Anda di halaman 1dari 4

KERAJAAN KUNTO DARUSSALAM

Kerajaan Kunto Darussalem terletak di Sumatera, Kab. Rokan Hulu, propinsi


Riau. Di Rokan Hulu berdiri 5 kerajaan dan di Rokan Hilir berdiri 3 kerajaan dan masing-masing
kerajaan ini berdiri sendiri. Nama-nama kerajaan yang berdiri diRokan hulu diantaranya : Kerajaan
Rambah yang berpusat di pasir pangaraian, Kerajaan Tambusai yang berpusat di Dalu-dalu, kerajaan
Kepenuhan yang berpusat di kota Tengah, Kerajaan Rokan IV koto yang berpusat di Rokan IV Koto,
dan Kerajaan Kunto Darussalam yang berpusat di Kota Lama.

Sedangkan 3 kerajaan yang terdapat di Rokan Hilir terdiri dari kerajaan Kubu yang terdapat di
Teluk Merbau, Kerajaan Bangko yang terdapat di Bantaian, Kerajaan tanah Putih yang terdapat di
Tanah Putih.  Da berikut ini beberapa pendapat yang berkaitan tentang berdirinya kerajaan-kerajaan
itu, dalam sejarah Rokan disebutkan Bahwa kerajaan-kerajaan yang terdapat di Rokan Hulu dan hilir
muncul kira-kira abad ke -16, sedangkan dalam silsilah Kunto Darussalam raja pertamanya yang
memerintah adalah pada tahun kurang lebih dari 1878-1884.  Dan kerajaan Kunto Darussalam ini
salah satu kerajaan yang terdapat di Rokan Hulu.

Jika merujuk pada sislsilah raja-raja Kunto darussalam maka kerajaan –kerajaan yang ada di
Rokan Hulu berdiri sekitar Abad ke -19 seperti kerajaan Kunto Darussalam juga. Sedanagkan Jika
merajuk pada sejarah rokan tentunya keraan ini telah berdiri semenjak abad ke -16, berarti antara
jatuhnya kerajaan rokan di pekaitan sekitaran tahun 1513, dan secara yuridis masing-masing kerajaan
di rokan hulu dan hilir ini mempunyai pemerintahan yang sendiri-sendiri yang bersifat otonom tetapi
raja dan rakyatnya masih terikat dalam suatu kekerabatan, pemimpin kerajaan dirokan hulu adalah
Raja dengan gelar Yang Dipertuan

Pada masa pemerintahan Sultan syaifuddin dari tambusai di kota lama berdiri kerajaan Kunto
Darussalam, dan ditempat ini pulalah pada abad ke 14 dan 15 terdapat kerajaan Roka yang runtuh
pada saat diserang Aceh. 2.      Raja-raja Kunto Darussalam Dari silsilah rajaraja kerajaan ini
diketahui raja yang pertama adalah Tengku Panglima Besar kahar yang dipertuan Muda-Yang
Dipertuan Besar atau Yang Dipertuan Sakti(1878-1884).  Yang Dipertuan Besar adalah raja sekaligus
sebagai Kepala Kerapatan Adat. Dan pemerintahannya berkedudukan di Rantau Tonan Kota
Intan/Kota Lama. Dan daerah kekuasaannya selain Kota Lama juga meliputi Tandun, Kepanasan,
Sinamo Ninik dan Kasikan. Semenjak Tuanku Panglima Besar Kahar menjadi raja dia berusaha
menghimpun rakyat yang berserakan semenjak kejatuhan rokan karena serang Aceh. Titik pertama
pembangunan ialah pembuatan Benteng, dan ia memerintahkan untuk membuat benteng itu kepada
Datu-datuk dari 5 kota yang meliputi:Kota Lama, Tandun, Kepanasan, Sinamo Ninik, dan Kasikan.
Dengan bantuan dari merekalah maka pembangunan Banteng itu dapat diselesaikan dimana banteng
itu dibangun dengan tujuan untuk pengamanan dan pemisah anatara perkampungan dan istana. Dan
dari perkawianannya dengan Permaisuri raja mempunyai 4 orang anak diantaranya sebagai berikut:  
T. Intan Nafiay, T. Ali Momad, T. Siti Panco Alam, T. Abdullah/Sultan Rokan. Pada tahun 1884
Penglima Besar Yang Dipertuan Besar mangkat,dan selama kurang lebih 6 tahun dia telah berhasil
menyatukan rakyat disekitar kota Lama dalam wadah kerajaan Kunto darussalam.  Setelah ia
mangkat dan yang menggantikannya ialah Tengku Besar Syarif dengan gelar Yang Dipertuan Muda-
Yang Dipertuan Besar (1885-1895)  raja kedua ini bukan lah putranya namun punyahubungan
kekeluargaan dengannya. Selama pemerintahannya raja berusaha memperluas daerah hingga daerah
tapung, dan Raja ini juga membangun Balai Kerajaan karena difungsikan Untuk tempat Pertemuan
dan Perkantoran. Dan untuk tempat tinggal dan menjalankan pemerintahan raja ini membangun
sebuah Istana. Semasa pemerintahannya juga kerajaan pernah diserang Hulubalang Siak, sehingga
menyebabkan raja ini mengadakan hubungan dengan Belanda, ini dibuktikan dengan adanya
perjanjian pada tahun 1895 yang dipimpin oleh Mr. Khous selaku Kontroleur Belanda di Rokan
Empat Koto.

Dimana isi perjanjiannya itu diantaranya: a. Kerajaan bersahabat dengan wakil Goverment
Belanda Voordeckock di Rokan IV Koto. b. Raja melayu menyetujui memberi izin kepada belanda
melalui sungai Rokan menuju ke Kuala Tanah Putih dan Bangko/bagan untuk menyusun Kekuasaan
Controleur. c.Raja dengan Belanda tidak ada permusuhan sebagai bukti alat perang meriam
dipakukan pada lubang Mesiu di kota Lama kunto. Persahabatan itu bertujuan untuk perlindungan
kerajaan dari serangan dari luar,namun antara serangan siak dengan belanda ternyata memiliki
hubungan, dan akibatnya Datuk-datuk menuduh Raja menjual kerajaan kepada belanda, sehingga
banyak datuk yang memisahkan diri dari kerajaan. Dan puncaknya terjadinya penembakan terhadap
raja sehingga menyebabkan kematian. Dan raja selanjutnya ialah Tengku Ali Kasyam dengan gelar
Yang Dipertuan Besar(1896-1905) beliau adalah menantu dari raja yang pertama, pusat
pemerintahan dipindahkan dari Kota Lama kunto kekota Lama sekarang.

Pada masa dia memerintah raja ini memerintahkan kepada Datuk-Datuk untuk terusan dari
danau Ombak dan danau sicolek. Raja ini dikenal raja yang mempunyai banyak perkebunan karet
atau tanah yang banyak di kota Lama, beliau mempunyai 3 oarang Istri yaitu: T. Siti Panca
Alam(Puter raja pertama), T. Syarifah, dan Suri.  Dari istri pertama raja puya 4 orang anak, raja
kedua raja punya anak dua, dan istri ketiga raja punya anak empat. Dan  pada tahun 1905 beliau
wafat dan di kebumikan dikota lama, dan sebagai penggantinya diangkat Teungku Ali Tandun Yang
Dipertuan Besar(1906-1910) raja ini sangat rapat hubungannya dengan Belanda, dan pada tanggal 25
Juni 1910 diadakan perjanjian antara Raja dan Belanda yang disebut Korte Verklaring.   Dan selama
pemerintahannya selalu atas kehendak Belanda, sepeti sebutan raja diganti Zelfbestuur, dan kerajaan
ini menjadi kerajaan Zelfbestuur van Kunto Darussalam. Dan akhir pemerintahhanya raja ini
diturunkan oleh belanda, namun setelah diturunkannya oleh belnda maka penggantinya di tunjuk
Tengku Ishack yang bergelar Yang Dipertuan Muda(1911-1920) masa pemerintahannya mendapat
dukungan dari ketua kerapatan  yang berkedudukan di Kota Intan dan dari Datuk mentri yang
berkedudukan di Kota lama.  Dan pada tahun 1921 beliau mangkat dan dimakamkan di Kota Lama.
Dan raja selanjutnya yang menggantikan ialah Tengku Ali Momad dengan gelar Tengku Panglima
Besar(1921-1925). Masa pemerintahannya ia mendapatkan simpati dari Datuk suku sembilankota
intan dan Datuk suku Tujuh kota lama, watak raja ini sangat keras dalam mengambil keputusan,
bahkan ia bisa membuat kerajaan siak menyetujui tuntutannya, dan siak memberika upeti kepada
kerajaan ini sebesar f 250 Gulden perbulan.

Masa pemerintahannya ia sakit dan mengkat di Kota Lama 1925.  Dan penggantinya ialah
Tengku Kamaruddin(1925-1935)  raja ini merupakan putra  raja kelima T. Ishack. Dalam
menjalankan pemerintahannya raja ini berani melakukan penataan dan perombakan seperti: a. Kepala
kerapatan yang awalnya dipegang oleh Sultan Jalil Buang dari suku 9 kota intan dipindahkan ke
sultan Aminullah. b. Datuk Bendahara yang berada pada Datuk 9 suku yang diserahkan kepada
Datuk Luha, jadi Datuk Bendahara ada dikota Intan. c.Datuk Perdana Mentri diserahkan kepada
datuk 7 suku dari Suku Caniago di kota lama, jabatan ini tidak dapat dipindahkan ke datuk 9 suku
kota Inatan. Kebijakan raja ini tampa seizin Belanda sehingga menimbulkan perselisihan dan untuk
penyelesaiannya di adakan sidang Landraad pasir Pangaraian dan Bengkalis, sementara itu diantara
datuk 9 suku dan Datuk 7 suku terjadi juga kesalah pahaman dan menimbulkan bibit keretakan di
kerajaan. Dan mas pemerntahan dia juga lah masuk paham muda islam dari inangkabau yang dibawa
oleh Sych jamil. Dan paham ini mendesak paham tua(tarekat) yang sudah ada lama di kunto
darussalam. Dan akibatnya timbulnya pertentangan kedua paham ini sehingga memberikan ruang
untuk Belanda untuk mencampurinya, belanda menimpahkan kesalahan kepada Teungku kamaruddin
yang membiarkan paham baru masuk, dan pada akhirnya diadakan perundingan di batvia yang
menyebabkan pemerintahhanya di non aktivkan dan di asingkan ke Bandung selama 5 tahun.

Pada masa Teungku Kamaruddin diasingkan dan putranya Teungku syamsu juga di perintahkan
untuk meninggalkan Kunto Darussalam dan disuruh pergi keujung Batu dan Tinggal di Rumah Datuk
Haji Yusuf. Dan raja yang terakhir adalah Teuku Ma'ali dimana pada masa pemerintahannya sama
dengan masuknya jepang di daerah Kunto Darussalam pada tahun 1942, jepang membuat kebujakan
dengan menghilangkan kekuasaan raja dengan menangkap raja ini dan memasukkannya ke dalam
tahanan di Teluk Kuantan
Catatatan Kaki: [1] Yusuf Ahmad.dkk.,Sejarah Kerajaan Kunto Darusalam.Pemerintah Daerah
Propinsi Riau,Pekanbaru.1995 [2]  Mutiara, P.M,Asal Usul Raja dan Rakyat Rokan,Pusat Pembinaan
dan pengembangan Bahasa,Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan,1996. [3] 
http://rofisaputra7.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-kerajaan-kunto-darussalam.html [4] Yusuf
Ahmad.dkk.,Sejarah Kerajaan Kunto Darusalam.Pemerintah Daerah Propinsi Riau,Pekanbaru.1995

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto