Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH KERAJAAN INDRAGIRI

 1.    Kerajaan Keritang
Kawasan Indragiri sebelumnya Sampai tahun 1515, berdasarkan catatan perjalanan Tomé
Pires dalam Suma Oriental kawasan Indragiri masih disebutkan sebagai kawasan pelabuhan raja
Minangkabau, namun wilayah ini diberi kebebasan mengatur urusan dalam dan luar negerinya
sendiri. Wilayah kerajaan ini dilalui oleh Batang Kuantan (atau disebut juga Sungai Indragiri pada
kawasan hilirnya), di mana hasil bumi dari kawasan pedalaman Minangkabau dulunya
didistribusikan melalui sungai ini, yang berhulu pada Danau Singkarak (sekarang masuk wilayah
Provinsi Sumatera Barat) dan bermuara pada kawasan pesisir timur Pulau Sumatera.
 
Hampir seluruh Kesultanan (kerajaan Islam) di Riau mempunyai pertalian historis dengan
Imperium Melaka dan Johor, begitu pula para Raja/Sultan pada beberapa kerajaan besar di Riau
mempunyai hubungan pertalian darah dengan raja-raja di Semenanjung Tanah Melayu, seperti
kerajaan Rokan, Pelalawan, Siak Sri Indrapura dan Indragiri.
 
Sebelum lahir kesultanan Indragiri, telah ada kerajaan Keritang yang menjadi cikal bakal
kerajaan Indragiri. Sejarah kerajaan Indragiri bermula dari dijadikannya wilayah ini sebagai hadiah
perkawinan antara Raden Galuh Candra Kirana (puteri Bathara Majapahit yang menguasai kerajaan
Keritang) dengan Sultan Mansyur Syah (Raja Melaka). Melalui ikatan perkawinan tersebut Yang
Mulia Tun Bijaya Sura lalu meminta Keritang menjadi jajahan (dibawah penguasaan Melaka).
 
Cikal-bakal berdirinya Kesultanan Indragiri tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Kerajaan
Keritang. Nama Keritang diperkirakan berasal dari istilah “akar itang” yang diucapkan dengan lafal
“keritang”. Sementara Itang adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di sepanjang
anak Sungai Gangsal bagian hulu yang menjalar di sepanjang tebing-tebing sungai. Sungai Gangsal
mengaliri wilayah Kota Baru, ibu kota Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
Selain pemaknaan di atas, ada pula yang menyebut bahwa nama Keritang identik dengan istilah
“Kitang”, yaitu sejenis siput yang berhabitat di hulu Sungai Gangsal.
 
Asal-muasal Kerajaan Kelintang berawal dari keruntuhan Kerajaan Sriwjaya yang berpusat
di Palembang. Pada akhir abad ke-13, Kerajaan Sriwijaya mulai rapuh karena adanya serangan dari
luar, antara lain dari Kerajaan Cola (India) yang menyerbu dari arah utara dan kemudian ekspedisi
Majapahit dari sebelah timur. Namun, dalam catatan perjalanan Marcopolo yang ditulis pada 1292,
nama Kerajaan Sriwijaya tidak disebut-sebut lagi. Hal ini sepertinya menunjukkan bahwa pada masa
itu Sriwijaya sudah terpecah-pecah. Salah satunya kerajaan yang menjadi pecahan Sriwijaya adalah
Kerajaan Keritang yang kemudian menjadi Kesultanan Indragiri. Sama seperti Sriwijaya, Keritang
adalah kerajaan yang bercorak Buddha.
 
Raja pertama Keritang adalah Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang (1298-1337) yang
berturut-turut dilanjutkan oleh Naja Singa I (1337-1400) sebagai Raja Keritang ke-2 kemudian Raja
Merlang II (1400-1473). Pada era berikutnya, pengaruh Islam sudah mulai masuk ke wilayah
kerajaan ini. Raja yang selanjutnya, yakni Nara Singa II (1473- 1508) diketahui telah memeluk
agama Islam. Nara Singa II, Raja Keritang yang ke-4, mendirikan Kesultanan Indragiri sejak tahun
1508 dan berkuasa hingga tahun 1532 sebagai sultan pertama Indragiri.
 
Kerajaan Keritang sempat menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit. Seiring Islam
masuk ke nusantara, wilayah Keritang dikendalikan oleh Kesultanan Malaka. Ketika masih di bawah
kuasa Majapahit, Raja Merlang diperkenankan untuk tetap berada di tengah-tengah rakyatnya. Akan
tetapi, setelah Keritang dikuasai Kesultanan Malaka, Raja Merlang tidak diperbolehkan lagi tetap
menetap di Keritang, melainkan dibawa ke Malaka. Kebijakan ini sangat menguntungkan bagi
Malaka karena dengan demikian Keritang lebih mudah diawasi.
 
Dominasi Malaka terhadap Keritang semakin kuat ketika Raja Merlang dikawinkan dengan
Putri Bakal, anak perempuan Sultan Mansyur Syah, pemimpin Kesultanan Malaka. Ikatan
perkawinan itu, di samping mengokohkan kedudukan Sultan Malaka di daerah jajahan, dilakukan
juga dengan harapan agar Raja Merlang betah tinggal di Malaka. Dari perkawinan dengan Putri
Malaka itu, Raja Merlang memperoleh putra yang diberi nama Nara Singa (1337-1400) dan
dibesarkan di lingkungan Kesultanan Malaka. Ketika Kesultanan Malaka dipimpin oleh Sultan
Mahmud Syah I (1488-1511), Nara Singa diambil menantu oleh Sultan. Ketika Nara Singa
dinobatkan sebagai Raja Keritang, dia tetap tidak diperbolehkan tinggal di Keritang. Demikian pula
yang terjadi kepada raja-raja penerus tahta Kerajaan Keritang yang selanjutnya, yakni Raja Merlang
II hingga kemudian Nara Singa II (1473- 1508).
 
Selama keluarga Kerajaan Keritang berada di Malaka, pemerintahan dijalankan oleh Datuk
Patih dan Datuk Temenggung Kuning, serta beberapa pejabat Kerajaan Keritang lainnya. Meski
pemerintahan Kerajaan Keritang dapat tetap berjalan, namun seringkali terjadi perselisihan antara
Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning. Masalah terpelik yang terjadi di antara kedua menteri
itu adalah soal agama yang merembet ke ranah politik. Datuk Temenggung Kuning telah memeluk
agama Islam, sementara Datuk Patih masih menganut kepercayaan lama. Persoalannya adalah,
apabila ada orang yang berada di bawah kuasa Datuk Patih memeluk Islam, maka orang itu
dipersilahkan untuk pindah ke daerah yang dipimpin Datuk Temenggung Kuning. Akibatnya,
semakin lama orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Datuk Patih kian berkurang karena
semakin banyak pula orang yang memeluk Islam.
 
Raja Kecik Besar merupakan nama sanjungan Baginda karena sejak lahir ia telah diangkat
sebagai Putramahkota dan kemudian menjadi Raja Melaka  IV dengan Gelar Malik al-Muluk (1276-
1434 M). Baginda menjalankan politik yang sangat pokta perihal kerajaan Keritang yang
dikuasainya. Untuk memperkokoh kekuasaannya Baginda mengganti kerajaan Keritang menjadi
Indragiri dengan melantik putranya bernama  Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I
(Putramahkota kerajaan Melaka) sebaga Sultan Indragiri pertama (1298-1337 M).
 
Alasan Baginda menobatkan putranya adalah untuk menghadapi ekspedisi Pamalayu yang
dilakukan oleh Karta Negara (Kerajaan Singosari) yang telah berhasil menguasai Jambi dan
mengancam keberadaan Indragiri. Untuk menghadapi Darmasraya dari Jambi, Baginda merajakan
puteranya dan memberitahukan kepada Raja Singosari bahwa wilayah Indragiri berdaulat sendiri.
Politik Baginda ini berhasil; Singosari mengurungkan niatnya menyerang Indragiri dan meneruskan
ekspansinya ke Minangkabau sehingga selamatlah Indragiri.
 
Walau Raja Kecik Mambang alias Raja Merlang I adalah sultan Indragiri pertama, namun
Baginda menetap dan berkedudukan di Melaka. Setelah menikah dengan puteri Kerabat Diraja,
memperoleh anak bernama Nara Singa I kemudian dinobatkan sebagai Sultan Indragiri II bergelar
Raja Iskandar (1337-1400 M).[2]
 
2.    Dari Keritang ke Indragiri
Berdasarkan catatan dalam kitab Negarakrtagama karya Mpu Prapanca,
nama Indragiri disebut dengan nama Keritang. Oleh karena Keritang terletak di wilayah yang
kemudian dikenal dengan nama Indragiri, maka diperkirakan bahwa Kerajaan Keritang inilah yang
kelak berkembang menjadi Kesultanan Indragiri. Mengenai nama Indragiri sendiri, ada ahli-ahli
sejarah dari Eropa yang pernah menyebutnya. Kamus A Malay-English Dictionary yang disusun
Richard James Wilkinson (1867-1941), mencantumkan nama Indragiri. Dalam kamus yang
diterbitkan pada 1932 ini, Indragiri diartikan sebagai Indra‘s Mountain: an East Coast Sumatra
Sultanate on a river of the same name atau “Gunung Tempat Dewa Indra: Suatu kesultanan di
Pesisir Timur Sumatra dekat sungai yang bernama sama (nama kerajaan dan sungai adalah sama,
yaitu Indragiri)”.
 
Dalam Nieuw Malaeisch-Nedelandsch Woordenboek – Met Arabisch Karakter, kamus
susunan Hillebrads Cornelius Klinkert (1829-1913) terbitan tahun 1892, nama Indragiri diartikan
sebagai nama sebuah kerajaan di Pantai Timur Pulau Sumatra dan nama sungai yang mengaliri
kerajaan itu.[3] Ada pula yang mengatakan bahwa Indragiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
“Indra” yang berarti mahligai dan “Giri” yang berarti kedudukan yang tinggi atau negeri, sehingga
makna Indragiri adalah Kerajaan Negeri Mahligai.
 
Konflik internal di dalam Kerajaan Keritang, ditambah dengan perlakuan yang tidak adil dari
orang-orang Malaka terhadap rakyat Keritang, membuat Nara Singa II resah dan berkeinginan untuk
kembali ke kerajaannya. Dengan alasan mencari hiburan bersama istri tercintanya, Nara Singa II
akhirnya diperbolehkan kembali ke Keritang. Nara Singa II tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan
segera menyusun rencana dengan para pengikutnya. Ketika sudah berhasil meninggalkan Malaka,
terdengarlah kabar bahwa Nara Singa II diculik. Kabar penculikan ini sengaja dihembuskan sebagai
bagian dari taktik agar Nara Singa II dapat melepaskan diri dari Malaka.
 
Keinginan Narasinga  untuk kembali ke Inderagiri sejalan dengan kehendak rakyat dan
pemerintah di Inderagiri untuk menjemput Raja Melaka. Kedatangan Narasinga memang diharapkan
untuk  menyelesaikan perbedaan pendapat antara Datuk Patih dan Datuk Temenggung, terutama
mengenai dasar hukum yang berlaku di Inderagiri. Datuk Patih menolak syariat Islam sebagai dasar
hukum untuk menjalankan pemerintahan. Dia menginginkan sebagai dasar pemerintahan menurut
adat lama, adat bukan Islam. Sebaliknya Datuk Temenggung sebagai penganut Islam menginginkan
dasar hukum yang di perlakukan menurut syariat Islam.
 
Setelah Narasing sampai ke sungai Keruh atau disebut Sungai Inderagiri, Rakit Kulim yang
di tumpanginya merapat di kampung Perigi Raja. Setelah sampai di Pekantua rombongan itu
berhenti dan mereka akan tinggal dan menetap disana, karena Pekantua ketinggian dari permukaan
air dan tidak jauh dari muara sungai sehingga cocok untuk tempat tinggal. Setelah Pekantua dipilih
sebagai tempat tinggal rombongan Narasinga, maka dia di lantik menjadi Sultan Inderagiri dengan
gelar Maulana Paduka Sri Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan  pada tahun 1508. Pelantikan itu
dilakukan Datuk Patih, setelah terlebih dahulu Datuk Raja Mahkota memasang “Mahkota Raja” ke
atas kepala Sultan. Sesudah Narasinga dilantik sebagai Sultan maka selanjutnya dilantik pula Tun
Ali untuk menjadi Bendahara sebagai kelengkapan perangkat pemerintahan kerajaan itu. Tun Ali
diangkat dan diberi gelar “Raja di Balai” dengan tugasnya menyelesaikan perkara-perkara
pengadilan dan urusan penghasilan kerajaan.
 
Selanjutnya, Nara Singa II bersama para pengikutnya memindahkan pusat kerajaan dari
Keritang ke Pekantua, tidak jauh dari Sungai Indragiri. Perpindahan tersebut terkait dengan
kepercayaan bahwa suatu tempat yang telah ditinggalkan tidak baik untuk dijadikan pusat
pemerintahan. Keritang merupakan kota yang diambil-alih Malaka sebagai daerah jajahan, maka
menurut keyakinan magic religious, kota atau kraton yang telah dikalahkan itu harus ditinggalkan.[6]
Nara Singa II akhirnya dinobatkan menjadi pemimpin di Pekantua dan inilah tanda bahwa
Kesultanan Indragiri telah berdiri. Sebagai sultan pertama Kesultanan Indragiri, gelar untuk Nara
Singa II adalah Maulana Paduka Sri Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan. Gelar ini menandakan
bahwa unsur Islam sudah masuk dan menebar pengaruh di Indragiri dan sekitarnya.
 
Pada era pemerintahan Sultan Indragiri pertama, ibu kota kerajaan dipindahkan lagi, yakni
ke Mudoyan, yang dikenal juga dengan nama Kota Lama, yang terletak di sebelah hulu Pekantua.
Jarak antara Pekantua dengan Kota Lama kurang lebih 50 kilometer lewat jalan darat. Perpindahan
pusat pemerintahan Kesultanan Indragiri tersebut disebabkan karena kurang amannya Pekantua
dari kemungkinan serangan Portugis dan ancaman gerombolan perompak. Belum diketahui kapan
pastinya waktu pemindahan itu namun yang jelas, waktu pemindahan itu paling lambat dilakukan
pada 1532 karena di tahun itu Maulana Paduka Sri Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan atau Nara
Singa II meninggal dunia dan dimakamkan di Kota Lama.[7] Pada 1765, pusat pemerintahan
Kesultanan Indragiri berpindah lagi, kali ini ke Raja Pura atau Japura. Sejak 5 Januari 1815, yakni
pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1784-1815), Sultan Indragiri ke-15, ibu kota Indragiri
pindah ke Rengat. Beberapa peneliti menduga, selain adanya tekanan dari kolonialis04/07/12
Kesultanan Indragiri ibu kota Indragiri pindah ke Rengat. Beberapa peneliti menduga, selain adanya
tekanan dari kolonialis Belanda, pemindahan ibu kota Kesultanan Indragiri dari Japura ke Rengat
juga dikarenakan tersedianya biaya untuk pembangunan istana baru yang lebih megah.[8]
 
Sultan pertama Indragiri, Alauddin Iskandar Syah Johan, bertahta sampai akhir hayatnya
yakni tahun 1532. Setelah itu, pucuk pimpinan Kesultanan Indragiri berturut dilanjutkan oleh penerus
Alauddin Iskandar Syah Johan, yaitu Sultan Indragiri ke-2 Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-
1557), kemudian Sultan Ahmad dengan gelar Sultan Mohammadsyah (1557-1599) sebagai
pemimpin Kesultanan Indragiri yang ke-3, hingga Sultan Jamaluddin Kramatsyah (1599-1658). Pada
era pemerintahan pemimpin ke-4 Kesultanan Indragiri inilah kaum imperialis Eropa datang dan
lantas menanamkan pengaruhnya di Indragiri.
 
B.  Perkembangan Kesultanan Indragiri
1.    Kesultanan Indragiri pada Era Kolonial Belanda
Tahun 1602, kapal milik bangsa Belanda yang dipimpin oleh nahkoda Heemskerck berlabuh
di Johor dengan tujuan awal untuk berdagang. Pada saat itu, Kerajaan Johor-Riau yang dipimpin
Sultan Alauddin Riayat Syah II sedang menghadapi sejumlah peperangan, antara lain dengan
Portugis dan Aceh serta Patani.
 
Kerajaan Johor-Riau kemudian mengajak Belanda bekerjasama untuk melawan musuh-
musuhnya itu. Sebagai strategi untuk meluaskan pengaruh dan jejaring niaganya di Selat Malaka,
kompeni Belanda mendirikan loji di Indragiri pada 1615. Sultan Jamaluddin Kramatsyah (1599-1658)
sebagai penguasa Kesultanan Indragiri saat itu mengizinkan aktivitas dagang Belanda di wilayahnya
dengan harapan akan dapat meningkatkan perdagangan di Indragiri. Namun, harapan Sultan
Jamaluddin Kramatsyah dan Belanda tidak berjalan mulus karena adanya persaingan dari
pedagang-pedagang Cina, Portugis, dan Inggris. Sementara Belanda sendiri kurang mampu
berkonsentrasi menangani perdagangannya di Indragiri karena sedang memusatkan perhatiannya
untuk Batavia. Akibatnya, pada 1622 kantor dagang atau loji Belanda di Indragiri terpaksa ditutup.[9]
 
Karena kerjasama dengan Belanda tidak berjalan lagi, Indragiri mengalihkan jalinan
niaganya ke Minangkabau. Namun, hubungan itu menimbulkan polemik dengan Kesultanan Aceh
Darussalam. Pasalnya, hasil lada dan emas dari Minangkabau yang sebelumnya dibawa ke
Padang, Tiku Pariaman, dan Bandar Sepuluh, yang berada di bawah pengaruh Aceh, menjadi
berkurang. Karena merasa tersaingi dalam perdagangan, Aceh Darussalam menyerang Indragiri
dan Johor pada 1623. Selain itu, Aceh juga menyerbu wilayah lainnya yang dianggap merugikan
perdagangannya. Penyerangan Aceh ke Indragiri, Aru, Pahang, Kedah, Perak, dan Johor dilakukan
dalam waktu yang berdekatan.
 
Tujuan utama penyerbuan Aceh Darussalam ke Indragiri adalah untuk memutuskan
hubungan perdagangan lada antara Kesultanan Indragiri dengan Minangkabau. Ketika akhirnya
Aceh Darussalam dapat mewujudkan tujuannya itu, yaitu kira-kira awal tahun 1624, kiriman lada dari
Minangkabau ke Indragiri tiap bulan menurun drastis. Bagi daerah-daerah yang tunduk di bawah
kekuasaan Aceh, Sultan Iskandar Muda (1607-1636), penguasa Kesultanan Aceh Darussalam,
menuntut 15% dari produksi emas dan lada sebagai upeti, sedangkan sisanya harus dijual sesuai
dengan harga yang ditetapkan Aceh.
 
Karena perdagangan yang semakin terdesak akibat pendudukan Aceh Darussalam, Indragiri
kemudian mencoba menjalin hubungan kembali dengan Belanda. Sultan Jamaluddin Kramatsyah
mengirim surat kepada Antonio van Dieman, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, pada 1641.
Dalam suratnya, Sultan Jamaluddin Kramatsyah meminta kepada Belanda supaya membuka
kembali kantor dagang di Indragiri. Setelah beberapa kali berusaha, keinginan Sultan Jamaluddin
Kramatsyah terpenuhi dengan kedatangan Joan van Wesenhage, utusan Belanda dari Batavia, ke
Indragiri.
Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Jamaluddin Sulemansyah (1658-1669)
sebagai Sultan Indragiri ke-5, disepakati perjanjian dengan Belanda tentang hubungan perdagangan
antara kedua belah pihak. Perjanjian yang ditandatangani oleh Sultan Jamaluddin Sulemansyah dan
Joan van Wesenhage tersebut dikenal dengan nama Renovatie van het Contract van 27 October
1664, sesuai dengan tanggal penandatanganan hasil perundingan. Isi dari perjanjian itu antara lain:
(1) Belanda diberi hak memonopoli dalam perdagangan lada; dan (2) Bea murah bagi masuk dan
keluarnya barang-barang milik Belanda dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Indragiri.[12]
Berdasarkan perjanjian tersebut, Belanda diperbolehkan membangun kembali kantor dagangnya di
Indragiri di Kuala Cenaku.
 
Namun, pada 1679, kantor dagang Belanda di Kuala Cenaku diserang oleh 100 orang
Banten di bawah pimpinan Pangeran Arja Suria dan Ratu Bagus Abdul Kadir. Sejak itu, kantor
dagang Belanda di Indragiri tersebut kembali ditutup.
 
Hubungan antara Belanda dengan Kesultanan Indragiri pada era pemerintahan kolonial
Hindia Belanda mengalami pasang surut, kendati kerugian lebih sering diderita oleh pihak
Kesultanan Indragiri. Misalnya ketika Indragiri di bawah pemerintahan Sultan Ibrahim (1784-1815),
Belanda mulai campur tangan dalam urusan internal kerajaan dengan mengangkat Sultan Muda
yang berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah dari Hilir hingga Japura.
Pada masa kepemimpinan Sultan Indragiri yang terakhir, Sultan Mahmudsyah (1912-1963), posisi
Kesultanan Indragiri sebagai kerajaan yang berdaulat semakin terjepit. Sultan tidak mampu berbuat
banyak menghadapi tekanan Belanda. Di samping itu, Belanda juga melarang rakyat Indragiri
mengadakan rapat atau berkumpul lebih dari tiga orang, kecuali acara dakwah agama, itu pun
dengan pengawasan ketat. Apabila isi ceramah dalam dakwah tersebut dianggap terlalu berani,
maka orang-orang yang terkait dengan acara dakwah itu akan ditangkap dan diproses menurut
hukum yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial.
 
  Tanggal 27 September 1938, disepakatilah Tractaat van Vrindchaap (perjanjian perdamaian
dan persahabatan) antara Kesultanan Indragiri dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang
menghasilkan keputusan bahwa Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur (semacam daerah
otonomi) dan berdasarkan ketentuan tersebut akan ditempatkan seorang controlleur (pengawas dari
pemerintah kolonial) wilayah Indragiri Hilir yang membawahi 6 daerah yang berupa wilayah
keamiran, yaitu antara lain: Amir Tembilahan di Tembilahan, Amir Batang Tuaka di Sungai Luar,
Amir Tempuling di Sungai Salak, Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah, Amir Enok di Enok,
serta Amir Reteh di Kotabaru.
 
2.    Kesultanan Indragiri di Masa Penjajahan Jepang
Sejak 31 Maret 1942, tentara Jepang berhasil masuk Indragiri melalui Singapura terus ke
Rengat. Tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan tanpa syarat dari pihak Belanda atas
Indragiri. Pada masa pendudukan Jepang ini, Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang
berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu: Ku Cho Tembilahan dan
Tempuling di Tembilahan, Ku Cho Sungai Luar, Ku Cho Enok, Ku Cho Reteh, dan Ku Cho Mandah.
Sebelum tentara Jepang mendarat di Indragiri, telah dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang
dipelopori oleh Ibnu Abbas. Pemerintahan Jepang di Indragiri bertahan sampai bulan Oktober 1945,
yakni lebih kurang selama 3,5 tahun.
 
3.    Kesultanan Indragiri di Masa Kemerdekaan
Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Indragiri (Hulu dan Hilir) masih menjadi satu
kabupaten. Indragiri terdiri atas 3 kawedanan, yaitu Kawedanan Kuantan Singingi beribu kota Teluk
Kuantan, Kawedanan Indragiri Hulu beribu kota Rengat, dan Kawedanan Indragiri Hilir beribu kota
Tembilahan. Selanjutnya, berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1965 tanggal 14 Juni 1965,
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49, Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir resmi
menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) sebagai
salah satu kabupaten di Provinsi Riau terhitung tanggal 20 November 1965. (Iswara NR/Ker/06/10-
2009).
 
 
 
C.  Silsilah, Sistem Pemerintahan dan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Indragiri
 1.    Silsilah Raja-raja Indragiri
Kerajaan Inderagiri merupakan sebuah Kerajaan Melayu, wilayah kekuasaannya sekarang
meliputi Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia.
Berikut silsilah raja/sultan yang pernah berkuasa di Kerajaan Keritang/Kesultanan Indragiri:[16]
 
1. Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang (1298-1337) Raja Keritang ke-1.
2. Nara Singa I (1337-1400) Raja Keritang ke-2.
3. Raja Merlang II (1400-1473). Raja Keritang ke-3
4. Nara Singa II (1473-1508) Raja Keritang ke-4 yang kemudian mendirikan Kesultanan Indragiri
atau Raja Indragiri ke-1 dengan gelar Sultan Iskandar
5. Alauddin Syah (1508-1532). Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-1557) Sultan Indragiri ke-2.
6. Raja Ahmad atau Sultan Mohammadsyah (1557-1599) Sultan Indragiri ke-3.
7. Raja Jamaluddin bergelar Sultan Jamaluddin Kramatsyah (1599-1658) Sultan Indragiri ke-4.
8. Sultan Jamaluddin Sulemansyah (1658-1669) Sultan Indragiri ke-5.
9. Sultan jamaluddin Mudoyatsyah (1669-1676) Sultan Indragiri ke-6.
10.  Sultan Usuludin Ahmadsyah (1676-1687) Sultan Indragiri ke-7.
11.  Sultan Abdul Jalil Syah (1687-1700) Sultan Indragiri ke-8.
12.  Sultan Mansursyah (1700-1704) Sultan Indragiri ke-9.
13.  Sultan Mohammadsyah (1704-1707) Sultan Indragiri ke-10.
14.  Sultan Musyaffarsyah (1707-1715) Sultan Indragiri ke-11.
15.  Raja Ali Mangkubumi Indragiri bergelar Sultan Zainal Abidin Indragiri (1715-1735) Sultan
Indragiri ke-12.
16.  Raja Hasan bergelar Sultan Hasan Salahuddinsyah (1735-1765) Sultan Indragiri ke-13.
17.  Raja Kecil Besar bergelar Sultan Sunan (1765-1784) Sultan Indragiri ke-14.
18.  Sultan Ibrahim (1784-1815) Sultan Indragiri ke-15.
19.  Raja Mun (1815-1827) Sultan Indragiri ke-16.
20.  Raja Umar atau Sultan Berjanggut Kramat (1827-1838) Sultan Indragiri ke-17.
21.  Raja Said atau Sultan Said Mudoyatsyah (1838-1876) Sultan Indragiri ke-18.
22.  Raja Ismail bergelar Sultan Ismailsyah (1876-1877) Sultan Indragiri ke-19.
23.  Tengku Husin bergelar Sultan Husinsyah (1877-1883) Sultan Indragiri ke-20.
24.  Tengku Isa atau Sultan Isa Mudoyatsyah (1887-1903) Sultan Indragiri ke-21.
25.  Tengku Mahmud atau Sultan Mahmudsyah (1912-1963) Sultan Indragiri ke-22.
 
2.    Sistem Pemerintahan
Kesultanan Indragiri memiliki sistem pemerintahan khas yang dibangun oleh orang-orang
Melayu secara turun-temurun. Model pemerintahan yang berlaku di dalam Kesultanan Indragiri yang
bercirikan Islam telah memperkuat pertumbuhan dan perkembangan budaya Melayu. Upacara-
upacara keagamaan di Indragiri tidak bisa dilepaskan dari Islam dan diaktualisasikan dalam
kehidupan sehari-hari
 
Sistem pemerintahan yang berlaku di Kesultanan Indragiri mengalami perkembangan dari
waktu ke waktu. Dalam menjalankan pemerintahannya, pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan
Indragiri, Nara Singa II atau Maulana Paduka Sri Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan, didampingi
bendahara kerajaan bernama Tun Ali dan diberi gelar “Raja di Balai”.[18] Posisi bendahara kerajaan
pada masa itu adalah jabatan yang prestisius karena hanya orang terdekat dan yang paling
dipercaya oleh Sultan sajalah yang bisa menduduki posisi ini.
 
Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan masih memiliki sejumlah hamba setia, antara lain
Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning serta beberapa orang lainnya. Selama Sultan Alauddin
Iskandar Syah Johan berada di Malaka karena tidak diperkenankan tinggal di Indragiri oleh Sultan
Malaka, pemerintahan di Kerajaan Keritang/Kesultanan Indragiri dijalankan oleh hamba-hamba setia
tersebut.
 
Sistem pemerintahan yang mulai terkonsep sejak masa pemerintahan Sultan Alauddin
Iskandar Syah Johan ditingkatkan dan disempurnakan menjadi Undang-Undang Kesultanan pada
rezim Sultan Hasanuddin (1735-1765). Undang-Undang Kesultanan Indragiri itu meliputi Undang-
Undang Adat Kerajaan Indragiri, Peradilan Adat Kerajaan, Panji-Panji Raja, serta Menteri
Kerajaan[19]. Undang-Undang Kesultanan Indragiri diuraikan sebagai berikut:
 
a.    Struktur Pemerintahan Berdasarkan Lembaga Undang-Undang Adat
Terdiri dari Beraja nan Berdua, meliputi:
(1) Yang Dipertuan Besar Sultan;
(2) Yang Dipertuan Muda, dan Berdatuk nan Berdua yang meliputi:
(a) Datuk Temenggung;
(b) Datuk Bendahara.
 
b.    Menteri nan Delapan
Yaitu Menteri-menteri Kesultanan Indragiri atau sebagai Pembantu Datuk Bendahara, berjumlah
delapan orang:
(1) Sri Paduka,
(2) Bentara,
(3) Bentara Luar,
(4) Bentara Dalam,
(5) Majalela,
(6) Panglima Dalam,
(7) Sida-Sida, dan
(8) Panglima Muda.
 
c.    Tiga Datuk di Rantau
Meliputi Orang-Orang Kaya sebagai berikut:
(1)     Orang Kaya Setia Kumara di Lala,
(2)     Orang Kaya Setia Perkasa di Kelayang, serta
(3)     Orang Kaya Setia Perdana di Kota Baru.
 
Penghulu nan Tiga Lorong,
Terdiri atas:
(1) Yang Tua Raja Mahkota, di Batu Ginjal, Kampung Hilir;
(2) Lela di Raja, di Batu Ginjal, Kampung Hilir; dan
(3) Dana Lela, di Pematang.
 
Kepala Pucuk Rantau
Mencakup:
(1) Tun Tahir di Lubuk Ramo;
(2) Datuk Bendahara di sebelah kanan; serta
(3) Datuk Temenggung di sebelah kiri.[20]
 
Selain itu, terdapat juga Peradilan Adat Kesultanan Indragiri yang mengurusi hukum pidana maupun
perdata. Peradilan Adat Kesultanan Indragiri meliputi dua mahkamah. Pertama adalah Mahkamah
Besar, dengan keanggotaan yang terdiri dari Yang Dipertuan Muda, Datuk Bendahara, dan
beberapa anggota lain yang dipilih oleh Sultan Indragiri. Setiap keputusan Mahkamah Besar
disampaikan oleh Datuk Bendahara kepada Sultan Indragiri.
Mahkamah kedua adalah Mahkamah Kecil yang mencakup wilayah di desa-desa di bawah kendali
seorang Penghulu. Pada perkembangannya, Mahkamah Kecil ini kemudian dikepalai oleh Amir atau
Camat pada masa sekarang. Di samping itu ada pula Hukum Pidana Adat yang dikuasai Raja dan
Orang Banyak, serta Hukum Perdata mengenai Hukum Salo (damai), pengaduan tentang kerugian,
dan batas putusan Penghulu.[21]
 
3.    Wilayah Kekuasaan
Sultan Nara Singa II atau Maulana Paduka Sri Sultan Alauddin Iskandar Syah Johan
menunjuk sejumlah pejabat untuk mewakili dirinya di beberapa daerah kekuasaan Kesultanan
Indragiri. Salah seorang pejabat terdekat Sultan yang bernama Datuk Patih, dianugerahi gelar
sebagai Raja di Padang yang membawahi daerah-daerah pedalaman dan sejumlah tempat di
pesisir sungai selain Sungai Indragiri. Sedangkan seorang pejabat lainnya, yakni Datuk
Temenggung Kuning, diangkat menjadi Raka di Rantau yang menguasai tempat-tempat di
sepanjang tepi sungai Indragiri dan sungai-sungai besar lainnya, seperti desa-desa di sebelah hilir
Batu Sawar dan di sepanjang tepi Batang Kuantan.
 
Pada masa Sultan Hasanuddin (1735-1765), terdapat pembagian wilayah kekuasaan
Kesultanan Indragiri, meliputi: (1) Daerah Cenaku, terdiri atas 3 daerah perbatinan, meliputi Pungkil,
Pulau Serojan, dan Sanglap; (2) Daerah Gangsal, terdiri dari Nan Tua Riye Belimbing, Riye
Tanjung, dan Pemuncak di Rantau Langsat; (3) Daerah Tiga Balai, terdiri dari Dian Cacar, Parit, dan
Perigi; (4) Daerah Batin nan Enam Suku, meliputi Igal, Mandah, Pelanduk, Bantaian, Pulau Palas,
serta Batang Tuaka; (4) Daerah Kuantan, mencakup Cerenti Tanah Kerajaan, Ujung Tanah
Minangkabau, dan Kerajaan Tua Gadis
 
Tanggal 27 September 1938, disepakatilah Tractaat van Vrindchaap (perjanjian perdamaian
dan persahabatan) antara Kesultanan Indragiri dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang
menghasilkan keputusan bahwa Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur (semacam daerah
otonomi) dan berdasarkan ketentuan tersebut akan ditempatkan seorang controlleur (pengawas dari
pemerintah kolonial) wilayah Indragiri Hilir yang membawahi 6 daerah yang berupa wilayah
keamiran, yaitu antara lain: Amir Tembilahan di Tembilahan, Amir Batang Tuaka di Sungai Luar,
Amir Tempuling di Sungai Salak, Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah, Amir Enok di Enok,
serta Amir Reteh di Kotabaru.
 
Sejak 31 Maret 1942, tentara Jepang berhasil masuk Indragiri melalui Singapura terus ke
Rengat. Tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan tanpa syarat dari pihak Belanda atas
Indragiri. Pada masa pendudukan Jepang ini, Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang
berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu: Ku Cho Tembilahan dan
Tempuling di Tembilahan, Ku Cho Sungai Luar, Ku Cho Enok, Ku Cho Reteh, dan Ku Cho Mandah.
Sebelum tentara Jepang mendarat di Indragiri, telah dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang
dipelopori oleh Ibnu Abbas.
 
Pemerintahan Jepang di Indragiri bertahan sampai bulan Oktober 1945, yakni lebih kurang
selama 3,5 tahun. Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Indragiri (Hulu dan Hilir) masih
menjadi satu kabupaten. Indragiri terdiri atas 3 kawedanan, yaitu Kawedanan Kuantan Singingi
beribu kota Teluk Kuantan, Kawedanan Indragiri Hulu beribu kota Rengat, dan Kawedanan Indragiri
Hilir beribu kota Tembilaha