Anda di halaman 1dari 7

FREE MEDICAL EBOOK-PDF-JOURNAL-ASKEP-LECTURES's Fan Box

FREE MEDICAL EBOOK-PDF-JOURNAL-ASKEP-LECTURES di Facebook

SEARCH HERE
Top of Form
partner-pub-6195 FORID:11 ISO-8859-1

Search

Bottom of Form

Custom Search

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. P DENGAN FRAKTUR


KOMPRESI V Th IV Frankle A di BANGSAL DAHLIA RS.
ORTOPEDI Prof. Dr. SOEHARSO SURAKARTA
LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN
Paraplegi adalah kelumpuhan kedua tungkai akibat lesi bilateral atau transversal di
medula spinalis dibawah tingkat cervical (Sidharta, 1999).

Terapi latihan merupakan salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang
pelaksanaannya dengan menggunakan latihan-latihan gerak tubuh baik secara aktif
maupun pasif (Kisner, 1996).
Fraktur kompresi terdiri dari kata fraktur dan kompresi. Fraktur artinya keadaan
patah atau diskontinuitas dari jaringan tulang, sedangkan kompresi artinya tekanan
atau tindihan, jadi fraktur kompresi adalah diskontinuitas dari jaringan tulang akibat
dari suatu tekanan atau tindihan yang melebihi kemampuan dari tulang tersebut
(Ahmad Ramali, 1987).
Fraktur kompresi adalah suatu keretakan pada tulang yang disebabkan oleh tekanan,
tindakan menekan yang terjadi bersamaan. Fraktur kompresi pada vertebral umumnya
terjadi akibat osteoporosis.
Fraktur kompresi vertebra adalah suatu fraktur yang merobohkan ruas tulang belakang
akibat tekanan dari tulang, mendorong ke arah robohan ruas-ruas tulang belakang
yang kebanyakan seperti sebuah spons/bunga karang yang roboh di bawah tekanan
tangan seseorang. Biasanya terjadi tanpa rasa sakit dan menyebabkan seseorang
menjadi lebih pendek. Fraktur kompresi vertebra sering dihubungkan dengan
osteoporosis.

B. ETIOLOGI
Penyebab cedera medula spinalis dibedakan menjadi dua yaitu akibat trauma dan non
trauma. Delapan puluh persen cedera medula spinalis disebabkan oleh trauma (contoh
: jatuh, kecelakaan lalu lintas, tekanan yang terlalu berat pada punggung) dan sisanya
merupakan akibat dari patologi atraumatis seperti carcinoma, mielitis, iskemia, dan
multipel sklerosis (Garrison, 1995).

C. PATOFISIOLOGI
Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung dan tidak
langsung. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas pada tulang
belakang adalah penyebab cedera pada medula spinalis secara tidak langsung. Apabila
trauma terjadi dibawah segmen cervical dan medula spinalis tersebut mengalami
kerusakan sehingga akan berakibat terganggunya distribusi persarafan pada otot-otot
yang dsarafi dengan manifestasi kelumpuhan otot-otot intercostal, kelumpuhan pada
otot-otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah serta paralisis
sfingter pada uretra dan rektum. Distribusi persarafan yang terganggu mengakibatkan
terjadinya gangguan sensoris pada regio yang disarafi oleh segmen yang cedera
tersebut.
Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis :
Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di bawah level
lesi.
Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama sekali, sensoris masih tersisa di
bawah level lesi.
Frankel C = Incomplete, fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi tidak
fungsional.
Frankel D = Incomplete, fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan fungsional.
Frankel E = Normal, fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit
neurologisnya.
D. TANDA DAN GEJALA PARAPLEGI AKIBAT SPINAL CORD INJURY.
a. Gangguan motorik
Cedera medula spinalis yang baru saja terjadi, bersifat komplit dan terjadi kerusakan
sel-sel saraf pada medula spinalisnya menyebabkan gangguan arcus reflek dan flacid
paralisis dari otot-otot yang disarafi sesuai dengan segmen-segmen medula spinalis
yang cedera. Pada awal kejadian akan mengalami spinal shock yang berlangsung
sesaat setelah kejadian sampai beberapa hari bahkan sampai enam minggu. Spinal
shock ini ditandai dengan hilangnya reflek dan flacid. Apabila lesi terjadi di mid
thorakal maka gangguan refleknya lebih sedikit tetapi apabila terjadi di lumbal
beberapa otot-otot anggota gerak bawah akan mengalami flacid paralisis (Bromley,
1991). Masa spinal shock berlangsung beberapa jam bahkan sampai 6 minggu
kemudian akan berangsur - angsur pulih dan menjadi spastik. Cedera pada medula
spinalis pada level atas bisa pula flacid karena disertai kerusakan vaskuler yang dapat
menyebabkan matinya sel – sel saraf
b. Gangguan sensorik
Pada kondisi paraplegi salah satu gangguan sensoris yaitu adanya paraplegic pain
dimana nyeri tersebut merupakan gangguan saraf tepi atau sistem saraf pusat yaitu
sel-sel yang ada di saraf pusat mengalami gangguan.(Crosbie,1993). Selain itu kulit
dibawah level kerusakan akan mengalami anaesthes, karena terputusnya serabut-
serabut saraf sensoris.
c. Gangguan bladder dan bowel
Efek gangguan fungsi bladder tergantung pada level cedera medula spinalis, derajat
kerusakan medula spinalis, dan waktu setelah terjadinya injury. Paralisis bladder
terjadi pada hari-hari pertama setelah injury selama periode spinal shock. Seluruh
reflek bladder dan aktivitas otot-ototnya hilang. Pasien akan mengalami gangguan
retensi diikuti dengan pasif incontinensia.

Pada defekasi, kegiatan susunan parasimpatetik membangkitakan kontraksi otot polos


sigmoid dan rectum serta relaksasii otot spincter internus. Kontraksi otot polos
sigmoid dan rectum itu berjalan secara reflektorik. Impuls afferentnya dicetuskan
oleh gangglion yang berada di dalam dinding sigmoid dan rectum akibat peregangan,
karena penuhnya sigmoid dan rectum dengan tinja. Defekasi adalah kegiatan volunter
untuk mengosongkan sigmoid dan rectum. Mekanisme defekasi dapat dibagi dalam dua
tahap. Pada tahap pertama, tinja didorong kebawah sampai tiba di rectum kesadaran
ingin buang air besar secara volunter, karena penuhnya rectum kesadaran ingin buang
air besar timbul. Pada tahap kedua semua kegiatan berjalan secara volunter. Spincter
ani dilonggarkan dan sekaligus dinding perut dikontraksikan, sehingga tekanan intra
abdominal yang meningkat mempermudah dikeluarkannya tinja. Jika terjadi
inkontinensia maka defekasi tak terkontrol oleh keinginan (Sidharta, 1999).
d. Gangguan fungsi seksual
• Gangguan seksual pada pria
Pasien pria dengan lesi tingkat tinggi untuk beberapa jam atau beberapa hari setelah
cidera. Seluruh bagian dari fungsi sexual mengalami gangguan pada fase spinal shock.
Kembalinya fungsi sexual tergantung pada level cidera dan komplit/tidaknya lesi.
Untuk dengan lesi komplet diatas pusat reflex pada conus, otomatisasi ereksi terjadi
akibat respon lokal, tetapi akan terjadi gangguan sensasi selama aktivitas seksual.
Pasien dengan level cidera rendah pusat reflek sakral masih mempunyai reflex ereksi
dan ereksi psychogenic jika jalur simpatis tidak mengalami kerusakan, biasanya pasien
mampu untuk ejakulasi, cairan akan melalui uretra yang kemudian keluarnya cairan
diatur oleh kontraksi dari internal bladder sphincter.
Kemampuan fungsi seksual sangat bervariasi pada pasien dengan lesi tidak komplit,
tergantung seberapa berat kerusakan pada medula spinalisnya. Gangguan sensasi pada
penis sering terjadi dalam hal ini. Masalah yang terjadi berhubungan dengan
locomotor dan aktivitas otot secara volunter.
Dapat dilakukan tes untuk mengetahui potensi sexual dan fertilitas. Selain itu banyak
pasangan yang memerlukan bantuan untuk belajar teknik-teknik keberhasilan untuk
hamil (Hirsch, 1990; Brindley, 1984).
• Gangguan seksual pada wanita
Gangguan siklus menstruasi banyak terjadi pada wanita dengan lesi komplit atau tidak
komplit. Gangguan ini dapat terjadi untuk beberapa bulan atau lebih dari setahun.
Terkadang siklus menstruasinya akan kembali normal.
Pada pasien wanita dengan lesi yang komplit akan mengalami gangguan sensasi pada
organ genitalnya dan gangguan untuk fungsi seksualnya.
Pada paraplegi dan tetraplegi, wanita dapat hamil dan mempunyai anak yang normal
dengan lahir normal atau dengan caesar (SC) jika memang indikasi. Kontraksi uterus
akan terjadi secara normal untuk cidera diatas level Th6, kontraksi uterus yang
terjadi karena reflek otonom. Pasien dengan lesi complet pada Th6 dan dibawahnya.
Akan mengalami nyeri uterus untuk pasien dengan lesi komplet Th6, Th7, Th8 perlu
mendapatkan pengawasan khusus biasanya oleh rumah sakit sampai proses kehamilan.
e. Autonomic desrefleksia
Autonomic desrefleksia adalah reflek vaskuler yang terjadi akibat respon stimulus dari
bladder, bowel atau organ dalam lain dibawah level cedera yang tinggi, fisioterapi
harus tanggap terhadap tanda-tanda terjadinya autonomic desrefleksia antara lain 1)
keluar banyak keringat pada kepala, leher, dan bahu, 2) naiknya tekanan darah, 3) HR
rendah, 4) pusing atau sakit kepala.
Overdistension akibat terhambatnya kateter dapat meningkatkan aktifitas dari reflek
ini jika tidak cepat ditanggulangi dapat menyebabkan pendarahan pada otak, bahkan
kematian. Dapat juga disebabkan oleh spasme yang kuat dan akibat perubahan pasisi
yang tiba-tiba, seperti saat tilting table.

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering muncul pada kasus paraplegi adalah antara lain :
a. Chest complication
Istirahat ditempat tidur mengakibatkan gangguan tahanan mekanik akibat dari
penurunan seluruh dan pengurangan pengembangan otot-otot intercostal, diafragma,
dan abdominal saat pernafasan supinasi. Sendi kostovertebral dan kostokondral serta
otot-otot abdominal bisa jadi terfiksasi dalam proses okspirasi. Sehingga
menyebabkan penurunan inspirasi maksimal dan berakibat pada penuruan kapasitas
pernafasan vital dan fungsional. Hal ini menyebabkan perbedaan regional dalam rasio
vertilasi /perfusi di daerah yang kontilasinya buruk serta daerah yang perfusinya
berlebihan dan pirauarterio venosa. Jika terjadi peningkatan kebutuhan metabolisme
maka terjadilah hipoksia. Fungsi mukosiliaris juga terganggu maka sekresi mukus
mengumpul pada bronkioli saluran nafas yang tergantung, sehingga menimbulkan
atelektasis dan pneumonia hipostatik (Garrison, 1995)
b. Deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru
Pasien paraplegi beresiko tinggi mengalami DVT. (Garrison, 1995). DVT ditandai
dengan adanya pembengkakan pada kaki, eritema dan suhu yang cenderung rendah.
Sering ditemukan oleh fisioterapis ketika melakukan pemeriksaaan gerak pasif pada
salah satu atau kedua anggota gerak bawah. Jika DVT positif maka latihan dihentikan
sampai diberikan anti koagulan sehingga sistem vaskuler menjadi stabil kembali. Jika
DVT tidak terdiagnosis maka perlu diperhatikan terjadinya emboli yang biasanya
terjadi pada hari ke 10 – 40 (Bromley, 1991).
c.Pressure sore
Pressure sore disebut juga ulcus decubitus, disebabkan karena lamanya penekanan
yang menyebabkan iskemik kemudian nekrosis pada jaringan lunak diatas tonjolan-
tonjolan tulang seperti sacrum, iscium, trocanthor, dan tumit. Pembengkakan,
malnutrisi, anemia, hipoalbuminemia dan kelumpuhan merupakan faktor-faktor
pedukung (Garrison, 1995).
d. Kontraktur
Kontraktur adalah hilangnya jangkauan gerak suatu sendi. Hal ini merupakan akibat
dari hilangnya fleksibilitas jaringan lunak yang dikarenakan imobilisasi. Timbulnya
kontraktur merupakan salah satu kecacatan yang paling parah karena berpengaruh
besar pada hasil akhir fungsional dan rehabilitasi (Garrison, 1995)
e. Osteoporosis dan fraktur
Dalam pembentukan tulang dan penyerapan kalsium pada tulang sangat dipengaruhi
oleh rangsangan dari tumpuan berat badan, gravitasi, dan kontraksi otot. Pada kondisi
paraplegi karena adanya kelumpuhan maka rangsangan tersebut tidak terjadi sehingga
berpotensi timbulnya osteoporisis dan bila berkepanjangan dapat menyebabkan atrofi
tulang. Osteoporosis dapat menyebabkan fraktur kompresi pada corpus vertebra dan
tulang panjang penumpu berat badan hanya dengan trauma kecil serta mempermudah
pasien untuk mengalami fraktur panggul (Garrison, 1995).
f. Heterotopic ossification
Heteroptopic ossification merupakan pembentukan tulang pada jaringan lunak,
biasanya terjadi pada sendi besar seperti hip dan knee. Umumnya baru diketahui satu
hingga empat bulan setelah cedera dan lebih sering terjadi pada cedera komplit.
Patogenesisnya tidak jelas. (Garrison, 1995).
g. Neuropathic atau spinal cord pain
Kerusakan dari tulang vertebra, medula spinalis, saraf tepi, dan jaringan disekitarnya
dapat menyebabkan neuropatik. Rasa nyeri pada akar saraf bisa berupa nyeri tajam
teriris dan menjalar sepanjang perjalanan saraf tepinya bahkan mungkin terjadi pada
phantom limb pain (Garrison, 1995).
h. Syringomyelia
Syringomyelia merupakan pembesaran kanalis centralis dari medula spinalis pasca
trauma, terjadi pada satu hingga tiga persen pasien spinal cord injury. Resikonya
adalah gangguan fungsi diatas level cedera.(Bromley,1991).

F. PROGNOSIS
Prognosis pada kasus paraplegi ini tergantung pada level cedera dan klasifikasi spinal
cord injuri dan prognosis ini dilihat dari segi quo ad vitam (mengenai hidup metinya
penderita), segi quo ad sanam (mengenai penyembuhan), segi quo ad cosmetican
(ditinjau dari kosmetik) dan segi quo ad fungsionam (ditinjau dari segi aktifitas
fungsional). Sehingga prognosis yang terjadi kemungkinan baik, dubia (ragu-ragu) dan
jelek. Dubia dibagi menjadi 2 yaitu ragu-ragu kearah baik (dubia ad bonam) dan dubia
kearah jelek (dubia ad malam). Secara garis besar prognosis dari paraplegi akibat
cedera medula spinalis adalah jelek karena medula spinalis merupakan salah satu
susunan saraf pusat dan bila mengalami kerusakan akan terjadi kecacatan yang
permanen.(Garrison,1995)