Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN 6
Senyawa Aromatik: Isolasi Eugenol Dari Buah Cengkeh

Nama : Kiki Nur Azizah Hidayatul Fitria


NIM : 1813015019
Kelas : S1 D 2018
Dosen/Asisten : Apt. Hifdzur Rashif Rijai, M.Pharm., Sci.

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2021
LAPORAN PRAKTIKUM
ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM

A. Waktu Praktikum
Jumat, 21 Mei 2021

B. Judul Praktikum
Senyawa Aromatik: Isolasi Eugenol Dari Buah Cengkeh

C. Tujuan Praktikum
1. Dapat menjelaskan proses ekstraksi untuk golongan aromatik
2. Dapat mengetahui proses isolasi dan pemurnian golongan senyawa
aromatic.

D. Dasar Teori
Buah cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat menghasilkan minyak
cengkeh yang merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup banyak
dihasilkan di Indonesia dengan cara penyulingan air dan uap. Minyak
cengkeh berupa cairan berwarna kuning sampai kecoklatan, mempunyai
rasa yang pedas, dan berbau aromatik (khas). Minyak cengkeh memiliki
aktivitas biologis karena mengandung eugenol dengan kadar tinggi, yaitu
sebagai antiseptik dan analgesik pada pengobatan gigi dan mulut,
antifungal, antibakteri, antioksidan, antikarsinogen, dan anti radikal bebas.
Minyak cengkeh mengandung eugenol (4-alel-2-methoxyphenol)
sebagai komponen utama. Eugenol inilah yang memberikan aroma khas
pada minyak cengkeh. Eugenol banyak dibutuhkan oleh berbagai industri
seperti industri kosmetika, farmasi, dan pestisida nabati (Kardinan, 2005).
Eugenol berupa zat cair berbentuk minyak, tidak berwarna atau sedikit
kekuningan, menjadi coklat dalam udara, berbau dan berasa rempah-
rempah. Dapat larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan mudah menguap
serta sedikit larut dalam air. Eugenol mudah bersenyawa dengan besi, oleh
karena itu penyimpanannya harus dalam botol kaca, drum alumunium, atau
drum timah putih. Data sifat fisika dari eugenol adalah sebagai berikut:
 Berat jenis : 1,0651
 Indeks bias : 1,5410 (20°C)
 Titik didih : 253°C
 Titik nyala : 110°C
Eugenol dianggap sebagai senyawa fenolik yang mirip dengan benzena
yang memiliki tiga substituen (hidroksi, metoksi dan allyl) yang mengalami
reaksi substitusi elektrofilik aromatik melalui nitrasi. Nitro-eugenol
merupakan senyawa penting dalam produksi senyawa kimia lainnya
sepertiaminoeugenol untuk sintesis lebih lanjut. Amino eugenol memiliki
gugus amino (-NH2) yang mudah bereaksi dengan karbon disulfida
(Sudarma, 2015).

E. Alat dan Bahan


1. Alat
No Nama Alat Gambar Fungsi
1 Aluminium Sebagai alas plat
foil KLT saat proses
penotolan (Hartutik,
2012).
2 Batang Mengaduk larutan
pengaduk atau untuk
membantu
memindahkan
larutan dari satu
wadah ke wadah lain
(Wardiyah, 2016).
3 Chamber
Wadah untuk
merendam plat KLT
(Wulandari, 2011).

4 Corong kaca Memindahkan


larutan (Wardiyah,
2016).
5 Corong pisah Memisahkan cairan
dari dua fase yang
tidak dapat
bercampur
(Wardiyah, 2016).
6 Gelas kimia Menuang, membuat,
dan mendidikan
larutan (Wardiyah,
2016).
7 Kertas saring Memisahkan antara
zat terlarut dari zat
padat (Wardiyah,
2016).
8 Lampu UV Memudahkan
mengamati noda
pada plat KLT
(Wulandari, 2011).
9 Penangas air Menciptakan suhu
yang konstan, untuk
pemanasan,
inkubasi, dan
penguapan
(Wardiyah, 2016).
10 Penggaris Membantu
mengukur nilai Rf
pada plat KLT
(Wardiyah, 2016).
11 Pinset Menjepit atau
menggenggam suatu
objek yang kecil
(Wardiyah, 2016).
12 Pipa kapiler Mengambil sampel
cair dalam jumlah
kecil (Wardiyah,
2016).
13 Pipet tetes Mengambil larutan
dalam jumlah kecil
(tetes) (Wardiyah,
2016).
14 Plat KLT Mengidentifikasi
senyawa dalam
campuran dan
menentukan
kemurnian bahan
(Wulandari, 2011).
15 Rotary Memisahkan suatu
evaporator pelarut dari larutan
yang menghasilkan
ekstrak dengan
konsentrasi lebih
pekat (Wardiyah,
2016).
16 Selongsong Sebagai wadah
(perangkat tempat sampel yang
sokhlet) akan diekstraksi
(Subandi, 2019).
17 Spatel besi Mengambil bahan
kimia yang bersifat
higroskopis
(Wardiyah, 2016).
18 Statif dan Statif untuk
klem menegakkan corong
pisah dan klem
untuk memegang
erat corong pisah
(Wardiyah, 2016).

19 Tabung labu Sebagai wadah bagi


bahan dan pelarut
yang akan
dipanaskan
(Subandi, 2019).
20 Timbangan Menimbang padatan
analitik kimia (Wardiyah,
2016).

2. Bahan
Nama
No Sifat Fisik Sifat Kimia
Bahan
1 Etil asetat  BM: 88,105 g/mol  Berwujud cairan
 Titik lebur: -83,6°C bening
 Titik didih: 77,1°C  Tidak berwarna
 Densitas: 0,897  Dapat dihidrolisis
g/mL (30°C) pada keadaan asam
(Azura dkk, 2015) atau basa
menghasilkan asam
asetat dan etanol
kembali
(Azura dkk, 2015)
2 HCl  BM: 36,5 g/mol  Gas berwarna kuning
 Wujud: Cairan tak kehijauan dan berbau
berwarna merangsang
 Titik leleh: -  Merupakan oksidator
25,4°C kuat
 Titik didih: 50,5°C  Dapat larut dalam
(Perry et al., 1999) alkali hidroksida,
kloroform, dan eter
 Merupakan zat
beracun (karsinogen)
(Pubchem, 2018)
3 MgSO4  BM: 120,37 g/mol  Mudah larut dalam
 Densitas: 2,66 air panas
g/cm3  Jika terbakar dapat
 Titik leleh: menyebabkan
1124°C berevolusinya sulfur
 pH: 6 oksida
(Merck, 2018) (Merck, 2018)

4 NaHCO3  BM: 84,007 g/mol  Dapat bereaksi


 Titik lebur: 270°C dengan asam
 pH: 8,3 menghasilkan
 Densitas: 2,173 natrium dan gas
g/cm3 (Pubchem, 2021)
(Pubchem, 2021)
5 NaOH  BM: 40 g/mol  Berwarna putih dan
 Titik leleh: 323°C rapuh
 Titik didih 1390°C  Cepat mengabsorbsi
 Densitas 1090,41 uap air dan CO2 di
kg/m3 udara
(Perry et al., 1984)  Jika kontak dengan
udara akan mencair
 Jika dibakar akan
meleleh
(Kirk and Othmer,
1981)
6 Petroleum  Titik didih: 30-  Dapat bereaksi
eter 238°C dengan asam nitrat,
 Titik beku: -73°C oksidator kuat, dan
 Tekanan uap 40 halogen
mmHg pada 68°F:  Uapnya dapat
20°C membentuk
 BJ: 0,78-0,97 campuran mudah
kg/m3 meledak dengan
 Berwarna kuning udara
gelap hingga (BPOM RI, 2016)
coklat atau hijau
kehitaman, berbau
ringan
(BPOM RI, 2016)
7 Sampel  Berbentuk serbuk  Mengandung
cengkeh halus berwarna eugenol 70-90%,
coklat eugenol asetat 2-
 Densitas: 1,04 3%, karyopilen 5-
g/mL 12%
 Indeks bias: (Windarti, 1991)
1,5346
 Kelarutan dalam
alcohol 1:1
(Windarti, 1991)
8 Toluena  RM: C7H8  Dapat bereaksi
 BM: 92,141 g/mol dengan asam nitrat
 Titik didih: membentuk MNT
110,63°C (Kirk and Othmer,
 Titik beku: - 1996)
94,97°C
 Densitas: 0,8665
g/mL
(Kirk and Othmer,
1996)
F. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1 Proses ekstraksi

 Didapatkan ekstrak berwarna kuning


pucat
% 𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛
Berat hasil ekstraksi
= 𝑥 100%
Berat tanaman yang digunakan

10 g
% 𝑅𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛 = 𝑥 100% = 20 %
50 g
 Didapatkan rendemen dari proses
ekstraksi sebesar 20 %

2 Proses isolasi dan


pemurnian

 Diperoleh hasil isolasi eugenol berwarna


bening jernih

 Diperoleh noda tunggal yang


menunjukkan bahwa eugenol yang
dihasilkan murni
 Diperoleh nilai Rf sebesae 0,727 cm

G. Pembahasan
Percobaan isolasi eugenol dari buah cengkeh bertujuan agar dapat
mengetahui proses ekstraksi, proses isolasi dan pemurnian untuk senyawa
golongan senyawa aromatik. Sampel yang digunakan adalah buah cengkeh
karena buah cengkeh mengandung salah satu senyawa yang bernama
eugenol, dimana eugenol sendiri merupakan konstituen utama dari minyak
esensial dan digunakan untuk antimikroba dan anestesi.
Tahap pertama yaitu ekstraksi serbuk cengkeh. Sebanyak 50 gram
serbuk cengkeh dimasukkan kedalam labu sokhlet yang telah diisi dengan
650 mL petroleum eter. Kemudian diekstrasi pada suhu 50-80°C. Proses
ekstraksi menggunakan esktraksi sokhletasi, dimana syarat sokhletasi
adalah menggunakan pelarut yang mudah menguap, titik didih pelarut
rendah menggunakan pelarut yg titik didihnya rendah, dan sifatnya sesuai
dengan senyawa yg akan diisolasi. Petroleum eter merupakan pelarut
dengan titik didih yang rendah berkisar 28-30°C, sehingga mudah menguap
dalam suhu kamar. Petroleum eter digunakan untuk mengekstraski eugenol
karena sama-sama memiliki kepolaran yang rendah.
Filtrat hasil sokhlet tersebut dipekatkan dengan menggunakan rotary
evaporator agar mendapatkan larutan berwarna kuning bening dengan
volume 200 mL. Dimasukan larutan tersebut ke dalam corong pisah lalu
ditambahkan 50 mL NaHCO³ jenuh lalu dikocok dengan pengulangan
sebanyak 2 kali dengan tujuan untuk menghilangkan senyawa yang sangat
asam. Didapatkan fase organik, kemudian fase organik tersebut diekstraksi
dengan 50 mL NaOH 5% dengan melakukan pengulangan sebanyak 4 kali
dengan tujuan untuk mentransfer ke fase air. NaOH berfungsi untuk
mengikat eugenol menjadi garam eugenolat yang larut dalam air.
Komponen-komponen lain dalam minyak daun cengkeh tidak akan bereaksi
dan tetap sebagai fase organik yang tidak larut dalam air. Basa NaOH yang
ditambahkan tersebut harus berlebih agar eugenolat terbentuk semaksimal
mungkin. Ditampung ekstrak NaOH di gelas kimia, lalu ditambahkan
sebanyak 50 gram es serut diikuti dengan penambahan HCl pekat sebanyak
30 mL, ditambahkan secara perlahan lahan lalu diaduk. Tujuan penambahan
HCl ialah untuk memperoleh kembalu senyawa eugenol. Eugenol
diekstraksi kembali dengan menggunakan petroelum eter sebanyak 50 mL
dengan pengulangan sebanyak 4 kali.
Tahap kedua yaitu proses isolasi dan pemurnian. Ekstrak yang telah
diperoleh dicuci dengan menggunakan 50 mL NaHCO3 jenuh untuk
menghilangkan sisa-sisa HCl dan dikeringkan dengan menggunakan
MgSO₄. Pelarut dihilangkan dengan menggunakan vakum. Terlihat ada
minyak berwarna kuning gelap yang tersisa, diduga merupakan senyawa
eugenol mentah. Senyawa eugenol mentah didestilasi untuk menghasilkan
eugenol yang berwarna kuning pucat. Dilakukan uji kemurnian dengan
menggunakan KLT, eluen yang digunakan adalah toluena dan etil asetat
dengan perbandingan 85 : 15. Fungsi uji kemurnian menggunakan KLT
untuk melihat noda yang terbentuk, jika terbentuk hanya 1 noda berarti
senyawa tersebut sudah murni. Pada uji kemurnian menggunakan KLT
dielusi dengan eluen toluena : etil asetat karena bersifat non polar sehingga
memudahkan untuk memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran
antara sampel dan pelarut yang digunakan.
Hasil yang diperoleh adalah terlihat adanya noda tunggal yang
menunjukkan bahwa eugenol yang dihasilkan sudah murni. Hasil
rendemen yang didapatkan ialah 0,2 % didapatkan noda pada jarak
tempuh noda yaitu 3,7 cm lalu pada jarak tempuh eluen yaitu 5,5 cm, maka
nilai Rf yang didapatkan adalah 0,672. Eugenol disimpan dalam lemari es
untuk mencegah terjadinya penguapan dan dilakukan uji kemurnian dan
pengukuran titik leleh, eugenol akan membentuk kristal pada suhu -9%.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan disimpulkan bahwa:
1. Diperoleh hasil rendemen serbuk cengkeh sebesar 20% dengan
menggunakan sampel sebanyak 50 g dan hasil sokhletasi sebesar 10 g.
2. Hasil yang tampak pada plat KLT yang dielusi menggunakan eluen
toluene : etil asetat (85:15) dan diamati pada lampu UV 254 nm
menunjukkan bahwa terdapat noda tunggal pada plat KLT. Noda
tunggal ini menunjukkan bahwa senyawa yang diisolasi merupakan
senyawa murni, lalu perlu dilakukan pengujian selanjutnya untuk
memastikan bahwa senyawa murni yang telah diisolasi merupakan
Eugenol. Pengujian selanjutnya adalah uji titik leleh, berdasarkan
literature titik leleh senyawa Eugenol adalah -9℃ (Widayat et al.,
2012).
3. Didapatkan nilai Rf sebesar 0,672.
DAFTAR PUSTAKA
Alma, M. H., M. Ertas, S. Nitz, H. Kollmannsberger. 2007. Chemical
Composition and Content of Essential Oil from The Bud of Cultivated
Turkish Clove (Syzygium aromaticum L.). J. Bio Resources, 2(2):
265-269.
Azura, S. L., Sutri, R., dan Iriany. 2015. Pembuatan Etil Asetat Dari Hasil
Hidrolisis, Fermentasi, dan Esterifikasi Kulit Pisang Raja (Musa
paradisiaca L.). Jurnal Teknik Kimia USU Volume 4 No 1.
Badan Standardisasi Nasional. 2006. Standar Nasional Indonesia Minyak
Daun Cengkeh SNI 06-2387-2006. Jakarta: Badan Standardisasi
Nasional Republik Indonesia.
Bhuiyan M. N. I., Begum, J., Nandi, N. C., Akter, F. 2010. Constituents of
The Essential Oil from Leaves and Buds of Clove (Syzygium
caryophyllatum (L.) Alston). Afri. J. Plant. Sci., 4(11): 451-454.
BPOM RI. 2016. Sentra Informasi Keracunan (SIKer) Nasional: Petroleum
Eter. http://ik.pom.go.id/v2016/katalog/PETROLEUM.pdf (Diakses
pada 15 Mei 2021).
Guenther, Ernest. 1990. Minyak Atsiri. Jakarta: UI Press.
Hartutik. 2012. Metode Analisis Mutu Pakan. Malang: Universitas
Brawijaya Press.
Haryani, H. W., Hidayat, N., dan Rahmah, N. L. 2014. Pemurnian Eugenol
dari Minyak Daun Cengkeh dengan Reaktan Asam Monoprotik.
Kajian Jenis dan Konsentrasi Asam. Jurnal Industria, 3(2): 83-92.
Jirovetz, L. 2010. Medicinal Value of Clove. Austria: University of Vienna
Departement Pharmacy and Diagnostics.
Kardinan, A. 2005. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Kirk, R. E. & Othmer, V. R. 1981. Encyclopedia of Chemical Technology
Vol 9. New York: John Willey & Sons Inc.
Kirk, R. E. & Othmer, V. R. 1996. Encyclopedia of Chemical Technology,
Vol 17. New York: John Willey & Sons Inc.
Lutony, T. L. dan Rahmawati, Y. 2002. Produksi dan Perdagangan Minyak
Atsiri. Jakarta: Penebar Swadaya.
Manoppo, Y., Sohilait, H. J., dan Kainama, H. 2011. Isolasi Eugenol Dari
Bunga Cengkeh Dan Sintesis Eugenil Asetat (2-Methoxy-4-(2-
Propen-1-Yl)-Phenyl Acetate). MJoCE, 1(1): 54-63.
Melwita, E., Fatmawati, dan Oktaviani, S. 2014. Ekstraksi Minyak Biji
Kapuk dengan Metode Ekstraksi Soxhlet. Jurnal Teknik Kimia, 20(1):
20-27.
Merckmillipore. 2018. Magnesium Sulfat Anhidrat.
https://www.merckmillipore.com/Web-BR-Site/pt_BR/-
/BRL/ShowDocument-File?ProductSKU=MDA_CHEM-
106067&DocumentType=MSD&DocumentId=106067_SDS_ID_ID.
PDF&DocumentUID=359702&Language=ID&Country=ID&Origin=
PDP (Diakses pada 23 Mei 2021).
Ngatin, A., dan Hulupi, M. 2014. Ekstraksi Kulit Buah Manggis Secara
Refluk dan Sokletasi Menggunakan Pelarut Etanol. Seminar Nasional
Sains dan Teknologi 2014.
Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi Tanaman Cengkeh. J. Perspektif, 3(2):
61–70
Nurhasanah, S., Mardawati, E., dan Herudiyanto, M. 2009. Pemisahan
Eugenol Dari Minyak Cengkeh Dengan Cara Distilasi Fraksinasi.
Jurnal UNPAD.
Perry, R. H. & Green, D. W. 1984. Perry’s Chemical Engineer’s Handbook
6th Edition. New York: McGraw Hill Book Company.
Pramod, K., S.H. Ansari and J. Ali. 2010. Eugenol: A Natural Compound
with Versatile Pharmacological Actions. Natural Product
Communications, 5(12): 1999-2006.
Prianto, H., Rurini. R., Unggul, P.J. 2013. Isolasi dan Karakterisasi dari
Minyak Bunga Cengkeh (Syzigium aromaticum) Kering Hasil
Destilasi Uap. Kimia Student Journal. 1 (2):269-275
Pubchem. 2021. Sodium Bicarbonate.
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Sodium-bicarbonate
(Diakses pada 23 Mei 2021).
Subandi, dan Sukiyadi. 2019. Modifikasi Labu Ekstraksi untuk Menghemat
Penggunaan Pelarut Lemak dan Efisiensi Ekstraksi. Jurnal Ilmiah
Teknik Pertanian, 11(3): 156-164.
Triesty, I., dan Mahfud. 2017. Ekstraksi Minyak Atsiri dari Gaharu
(Aquilaria Malaccensis) dengan Menggunakan Metode Microwave
Hydrodistillation dan Soxhlet Extraction. Jurnal Teknik ITS, 6(2): 92-
95.
US EPA. 2008. Clove Oil (Eugenol), Marin Municipal Water District
Vegetation Management Plan, Herbicide Risk Assessment.
Washington DC: US Environmental Protection Agency.
Widayat. 2012. Pengaruh Jenis Packing Dan Tekanan Vakum Dalam
Peningkatan Mutu Minyak Cengkeh. Simposium Nasional RAPI XIII
ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/download/425
9/pdf.
Wardiyah. 2016. Praktikum Kimia Dasar. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.
Windarti, I. W. 1991. Isolasi Eugenol dari Kuncup Bunga, Tangkai Bunga,
dan Daun Cengkeh (Eugena caryophillata Thunb). Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Wulandari, Lestyo. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember: PT. Taman
Kampus Presindo.
I. Jawab Soal
1 Soal Jelaskan siklus yang dimaksud dalam ekstraksi
menggunakan alat sokhlet!
Jawaban Satu siklus pada sokhlet ialah saat pelarut pada bagian
sifon penuh, kemudian jatuh kembali ke labu alas bulat
sehingga disebut satu siklus (Subandi, 2019).
Referensi Subandi, dan Sukiyadi. 2019. Modifikasi Labu Ekstraksi
untuk Menghemat Penggunaan Pelarut Lemak dan
Efisiensi Ekstraksi. Jurnal Ilmiah Teknik
Pertanian, 11(3): 156-164.
2 Soal Jelaskan mekanisme penarikan eugenol yang terjadi pada
tahapan ekstraksi!
Jawaban Pada tahapan ekstraksi terjadi penarikan senyawa saat
serbuk simplisia terendam oleh pelarut. Pelarut akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rogga sel
yang mengandung zat aktif, sehingga zat aktif akan larut
dalam pelarut yang digunakan (Harmita, 2008).
Kemudian hasil ekstraksi tersebut ditambahkan NaOH
untuk memisahkan senyawa eugenol dari minyak
cengkehnya dan akan bereaksi membentuk Na eugenolat.
Selanjutnya ditambahkan HCl untuk mengikat senyawa
non eugenol, sehingga menghasilkan eugenol murni yang
diinginkan (Manoppo dkk, 2011).
Referensi Harmita. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. Jakarta: EGC.
Manoppo, Y., Sohilait, H. J., dan Kainama, H. 2011.
Isolasi Eugenol Dari Bunga Cengkeh Dan Sintesis
Eugenil Asetat (2-Methoxy-4-(2-Propen-1-Yl)-
Phenyl Acetate). MJoCE, 1(1): 54-63.
3 Soal Eugenol adalah senyawa yang termasuk ke dalam
senyawa aromatik. Mengapa demikian? Jelaskan juga
posisi eugenol dalam golongan metabolit sekunder!
Jawaban

Eugenol merupakan senyawa aromatis yang memiliki


gugus-gugus reaktif yang menempel pada benzene,
seperti gugus vinil, hidroksi, dan metoksi. Dalam
golongan metabolit sekunder, eugenol termasuk ke dalam
golongan minyak atsiri fenol karena terdapat gugus fenol
yang menempel pada benzene (Gunawan dan Mulyani,
2004).
Referensi Gunawan, D., dan Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam.
Jakarta: Penebar Swadaya.

Anda mungkin juga menyukai