Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH KERAJAAN INDRA GIRI

Nama inderagiri konon katanya berasal dari nama sebuah anak sungai yang terdapat di kawasan
itu yang dulunya bernama pangandalandiri. Selain itu nama inderagiri di tulis sesuai dengan tata
ejaan mengikuti zaman. Umpamanya dalam peta yang dibuat oleh laksemana perancis Agustin
de beaulieu pada abad ke 17 sebagai hasil lawatannya ke Aceh maka nama ini tertulis sebagai
Andrigiri. Demikian pula dengan penulisan nama inderagiri dalam bahasa lain dengan tata-ejaan
yang berubah-ubah senantiasa mengikuti perkembangan kebudayaan. Dalam sejarah melayu
nama inderagiri dapat dijumpai berkali-kali, di dalam salah satu versi Hikayat Hang Tuah
terdapat keterangan tentang inderagiri. Ada juga yang mengatakan Indragiri berasal dari bahasa
sansekerta yaitu "Indra" yang berarti mahligai dan "Giri" yang berarti kedudukan yang tinggi
atau negeri, sehingga kata indragiri diartikan sebagai Kerajaan Negeri Mahligai Kerajaan
Indragiri diperintah langsung dari Kerajaan Malaka pada masa Raja Iskandar yang bergelar
Narasinga I. Pada generasi Raja yang ke 4 (empat) barulah istana Kesultanan Indragiri didirikan
oleh Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan NaraSinga II bergelar Zirullah Fil
Alam beristerikan Putri Dang Purnama, bersamaan didirikannya Rumah Tinggi di Kampung
Dagang. [1] Sebagaimana yang berlaku pada kerajaan-kerajaan melayu lainnya, pusat
pemerintahan kerajaan inderagiri senantiasa berpindah sesuai dengan keadaan dan masa. Pusat
pemerintahan yangbberpindah-pindah itu dapat dilihat dari pentingnya Pekan Tua di masa
lampau, lalu Raja Pura atau Japura atau Jepura. Baru pada tanggal 5 Januari 1815nSultan
Ibrahim yang menjadi sultan kerajaan Indragiri ke-18 (menurut catatan ahli waris tahun 1970-an)
pusat kerajaan itu bertempat di Rengat. Tentang pusat pemerintahan kerajaan inderagiri yang
bernama Jepura ini diterangkan oleh raja Ali haji dalam kamus ensiklopedis monolingualnya
kitab pengetahuan bahasa sebagai berikut : "Jepura yaitu nama tempat di dalam negeri inderagiri,
asalnya disebut tempat kerajaannya, karena disebut tempat baik, jika air besar tiada tenggelam
amat seperti yang disebelah kualanya itu konon adanya". Kerajaan indragi pewaris kerajaan
Kritang. Sejarah Keritang tidaklah banyak yang dapat diketahui jelas. Nama Keritang berasal
dari kata Akar Itang. Itang ialah sebangsa tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di sepanjang
Sungai Gangsal. Akar-akar dari tumbuh-tumbuhan tersebut di atas begitu banyak di tebing-
tebing sungai sehingga menyulitkan bagi perjalananan. Dari kata-kata akar dan itang
terbentuklah Karitang, yang lama-lama kelamaan kebiasaan orang Melayu suka mempermudah
sesuatu ucapan kata tersebut menjadi Karitang dan akhirnya menjadi Keritang. Dalam
Negarakertagama, Keritang disebut sebagai daerah yang takluk kepada Majapahit bersama
Kerajaan Kandis, selain beberapa kerajaan lain di Sumatera yang juga tunduk di bawah
Majapahit. Menyebutkan Keritang bersama-sama dengan kerajaan lain yang mengandung
pengertian bahwa Keritang bukan hanya sekedar kampung, tetapi sudah merupakan suatu
kerajaan cukup besar dan berarti bagi Majapahit yang demikian besar kekuasaannya. Mengenai
masa hidup Kerajaan Keritang ini dapat diperkirakan semasa dengan Kerajaan Kuantan. Tempat
Kerajaan Keritang ini berpusat di sekitar Desa Keritang sekarang ini, yaitu di tepi Sungai
Gangsal di Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir. Kapan lenyapnya kerajaan ini
tidaklah dapat dipastikan, tetapi beberapa petunjuk yang mengarah ke Kerajaan Keritang
disebabkan kehilangan Raja pemangku tahta. Raja di tawan oleh Kerajaan Melaka. Raja Merlang
yang akhirnya meninggal di dalam pengasingan. Ketika dalam penawanan, Raja Merlang
dikawinkan dengan seorang puteri Sulatn Mansyur Syah mempunyai keturunan. Dari rahim
isterinya lahir seorang putera mahkota Kerajaan Keritang. Narasinga, nama putera mahkota itu,
kelak akan dijemput untuk diminta memerintah kembali Kerajaan Keritang, karena sudah lama
kerajaan seperti tidak bertuan. Ketika rakyat Indragiri tidak mempunyai raja, maka datuk Patih
meminta kepada Narasinga, sang putera mahkota yang masih menetap di Melaka untuk pulang
ke Keritang memerintah kerajaan yang tidak memiliki raja. A.    Kerajaan Keritang di Bawah
Kekuasaan Sriwijaya Hampir semua wilayah yang ada di Kepulauan Sumatera berada dalam
wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam catatan perjalanan I-Tsing, sepeninggalannya dari
Sriwijaya, Jambi , tempat ia pernah menetap selama dua bulan, telah menjadi wilayah kekuasaan
Sriwijaya. Menurut Hall (1988), Petunjuk-petunjuk dari catatan-catatan orang Cina dan Batu
Ligor yang ditemukan di Wat Sema-muang, diceritakan pada saat peringatan pendirian tempat
suci Budha Mahayana oleh Raja Sriwijaya pada tahun yang sama dengan dengan 15 April 775.
Disebutkan, perluasan Kerajaan Sriwijaya dan Budha Mahayana sampai ke Semenanjung
Melayu. [2] Menurut Marwati (1992) dari keterangan prasasti yang ditemukan di Telaga Batu,
Sriwijaya memperluas wilayah kekuasaannya mulai daeah Malayu di sekitar Jambi sekarang
sampai ke Pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan serrta berusa menaklukkan Pulau Jawa
yang menjadi saingannya dalam bidang bidang pelayaran dan perdagangan dengan luar
Nusantara. Penaklukan Pulau Bangka diduga erat hubungannya dengan penguasaan perdagangan
dan pelayaan internasional di selat Malaka. Selian letaknya yang strategis, Pulau Bangka pada
masa Sriwijaya menurut Obdeyn (Marwati: 1992), masih bersambung menjadi satu dengan
Semenanjung Tanah Melayu termausk didalamnya Kepuluan Riau dan Lingga. Sehingga dengan
demikian, sangat kuat sekali untuk menghubungkan bahwa kerajaan Keritang juga berada di
bawah kekuasaan Sriwijaya. Sebab daerah yang menjadi perbatasan Kerajaan Keritang, daerah
Jambi dan Semenanjung Melayu berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Pada saat Kerajaan
Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim terbesar menguasai daerah-daearah sekitarnya, seperti,
Bangka, Riau, Lingga, Jambi, Semenanjung Tanah Melayu dan Keritang, sepenuhnya menguasai
lalu lintas perdagangan dan pelayaran dari kerajaan-kerajaan dari Barat ke Cina atau sebaliknya.
Karena perahu-perahu asing semuanya terpaksa harus berlayar melalui Selat Melaka dan Selat
Bangka yang dikuasai Sriwijaya. Keuntungan dari penguasaan tersebut, maka Sriwijaya
keuntungan pajak lalu lintas yang melimpah-limpah dari perahu yang lewat. Sementara dari
daerah Sriwijaya sendiri, ekspor berbagai macam komoditi dalam negeri, penyu, gading gajah,
kapur barus, damar, lada dan lainnya sangat banyak. Karena wilayahnya yang luas dan banyak
memproduksi komoditi yang diinginkan para pedagang. Komoditi tersebut ditukarkan dengan
berbagai macama alat-alat sejenis porselen, kain katun dan kain sutera. Kerajaan Keritang di
bawah kekuasan Sriwijaya, pada akhir abad ke-13, diperkirakan mulai lepas dari pengaruh
kerajaan maritim itu. Pada pada abad tersebut, kekuasaan kerajaan Sriwijaya semakin
pudarnya.Ini menjadi faktor keberuntungan bagi kerajaan-kerajaan kecil yang selama ini tunduk
di bawah kekuasaan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan kecil, satu persatu mulai melepaskan diri dari
pemerintahan Sriwijaya. Karena tidak mungkin lagi bagi Sriwijaya untuk bisa kembali
menguasai dan memaksakan keinginannya, karena persoalan dalam negeri tidak dapat teratasi
lagi dan semakin banyaknya serangan dari luar yang juga harus dihadapi. Sehingga secara
perlahan, nama Sriwijaya semakin hilang dari peredaran. bandar dagang yang semula ramai
dikunjungi, beransur-angsur menjadi sepi dan ditinggalkan pedagang. Sebab sumber-sumber
komoditi yang diperjual belikan semakin menipis dan kuantitasnya tidak memenuhi permintaan
pedagang lagi. Berakhirnya Kerajaan Sriwijaya ini tidak hanya disebabkan hanya disebabkan
kondisi dalam negeri yang tak menentu, tetapi juga serang dari luar. Adanya serangan dari
Kerajaan Cola dan Majapahit. Sementara semakin derasnya gelombang penyebaran Islam ke
Nusantara disinyalir sebagai penyebab eksternal runtuhnya Kerajaan Maritim Sriwijaya.
Marcopolo dalam perjalanannya dari Cina pada tahun 1292 M tidak menyebut-nyebut nama
Sriwijaya lagi. Hal itu menunjukkan Sriwijaya sudah terpecah menjadi beberapa Kerajaan kecil.
Dan salah satu diantaranya adalah Kerajaan Keritang ini merupakan Kerajaan Hindu-Budha.
Karena setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menganut agama
Budha, selanjutnya Kerajaan Keritang menjadi sebuah kerajaaan yang berdiri sendiri. Kedaulatan
itu tidak berlangsung lama, karena kerajaan itu ditaklukkan oula oleh Kerajaan Majapahit yang
menganut agama Hindu. B.     Kerajaan Keritang di Bawah Kekuasaan Majapahit Tidak dapat
dipastikan awal berdirinya Kerajaan Keritang (Indragiri), karena tebatasnya sumber. Suatu
sumber yang menyebutkan bahwa raja pertama Kerajaan Indragiri adalah Raja Kecik Mambang
yang memerintah ± 1298-1337 (T. Arief, tt:39). Sumber itu tidak menyebutkan di mana letaknya
pusat pemerintahan dari Kerajaan Indragiri. Sebaliknya Mpu Prapanca danal negara Kertagama
tidak pula menyebut nama Indragiri, tetapi yang ditulis hanyalah Keritang. Karena Keritang itu
terdapat di Inderagiri, maka diperkirakan nama kerajaan Indragiri yang disebut di atas adalah
identik dengan Kerajaan Keritang (Inderagiri). Dalam perjalanan sejarah Kerajaan Keritang dari
tahun 1298-1331 masih tetap merdeka dan berdaulat. Berita dalam Negara Kertagama
menyebutkan Majapahit sampai tahun 1331 M wilayah kekuasan baru daerah Jawa Timur dan
Jawa Tengah. Daerah-daerah di luar dari keduanya belum lagi masuk dalam wilayah kekuasaan
Majapahit (Muhammad Yamin, 1960). Selama berdaulat itu, tidak ditemukan sumber tertulis
yang dapat mengungkapkan kembali sejarah kerajaan itu. Begitu juga di daerah Keritang sendiri
tidak didapat cerita rakyat tentang Kerajaan Keritang. [3] Majapahit menguasai daerah luar Jawa
diperkirakan sesudah tahun 1331. Tetapi tidak dapat dipastikan tahun yang tepat mulai masuknya
daerah-daerah di luar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mpu Prapanca dalam Negara Kertagama
menuliskan beberapa kerajaan yang termasuk dalam kekuasaan Majapahit. diterjemahkan
Muhammad Yamin sehingga mempunyai pengertian sebagai berikut: Seluruh pulau Sumatera
(melayu) telah menjadi daerah yang berada di bwah kekuasaan Majapahit yang meliputi
Lampung, Palembang, Jambi, Keritang (Indragiri) Muara Tebo, Darmasraya (Sijunjung), Kandis,
Kahwas, Haru, Mandahiling, Tamiang, Perlak (Aceh) Barat, Lamuri (Aceh Tiga Segi), Bantan
dan Barus (Muhammad Yamin. 1960). Kedudukan Keritang dalam syair 13 itu setara dengan
Kerajaan Jambi, Kerajaan Darmasraya, Kerajaan Minangkabau dan Kerajaan lainnya, yang
merupakan bukti bahwa Keritang adalah juga suatu Kerajaan. Kerajaan Keritang ini terletak di
dalam daerah Indragiri. Nama Indragiri dalam uraian Muhammad Yamin di atas terletak sesudah
menyebut nama Keritang yang dalam tanda kurung. Selanjutnya dalam Atlas Sejarah, nama
Keritang terletak di wilayah Inderagiri atau antara Kampar di utara dan Jambi di Selatan
(Muhammad Yamin, 1965) Sebagai suatu kerajaan, Keritang memiliki beberapa orang raja yang
memerintah selama lebih kurang 213 tahun (1298-1508). Raja-raja tersebut yaitu Raja Kecik
Mambang dsebut juga dengan gelar Raja Merlang I (± 1298-1337), Raja Iskandar atau Nara
Singa (± 1337-1400), Raja Merlang II (± 1400-1437) dan Raja Nara Singa. Pada masa
pemerintahan Raja Merlang II, Kerajaan Keritang (Inderagiri) menjadi daerah jajahan Melaka,
sebagai hadiah perkawinan putri Majapahit dengan Sultan Mansyursah dan Melaka. Kerajaan
Keritang di Bawah Kekuasaan Melaka Dalam tahun 1275 raja Kertanegara dari Singosari
mengirim suatu ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk merebut daerah penghasil
lada terbesar di kawasan ini. Singosari waktu itu sedang dalam konflik dengan kerajaan Mongol.
Hubungan yang memburuk ini diikuti dengan kedatangan armada Mongol di bawah pimpinan
Ike Mise dan Shih Pi untuk menyerang Kerajaan Singasari dan menghukum raja Jawa,
Kertanegara yang telah menghina utusan Mongol bernama Mingki. Ming Ki dipotong telinga
ketika menyampaikan pesan dari kerajaan Mongol. Perseteruan antara Kerajaan Singasari dan
Mongol dimanfaatkan oleh Kerajaan Melaka untuk menguasai Keritang. Sebab melihat potensi
hasil bumi yang dimiliki Kerajaan Keritang akan membantu Melaka dalam meningkatkan
intensitas perdagangannya. Jambi dan sekitarnya pada waktu itu penghasil lada terbesar di pantai
Timur Sumatera, Keritang merupakan lumbung padi. Sedangkan Melaka baru muncul sebagai
bandar perdagangan besar di Asia. Bandar yang dibangun itu menampung dan mengekspor
kembali barang-barang dari Asia Tenggara dan Asia Timur ke Eropa melalui India dan Teluk
Persia. Maka bila terjadi ikatan antara Melaka dengan Jambi dan Keritang yang juga
menghasilkan lada, akan menjamin suplai bahan perdagangan. Untuk dapat menguasai Keritang,
maka Melaka harus membuat hubungan diplomatik yang baik dengan kerajaan Majapahit,
kerajaan yang berkembang pesat setelah kekuasaan Singosari. Maksud tercapai setelah Raja
Melaka yaitu Sultan Mansursyah kawin dengan seorang puteri Raja Majapahit. Sejak itulah
Kerajaan Keritang oleh Majapahit diserahkan penguasaannya kepada kerajaan Melaka.
Majapahit mau menyerahkan Kerajaan Keritang kepada Kerajaan Melaka di samping karena
hubungan perkawinan tersebut, juga karena pada saat itu kebesaran Majapahit dalam keadaan
menurun semenjak meninggalnya Patih Gajah Mada. Untuk memperkuat ikatan kerajaan Melaka
terhadap kerajaan Keritang, maka Sultan Mansyursyah mengawinkan salah seorang puterinya
dengan Raja Keritang yang bernama Raja Merlang II. Setelah perkawinan itu, raja Merlang pun
menetap di Melaka. Kapan lenyapnya kerajaan ini tidak bisa dipastikan, namun ada petunjuk
yang mengatakan bahwa kerajaan ini lenyap karena mereka kehilangan  rajanya. Raja mereka
hilang bukan karena mati ataupun ditawan oleh mojopahit melainkan ditawan diistana kerajaan
Melaka. Raja tersebut adalah Raja Merlang, yang akhirnya juga meninggal di Melaka. Beliau
mempunyai seorang putra dari hasil perkawinannya dengan putri sultan mansyur syah yaitu Nara
Singa. [4] Kerajaan inderagiri adalah pewaris kerajaan Kritang. Kerajaan Kritang runtuh sekitar
kira-kira pertengahan abad ke-15, hal ini berdasarkan perkiraan : ·         Penobatan nara singa di
inderagiri tahun 1508 ·         Raja Merlang di Melaka sekitar tahun 1459-1500 DAFTAR
PUSTAKA : 1.      Junus, Hasan. 2002. Kerajaan Inderagiri. Pekanbaru : Unri Presss 2.     
http://susqa.blogspot.co.id/2013/06/kerajaan-keritang-indragiri.html 3.     
http://susqa.blogspot.co.id/2013/06/kerajaan-keritang-indragiri.html 4.      Asril, M.pd. Sejarah
Riau. Bahan ajar mata kuliah FKIP Universitas Riau 2015

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto