Anda di halaman 1dari 13

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI

KANTOR WILAYAH SULAWESI UTARA


LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA MANADO
Jl. M.H. Thamrin No. 52 Manado
Email: lapasmdo@gmail.com

LAPORAN KEGIATAN MOOC CPNS

LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA MANADO

A. Pedahuluan

1. Umum

Menurut Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 1 Tahun 2021 tentang Pelatihan
Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dan Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor SDM-02.SM.01.02 Tahun 2021 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Metode Distance Learning Tahun 2021.

Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) adalah pendidikan dan pelatihan
dalam Masa Prajabatan yang dilakukan secara terintegrasi untuk membangun integritas moral,
kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang
unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Pelatihan Dasar CPNS bertujuan untuk mengembangkan kompetensi CPNS yang dilakukan
secara terintegrasi.
1. Maksud dan Tujuan
1) Calon Pegawai Negeri sipil (CPNS) dapat mengetahui tentang sistem penyelenggaraan
pemerintahan negara, bidang tugas dan budaya organisasinya supaya mampu melaksanakan
tugas dan perannya sebagai pelayan masyarakat.

2) Mengubah pola pikir dan tingkah laku dari masyarakat biasa menjadi Pegawai Negeri Sipil.

3) Mengetahui proses belajar mandiri apa yang telah dicapai dan kesulitan yang di dapat selama
Pelatihan Dasar Online.

4) Untuk menindak lanjuti hasil yang dipelajari peserta secara mandiri, maka disusun laporan hasil
belajar dan hasil akhir evaluasi akademik..

2. Ruang Lingkup

- Membaca Modul dan PPT yang ada di aplikasi MOOC.

- Melakukan evaluasi mandiri setelah membaca modul dan menonton video.

- Hasil Evaluasi akan dijadikan dasar sebagai hasil belajar mandiri.

3. Dasar

Berdasarkan Surat Perintah Nomor W.27.UM.01.01-1247 yang dikeluarkan dari Kantor


Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Utara memerintahkan peserta
Latsar CPNS untuk mengikuti Pembelajaran Mandiri melalui Aplikasi Massive Open Online
Course (MOOC) dan setelah itu melaporkan hasilnya secara tertulis kepada Kepala Kantor
Wilayah.
B. Kegiatan yang Dilaksanakan

Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah mempersiapkan laptop dan jaringan yang baik untuk
mengikuti MOOC kemudian melakukan login dan menganti password MOOC dan mendengarkan
kata-kata sambutan oleh Kpala LAN RI, Membaca modul dan menonton video di agenda I,
agenda II, agenda III, dan agenda IV, Mendengarkan materi Micro Learning

Adapun materi yang diperoleh darihasil microlearning ini adalah:

1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara

Sejarah pergerakan kebangsan perlu secara lengkap disampaikan kepada peserta Latsar CPNS
meskipun pada pendidikan formal sebelumnya sudah mereka peroleh, namun pemahaman
yang dibutuhkan adalah untuk menjadi dasar pemahaman tentang wawasan kebangsaan secara
lebih komprehensif. Fakta-fakta sejarah dapat dijadikan pembelajaran bahwa Kebangsaan
Indonesia terbangun dari serangkaian proses panjang yang didasarkan pada kesepakatan dan
pengakuan terhadap keberagaman dan bukan keseragaman serta mencapai puncaknya pada
tanggal 17 Agustus 1945. Tanggal 20 Mei untuk pertamakalinya ditetapkan menjadi Hari
Kebangkitan Nasional berdasarkan Pembaharuan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.
316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari
Libur. Melalui keputusan tersebut, Presiden Republik Indonesia menetapkan beberapa hari
yang bersejarah bagi Nusa dan Bangsa Indonesia sebagai hari-hari Nasional yang bukan hari-
hari libur, antara lain : Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 8 Mei, Hari Indikator
Keberhasilan. Setelah mempelajari bab ini, peserta pelatihan diharapkan mampu menjelaskan
sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia, wawasan kebangsaan, 4 (empat) konsensus dasar
dan Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Indonesia5 Kebangkitan
Nasional pada tanggal 20 Mei, Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober, Hari Sumpah
Pemuda pada tanggal 28 Oktober, Hari Pahlawan pada tanggal 10 Nopember, dan Hari Ibu
pada tanggal 22 Desember

2. Analisis Isu Kontemporer

Saat ini konsep negara, bangsa dan nasionalisme dalam konteks Indonesia sedang dihadapkan
dengan dilema antara etnik nasionalisme dan globalisasi yang harus disadari sebagai
perubahan lingkungan strategis. Di dalamnya terjadi pergeseran pengertian tentang
nasionalisme yang berorientasi kepada pasar atau ekonomi global. Logika sederhananya,
“pada tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai 10 milyar dan akan
terus bertambah, sementara sumber daya alam dan tempat tinggal tetap, maka manusia di
dunia akan semakin keras berebut untuk hidup, agar mereka dapat terus melanjutkan hidup”.
Pada perubahan ini perlu disadari bahwa globalisasi dengan pasar bebasnya sebenarnya adalah
sesuatu yang tidak terhindarkan dan bentuk dari konsekuensi logis dari interaksi peradaban dan
bangsa.

Isu lainnya yang juga menyita ruang publik adalah terkait terorisme dan radikalisasi yang
terjadi dalam sekelompok masyarakat, baik karena pengaruh ideologi laten tertentu,
kesejahteraan, pendidikan yang buruk atau globalisasi secara umum. Bahaya narkoba
merupakan salah satu isu lainnya yang mengancam kehidupan bangsa. Bentuk kejahatan lain
adalah kejahatan saiber (cyber crime) dan tindak pencucian uang (money laundring). Bentuk
kejahatan saat ini melibatkan peran teknologi yang memberi peluang kepada pelaku kejahatan
untuk beraksi di dunia maya tanpa teridentifikasi identitasnya dan penyebarannya bersifat
masif.
Berdasarkan penjelasan di atas, perlu disadari bahwa PNS sebagai Aparatur Negara
dihadapkan pada pengaruh yang datang dari eksternal juga internal yang kian lama kian
menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Fenomena tersebut menjadikan
pentingnya setiap PNS mengenal dan memahami secara kritis terkait isu-isu strategis
kontemporer diantaranya; korupsi, narkoba, paham radikalisme/ terorisme, money laundry,
proxy war, dan kejahatan komunikasi masal seperti cyber crime, Hate Speech, dan Hoax, dan
lain sebagainya.

3. Kesiapsiagaan Bela Negara

Kesiapsiagaan yang dimaksud dalam modul ini adalah kesiapsiagaan Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) dalam berbagai bentuk pemahaman konsep yang disertai latihan dan aktvitas
baik fisik maupun mental untuk mendukung pencapaian tujuan dari Bela Negara dalam
mengisi dan menjutkan cita cita kemerdekaan. Bentuk dari kesiapsiagaan yang dimaksud
adalah kemampuan setiap CPNS untuk memahami dan melaksanakan kegiatan olah rasa, olah
pikir, serta olah tindak dalam pelaksanaan kegiatan keprotokolan yang di dalamya meliputi
pengaturan tata tempat, tata upacara (termasuk kemampuan baris berbaris dalam pelaksaan tata
upacara sipil dan kegiatan apel), tata tempat, dan tata penghormatan yang berlaku di Indonesia
sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

Aplikasi kesiapsiagaan Bela Negara dalam Latsar CPNS selanjutnya juga termasuk
pembinaan pola hidup sehat disertai pelaksanaan kegiatan pembinaan dan latihan ketangkasan
fisik dan pembinaan mental lainnya yang disesuaikan dan berhubungan dengan kebutuhan
serta ruang lingkup pekerjaan, tugas, dan tanggungjawab, serta hak dan kewajiban PNS di
berbagai lini dan sektor pekerjaan yang bertugas diseluruh 10 | K e s i a p s i a g a a n B N
wilayah Indonesia dan dunia.

Pelaksanan kesiapsiagaan bela negara PNS akan memberikan pembinaan, pemahaman, dan
sekaligus praktek latihan aplikasi dan impelementasi wawasan kebangsaan dan analisis
stratejik yang meliputi analisis inteilijen dasar dan pengumpulan keterangan yang akan sangat
berguna dalam berbagai permasalahan yang sering terjadi di lingkungan birokrasi, baik
permasalahan yang sifatnya internal maupun eksternal.

Aplikasi dari latihan kesiapsiagaan Bela Negara ini juga merupakan modal penguatan
jasmani, mental dan spiritual dalam pelaksaaan tugas CPNS yang memiliki fungsi utama
sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan sebagai perekat dan pemersatu Negara
bangsa dari segala Ancaman, Ganguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) baik dari dalam
maupun luar negeri. Sehingga, setiap Calon Pegawai Negeri Sipil dapat selalu siap dan
memberikan pelayanan yang terbaik. Oleh karena itu setiap CPNS diharapkan selalu
membawa motto “melayani untuk membahagiakan” dimanapun dan dengan siapapun mereka
bekerja, dalam segala kondisi apapun serta kepada siapapun mereka akan senantiasa
memberikan pelayanan terbaik dan profesional yang merupakan implementasi kesiapsiagaan
Bela Negara.

Perilaku kesiapsiagaan akan muncul bila tumbuh keinginan CPNS untuk memiliki
kemampuan dalam menyikapi setiap perubahan dengan baik. Berdasarkan teori Psikologi
medan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin (1943) kemampuan menyikapi perubahan adalah
hasil interaksi faktor-faktor biologis-psikologis individu CPNS, dengan faktor perubahan
lingkungan (perubahan masyarakat, birokrasi, tatanan dunia dalam berbagai dimensi).

Untuk melakukan bela negara, diperlukan suatu kesadaran bela negara. Dikatakan bahwa
kesadaran bela negara itu pada hakikatnya adalah kesediaan berbakti pada negara dan
kesediaan berkorban membela negara. Cakupan bela negara itu sangat luas, dari yang paling
halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai
bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup didalamnya adalah
bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Sebagaimana tercantum dalam
Modul I Pelatihan Dasar CPNS tentang Wawasan Kebangsaan dan NilaiNilai Bela Negara,
bahwa ruang lingkup Nilai-Nilai Dasar Bela Negara mencakup: 1. Cinta Tanah Air; 2.
Kesadaran Berbangsa dan bernegara; 3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara; 4. Rela
berkorban untuk bangsa dan negara; dan 5. Memiliki kemampuan awal bela negara. 6.
Semangat untuk mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur

4. Akuntabilitas

Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk
memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin
terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik antara lain adalah:
- mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan,
antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi
- memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan
PNS dalam politik praktis
- memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik
- menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai
penyelenggara pemerintahan

Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada setiap level/unit
organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan
kegiatan kepada atasannya. Dalam beberapa hal, akuntabilitas sering diartikan berbeda-beda.
Adanya norma yang bersifat informal tentang perilaku PNS yang menjadi kebiasaan (“how
things are done around here”) dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi atau bahkan
mempengaruhi aturan formal yang berlaku. Seperti misalnya keberadaan PP No. 53 Tahun
2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, belum sepenuhnya dipahami atau bahkan dibaca
oleh setiap CPNS atau pun PNS. Oleh sebab itu, pola pikir PNS yang bekerja lambat,
berdampak pada pemborosan sumber daya dan memberikan citra PNS berkinerja buruk.
Dalam kondisi tersebut, PNS perlu merubah citranya menjadi pelayan masyarakat dengan
mengenalkan nilai-nilai akuntabilitas untuk membentuk sikap, dan prilaku PNS dengan
mengedepankan kepentingan publik, imparsial, dan berintegritas.

5. Nasionalisme

Secara umum, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap
bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme Pancasila adalah
pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi
nilainilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa: menempatkan persatuan
– kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau
kepentingan golongan;menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan
negara;bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah
diri;mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan
sesama bangsa;menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia;mengembangkan sikap
tenggang rasa.
Menurut H. Hadi, setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan
kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam realitas,
rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami. Namun ada
getaran atau resonansi dan pikiran ketika rasa kebangsaan tersentuh. Rasa kebangsaan bisa
timbul dan terpendam secara berbeda dari orang per orang dengan naluri kejuangannya
masing-masing, tetapi bisa juga timbul dalam kelompok yang berpotensi dasyat luar biasa
kekuatannya.

Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena
adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan
masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi
rasa kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan
kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-
cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu,
timbul semangat kebangsaan atau semangat patriotisme.

Wawasan kebangsaan mengandung pula tuntutan suatu bangsa untuk mewujudkan jati diri,
serta mengembangkan perilaku sebagai bangsa yang meyakini nilai-nilai budayanya, yang
lahir dan tumbuh sebagai penjelmaan kepribadiannya.

6. Etika publik

Weihrich dan Koontz (2005:46) mendefinisikan etika sebagai “the dicipline dealing with what
is good and bad and with moral duty and obligation”. Secara lebih spesifik Collins Cobuild
(1990:480) mendefinisikan etka sebagai “an idea or moral belief that influences the behaviour,
attitudes and philosophy of life of a group of people”. Oleh karena itu konsep etika sering
digunakan sinonim dengan moral. Ricocur (1990) mendefinisikan etika sebagai tujuan hidup
yang baik bersama dan untuk orang lain di dalam institusi yang adil. Dengan demikian etika
lebih difahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah yang harus dilakukan atau
bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk
melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Dalam kaitannya dengan pelayanan
publik, etika publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam
rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Integritas publik menuntut para
pemimpin dan pejabat publik untuk memiliki komitmen moral dengan mempertimbangkan
keseimbangan antara penilaian kelembagaan, dimensi-dimensi peribadi, dan kebijaksanaan di
dalam pelayanan publik (Haryatmoko, 2001).Menurut Azyumardi Azra (2012), etika juga
dipandang sebagai karakter atau etos individu/kelompok berdasarkan nilai-nilai dan norma-
norma luhur. Dengan pengertian ini menurut Azyumardi Azra, etika tumpang tindih dengan
moralitas dan/atau akhlak dan/atau social decorum (kepantasan sosial) yaitu seperangkat nilai
dan norma yang mengatur perilaku manusia yang bisa diterima masyarakat, bangsa dan negara
secara keseluruhan. Dalam konteks Indonesia, menurut Azyumardi Azra, nilai-nilai etika
sebenarnya tidak hanya terkandung dalam ajaran agama dan ketentuan hukum, tetapi juga
dalam social decorum berupa adat istiadat dan nilai luhur sosial budaya termasuk nilai-nilai
luhur yang terkandung dalam ajaran Pancasila.

Etika sebenarnya dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta keyakinan untuk
menentukan perbuatan yang pantas guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu,
mencakup cara-cara dalam pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal
yang baik dan yang buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan sesuai nilai-nilai
yang dianut (Catalano, 1991). Menurut Gene Blocker, etika merupakan cabang filsafat moral
yang mencoba mencari jawaban untuk menentukan serta mempertahankan secara rasional teori
yang berlaku secara umum tentang benar dan salah serta baik dan buruk. Etika sebenarnya
terkait dengan ajaran-ajaran moral yakni standar tentang benar dan salah yang dipelajari
melalui proses hidup bermasyarakat.

Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok
khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk
ketentuanketentuan tertulis. Adapun Kode Etik Profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah
laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang
diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.

7. Komitmen Mutu

Seperti halnya istilah efektivitas, efisiensi, dan inovasi, istilah mutu sekarang ini juga menjadi
tema sentral yang menjadi target capaian institusi, baik di lingkungan perusahaan maupun
pemerintahan.Seperti halnya istilah efektivitas, efisiensi, dan inovasi, istilah mutu sekarang ini
juga menjadi tema sentral yang menjadi target capaian institusi, baik di lingkungan perusahaan
maupun pemerintahan.

Banyak definisi mutu yang dikemukakan oleh para ahli. Goetsch and Davis (2006: 5)
berpendapat bahwa belum ada definisi mutu yang dapat diterima secara universal, namun
mereka telah merumuskan pengertian mutu sebagai berikut. “Quality is a dynamic state
associated with products, services, people, processes, and environments that meets or exceeds
expectation.” Menurut definisi yang dirumuskan Goetsch dan Davis, mutu merupakan suatu
kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai
atau bahkan melebihi harapan konsumen atau pengguna. Sejalan dengan pendapat tersebut,
William F. Christopher dan Carl G. Thor (2001: xi), menyatakan bahwa: “Quality can be
defined as producing and delivering to customers-without error and without waste-superior
customer values in the products and services that each customer needs and wants Quality is
depend on one mind individually.” Dalam pandangan Christopher dan Thor, penilaian atas
mutu produk/jasa bergantung pada persepsi individual berdasarkan kesesuaian nilai yang
terkandung di dalamnya dengan kebutuhan dan keinginannya, tanpa kesalahan dan
pemborosan.

Zulian Yamit (2010: 7-8) mengutip pendapat sejumlah pakar tentang pengertian mutu. (1)
Menurut Edward Deming: “Mutu adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan
konsumen.” (2) Menurut Crosby: “Mutu merupakan nihil cacat, kesempurnaan dan kesesuaian
Zulian Yamit (2010: 7-8) mengutip pendapat sejumlah pakar tentang pengertian mutu. (1)
Menurut Edward Deming: “Mutu adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan
konsumen.” (2) Menurut Crosby: “Mutu merupakan nihil cacat, kesempurnaan dan kesesuaian

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mutu mencerminkan nilai


keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan (customer) sesuai dengan kebutuhan
dan keinginannya, dan bahkan melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu standar
yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu juga dapat dijadikan sebagai
alat pembeda atau pembanding dengan produk/jasa sejenis lainnya, yang dihasilkan oleh
lembaga lain sebagai pesaing (competitors).

Para pelanggan, secara individual, bisa memberikan penilaian dan makna yang berbeda
terhadap mutu suatu produk atau jasa (layanan). Hal ini dipengaruhi oleh persepsi masing-
masing berdasarkan tingkat kepuasan mereka atas produk tersebut, dan juga bergantung pada
konteksnya. Dengan demikian, kepuasan pelanggan/konsumen terhadap mutu suatu
produk/jasa yang sama bisa berbeda-beda, bergantung dari sudut pandang masing-masing
ataupun preferensi nilai yang digunakannya sebagai rujukan, sebagaimana ditegaskan oleh
Christopher dan Thor di atas. Oleh karena itu, organisasi dituntut untuk menetapkan
perencanaan mutu, termasuk membuat standar mutu (mulai dari mutu input, proses, sampai
hasil), yang akan menjadi pedoman dalam proses implementasi, sampai ke pengawasan dan
perbaikan mutu.

8. Anti Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya kerusakan,
kebobrokan dan kebusukan. Selaras dengan kata asalnya, korupsi sering dikatakan sebagai
kejahatan luar biasa, salah satu alasannya adalah karena dampaknya yang luar biasa
menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup, pribadi, keluarga, masyarakat dan
kehidupan yang lebih luas. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi dalam kurun waktu yang
pendek, namun dapat berdampak secara jangka panjang.

Kehidupan telah diciptakan dengan penuh harmoni, semua berjalan sesuai dengan
orbitnya, ketika sesuatu mengalami penyimpangan maka terjadi kerusakan dimuka bumi.
Penanganan korupsi perlu diselesaikan secara komprehensif, karena korupsi adalah masalah
kehidupan, dampak dan bahayanya bisa berpengaruh secara jangka panjang dan merusak
kehidupan. Film dokumenter “HOME”, yang isinya bercerita tentang perubahan muka bumi
dan kerusakan alam yang terjadi akibat perilaku manusia, sebagian cuplikan filmya dibuat
menjadi film pendek Korupsi Kehidupan. Cuplikan film pendek tersebut tentunya akan
menyadarkan Anda bahwa telah terjadi kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia,
dan manusia sendiri yang akan menanggung akibat dari kerusakan tersebut

Dibalik semua fenomena kehidupan yang mengandung kerusakan selalu ada kaitannya
dengan korupsi. Sebagai contoh; fenomena tentang kerusakan hutan atau lingkungan,
fenomena tentang bangunan yang cepat rusak, fenomena penegakan hukum yang tidak dapat
tegak dan berlaku adil, fenomena layanan yang lama, sulit dan birokrasinya panjang, fenomena
merebaknya narkoba, fenomena negara dengan sumber daya alam yang melimpah namun tidak
dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan fenomena lainnya.

9. Modul Manajemen ASN

Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian
kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan
pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-
undangan. Untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika
profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme,
pengelolaan ASN diatur dalam Manajemen ASN. Manajemen ASN lebih menekankan kepada
pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan akan tersedia sumber daya ASN yang unggul
dan selaras dengan perkembangan jaman.Kedudukan atau status jabatan ASN dalam sistem
birokrasi selama ini dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang profesional.
Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka konsep yang dibangun dalam UU
ASN tersebut harus jelas. Berikut beberapa konsep yang ada dalam UU No. 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara.

Berdasarkan jenisnya, Pegawai ASN terdiri atas:

1) Pegawai Negeri Sipil (PNS) PNS merupakan warga negara Indonesia yang memenuhi
syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina
kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan dan memiliki nomor induk
pegawai secara nasional.

2) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) PPPK adalah warga Negara
Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja
untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan sesuai
dengan kebutuhan Instansi Pemerintah dan ketentuan perundang-undangan. Kehadiran
PPPK dalam manajemen ASN menegaskan bahwa tidak semua pegawai yang bekerja
untuk pemerintah harus berstatus sebagai PNS, namun dapat berstatus sebagai pegawai
kontrak dengan jangka waktu tertentu. Hal ini bertujuan untuk menciptakan budaya
kerja baru menumbuhkan suasana kompetensi di kalangan birokrasi yang berbasis pada
kinerja.

10. Pelayanan publik

Definisi yang saat ini menjadi rujukan utama dalam penyelenggaraan pelayanan publik
sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan
Publik, dijelaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Siklus pelayanan itu sendiri menurut A. Imanto, 2002, adalah “Sebuah rangkaian
peristiwa yang dilalui pelanggan sewaktu menikmati atau menerima layanan yang diberikan
Dikatakan bahwa siklus layanan dimulai pada saat konsumen mengadakan kontak pertama kali
dengan service delivery system dan dilanjutkan dengan kontak-kontak berikutnya sampai
dengan selesai jasa tersebut diberikan”.

Dari beberapa pengertian pelayanan publik yang diuraikan tersebut, maka pelayanan
publik dapat disimpulkan sebagai pemberian layanan atau melayani keperluan orang atau
masyarakat dan/atau organisasi lain yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu, sesuai
dengan aturan pokok dan tata cara yang ditentukan dan ditujukan untuk memberikan kepuasan
kepada penerima pelayanan.

Dengan demikian, terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu:


1. Penyelenggara pelayanan publik.
2. penerima layanan (pelanggan) yaitu orang, masyarakat atau organisasi yang
berkepentingan.
3. kepuasan yang diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan (pelanggan).

11. WOG

WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-


upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang
lebih luas guna mencapai tujuantujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan
pelayanan publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu
pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang
relevan. government‟ (Bissessar, 2009; Christensen & L\a egreid, 2006). Di Australia, WoG
dimotori oleh Australian Public Service (APS) dalam laporannya berjudul Connecting
Government: Whole of Government Responses to Australia's Priority Challenges pada tahun
2015. Namun demikian WoG bukanlah sesuatu yang baru di Australia. Fokus pendekatan pada
kebijakan. pembangunan dan pemberian layanan publik. Sementara di Selandia Baru WoG
juga dikembangkan melalui antara lain integrasi akunting pemerintahan, pengadaan barang
dan jasa, ICT, serta sektor-sektor lainnya.
Pendekatan WoG ini sudah dikenal dan lama berkembang terutama di negara-negara
Anglo-Saxon seperti Inggris, Australia dan Selandia Baru. Di Inggris, misalnya, ide WoG
dalam mengintegrasikan sektorsektor ke dalam satu cara pandang dan sistem sudah dimulai
sejak pemerintahan Partai Buruhnya Tony Blair pada tahun 1990-an dengan gerakan
modernisasi program pemerintahan, dikenal dengan istilah „joined-up

Pendekatan WoG di beberapa negara ini dipandang sebagai bagian dari respon terhadap
ilusi paradigma New Public Management (NPM) yang banyak menekankan aspek efisiensi
dan cenderung mendorong ego sektoral dibandingkan perspektif integrasi sektor. Pada
dasarnya pendekatan WoG mencoba menjawab pertanyaan klasik mengenai koordinasi yang
sulit terjadi di antara sektor atau kelembagaan sebagai akibat dari adanya fragmentasi sektor
maupun eskalasi regulasi di tingkat sektor. Sehingga WoG sering kali dipandang sebagai
perspektif baru dalam menerapkan dan memahami koordinasi antar sektor.

12. Habituasi

Habituasi secara harfiah diartikan sebagai sebuah proses pembiasaan pada/atau dengan
“sesuatu” supaya menjadi terbiasa atau terlatih untuk melakukan “sesuatu” yang bersifat
instrisik pada lingkungan kerjanya. Mengadaposi pendapatnya Samani dan haryanto
(2011:239) tentang habituasi, peserta Pelatihan Dasar Calon PNS dalam pembelajaran agenda
habituasi difasilitasi untuk menghasilkan suatu penciptaan situasi dan kondisi (persistence life
situation) tertentu yang memungkinkan peserta melakukan proses pembiasaan untuk
berperilaku sesuai kriteria tertentu. Penciptaan tersebut diarahkan pada pembentukan karakter
sebagai karakter diri ideal melalui proses internalisasi dan pembiasaan diri melalui intervensi
(stimulus) tertentu yang akan dilakukan pada pelaksanaan tugas jabatan di tempat kerja.

Intervensi diciptakan agar bisa memicu timbulnya suatu respon berupa tindakan tertentu
yang diawali dari hal-hal kecil atau yang paling mendasar dibutuhkan di tempat kerja,
khususnya untuk mendukung pelaksanaan tugas jabatan peserta. Hal-hal kecil atau mendasar
yang dimaksud adalah sebagai upaya untuk mendekatkan peserta dengan tuntutan lingkungan
kerja, misalnya aktivitas rutin dalam menyelesaikan pekerjaan, kualitas kerja, jam kerja,
kedisiplinan, cara dan etika memberikan pelayanan kepada konsumen/tamu/stakeholders,
strategi komunikasi dengan sesama pegawai atau dengan pimpinan, situasi atau lingkungan
budaya kerja, atau halhal lainnya yang dapat menarik perhatian dan layak
dibicarakan/didiskusikan

Indikator keberhasilan pembelajaran agenda Habituasi adalah teridentifikasinya suatu


kondisi nyata yang terjadi di dalam lingkungan kerja dan secara spesifik terkait dengan
tuntutan pelaksanaan tugas jabatannya, sebagai suatu isu yang muncul dan harus dipecahkan.
Berdasarkan kondisi tersebut peserta menunjukkan prakarsa kreatif untuk berkontribusi
memecahkan isu dengan menginisiasi kegiatan-kegiatan pemecahan isu dan melakukannya
secara konsisten, sebagai suatu kebiasaan untuk selalu melakukan aktivitas yang menghasilkan
manfaat yang dapat dirasakan oleh unit/organisasi, stakeholders atau sekurang-kurangnya oleh
individu peserta, sehingga terbentuk menjadi karakter dalam mendukung pelaksanaan tugas
dan jabatan secara profesional sebagai pelayan masyarakat.

Faktor-faktor yang berperan dalam menentukan kualitas mengidentifikasi isu adalah


kepekaan peserta terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan kerja, konsistensi dan keakraban
terhadap motif bekerja lebih baik, dan kemampuan peserta menunjukannya ditempat kerja.
Untuk menjaga keberlangsungan proses habituasi, sangat disarankan peserta menemukan role
model yang akan dijadikan figure atau contoh teladan atau model mirroring. Tidak menutup
kemungkinan role model yang ditemukan dan ditetapkan peserta dapat lebih dari satu orang.
Terkait dengan hal tersebut di atas, muncul dua pertanyaan besar, yaitu: (1) Siapa yang
dimaksud role model tersebut?, maka jawabannya yaitu pegawai atau siapa saja. sosok tokoh
yang akan dijadikan panutan sebaiknya adalah orang yang bekerja di unit kerja atau instansi
peserta, yang menurut peserta layak menjadi contoh atau teladan berdasarkan materi-materi
yang telah dipelajari pada pembelajaran agenda nilai-nilai dasar PNS dan agenda kedudukan
dan peran PNS dalam NKRI.

C. Hasil Yang Dicapai

Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan hasil yang dapat dicapai :

1. Peserta telah menyelesaikan dan memahami pembelajaran daring melalui aplikasi MOOC baik
berupa modul materi, video materi maupun audio materi.

2. Peserta mendapatkan 50 trophy atau dengan kata lain mendapatkan nilai 100 untuk sikap dan
perilaku.

3. Peserta telah mengikuti evaluasi akademik sebanyak 3 kali percobaan dimana percobaan pertama
mendapatkan nilai 64, percobaan kedua 98, percobaan ketiga 100.

D. Simpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Dari hasil uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peserta telah menyelesaikan dan
memahami materi pembelajaran melalui aplikasi MOOC dan mendapatkan 50 trophy dan nilai
100 pada sikap dan perilaku serta mendapatkan nilai 64 pada percobaan pertama, percobaan
kedua mendapatkan nilai 98, percobaan ketiga mendapatkan nilai 100.

Saran

Bagi penyelenggara (Kanwil Sulut) untuk kegiatan selanjutnya dimohon dapat dilakukan
secara tatapmuka agar tercipta semangat dan jiwa persaudaraan yang kokoh antar peserta.

E. Penutup

Demikian laporan ini dibuat sebagai tindak lanjut dari pembelajaran daring yang dilakukan dengan
menggunakan aplikasi MOOC.

Manado, 8 April 2021


Penjaga Tahanan

Albar Ghazzaly Djamali


NIP.200002122020121002
LAMPIRAN

Gambar 1. Login

Gambar 2. Ganti Password


Gambar 3. Video Materi

Gambar 4. Mulai Evaluasi Akademik


Gambar 5. Hasil Evaluasi Akademik

Gambar 6. Nilai Akhir

Anda mungkin juga menyukai