Anda di halaman 1dari 15

Laporan Kasus

CA CORPUS UTERI

Laporan ini dibuat sebagai salah satu persyaratan


untuk Program Dokter Internsip Kementrian Kesehatan
di RS Ibnu Sina Bojonegoro, Jawa Timur

Oleh:
dr. Husni Miranda
Dokter Internship

Pembimbing:
dr. I.G.M.S. Prayudha Sejati
dr. Tria Dewi Ratnasari

PROGRAM INTERSHIP DOKTER INDONESIA


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
RUMAH SAKIT IBNU SINA BOJONEGORO
KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR
2020
ABSTRAK

Kanker korpus uteri merupakan kanker yang paling sering terjadi pada
genital perempuan. Pada Negara berkembang, adenokarsinoma
endometrium merupakan kanker ginekologi paling sering. Pada Negara
berkembang lainnya, kasus ini lebih jarang dari karsinoma serviks.1
Sekitar 2,8% perempuan di Amerika Serikat akan didiagnosis dengan
keganasan ini pada beberapa waktu selama hidup. Kira-kira 75% perempuan
dengan kanker endometrial pada masa postmeopause. Oleh karena itu,
gejala yang paling sering adalah perdarahan postmenopause. Kanker
endometrium 25% terjadi selama perimenopause dan premenopause, gejala
yang mengarah ke kanker mungkin tidak jelas. Siklus normal menstruasi
selama periode ini semakin sedikit dan semakin jaraknya semakin jauh.
Siklus menstruasi yang banyak dan sering atau perdarahan intramenstrual
harus di evaluasi.1
Pemeriksaan pada perempuan yang dicurigai karsinoma endometrium
termasuk pemeriksaan pelvis, laboratorium, pencitraan dan endometrium
sampling. Setelah kanker endometrium ditegakkan, evaluasi rutin
prapembedahan dilakukan untuk menilai apakah pasien dapat di operasi,
termasuk pemeriksaan darah, EKG dan rontgen toraks.1
Pengobatan pada kanker korpus uteri adalah histerektomi dengan atau
tanpa radioterapi. Beberapa percobaan klinik penggunaan terapi hormon dan
kemoterapi sebagai terapi ajuvan pada stadium awal kanker, namun tidak
menunjukkan kelebihan dalam mortalitas dibandingkan pembedahan dan
radiasi.2
TINJAUAN PUSTAKA

1. Epidemiologi
Kanker endometrium merupakan kanker ginekologik yang paling
sering terjadi di dunia barat, menempati urutan ke empat kanker pada
perempuan setelah kanker payudara, kolon dan paru. Kejadian kanker
endometrium meningkat dari 2 per 100.000 perempuan per tahun pada usia
di bawah 40 tahun menjadi 40-50 per 100.000 perempuan per tahun pada
usia decade ke-6, 7, dan 8.2
Sekitar 23.700 perempuan Eropa meninggal karena kanker
endometrium pada tahun 2012, yang merupakan penyebab kematian
perempuan akibat kanker ke delapan. Angka mortalitas kanker korpus uteri
menunjukkan penurunan pada perempuan yan lahir sebelum 1940.3
2. Etiologi dan Faktor Risiko
Terdapat dua mekanisme yang secara umum dipercayai terlibat dalam
perkembangan kanker endometrium. Pada sekitar 75% wanita, terdapat
riwayat paparan estrogen tinggi, baik endogen maupun eksogen (tipe I).
Pada tipe ini tumor awalnya jinak seperti hiperplasia endometrium dan
berkembang menjadi karsinoma, yang biasanya lebih berdiferensiasi baik
dan mempunyai prognosis yang beragam daripada tumor yang tidak
berkaitan dengan esterogen4
Pada 25% wanita, karsinoma muncul secara spontan, tidak berkaitann
dengan transisi dari hiperplasia atipikal dan muncul dari endometrium yang
atrofi atau inersia. Neoplasma ini cenderung berkaitan dengan tipe sel yang
tidak berdifferensiasi dan prognosis yang lebih buruk (tipe II).4
Adapun faktor risiko karsinoma korpus uteri:4
1. Estrogen
Stimulasi esterogen jangka pajang pada endometrium yang
tidak dimodifikasi oleh progesterone mempunyai peran dalam
perkembangan karsinoma endometrium. Hipotesis ini dibentuk
dari observasi pada wanita infertil atau obesitas atau dengan
perdarahan disfunsional akibat anovulasi memiliki risiko tinggi
untuk penyakit ini.
2. Diet
Terdapat hubungan antara diet tinggi lemak dan insidensi lebih
tinggi karsinoma endometrium. Pada wanita obesitas, aromatisasi
ekstraglansular androstenedion menjadi estrone meningkat di
jaringan lemak.
3. Obesitas
Pada wanita yang 13kg lebih berat dari berat badan ideal
meningkatkan 3 kali risiko berkembangnya kanker endometrium,
sedangkan 22 kg dari berat badan ideal meingkatkan 10kali
risiko kanker endometrium.
4. Paritas
Wanita nulipara memiliki risiko 2x lebih besar untuk
berkembangnya kanker endometrium, wanita yang mengalami
menopause setelah usia 52 tahun memiliki 2,5 kali risiko lebih
besar.
5. Hiperplasi endometrium
3. Tanda dan gejala
1. Wanita postmenopause
Gejala pada karsinoma endometrium awal sedikit namun sering
terjadi. Sembilan puluh persen pasien mengeluh cairan vagina abnormal
dan 80% wanita ini mengalami perdarahan abnormal, biasanya setelah
menopause. Pada populasi umum, 15% wanita postmenopause dengan
perdarahan abnormal ditemukan adanya karsinoma endometrium. Gejala
dan tanda pada penyakit yang lebih lanjut termasuk tekanan pelvis dan
gejala lain yang mengindikasikan pembesaran uteri atau penyebaran
tumor ekstrauterin.4
2. Wanita premenopause
Diagnosis kanker endometrium dapat sulit ditegakkan pada pasien
premenopause. Dokter harus memiliki indeks kecurigaan yang tinggi
pada wanita yang mengeluh siklus mentruasi yang memanjang dan
banyak atau bercak intermenstrual.4

4. Diagnosis
Diagnosis dibuat melalui biopsi endometrium atau kuretase
diagnostik. Hasil negatif dari biopsi endometrium pada kasus dengan
keluhan simtomatis perlu dilanjutkan dengan kuretase bertingkat dengan
kawalan histeroskopik, karena biopsi endometrium mempunyai false
negative rate 5-10%. Diagnosis pasti dibuat dengan sampel histopatologik.
Kuretase bertingkat diperlukan bila dicurigai adanya infiltrasi ke
endoserviks.2
Praoperasi perlu dilakukan pemeriksaan, termasuk foto paru, tes Pap
untuk menyingkirkan kelainan serviks, pemeriksaan laboratorium darah
rutin seperti pemeriksaan darah tepi, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal,
elektrolit untuk menyingkirkan penyakit sistemik yang dialami atau
merastasi occult dan CA-125. Pemeriksaan sigmoidoskopi atau barium
enema perlu dipertimbangkan bila mendapatkkan massa tumor diluar uterus
dengan keluhan simtom pada saluran cerna atau ada riwayat keluarga
terkena kanker kolon. CT-scan dapat dilakukan pada kasus-kasus untuk
mengidentifikasi lokasi primer kanker.2
Stadium klinik kanker korpus2:
Stadium I : karsinoma terbatas pada uterus
IA : panjang uterus kurang dari 8cm
IB : panjang uterus lebih dari 8 cm
Stadium II : karsinoma menginvasi uterus dan serviks
Stadium III : karsinoma meluas keluar uterus tetapi tidak
keluar pelvis minor
Stadium IV :Karsinoma meluas keluar perlvis minor atau
menginvasi ke mukosa landing kemih atau rectum
Jenis tumor primer dari endometrium adalah endometroid
adenokarsinoma (75%), adenoskuamos (20%), dan lain-lain (5%) seperti
serosum papiliferum dan sel jernih. Kanker dari organ lain seperti
ovarium,payudara, atau lambung dapat bermetastasis kke endometrium.
Lesi metastasis ini biasanya disertai dengan penyakit tumoer yang menyebar
di seluruh tubuh. Klasifikasi histopatologik (berdasarkan klasifikasi
WHO/ISGP)2:
 Karsinoma endometroid: adenokarsinoma, adenokantoma
(adenokarsinoma dengan metaplasia skuamosa) dan karsinoma
adenoskuamosa (campuran adenokarsinoma dan karsinoma sel
skuamosa)
 Adenokarsinoma musinosum
 Adenokarsinoma serosum papiliferum
 Adenokarsinoma sel jernih
 Karsinoma undifferentiated
 Karsinoma campuran
5. Tatalaksana

Pengobatan pada kanker korpus uteri adalah histerektomi dengan atau


tanpa radioterapi. Beberapa percobaan klinik penggunaan terapi hormon dan
kemoterapi sebagai terapi ajuvan pada stadium awal kanker, namun tidak
menunjukkan kelebihan dalam mortalitas dibandingkan pembedahan dan
radiasi.2

1. Pembedahan
Stadium surgical termasuk insisi vertikal abdomen, pembilasan
peritoneum eksplorasi terhadap preses metastasis, histerektoi totalis, dan
salpingo-ooforektomia bilateralis, kemudian pembelahan dan indpeksi
uterus untuk menetapkan kedalaman invasi ke miometrium. Bila
kedalaman invasi tidak jelas, maka diperlukan pemeriksaan sediaan beku.
Kelenjar getah bening pelvis dan para-aorta diambil untuk contoh
(sampling) berdasarkan kriteria risiko tinggi dibawah ini.2
 Invasi miometrium lebih dari setengah
 Perluasaan ke ismus/ serviks
 Penyebaran ekstrauterun (termasuk adneksa)
 Jenis serosa, sel jernih, sel undifferentiated
 Pembesaran kelenjar getah bening
 Karsinoma derajat 3

Diseksi kelenjar getah bening pelvic dan para-aorta tidak perlu


bersih diangkat, tetapi diperlukan. Namun, bila dijumpai kelenjar yang
membesar, perlu diangkat.omentektomi perlu dilakukan pada pasien
stadium I jenis serosum atau sel jernih atau kelenjar retroperoneum yang
positif.2
Pada stadium I dan II occult anpa ada tanda-tanda klinis mengenai
serviks cukup dilakukan histerektomi totalis dan salpingo-ooforektomi
bilateralis, bilasan peritoneum dan/atau pengangkatan kelenjar getah
bening pelvis dan para-aorta. Histerektomi vaginalis dengan pengangkata
KGB dengan pembedahan laparaskopi dapat dilakukan pada pasien
dengan seleksi khusus.2
Pada kanker endometrium stadium II dan III, ada 2 pilihan
pengobatan yaitu (1) histerektomi radikal, salpingo-ooforektomi
bilateralis, pengangkatan KGB pelvis dan para-aorta, bilasan peritoneum,
omentektomi; (2) sama seperti (1) tetapi dilakukan histerektomi
ekstrafasial. Radiasi pasca bedah direncanakan bergantung temuan PA.
bila tumor terbatas pada uterus, radiasi pascabedah tidak diperlukan.2
Pada kanker stadium II dan IV tindakan pembedahan dan/atau
radioterapi dan/atau kemoterapi dilakukan tergantung lokasi tumor
primer dan metastasis.2
2. Radioterapi
Radioterapi pelvic ajuvan diberikan pada kasus berikut2:
 Pasien risiko rendah (stadium IA derajat 1 atau 2) tidak
memerlukan radiasi pasca-bedah
 Pasien risiko menengah (stadium IB, IC; IIA occult dan IIB,
dengan semua derajar; derajat 3 pada semua stadium tanpa
penjalaran ke KGB). Radioterapi mengurangi residif tapi tidak
mengubah mortalitas.
 Pasien risiko tinggi (tumor menginvasi KGB dan organ jauh)
memerlukan radioterapi secara individual.
3. Kemoterapi
Pengobatan dengan kemoterapi memberikan responsitas yang
positif pada kanker endometrium, tetapi tidak sebaik hasilnya pada
kanker ovarium. Pemberian kemoterapi hanya ditujukan pada kasus
dengan tidak lengkapnya deseksi KGB para-aorta yang positif atau
metastasis jauh. Doxorubicin dan coplatin adalah kombinas kemoterapi
yang banyak digunakan sebagai kemoterapi ajuvan dengan tingkat
responsitas 20-40%. Kombinasi paclitaxel dengan ciplastin yang
diberikan ppada kasus residif atau stadium lanjut dilaporkan memberikan
hasil tingkat responsitas 67% diantaranga dengan respon komplet 29%.
Respon pengobatan kemoterapi tidak terkait dengan perbaikan mortalitas
tetapi isu kualitas hidup menjadi prioritas.2
Pengobatan dengan terapi hormon progesteron secara rutin tidak
bermanfaat. Terapi dengan progesteron hanya bermanfaat dengan
gambaran histopatologik derajat diferensiasi baik dan reseptor esterogen
dan progesteron positif. Dosis yang diberikan Depo-provera 400mg IM
per hari; tablet Provera 4x200mg per hari; Megestrol asetat 4x800mg per
hari; terapi hormon lainnya yang menjadi pertimbangan adalah LHRH
agonis dan aromatase inhibitor
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
Nama : Ny. EW
Umur : 44 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Masuk : 20 Mei 2020

2. Anamnesis
Seorang pasien wanita umur 44 tahun datang ke poli kebidanan RSIS Ibnu
Sina Bojonegoro dengan:
Keluhan Utama:

Perut terasa membengkak sejak + 5 bulan sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang :


• Perut terasa membengkak sejak + 5 bulan sebelum masuk rumah sakit,
makin lama makin membesar

• Nyeri (+)

• Keluar darah dari kemaluan (+)

• Pasien tidak memiliki anak

• Mual muntah (+)

• Riwayat penurunan nafsu makan (+)

• Riwayat penurunan berat badan (+)

• Riwayat minum obat-obatan (-)

Riwayat Penyakit Dahulu:


 Tidak pernah menderita penyakit hipertensi, DM, jantung, hepar, paru, dll
 Tidak ada riwayat alergi
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada riwayat keluarga mempunyai penyakit keturunan, menular dan
kejiwaan.

Riwayat Kehamilan / Abortus / Persalinan : 0 / 0 / 0

Riwayat Kontrasepsi : tidak ada.


Riwayat Imunisasi : (-)
Riwayat Kebiasaan : Merokok (-), alkohol (-), narkoba (-)

Pemeriksaan Fisik
KU : Sedang
Kesadaran : komposmentis kooperatif
Tinggi Badan : 157 cm
BB : 57 kg
BMI : 23,17 (normoweight)
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Suhu : 36,7⁰C
Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik
Leher : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak teraba membesar
Thorak :
 Jantung
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS ICS V
- Perkusi : batas jantung dalam batas normal
o Kanan : ICS IV parasternal dekstra
o Kiri : ICS II midclavikula sinistra
o Atas : ICS II parasternal sinistra
- Auskultasi : bunyi jantung murni reguler, murmur (-)
 Paru
- Inspeksi : bentuk dan pergerakan simetris, kiri=kanan
- Palpasi : fremitus simetris, kiri=kanan
- Perkusi : sonor, kiri=kanan
- Auskultasi : vesikuler, kiri=kanan, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : status obstetrikus
Genitalia : status obstetrikus
Ekstremitas : edema -/-, Refleks Fisiologis +/+, Refleks Patologis -/-

Status Obstetrikus
Abdomen
 Inspeksi : perut tampak membuncit
 Palpasi : teraba massa setinggi pusat, nyeri tekan (+), nyeri lepas (-),
defans muscular (-)
 Perkusi : Timpani
 Auskultasi : Bising usus (+) normal

Genitalia
 Inspeksi : Vulva / Uretra tenang, perdarahan pervaginam (-)

Diagnosis Kerja
Tumor uterus + anemia sedang

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Hb : 7,9 gr/dl Kalium : 3,6 mmol/L
Leukosit : 7.930/mm3 Klorida : 111 mmol/L
Ht : 27 % Ureum : 15
Trombosit : 496.000/mm3 Kreatinin : 0,6
PT : 10,3 Natrium : 139 mmol/L
APTT : 39,4
Kesan: anemia sedang,
trombositosis, APTT melebihi nilai
rujuka
USG
Tampak uterus antefleksi ukuran
12,19 x 8,29 x 12,14 cm.
Endometrium line (+) terdorong ke
anterior. Tampak massa hiper dan
hipoechoic ukuran 5,8 x 3,55, 3,41
x 3,39 dan 5,77 x 2,65 cm. Tampak
massa kistik kemungkinan berasal
dari adnexa kanan ukuran 7,11 x
5,09 cm, ovarium kiri ukuran 2,36
x 2,07 cm
Kesan: Suspek adenomioma, kista ovarium dextra

Diagnosis
Tumor uterus + anemia sedang

Rencana :
• Transfusi PRC 4 unit, FFP 2 unit
• Inj. Ceftriaxone 1x1
• Laparatomi
DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang wanita usia 44 tahun yang didiagnosa dengan ca
corpus uteri + anemia sedang. Dari pemeriksaan dapat diporeleh temuan klinis yang
menyokong seperti perdarahan abnormal yang sesuai dengan kepustakaan yang mejelaskan
bahwa ditemukan pada 80% wanita. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menjelaskan
bahwa 80 % pasien wanita mengalami perdarahan abnormal. Pasien ini tidak mempunyai
anak, di mana sesuai dengan kepustakaan bahwa wanita nulipara mempunyai risiko 2 kali
lebih besar untuk berkembangnya kanker endometrium.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan perut tampak membuncit dan teraba massa setinggi
pusat dengan adanya nyeri tekan. Pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, tes fungsi
ginjsl, tes fungsi hati, dan elektrolit dilakukan untuk menyingkirkan adanya penyakit
sistemik. Pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen perlu dilakukan untuk
mengindentifikasi lokasi primer dari kanker. Hasil pemeriksaan USG memperlihatkan bahwa
tampak massa hiper dan hipoechoic dengan ukuran 5,8 x 3,55, 3,41 x 3,39 dan 5,77 x 2,65
cm. Tampak massa kistik yang kemungkinan berasal dari adnexa kanan dengan ukuran 7,11 x
5,09 cm, ovarium kiri ukuran 2,36 x 2,07 cm dengan kesan suspek adenomioma, kista
ovarium dextra. Didapatkan kesan tumor solid regio pelvis yang sugestif tumor corpus uteri.
Pada pasien telah dilakukan laparatomi. Dari eksplorasi tampak uterus besar abnormal
sebesar tinju orang dewasa, terdapat perlengkatan pada uterus dengan sigmoid dan
ditegakkan suspek ca corpus stadium lanjut. Dilakukan adhesiolisis untuk membebaskan
perlengketan dan dilakukan optimal debulking untuk mengangkat tumor terkait. Dilakukan
eksis pada uterus, kedua ovarium, dan KGB yang kemudian specimen dikirim untuk
pemeriksaan PA.
DAFTAR PUSTAKA

1. Creasman W, Benny L. Endometrial Carcinoma: Practice Essentials, Background,


Etiology. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 24 December 2018]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/254083-overview#a5.
2. Anwar M, Baziad S, Prabowo R. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2011.
3. Amant F, Mirza M, Kokas M, Creutzberg C. Cancer of the corpus uteri. International
Journal of Gynecology and Obstetrics. 2015;131:96-104.
4. Greven K, Markman M, Miller D. Uterine Corpus Tumors [Internet]. Cancer Network.
2015 [cited 25 December 2018]. Available from:
http://www.cancernetwork.com/cancer-management/uterine-corpus-tumors