sel saraf sensori yang memiliki rambut dalam tudung gelatin
yang berbentuk kubah, disebut kupula. Selain tiga saluran setengah lingkaran
terdapat alat keseimbangan yuang terletak di dalam utrikulus dan sakulus yang
berupa sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat
pada otolit, yaitu bola- bola kalsium karbonat yang ukurannya sangat kecil.
Perubahan posisi kepala menyebabkan otolit bergeser possisinya, akibatnya
timbul impuls yang akan dikirim ke otak, sehingga kita merasakan sedang miring
atau tegak. Gerakan melingkar pada kepala mengakibatkan terjadinya cairan limfe
dan menggerakan otolit meskipun kita sudah berhenti berputar. Akibatnya kita
merasa pusing.
Gambar. Alat- alat keseimbangan pada telinga
6.        Kelainan pada telinga
Kelainan pada telinga dapat di kelompokan menjadi dua kelompok, yaitu:
ü  Gangguan perambatan suara
Suara dari luar dapat terhambat oleh kotoran telinga, tumor dan zat-zat lain yang
menyumbat liang telinga. Selain itu, kerusakan tulang-tulang pendengaran juga
mengganggu perambatan suara. Kerusakan tulang pendengar di awali oleh gejala
telinga mendengung. Infeksi telinga juga menganggu perambatan suara. Infeksi
ini disebut otitis. Telinga tengah, yang berhubungan dengan faring, dapat
terinfeksi oleh bakteri atau virus. Lukanya menghasilkan nanah dan bau tak sedap.
ü  Gangguan saraf pendengaran
Gangguan saraf pendengaran biasanya terjadi pada usia lanjut. Ini disebut
presbikusis. Saraf penderita mengalami kemunduran (degenerasi). Kerusakan
saraf pendengaran juga dapat di akibatkan oleh kebisingan (polusi suara) yang di
sebabkan oleh suara berfrekuensi  tinggi.

7.        Teknologi membantu pendengaran


Teknologi yang umum dijumpai adalah penggunakan alat bantu dengar. Hal ini di
lakukan apabila proses perambatan impuls suara tidak dapat mencapai telinga
tengah, misalnya karena tulang-tulang pendengar rusak. Pada daun telinga di
pasang alat penerima suara, yang kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik.
Sinyal tersebut dirambatkan melalui elektroda ke telinga dalam. Dengan demikian
penderita dapat menangkap suara.

C.      Indera Peraba (Kulit)


Kulit merupakan indra peraba, sebab memiliki ujung-ujung saraf sensori sebagai
reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, temperature (panas dan dingin), serta
rasa sakit. Sebagian reseptor terletak pada lapisan dermis, dan ada juga yang
terletak pada lapisan epidermis. Ujung-ujung saraf tersebut ada yang terbungkus
kapsul (di sebut korpuskula) dan ada yang tidak terbungkus (di sebut ujung-ujung
saraf bebas). Ujung saraf yang tergolong korpuskula adalah korpuskula Meissner
(reseptor untuk sentuhan terletak dekat permukaan kulit), korpuskula Pacini
(raseptor tekanan),dan korpuskula Ruffini (ujung saraf peraba).Ujung saraf bebas
antara lain reseptor untuk rasa sakit dan sentuhan yang keduanya terletak di
lapisan epidermis kulit, serta reseptor untuk sentuhan yang terletak di pangkal
setiap rambut. Selain itu ada pula lempeng Merkel yang merupakan ujung saraf
perasa sentuhan dan tekanan ringan.
Gambar. Kulit dan reseptor pada manusia

D.      Indera Pengecap (Lidah)


Lidah merupakan organ yang tersusun atas otot. Prmukaan lidah banyak tonjolan
kecil yang disebut papilla lidah, memberi kesan lidah terkesan kasar. Pada papilla
lidah terdapat indra pengecap. Pemukaan lidah di lapisi lapisan epitelium yang
banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu terdapat reseptor pengecap berupa
kuncup pengecap. Kumcup pengecap tersebut terdiri atas sekelompok sel sensori
yang memiliki tonjoplan seperti rambut. Kuncup pengcap dapat membedakan
empat macam rasa, yaitu manis, pahit,asam, dan asin. Letak kuncup pengecap
tertentu lebih banyak berkumpul pada daerah tertentu pada lidah.
Gambar. (a) letak kuncup pengecap tertentu pada lidah, (b) struktur kuncup
pengecap
E.       Indera Pembau (Hidung)
Manusia mampu mendeteksi bau dengan menggunakan reseptor yang ada di
dalam hidung. Sel-sel sensori penerima rangsang gas kimia (kemoreseptor)
terdapat pada lapisan epitelium yang terletak di sebelah dorsal rongga hidung, dan
terlindung oleh lender (mukus). Di akhir setiap sensori terdapat beberapa silia atau
rambut pembau. Molekul-molekul yang larut dalam air dan lemak yang ada di
udara akan larut dalam lapisan lendir tersebut dan menimbulkan sensasi bau.
Aktifnya indra pembau di rangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra
pembau tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika di hadapkan
pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama. Contohnya jika kita berada
dalam ruangan yang sesak dan pengap, maka kita tidak akan segera merasakan
bau yang tidak enak tersebut.
Indra pembau dapat juga menjadi lemah jika selaput lender hidung sangat kering,
sangat basah, atau membengkak.
Antara indra pengecap dan pembau terdapat hubungan yang erat. Makanan atau
bahan yang lain dapat di rasakan kenikmatannya karena adanya kerjasama antara
indra pengecap dan pembau. Apabila salah satu alat itu terganggu, maka
kenikmatannya berkurang. Sebagai contoh orang yang terkena flu (pilek) kurang
dapat merasakan kenikmatan karena ujung-ujung saraf pembau terganggu.

Gambar. Struktur indera pembau

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:


1.        Indera Penglihat (Mata); memiliki sejumlah reseptor khusus untuk
mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot- otot yang
berfungsi sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata dan bulu mata.
Bola mata memiliki garis tengah kira- kira 2,5 cm, bagian depannya bening. Bola
mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu sklera, koroid dan retina.
2.        Indera Pendengar (Telinga) merupakan alat pendengar dan alat
keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah
dan rongga telinga dalam.
3.        Indera Peraba (Kulit) merupakan indra peraba, sebab memiliki ujung-ujung
saraf sensori sebagai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, temperature (panas
dan dingin), serta rasa sakit.
4.        Indera Pengecap (Lidah) merupakan organ yang tersusun atas otot.
Prmukaan lidah banyak tonjolan kecil yang disebut papilla lidah, memberi kesan
lidah terkesan kasar. Pada papilla lidah terdapat indra pengecap.
5.        Indera Pembau (Hidung); aktifnya indra pembau di rangsang oleh gas yang
terhirup oleh hidung. Indra pembau tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah
hilang jika di hadapkan pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama.
SISTEM INDRA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Anatomi Fisiologi Tubuh
Manusia