Anda di halaman 1dari 27

PELANGGARAN ETIKA BISNIS OLEH PT KIMIA FARMA TERKAIT

PENYALAHGUNAAN ALAT SWAB ANTIGEN BEKAS

Makalah Akhir

Diajukan sebagai Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi

Disusun oleh Kelompok 2 Kelas ABT2B:

1. Luthfiyah Aini (2005421012)


2. Ramdhan Yunadi Putra (2005421049)
3. Yulia Tri Haryani (2005421043)

Dosen Pengampu: Lieke Puspasari, S.Sos., M.S.M., M.Psi.

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Jalan. Prof. DR. G.A. Siwabessy, Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok,

Jawa Barat 16424


2020/2021
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta anugerah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
“Pelanggaran Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma Terkait Penyalahgunaan Alat Swab Antigen
Bekas” dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa kepada baginda
tercinta Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya diakhirat nanti. Tidak lupa
penulis ucapkan terima kasih kepada ibu Lieke selaku dosen pada mata kuliah ini yang telah
memberikan kesempatan untuk menambah wawasan penulis dan menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung dan memberikan
bantuan kepada penulis agar penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat
pada waktunya.

Adapun maksud dan tujuan penulis dalam penyusunan makalah ini untuk memenuhi
tugas kelompok makalah akhir pada yang telah diberikan oleh ibu Lieke selaku dosen pada
mata kuliah Etika Bisnis. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan informasi
serta memperluas wawasan penulis dan pembaca. Penulis juga berharap agar makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Karena keterbatasan ilmu maupun pengalaman, penulis menyadari bahwa terdapat


kekurangan dalam makalah ini dan jauh dari kata sempurna. Penlis juga memohon maaf
apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis berharap
saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar penulis dapat meningkatkan mutu dan
kualitas dalam penyajian makalah berikutnya.

Depok, 3 Juni 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

DAFTAR TABEL......................................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah...............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................2

1.3 Batasan Masalah...........................................................................................................3

1.4 Tujuan Penulisan Makalah...........................................................................................3

1.5 Metode Pengumpulan Data..........................................................................................3

1.6 Sistematika Penulisan...................................................................................................3

BAB II LANDASAN TEORI.....................................................................................................5

2.1 Pengertian Swab...............................................................................................................5

2.2 Etika Bisnis......................................................................................................................6

2.2.1 Pengertian Etika Bisnis.........................................................................................6

2.2.2 Teori Etika Bisnis.................................................................................................6

2.2.3 Prinsip Prinsip Etika.............................................................................................7

2.3 Etika Profesi PT Kimia Farma.........................................................................................8

3.1 Kronologi Kasus...........................................................................................................9

3.2 Pelanggaran Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma.......................................................10

3.2.1 Pelanggaran Teori Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma......................................10

3.2.2 Pelanggaran Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma.......................12

3.3 Pelanggaran Etika Profesi..........................................................................................13

ii
3.4 Hasil Penelitian Menggunakan Kuesioner Online.....................................................14

BAB IV PENUTUP..................................................................................................................19

4.1 Kesimpulan.................................................................................................................19

4.2 Saran...........................................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................21

iii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.3.1............................................................................................................................19

Tabel 3.3.2............................................................................................................................19

Tabel 3.3.3............................................................................................................................20

Tabel 3.3.4............................................................................................................................20

Tabel 3.3.5............................................................................................................................20

Tabel 3.3.6............................................................................................................................21

Tabel 3.3.7............................................................................................................................21

iv
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini pandemi Covid-19 belum juga usai, virus ini
berawal dari kota Wuhan, China yang penularan virus belum ditemukan obatnya hingga
merambat ke hampir seluruh dunia. Hingga pada 2 Maret 2020, virus ini sampai ke Indonesia
dan setelah itu mulai dari kota Jakarta hingga ke seluruh daerah di Indonesia melakukan
PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Pada masa PSBB ini hampir seluruh kegiatan
dilakukan di rumah, mulai dari SFH (School From Home), WFH (Work From Home) dan
kegiatan lainnya yang dilakukan di luar rumah. Hal ini dilakukan pemerintah untuk
mengurangi dan menekan agar tidak banyak yang terpapar virus ini.

Seiring berjalannya waktu, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan keadaan, dimana
kita hidup berdampingan dengan virus. Karena pada masa pandemi ini pengangguran semakin
meningkat, sedangkan kebutuhan ekonomi pun semakin tinggi. Maka, banyak masyarakat
yang sudah melakukan pekerjaan di luar rumah agar bisa memenuhi kebutuhannya dengan
resiko tinggi terpapar Covid-19. Oleh sebab itu banyak masyarakat yang bekerja di luar
rumah, pertambahan orang yang terpapar Covid-19 semakin meningkat. Pemerintah-pun
memaksimalkan upaya untuk mencegah penularan Covid-19 dengan memberikan kebijakan
untuk mewajibkan bagi setiap masyarakat melakukan swab test untuk pergi bekerja maupun
berpergian ke luar.

Swab test tersebut digunakan untuk mengetahui apakah kita terpapar oleh Covid-19 atau
tidak. Swab test terbagi menjadi dua bagian, swab PCR dan rapid swab test Covid-19 atau
swab antigen. yang membedakan antara keduanya yaitu jika swab PCR tes untuk mendeteksi
genetik virus SARS-CoV-2 penyeab Covid-19, tes ini menggunakan sampel lender yang
berasal dari hidung dan tenggorokan, lalu sampel disimpan di wadah steril dan dikirim ke
laboratorium yang membutuhkan waktu satu hari hingga satu minggu. Jika swab antigen
mendeteksi protein yang terkandung dalam virus, sama seperti swab PCR swab antigen juga
menggunakan sampel lendir. Dengan demikian, swab antigen dapat mendeteksi keberadaan
antigen virus corona pada seseorang yang terpapar Covid-19. Sesuai dengan namanya, rapid
swab test atau swab antigen memberikan hasil yang cepat, yaitu sekitar 15-30 menit.
Meskipun begitu, swab antigen hanya merupakan tahap pemeriksaan awal (skrining), karena
kita juga perlu untuk melakukan swab PCR sebagai langkah diagnosis covid-19 agar
1
infeksinya dapat dipastikan. Akan tetapi swab antigen diperlukan sebagai langkah skrining
awal untuk mendeteksi infeksi virus corona, tes ini dianjurkan untuk orang-orang yang
beresiko tinggi megalami penularan Covid-19.

Alat yang digunakan untuk mengambil sampel lendir merupakan alat sekali pakai dan
harus dibuang setelah digunakan. Karena alat swab yang telah digunakan, sangat beresiko
tinggi pada kesehatan dan penyebaran Covid-19 kepada orang lain. Dengan begitu, maka kita
harus memastikan bahwa alat swab yang digunakan merupakan alat baru. Namun, baru-baru
ini Indonesia digemparkan oleh PT Kimia Farma yang merupakan Farmasi BUMN terbesar di
Indonesia yang menggunakan alat swab antigen daur ulang atau bekas di Bandara
Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Dimana tempat itu terdapat banyak orang yang
melakukan swab test untuk berpergian maupun perjalanan dinas. Hal itu membuat masyarakat
menjadi takut untuk melakukan swab antigen karena ulah oknum tersebut. Selain itu, PT
Kimia Farma juga telah melanggar pedoman standar perilaku (code of conduct) yang telah
ditetapkan oleh perseroan tersebut. Salah satunya yang tertera pada landasan penyusunan
yaitu menghindari tindakan atau perilaku yang dapat menimbulkan benturan kepentingan
serta mengutamakan kepentingan perseroan diatas kepentingan pribadi, kelompok maupun
golongan; mengutamakan kesehatan dan keselamatan bagi stakeholders serta seluruh pegawai
dan masyarakat tempat perseroan beroperasi; dan memberikan kontribusi maksimal pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, kami tertarik
untuk membahas dan menggali lebih dalam lagi mengenai kasus ini.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis menemukan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana kronologi kejadian secara lengkap mengenai kasus swab antigen


palsu yang dilakukan oleh PT Kimia Farma?
b. Bagaimana pelanggaran etika bisnis yang dilakukan oleh PT Kimia Farma
terkait kasus swab antigen bekas?
c. Apakah ada sanksi hukum yang diberikan kepada PT Kimia Farma?
d. Bagaimana penyelesaian masalah etika bisnis yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma?

2
1.3 Batasan Masalah
Perencanaan masalah ini hanya terkait dengan masalah teori etika dan etika bisnis yang
dilakukan oleh PT Kimia Farma.

1.4 Tujuan Penulisan Makalah


1. Untuk mengetahui kronologi kejadian secara lengkap mengenai kasus swab
antigen bekas oleh PT Kimia Farma.
2. Untuk mengetahui pelanggaran etika bisnis yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma.
3. Untuk mengetahui sanksi hukum yang diberikan kepada PT Kimia Farma.
4. Untuk mengetahui penyelesaian masalah etika bisnis yang dilakukan oleh PT
Kimia Farma.

1.5 Metode Pengumpulan Data


Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan teknik kuantitatif, yaitu dengan teknik kuisioner yang akan dilakukan secara
online melalui google form dan menggunakan teknik studi dokumen atau studi pustaka
dengan menggunakan buku, artikel, berita maupun sumber terpercaya lainnya yang berkaitan
dengan topik makalah.

1.6 Sistematika Penulisan


1. Bab I Pendahuluan

Dalam bab ini membahas mengenai hal yang menjadi latar belakang
masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan makalah, dan metode
pengumpulan data pada kasus penyalahgunaan alat swab antigen bekas yang
dilakukan oleh PT Kimia Farma.

2. Bab II Landasan Teori

Dalam bab ini membahas mengenai metode dalam penulisan makalah


berupa pengertian atau definisi pada kasus penyalahgunaan alat swab antigen
bekas yang di lakukan PT.Kimia Farma

3. Bab III Pembahasan

Dalam bab ini membahas mengenai metode dengan memberikan


tinjuan umum, masalah, pelanggaran, analisis yang di hadapi dan penyelesaian
3
masalah pada kasus penyalahgunaan alat swab antigen bekas yang dilakukan
oleh PT.Kimia Farma

4. Bab IV Penutup

Dalam bab ini membahas mengenai ringkasan dari poin poin penting
yang terkandung dalam isi makalah secara rinci dan mencakup tentang
permintaan atau masukan dari penulis kepada pembaca dari hasil pembuatan
makalah tidak terjadi kesalahan yang di temukan

5. Daftar Pustaka

Dalam bab ini membahas mengenai kumpulan sumber maklah yang


menunjukkan penulis makalah secara rinci dan jelas sampai tak tersisa

4
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Swab


Tes swab atau swab test dalam bahasa Indonesia memiliki arti tes usap yang digunakan
untuk mendeteksi apakah terdapat virus corona dalam tubuh atau tidak. Di Indonesia tes swab
sendiri terbagi menjadi dua yaitu swab PCR dan rapid swab test Covid-19 atau swab antigen.
Swab PCR merupakan tes diagnostik untuk mendeteksi genetik virus corona SARS-CoV-2
penyebab Covid-19. Tes ini menggunakan sampel lendir dari hidung maupun belakang
tenggorokan dengan alat yang mirip dengan cotton bud panjang, lalu sample lendir tersebut
dimasukkan ke dalam wadah steril dan disegel, lalu dikirim ke laboratorium. Untuk tes ini
membutuhkan waktu satu hari hingga satu minggu, tergantung lokasi dan kapasitas
laboratorium tersebut. Untuk swab PCR ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi, maka tes ini
merupakan standar terbaik yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
(Afifah M. Nur, 2021)

Seperti dengan swab PCR, swab antigen merupakan salah satu tes cepat corona. Tes ini
menggunakan sampel lendir dari hidung maupun belakang tenggorokan, namun di Indonesia
paling banyak menggunakan sampel lendir dari hidung. Kemudian lendir tersebut
ditempatkan di larutan khusus untuk melihat ada atau tidaknya antigen virus corona. Prosedur
deteksi Covid-19 ini akan mendeteksi antigen dalam tubuh. Antigen itu sendiri merupakan zat
yang dapat merangsang imun, zat tersebut mengandug protein, polisakarida, dll yang
dikeluarkan oleh virus, termasuk Covid-19. Antigen dapat terdeteksi ketika ada infeksi yang
sedang berlangsung di tubuh seseorang. Dengan demikian, swab antigen dapat mendeteksi
keberadaan antigen virus corona pada seseorang yang terpapar Covid-19. Sesuai dengan
namanya, rapid swab test atau swab antigen memberikan hasil yang cepat, yaitu sekitar 15-30
menit. Meskipun begitu, swab antigen hanya merupakan tahap pemeriksaan awal (skrining),
karena kita juga perlu untuk melakukan swab PCR sebagai langkah diagnosis covid-19 agar
infeksinya dapat dipastikan. Akan tetapi swab antigen diperlukan sebagai langkah skrining
awal untuk mendeteksi infeksi virus corona, tes ini dianjurkan untuk orangorang yang
beresiko tinggi megalami penularan Covid-19. (Afifah M. Nur, 2021)

5
2.2 Etika Bisnis

2.2.1 Pengertian Etika Bisnis


Menurut Wahyu dan Ostaria (2006) dalam Aswand Hasoloan (2018) etika
dapat di definisikan cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk,
dan tanggung jawab.Etika adalah ilmu yang berkenaan tentang yang buruk dan
tentang hak dan kewajiban moral.

Bisnis adalah suatu aktivitas yang mengarahkan pada peningkatan nilai tambah
melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi).
Dalam terminologi bahasan ini, pembiayaan merupakan pendanaan, baik aktif
maupun pasif, yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan kepada
nasabah.Sedangkan bisnis merupakan aktivitas berupa jasa, perdagangan den
industri guna memaksimalkan nilai keuntungan.(Aswand Hasoloan,2018)

2.2.2 Teori Etika Bisnis


1. Teori Deontologi

Suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu
sesuai atau tidak dengan kewajiban. Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap
baik karena tindakan itu memang baik pada dirinya sendiri, sehingga
merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya, suatu tindakan
dinilai buruk secara moral karena tindakan itu memang buruk secara moral
sehingga tidak menjadi kewajiban untuk kita lakukan. (Ratnawati T., Keraf
Sonny., 2007)

2. Teori Teologi

Menilai baik-buruk suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat dari


tindakan tersebut. Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan baik dan
mendatangkan akibat baik. (Ratnawati T., Keraf Sonny., 2007)

Dalam teori ini dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Teori Egoisme

6
Menilai suatu tindakan sebagai baik karena berakibat baik bagi
pelakunya. Kendati bersifat egoistis, tindakan ini dinilai baik secara
moral karena setiap orang dibenarkan untuk mengejar kebahagiaan bagi
dirinya. Oleh karena itu, setiap tindakan yang mendatangkan
kebahagiaan bagi diri sendiri akan dinilai baik secara moral.
Sebaliknya, buruk kalau kita membiarkan diri kita menderita dan
dirugikan. (Ratnawati T., Keraf Sony A. 2007)

b. Teori Utilitarisme
Suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat pada
masyarakat secara keseluruhan atau banyak orang, dan bukan pada
satu atau dua orang saja. Kriteria untuk menentukan baik
buruknya suatu perbuatan adalah, the greatest happiness of the
greatest number, yakni kebahagiaan terbesar dari jumlah orang
terbesar. Jadi perbuatan yang mengakibatkan orang banyak bahagia
adalah perbuatan terbaik (Maiwan: 203 dalam Bertens 2000: 66)

2.2.3 Prinsip Prinsip Etika


Menurut Puspasari, Lieke dalam Keraf, Sonny. 1993. Etika Bisnis. prinsip-prinsip etika
terbagi menjadi 5, yaitu:

1. Prinsip Otonomi
Kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak
berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk
dilakukan.

2. Prinsip Kejujuran
Meliputi pemenuhan syarat-syarat perjanjian atau kontrak, mutu barang
atau jasa yang ditawarkan dengan baik, dan hubungan kerja dalam perusahaan.

3. Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Prinsip Berbuat Baik


Dalam prinsip ini untuk mengarahkan agar kita secara aktif dan
maksimal berbuat baik atau menguntungkan orang lain, apabila tidak bisa
minimal tidak melakukannya.

4. Prinsip Keadilan

7
Dalam prinsip ini menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama
sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional
obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Prinsip Hormat kepada Diri Sendiri


Dalam prinsip ini mengarahkan agar kita diperlakukan dan
memperlakukan orang lain seperti melakukan diri kita sendiri sebagai pribadi
yang mempunyai nilai yang sama dengan pribadi.

2.3 Etika Profesi PT Kimia Farma


Berikut ini merupakan hal-hal dasar etika profesi yang dijalankan oleh seluruh
karyawan PT Kimia Farma:

1. Tanggung Jawab

Setiap karyawan mempunyai tanggung jawab dan bertanggung jawab penuh


atas tindakan yang dilakukannya karena menyangkut citra perusahaan.

2. Keadilan

Seorang pegawai ataupun tenaga kerja haruslah mengedepankan keadilan,


keadilan harus diberikan kepada setiap orang karena mereka berhak
menerimanya.
3. Otonom
Setiap karyawan memiliki wewenang dan kebebasan dalam menjalankan
pekerjaannya namun harus sesuai dengan kode etik yang ada dalam lingkup
pekerjaannya
4. Integritas Moral
Kualitas kejujuran serta prinsip seseorang maupun tenaga kerja harus
konsisten.

8
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kronologi Kasus


27 April 2021

Menurut Lidyana yang terlansir dalam detikFinance, kronologi kasus tes antigen
bekas di kualanamu hingga pegawai dipecat berawal dari penggerebekan lokasi tes antigen
bekas di Bandara Kualanamu pada Selasa, 27 April 2021.

Sebelumya, polisi mendapat keluhan dari calon penumpang pesawat yang


mendapatkan hasil rapid antigen positif Covid-19 dalam kurun waktu kurang-lebih satu
minggu. Setelah itu polisi melakukan penggerebekan di Laboratorium Rapid Antigen Kimia
Farma, Lantai M di Bandara tersebut. Penggerebekan dilakukan anggota Diskrimsus Polda
Sumut dengan cara penyamaran. Saat penyamaran, salah satu polisi mendaftar sebagai calon
penumpang yang hendak mengikuti rapid test antigen. Setelah antre, dia masuk ke ruang
pemeriksaan dan dimasukkan alat tes rapid antigen ke lubang hidungnya. Setelah menunggu
10 menit, anggota Polda Sumut itu mendapati hasil tesnya positif. Sempat ada perdebatan
mengenai hasil pemeriksaan itu. Lalu, petugas laboratorium dikumpulkan dan polisi
melakukan pemeriksaan menyeluruh di lokasi. Hasilnya, didapati alat rapid test antigen yang
telah dipakai digunakan lagi atau didaur ulang. Alat yang dimasukkan ke hidung itu diduga
dibersihkan lagi setelah dipakai untuk digunakan ke pasien lain. Polisi pun mengamankan
sejumlah petugas laboratorium serta beberapa barang bukti ke Polda Sumut.

28 April 2021

Keesokan harinya, Polda Sumut melakukan investigasi. Diketahui oknum mencuci


atau membersihkan alat antigen yang sudah dipakai atau dimasukkan ke hidung pasien untuk
digunakan ke pasien berikutnya. Polisi pun mengamankan sejumlah petugas laboratorium
serta beberapa barang bukti ke Polda Sumut. Antara lain, ratusan alat rapid test bekas yang
sudah dicuci bersih dan telah dimasukkan ke dalam kemasan serta ratusan alat pengambil
sampel rapid antigen yang masih belum digunakan.

Pada hari itu juga, Kimia Farma melalui cucu usahanya yaitu PT Kimia Farma Diagnostik
mengatakan pihaknya sedang melakukan investigasi bersama pihak aparat penegak hukum.
Perusahaan juga memastikan akan memberikan tindakan tegas dan sanksi yang berat sesuai
ketentuan yang berlaku. Karena "Tindakan yang dilakukan oknum petugas layanan Rapid
Test Kimia Farma Diagnostik tersebut sangat merugikan perusahaan dan sangat bertentangan

9
dengan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan, serta merupakan pelanggaran
sangat berat atas tindakan dari oknum petugas layanan Rapid Test tersebut," kata Direktur
Utama PT Kimia Farma Diagnostik, Adil Fadilah Bulqini dalam keterangan tertulis.

29 April 2021

Layanan tes antigen di Bandara yang bekerja sama dengan Kimia Farma distop
sementara. Selain itu, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus tersebut.
Mereka dijerat melanggar UU Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen. Ditreskrimsus
Polda Sumut juga menemukan bahwa penggunaan alat tes bekas untuk rapid antigen ini telah
dilakukan sejak Desember 2020. Setidaknya ada 100-200 orang dalam satu hari atau dengan
total 9000 orang yang menjalani tes antigen di laboratorium yang dikelola Kimia Farma di
Kualanamu yang diduga menggunakan alat swab bekas.

Sore harinya, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan kegeramannya dan meminta
para oknum dipecat dan diberikan ganjaran hukum secara tegas. "Saya sendiri yang meminta
semua yang terkait, mengetahui, dan yang melakukan dipecat dan diproses hukum secara
tegas," ujar Erick dalam keterangan tertulisnya.

30 April 2021

Polisi menetapkan eks manajer Kimia Farma bersama empat bawahannya jadi


tersangka dugaan penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu. Polisi
memperkirakan eks manajer Kimia Farma meraup keuntungan mencapai Rp 1,8 miliar sejak
2020. Polisi masih terus mendalami perkiraan keuntungan tersebut, polisi telah menyita uang
sebesat Rp 149 juta dari hasil kejahatan terseebut.

3.2 Pelanggaran Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma


Dalam hal ini kami akan menjelaskan pelanggaran etika bisnis apa saja yang dilakukan
oleh PT Kimia Farma terkait dengan penyalahgunaan alat swab bekas atau daur ulang, yaitu
sebagai berikut:

3.2.1 Pelanggaran Teori Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma


1. Teori Deontologi
Etika Deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak
secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan
berdasarkan akibatnya atau tujuan baik dari tindakan yang dilakukan,
melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada diri sendiri.
10
PT. Kimia Farma telah melanggar teori ini, dengan melakukan
tindakan yang tidak baik untuk orang lain bahkan untuk dirinya sendiri
dengan menggunakan alat swab bekas atau daur ulang kepada calon
penumpang di Bandara Internasional Kualanamu, karena dampaknya
akan menularkan Covid-19 dan membuat pertambahan kasus Covid-19
semakin naik.

2. Teori Teologi
Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau
dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan
oleh tindakan itu.Teori ini di bagi dua aliran yaitu:

a. Teori Egoisme
Dalam Teori ini, bahwa tindakan dari setiap orang pada
dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya
sendiri. Maksudnya, mempunyai kewajiban untuk mengusahakkan
kebahagian diri sendiri di atas kebahagiaan orang lain
PT.Kimia Farma sesuai dengan teori ini, karena tujuannya
adalah membuat keuntungan sebesar mungkin untuk kepentingkan
sendiri dan tidak memetingkan orang lain (calon penumpang),
yakni mendaur ulang alat swab dengan mencuci kembali alat rapid
test bekass dan dikemas kembali lalu di campur dengan alat swab
yang belum terpakai agar tidak ketahuan kalau alat swab tersebut
sudah didaur ulang.
b. Teori Utilitarisme
Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa
manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua
orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
PT Kimia Farma telah melanggar teori ini karena para oknum
petugas layanan swab tes menyalahgunakan aturan proses swab test
antigen yaitu menggunakan alat swab tes bekas atau yang sudah di
daur ulang, tindakan tersebut sudah merugikan calon penumpang
dan menjadi hal yang membahayakan dengan adanya potensi
penularan dari penggunaan daur ulang. (Widyani,2020)

11
3.2.2 Pelanggaran Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Oleh PT Kimia Farma
1. Prinsip otonomi
Dalam prinsip ini kemampuan manusia mengambil keputusan
dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan.
Namun, oknum PT Kimia Farma dengan sadar atas apa yang
dilakukannya sangat tidak baik dan melanggar prinsip otonomi,
karena PT Kimia Farma selaku Farmasi BUMN terbesar di indonesia
seharusnya melakukan hal-hal atau tindakan yang baik untuk dirinya
dan orang lain khususnya masyarakat.
2. Prinsip Kejujuran
Dalam prinsip ini tertulis dengan jelas syarat-syarat perjanjian
atau kontrak, mutu barang atau jasa yang ditawarkan dengan baik dan
hubungan kerja dalam perusahaan.
Oknum PT Kimia Farma sangat jelas melanggar prinsip ini,
karena tidak melakukan tindakan sesuai dengan perjanjian atau
kontraknya, kualitas barang seperti alat swab yang didaur ulang,
sementara itu oknum PT Kimia Farma sudah mengetahui bahwa alat
swab yang digunakan hanya untuk sekali pakai, namun di daur ulang
untuk mengambil keuntungan sendiri. Serta citra Kimia Farma di
masyarakat pun menjadi buruk karena ulah oknum yang bertindak
tidak jujur.
3. Prinsip Tidak Berbuat Jahar dan Prinsip Berbuat Baik
Dalam prinsip ini untuk mengarahkan agar kita secara aktif dan
maksimal berbuat baik atau menguntungkan orang lain, apabila tidak
bisa minimal tidak melakukannya.
PT Kimia Farma pun melanggar prinsip ini dengan melakukan
tindakan yang tidak baik kepada masyarakat khususnya konsumen
yang datang ke Bandara Internasional Kualanamu dengan
menggunakan alat swab bekas yang sangat merugikan konsumen
karena dapat terpapar Covid-19 ini dengan memakai alat yang tidak
higienis.
4. Prinsip Keadilan

12
Dalam prinsip ini menuntut agar setiap orang diperlakukan
secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria
yang rasional obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
PT Kimia Farma pun telah melanggar prinsip ini dengan tidak
memperlakukan adil konsumen dengan memberikan alat swab bekas
kepada konsumen dan jika stok alat swab bekas habis, maka ia akan
memberikan alat yang baru. Karena sudah menjadi hak setiap
konsumen untuk mendapatkan alat swab yang baru dan sudah
menjadi kewajiban bagi pegawai Kimia Farma untuk secara adil
memberikan kepada seluruh konsumen alat swab baru.
5. Prinsip Hormat Kepada Diri Sendiri
Dalam prinsip ini mengarahkan agar kita diperlakukan dan
memperlakukan orang lain seperti melakukan diri kita sendiri sebagai
pribadi yang mempunyai nilai yang sama dengan pribadi.
PT Kimia Farma pun juga melanggar prinsip ini karena
seharusnya pegawai Kimia Farma memperlakukan konsumennya
sebagaimana pegawai itu diperlakukan dan memperlakukan dirinya
sendiri, karena setiap orang mempunyai nilai pribadi yang sama.

3.3 Pelanggaran Etika Profesi


Pada dasarnya dalam lingkup Etika Profesi PT. Kimia Farma telah melanggar beberapa
kewajiban yang harus dijalankan oleh mereka. Adapun beberapa prinsip yang dilanggar oleh
kimia farma:

1. Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan profesi itu sendiri lalu juga terhadap hasil akhir yang diperoleh
oleh mereka, kimia farma selaku apotek yang sudah lama ada di Indonesia tentu saja
mencoreng namanya sendiri karena mereka lalai dalam menjalankan tanggung
jawabnya.
Mereka tidak sadar bagaimana hasil akhir daripada pengadaan alat swab bekas yang
mereka jajakan di khalayak ramai.
Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada
umumnya, disini kimia farma sengaja memakai alat swab bekas kepada para
masyarakat hal ini tentunya berdampak besar bagi kesehatan orang yang memakainya.
2. Keadilan
13
Seorang pegawai ataupun tenaga kerja haruslah mengedepankan keadilan, keadilan
harus diberikan kepada setiap orang yang berhak menerimanya.
Kimia Farma telah lalai dalam hal keadilan karena mereka tidak memikirkan orang
orang yang sudah rela membayar swab dan al hasil diberikan alat swab bekas,
pemakai sebelumnya tentunya tidak bersalah karena disini kimia farma sengaja
memakainya kembali tanpa sepengetahuan orang yang memakainya.
3. Otonom
Tenaga kerja memiliki wewenang dan kebebasan dalam menjalankan pekerjaannya
namun harus sesuai dengan kode etik yang ada dalam lingkup pekerjaannya, kimia
farma sebagai apotek terbesar dan ternama di Indonesia dalam hal ini sudah banyak
melanggar kode etiknya. Tentunya hal ini sangat mencoreng nama baik dari kimia
farma sendiri.
4. Integritas moral
Kualitas kejujuran serta prinsip seseorang maupun tenaga kerja haruslah konsisten,
kimia farma dan para tenaga profesionalnya tentunya sudah tidak konsisten untuk
memberikan hasil yang baik bagi para masyarakat, karena dengan sengaja telah
memakai alat swab bekas.
Dengan begini para tenaga kerja yang bersangkutan sudah tidak ada moral yang baik
dalam dirinya karena mereka hanya mementingkan kepentingan kelompok/sendiri
daripada kepentingan masyarakat.

3.4 Hasil Penelitian Menggunakan Kuesioner Online


Dari hasil penelitian menggunakan kuesioner melalui google form, pengisian
kuesioner ini dilakukan oleh 100 orang dari berbagai usia dengan skala 70% berusia 17-19
tahun, 28% berusia 20-25%, dan 2% berusia 26-30 tahun. Serta dari berbagai pekerjaan yang
didominasi oleh mahasiswa dengan 94%, PNS 3% dan karyawan swasta 3%. Karena tujuan
dari kuesioner ini adalah untuk mengetahui pandangan/perspektif masyarakat terhadap kasus
swab antigen bekas yang dilakukan oleh PT Kimia Farma. Berdasarkan jawaban responden
terhadap kuesioner yang telah dibuat, menunjukkan hasil bahwa:
1. Tanggapan Responden Mengenai Sudah Pernah Melakukan Swab atau Belum.
Dari data yang telah didapat. dapat dibuat menggunakan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Sudah  48 48%
2. Belum 52 52%
Total 100 100%
14
Tabel 3.3.1
Tanggapan Responden Mengenai Sudah Pernah Melakukan Swab atau Belum
Dari pertanyaan “Apakah Anda sudah pernah melakukan swab tes baik swab
antigen maupun PCR?” kami mendapatkan respons 48% menjawab sudah pernah
melakukan swab tes baik antigen maupun pcr, dan 52% menjawab belum pernah
melakukan swab tes baik antigen maupun PCR.
2. Tanggapan Responden Mengenai Prosedur Pemakaian Swab Antigen Yang
Digunakan Hanya Satu Kali.
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  87 87%
2. Netral 3 3%
3. Tidak  10 10%
Total 100 100%
Tabel 3.3.2
Tanggapan Responden Mengenai Prosedur Pemakaian Swab Antigen Yang
Digunakan Hanya Satu Kali.
Dari pertanyaan “Apakah Anda mengetahui prosedur pemakaian swab antigen
yang hanya sekali pakai atau digunakan hanya satu kali?” kami mendapatkan respons
dengan didominasi 87% menjawab sudah mengetahui, 3% menjawab netral atau ragu-
ragu, dan 10% menjawab tidak mengetahui.
3. Tanggapan Responden Mengenai Bahaya Pemakaian Alat Swab Bekas atau
Sudah di Daur Ulang.
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  71 71%
2. Netral 8 8%
3. Tidak  21 21%
Total 100 100%
Tabel 3.3.3
Tanggapan Responden Mengenai Bahaya Pemakaian Alat Swab Bekas atau
Sudah di Daur Ulang.
Dari pertanyaan “Apakah Anda sudah mengetahui tentang bahaya pemakaian
alat swab jika dipakai lagi, di daur ulang atau bekas?” kami mendapatkan respons
dengan didominasi 71% menjawab sudah mengetahui bahayanya, 8% menjawab
netral atau ragu-ragu, dan 21% menjawab tidak mengetahui bahayanya.

15
4. Tanggapan Responden Mengenai PT Kimia Farma Yang Menggunakan Alat
Swab Antigen Daur Ulang atau Bekas di Bandara Internasional Kualanamu.
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  64 64%
2. Netral 13 13%
3. Tidak  23 23%
Total 100 100%
Tabel 3.3.4
Tanggapan Responden Mengenai PT Kimia Farma Yang Menggunakan Alat
Swab Antigen Daur Ulang atau Bekas di Bandara Internasional Kualanamu.
Dari Peryanyaan “Apakah Anda mengetahui tentang PT Kimia Farma yang
menggunakan alat swab daur ulang atau bekas di Bandara Internasional Kualanamu?”
kami mendapatkan respons dengan didominasi 64% menjawab sudah mengetahui,
13% menjawab netral atau ragu-ragu, dan 23% menjawab tidak mengetahui.
5. Tanggapan Responden Dengan Adanya Kasus Ini, Apakah Menjadikannya
Takut Untuk Melakukan Swab Tes atau Tidak?
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  34 34%
2. Netral 40 40%
3. Tidak  26 26%
Total 100 100%
Tabel 3.3.5
Tanggapan Responden Dengan Adanya Kasus Ini, Apakah Menjadikannya
Takut Untuk Melakukan Swab Tes atau Tidak?
Dari pertanyaan “Dengan adanya kasus PT Kimia Farma ini, apakah
mnjadikan anda takut untuk melakukan swab?” kami mendapatkan respons dengan
34% menjawab takut melakukan swab, 40% menjawab netral atau ragu-ragu untuk
melakukan swab, dan 26% menjawab tidak takut untuk melakukan swab.
6. Tanggapan Responden Mengenai Tindakan Yang Dilakukan Oleh PT Kimia
Farma Adalah Tindakan Yang Melanggar Hukum dan Etika Bisnis.
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  73 73%
2. Netral 12 12%
3. Tidak  15 15%

16
Total 100 100%
Tabel 3.3.6
Tanggapan Responden Mengenai Tindakan Yang Dilakukan Oleh PT Kimia
Farma Adalah Tindakan Yang Melanggar Hukum dan Etika Bisnis.
Dari pertanyaan “Apakah Anda mengetahui tindakan yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma adalah tindakan criminal yang melanggar hukum dan etika bisnis?” kami
mendapatkan respons dengan dominan 73% menjawab sudah mengetahui bahwa
tindakan itu melanggar hukum dan etika bisnis, 12% menjawab netral atau ragu-ragu,
dan 15% menjawab tidak mengetahui bahwa tindakan itu melanggar hukum dan etika
bisnis.
7. Tanggapan Responden Tentang Mengetahui Sanksi Hukum Yang Diberikan
Kepada PT Kimia Farma atau Tidak.
Dari data yang telah didapat. dapat dilihat dengan tabel, yaitu sebagai berikut:
No. Keterangan Jumlah Presentase
1. Ya  34 34%
2. Netral 20 20%
3. Tidak  46 46%
Total 100 100%
Tabel 3.3.7
Tanggapan Responden Tentang Mengetahui Sanksi Hukum Yang Diberikan
Kepada PT Kimia Farma atau Tidak.
Dari pertanyaan “Apakah Anda mengetahui sanksi hukum apa yang diberikan
kepada PT Kimia Farma?” kami mendapatkan respons dengan 34% menjawab sudah
mengetahui sanksi hukum yang diberikan, 20% menjawab netral atau ragu-ragu, dan
46% menjawab tidak mengetahui sanki hukum yang diberikan.

3.5 Sanksi Hukum Terhada Oknum PT Kimia Farma


Menurut Siregar dalam Okezone, bukan hanya sanksi hukum saja namun ada pula
sanksi moral yakni PT Kimia Farma telah tercoreng nama baiknya sebagai Farmasi yang
sudah ada sejak jaman penjajahan terlebih yang melakukannya merupakan cucu PT Kimia
Farma Tbk yakni PT Kimia Farma Diagnostik. PT Kimia Farma pun dengan tegas akan
memecat oknum-oknum tersebut dan akan mengikuti proses hukum. Polisi telah menetapkan
status tersangka kepada lima orang diduga terlibat dalam kasus penggunaan alat rapid test
antigen bekas di Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Sumatera Utara. Kelima
tersangka dijerat hukuman berat, sesuai dengan pasal yang ditetapkan.

17
Kapolda Sumatera Utara, Irjen Panca Putra mengatakan, polisi menjerat kelima
tersangka dengan pasal berlapis. Yakni pasal pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan yang mengatur larangan memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi
dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan khasiat
atau kemanfaatan dan mutu.

Kemudian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen


yang mengatur larangan bagi pelaku usaha memproduksi dan/atau memperdagangkan barang
dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan perundang-undangan.

Atas jeratan itu, kata Panca, kelima tersangka bisa dihukum 15 tahun penjara.
Ancaman pidana untuk pasal pada Undang-Undang Kesehatan memungkinkan para tersangka
dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan pasal pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen
dengan ancaman 5 tahun penjara. Mereka juga diancam dengan pidana denda maksimal Rp3
miliar. (Wahyudi Aulia Siregar, Okezone. 30 April 2021)

18
BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal
yaitu:

a. Prosedur pemakaian swab digunakan untuk mengetahui apakah kita


terpapar covid 19 atau tidak, dengan menggunakan sampel lendir yang
berasal dari hidung dan tenggorokan lalu sample tersebut disimpan di
wadah steril dan di kirim ke laboratorium. Serta penggunaan alat swab
yang hanya digunakan sekali pakai (disposable).
b. PT.Kimia Farma telah melanggar pedoman standar perilaku (code of
conduct) yang telah di tetapkan oleh perseroan tersebut. Dan banyak
orang yang melakukan swab test untuk berpergian namun itu membuat
masyarakat takut untuk melakukan swab antigen karena ulah oknum
tersebut.
c. Sebelumnya terjadi kejanggalan dari hasil rapid antigen calon
penumpang pesawat setelah di investigasi di ketahui oknum telah
mencuci atau membersihkan alat antigen yang sudah di pakai lalu di
campur dengan alat pengambil sampel yang belum di gunakan.lalu
manajer kimia bersama 4 bawahan jadi tersangka dugaan alat tes
antigen di bandara kualanamu.
d. PT.Kimia Farma telah melanggar etika bisnis dan etika profesi dengan
telah mencoreng nama baik nya sendiri dengan memproduksi dan
mendaur ulang alat swab bekas dan para petugaas seharusnya tau apa
yang harus dilakukan dan di kerjakan dengan sebaiknya.
e. Berdarkan penelitian yang telah dibuat dengan menggunakan pengisian
kuesioner online melalui google form, didapat 40% dari 100 orang
ragu-ragu untuk melakukan swab karena ulah oknum tersebbut.

4.2 Saran
Menurut penulis, PT Kimia Farma harus lebih ketat dalam mengawasi
karyawan, melakukan pengawasan atau controlling secara rutin untuk
menghindari penyimpangan yang terjadi, serta melakukan peningkatan kualitas

19
pelayanan guna memperbaiki citra perusahaan di masyarakat. Lalu, kepada
masyarakat dimohon untuk lebih teliti lagi jika akan melakukan swab, dngan
memastikan bahwa alat yang digunakan merupakan alat baru.

20
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, N. Mahardini. (2021) Peredaan Swab Antigen dan PCR dalam Pemeriksaan Covid-
19. https://health.kompas.com/read/2021/03/24/120100168/perbedaan-swab-antigen-dan-pcr-
dalam-tes-covid-19?page=all diakses pada 5 Juni 2021

Agustina, S. A., Fajrunni’mah, R. (2020). Perbandingan Metode RT-PCR dan Tes Rapid
Antigen Untuk Deteksi Covid-19. Jurnal Kesehatan Manarang, Vol 6, No 2, 47-54.
http://jurnal.poltekkesmamuju.ac.id/index.php/m diakses pada 5 Juni 2021

Hasoloan, Aswand. (2018). Peranan Etika Dalam Perusahaan Bisnis. Jurnal Warta, 57, 4-5.
https://media.neliti.com/media/publications/290707-peranan-etika-bisnis-dalam-perusahaan-
bi-06f5409c.pdf diakses pada 7 Juni 2020

Lidyana, Vadhia. (2021). Kronologi Kasus Tes Antigen Bekas di Kualanamu hingga Pegawai
Dipecat. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5552355/kronologi-kasus-tes-
antigen-bekas-di-kualanamu-hingga-pegawai-dipecat diakses pada 14 Juni 2021

Maiwan, Muhammad. (2018). Memahami Teori-teori Etika: Cakrawala dan Pandangan.


Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi, Vol 17, No 2, 203-208.
http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jmb/article/view/9093/6204 diakses 13 Juni 2021

Ratnawati, T., Keraf, S. (2014). Pengertian dan Teori Etika. 13-15.


http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PWKL4302-M1.pdf diakses pada
13 Juni 2021

Tan, Lenny. (2020). Rapid Swab Antigen Test Corona (Covid-19).


https://www.sehatq.com/tindakan-medis/rapid-swab-test-corona diakses pada 5 Juni 2021

Unit Kepatuhan., Manajemen Resiko. (2018). Pedoman Standar Perilaku (Code of Conduct).
https://www.kimiafarma.co.id/images/GCG/PEDOMAN_STANDAR_PRILAKU_(COC).pd
f diakses pada 8 Juni 2021

Widyanti, D. Agung. (2020). Etika Bisnis Perspektif Teori dan Praktis, Bali : Noah Alethia

21