Anda di halaman 1dari 2

A.

PENYEBAB SETRES KERJA

Penyebab setres kerja bisa berasal dari berbagai sebab, para ahli organisasional
menyimpulkan ada empat sebab, yaitu sebagai berikut :
1. Penyebab Lingkungan Fisik
Penyebab-penyebab stres ini berasal dari lingkungan fisik bermacam bisa karena di
sekitar tempat kerja mereka, antara lain : cuaca yang buruk, suhu udara yang panas,
tempat kerja berdebu, kebocoran atau polusi karena zat kimia (radiasi), keracunan
pestisida dan bahan-bahan beracun lainnya. Untuk melindungi akibat buruk lingkungan
fisik mereka seperti dengan menggunakan masker, jaket kulit yang ideal, sarung tangan,
atau perlengkapan kerja yang lengkap.
2. Penyebab Idividual
Penyebab individual dapat berkitan dengan faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah
keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dn karakter yang melekat dalam
diri seseorang. Penyebab setres pada tingkat individual antara lain karena konflik peran.
Seseorang konflik peran ketika memenuhi satu deretan harapan tentang konflik
pekerjaan dengan memenuhi kepada deretan harapan lainnya sebagai contoh, adanya
tekanan untuk bergaul dengan baik bersama orang-orang yang anda tidak cocok. Tanpa
memperhatikan apakah hasil konflik peran daripada kebijakan organisasi atau dari
pribadi-pribadi lainnya.
3. Penyebab Kelompok
Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan dintara kelompok-
kelomok. Karakteristik kelompok dapat menjadi stresor yang kuat bagi beberapa
individu. Membina hubungan baik diantara anggota kelompok kerja menyebabkan
terhindarnya stres akibat kelompok kerja. Sehingga lebih baik jika membina hubungan
baik antar anggota kelompok.
4. Penyebab Organisasi
Faktor dari dalam pekerjaan yang mecakup tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan
hubungan antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi, dan tahap hidup
organisasi. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan
tata letak fisik perusahaan. Satu bagian utama dari kerja di dalam organisasi dari
beberapa individu adalah partsipasi dalam mengmbil keputusan. Partsipasi semacam
opini dan ide dapat memberi sumbangan pada timbulnya setres di dalam proses
keputusan. Dari berbagai penelitian sejumlah besar riset mengandung kontradiksi dalan
beberapa kasus. Meskipun demikian, riset yang bisa digunakan mengandung hal-hal
penting, yaitu ;
a. Stresor pada perjaan berkaitan dengan perubahan fisik, psikologis dan
emosional di dalam individu.
b. Tanggapan penyesuaian terhadap stresor pada pekerjaan telah ditentukan
dengan mengukur diri (self-rating), penampilan prestasi dan pengujian biokimia.
c. Tidak ada daftar stresor yang dapat diterim secara universal. Setiap organisasi
memiliki penetapan sendiri yang unik.
d. Perbedaan-prbedaan individual menjelaskan mengapa suatu stresor yang
mengganggu dan menggoncang bagi seseorang berubah pada orang lain.
D. AKIBAT SETRES KERJA
Akibat dari stres banyak dan bervariasi, diantaranya ada yang positif seperti memotivasi
pribadi, rangsangan untuk belajar lebih keras, daan meningkatnya inspirasi hidup yang lebih
baik. Namun demikian lebih banyak lagi efek negatifnya yang secara potensial berbahaya
bagi bagi organisasi. Akibat-akibat tersebut antara lain :
1. Perasaan Kesal-Marah (Burnout)
Stres pada waktu kerja dan dalam hidup tidak bisa dihindarkan. Beberapa individu tidak
dapat mengatasi atas suatu periode waktu karena stres kerja. Ketika individu menjadi
letih dan merasa bahwa tidak ada sesuatu yang positif dikerjakannya, mereka
menunjukkan sebagai menjadi burnout. Jika seorang mengalami burnout, prestasinya
mungkin tidak dapat dilanjutkan. Penelitian juga telah menentukan bahwa individu yang
mengalami burnout lebuh banyak absen dan memiliki turnover yang lebih tinggi
dibanding pekerja lainnya.
2. Kecanduan Alkohol (Alkoholisme)
Efek negatif dari ketergantungan obat dan alkohol adalah masalah absen (absentime),
produktivitas rendah, dan kecelakaan kerja. Identifikasi alkoholisme adalah penting
karena ramalan untuk perlakuan yang berhasil adalah lebih menguntungkan jika
perlkuan itu dimulai pada tahap awal dari penyakit. Para manajer dapat melihat tanda-
tanda pecandu alkohol yaitu :
a. Pola absentisme berlebihan
b. Tidak hadir (absen) tanpa izin, sering terjadi
c. Kalambatan dan keberangkatan awal
d. Pertimbangan yang jelek dan keputusan yang jelek
e. Penampilan pribadi yang tidak rapi
f. Tanda-tanda meningkatnya kegugupan dan tangan gemetar
g. Tanda-tanda meningkatnya klaim rumah sakit-obat-operasi
3. Penyalahgunaan Obat
Akibat stres menjadikan para pekerja banyak mengkonsumsi obat-obat terlarang atau
penyalahgunaan obat-obatan. Beberpa perusahaan, mengakui bahwa penyalahgunaan
obat terjadi pada waktu bekerja, menggunakan bermacam-macam cara untuk melawan
masalah itu. Menurut banyak ahli, penggunaan kokain, crack dan heroin tumbuh lebih
cepatdibanding lain dari penyalahgunaan obat. Salah satu penyumbang untuk
penyalahgunaan obat adalah stres yang berasal dari kerja. Obat perangsang dan
halusinogen (marijuna/ganja dan kokain), narkotika (heroin daan demerol) serta obat
penenang-hipotik (barbiturat dan vilum) diambil oleh para pekerja bagi semua kategori
kerja untuk membebaskan kerja yang membosankan, stres yang berlebihan dan masalah
kerj yang berkaitan. Untuk melawan ketergantungan obat, manajemen harus pertama-
tama menerima bahwa setres yang berkaitan dengan kerja dapat mengakibatkan pada
ketergantungan obat. Kemudian, minat manajemen untuk melawan ketergantungan
obat dengan suat program yang manusiawi dan efektif.