Anda di halaman 1dari 125

i

KEPERAWATAN HIV/AIDS

DISUSUN OLEH :

Zakiah Rahman, S. Kep, Ns, M. Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH


TANJUNGPINANG
TAHUN 2021

a
STIKES HANG TUAH
TANJUNGPINANG

VISI

Pada tahun 2022 Stike Hang Tuah Tanjungpinang menjadi

Perguruan Tinggi unggulan di Provinsi Kepulauan Riau dalam bidang

ilmu kesehatan tropis dan degeneratif yang berwawasan kelautan

dan berdaya saing global

MISI

1. Menyelenggarakan program pendidikan voaksi, akademik dan profesi yang

berkualitas, unggul dalam bidang kesehatan tropis dan degeneratif yang berwawasan

kelautan.

2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis riset untuk

mengembangkan dan menyebarkan luas IPTEK kesehatan.

3. Mencipatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) program studi diploma

keperawatan dengan etos kerja serta iklim keraj yang kondusif guna memberikan

layanan dan tata kelolola yang baik.

4. Memperluas jejaring dan meningkatkan kerjasama dan melaksanakan tridharma

perguruan tinggi dengan lembaga pemerintah dan swasta, baik didalam negeri dan

luar negeri

b
Program studi
D-3 Keperawatan

VISI

Menjadi program studi diploma keperawatan yang menghasilkan

perawat profesional, unggul dalam bidang ilmu kesehatan tropis

dan degeneratif, berwawasan kelautan dan berdaya saing global

pada tahun 2022

MISI

1. Menyelenggarakan program pendidikan profesi ners yang berkualitas, unggul dalam bidang

kesehatan tropis dan degeneratif yang berwawasan kelautan.

2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis riset untuk mengembangkan

dan menyebarkan luas IPTEK kesehatan.

3. Mencipatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) program studi diploma keperawatan

dengan etos kerja serta iklim keraj yang kondusif guna memberikan layanan dan tata

kelolola yang bermutu.

4. Memperluas jejaring dan meningkatkan kerjasama dan melaksanakan tridharma perguruan

tinggi dengan lembaga pemerintah dan swasta, baik didalam negeri dan luar negeri

c
Program studi
S-1 Keperawatan

VISI

Menjadi program studi ners yang menghasilkan perawat

profesional, unggul dalam bidang ilmu kesehatan tropis dan

degeneratif, berwawasan kelautan dan berdaya saing global pada

tahun 2022

MISI

1. Menyelenggarakan program pendidikan profesi ners yang berkualitas, unggul dalam bidang

kesehatan tropis dan degeneratif yang berwawasan kelautan.

2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis riset untuk mengembangkan

dan menyebarkan luas IPTEK kesehatan.

3. Mencipatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) program studi profesi Ners dengan

etos kerja serta iklim keraj yang kondusif guna memberikan layanan dan tata kelolola

yang bermutu.

4. Memperluas jejaring dan meningkatkan kerjasama dan melaksanakan tridharma perguruan

tinggi dengan lembaga pemerintah dan swasta, baik didalam negeri dan luar negeri

d
Program studi

NERS

VISI

Menjadi program studi ners yang menghasilkan perawat profesional, unggul dalam
bidang ilmu kesehatan tropis dan degeneratif, berwawasan kelautan dan berdaya saing
global pada tahun 2022

MISI

1. Menyelenggarakan program pendidikan profesi ners yang berkualitas, unggul dalam


bidang kesehatan tropis dan degeneratif yang berwawasan kelautan.
2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis riset untuk
mengembangkan dan menyebarkan luas IPTEK kesehatan.
3. Mencipatakan kualitas sumber daya manusia (SDM) program studi profesi Ners
dengan etos kerja serta iklim keraj yang kondusif guna memberikan layanan dan
tata kelolola yang bermutu.
4. Memperluas jejaring dan meningkatkan kerjasama dan melaksanakan tridharma
perguruan tinggi dengan lembaga pemerintah

5
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha


Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya, sehingga Modul Bahan
Ajar Keperawatan HIV/AIDS ini dapat diselesaikan. Modul bahan
ajar ini merupakan panduan bagi mahasiswa dan para pengajar
sebagai bahan acuan dalam proses pembelajaran. Dengan
adanya modul bahan ajar Keperawatan HIV/AIDS ini diharapkan
dapat mempermudah para mahasiswa untuk memperoleh materi
perkuliahan dan pencapaian tujuan belajar khususnya mata
kuliah Keperawatan HIV/AIDS.
Mengingat pentingnya modul bahan ajar ini, maka
diharapkan agar mahasiswa dapat menggunakan modul bahan
ajar ini sebagai pedoman awal dan bahan acuan dalam
memperoleh materi perkuliahan. Semoga modul bahan ajar
Keperawatan HIV/AIDS ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak, khususnya para mahasiswa dan pengajar.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan modul bahan
ajar ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu kritik
dan dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan
demi penyempurnaan modul bahan ajar ini dikemudian hari

Tanjungpinang, Juni 2021

penyusun

i
DAFTAR ISI

Visi Misi

Kata Pengantar........................................................................................................... i

Daftar Isi...................................................................................................................... ii

Pengantar Mata Kuliah................................................................................................ iii

Topik 1. Epidemiologi Global Dan Lokal Kecenderungan Hiv/Aids Dan


Aspek Psiko, Sosio, Kultural, Dan Spiritual Klien Hiv/Aids...................................... 1

Topik 2. Pemeriksaan Fisik Dan Diagnostic Pada Klien Dengan Hiv/Aids


Dan Memahami Patofisiologi Hiv/Aids Diagnosis Hiv/Aids ,
Penatalaksanaan Hiv/Aids...................................................................................... 7

Topik 3. Stigma Pada Odha.................................................................................... 18

Topik 4. Perilaku Beresiko : Seks Bebas Dan Penyalahgunaan Napza.................. 22

Topik 5. Penatalaksanaan Pasien Dengan Arv, Termasuk Peran Perawatan......... 26


Dalam Meningkatkan Adherence

Topik 6. Kewaspadaan Universal Precaution.......................................................... 39

Topik 7. Vct Dan Dasar-Dasar Konseling Bagi Pasien Dengan Hiv/Aids................ 48

Topik 8. Askep Pada Ibu Hamil Dengan Hiv/Aids................................................... 60

Topik 9. Askep Pada Anak Dan Remaja Dengan Hiv/Aids...................................... 75

Topik 10. Askep Pada Klien Dengan Penyalahgunaan Napza................................ 82

Topik 11. Pencegahan Primer, Sekunder, Tersier Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Pencegahan Primer, Sekunder, Tersier Kline Dengan Penyalahgunaan Napza..... 96

Topik 12. Telaah Jurnal, Trend Dan Issue Hiv/Aids, Family Centered Pada Odha
Dan Penyalahgunann Napza.................................................................................. 102

Topik 13. Manajemen Kasus Pada Klien Dengan Hiv/Aids Manajemen Kasus
Pada Klien Dengan Penyalahgunaan Napza.......................................................... 103

Topik 14. Prinsip Komunikasi Konseling Pada Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Penyalahgunaan Napza, Konselling Pada Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Penyalahgunaan Napza.......................................................................................... 104

Daftar Pustaka............................................................................................................. 110

ii
PENGANTAR MATA KULIAH

Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya


dalam bidang kesehatan dan keperawatan, dan semakin meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap mutu dan kwalitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan di
bidang keperawatan sebagai bagaian integral daripada pelayanan kesehatan. Hal ini perlu
disikapi secara proaktif dan dukungan para penyelenggaran pendidikan agar para lulusan
yang dihasilkan mampu bekerja secara profesional di bidang kesehatan khususnya
pelayanan keperawatan.

Dalam rangka pengembangan mutu pelayanan keperawatan sesuai dengan harapan


dan tuntutan masyarakat harus ditunjang oleh tenaga keperawatan yang dapat dibina dan
dikembangkan secara berkesinambungan profesionalismenya dalam berbagai cara, baik
secara formal maupun informal. Salah satunya melalui pengembangan pendidikan
berkelanjutan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan. Agar mereka dapat
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan terkini sehingga
mampu menerapkannya dalam memberikan pelayanan keperawatan secara profesional dan
berkualitas kepada masyarakat.

Salah satu bentuk pengembangan dibidang pendidikan yaitu diselenggarakannya


Program Pendidikan Jarak Jauh (PPJJ) bagi tenaga kesehatan yang ada di daerah-daerah
tanpa harus meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Agar program ini berjalan dengan baik perlu di tunjang dengan adanya bahan
ajar yang memadai, seperti ketersedian modul bagi peserta didik. Salah satu modul
pembelajaran, yang disediakan adalah Modul Keperawatan HIV/AIDS

Selanjutnya, keseluruhan materi pada modul Keperawatan HIV/AIDS ini akan


disajikan dalam 14 (Empat Belas) topik dengan susunan sebagai berikut :

1. Topik 1. Epidemiologi Global Dan Lokal Kecenderungan Hiv/Aids Dan


Aspek Psiko, Sosio, Kultural, Dan Spiritual Klien Hiv/Aids
2. Topik 2. Pemeriksaan Fisik Dan Diagnostic Pada Klien Dengan Hiv/Aids
Dan Memahami Patofisiologi Hiv/Aids Diagnosis Hiv/Aids ,
Penatalaksanaan Hiv/Aids
3. Topik 3. Stigma Pada Odha
4. Topik 4. Perilaku Beresiko : Seks Bebas Dan Penyalahgunaan Napza
5. Topik 5. Penatalaksanaan Pasien Dengan Arv, Termasuk Peran Perawatan
Dalam Meningkatkan Adherence
6. Topik 6. Kewaspadaan Universal Precaution
7. Topik 7. Vct Dan Dasar-Dasar Konseling Bagi Pasien Dengan Hiv/Aids

iii
8. Topik 8. Askep Pada Ibu Hamil Dengan Hiv/Aids
9. Topik 9. Askep Pada Anak Dan Remaja Dengan Hiv/Aids
10. Topik 10. Askep Pada Klien Dengan Penyalahgunaan Napza
11. Topik 11. Pencegahan Primer, Sekunder, Tersier Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Pencegahan Primer, Sekunder, Tersier Kline Dengan Penyalahgunaan Napza
12. Topik 12. Telaah Jurnal, Trend Dan Issue Hiv/Aids, Family Centered Pada Odha
Dan Penyalahgunann Napza
13. Topik 13. Manajemen Kasus Pada Klien Dengan Hiv/Aids Manajemen Kasus
Pada Klien Dengan Penyalahgunaan Napza
14. Topik 14. Prinsip Komunikasi Konseling Pada Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Penyalahgunaan Napza, Konselling Pada Klien Dengan Hiv/Aids Dan
Penyalahgunaan Napza
Ada beberapa manfaat yang akan Anda peroleh setelah mempelajari materi dalam
mata kuliah ini, diantaranya Anda akan memperoleh wawasan dan pengetahuan baru
berkaitan dengan Keperawatan HIV/AIDS yang nanti dapat anda gunakan sebagai pedoman
kerja ketika anda akan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Selain tu Anda
akan dapat menilai tingkat kemampuan diri sendiri karena anda harus belajar mandiri tanpa
harus melakukan tatap muka langsung dengan tutor atau pembimbing mata kuliah ini. Anda
juga dapat mengetahui pada bagian-bagian modul mana yang masih belum sepenuhnya
anda pahami.
Oleh karena itu dalam mempelajari mata kuliah ini diharapkan Anda mempelajarinya
secara bertahap mulai dari materi yang disajikan pada modul topik pertama hingga ke topik
berikutnya serta mengikuti saran-saran sebagai berikut :
1. Pelajari materi pada modul ini dengan seksama dan anda pahami, jangan pindah ke
modul atau kegiatan belajar lain jika anda belum memahami isi materi yang
terkandung dalam modul atau kegiatan belajar yang disajikan. Jika anda sudah
nyakin telah memahaminya silakan untuk mempelajari pada topik berikutnya.
2. Dalam mempelajari modul ini diharapkan Anda memahami bahwa materi pada topik
1 merupakan dasar untuk mempelajari topik-topik berikutnya.
3. Selanjutnya kegiatan pada topik 2 merupakan materi yang harus dikuasai sebelum
mempelajari materi pada topik 3. Materi pada topik 3 akan lebih mudah dipelajari
setelah mempelajari materi pada topik 1 dan topik 2….. dst

Keberhasilan dalam mempelajari modul ini sangat tergantung pada keseriusan anda dalam
mempelajarinya. Oleh karena itu janganlah anda segan-segan untuk bertanya dan
mendiskusikan dengan teman anda jika ada materi yang belum anda pahami. Jika jawaban
belum memuaskan silahkan anda mencatat materi yang mana pada kegiatan belajar/modul

iv
mana yang belum dimengerti selanjutnya anda tanyakan pada tutor/pembimbing pada
kesempatan tatap muka secara langsung dengan tutor/pembimbing

v
TOPIK 1

EPIDEMIOLOGI GLOBAL DAN LOKAL KECENDERUNGAN HIV/AIDS DAN ASPEK


PSIKO, SOSIO, KULTURAL, DAN SPIRITUAL KLIEN HIV/AIDS

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran

1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 1 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Epidemiologi Kecendrungan HIV/AIDS dan Aspek Psiko, Sosio, Kultural dan Spritual
Klien HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 1, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Epidemiologi Kecendrungan HIV/AIDS
b. Aspek Psiko, Sosio, Kultural dan Spritual Klien HIV/AIDS.

1. Epidemiologi Global dan Lokal HIV/AIDS


Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan dari Bali pada bulan April tahun
1987. Penderitanya adalah seorang wisatawan Belanda yang meninggal di RSUP
Sanglah akibat infeksi sekunder pada paru-parunya. Sampai dengan akhir tahun
1990, peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi dua kali lipat.
Sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam akibat
penggunaaan narkotika suntik. Fakta yang mengkhawatirkan adalah pengguna
narkotika ini sebagian besar adalah remaja dan dewasa muda yang merupakan
kelompok usia produktif. Pada akhir Maret 2005 tercatat 6789 kasus HIV/AIDS yang
dilaporkan.
Kasus Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan global termasuk
Indonesia,dimana HIV/AIDS merupakan penyakit yang belum ada obatnya dan
belum bisa disembuhkan. Penyakit ini telah menjadi pandemik yang
mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena penyakit ini memiliki fase asimtomatik
(tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan penyakitnya, sedangkan jumlah
kasus HIV- AIDS dari tahun ke tahun terus meningkat. Permasalahan HIV dan AIDS
menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak
pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan
keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di
Indonesia.
Penyakit HIV & AIDS masih merupakan masalah kesehatan Global, termasuk
di Indonesia, Angka kejadian dan mortalitas terus meningkat. Meskipun kemajuan

1
bidang kedokteran dan farmasi serta telah dilakukan berbagai upaya pencegahan
primer dan sekunder, tetapi angka tetap tinggi. dilaporkan oleh Badan PBB untuk
AIDS UNAIDS United Nations Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNAIDS)
(2014), Indonesia merupakan penyumbang 23 persen infeksi baru di Asia Pasifik,
hanya kalah dari India yang menyumbang 38 persen.
Data Kementerian Kesehatan tahun 2017 mencatat dari 48.300 kasus HIV
positif yang ditemukan, tercatat sebanyak 9.280 kasus AIDS. Persentase wanita
umur 15-49 tahun dan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang
HIV-AIDS menurut provinsi, untuk Kepulauan Riau angka persentase wanita (91,1%)
lebih besar dibandingkan dengan laki-laki (88,9%). Dari data tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa wanita lebih banyak memiliki pengetahuan tentang HIV-AIDS
dibandingkan laki-laki. Jumlah HIV tahun 2016 adalah 1.054 kasus sedangkan AIDS
tahun 2016 berjumlah 438 kasus. Kasus HIV dan AIDs tertinggi berada pada
kelompok umur 25 – 49 tahun(78,18% dan 74,89%). Kelompok tersebut adalah
kelompok umur produktif. Kasus HIV dan AIDs lebih tinggi pada jenis kelamin laki-
laki (60,63% dan 73,97%) dibandingkan perempuan.
Estimasi dan proyeksi jumlah orang dengan HIV/AIDS pada umur ≥15 tahun
di Indonesia pada tahun 2017 adalah sebanyak 628.492 orang dengan jumlah infeksi
baru sebanyak 46.357 orang dan kematian sebanyak 40.468 orang (Estimasi dan
Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2015-2020,Kemenkes RI).
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai
HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui
Layanan Konseling dan Tes HIV baik secara sukarela (Konseling dan Tes
Sukarela/KTS) maupun atas dasar Tes atas Inisiatif Pemberi layanan kesehatan dan
Konseling (TIPK). Sedangkan prevalensi HIV pada suatu populasi tertentu dapat
diketahui melalui metode sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku
(STBP).
Jumlah kasus baru HIV positif yang dilaporkan dari tahun ketahun cenderung
meningkat dan pada tahun 2017 dilaporkan sebanyak 48.300 kasus. Sedangkan
jumlah kasus AIDS terlihat adanya kecenderungan peningkatan penemuan kasus
baru sampai tahun 2013 yang kemudian cenderung menurun pada tahun-tahun
berikutnya. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi karena jumlah pelaporan kasus
AIDS dari daerah masih rendah. Pada tahun 2017 kasus AIDS yang dilaporkan
menurun dibandingkan tahun 2016 yaitu sebanyak 9.280. Secara kumulatif, kasus
AIDS sampai dengan tahun 2017 sebesar 102.667 kasus.
Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru HIV positif dan AIDS tahun
2017 pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuanPenderita HIV positif pada

2
laki-laki sebesar 63,6% dan pada perempuan sebesar 36,4%. Sedangkan penderita
AIDS pada laki-laki sebesar 68,0% dan pada perempuan sebesar 31,9%. Menurut
kelompok umur, persentase kasus baru HIV positif dan AIDS tahun 2017. sifilis) pada
bayi. Proporsi terbesar kasus HIV dan AIDS masih pada penduduk usia produktif
(15-49 tahun), dimana kemungkinan penularan terjadi pada usia remaja. HIV dapat
ditularkan melalui hubungan seks, tranfusi darah, penggunaan jarum suntik
bergantian dan penularan dari ibu ke anak (perinatal). Berikut ini disajikan
persentase kasus HIV positif dan AIDS menurut faktor risiko penularan yang
dilaporkan pada tahun 2017 dari seluruh kasus HIV hampir setengahnya tidak
diketahui faktor risiko (43,5%). Faktor risiko tertinggi yaitu LSL sebesar 24,2%,
heteroseksual 22,4% dan Penasun sebesar 1,7%. Sedangkan kasus AIDS tertinggi
yaitu Heteroseksual sebesar 68,9% dan terendah transfusi sebesar 0,3%. Distribusi
kasus AIDS menurut jenis pekerjaan terbanyak pada tenaga non professional
(karyawan) (26,4%), ibu rumah tangga (16,2%) dan wiraswasta (14,3%).Pada tahun
2017 jumlah positif HIV dilaporkan bersamaan dengan penyakit penyerta terbanyak
adalah tuberkulosis (132.049 kasus) , diare (17.044 kasus) dan IMS (14.493 kasus).
Sementara data triwulan II tahun 2018 mencatat dari 21.336 kasus HIV
positif, tercatat sebanyak 6.162 kasus AIDS. Adapun jumlah kumulatif kasus AIDS
sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sampai dengan Juni 2018 tercatat
sebanyak 108.829 kasus. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai
dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang
dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan
di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah
infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa
Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).
Di kepulauan Riau sendiri pada Juni 2016 jumlah ODHA yang rutin
menggunakan terapi ARV berjumlah 821 dengan 459 Laki-laki dan 362 Perempuan
dengan persentasi tertinggi usia 25-49 tahun (Kemenkes RI Kepri, 2016). Di
Tanjungpinang jumlah kumulatif Januari sampai pertengahan tahun 2016 terdapat 24
Odha yang rutin mengkonsumsi obat ARV dari jumlah 128 penderita HIV/AIDS
(Kemenkes Kota Tanjungpinang, 2016), Jadi pada umumnya penderita tidak patuh
atau taat pada terapi antiretroviral (ARV)

2. Aspek Psiko, Sosio, Kulutural dan Spiritual Klien HIV/AIDS


Adanya perubahan kondisi fisik dan psikis pada orang dengan HIV/AIDS
akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologisnya seperti
rasa malu dan hilangnya kepercayaan dan harga diri. Selain itu, menurut Widayanti

3
dan Murtaqib (2016). Menurut WHO (2007) kualitas hidup sangat berkaitan dengan
kesehatan fisik, kondisi psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, dan
hubungan individu dengan lingkungannya. Orang dengan HIV/AIDS sangat penting
untuk memperhatikan aspek kualitas hidup karena HIV/AIDS bersifat kronis dan
progresif, sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik,
psikologis, sosial maupun spiritual (Simboh, Bidjuni & Lolong, 2015).
Bare dan Smeltzer (2009) HIV/AIDS tidak hanya menimbulkan masalah fisik
namun juga menimbulkan masalah sosial dan psikologis. Pasien yang telah
terdiagnosis HIV/AIDS, maka dia akan mengalami perubahan dalam hidupnya
seperti perubahan perilaku, perubahan sosial, dan perubahan psikologis.Perubahan-
perubahan tersebut dapat menjadi beban atau tekanan mental yang disebut dengan
stresor psikologis bagi penderita HIV/AIDS. Stresor psikologis adalah setiap keadaan
atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga
orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau Untuk meningkatkan mekanisme
koping maka seseorang perlu mendapatkan dukungan sosial, dan dukungan
spiritual. Dukungan sosial meliputi rasa empati, penghargaan, memberikan nasehat
dan saran. Sedangkan dukungan spiritual lebih kepada penguatan iman,
memberikan harapan dan makna hidup sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup.
Penelitian Rahakbauw (2016) diketahui bahwa pada orang dengan HIV/AIDS
mengalami masalah psikologis yang tercermin dalam ketakutan, keccemasan,
kesedihan, kebingungan, kemarahan dan kehilangan rasa percaya diri serta,
keputusasaan ketika mengetahui tentang penyakit yang dialami. Hal ini diperkuat
dengan pernyataan Hawari (2006) bahwa orang dengan HIV/AIDS pada umumnya
mengalami gangguan stres, kecemasan, depresi bahkan ada yang sampai Selain
masalah fisik tersebut, pasien HIV/AIDS juga menghadapi masalah sosial yang
cukup memprihatinkan, hal ini terjadi karena penyakit HIV identik dengan akibat dari
perilaku-perilaku tidak bermoral seperti seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan
seks sesama jenis (homoseksual) sehingga pasien dianggap pantas untuk mendapat
hukuman akibat perbuatannya tersebut.
Pasien HIV/AIDS juga harus berjuang dengan berbagai masalah sosial
seperti stigma, kemiskinan, depresi, penyalahgunaan zat, dan keyakinan budaya
yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka, tidak hanya dari aspek kesehatan
fisik saja, tetapi dari aspek kesehatan mental dan sosial (Basavaraj, et al, 2010)
Orang dengan HIV/AIDS memiliki kualitas hidup yang rendah yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor sosial, faktor psikologis, dan faktor
spiritual. Permasalahan psikososial pada orang dengan HIV/AIDS dapat dinetralisir

4
atau dihilangkan dengan kehidupan spiritualitas yang kuat. Spiritualitas merupakan
dimensi penting bagi kesejahteraan perasaan pada ODHA.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri pada Tuhan
salah satunya dengan berdoa. Doa berpengaruh dalam proses penyembuhan.
Benson menyimpulkan bahwa ketika seseorang terlibat secara mendalam dengan
doa yang diulang-ulang (repetitive prayer), ternyata akan membawa berbagai
perubahan fisiologis, antara lain berkurangnya kecepatan detak jantung,
menurunnya kecepatan napas, menurunnya tekanan darah, melambatnya
gelombang otak dan pengurangan menyeluruh kecepatan metabolisme.
Perry & Potter (2013) mengatakan spiritualitas doa bagi pasien HIV/AIDS
merupakan pengalaman pribadi yang unik pada setiap pasien, yang dapat
memberikan makna yang berbeda karena dipengaruhi oleh iman dari setiap individu
untuk bisa memelihara hidup dan menerima pemberian Tuhan. Menurut penelitian
Holzemer et al. (2007) menyatakan bahwa secara fisiologis, penderita HIV tidak
hanya mengalami infeksi oportunistik, tapi juga mempengaruhi fungsi sistem multipel
organ. Perjalanan penyakit yang memburuk dan tidak dapat diprediksi ini
berhubungan dengan peningkatan distress psikologis pada ODHA. Distress dan
kecemasan dapat mengarah kepada depresi. Depresi juga telah dihubungkan
dengan beberapa hasil dan perilaku kesehatan yang tidak baik, temasuk progressif
penyakit HIV yang semakin cepat.

Ringkasan
Penyakit HIV & AIDS masih merupakan masalah kesehatan Global, termasuk di
Indonesia, Angka kejadian dan mortalitas terus meningkat. Meskipun kemajuan
bidang kedokteran dan farmasi serta telah dilakukan berbagai upaya pencegahan
primer dan sekunder,
Pasien HIV/AIDS juga harus berjuang dengan berbagai masalah sosial seperti
stigma, kemiskinan, depresi, penyalahgunaan zat, dan keyakinan budaya yang dapat
mempengaruhi kualitas hidup mereka, tidak hanya dari aspek kesehatan fisik saja,
tetapi dari aspek kesehatan mental dan social

Tes formatif 1
Petunjuk :
Bacalah setiap butir soal berikut ini dengan cermat dan kerjakanlah terlebih dahulu
butir soal yang menurut anda relative lebih mudah. Usahakanlah untuk mengerjakan
semua butir soal tes firmatif. Waktu yang disediakan adalah 1 menit setiap butir soal.

5
Apabila masih tersisa waktu, periksalah kembali lembar jawaban anda apakah ada
soal yang belum terjawab. Selamat mengerjakan tes formatif ini :
1. Kapan kasus HIV terjadi diindonesia?
2. Dimana kasus HIV pertama kali ditemukan?
3. Kapan kasus HIv meningkat pada pengguna napza?
4. Apa saja yang terjadi pada penderita HIV dan jelaskan.?

6
TOPIK 2
PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIC PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS DAN
MEMAHAMI PATOFISIOLOGI HIV/AIDS DIAGNOSIS HIV/AIDS , PENATALAKSANAAN
HIV/AIDS

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 2 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik Pada Klien dengan HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 2, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Pemeriksaan Fisik pada klien dengan HIV/AIDS
b. Diagnostik Pada Klien dengan HIV/AIDS
c. Patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan HIV/AIDS

A. Pemeriksaan Fisik Klien dengan HIV


Pemeriksaan Fisik HIV meliputi antara lain:
a. Suhu.
Demam umum pada orang yang terinfeksi HIV, bahkan bila tidak ada gejala lain.
Demam kadang-kadang bisa menjadi tanda dari jenis penyakit infeksi tertentu
atau kanker yang lebih umum pada orang yang mempunyai sistem kekebalan
tubuh lemah Dokter akan memeriksa suhu pada setiap kunjungan.
b. Berat.badan
Pemeriksaan berat badan dilakukan pada setiap kunjungan.Kehilangan 10% atau
lebih dari berat badan Anda mungkin akibat dari sindrom wasting, yang
merupakan salah satu tanda-tanda AIDS, dan yang paling parah Tahap terakhir
infeksi HIV. Diperlukan bantuan tambahan gizi yang cukup jika Anda telah
kehilangan berat badan.
c. Mata.
Cytomegalovirus (CMV) retinitis adalah komplikasi umum AIDS. Halini terjadi
lebih sering pada orang yang memiliki CD4 jumlah kurang dari100 sel per
mikroliter (MCL). Termasuk gejala floaters, penglihatan kabur,atau kehilangan
penglihatan. Jika terdapat gejala retinitis CMV,diharuskan memeriksakan diri
kedokter mata sesegera mungkin.Beberapa dokter menyarankan kunjungan
dokter mata setiap 3 sampai 6 bulan jika jumlah CD4 anda kurang dari 100 sel
per mikroliter (MCL).

7
d. Mulut
Infeksi Jamur mulut dan luka mulut lainnya sangat umum pada orang yang
terinfeksi HIV. Dokter akan akan melakukan pemeriksaan mulut pada setiap
kunjungan. pemeriksakan gigi setidaknya dua kali setahun. Jika Anda beresiko
terkena penyakit gusi (penyakit periodontal), perlu dilakukan pemeriksaan gigi
lebih sering.
e. Kelenjar getah bening.
Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) tidak selaludisebabkan oleh
HIV. Pada pemeriksaankelenjar getah beningyangsemakin membesar atau jika
ditemukan ukuran yang berbeda, Dokter akan memeriksa kelenjar getah bening
Anda pada setiap kunjungan.
f. Perut.
Pemeriksaan abdomen mungkin menunjukkan hati yang membesar
(hepatomegali) atau pembesaran limpa (splenomegali). Kondisi ini
dapatdisebabkan oleh infeksi baru atau mungkin menunjukkan kanker. Dokter
akan melakukan pemeriksaan perut pada kunjungan setiap atau jika Anda
mengalami gejala-gejala seperti nyeri di kanan atas atau bagian kiri atasperut
Anda.
g. Kulit.
Kulit merupakan masalah yang umum untuk penderita HIV.pemeriksaan yang
teratur dapat mengungkapkan kondisi yang dapatdiobati mulai tingkat keparahan
dari dermatitis seboroik dapat sarkoma Kaposi. Dokter akan melakukan
pemeriksaan kulit setiap 6 bulan atau kapan gejala berkembang.
h. Ginekologi terinfeksi.
Perempuan yang HIV-memiliki lebih serviks kelainan sel dari pada wanita yang
tidak memiliki HIV. Perubahan ini sel dapat dideteksi dengant es Pap. Anda
harus memiliki dua tes Pap selama tahun pertama setelah didiagnosa HIV. Jika
kedua pemeriksaan Pap Smear hasilnya normal, harus dilakukan tes Pap sekali
setahun. harus melakukan tes Pap lebih sering jika pernah memiliki hasil tes
abnormal. Pemeriksaan fisik secara menyeluruh akan memberikan informasi
tentang keadaan kesehatan saat ini. Pada Pemeriksaan selanjutnya dokter
akanmenggunakan informasi ini untuk melihat apakah status kesehatan berubah.
Pemeriksaan fisik pada klien dengan HIV/AIDS dilakukan secara sistematis dan
difokuskan kepada gejala klinis yang dialami klien.
System pernafasan : dyspnea, TBC dan pneumonia; system pencernaan :
nausea, fomiting, diare, dispagia, dan BB turun 10% m 3 bulan; system
persyarafan : letargia, nyeri sendi, dan encepalopati; sstem integumen : edema

8
yang disebabkan kaposisi sarcoma, lesi dkulit atau mukosa dan alergi; lain-lain :
demam dan resiko menularkan dan lain-lain.

B. Diagnostic pada Klien dengan HIV/AIDS


Tes diagnostik HIV merupakan bagian dari proses klinis untuk menentukan
diagnosis. Diagnosis HIV ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium. Jenis
pemeriksaan laboratorium HIV dapat berupa:
1. Tes serologi terdiri atas :
a. Tes cepat
Tes cepat dengan reagen yang sudah dievaluasi oleh institusi yang ditunjuk
Kementerian Kesehatan, dapat mendeteksi baik antibody terhadap HIV-1
maupun HIV-2. Tes cepat dapat dijalankan pada jumlah sampel yang lebih
sedikit dan waktu tunggu untuk mengetahui hasil kurang dari 20 menit
bergantung pada jenis tesnya dan dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih.
b. Tes Enzyme Immunoassay (EIA)
Tes ini mendeteksi antibodi untuk HIV-1 dan HIV-2. Reaksi antigenantibodi
dapat dideteksi dengan perubahan warna.
c. Tes Western Blot
Tes ini merupakan tes antibodi untuk konfirmasi pada kasus yang Sulit Bayi
dan anak umur usia kurang dari 18 bulan terpajan HIV yang tampak sehat
dan belum dilakukan tes virologis, dianjurkan untuk dilakukan tes serologis
pada umur 9 bulan (saat bayi dan anak mendapatkan imunisasi dasar
terakhir). Bila hasil tes tersebut:
- Reaktif harus segera diikuti dengan pemeriksaan tes virologis untuk
- Mengidentifikasi kasus yang memerlukan terapi ARV.
- Non reaktif harus diulang bila masih mendapatkan ASI. Pemeriksaan
Ulang dilakukan paling cepat 6 minggu sesudah bayi dan anak berhentin
menyusu.
d. Jika tes serologis reaktif dan tes virologis belum tersedia, perlu dilakukan
pemantauan klinis ketat dan tes serologis diulang pada usia 18 bulan.
Bayi dan anak umur kurang dari 18 bulan dengan gejala dan tanda diduga
disebabkan oleh infeksi HIV harus menjalani tes serologis dan jika hasil tes
tersebut:
- Reaktif diikuti dengan tes virologis.
- Non reaktif tetap harus diulang dengan pemeriksaan tes serologis
pada usia 18 bulan.

9
Pada bayi dan anak umur kurang dari 18 bulan yang sakit dan diduga
disebabkan oleh infeksi HIV tetapi tes virologis tidak dapat dilakukan, diagnosis
ditegakkan menggunakan diagnosis presumtif. Pada bayi dan anak umur kurang
dari 18 bulan yang masih mendapat ASI, prosedur diagnostik awal dilakukan
tanpa perlu menghentikan pemberian ASI. Anak yang berumur di atas 18 bulan
menjalani tes HIV sebagaimana yang dilakukan pada orang dewasa.

2. Tes virologis Polymerase Chain Reaction (PCR)


Tes virologis direkomendasikan untuk mendiagnosis anak berumur kurang
dari 18 bulan. Tes virologis yang dianjurkan: HIV DNA kualitatif dari darah
lengkap atau Dried Blood Spot (DBS), dan HIV RNA kuantitatif dengan
menggunakan plasma darah. Bayi yang diketahui terpajan HIV sejak lahir
dianjurkan untuk diperiksa dengan tes virologis paling awal pada umur 6 minggu.
Pada kasus bayi dengan pemeriksaan virologis pertama hasilnya positif, maka
terapi ARV harus segera dimulai; pada saat yang sama dilakukan pengambilan
sampel darah kedua untuk pemeriksaan tes virologis kedua. Tes virologis terdiri
atas:
a. HIV DNA kualitatif (EID)
Tes ini mendeteksi keberadaan virus dan tidak bergantung pada
keberadaan antibodi HIV. Tes ini digunakan untuk diagnosis pada bayi.
b. HIV RNA kuantitatif
Tes ini untuk memeriksa jumlah virus di dalam darah, dan dapat digunakan
untuk pemantauan terapi ARV pada dewasa dan diagnosis pada bayi jika
HIV DNA tidak tersedia. Diagnosis HIV pada bayi dapat dilakukan dengan
cara tes virologis, tes antibodi, dan presumtif berdasarkan gejala dan tanda
klinis
Diagnosis HIV pada bayi berumur kurang dari 18 bulan, idealnya
dilakukan pengulangan uji virologis HIV pada spesimen yang berbeda untuk
informasi konfirmasi hasil positif yang pertama sebagaimana bagan di bawah ini.
Diagnosis presumtif infeksi HIV pada bayi dan anak umur kurang dari 18
bulan Bila ada bayi dan anak berumur kurang dari 18 bulan dan dipikirkan
terinfeksi HIV, tetapi perangkat laboratorium untuk HIV DNA kualitatif tidak
tersedia, tenaga kesehatan diharapkan mampu menegakkan diagnosis dengan
cara diagnosis presumtif.

10
C. Patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan HIV/AIDS
a. Patofisiologi HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan masalah
kesehatan dunia pada saat ini maupun masa yang akan datang karena penyakit
ini menyebar hampir di seluruh negara. Penyakit ini berkembang secara
pandemi, menyerang negara maju maupun negara berkembang. AIDS
merupakan sindrom atau kumpulan gejala yang disebabkan oleh infeksi virus HIV
(Human Immunodeficiency Virus), yang menyerang sistem
kekebalan/pertahanan tubuh.
HIV disebabkan oleh HIV1,3 Virus HIV termasuk Retrovirus anggota
subfamily Lentifiridae dengan diameter 80 – 120 nm. Infeksi dari Lentivirus
secara khas ditandai dari sifat latennya yang lama, masa inkubasinya yang lama,
replikasi virus yang persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat.
Sedangkan ciri khas untuk suatu jenis retrovirus yaitu, dikelilingi oleh membran
lipid, mempunyai kemampuan variasi genetik yang tinggi, mempunyai cara yang
unik untuk replikasi. Virus ini sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit
untuk menemukan obat yang dapat membunuh, virus tersebut. Daya penularan
pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada didalam darahnya,
semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya
penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. HIV ada 2 tipe yaitu :
tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis
relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas
dari HIV-2 lebih rendah dibandingkan HIV-1.
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus atau
jasad renik yang sangat kecil yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.
Sedangkan AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sindroma
atau sekumpulan gejala dan tanda penyakit akibat hilangnya atau menurunnya
sistem kekebalan tubuh seseorang yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV.
Di dalam tubuh manusia terdapat sel-sel darah putih yang berfungsi untuk
melawan dan membunuh bibit-bibit atau kuman-kuman penyakit yang masuk ke
dalam tubuh manusia. Dengan demikian sel-sel darah putih melindungi
seseorang dari jatuh sakit. Inilah yang disebut kekebalan tubuh manusia, yang
merupakan daya tahan tubuh seseorang.
Jika seseorang terinfeksi oleh HIV, maka virus ini akan menyerang sel darah
putih. Selanjutnya ia akan merusak dinding sel darah putih untuk masuk ke
dalam sel dan merusak bagian yang memegang peranan pada kekebalan tubuh.
Sel darah putih yang telah dirusak tersebut menjadi lemah, dan tidak lagi mampu

11
melawan kuman-kuman penyakit. Lambat laun sel darah putih yang sehat akan
sangat berkurang. Akibatnya, kekebalan tubuh orang tersebut menjadi menurun,
dan akhirnya ia sangat mudah terserang penyakit. Bahkan serangan suatu
penyakit yang untuk orang lain dapat digolongkan ringan, bagi pengidap HIV dan
AIDS (Orang dengan HIV dan AIDS disingkat Odha), penyakit tersebut dapat
menjadi berat, bahkan dapat menimbulkan kematian. Misalnya penyakit
influenza, pada orang sehat penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dalam
waktu kurang lebih satu minggu, meskipun tidak diobati sama sekali asalkan
penderita makan, tidur dan istirahat yang cukup. Pada Odha, penyakit influenza
ini akan menetap lebih lama bahkan semakin parah pada waktu tertentu.
Seorang penderita AIDS dapat meninggal oleh penyakit infeksi lain yang
menyerang dirinya akibat kekebalan tubuhnya yang terganggu (disebut infeksi
oportunistik).
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV, yang berarti dalam tubuhnya mengidap
HIV, disebut sebagai HIV + (positif). Orang yang telah terinfeksi HIV dalam
beberapa tahun pertama belum menunjukkan gejala apapun, sehingga secara
fisik ia kelihatan tidak berbeda dengan orang lain yang sehat. Namun dia
mempunyai potensi sebagai sumber penularan, artinya ia dapat menularkan virus
kepada orang lain. Setelah periode 5 hingga 10 tahun, atau jika kekebalan
tubuhnya sudah sangat melemah karena berbagai infeksi lain, seorang pengidap
HIV mulai menunjukkan gejala-gejala dan tanda-tanda bermacam-macam
penyakit yang muncul karena rendahnya daya tahan tubuh. Pada keadaan ini
orang tersebut telah menjadi AIDS.
Untuk berada di dalam tubuh manusia, HIV harus masuk langsung ke dalam
aliran darah orang yang bersangkutan. Sedangkan di luar tubuh manusia, HIV
sangat cepat mati. HIV bertahan lebih lama di luar tubuh manusia hanya bila
darah yang mengandung HIV tersebut masih dalam keadaan belum mengering.
Dalam media darah kering HIV akan lebih cepat mati. HIV juga mudah mati oleh
air panas, sabun dan bahan pencuci hama lain misalnya karbol. Oleh karena HIV
cepat mati di luar tubuh manusia, maka ia tidak dapat menular lewat udara
seperti virus lainnya, misalnya virus influenza.
Di dalam tubuh manusia, HIV terutama terdapat pada cairan: darah, air mani
(cairan sperma), dan cairan vagina (cairan kemaluan wanita). Telah terbukti,
bahwa ketiga cairan inilah yang dapat menularkan HIV. Selain di dalam keempat
cairan yang telah disebutkan di atas, HIV juga dapat ditemukan di dalam: air
mata, air liur, cairan otak dan keringat. Namun sampai kini belum ada bukti
bahwa HIV dapat ditularkan melalui cairan-cairan tersebut. Perlu diketahui pula

12
bahwa HIV tidak terdapat dalam air kencing (urine), tinja, dan muntahan apabila
tercampur dengan cairan tubuh lain.
HIV dapat mencapai sirkulasi sistemik secara langsung dengan di perantarai
benda tajam yang mampu menembus dinding pembuluh darah atau secara tidak
langsung melalui kulit dan mukosa yang tidak intak. Setelah berada dalam
sirkulasi sistemik, 4-11 hari sejak paparan pertama HIV dapat di deteksi di dalam
darah. Masa inkubasi HIV berkisar antara 6 minggu sampai 6 tahun atau lebih.
Virus biasanya masuk tubuh dengan menginfeksi sel langerhans di mukosa
rektum ataupun vagina, kemudian bergerak dan bereplikasi di KGB setempat.
Kemudian virus disebarkan melalui viremia yang disertai sindrom dini akut
berupa panas, mialgia dan atralgia. Virus menginfeksi sel CD4, makrofag dan sel
dendritik dalam darah dan organ limfoid. Antigen virus nukleokapsid, p24 dapat
ditemukan dalam darah selama fase ini. Fase ini kemudian dikontrol sel CD8+
dan antibodi dalam sirkulasi terhadap p24 dan protein envelope gp120 dan gp41.
Efikasi sel Tc dalam mengontrol virus terlihat dari menurunnya kadar virus.
Respon imun tersebut menghancurkan HIV dalam KGB yang merupakan
reservoir utama HIV selama fase selanjutnya dan fase laten. Meskipun hanya
kadar rendah virus diproduksi dalam fase laten , destruksi sel CD4 berjalan terus
dalam kelenjar limfoid. Akhirnya jumlah CD4 dalam sirkulasi menurun. Kemudian
menyusul fase progressif kronis dan penderita menjadi rentan terhadap berbagai
infeksi oleh kuman non patogenik. Setelah HIV masuk kedalam sel dan
terbentuk dsDNA, integrasi DNA viral ke dalam genom sel pejamu membentuk
provirus. Provirus tetap laten sampai kejadian dalam sel terinfeksi mencetuskan
aktifasinya, yang mengakibatkan terbentuk pengelepasan partikel virus. Walau
CD4 berikatan dengan envelop glikoprotein HIV-1, diperlukan reseptor kedua
supaya dapat masuk dan terjadi infeksi. Subjek yang baru terinfeksi HIV dapat
disertai gejala atau tidak.

b. Diagnosis HIV/AIDS
Terjadinya infeksi HIV pada seseorang hanya dapat dideteksi dengan
melakukan tes darah untuk melihat adanya zat anti bodi terhadap HIV. Jadi tes
ini tidak untuk melihat adanya HIV dalam darah. Tes ini disebut tes antibodi HIV,
atau orang sering menyebutnya tes HIV. Tes ini sering digunakan untuk
penyaringan atau skrining darah donor sebelum transfusi darah diberikan.
Tes lain yang digunakan untuk melihat partikel virus atau HIV itu sendiri disebut
tes antigen. Bila tubuh kemasukan suatu bibit penyakit, baik bakteri, virus, atau
lainnya (semua ini disebut antigen), maka tubuh kita akan membuat zat anti

13
untuk melawan antigen tersebut. Zat anti ini disebut antibodi, yang
keberadaannya di dalam darah dapat dideteksi dengan pemeriksaan
menggunakan zat-zat tertentu (yang disebut reagensia). Tubuh membutuhkan
waktu tertentu untuk membentuk antibodi, yang kemudian dapat terdeteksi
dengan pemeriksaan laboratorium.
Pada infeksi HIV, adanya antibodi yang dapat terdeteksi dengan pemeriksaan
laboratorium ini adalah setelah 1 sampai 6 bulan (masa periode jendela)
seseorang terinfeksi atau terpapar HIV. Sedangkan sebelum waktu ini,
pemeriksaan darah tidak akan menunjukkan adanya antibodi HIV (disebut hasil
tes negatif). Walaupun pemeriksaan darahnya masih negatif, namun orang
tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain. Terdapat 3 stadium
penyakit HIV yang memiliki gejala yang berbeda-beda yaitu:
1) Tahap pertama (stadium infeksi primer akut)
Tahap awal adalah serokonversi, yaitu tahapan dimana antibodi HIV sudah
mulai berkembang dalam tubuh penderita untuk melawan virus HIV dan
berada dalam sirkulasi darah tubuh. Pada awalnya orang yang baru terinfeksi
atau tertular penyakit HIV akan mengalami gejala flu antara 1 sampai 4
minggu setelah infeksi. Hampir 80 persen orang yang terinfeksi HIV akan
mengalami gejala flu tersebut. Gejala awal yang biasanya muncul adalah
demam, sakit tenggorokan dan timbul ruam kemerahan pada tubuh. Gejala
lain meliputi badan lemas, nyeri sendi, nyeri otot dan pembengkakan kelenjar
getah bening. Gejala tersebut dapat bertahan hingga 4 minggu yang
menunjukkan adanya perlawanan sistem kekebalan tubuh Anda terhadap
virus.
2) Tahap kedua (stadium HIV asimptomatik)
Setelah tahap serokonversi selesai, penderita biasanya akan merasa lebih
baik karena memasuki tahap kedua. Pada tahap ini tidak ada gejala yang
muncul yang disebut sebagai HIV asimptomatik. Penderita tidak mengalami
keluhan apapun hingga beberapa tahun. Tahapan ini dapat berlangsung
hingga 10 sampai 15 tahun tergantung usia dan status kesehatan secara
umum. Walaupun tidak memberikan gejala, sebenarnya virus ini masih aktif
dan menginfeksi sel baru, menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh
Anda.
3) Tahap ketiga (stadium HIV simptomatik)
Tahap ketiga adalah tahap terakhir dimana sudah terjadi banyak kerusakan
pada sistem kekebalan tubuh penderita. Pada tahap ini penderita mudah

14
sekali terserang infeksi serius dari bakteri, yakni virus maupun jamur yang
seharusnya bisa dilawan. Infeksi ini disebut sebagai infeksi oportunistik.
Berbagai gejala yang dapat timbul pada stadium ini termasuk gejala infeksi
serius meliputi: Penurunan berat badan, Diare berkepanjangan, Keringat dingin
pada malam hari, Demam, Batuk persisten, Masalah kulit dan mulut seperti
infeksi jamur, Infeksi berulang dan sering, Terkena penyakit serius
Perlu diketahui bahwa HIV dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
itu tidak sama. AIDS bukanlah virus atau penyakit sendiri, namun istilah untuk
kondisi atau sindrom dari serangkaian gejala tertentu. Penderita AIDS biasanya
sudah mengalami kerusakan serius pada sistem kekebalan tubuh

c. Penatalaksanaan HIV/AIDS
Pada dasarnya infeksi HIV tidak dapat disembuhkan. Namun telah ditemukan
obat yang dapat menghambat perkembangbiakan virus (HIV) sehingga
jumlahnya tidak bertambah di dalam tubuh. Obat tersebut dinamakan obat
antiretroviral (ARV). Penggunaan ARV secara kombinasi (triple drugs) yang
dijalankan dengan dosis dan cara yang benar, mampu membuat jumlah HIV di
dalam tubuh Odha menjadi sangat sedikit, bahkan ada yang sampai tidak bisa
dideteksi lagi (undetectable). Menurut data Pokdisus AIDS FKUI/RSCM, lebih
dari 250 Odha yang minum ARV secara rutin setiap hari, setelah 6 bulan jumlah
viral load-nya undetectable. Meski sudah tidak terdeteksi, pemakaian ARV tidak
boleh dihentikan karena jika dihentikan dalam dua bulan akan kembali ke
keadaan sebelum diberi ARV. Aspek kepatuhan (adherence) dalam minum ARV
sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Kepatuhan berarti minum
obat yang tepat (jenis dan dosisnya), waktu minum obat yang tepat (ketepatan
waktu), dan cara yang tepat (dengan makan atau tidak).
Selain untuk menurunkan jumlah virus, ARV juga bermanfaat untuk
meningkatkan kekebalan tubuh yang dapat dipantau dengan pemeriksaan CD4.
Peningkatan kekebalan tubuh (CD4 diatas 200) akan mengurangi risiko infeksi
oportunistik. Karena jumlah HIV dalam darah berkurang, maka risiko penularan
HIV dari Odha yang memakai ARV tersebut ke orang lain juga akan berkurang,
meskipun tidak berarti tidak mungkin terjadi penularan. Untuk itu, Odha tetap
harus menggunakan kondom meskipun HIV di tubuhnya tak ditemukan lagi.
Karena ARV merupakan pengobatan seumur hidup, maka perlu pertimbangan
yang matang sebelum digunakan, misalnya: pertimbangan biaya, kesiapan
tenaga kesehatan, pertimbangan kepatuhan minum obat, pertimbangan
kesinambungan ARV, pemantauan hasil pengobatan, dan efek samping. Untuk

15
itu, sebelum menggunakan ARV sebaiknya Odha menjalani konseling. Jenis
obat ARV antara lain: 1. AZT (Retrovir) 2. 3TC (Lamivudin) 3. Nevirapine
(Viramun) 4. ddI (Videx) 5. ddC (Hivid) 6. d4T (Zerit) 7. Saquinavir 8. Ritonavir 9.
Indinavir
Jenis obat-obat tersebut sejak tahun 2003 telah diproduksi secara generik di
Indonesia (PT Kimia Farma) sehingga harganya menjadi sangat murah, bahkan
telah disubsidi penuh oleh pemerintah (Odha bisa mendapatkannya secara
gratis). Nama obat ARV generik tersebut adalah Reviral (berisi AZT), Hiviral
(3TC), Duviral (AZT+3TC), dan Trivial (AZT+3TC+Nevirapine).

Ringkasan
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis seperti suhu terjada peningkatan
(demam), BB terjadi penurunan sampai 10% dari BB, mulut didapatkan adanya
kandidiasis, pada mata terjadi retinitis, diabdomen terjadi pembesaran pada hepar,
limpa dll, pada kulit terjadi sarcoma Kaposi dll. Tes diagnostic yang dilakukan pada
pasien tersangka HIV/AIDS dengan test serologi dan virologi.
HIV dapat mencapai sirkulasi sistemik secara langsung dengan di perantarai benda
tajam yang mampu menembus dinding pembuluh darah atau secara tidak langsung
melalui kulit dan mukosa yang tidak intak. Setelah berada dalam sirkulasi sistemik, 4-
11 hari sejak paparan pertama HIV dapat di deteksi di dalam darah. Masa inkubasi
HIV berkisar antara 6 minggu sampai 6 tahun atau lebih. Virus biasanya masuk tubuh
dengan menginfeksi sel langerhans di mukosa rektum ataupun vagina, kemudian
bergerak dan bereplikasi di KGB setempat. Kemudian virus disebarkan melalui viremia
yang disertai sindrom dini akut berupa panas, mialgia dan atralgia. Virus menginfeksi
sel CD4, makrofag dan sel dendritik dalam darah dan organ limfoid. Antigen virus
nukleokapsid, p24 dapat ditemukan dalam darah selama fase ini. Fase ini kemudian
dikontrol sel CD8+ dan antibodi dalam sirkulasi terhadap p24 dan protein envelope
gp120 dan gp41. Efikasi sel Tc dalam mengontrol virus terlihat dari menurunnya kadar
virus. Respon imun tersebut menghancurkan HIV dalam KGB yang merupakan
reservoir utama HIV selama fase selanjutnya dan fase laten. Meskipun hanya kadar
rendah virus diproduksi dalam fase laten , destruksi sel CD4 berjalan terus dalam
kelenjar limfoid. Akhirnya jumlah CD4 dalam sirkulasi menurun. Kemudian menyusul
fase progressif kronis dan penderita menjadi rentan terhadap berbagai infeksi oleh
kuman non patogenik. Setelah HIV masuk kedalam sel dan terbentuk dsDNA,
integrasi DNA viral ke dalam genom sel pejamu membentuk provirus. Provirus tetap
laten sampai kejadian dalam sel terinfeksi mencetuskan aktifasinya, yang
mengakibatkan terbentuk pengelepasan partikel virus. Walau CD4 berikatan dengan

16
envelop glikoprotein HIV-1, diperlukan reseptor kedua supaya dapat masuk dan terjadi
infeksi. Subjek yang baru terinfeksi HIV dapat disertai gejala atau tidak.
Diagnosis HIV dapat dideteksi dengan melakukan tes darah untuk melihat adanya zat
anti bodi terhadap HIV. Jadi tes ini tidak untuk melihat adanya HIV dalam darah. Tes
ini disebut tes antibodi HIV, atau orang sering menyebutnya tes HIV. Tes ini sering
digunakan untuk penyaringan atau skrining darah donor sebelum transfusi darah
diberikan. Dan test lainnya.
Penatalaksanaan infeksi HIV tidak dapat disembuhkan. Namun telah ditemukan obat
yang dapat menghambat perkembangbiakan virus (HIV) sehingga jumlahnya tidak
bertambah di dalam tubuh. Obat tersebut dinamakan obat antiretroviral (ARV).
Penggunaan ARV secara kombinasi (triple drugs) yang dijalankan dengan dosis dan
cara yang benar, mampu membuat jumlah HIV di dalam tubuh Odha menjadi sangat
sedikit, bahkan ada yang sampai tidak bisa dideteksi lagi (undetectable).

Test Formatif
Masalah yang sering dijumpai pada penderita HIV dengan gangguan pada pernafasan
ditandai dengan
a. Nafas bau keton
b. Tachikardi namun kadang-kadang juga bradikardi
c. Napas pendek progresif, ada batuk, sesak pada dada
d. undistress pernapasan, perubahan bunyi jantung, adanya sputum
e. Odem paru.

 Setelah virus masuk ketubuh manusia dan sirkulasi darah, antibody yang dapat
dideteksi untuk menentukan apakah pasien tersebut terinfeksi atau tidak?
 Test apa saja yang dilakukan untuk menentukan HIV?
 Ada berapa stadium HIV/AIDS?

17
TOPIK 3
STIGMA PADA ODHA
Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 3 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Stigma dan Diskriminasi Pada ODHA.
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 3, mahasiswa
diharapkan dapat :
Stigma Dan Diskriminasi Pada ODHA dan

Stigma pada Odha


Konsep mengenai stigma diperkenalkan oleh Goffman, yang melihat stigma sebagai
proses berdasarkan konstruksi indentitas sosial. Orang-orang yang terkait dengan kondisi
penstigmaan berpindah dari “normal” menjadi “diskredit” atau secara status sosial
“didiskreditkan” (Kleinman dan Hall-Clifford, 2009: 1). Goffman mengatakan Orang-orang
yang distigma adalah mereka yang tidak memiliki penerimaan sosial penuh, dan terus
menerus berusaha menyesuaikan.
Stigma adalah prasangka memberikan label sosial yang bertujuan untuk memisahkan
atau mendiskreditkan seseorang atau sekelompok orang dengan cap atau pandangan
buruk. Dalam prakteknya, stigma mengakibatkan tindakan diskriminasi, yaitu tindakan tidak
mengakui atau tidak mengupayakan pemenuhan hak-hak dasar individu atau kelompok
sebagaimana selayaknya sebagai manusia yang bermartabat. Stigma dan diskriminasi
masih sering terjadi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
Terdapat tiga jenis stigma yaitu, stigma karena sifat/ ciri-ciri karakter, keadaan fisik,
dan identitas kelompok. Kecacatan karakter individual dipersepsikan sebagai keinginan
yang lemah, dominasi, atau keinginan yang tidak alami, kepercayaan yang kaku, dan
ketidakjujuran. Mereka yang masuk ke dalam kategori ini adalah penderita sakit mental,
narapidana, pencandu, homoseksual, pengangguran, dan perilaku politik yang radikal.
Stigma yang dialami oleh ODHA, dapat digolongkan ke dalam jenis ini. Pandangan
yang melekat mengenai ODHA adalah mereka menderita HIV AIDS karena perilaku yang
menyimpang, padahal tidak selalu demikian. Goffman juga mengungkapkan beberapa
respons yang bisa diambil oleh orang-orang yang distigma dalam menghadapi orang-orang
“normal” (tidak distigma atau menstigma). Khususnya mereka dengan stigma fisik,
responsnya biasanya melalui kompensasi8 atas kekurangan fisik mereka. Sedangkan
mereka dengan stigma jenis lain, bisa membentuk kelompok-kelompok pendukung untuk
membangun rasa kebersamaan dan saling memberi semangatStigma dan diskriminasi

18
masih menjadi masalah didalam upaya pengendalian HIV/AIDS di Indonesia. Hal ini
disebabkan karena ketakutan, kurangnya pengetahuan dan prasangka yang menciptakan
stigma serta diskriminasi pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Masyarakat hanya
mengetahui HIV/AIDS itu merupakan sebatas penyakit menular dan penderitanya
berbahaya dan belum memahami secara benar cara penularannya. Adanya
ketidakpahaman ini menyebabkan timbulnya sikap berlebihan yang tidak mendukung
kehidupan ODHA
Salah satu kendala dalam pengendalian penyakit HIV/AIDS adalah stigma dan
diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS (ODHA). Stigma dan diskriminasi terkait HIV
bertahan sebagai hambatan utama untuk HIV yang efektif respon di semua bagian dunia ,
dengan survei nasional menemukan bahwa diskriminasi pengobatan orang yang hidup
dengan HIV terus terjadi dibeberapa aspek kehidupan, termasuk akses ke perawatan
kesehatan (UNAIDS, 2013).
Secara konsep stigma sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup, karena salah satu
dampak dari stigma adalah penyangkalan atau pembatasan akses pada layanan kesehatan.
Bayangan atau perasaan terstigma internal sangat mempengaruhi upaya pencegahan
HIV(KEMENKES, 2012). selain itu diskriminasi juga dapat menghambat ODHA dalam
mendapatkan pelayanan sebagai upaya pencegahan HIV. Dengan adanya stigma yang
dialami oleh ODHA maka mereka enggan untuk mengakses ke pelayanan kesehatan,
sehingga pencegahan infeksi pada ODHA menjadi sangat rendah, yang akan menyebabkan
kualitas hidup ODHA juga akan rendah, baik secara fisik maupun psikologis, karna stigma
diri yang dialami ODHA yang akan membuat ODHA selalu merasa didiskriminasi oleh orang
lain, baik keluarga, masyarakat dan juga petugas kesehatan. tingginya stigma diri yang
dirasakan ODHA membuat mereka enggan untuk mengungkapkan status mereka kepada
masyarakat, sehingga hubungan sosial ODHA dengan lingkungan luar terbatas, dan
kesempatan mendapat informasi yang lebih banyak akan terhambat.
Masalah sosial pada orang dengan HIV/AIDS berupa adanya stigma dandiskriminasi
dari lingkungan sekitar. Stigma negatif pada orang dengan HIV/AIDS berupa adanya
keyakinan dari lingkungan bahwa orang dengan HIV/AIDS itu buruk, dianggap hina serta
harus dihindarkan dari pergaulan di lingkungan sekitar dan masyarakat. Diskriminasi dapat
menghambat upaya pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS dan menimbulkan dampak
psikologis yang dapat menurunkan kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS.
Stigma negatif mengenai HIV/AIDS juga akan mempengaruhi distress psikologis dari
penderita HIV/AIDS. Stigma negatif HIV dianggap menjadi sebuah stressor persisten yang
bisa memperburuk suasana hati menjadi negatif seperti distress dan cemas. Faktor lain
yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis adalah perubahan kondisi fisiologis pada diri
ODHA stigma dan

19
Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV positif berdampak pada
peningkatan kualitas hidup yang mengalami banyak hambatan. Dari berbagai segi, stigma
dan diskriminasi memberikan pengaruh yang jauh lebih luas dibanding virus HIV itu sendiri.
Stigma dan diskriminasi bukan hanya mempengaruhi hidup orang yang positif HIV, namun
juga orang-orang yang hidup di sekitarnya, misalnya pasangan hidup, keluarga, bahkan
perawat atau pendampingnya. Stigma berdampak sangat serius bagi orang yang positif HIV
maupun upaya pengendalian HIV secara keseluruhan. ODHA enggan mencari layanan
kesehatan dan dukungan sosial yang semestinya dapat mereka peroleh(KEMENKES,
2012).
Selain stigma negatif yang diberikan masyarakat pada ODHA, 60% ODHA mengalami
depresi. Perempuan terinfeksi HIV dua kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan
laki-laki. Depresi adalah penyakit suasana hati, depresi lebih dari sekadar kesedihan atau
duka cita. Depresi adalah kesedihan atau duka cita yang lebih hebat dan bertahan terlalu
lama. Angka kejadian depresi pada penderita HIV/AIDS sebanyak 55,8% dengan
pembagian depresi ringan 25,6%, depresi sedang 11,6%, depresi berat 4,7%, dan depresi
sangat berat 14%. Depresi terbanyak ditemukan pada usia 20–39 tahun (83,3%).
Beberapa aturan berkomunikasi bagi orang-orang yang distigma dalam menghadapi orang-
orang “normal,” juga diberikan oleh Goffman (Crossman 2016), antara lain: - Seseorang
harus mengasumsikan bahwa orang normal hanyalah tidak memiliki informasi memadai dan
bukan pembenci. - Tidak perlu merespons hinaan, dan orang yang distigma harus
mengabaikan atau dengan sabar menyangkal serangan atau pandangan yang
melatarbelakanginya. - Orang-orang dengan stigma harus mencoba membantu mengurangi
ketegangan dengan berbasa-basi dan menggunakan lelucon, atau bahkan “ejekan terhadap
diri sendiri.” - Orang-orang dengan stigma harus memperlakukan orang-orang “normal”
seakan-akan mereka mendapatkan kehormatan sebagai si bijaksana. - Orang-orang dengan
stigma harus membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dan bersedia dibantu.
- Orang-orang dengan stigma harus menggunakan taktik “waktu jeda” dalam percakapan
untuk pemulihan dari keterkejutan karena sesuatu yang mungkin diucapkan oleh orang lain.
- Orang-orang dengan stigma harus mengikuti etiket penyingkapan, misalnya dengan
menggunakan ketidakmampuan sebagai topik dalam percakapan serius - Seorang yang
distigma harus melihat dirinya “normal” agar mudah menghadapi orang “normal.”

Ringkasan
Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV positif berdampak pada peningkatan
kualitas hidup yang mengalami banyak hambatan. Dari berbagai segi, stigma dan
diskriminasi memberikan pengaruh yang jauh lebih luas dibanding virus HIV itu sendiri.

20
Stigma dan diskriminasi bukan hanya mempengaruhi hidup orang yang positif HIV, namun
juga orang-orang yang hidup di sekitarnya, misalnya pasangan hidup, keluarga, bahkan
perawat atau pendampingnya. Stigma berdampak sangat serius bagi orang yang positif HIV
maupun upaya pengendalian HIV secara keseluruhan. ODHA enggan mencari layanan
kesehatan dan dukungan sosial yang semestinya dapat mereka peroleh

Tes formatif
Bagaimana cara komunikasi pada ODHA yang meghadapi Stigma dan Diskrimnasi ?

21
TOPIK 4
PERILAKU BERESIKO : SEKS BEBAS DAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 4 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Prilaku Seks Beresiko
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 4, mahasiswa
diharapkan dapat :
Prilaku Seks Beresiko
- Sek Bebas
- Penyalahgunaan napza

Perilaku Berrisiko HIV/AIDS


Perilaku Berisiko Tinggi terkena HIV / AIDS
Perilaku berisiko terkena HIV/AIDS merupakan orang yang mempunyai kemungkinan
terkena infeksi HIV/AIDS atau menularkan HIV/AIDS pada orang lain bila dia sendiri
mengidap HIV/AIDS, karena perilakunya. Mereka yang mempunyai perilaku berisiko tinggi
adalah :
a. Sek bebas (Perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti pasangan hubungan seksual,
dan pasangannya. Perempuan dan laki-laki tuna Susila). Dan Orang-orang yang
melakukan hubungan seksual yang tidak wajar,misalnya pada Homoseksual dan
Biseksual.
b. Penggunaan narkotika dengan suntikan, dan menggunakan jarum suntiknya secara
bergantian (Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat-zat Adiktif)
merupakan suatu pola perilaku yang bersifat patologik, dan biasanya dilakukan oleh
individu yang mempunyai kepribadian rentan atau mempunyai resiko tinggi, dan jika
dilakukan dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan gangguan bio-psiko-sosial-
spiritual, dan menggunakan jarum sutik bersamaan).

Hal-hal yang Menularkan HIV / AIDS


Penularan akan terjadi bila ada kontak atau percampuran dengan cairan dalam tubuh
yang menggandung HIV, yaitu:
a. Melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV Hubungan seksual ini bisa
homoseksual ataupun heteroseksual
b. Melalui tranfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oleh HIV secara
langsung akan menularkan HIV ke dalam system peredaran darah si penerima

22
c. Melalui jarum suntik atau alat tusuk lainnya(jarum akupuntur, tindik atau tato) yang
tercemar oleh virus HIV. Maka dari itu pemakaian jarum suntik secara bersamaan oleh
para pecandu narkotika akan lebih mudah menularkan HIV
d. Penularan HIV dari ibu hamil yang mengidap HIV kepada bayi yang
dikandungnya.Seks Bebas\

Perilaku seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan
seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti berkencan intim, bercumbu,
sampai melakukan kontak seksual yang dinilai tidak sesuai dengan norma. Tetapi perilaku
tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman
tentang seksual. Salah satu bentuk perilaku seks bebas adalah hubungan seks kelamin
yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan yang bertujuan untuk mendapatkan
pengalaman seksual secara berlebihan.
Beberapa bentuk dari perilaku seks bebas, yaitu: a) Kissing: saling bersentuhan antara
dua bibir manusia atau pasangan yang didorong oleh hasrat seksual, b) Necking: bercumbu
tidak sampai pada menempelkan alat kelamin, biasanya dilakukan dengan berpelukan,
memegang payudara, atau melakukan oral seks pada alat kelamin tetapi belum
bersenggama, c) Petting: bercumbu sampai menempelkan alat kelamin, yaitu dengan
menggesek gesekkan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama, d)
intercourse: mengadakan hubungan kelamin atau bersetubuh diluar pernikahan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks Bebas
a. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual.. Peningkatan
hasyrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual
tertentu.
b. Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia
perkawinan, maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut
persyaratan yang makin meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan,
persiapan mental dan lain-lain).
c. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama yang berlaku di mana seseorang
dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Individu yang tidak dapat
menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melakukan hal tersebut.
d. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi
dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh:
VCD, buku pornografi, foto, majalah, internet, dan lain lain) menjadi tidak terbendung
lagi. Individu yang sedang dalam priode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru
apa yang dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka
belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.

23
e. Orang tua, baik karena ketidaktahuan maupun sikapnya yang masih mentabukan
pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada
anak. Bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
f. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat,
sebagai akibat dari berkembangnya peran dan Pendidikan wanita, sehingga
kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Seks Bebas


a. Tekanan yang datang dari teman pergaulannya. Lingkungan pergaulan yang dimasuki
seseorang dapat juga berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan
hubungan seks. Bagi individu tersebut tekanan dari teman-temannya itu dirasakan
lebih kuat daripada yang didapat dari pacarnya sendiri.
b. Adanya tekanan dari pacar, Karena kebutuhan seseorang untuk mencintai dan
dicintai, seseorang harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, tanpa
memikirkan risiko yang akan dihadapinya. Dalam hal ini yang berperan bukan saja
nafsu seksual, melainkan juga sikap memberontak pada orangtuanya.
c. Adanya kebutuhan badaniyah, Seks menurut para ahli merupakan kebutuhan dasar
yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, jadi wajar jika semua orang
tidak terkecuali pelajar dan mahasiswa sekalipun akibat dari perbuatannya tersebut
tidak sepadan dengan risiko yang dihadapinya.
d. Rasa penasaran, Pada usia belia (remaja) keingintahuannya begitu besar terhadap
seks, apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah lagi
adanya informasi yang tidak terbatas masuknya, maka rasa penasaran tersebut
semakin mendorong mereka lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan
sesuai dengan apa yang diharapkan.
e. Pelampiasan diri, Faktor ini tidak datang dari diri sendiri, misalnya karena terlanjur
berbuat, seorang mahasiswi biasanya berpendapat sudak tidak ada lagi yang dapat
dibanggakan dalam dirinya, maka dalam pikirannya tersebut ia akan merasa putus asa
dan mencari pelampiasan yang akan menjeruumuskannya dalam pergaulan bebas.

Ringkasan
Perilaku Berisiko Tinggi terkena HIV / AIDS orang yang mempunyai kemungkinan terkena
infeksi HIV/AIDS atau menularkan HIV/AIDS pada orang lain bila dia sendiri mengidap
HIV/AIDS, karena perilakunya. Mereka yang mempunyai perilaku berisiko tinggi yaitu orang
yang berprilaku seks bebas dan peneyalahgunaan napza

Tes Formatif

24
Faktor yang mempengaruhi prilaku seks bebas?

25
TOPIK 5
PENATALAKSANAAN PASIEN DENGAN ARV, TERMASUK PERAN PERAWATAN
DALAM MENINGKATKAN ADHERENCE

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Mteri Pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 5 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Askep Penatalaksanaan Pasien dengan ARV, Termasuk Peran Parawat
meningkatkan Adherence
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 5, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Askep Penatalaksanaan Pasien dengan ARV
b. Peran Parawat meningkatkan Adherence

A. Askep penatalaksanaan pasien ARV


HIV menyebabkan terjadinya penurunan kekebalan tubuh sehingga pasien rentan
terhadap serangan infeksi oportunistik. Antiretroviral (ARV) bisa diberikan pada
pasien untuk menghentikana aktivitas virus, memulihkan sitem imun dan mengurangi
terjadinya infeksi oportunistik, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan
kecacatan. ARV tidak menyembuhkan pasien HIV, namun bisa memperbaiki kualitas
hidup dan memperpanjang usia harapan hidup penderita HIV/AIDS. Obat ARV terdiri
atas golongan seperti nukleoside reverse transcripetase inhibitor, non-nucleotide
reverse transciptase inhibitor dan protease
.
Tujuan pemberian ARV
ARV diberikan pada pasien HIV/AIDS dengan tujuan untuk : Menghentikan replikasi
HIV, Memulihkan sistem imun dan mengurangi terjadi infeksi oportunistik,
Memperbaiki kualitas hidup, Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi
HIV.

Jenis obat-obatan ARV


Obat ARV terdiri atas beberapa golongan antara lain nucleoside reverse
transcriptase inhibitor, non- nucleoside reverse transcriptase inhibitor, protease
inhibitor dan fussion inhibitor.
a. Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI)

26
Obat ini dikenal sebagai analog nukleosida yang menghambat proses
perubahan RNA virus menjadi DNA (proses ini dikenal oleh virus HIV agar bisa
bereplikasi. Contoh dari obat ARV yang termasuk dalam golongan ini terdapat
pada tabel di bawah ini.
Nama Generik Nama Nama Lain
Dagang
Zidovudine Retrovir AZT,ZCV
Didanosine Videx ddi
Zalzitabine Hivid ddC, dideokxycytidine
Stavudine Zerit d4t
Lamivudine Epivir 3TC
Zidovudine/lamivudine Combivir Kombinasi AZT dan 3TC
Abacavir Ziagen ABC
Zidovu Trizivir Kombinasi AZT, 3TC dan
dine/lamivudine/abacavi abacavir
r
tenofavir viread Bis-poc PMPA

b. Nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI), yang termasuk golongan ini


adalah tenofovir (TDF).
c. non- nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Golongan ini juga
bekerja dengan menghambat proses perubahan RNA menajdi DNA dengan cara
mengikat reverse transcriptase sehingga tidak berfungsi.
d. Protease inhibitor (PI, menghalangi kerja enzim protesa yang berfungsi
memotong DNA yang dibentuk oleh virus dengan ukuran yang benar untuk
memproduksi virus baru, contoh obat golongan ini adalah indinavir (APV), dan
nelvinavir (NFV), squinavir (SQV), ritonavir (RTV), amprenavir (APV) dan
loponavir/ritonavir (LPV/r).
e. Fusion inhibitor. Yang termasuk golongan ini adalah enfuvirtide (T-20).

Efek samping ARV


Pasien yang sedang mendapatkan HAART umumnya menderita efek samping.
Sebagai akibatnya, pengobatan infeksi HIV dan risiko toksisitas yang kompleks antara
menyeimbangkan keuntungan supresi HIV dan risiko toksisitas obat. Sekitar 25%
penderita tidak meminum dosis yang dianjurkan karena takut akan efek samping yang
ditimbulkan oleh ARV. Obat-obat ARV mempunyai efek samping tertentu

27
Pengkajian
1) Identitas Pasien
Meliputi nama lengkap, umur, jenis kelamin, agama, suku/bangsa, alamat, no regestrasi
dan diagnosa medis.
2) Status Kesehatan
a) Alasan MRS
b) Keluhan Utama : Pasien mengeluhkan badan terasa lemas, sakit kepala, susah
tidur, diare dll.
c) Riwayat Kesehatan Sekarang
d) Riwayat Kesehatan Dahulu
e) Riwayat Penyakit Keluarga
3) Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
b) Palpasi
c) Perkusi
d) Aukultasi
4) Aktivitas / istirahat
Mengatakan susah tidur (pola tidur terganggu).
5) Gejala: Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya, progresi
kelelahan / malaise, Perubahan pola tidur
6) Psikososial
Takut menghadapi kematian karena penyakitnya.

28
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
Berikut adalah diagnosa keperawatan yang didapatkan berdasarkan efek samping
dari pemberian ARV sebagai berikut :
1) Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (diare)
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
Kekurangan volume - Keseimbangan - Pantau warna,
cairan elektrolit dan asam jumlah dan frekuensi
Definisi : Kekurangan basa; keseimbangan kehilangan cairan
jumlah cairan yang ada elektrolit dan non - Observasi
di dalam tubuh elektrolit dalam khususnya terhadap
kompartemen intrasel kehilangan cairan
Batasan Karakteristik : dan ekstrasel tubuh yang tinggi elektrolit
Subjektif: Haus - Hidrasi; keadekuatan - Pantau
cairan yang adekuat perdarahan
Objektif dalam kompartemen - Identifikasi factor
- Perubahan status intrasel dan ekstrasel pengaruh terhadap
mental tubuh bertambah buruknya
- Penurunan turgor - Status nutrisi: asupan dehidrasi
kulit dan lidah makanan dan cairan; - Kaji adanya
- Penurunan haluaran jumlah makanan dan vertigo atau hipotensi
urin cairan yang masuk postural
- Penurunan kedalam tubuh selama - Kaji orientasi
pengisian vena periode 24 jam  terhadap orang,
- Kulit dan membrane tempat dan waktu
mukosa kering - Pantau status hidrasi
- Kematokrit - Timbang berat badan
meningkat setiap hari dan
- Suhu tubuh pantau
meningkat kecenderungannya
- Peningkatan - Pertaruhkan
frekuensi nadi, keakuratan catatan
penurunan TD, asupan dan haluaran
penurunan volume
dan tekanan nadi
- Konsentrasi urin

29
meningkat
- Penurunan berat
badan yang tiba-tiba
- Kelemahan

2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual


muntah
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
Ketidakseimbangan - Selera makan; - Tentukan motivasi
nutrisi kurang dari keinginan untuk makan pasien untuk
kebutuhan tubuh ketika dalam keadaan mengubah kebiasaan
sakit atau sedang makan
Batasan karakteristik : menjalani pengubatan - Pantau nilai
- Berat badan kurang - Perawatan diri: makan; laboratotium,
dari 20% atau lebih kemampuan untuk khususnya transferin,
dibawah berat mempersiapkan dan albumin, dan
badan ideal untuk mengingesti makanan elektrolit
tinggi badan dan dan cairan secara - Manajemen nutrisi:
rangka tubuh mandiri dengan atau - Ketahui makanan
- Kehilangan berat tanpa alat bantu kesukaan pasien
baan dengan - Berat badan: masa - Tentukan
asupan makanan tubuh; tingkat kemampuan pasien
yang adekuat kesesuaian berat untuk memenuhi
- Melaporkan badan, otot, dan lemak kebutuhan nutrisi
kurangnya makanan dengan tinggi badan, - Pantau kandungan
- Diare atau steatore rangka tubuh, jenis nutrisi dan kalori
kelamin dan usia. pada catatan asupan
- Timbang pasien pada
interval yang tepat

3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan efek samping obat


Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil
Gangguan pola tidur NOC - Sleep Enhancement
Definisi : Gangguan - Anxiety reduction - Determinasi efek-efek

30
kualitas dan kuantitas - Comfort level medikasi terhadap
waktu tidur akibat faktor - Pain level pola tidur
eksternal - Rest : Extent and - Jelaskan pentingnya
Pattern tidur yang adekuat
Batasan Karakteristik : - Sleep : Extent an - Fasilitas untuk
- Perubahan pola tidur Pattern mempertahankan
normal Kriteria Hasil : aktivitas sebelum tidur
- Penurunan - Jumlah jam tidur (membaca)
kemampuan dalam batas normal - Ciptakan lingkungan
berfungsi 6-8 jam/hari yang nyaman
- Ketidakpuasan tidur - Pola tidur, kualitas - Kolaborasikan
- Menyatakan sering dalam batas normal pemberian obat tidur
terjaga - Perasaan segar - Diskusikan dengan
- Meyatakan tidak sesudah tidur atau pasien dan keluarga
mengalami kesulitan istirahat tentang teknik tidur
tidur - Mampu pasien
- Menyatakan tidak mengidentifikasikan - Instruksikan untuk
merasa cukup hal-hal yang memonitor tidur pasien
istirahat meningkatkan tidur - Monitor waktu makan
Faktor Yang dan minum dengan
Berhubungan : waktu tidur
- Kelembaban - Monitor/catat
lingkungan sekitar kebutuhan tidur pasien
- Suhu lingkungan setiap hari dan jam
sekitar
- Tanggung jawab
memberi asuhan
- Perubahan
pejanan terhadap
cahaya gelap
- Gangguan(mis.,u
ntuk tujuan
terapeutik,
pemantauan,
pemeriksaan
laboratorium)
- Kurang kontrol

31
tidur
- Kurang privasi,
Pencahayaan

4) Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian


Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Ansietas berhubungan - Klien mampu - Gunakan pendekatan
dengan ancaman mengindentifikasi yang menenangkan.
kematian dan mengungkapkan - Beritahu pada pasien
gejala cemas segala sesuatu yang
- Menunjukkan teknik membuat pasien
untuk mengontrol cemas
cemas - Jelaskan prosedur
- TTV dalm batas kegiatan semua
normal - Bantu pasien untuk
- Postur tubuh, mimik mengenal situasi
dan tingkat aktivitas yang menimbulkan
menunjukkan cemas cemas.
berkurang. - Ajarkan nafas dalam
pada pasien untuk
mengurangi cemas
dan membuat lebih
relaksasi

B. Peran perawat dalam Meningkatkan Adherence


Peran perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam system, dimana dapat
dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawatn maupun dari luar profesi
keperawatan yang bersifat konstan.
Adherence atau patuh adalah kepatuhan pasien sebagai sejauh mana
perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesiaonal kesehatan
(Niven, N, 2002). Kepatuhan atau adherence pada terapi adalah sesuatu keadaan
dimana pasien mematuhi pengobatannya atas dasar kesadaran sendiri, bukan hanya
karena mematuhi perintah dokter. Hal ini penting karena diharapkan akan lebih
meningkatkan tingkat kepatuhan minum obat. Adherence atau kepatuhan harus
selalu dipantau dan dievaluasi secara teratur pada setiap kunjungan. Kegagalan
terapi ARV sering diakibatkan oleh ketidak-patuhan pasien mengkonsumsi ARV.

32
Untuk mencapai supresi virologis yang baik diperlukan tingkat kepatuhan
terapi ARV yang sangat tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai
tingkat supresi virus yang optimal, setidaknya 95% dari semua dosis tidak boleh
terlupakan. Resiko kegagalan terapi timbul jika pasien sering lupa minum obat.
Kerjasama yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien serta komunikasi dan
suasana pengobatan yang konstruktif akan membantu pasien untuk patuh minum
obat.
Kepatuhan adalah istilah yang digunakan utnuk menggambarkan perilaku
pasien dalam minum obat secara benar tentang dosis, frekuensi dan waktunya.
Supaya patuh, pasien dilibatkan dalam memutuskan apakah minum obat atau tidak.
Kepatuhan ini amat penting dalam penatalaksaan ART, karena:
a. Bila obat tidak mencapai konsentrasi optimal dalam darah maka akan
memungkinkan berkembangnya resistensi.
b. Minum dosis obat tepat waktu dan meminumnya secara benar.
c. Derajat kepatuhan sangat berkolerasi dengan keberhasilan dalam
mempertahankan supresi virus.
Terdapat kolerasi positif antara kepatuhan dengan keberhasilan, dan HAART
sangat efektif bila diminum sesuai aturan. Hal ini berkaitan dengan.
a. Resistensi obat. Semua obat antiretroviral diberikan dalam bentuk kombinasi, di
samping meningkatkan efektivitas juga penting dalam mencegah resistensi.
Kepatuhan terhadap aturan pemakaian obat juga sangat membantu mencegah
terjadinya resitensi. Virus yang resisten terhadap obat akan berkembang cepat
dan berakibat bertambah buruknya perjalanan penyakit.
b. Menekan virus secara terus menerus. Obat-obatan ARV harus diminum seumur
hidup secara teratur, berkelanjutan, dan tepat waktu. Cara terbaik untuk
menekan virus secara terus menerus adalah dengan meminum obat secara
tepat waktu dan mengikuti petunjuk minum obat dengan benar serta di anjurkan
untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi.
c. Kiat penting untuk mengingat minum obat.
1) Minumlah obat pada waktu yang sama setiap hari.
2) Harus selalu tersedia obat di mana pun biasanya penderita berada, misalnya
dikantor, di rumah, dan lain-lain.
3) Bawa obat kemanapun pergi.
4) Gunakan alarm untuk mengingatkan waktu minum obat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi atau faktor prediksi kepatuhan:


Fasilitas layanan kesehatan. Sistem layanan yang berbelit, sistem pembiayaan

33
kesehatan yang mahal, tidak jelas dan birokratik adalah penghambat yang berperan
sangat signifikan terhadap kepatuhan, karena hal tersebut menyebabkan pasien
tidak dapat mengakses layanan kesehatan dengan mudah. Termasuk diantaranya
ruangan yang nyaman, jaminan kerahasiaan dan penjadwalan yang baik, petugas
yang ramah dan membantu pasien.
a. Karakteristik Pasien. Meliputi faktor sosiodemografi (umur, jenis kelamin, ras /
etnis, penghasilan, pendidikan, buta/melek huruf, asuransi kesehatan, dan asal
kelompok dalam masyarakat misal waria atau pekerja seks komersial) dan
faktor psikososial (kesehatan jiwa, penggunaan napza, lingkungan dan
dukungan sosial, pengetahuan dan perilaku terhadap HIV dan terapinya).
b. Paduan terapi ARV. Meliputi jenis obat yang digunakan dalam paduan, bentuk
paduan (FDC atau bukan FDC), jumlah pil yang harus diminum, kompleksnya
paduan (frekuensi minum dan pengaruh dengan makanan), karakteristik obat
dan efek samping dan mudah tidaknya akses untuk mendapatkan ARV.
c. Karakteristik penyakit penyerta. Meliputi stadium klinis dan lamanya sejak
terdiagnosis HIV, jenis infeksi oportunistik penyerta, dan gejala yang
berhubungan dengan HIV. Adanya infeksi oportunistik atau penyakit lain
menyebabkan penambahan jumlah obat yang harus diminum.
d. Hubungan pasien-tenaga kesehatan. Karakteristik hubungan pasien- tenaga
kesehatan yang dapat mempengaruhi kepatuhan meliputi: kepuasan dan
kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan dan staf klinik, pandangan
pasien terhadap kompetensi tenaga kesehatan, komunikasi yang melibatkan
pasien dalam proses penentuan keputusan, nada afeksi dari hubungan tersebut
(hangat, terbuka, kooperatif, dll) dan kesesuaian kemampuan dan kapasitas
tempat layanan dengan kebutuhan pasien

Sebelum memulai terapi, pasien harus memahami program terapi ARV beserta
konsekuensinya. Proses pemberian informasi, konseling dan dukungan kepatuhan
harus dilakukan oleh petugas (konselor dan/atau pendukung sebaya/ODHA). Tiga
langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan antara lain:
Langkah 1: Memberikan informasi
Klien diberi informasi dasar tentang pengobatan ARV, rencana terapi,
kemungkinan timbulnya efek samping dan konsekuensi ketidakpatuhan. Perlu
diberikan informasi yang mengutamakan aspek positif dari pengobatan sehingga
dapat membangkitkan komitmen kepatuhan berobat.
Langkah 2: Konseling perorangan

34
Petugas kesehatan perlu membantu klien untuk mengeksplorasi kesiapan
pengobatannya. Sebagian klien sudah jenuh dengan beban keluarga atau rumah
tangga, pekerjaan dan tidak dapat menjamin kepatuhan berobat.
Sebagian klien tidak siap untuk membuka status nya kepada orang lain. Hal
ini sering mengganggu kepatuhan minum ARV, sehingga sering menjadi hambatan
dalam menjaga kepatuhan. Ketidak siapan pasien bukan merupakan dasar untuk
tidak memberikan ARV, untuk itu klien perlu didukung agar mampu menghadapi
kenyataan dan menentukan siapa yang perlu mengetahui statusnya.
Langkah 3: Mencari penyelesaian masalah praktis dan membuat rencana
terapi.
Setelah memahami keadaan dan masalah klien, perlu dilanjutkan dengan
diskusi untuk mencari penyelesaian masalah tersebut secara bersama dan membuat
perencanaan praktis. Hal-hal praktis yang perlu didiskusikan antara lain:
1) Di mana obat ARV akan disimpan?
2) Pada jam berapa akan diminum?
3) Siapa yang akan mengingatkan setiap hari untuk minum obat?
4) Apa yang akan diperbuat bila terjadi penyimpangan kebiasaan sehari-hari?
Harus direncanakan mekanisme untuk mengingatkan klien berkunjung dan
mengambil obat secara teratur sesuai dengan kondisi pasien.
Perlu dibangun hubungan yang saling percaya antara klien dan petugas
kesehatan. Perjanjian berkala dan kunjungan ulang menjadi kunci kesinambungan
perawatan dan pengobatan pasien. Sikap petugas yang mendukung dan peduli, tidak
mengadili dan menyalahkan pasien, akan mendorong klien untuk bersikap jujur
tentang kepatuhan makan obatnya.

Kesiapan Pasien Sebelum Memulai Terapi ARV


Menelaah kesiapan pasien untuk terapi ARV. Mempersiapan pasien untuk
memulai terapi ARV dapat dilakukan dengan cara:
a. Mengutamakan manfaat minum obat daripada membuat pasien takut minum obat
dengan semua kemunginan efek samping dan kegagalan pengobatan.
b. Membantu pasien agar mampu memenuhi janji berkunjung ke klinik
c. Mampu minum obat profilaksis IO secara teratur dan tidak terlewatkan
d. Mampu menyelesaikan terapi TB dengan sempurna.
e. Mengingatkan pasien bahwa terapi harus dijalani seumur hidupnya.
f. Jelaskan bahwa waktu makan obat adalah sangat penting, yaitu kalau dikatakan
dua kali sehari berarti harus ditelan setiap 12 jam.
g. Membantu pasien mengenai cara minum obat dengan menyesuaikan kondisi

35
pasien baik kultur, ekonomi, kebiasaan hidup (contohnya jika perlu disertai
dengan banyak minum wajib menanyakan sumber air, dll).
h. Membantu pasien mengerti efek samping dari setiap obat tanpa membuat pasien
takut terhadap pasien, ingatkan bahwa semua obatmempunyai efek samping
untuk menetralkan ketakutan terhadap ARV.
i. Tekankan bahwa meskipun sudah menjalani terapi ARV harus tetap
menggunakan kondom ketika melakukan aktifitas seksual atau menggunakan alat
suntik steril bagi para penasun.
k. Sampaikan bahwa obat tradisional (herbal) dapat berinteraksi dengan obat ARV
yang diminumnya. Pasien perlu diingatkan untuk komunikasi dengan dokter untuk
diskusi dengan dokter tentang obat- obat yang boleh terus dikonsumsi dan tidak.
l. Menanyakan cara yang terbaik untuk menghubungi pasien agar dapat memenuhi
janji/jadwal berkunjung.
m. Membantu pasien dalam menemukan solusi penyebab ketidak patuhan tanpa
menyalahkan pasien atau memarahi pasien jika lupa minum obat.
n. Mengevaluasi sistem internal rumah sakit dan etika petugas dan aspek lain diluar
pasien sebagai bagian dari prosedur tetap untuk evaluasi ketidak patuhan pasien.

Unsur Konseling untuk Kepatuhan Berobat


a. Membina hubungan saling percaya dengan pasien
b. Memberikan informasi yang benar dan mengutamakan manfaat postif dari ARV
c. Mendorong keterlibatan kelompok dukungan sebaya dan membantu menemukan
seseorang sebagai pendukung berobat
d. Mengembangkan rencana terapi secara individual yang sesuai dengan gaya
hidup sehari-hari pasien dan temukan cara yang dapat digunakan sebagai
pengingat minum obat
e. Paduan obat ARV harus disederhanakan untuk mengurangi jumlah pil yang harus
diminum dan frekuensinya (dosis sekali sehari atau dua kali sehari), dan
meminimalkan efek samping obat.
f. Penyelesaian masalah kepatuhan yang tidak optimum adalah tergantung dari
faktor penyebabnya.
Kepatuhan dapat dinilai dari laporan pasien sendiri, dengan
menghitung sisa obat yang ada dan laporan dari keluarga atau
pendamping yang membantu pengobatan. Konseling kepatuhan dilakukan
pada setiap kunjungan dan dilakukan secara terus menerus dan berulang
kali dan perlu dilakukan tanpa membuat pasien merasa bosan

36
Monitoring
Selain adanya kesadaran pasien untuk mematuhi peraturan ART, doperlukan
juga adanya monitoring yang dilakukan oleh pihak yang berwenag (perawat, konselor
dan dokter) atau pihak yang berhubungan dnegan ODHA lainnya. Upaya monitoring
terdiri atas:
a. Monitoring berkala. Monitoring ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
1) Monitoring kepatuhan (adherence) yang harus didiskusikan pada setiap
kunjungan.
2) Monitoring efek samping ART, yang terdiri atas pertanyaan langsung,
pemeriksaan klinis dan tes laboratorium.
3) Monitoring keberhasilan ART. Monitoring ini berupa indikastor klinis, misalnya
berat badan yang meningkat, jumlah CD4 dan viral load.
b. Monitoring klinis. Monitoring klinis dilakukan agar didapatkan riwayat penyakit
yang jelas dan dilakukan pemeriksaan klinis yang teratur. Berikut ini adalah
kegiatan yang dilakukan setiap kali dilakukannya pemeriksaan klinis.
1) Follow up pertama setelah satu atau dua minggu. Lebih awal jika terjadi efek
samping.
2) Kunjungan bulanan sesudahnya, atau lebih bila doperlukan.
3) Tiap kunjungan tanyakan tentang gejal, kepatuhan, maslah yang
berhubungan dnegan HIV dan non HIV, dan kualitas hidup.
4) Pemeriksaan, berat badan, dan suhu.
c. Pemeriksaan laboratorium dasar
1) Hitung darah dan hitung jenis (Hb, leukosit, dan TLC-total limfosit count tiap 3
bulan dan pada awlah pemakaian ARV).
2) SGOT dan SGPT.
3) Hitung CD4, dilakukan pada awal terapi dan tiap 6 bulan.
d. Monitoring efektivitas
ARV dinilai efektif bila :
1) Menurunnya/menghilangnya gejala.
2) Meningkatkan berat badan.
3) Menurunnya lesi kaposi.
4) Meningkatkan TLC.
5) Meningkatnya hitungan CD4.
6) Supresi VL yang bertahan lama

37
Ringkasan
Antiretroviral (ARV) adalah obat yang diberikan untuk pasien HIV/AIDS dengan tujuan
menghentikana aktivitas virus, memulihkan sitem imun dan mengurangi terjadinya
infeksi oportunistik, memperbaiki kualitas hidup, dan menurunkan kecacatan. ARV
tidak menyembuhkan pasien HIV, namun bisa memperbaiki kualitas hidup dan
memperpanjang usia harapan hidup penderita HIV/AIDS. Peran perawat dalam
menigkatkan kepatuhan minum obat pasien sangat penting yaitu dengan cara
memberikan informasi seputar pengobatan ARV, konseling perorangan untuk
mengeksplorasi kesiapan pengobatan pasien dan membuat rencana terapi pasien

Test Formatif :
1. Pedoman penatalaksanaan pengobatan dengan ARV?
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi atau faktor prediksi kepatuhan?
3. Apa peran peran dalam meningkatkan adheren

38
TOPIK 6
KEWASPADAAN UNIVERSAL PRECAUTION
Tujuan Pembelajaran dan Pokok materi pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 6 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Universal Precaution (Kewaspadaan)
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 6, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Defensi UP
b. Tujuan Universal Precautions
c. Tindakan Universal Precaution
d. Macam-macam Universal Precaution

Kewaspadaan Universal Precaution


Definisi
Universal precaution merupakan pendekatan yang fokus pada tujuan untuk melindungi
pasien dan petugas kesehatan dari semua cairan lendir dan zat tubuh (sekret dan ekskret)
yang berpotensi menginfeksi bukan hanya darah. Tenaga kesehatan dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau
darah pasien, sehingga dapat menjadi tempat dimana agen infeksius dapat hidup dan
berkembang biak yang kemudian menularkan dari pasien satu ke pasien yang lainnya,
khususnya bila kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh tidak dilaksanakan terhadap
semua pasien. (Efstathiou G,et al, 2011)
Kewaspadaan Universal yaitu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh
seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada
prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal
dari pasien maupun petugas kesehatan
Menurut WHO (2015), universal precautions merupakan suatu pedoman yang
ditetapkan oleh the Centers for Disease Control and Prevention CDC Atlanta dan the
Occupational Safety and Health Administration (OSHA), untuk mencegah transmisi dari
berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan fasilitas pelayanan
kesehatan.
Kewaspadaan Universal (KU) atau Universal Precautions (UP) adalah suatu cara
untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik dari pasien ke petugas
kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke pasien lainnya. Pada semua sarana
kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas dan praktek dokter dan dokter gigi, tindakan

39
yang dapat mengakibatkan luka atau tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan alat medis
yang tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit tersebut pada petugas layanan
kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya ada pedoman untuk mencegah kemungkinan
penularan terjadi. Pedoman ini disebut sebagai kewaspadaan universal. Harus ditekankan
bahwa pedoman tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV,
tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat berat dan sebetulnya lebih
mudah menular.

Tujuan
Universal precautions perlu diterapkan dengan tujuan :
a) Mengendalikan infeksi secara konsisten Universal precautions merupakan upaya
pengendalian infeksi yang harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan kepada
semua pasien, setiap waktu, untuk mengurangi risiko infeksi yang ditularkan melalui
darah.
b) Memastikan standar adekuat bagi mereka yang tidak didiagnosis atau tidak terlihat
seperti berisiko Prinsip universal precautions diharapkan akan mendapat
perlindungan maksimal dari infeksi yang ditularkan melalui darah maupun cairan
tubuh yang lain baik infeksi yang telah diagnosis maupun yang belum diketahui.
c) Mengurangi risiko bagi petugas kesehatan dan pasien Universal precautions tersebut
bertujuan tidak hanya melindungi petugas dari risiko terpajan oleh infeksi HIV namun
juga melindungi klien yang mempunyai kecenderungan rentan terhadap segala
infeksi yang mungkin terbawa oleh petugas.
d) Asumsi bahwa risiko atau infeksi berbahaya Universal precautions ini juga sangat
iperlukan untuk mencegah infeksi lain yang bersifat nosokomial terutama untuk
infeksi yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh.

Alasan Kewaspadaan Universal Sering Diabaikan


Ada banyak alasan mengapa kewaspadaan universal tidak diterapkan, termasuk:
a. Petugas layanan kesehatan kurang pengetahuan.
b. Kurang dana untuk menyediakan pasokan yang dibutuhkan, misalnya sarung
c. tangan dan masker.
d. Penyediaan pasokan tersebut kurang.
e. Petugas layanan kesehatan ‘terlalu sibuk’.
f. Dianggap Odha harus ‘mengaku’ bahwa dirinya HIV-positif agar kewaspadaan
g. dapat dilakukan.

Tindakan Universal Precaution

40
Tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Cuci tangan selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari, punggung tangan, ujung jari
dan ibu jari digosok menyeluruh) dengan sabun di air mengalir setelah berhubungan
dengan pasien.
b. Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah atau terkontaminasi
dengan cairan tubuh.
c. Pakai masker dan kacamata pelindung bila mungkin ada percikan cairan tubuh.
d. Tangani dan buang jarum suntik dan alat kesehatan tajam sekali pakai.
e. Bersihkan dan disinfeksikan tumpahan cairan tubuh pasien dengan disinfektan.
f. Penanganan alat medis harus sesuai dengan standar disinfeksi dan sterilisasi.
g. Tangani semua bahan yang telah tercemar cairan tubuh pasien dengan
carasterilisasi atau disinfeksi.
h. Pembuangan limbah sesuai dengan prosedur pembuangan limbah RS

Macam Universal Precautions


Tindakan pencegahan universal meliputi hal-hal sebagai berikut :
1) Cuci tangan, Cuci tangan harus dilakukan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan keperawatan walaupun memakai sarung tangan dan alat pelindung diri
lain. Tindakan ini penting untuk mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan
sehingga penyebaran infeksi dapat dikurangi dan lingkungan kerja terjaga dari
infeksi.
Indikator mencuci tangan digunakan dan harus dilakukan untuk antisipasi
terjadinya perpindahan kuman melalui tangan yaitu:
a. Sebelum melakukan tindakan, misalnya saat akan memeriksa (kontak
langsung dengan klien), saat akan memakai sarung tangan bersih maupun
steril, saat akan melakukan injeksi dan pemasangan infus.
b. Setelah melakukan tindakan, misalnya setelah memeriksa pasien, setelah
memegang alat bekas pakai dan bahan yang terkontaminasi, setelah
menyentuh selaput mukosa.
Cuci tangan yang efektif dengan sabun atau handsrub yang berbasis alkohol
menggunakan 7 langkah Basahi kedua telapak anda dengan air mengalir, lalu beri
sabun ke telapak usap dan gosok dengan lembut pada kedua telapak tangan b)
Gosok masing- masing pungung tangan secara bergantian.
- Jari jemari saling masuk untuk membersihkan sela-sela jari.
- Gosokan ujung jari (buku-buku) dengan mengatupkan jari tangan kanan
terus gosokan ke telapak tangan kiri bergantian

41
- Gosok dan putar ibu jari secara bergantian
- Gosokkan ujung kuku pada telapak tangan secara bergantian
- Menggosok kedua pergelangan tangan dengan cara diputar dengan telapak
tangan bergantian setelah itu bilas dengan menggunakan air bersih dan
mengalir, lalu keringkan..
2) Penggunaan alat pelindung diri (APD)
Alat pelindung diri digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari
resiko pajanan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta kulit yang tidah
utuh dan selaput lendir pasien. Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai untuk
setiap Tindakan seperti :
a) Penggunaan Sarung Tangan, Melindungi tangan dari bahan infeksius dan
melindungi pasien dari mikroorganisme pada tangan petugas. Alat ini
merupakan pembatas fisik terpenting untuk mencegah penyebaran infeksi dan
harus selalu diganti untuk mecegah infeksi silang. Menurut Tiedjen (2004), ada
tiga jenis sarung tangan yaitu:
- Sarung tangan bedah, dipakai sewaktu melakukan tindakan infasif atau
pembedahan.
- Sarung tangan pemeriksaan, dipakai untuk melindungi petugas
kesehatan sewaktu malakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin.
- Sarung tangan rumah tangga, dipakai sewaktu memproses peralatan,
menangani bahan-bahan terkontaminasi, dan sewaktu membersihkan
permukaan yang terkontaminasi.
Pelaksanaan Pemakaian sarung tangan steril meliputi :
- Cuci tangan dengan seksama
- Buka pembungkus bagian luar kemasan sarung tangan dengan
memisahkan dan melepaskan sisi-sisinya
- Pegang bagian dalam kemasan dan letakkan pada permukaan yang
bersih dan datar, buka kemasan, jaga sarung tangan tetap pada
kemasan dalam
- Jika sarung tangan kanan dan kiri, kenakan sarung tangan yang dominan
terlebih dahulu
- Dengan ibu jari dan telunjuk tangan non dominan, pegang tepi manset
untuk tangan yang dominan, sentuh hanya permukaan bagian dalam
sarung tangan
- Pakai sarung tangan dominan, pastikan manset tidak tertumpuk di
pergelangan tangan, ibu jari dan jari-jari lainnya berada pada tempat
yang tepat

42
- Dengan tangan dominan yang bersarung tangan, selipkan jari di dalam
manset sarung tangan kedua
- Kenakan sarung tangan kedua pada tangan non dominan
- Setelah sarung tangan kedua dikenakan, tautkan kedua tangan, manset
biasanya jatuh ke bawah
- Sarung tangan yang sudah dipakai dibuang pada tempatnya.
b) Penggunaan Gaun pelindung, Gaun bedah, petama kali digunakan untuk
melindungi pasien dari mikroorganisme yang terdapat di abdomen dan lengan
dari staf perawatan kesehatan sewaktu pembedahan.
c) Penggunaan Celemek (skort) Jenis bahan dapat berupa bahan tembus cairan
dan bahan tidak tembus cairan. Tujuannya untuk melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah maupun cairan tubuh lain yang
dapat mencemari baju seragam.
d) Penggunaan Masker dan kaca mata, Masker dan kaca mata atau pelindung
wajah tujuannya melindungi membran mukosa mata, hidung dan mulut,
digunakan selama melakukan tindakan perawatan pasien yang memungkinkan
terjadi percikan darah atau cairan tubuh lain.

Langkah-langkah dalam memakai masker agar tidak terjadi infeksi


nosokomial baik bagi pasien maupun perawat di ruang rawat inap
Prosedur :
- Memasang masker menutupi hidung dan mulut, kemudian mengikat tali-
talinya (Tali bagian atas diikat ke belakang kepala melewati bagian atas
telinga, Tali bagian bawah diikat ke belakang leher).
- Menanggalkan masker dengan melepaskan ikatan talitalinya, kemudian
masker dilipat dengan bagian luar di dalam
- Masker direndam dengan larutan desinfektan
- Cuci tangan
e) Sepatu tertutup
Sepatu tertutup, dipakai pada saat memasuki daerah ketat.Sepatu ini dapat
berupa sepatu tertutup biasa sebatas mata kaki dan sepatu booth tertutup
yang biasa dipakai pada operasi yang memungkinkan terjadinya genangan
percikan darah atau cairan tubuh pasien, misalnya pada operasi sectio
caesarea atau laparatomy.
1) Pengelolaan dan pembuangan alat benda tajam secara hati-hati.
Alat benda tajam sekali pakai (disposable) dipisahkan dalam wadah khusus
untuk insenerasi. Bila tidak ada insenerator, dilakukan dekontaminasi

43
dengan larutan chlorine 0,5% kemudian dimasukkan dalam wadah plastik
yang tahan tusukan misalnya kaleng untuk dikubur dan kapurisasi.
2) Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai dengan cara melakukan
dekontaminasi, desinfeksi, sterilisasi. Dekontaminasi dan desinfeksi
dilakukan di ruang perawatan dengan menggunakan cairan desinfektan
chlorine 0,5%, glutaraldehyde 2%, presept atau desinfektan oleh bagian
sterilisasi dengan mesin autoclave.
3) Pengelolaan linen yang tercemar dengan benar. Linen yang basah dan
tecemar oleh darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, harus dikelola secara
hati-hati dengan mencegah pemaparan kulit dan membran mukosa serta
kontaminasi pakaian.

Indikasi Cuci Tangan


Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang di antisipasi akan terjadi perpindahan
kuman melalui tangan yaitu sebelum malakukan suatu tindakan yang seharusnya
dilakukan secara bersih dan setelah melakukan tindakan yang memungkinkan terjadi
pencemaran seperti: Sebelum melakukan tindakan misalnya memulai pekerjaan,
saat akan memeriksa, saat akan memakai sarung tangan yang steril atau sarung
tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi untuk melakukan tindakan, saat akan
melakukan peralatan yang telah di DTT, saat akan injeksi , saat hendak pulang ke
rumah.
Setelah melakukan tindakan yang memungkinkan terjadi pencemaran. Misalnya
setalah memeriksa pasien, setelah mamakai alat bekas pakai dan bahan lain yang
beresiko terkontaminasi, setelah menyentuh selaput mukosa, darah atau cairan
tubuh lain, setelah membuka sarung tangan

Sarana Cuci Tangan


Sarana cuci tangan adalah ketersediaan air mengalir dengan saluran pembuangan
atau bak penampungan yang memadai. Dengan guyuran air mengalir tersebut
diharapkan mikroorganisme akan terlepas ditambah gesekan mekanis atau kimiawi
saat mencuci tangan mikroorganisme akan terhalau dan tidak menempel lagi di
permukaan kulit. Air mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara
mengguyur dengan gayung. Penggunaan sabun tidak membunuh mikroorganisme
tetapi menghambat dan mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan
mengurangi tegangan permukaan sehingga mikroorganisme mudah terlepas dari
permukaan kulit. Jumlah mikroorganisme akan berkurang dengan sering mencuci
tangan. Larutan antiseptik atau anti mikroba topikal yang dipakai pada kulit atau

44
jaringan hidup lain menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme pada
kulit. Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah
penurunan jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama pada kuman
transien.

Kriteria memilih antiseptik adalah sebagai berikut:


 Efektifitas
 Kecepatan aktivitas awal
 Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan.
 Tidak mengakibatkan iritasai kulit
 Tidak menyebabkan alergi
 Afektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang.
 Dapat diterima secara visual maupun estetik.

Ringkasan
Kewaspadaan Universal (KU) atau Universal Precautions (UP) adalah suatu cara
untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik dari pasien ke petugas
kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke pasien lainnya. Pada semua sarana
kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas dan praktek dokter dan dokter gigi,
tindakan yang dapat mengakibatkan luka atau tumpahan cairan tubuh, atau
penggunaan alat medis yang tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit
tersebut pada petugas layanan kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya ada
pedoman untuk mencegah kemungkinan penularan terjadi. Pedoman ini disebut
sebagai kewaspadaan universal. Harus ditekankan bahwa pedoman tersebut
dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV, tetapi yang tidak
kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat berat dan sebetulnya lebih mudah
menular.. melalui tindakan Cuci tangan selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari,
punggung tangan, ujung jari dan ibu jari digosok menyeluruh) dengan sabun di air
mengalir setelah berhubungan dengan pasien, Pakai sarung tangan sebelum
menyentuh sesuatu yang basah atau terkontaminasi dengan cairan tubuh, Pakai
masker dan kacamata pelindung bila mungkin ada percikan cairan tubuh, Tangani
dan buang jarum suntik dan alat kesehatan tajam sekali pakai, Bersihkan dan
disinfeksikan tumpahan cairan tubuh pasien dengan disinfektan, Penanganan alat
medis harus sesuai dengan standar disinfeksi dan sterilisasi, Tangani semua bahan
yang telah tercemar cairan tubuh pasien dengan carasterilisasi atau disinfeksi, dan
Pembuangan limbah sesuai dengan prosedur pembuangan limbah RS

45
Soal-Soal Latihan :
1. Tujuan Kewaspadaan Universal mencegah penularan dan penyebaran infeksi
dari :
A. Pasien ke petugas kesehatan
B. Petugas kesehatan ke pasien
C. Pasien ke pasien lainnya
D. Pasien ke keluarga dan pengunjung sarana kesehatan lainnya.
E. Semua diatas benar
2. Universal Precautions (UP) /Kewaspadaan Universal
A. Suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan
cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi.
B. Suatu cara untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik
dari pasien ke petugas kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke
pasien lainnya
C. Adalah kewaspadaan terhadap darah atau cairan tubuh yang tidak
membedakan perlakuan terhadap setiap pasien dan tidak tergantung
diagnosis pasiennya,
D. Pedoman tersebut tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan hiv,
namun yang tak kalah pentingnya infeksi lain yang sebetulnya lebih berat
dan menular.
E. Karena kita sebgai perawat/petugas kesehatan sulit untuk mengidentifikasi
apakah pasien terkena infeksi atau tidak.
3. Prinsip utama Prosedur Kewaspadaan Universal Dalam pelayanan kesehatan
adalah
A. Menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan, sterilisasi
peralatan.
B. Hisap lendir, cuci tangan, memakai sarung tangan
C. Jangan panik apabila terpajan
D. Bila tertusuk jarum segera bilas dg air mengalir dengan sabun/antiseptik ,
tekan daerah luka sampai darah keluar
E. Semua benar
4. Prinsip utama Prosedur Kewaspadaan Universal diaplikasikan dalam kegiatan
pokok yaitu dibawah ini kecuali :
A. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.
B. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.

46
C. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai selesai dibersihkan bisa dipakai
lagi.
D. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
E. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

47
TOPIK 7
VCT DAN DASAR-DASAR KONSELING BAGI PASIEN DENGAN HIV/AIDS

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 7 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan VCT
dan Konseling HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 7, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. VCT dan Dasar-dasar Konseling Bagi Pasien HIV/AIDS
b. Prinsip Komunikasi konseling bagi pasien dengan HIV/AIDS
c. Konseling Pada napza dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan napza

A. VCT dan Dasar-dasar Konselling Bagi Pasien HIV/AIDS


VCT (Voluntary Counseling and Testing) adalah tes yang dilakukan untuk
mengetahui status HIV dan dilakukan secara sukarela serta melalui proses konseling
terlebih dahulu. Konseling HIV adalah dialog atau konsultasi rahasia antara klien
dengan konselor HIV. Konseling HIV ini dilakukan sebelum dan sesudah tes HIV.
Konseling sebelum tes (pre Test) dilakukan untuk memberikan informasi yang
lengkap tentang HIV dan AIDS, keuntungan dan kerugian VCT, menggali faktor–
faktor resiko dan cara menguranginya sehingga klien mempunyai kesiapan untuk
melakukan tes HIV. Sedangkan Konseling Pasca Tes bertujuan untuk
mempersiapkan klien menghadapi hasil tes. Di sini diberikan penjelasan tentang
segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil tes, kemana dan apa yang harus
dilakukan seandainya hasil positif HIV atau negatif dengan segala konsekuensinya.

Tujuan VCT :
Umum : mempromosikan perubahan perilaku yang dapat mengurangi resiko
penyebaran infeksi HIV
Khusus :
- Menurunkan jumlah ODHA
- Mempercepat diagnosa HIV
- Meningkatkan Penggunaan layanan kesehatan dan mencegah infeksi lain.
- Meningkatkan perilaku hidup sehat.

48
VCT diperlukan pada orang-orang sudah melakukan kegiatan yang berisiko terinfeksi
HIV, seperti: melakukan hubungan seksual tidak aman, menggunakan narkoba
suntik beramai- ramai, melakukan tato dengan jarum suntik tidak steril, dan
sebagainya.
Waktu dilakukan : VCT sebaiknya dilakukan 2-3 bulan setelah kita merasa
melakukan kegiatan tersebut di atas. Kenapa 2 bulan? Karena masa inkubasi HIV
umumnya 3 minggu sampai dengan 2 bulan. Biasanya dianjurkan untuk melakukan
tes ulang 6 bulan berikutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat
Sekarang ini sudah ada obat yang dapat menekan jumlah HIV yang disebut dengan
antiretroviral (ARV).Ada beberapa manfaat dari terapi atau pemakaian ARV, antara
lain:
a. Menghambat perjalanan HIV,
- Untuk orang yang belum mempunyai gejala AIDS, ARV akan mengurangi
kemungkinan menjadi sakit.
- Untuk orang yang dengan gejala AIDS, memakai ARV biasanya mengurangi
atau menghilangkan gejala tersebut. ARV juga mengurangi kemungkinan
gejala tersebut timbul di masa depan
b. Meningkatkan jumlah CD 4 (sel darah putih)
c. Mengurangi jumlah virus dalam darah
d. Merasa lebih baik

Program Voluntary
Counseling and Testing (VCT) atau konseling dan pemeriksaan HIV secara
sukarela adalah proses konseling yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah
seseorang menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah ia telah terinfeksi
HIV. seseorang mengetahui kondisi kesehatan klien sejak dini, serta dapat
mengantisipasi kemungkinan terburuk terhadap dirinya apabila hasil pemeriksaan
positif. Selain itu, VCT juga dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi
mengenai HIV atau membantu seseorang mencari pelayanan dan bantuan yang
sesuai. Rendahnya sikap penerimaan terhadap layanan VCT dapat menyebabkan
risiko penyebaran HIV dan AIDS semakin tinggi. Semakin baik sikap penerimaan
layanan VCT maka kelompok risiko tinggi
HIV positif dapat diketahui sehingga dapat mengurangi transmisi HIV. Sikap
berpengaruh langsung terhadap perilaku, lebih berupa predisposisi perilaku yang
hanya akan direalisasikan apabila kondisi dan situasi memungkinkan. Sikap akan
berubah dengan akses terhadap informasi melalui persuasive dan tekanan dari
kelompok sosial, seseorang sering bertindak bertentangan dengan sikap.

49
Layanan Tes dan Konseling HIV (TKHIV), adalah suatu layanan untuk
mengetahui adanya infeksi HIV di tubuh seseorang. Konseling dan tes HIV
merupakan pintu masuk utama pada layanan perawatan, dukungan dan pengobatan
HIV. Sebagian besar orang risiko tinggi HIV dan AIDS mempunyai sikap positif
terhadap pelayanan VCT. Sikap merupakan salah satu factor predisposisi lain yang
mempengaruhi pemanfaatan suatu pelayanan kesehatan oleh masyarakat. Sikap
ditunjukkkan dalam bentuk pendapat atau tanggapan orang risiko tinggi HIV dan
AIDS serta pelaksanaan pelayanan VCT berupa kesiapan orang risiko tinggi HIV dan
AIDS dalam melaksanakan pemeriksaan maupun mengetahui hasil tes HIV tersebut.
Program VCT dapat mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi mereka
tentang faktor risiko terkena infeksi HIV, mengembangkan perubahan sikap, secara
dini mengarahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk
akses terapi anti retroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat.
Konseling HIV/AIDS merupakan komunikasi bersifat konfidensial antara
klien dan konselor yang bertujuan meningkatkan kemampuan menghadapi
stress dan mengambil keputusan berkaitan dengan HIV/AIDS. Proses
konseling termasuk evaluasi risiko personal penularan HIV, fasilitasi
pencegahan perilaku dan evaluasi penyesuaian diri ketika klien menghadapi
hasil tes positif. (World Health Organization/WHO).
UNAIDS (2000) mendefinisikan konseling HIV/AIDS dialog rahasia antara
seseorang dan pemberi layanan yang bertujuan membuat orang tersebut mampu
menyesuaikan diri dengan stres dan membuat keputusan yang sesuai berkaitan
dengan HIV/AIDS. Proses konseling termasuk evaluasi risiko personal tranmisi HIV
dan memfasilitasi perilaku pencegahan.
Konseling HIV/AIDS perlu dilakukan karena diagnosis HIV atas diri
seseorang
mempunyai banyak implikasi, baik secara psikologis, fisik, sosial maupun
spiritual. Selain itu HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan dan
terapi terhadap penderitanya harus dilakukan seumur hidup.
Di lapangan, konseling HIV/AIDS disebut juga dengan Voluntary
Counseling and Testing (VCT) atau Tes dan Konseling Sukarela. Kata
‘sukarela’ di sini menekankan bahwa konseling harus berjalan tanpa paksaan
serta berdasarkan atas keinginan dan kesadaran dari klien itu sendiri. Selain itu
testing dan konseling HIV merupakan komponen utama dalam program
HIV/AIDS. Hubungan antara konseling dan tes HIV dap
at digambarkan sebagai berikut: VCT digunakan untuk melakukan setiap
intervensi. Konseling ini minimum terdiri atas konseling pre tes dan pasca tes HIV,

50
juga menyediakan konseling berkelanjutan jangka panjang, konseling dukungan,
konseling keluarga dan pasangan hingga konseling kematian.
a. Konseling Pra Tes HIV Tes HIV
senantiasa didahului oleh konseling pra tes . Konseling pra tes
individual dilaksanakan untuk membantu seseorang dalam membuat
keputusan yang baik tentang apakah akan menjalani tes HIV atau tidak.
Konseling pra tes HIV membantu klien menyiapkan diri untuk pemeriksaan
darah HIV, memberikan pengetahuan akan implikasi terinfeksi atau tidak
terinfeksi HIV dan memfasilitasi diskusi tentang cara menyesuaikan diri
dengan status HIV. Konseling juga dimaksudkan untuk memberikan
pengetahuan yang benar dan meluruskan pemahaman yang keliru tentang
HIV/AIDS dan berbagai mitosnya.
Konseling pra tes menantang konselor untuk dapat membuat
keseimbangan antara pemberian informasi, penilaian risiko dan merespon
kebutuhan emosi klien. Banyak orang takut melakukan tes HIV karena
berbagai alasan termasuk perlakuan diskriminasi dan stigmatisasi
masyarakat dan keluarga. Karena itu layanan VCT senantiasa melindungi klien
dengan menjaga kerahasiaan. Peletakan kepercayaan klien pada konselor
merupakan dasar utama bagi terjaganya rahasia dan terbinanya hubungan
yang baik. Penggunaan keterampilan konseling mikro sangat penting untuk
membina rapport dan menunjukkan adanya layanan yang berfokus pada klien.
b. Konseling Pasca Tes HIV
Konseling pasca tes HIV membantu klien memahami dan menyesuaikan diri
dengan hasil tes, baik itu hasilnya positif atau negatif. Konselor
mempersiapkan klien untuk menerima hasil tes, memberitahukan hasil
tesnya, dan menyediakan informasi selanjutnya, atau bila perlu merujuk
klien ke fasilitas layanan lainnya. Selanjutnya konselor mengajak klien
mendiskusikan strategi untuk menurunkan transmisi HIV dan pengurangan
risiko.
Bentuk dari konseling pasca tes tergantung dari hasil tes. Jika hasil tes
positif, konselor menyampaikan hasil tes dengan cara yang dapat diterima
klien, secara halus dan manusiawi, serta memperhatikan kondisi individu
klien dan budaya setempat. Ketika hasil tes positif, konselor harus:
1. Memberitahu klien sejelas dan sehati-hati mungkin, dan dapat
mengatasi reaksi awal yang timbul.
2. Memberi mereka cukup waktu untuk memahami dan mendiskusikan hasil
tes tersebut.

51
3. Memberikan informasi dengan cara yang mudah dimengerti,
memberikan dukungan emosional, dan membantu mereka untuk
mendiskusikan bagaimana mereka akan menghadapi hal itu, termasuk
mengidentifikasi dukungan apa yang tersedia di rumah.
4. Merujuk klien ke layanan yang diperlukan, misalnya kelompok
dukungan masyarakat atau fasillitas kesehatan.
5. Menjelaskan bahwa hasil tes akan tetap dirahasiakan , sehingga tidak
akan ada orang lain yang tahu kecuali atas persetujuan klien.
6. Mendiskusikan siapa orang yang mungkin ingin diberitahu tentang
hasil tes itu dan bagaimana cara untuk melakukannya.
7. Menjelaskan bagaimana klien dapat menjaga kesehatannya termasuk
informasi tentang pola hidup, makanan, olah raga, istirahat, dan meng
hindari infeksi.

Tujuan Konseling HIV/AIDS


Masalah HIV/AIDS merupakan masalah sosial yang berdampak besar pada
masyarakat. Untuk itu diselenggarakan suatu layanan VCT yang dimaksudkan
sebagai usaha pencegahan dan perawatan HIV.

Adapun alasan diadakannya VCT adalah :


a. Pencegahan HIV
Konseling dan tes sukarela HIV berkualitas tinggi merupakan komponen
efektif (juga efektif dari sudut biaya) pendekatan prevensi, yang
mempromosikan perubahan perilaku seksual dan perilaku berisiko lainnya
dalam menurunkan penularan HIV. Dalam laporan mengenai efektivitas VCT
di Kenya, Tanzania, dan Trinidad pada tahun 2000, mereka yang menggunakan
jasa layanan VCT, di dalam dirinya ada perasaan yang kuat tentang tata
nilai, akivitas seksual, dan diagnosis (apakah positif atau negatif) dan
seringkali mereka betul-betul menurunkan perilaku berisikonya. VCT
menawarkan kepada para pasangan untuk mencari tahu status HIV mereka
dan perencanaan hidup mereka yang berkenaan dengan hal tersebut.
b. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan VCT telah terbukti sangatlah
berperan sebagai pintu gerbang menuju pelayanan medik dan dukungan
sesuai yang dibutuhkan. VCT sudah mendesak untuk dipandang
sebagai penghormatan atas hak asasi mereka dari sisi kesehatan
masyarakat, karena infeksi HIV merupakan hal serius yang mempunyai
dampak begitu besar bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,

52
termasuk kesehatan reproduktif, kehidupan seksual dan keluarga,
kehidupan sosial dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.

Konseling HIV/AIDS merupakan suatu proses dengan tiga tujuan umum.


Konseling
HIV/AIDS bertujuan untuk :
1. Menyediakan dukungan psikologis, sosial dan spiritual seseorang yang
mengidap virus HIV.
2. Pencegahan penularan HIV/AIDS dengan menyediakan informasi tentang
perilaku berisiko dan membantu orang dalam mengembangkan keterampilan
pribadi yang diperlukan untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek yang
lebih aman.
3. Memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi, dan perawatan melalui
pemecahan masalah kepatuhan berobat

Konselor HIV/AIDS mencapai tujuan di atas melalui :


1. Memungkinkan orang untuk mengenali dan mengekspresi kan perasaannya.
2. Menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindakan
tentang isu atau permasalahan yang dihadapi.
3. Membangkitkan perubahan perilaku yang sesuai
4. Menyediakan informasi terkini tentang prevensi, terpi dan perawatan HIV/AIDS
5. Memberikan informasi tentang sumber dan institusi (baik pemerintah
maupun non pemerintah) yang dapat membantu kesulitan sosial, ekonomi,
dan budaya yang timbul berkaitan dengan HIV. Membantu klien memperoleh
dukungan dari jejaring so
6. sial, keluarga dan lingkungan mereka.
7. Membantu klien menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi saat ia
mengalami sakit, berduka dan kehilangan suami, isteri, pasangan, kawan,
atau penghasilan, rumah dan pekerjaan.
8. Mengambil peran advokasi, misalnya membantu klien mengatasi
diskriminasi dan mengingatkannya atas hak-haknya.
9. Membantu klien mengendalikan hidupnya dan menemukan arti kehidupannya.

Konseling HIV/AIDS lebih terarah kepada kebutuhan fisik, sosial,


psikologis dan spiritual seseorang. Oleh karena itu seorang konselor HIV/AIDS
harus mempertimbangkan masalah infeksi dan penyakit, kematian dan
kesedihan, stigma dan diskriminasi sosial, seksualitas, gaya hidup, serta

53
pencegahan penularan. VCT merupakan komponen kunci dalam program HIV
di negara maju, tetapi sampai kini belum menjadi strategi besar di negara
berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dari sisi kesehatan
masyarakat VCT sduah mendesak untuk dipandang sebagai penghormatan
atas hak asasi manusia, karena tingginya prevalensi infeksi HIV
merupakan hal serius yang mempunyai dampak terhadap kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat demikian luasnya, termasuk kesehatan reproduktif,
kehidupan seksual dan keluarga, kehidupan sosial dan produktivitas di masyarakat.
Proses TK HIV dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:
1. Tes HIV atas inisiatif pemberi layanan kesehatan dan konseling (TIPK) yaitu tes
HIV yang dianjurkan atau ditawarkan oleh petugas kesehatan kepada pasien
pengguna layanan kesehatan sebagai komponen standar layanan kesehatan di
fasilitas tersebut.
2. Konseling dan tes HIV Sukarela (KTS) yaitu layanan tes HIV secara pasif. Pada
layanan tersebut klien datang sendiri untuk meminta dilakukan tes HIV atas
berbagai alasan baik ke fasilitas kesehatan atau layanan tes HIV berbasis
komunitas.
Untuk mengetahui status HIV seseorang, maka klien/pasien harus melalui
tahapan konseling dan tes HIV (KT HIV). Secara global diperkirakan setengah ODHA
tidak mengetahui status HIV-nya. Sebaliknya mereka yang tahu sering terlambat
diperiksa dan karena kurangnya akses hubungan antara konseling dan tes HIV
dengan perawatan, menyebabkan pengobatan sudah pada stadium AIDS.
Keterlambatan pengobatan mengurangi kemungkinan mendapatkan hasil yang baik
dan penularan tetap tinggi. Tujuan konseling dan tes HIV adalah harus mampu
mengidentifikasi ODHA sedini mungkin dan segera memberi akses pada layanan
perawatan, pengobatan dan pencegahan.KT HIV merupakan pintu masuk utama
pada layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan. Dalam kebijakan
dan strategi nasional telah dicanangkan konsep akses universal untuk mengetahui
status HIV, akses terhadap layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan
pengobatan HIV dengan visi getting 3 zeroes.
Penyelenggaraan KT HIV,adalah suatu layanan untuk mengetahui adanya
infeksi HIV di tubuh seseorang. Layanan ini dapat diselenggarakan di fasilitas
pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta. KT HIV didahului dengan dialog
antara klien/pasien dan konselor/petugas kesehatan dengan tujuan memberikan
informasi tentang HIV dan AIDS dan meningkatkan kemampuan pengambilan
keputusan berkaitan dengan tes HIV.

54
B. Prinsip Komunikasi Konselling pada Klien dengan HIV/AIDS
Konseling dan tes HIV harus mengikuti prinsip yang telah disepakati secara global
yaitu 5 komponen dasar yang disebut 5C (informed consent; confidentiality;
counseling; correct test results; connections to care, treatment and prevention
services). Prinsip 5C tersebut harus diterapkan pada semua model layanan
Konseling dan Tes HIV.
a) Informed Consent, adalah persetujuan akan suatu tindakan pemeriksaan
laboratorium HIV yang diberikan oleh pasien/klien atau wali/pengampu setelah
mendapatkan dan memahami penjelasan yang diberikan secara lengkap oleh
petugas kesehatan tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien/klien tersebut.
b) Confidentiality, adalah Semua isi informasi atau konseling antara klien dan
petugas pemeriksa atau konselor dan hasil tes laboratoriumnya tidak akan
diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan pasien/klien. Konfidensialitas
dapat dibagikan kepada pemberi layanan kesehatan yang akan menangani
pasien untuk kepentingan layanan kesehatan sesuai indikasi penyakit pasien.
c) Counselling, yaitu proses dialog antara konselor dengan klien bertujuan untuk
memberikan informasi yang jelas dan dapat dimengerti klien atau pasien.
Konselor memberikan informasi, waktu, perhatian dan keahliannya, untuk
membantu klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan
pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan. Layanan
konseling HIV harus dilengkapi dengan informasi HIV dan AIDS, konseling pra-
Konseling dan Tes pascates yang berkualitas baik.
d) Correct test results. Hasil tes harus akurat. Layanan tes HIV harus mengikuti
standar pemeriksaan HIV nasional yang berlaku. Hasil tes harus dikomunikasikan
sesegera mungkin kepada pasien/klien secara pribadi oleh tenaga kesehatan
yang memeriksa.
e) Connections to, care, treatment andprevention services. Pasien/klien harus
dihubungkan atau dirujuk ke layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan
pengobatan HIV yang didukung dengan sistem rujukan yang baik dan terpantau.

C. Konseling pada Klien dengan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza


Konseling dilakukan pada saat pra test dan post test HIV dimana dilakukan
dialog antara klien dan konselor yang bertujuan menyiapkan klien menjalani tes HIV
dan membantu klien memutuskan akan tes atau tidak (Kemenkes RI, 2013).
Konseling ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada individu terkait dengan
teknis tes tersebut dan implikasi dari hasil tes baik hasil positif maupun negatif.

55
Konseling Pra-tes dilaksanakan pada klien/pasien yang belum mantap atau
pasien yang menolak untuk menjalani tes HIV setelah diberikan informasi pra-tes
yang cukup. Dalam konseling pra-tes harus seimbang antara pemberian informasi,
penilaian risiko dan merespon kebutuhan emosi klien. Masalah emosi yang menonjol
adalah rasa takut melakukan tes HIV karena berbagai alasan termasuk
ketidaksiapan menerima hasil tes, perlakuan diskriminasi,stigmatisasi masyarakat
dan keluarga.
Saat memberikan konseling, informasi mengenai penyebaran dan
pencegahan HIV harus diberikan secara akurat, up to date dan mudah dipahami.
Sebaiknya jargon/bahasa medis tidak digunakan saat memberikan konseling.
Pemberian konseling yang berkualitas akan mempengaruhi penerimaan individu
terhadap hasil tes dan treatment yang dilakukan. Pemberian informasi dasar terkait
HIV bertujuan agar klien: Memahami cara pencegahan, penularan HIV, perilaku
berisiko,; Memahami pentingnya tes HIV; dan Mengurangi rasa khawatir dalam tes
HIV

Macam-macam Konseling Pra test HIV


Konseling pra test HIV terdiri dari:
a. Konseling dan tes HIV atas insiatif klien atau konseling dan tes HIV sukarela
(KTS)
adalah layanan tes HIV secara pasif. Pada layanan tersebut klien datang sendiri
untuk meminta dilakukan tes HIV atas berbagai alasan baik ke fasilitas kesehatan
atau layanan tes HIV berbasis komunitas. Layanan ini menekankan penilaian dan
pengelolaan risiko infeksi HIV dari klien yang dilakukan oleh seorang konselor,
membahas perihal keinginan klien untuk menjalani tes HIV dan strategi untuk
mengurangi risiko tertular HIV. KTS dilaksanakan di berbagai macam tatanan
seperti fasilitas layanan kesehatan, layanan KTS mandiri di luar institusi
kesehatan, layanan di komunitas, atau lainnya
b. Ruang lingkup konseling pra-tes pada KTS adalah:
 Alasan kunjungan, informasi dasar tentang HIV dan klarifikasi tentang fakta
dan mitos tentang HIV.
 Penilaian risiko untuk membantu klien memahami faktor risiko.
 Menyiapkan klien untuk pemeriksaan HIV.
 Memberikan pengetahuan tentang implikasi terinfeksi HIV dan memfasilitasi
diskusi cara menyesuaikan diri dengan status HIV.

56
 Melakukan penilaian sistem dukungan termasuk penilaian kondisi kejiwaan jika
diperlukan.
 Meminta informed consent sebelum dilakukan tes HIV.
 Menjelaskan pentingnya menyingkap status untuk kepentingan pencegahan,
pengobatan dan perawatan.

1. Tes HIV atas inisiatif pemberi layanan kesehatan dan konseling (TIPK)
yaitu tes HIV yang dianjurkan atau ditawarkan oleh petugas kesehatan kepada
pasien pengguna layanan kesehatan sebagai komponen standar layanan
kesehatan di fasilitas tersebut. Tujuan umum dari TIPK tersebut adalah untuk
melakukan diagnosis HIV secara lebih dini dan memfasilitasi pasien untuk
mendapatkan pengobatan lebih dini pula, juga untuk memfasilitasi
pengambilan keputusan klinis atau medis terkait pengobatan yang dibutuhkan
dan yang tidak mungkin diambil tanpa mengetahui status HIV nya. Konselor
perlu mengetahui latar belakang kedatangan klien untuk mengikuti konseling
HIV dan memfasilitasi kebutuhan agar proses tes HIV dapat memberikan
penguatan untuk menjalani hidup lebih sehat dan produktif.

2. Komponen-komponen konseling Pra Test HIV


Ada dua komponen utama pada konseling pra tes HIV, yaitu:
1) Pengkajian faktor resiko terhadap HIV:
- Frekuensi dan perilaku seksual (vaginal dan anal)
- Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom, atau
berhubungan seks
- tidak aman dengan PSK
- Beresiko tinggi terinfeksi HIV (pengguna obat intravena, PSK pria dan
- wanita serta pelanggannya, narapidana, pengungsi, pekerja migran,
pria
- homoseksual dan biseksual, pekerja kesehatan dimana universal
precaution
- tidak dikerjakan).
- Pernah menerima transfusi darah, dan transplantasi organ.
- Pernah terpapar prosedur invasive tidak steril seperti pembuatan tato
dan
- sirkumsisi
2) Pengkajian pemahaman

57
Beberapa pertanyaan berikut sebaiknya ditanyakan saat mengkaji
kenapa tes HIV perlu dilakukan.

3. Keuntungan dilakukan test konseling Pra test HIV


Konseling pra tes HIV membantu individu untuk dapat membuat pilihan.
Namun,
perlu diperhatikan bahwa individu yang tidak mau mendapatkan konseling pra
tes HIV
- Mengapa perlu dilakukan tes?
- Apakah ada perilaku tertentu sehingga perlu dilakukan tes?
- Apakah ada gejala tertentu yang muncul?
- Apakah individu tersebut mengetahui tes HIV dan kegunaannya?
- Bagaimana keyakinan dan pengetahuan individu tentang penyebaran
HIV dan hubungannya dengan
- perilaku beresiko?
- Adakah support emosional dan social, misalnya dari keluarga atau
sahabat?
- Bagaimana reaksi individu jika hasil tes positif atau negative?
Test HIV tidak boleh dipaksa. Keputusan untuk melalukan tes haruslah
merupakan keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang tepat, karena
itu seorang perawat harus dapat mampu menjelaskan keterbatasan dan
konsekuensi dari tes yang dilakukan. Konseling ini akan memberikan manfaat
sebagai berikut jika ternya hasil tes adalah positif HIV:

4. Persiapan Konseling test HIV


Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan konseling pra tes
HIV, adalah sebagai berikut:
- Diskusikan tentang kerahasiaan dan informed consent untuk tes HIV
- Berikan pemahaman terhadap kebijakan pemerintah
- Jelaskan implikasi saat mengetahui seseorang terbukti positif HIV
- Eksplorasi implikasi pernikahan, kehamilan, keuangan, bekerja dan
stigma masyarakat
- Fasilitasi untuk berdiskusi mengenai koping saat mengetahui hasil tes
HIV
- Diskusikan tentang seksualitas
- Diskusikan dengan tepat tentang perilaku seksual dan penggunaan
obat-obatan yang beresiko

58
- Eksplorasi mekanisme koping emosional dan ketersediaan suport social
- Jelaskan bagaimana mencegah penyebaran HIV
- Koreksi mitos, misinformasi dan kesalahpahaman tentang HIV/AIDS

Layanan VCT merupakan prosedur diskusi pembelajaran yang dilakukan


oleh konselor seta klien untuk memahami apa itu HIV/AIDS juga resiko dan
konsekuensi terhadap diri, pasangan, keluarga dan orang di sekitarnya dengan
tujuan utama adalah perubahan perilaku ke arah perilaku yang lebih sehat dan
lebih aman (Kemenkes RI, 2013). Konseling pada VCT adalah kegiatan
konseling yang menyediakan dukungan informasi, psikologis, serta
pengetahuan tentang HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan
perubahan prilaku yang lebih baik, memberikan info pengobatan antiretroviral
dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS yang
bertujuan untuk perubahan perilaku lebih sehat dan lebih aman (Kemenkes RI,
2013). Dalam pelaksanaannya VCT mempunyai tiga prinsip dasar diantaranya,
klien datang dengan secara sukarela, diberikan layanan pre tes konseling, dan
sukarela bersedia melakukan tes HIV atas kehendak diri sendiri tanpa paksaan
ataupun manipulasi) ditandai dengan informed concent yang ditandatangani
oleh pasien yang akan melakukan VCT. Kemudian perbincangan klien dan
konselor VCT serta hasil test HIV harus rahasiakan, tidak diperbolehkan untuk
dibocorkan dengan cara apapun itu kepada pihak lain, dan berorientasi pada
klien serta menerapkan prinsip Greater Involment of People with AIDS (Komisi
Penanggulangan AIDS, 2008).

Ringkasan
Layanan Tes dan Konseling HIV (TKHIV), adalah suatu layanan untuk mengetahui
adanya infeksi HIV di tubuh seseorang. Konseling dan tes HIV merupakan pintu masuk
utama pada layanan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV. Konseling dilakukan
pada saat pra test dan post test HIV dimana dilakukan dialog antara klien dan konselor
yang bertujuan menyiapkan klien menjalani tes HIV dan membantu klien memutuskan
akan tes atau tidak (Kemenkes RI, 2013). Konseling ini bertujuan untuk memberikan
informasi kepada individu terkait dengan teknis tes tersebut dan implikasi dari hasil tes
baik hasil positif maupun negative

Test Formatif :
a. Apa dasar-dasar Konseling Bagi Pasien HIV/AIDS?
b. Prinsip Komunikasi konseling bagi pasien dengan HIV/AIDS?

59
c. Konseling Pada napza dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan napza

60
TOPIK 8
ASKEP PADA IBU HAMIL DENGAN HIV/AIDS
Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 3 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Askep Pada Ibu Hamil dengan HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 3, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Konsep dasar kehamilan dengan HIV/AIDS
b. Askep ibu hamil dengan HIV/AIDS

Kehamilan dengan HIV/AIDS


a. Definisi
HIV (Human immunodeficiency Virus) adalah virus pada manusia yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat
menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang
muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan
tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
HIV adalah jasad renik yang menyebabkan terjadinya AIDS. HIV melumpuhkan
sistem kekebalan tubuh, terutama sel-sel darah putih yang membantu dalam
menghalau penyakit
 AIDS adalah sindrom dengan gejala penyakit oportunistik atau kanker tertentu akibat
menurunnya system kekabalan tubuh oleh infeksi virus HIV
 AIDS adalah tranmisi human imuno defisiensi virus, suatu retrovirus yang terjadi
terutama melalui pertukaran cairan tubuh.
 AIDS adalah suatu penyakit infeksi yang di sebabkan virus HTL

b. Anatomi fisiologi
Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang
kompleksterhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini
dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit,
komplemen, dansitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme
pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme
pertahanan spesifik.
Substansi asing yang bertemu dengan system itu bekerja sebagai antigen, anti
melawan, + genin menghasilkan. Contohnya jika terjadi suatu substansi terjadi suatu

61
respon dari tuan rumah, respon ini dapat selular, humoral atau keduanya. Antigen dapat
utuh seperti sel bakteri sel tumor atau berupa makro molekul, seperti protein,
polisakarida atau nucleoprotein. Pada keadaan apa saja spesitas respon imun secara
relatif dikendalikan oleh pengaruh molekuler kecil dari antigendetenniminan antigenic
untuk protein dan polisakarida, determinan antigenic terdiri atas empat sampai enam
asam amino atau satuan monosa karida. Jika komplek antigen Yang memiliki banyak
determinan misalnya sel bakteri akan membangkitkan satu spectrum respon humoral
dan selular. Antibodi, disebut juga imunoglobulin adalah glikkoprotein plasma yang
bersirkulasi dan dapat berinteraksi secara spesifik dengan determinan antigenic yang
merangsang pembentukan antibody, antibody disekresikan oleh sel plasma yang
terbentuk melalui proliferasi dan diferensiasi limfosit B. Pada manusia ditemukan lima
kelas imunoglobulin, Ig.G, terdiri dari dua rantai ringan yang identik dan dua rantai berat
yang identik diikat oleh ikatan disulfida dan tekanan non kovalen. Ig G merupakan kelas
yang paling banyak jumlahnya, 75 % dari imunoglobulin serum IgG bertindak sebagai
suatu model bagi kelas-kelas yang lain
a. Struktur HIV
HIV terdiri dari 3 bagian utama yaitu envelope yang merupakan bagian terluar,
capsid polimerisasi (pol) yang meliputi isi virus dan core (gag) untuk grup
antigen protein, merupakan isi virus. Lapisan envelope terdiri dari lemak ganda
yang terbentuk dari membrane sel pejamu serta protein dari sel pejamu. Pada
lapisan ini tertanam glikoprotein gp41. Pada bagian luar glikoprotein ini terikat
molekul gp120. Pada elektroforesis kompleks antara gp120 dan gp41
membentuk pita gp160. Capsid merupakan lapisan protein yang dikenal sebagai
p17. Pada bagian core terdapat sepasang RNA rantai tunggal, enzyme-enzym
yang berperan dalam replikasi seperti reserve transcriptase (p61), endonuklease
(p31), dan protease (p51) serta protein lainnya terutama p24.

62
Antigen p24 adalah core antigen virus HIV, yang merupakan petanda terdini
adanya infeksi HIV-1, ditemukan beberapa hari-minggu sebelum terjadi
serokonversi sintesis antibody terhadap HIV-1. Antigen gp120 adalah
glikoprotein permukaan HIV-1 yang mengikat reseptor CD4+ pada sel T dan
makrofag. Usaha sintesis reseptor CD4+ ini telah digunakan untuk mencegah
antigen gp120 menginfeksi sel CD4+..2 Gen envelop sering bermutasi. Hal
tersebut menyebabkan jumlah CD4 perifer menurun, fungsi sel T yang
terganggu, aktifasi poliklonal sel B menimbulkan hipergamaglobulinemia,
antibody yang dapat menetralkan antigen gp120 dan gp41 diproduksi tetapi tidak
mencegah progress penyakit oleh karena kecepatan mutasi virus yang tinggi.
Protein envelop adalah produk yang menyandi gp120,digunakan dalam usaha
memproduksi antibody yang efektif dan produktif oleh pejamu

c. Insiden
Sejumlah infeksi virus HIV terdiagnosis baru di tahun 2000 merupakan yang tertinggi
sejak pelaporan di mulai dan jumlah infeksi yang di dapat baru adalah melalui hubungan
seksual heteroseksual. Kira- kira 30.000orang hidp dengan HIV di inggris, sepertiganya
tidak terdiagnosis.
Bagi ibu positif HIV, kehamilan dan kelahiran bayi bias merupakan kejadian yang
sangat emosional. Ibu akan merasa sangat waspada terhdapa penyakitnya yang serius
dan kemungkinan bayinya akan di lahirkan postif HIV. Penularan intrauterine dapat

63
terjadi selama kehamilan, kelahiran, atau menyusui. Di perkirakan bahwa ibuyang baru
saja terinfeksi, atau ibu yang menderita sindrom imnunodefisiensi didapat (AIDS) lebih
besar kemungkinnya mendapat bayi yang terinfeksi (AVERT,2003). Ibu positif HIV
memerlukan asuhan sensitive dari semua staf, bimbingan, dan waktu khusus untuk
bicara. Ibu mungkin meminta kamar samping tetapi banyak ibu lain ingin bersama orang
tua lainnya dan tidak di pisahkan. Kerahasiaan adalah vital

d. Etiologic
Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut
HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-
2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka
untuk memudahkan keduanya disebut HIV
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes
illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 tahun atau lebih dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, ruam kulit, limadenopati,
perlambatan kognitif, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai
system tubuh, dan manifestasi neurologist (NANDA nic-noc).
Cara penularan HIV:
1. Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah
terinfeksi. Kondom adalah satu–satunya cara dimana penularan HIV dapat
dicegah.
2. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana
darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang
tidak steril.
3. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan
seseorang yang telah terinfeksi.
4. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa
kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui.
Penularan secara perinatal

64
1. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang
dikandungnya.
2. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena pada
saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga
virus dari ibu dapat menular pada bayi.
3. Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewaktu berada dalam kandungan
atau juga melalui ASI
4. Ibu dengan HIV dianjurkan untuk PASI
Kelompok resiko tinggi:
1. Lelaki homoseksual atau biseks.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi

e. Klasifikasi
CDC adalah menerapkan system klasifikasi pasien yang mengalami infeksi HIV
berdasarkan keadaan klinik yang di jumpai sebagai berikut.
1. Grup 1/ infeksi akut
Penyakit serokonveksi sampai AIDS berlangsung beberapa tahun kemudian infeksi
akut dari awal virus menginfeksi sampai kiara kira 6 minggu.
Penyakit seokonveksi ada 3 yaitu:
a. Penyakit mirip infeksi mononukleus.
Gejala demam, malaise, alergi, mialgia, atralgia, limfadenopati dan nyeri
tenggorokan kadang di jumpai juga enselopati akut reversible di sertai
disorientasi, lupa ingatan, kesadaran menurun dan perubahan kepribadian.
b. Meningitis.
c. Mielopati
2. Grup 2/ infeksi asimtomatik
Tanpa di sertai gejala
3. Grup 3/ infeksi lymphadenopathy peprsisten generalisata
Meliputi: infeksi kronis
Adanya pembesaran kelenjar getah bening
4. Grup 4/ penyakit lain
 Sub grup a: penyakit constitutional
 Sub grup b: penyakit neurologic

65
 Sub grup c: penyakit infeksi lain contoh: herpes
 Sub grup d: kanker sukender
 Sub grup e kondisi lainnya, misalnnya pneumonitis interstitial limfosit

f. Patofisilogi
HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkan dirinya
pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh
penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA
(deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral
DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia, yang mana, daripada menghasilkan
lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai menghasilkan virus–virus HI. Enzim
lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang baru. Virus–
virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan
berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit
dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi
mudah diserang oleh infeksi dan penyakit–penyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk
menularkan virus tersebut dari orang ke orang.
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel
yang terinfeksi dan menggantikan sel–sel yang telah hilang. Respons tersebut
mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya. Jumlah normal dari sel–sel
CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200 sel/ml kubik darah. Ketika
seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung dibawah 200, dia menjadi
semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik. Infeksi–infeksi oportunistik
adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika system kekebalan tubuh tertekan. Pada
seseorang dengn system kekebalan yang sehat. Infeksi infeksi tersebut tidak biasanya
mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengindap HIV hal tersebut dapat teradi
fatal

g. Periode penularan HIV/AIDS pada Ibu Hamil


Penyebab penularan AIDS pada ibu dan bayi adalah cairan serviks vagian,
cairan amnion, jaringan plasenta dan air susu yang berasal dari ibu yang darah
darahnya terdapat virus HIV.
Cara penularannya secara:
1. Transmisi vertical
Melalui inutera, lewat plasenta

66
Dimana antigen HIV dapat di deteksi dalam cairan amnion dan jarinanvetus yang
terlihat dari terminasi kehamilan yang berusia 15 minggu.
2. Transmisi horizontal
Transmisinya melalui air susu (purwaningsih,wahyu.2010

h. Tanda dan gejala HIV/AIDS


HIV memasuki tubuh jika serum HIV menjafi positif dalam 10 minggu suatu pemaparan
yang menunjukkan gejala awal yang tidak spesifik yaiut:
1. Respon tipe influenza.
2. Demam.
3. Malaise.
4. Mialgia.
5. Mual
6. Diare
7. Nyeri tenggorokan
8. Ruam dapat menetap 2-3 minggu
9. Berat badan menurun
10. Fatique.
11. Anoreksia.
12. Mungkin menderita kandidiasis otot faring atau vagina
Pada masa perinatal
1. Keletihan
2. Anoreksi.
3. Diare kronik selama 1 bulan.
Kemataian ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan di sebabkan oleh
penyakit oportunistik yang menyertai terutama pneumonitis carinif pneumonia.

i. pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium darah.
a. Trombositopeni
b. Anemia.
c. HDL>
d. Jumlah limfosit total
2. EIA atau EUSA dan tes western blot: postif, tetapi invalid.
a. EIAatau EUSA: mendeteksi antibody terhadap antigen HIV.
b. Test western blot mendeteksi adanya anti body terhadapbeberapa prot
spesifik HIV.

67
3. Kultur HIV: dengan sel mononuclear darah perifer dan bila tersedia plasma dapat
mengukur beban virus.
4. Test reaksi polimer dengan leukosit darah perifer: mendeteksi DNA viral pada
adanya kuntitas kecil sel mononuclear perifer terinfeksi.
5. Antigen P24 serum atau plasma: peningkatan nilai kuantitatif dapat menjadi
indikasi dari kemajuan infeksi.
6. Penentuan immunoglobulin G, M, A serum kualitatif: data dasar immunoglobulin.
7. IFA: memastikan seropesivitas.
8. RIPA: mendteksi protein HIV.
9. Pemeriksaan parental juga dapat menunjukkan adanya goorhoe, kandidiasis,
hepatitis B, tuberkolosis, sitomegalovirus, dan toksoplasmosis
(purwaningsih,wahyu.2010).

j. Penatalaksanaan
1. Penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV serta maliginasi, pengentian
replikasi HIV lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihan system
imun melaui pengunaan preparat imnimodulator.
2. Terapi farmakologi
a. Obat primer di setujiu untuk terapi HIV yaitu azidodeoksimetidin
(zidovudine,A2T cretevir) berfungsi untuk memperlambat kematian dan
menurunkan frekuensi serta bertanya penyakit oportunistik.
b. Asitimidin terkendali pada wanita hamil mengurangi resiko transmisi HIV dari
wanita yang terinfeksi kejaninnya.
c. Perawatan suportif sangat penting karena infeksi HIV sangat menurunkan
kedaan imun pasien (mencankup, kelemahan, malnutris, imobilisasi,
kerusakan kulit dan perubahan status mental).
Memberikan perawatan kesehatan efektif dengan penuh kasih saying dan obyektif pada
semua individu (mencakup, malnutrisi, optimum, istirahat, latihan fisik, dan reduksi
stress) (purwaningsih, wahyu.2010)

ASKEP IBU HAMIL DENGAN HIV/AIDS


a. Pengkajian
1. Biodata Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dana kebangsaan, pendidikan,
pekerjaan, alamat, nomor regester, tanggal Masuk Rumah Sakit , diagnosa
medis.

68
2. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan
imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon
imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum
berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang
berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia
aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit
seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status
imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta
terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
a. Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limfoma,
kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.
b. Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein
liosing enteropati (peradangan usus)

3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)


a. Aktifitas / Istirahat
- Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan
pola tidur.
- Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi
aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
b. Sirkulasi
- Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada
cedera.
- Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer,
pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.
c. Integritas dan Ego
- Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan
penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
- Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
d. Eliminasi
- Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa
kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

69
- Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare
pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,
perianal, perubahan jumlah, warna dan karakteristik urine.
e. Makanan / Cairan
- Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
- Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi
yang buruk, edema
f. Hygiene
- Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
- Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
g. Neurosensoro
- Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan
status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
- Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
h. Nyeri / Kenyamanan
- Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada
pleuritis.
- Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan
gerak,pincang.
i. Pernafasan
- Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk,
sesak pada dada.
- Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas,
adanya sputum.
j. Keamanan
- Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit
defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.
- Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya
nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan
umum.
k. Seksualitas
- Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnya
libido, penggunaan pil pencegah kehamilan.
- Tanda : Kehamilan,herpes genetalia.
l. Interaksi Sosial

70
- Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian,
adanya trauma AIDS.
- Tanda : Perubahan interaksi.

4. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih
bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk
mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau
perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human
Immunodeficiency Virus (HIV).
1) Serologis
- Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
- Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
- T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel
helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein pembungkus HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati
normal
- Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer
monoseluler.
- Tes PHS
- Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2) Neurologis
- EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
- Tes Lainnya
- Sinar X dada
- Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut
atau adanya komplikasi lain

71
- Tes Fungsi Pulmonal
- Deteksi awal pneumonia interstisial
- Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk
pneumonia lainnya.
- Biopsis
- Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
- Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy
pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
2. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka
system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus
tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau
bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang
terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody
ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus(HIV) dalam darah memungkinkan skrining
produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Pada tahun 1985
Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar
Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut, yaitu:
3. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus
Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa
AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah
terinfeksi (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
4. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan
memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
5. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan
seropositifitas.
6. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.

b. Diagnose Keperawatan
a. Resiko infeksi.

72
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Intolerans aktivitas.
d. Penurunan koping keluarga

c. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Noc Nic
keperawatan
1. Nutrisi kurang dari NOC: 1. Yakinkan diet yang dimakan
kebutuhan tubuh.  Nutritional status mengandung tinggi serat untuk
Definisi : asupan  Nutritional status : mencegah konstipasi.
nutrisi tidak cukuo food dan fluid 2. Monitor jumlah nutrisi dari
untuk memenuhi  Intake kandungan kalori.
kebutuhan metabolic.  Nutritional status: 3. Berikan informasi tentang
nutrient intake kebutuhan nutrisi.
 Weight control 4. Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
Kriteria Hasil :
dibutuhkan.
 Adanya
5. Kolaborasi dengan ahli gizi
peningkatan berat
untuk menetukan jumlah kalori
badan sesuai
dan nutrisi yang di butuhkan
dengan tujuan.
pasien.
 Berat badan ideal
sesuai dengan
tinggi badan
 Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
 Tidak ada tanda-
tanda mal nutrisi

Intoleransi aktivitas Nic :


1. Bantu klien untuk
Definisi: ketidak  Aktivit tolraice
mengidentifikasi aktivitas yang
kecukupan energy  Energy
mampu di lakukan
psikologi atau fisiologi converseration
2. Bantu pasien /keluarga untuk
untuk melanjutkan atau  Self care: ADLs
mengintifikasi kekurangan
2. menyelesaikan aktifitas Kreteria Hasil :
dalam beraktivitas
kehidupan sehari- hari  berpartisipasi

73
yang harus atau yang dalam aktivitas fisik 3. Bantu pasien untuk
di lakukan tanpa di sertai mengembangkan motvasi diri
peningkatan dalam penguatan
tekanan 4. Bantu pasien untuk melakukan
darah,nadi,RR aktivitas yang di perlukan
 mampu melakukan
akivitas sehari-hari
secara mandiri
 tanda –tanda vital
normal
 energy psikomotor.
 Level kelemahan.

Noc:
Penurunan koping
 caregiver stressor
keluarga.
 family coping
Definisi : orang
,disable
terdekat anggota
 parental
keluarga atau 1. Peningkatan koping
role,conflict
sahabat). Yang :membantu pasien
 therapeutic
memberikan beradaptasi dengan
regimen
dukungan, rasa persepsistressor perubahan
management
nyaman, bantuan, atau atau ancaman yang
 ineffective
motivasi tidak adekuat, menggangu pemenuhan
Kreteria Hasil :
tidak efektif, atau tuntutan dan peran hidup
 keluarga tidak
mengalamu penurunan 2. Dukungan emosi memberikan
mengalami
yang mungkin di penenangan ,penerimaan dan
penurunan koping
3. perlukan oleh klien dorongan selama proses
keluarga
untuk mengelola atau steres
 hubungan pasien
menguasai tugas tugas 3. Mobilitas keluarga
pemberi kesehatan
adaptif terkait masalah penggunaan kekuatan
adekuat
keperawatan. keluarga untuk mempengaruhi
 kesejahteraan
emosi pemberi kesehatan pasien kearah yang

asuhan kesehatan positif

keluarga 4. Dukungan keluarga

 koping keluarga meningkatkan nilai,minat,dan

meningkat tujuan keluarga

74
5. Panduan system kesehatan
NIC: memfasilitasi local pasien dan
Resiko infeksi  Immune status penggunaan pelayanan
Definisi : mengalami  Knowledge: kesehatan yang sesuai
peningkatan resiko infection control
terserang organisme  Risk control
patogenik. Kriteria Hasil:
 Klien bebas dari
tanda dan gejala 1. Inspeksi kulit dan membrane

 Mendeskripsikan mukosa terhdapa kemerahan,

proses penularan panas, drainase.

penyakit, factor 2. Instrusikan pasien untuk minum


yang antibiotic sesuai resep.

mempengaruhi 3. Ajarkan pasien dan keluarga

penularan serta tanda dan gejala infeksi

penatalaksanaanny 4. Ajarakan cara menghindari


infeksi.

Ringkasan
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat
menyebabkan AIDS. Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human
immunodeficiency virus (HIV). Cara penularan HIVmelakukan penetrasi seks, melalui
darah yang terinfeksi, dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius
dengan seseorang yang telah terinfeksi, wanita hamil. Penularan secara perinatal terjadi
terutama pada saat proses melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara
lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.
Kelompok resiko tinggi: lelaki homoseksual atau biseks, orang yang ketagian obat
intravena, partner seks dari penderita AIDS, penerima darah atau produk darah
(transfusi), bayi dari ibu/bapak terinfeksi. Gejala mayor infeksi HIV adalah BB menurun
lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan,
penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis, demensia / HIV ensefalopati.
Gejala minor: batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalist, adanya herpes
zoster yang berulang, kandidiasis orofaringeal, herpes simplex kronik progresif,

75
limfadenopati generalist, infeksi jamur berulang pada kelamin wanita, retinitis
cytomegalovirus

76
TOPIK 9
ASKEP PADA ANAK DAN REMAJA DENGAN HIV/AIDS
Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 3 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Patofisiologi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan HIV/AIDS
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 3, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Patofisiologi,
b. Diagnosis, dan
c. Penatalaksanaan
Konsep HIV/AIDS pada Anak dan Remaja
Pengertian
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human
Immunodeficiency virus (HIV). AIDS adalah Runtuhnya benteng pertahanan tubuh yaitu
system kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, yaitu dengan
hancurnya sel limfosit T (sel-T).
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler yang
disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana kebanyakan
pasien memerlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama perjalanan
penyakit. AIDS adalah penyakit defisiensi imunitas seluler akibat kehilangan kekebalan yang
dapat mempermudah terkena berbagai infeksi seperti bakteri, jamur, parasit dan virus
tertentu yang bersifat oportunistik.
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan AIDS adalah kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan
oleh retrovirus (HIV) yang dapat mempermudah terkena berbagai infeksi seperti bakteri,
jamur, parasit dan virus

Etiologic
HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus yang melekat dan memasuki limfosit T
helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologik lain dan orang
itu mengalami destruksi sel CD4+ secara bertahap (Betz dan Sowden, 2002). Infeksi HIV
disebabkan oleh masuknya virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) ke
dalam tubuh manusia

77
Patofisiologi
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang bekerja
sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan peran
kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan
bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang
menyebabkan penurunan sel CD4. HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan
antigen permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang
mencakup linfosit penolong dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas
imun, juga memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan
penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti,
meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi apoptosis melalui
antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi
melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit
atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit. Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir
virus laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak,
dan menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel
kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia.
Pada jaringan janin, pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati,
dan paru. Patologi terkait HIV melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk
mengetahui apakah kerusakan terutama disebabkan oleh infeksi virus local atau komplikasi
infeksi lain atau autoimun. Stadium tanda infeksi HIV pada orang dewasa adalah fase infeksi
akut, sering simtomatik, disertai viremia derajat tinggi, diikuti periode penahanan imun pada
replikasi viral, selama individu biasanya bebas gejala, dan priode akhir gangguan imun
sitomatik progresif, dengan peningkatan replikasi viral. Selama fase asitomatik kedua-
bertahap dan dan progresif, kelainan fungsi imun tampak pada saat tes, dan beban viral
lambat dan biasanya stabil. Fase akhir, dengan gangguan imun simtomatik, gangguan
fungsi dan organ, dan keganasan terkait HIV, dihubungkan dengan peningkatan replikasi
viral dan sering dengan perubahan pada jenis vital, pengurangan limfosit CD4 yang
berlebihan dan infeksi aportunistik.
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun “ priode
inkubasi atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada
infeksi perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi
imun sering tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B;
hipergameglobulinemia dengan produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara
anak-anak yang terinfeksi HIV dari pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6

78
bulan. Ketidak mampuan untuk berespon terhadap antigen baru ini dengan produksi
imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa pajanan antigen sebelumnya,
berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih berat pada infeksi HIV
pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan mungkin tidak
berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV sering
memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CD8 yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi
pada infeksi HIV anak Tanda Dan Gejala
Dengan sedikit pengecualian, bayi dengan infeksi HIV perinatal secara klinis dan
imunologis normal saat lahir. Kelainan fungsi imun yang secara klinis tidak tampak sering
mendahului gejala-gejala terkait HIV, meskipun penilaian imunologik bayi beresiko dipersulit
oleh beberapa factor unik. Pertama, parameter spesifik usia untuk hitung limfosit CD4 dan
resiko CD4/CD8 memperlihatkan jumlah CD4 absolut yang lebih tinggi dan kisaran yang
lebih lebar pada awal masa bayi, diikuti penurunan terhadap pada beberapa tahun pertama.
Selain itu, pajanan obat ini beresiko dan bahkan pajanan terhadap antigen HIV tanpa infeksi
dapat membingungkan fungsi dan jumlah limfosit. Oleh karena itu, hal ini peting untuk
merujuk pada standar yang ditentukan usia untuk hitung CD4, dan bila mungkin
menggunakan parameter yang ditegakkan dari observasi bayi tak terinfeksi yang lahir dari
ibu yang terinfeksi.
Gejala terkait HIV yang paling dini dan paling sering pada masa bayi jarang
diagnostic. Gejala HIV tidak spesifik didaftar oleh The Centers For Diseasen Control sebagai
bagian definisi mencakup demam, kegagalan berkembang, epatospleno dan epatospleno,
limfadenopati generalisata (didefinisikan sebagai nodul yang >0,5 cm terdapat pada 2 atau
lebih area tidak bilateral selama >2 bulan), parotitis, dan diare. Diantara semua anak yang
terdiagnosis dengan infeksi HIV, sekitar 90% akan memunculkan gejala ini, kebergunaannya
sebagai tanda awal infeksi dicoba oleh studi the European Collaborativ pada bayi yang lahir
dari ibu yang terinfeksi. Mereka menemukan bahwa dua pertiga bayi yang terinfeksi
memperlihatkan tanda dan gejala yang tidak spesifik pada usia 3 bulan, dengan angka yang
lebih rendah diantara bayi yang tidak terinfeksi. Pada penelitian ini, kondisi yang
didiskriminasi paling baik antara bayi terinfeksi dan tidak terinfeksi adalah kandidiasis kronik,
parotitis, limfadenopati persistem, epatosplenomegaly. Otitis media, tinitis, deman yang
tidak jelas, dan diare kronik secara tidak nyata paling sering pada bayi yang terinfeksi
daripada bayi yang tidak terinfeksi
PUSAT UNTUK KLASIFIKASI CONTROL PENYAKIT INFEKSI HIV PADAANAK
Kelas P-O: infeksi intermediate

79
Bayi <15 bulan yang lahir dari ibu yang terinfeksi tetapi tanpa tanda infeksi HIV
Kelas P-1: infeksi asimtomatik
Anak yang terbukti terinfeksi, tetapi tampa gejala P-2; mungkin memiliki fungsiimun normal
(P-1A) atau abnormal (P-1B)
Kelas P-2: infeksi sitomatikP-2A: gambaran demam nonspesifik (>2 lebih dari 2 bulan) gagal
berkembang,limfadenopati, hepatomegali, splenomegali, parotitis, atau diare rekuren atau
persistemyang tidak spesifik.
P-2B: penyakit neurologi yang progresif
P-2C: Pneumonitis interstisial limfoid
P-2D: infeksi oportunistik menjelaskan AIDS, infeksi bakteri rekuren, kandidiasisoral
persisten, stomatitis herpes rekuren, atau zoster multidermatomal.
P-2E: kanker sekunder, termasuk limfoma non-Hodgkin sel-B atau limforma otak
P-2F: penyakit end-organ HIV lain (hepatitis, karditis, nefropati, gangguanhematologi)

Tanda pertama infeksi tidak nyata. Pengalaman dari beberapa pusat


penelitianmenunjukkan bahwa sekitar 20% bayi yang terinfeksi secara cepat akan
berkembang menjadigangguan imun dan AIDS. Banyak dari bayi ini akan menampakkan
gejala aneumoniaPneumocystis carinii (PCP) pada usia 3 sampai 6 bulan, atau menderita
infeksi bakteri seriuslain. Pada beberapa bayi, jumlah CD4 mungkin normal saat terjadinya
PCP.Dalam 2 tahun setelah lahir, kebanyakan bayi akan mengalami beberapa
derajatkegagalan berkembang, demam rekuren atau kronik, keterlambatan perkembangan,
adenopati persisten, atau hepatosplemegali. Semua ini bukan keadaan kecacatan, dan kons
isten dengankelangsungan hidup yang lama. sekitar 8% bayi ini akan
Berkembang menjadi AIDS terbatas CDC per tahun. 
Penunjukan “AIDS” merupakankebergunaan yang sangat terbatas pada prognosis
atau pada nosologi deskriptif infeksi HIV,tetapi penyakit indicator AIDS berperang sebagai
tanda tingginya perkembangan penyakitdan sebagai catalog kondisi yang sering terlihat
dengan perkembangan penyakit. Masing-masing dibahas secara singkat
dibawah:Pneumonia Pneumocystis carinii (PCP). PCP merupakan penyakit indicator
AIDS paling sering, yang terjadi pada sekitar sepertiga anak dan bayi yang terinfeksi. Usia r
atauntuk munculnya penyakit adalah sekitar usia 9 bulan, meskipun puncaknya sampai usia
3sampai 6 bulan diantara bayi-bayi yang berkembang sangat cepat. Tidak seperti reaksi
PCP pada orang dewasa, infeksi ini biasanya merupakan infeksi primer pada anak yang
terinfeksi HIV, bergejala subkutan atau mendadak dengan demam, batuk, takipnea, dan
ronki. PCP sulit dibedakan dengan infeksi paru lain atau usia ini, dan karena trimetoprim-
sulfametoksasol dan kortikosteroid intravena diberikan pada awal perjalanan penyakit
menyebabkan perbaikan yang signifikan, lavese bronkoalveolar diagnostic harus dipikirkan

80
secara serius pada bayi beresiko dengan gambaran klinis konsisten. PCP memberikan
prognosis yang tidak baik pada awal penelitian dengan kelangsungan hidup media 1 bulan
setelah diagnosis. Saat ini dikenali bahwa penyakit yang lebih ringan dapat terjadi dan
konsisten dengan kelangsungan hidup yang lama. Profilaksin PCP dengan trimetoprim-
sulfametoksasol oral efektif, dan merupakan indikasi untuk bayi dengan kehilangan limfosit
CD4 yang signifikan, sebelum PCP, dan pada beberapa bayi muda dengan perkembangan
gejala terkait HIV yang cepat.
Pneumolitis Interstisial Limfoid (LIP). Infiltrasi paru intersisial kronik telah ditentukan
pada orang dewasa yang terinfeksi HIV dalam jumlah kecil, tetapi terjadi pada sekitar 20%
anak yang terinfeksi HIV. Dianggap berhubungan dengan infeksi virus Epstein-Barr. Kondisi
ini ditandai dengan perjalanan kronik eksa-serbasi intermiten (sering selama infeks respirasi
yang terjadi di antara infeksi atau selama infeksi. Infiltra dada kronik yang terlihat pada sinar-
X sering menunjukkan diagnosis, tetapi hanya biopsy paru terbuka yang dapat dipercaya
untuk diagnosis definitive. Hipoksia jaran parah sampai terbawa selama beberapa tahun,
dan beberapa perbaikan pada kostikosteroid. LIP sebagai gejala yang timbul pada infeksi
HIV dapat disertai prognosis yang lebih baik, dan sering terlihat pada kelompok gejala
dengan hipergamaglobulinemia yang nyata dan parotitis. Infeksi Bakteri Rekuren. Untuk
criteria AIDS pediatric CDC, infeksi bakteri rekuren adalah dua atau lebih episode sepsis,
meningitis, pneumonia, abses internal, atau infeksi tulang dan sendi; ini semua terlihat pada
15% anak-anak dengan AIDS pediatric. Infeksi bakteri yang lebih sedikit, seperti infeksi
sinus rekuren atau kronik, otitis media, dan pioderma masih sering terjadi. Streptococcus
pneumonia merupakan isolate darah yang paling sering pada anak yang terinfeksi HIV,
meskipun stafilokokal gram-negatif, dan bahkan bakteremia pseudomonal terjadi
berlebihan. Penanganan episode demam pada anak yang terinfeksi HIV sama dengan
penanganan anak dengan kondisi yang menganggu imunitas lain. Gangguan kemampuan
untuk menjaga respons antibody yang efektif dan kurangnya pajanan membuat anak yang
terinfeksi HIV rentang terhadap penyakit bakteri yang lebih setius. Profilaksis dengan
immunoglobulin intravena dapat mengurangi frekuensi dan keparahan infeksi bakteri yang
serius Penyakit Neurologi Progresif. Sampai 60% anak yang terinfeksi HIV dapat munculkan
tanda infeksi system saraf pusat. Pada sekitar seperempatnya, infeksi ini dalam bentuk
ensefalopati static yang biasanya bermanifestasi pada tahun pertaman dengan
keterlambatan perkembangan. Pada sekitar sepertiganyan, terjadi ensefalopati progresif,
dengan kehilangan kejadian yang penting sebelumnya dan deficit motorik dan kognitif yang
berat. Pencitraan saraf dapat memperlihatkan atrofi serebral, kelainan subtansi alba, atau
klasifikasi ganglion basal, atau kesemuanya, meskipun keparahan abnormalitas pencitraan
sering tidak berkorelasi dengan gambaran klinis.

81
Zidovudin IV kontinu ditemukan menyebabkan perbaikan yang dramatic pada
beberapa anak dengan deficit perkembangan saraf; kostikosteroid juga menguntungkan
pada laporan terisolasi. Wasting Syndrome. Kegagalan kronik untuk tumbuh pada infeksi
HIV lanjut terjadi pada sekitar 10% bayi dan anak dengan AIDS dan hamper selalu
multifaktorial. Deficit system saraf pusat dari latergi sampai kelemahan dalam mengunyah;
abnormalitas neuroendokrin; malabsorpsi dan diare akibat infeksi HIV primer, infeksi usus
sekunder, atau terapi; dan katabolisme yang diinduksi infeksi sering berperang pada
masalah yang menjengkelkan ini. Infeksi Oportunistik. Lebih dari satu lusin infeksi
oportunistik spesifik memenuhi AIDS, meskipun setelah PCP, paling sering pada AIDS
pediatric adalah esofagistis kandida, terjadi pada sekitar 10%, dan infeksi kompleks,
Mycobakterium avium. Diantara virus-virus, infeksi CMV diseminata dan lama pada saluran
cerna, dan infeksi virus varisela zoster apitikal, rekuren dan ekstensif sering terjadi.
Walaupun daftar panjang pathogen yang menyebabkan penyakit berat dan lama tidak lazim
pada penjamu ini, virus respirasi yang lazim, mencakup virus sinsitial respiratorius, jarang
menyebabkan penyakit yang berkomplikasi. Terkenanya organic lain. Terkenanya hepar
padi infeksi HIV pediatric sering mengambil bentuk organ yang membesar sedang sampai
berat, transaminitis berfluktuasi. Yang jarang adalah hepatitis kolestatik berat yang terjadi
pada bayi yang terinfeksi pada tahun pertama, dengan prognosis buruk. Kelainan hati dapat
disebabkan oleh infeksi yang bersama dengan CMV, HCV, atau HBV, oleh infeksi HIV itu
sendiri, atau banyak agen infeksius lain. Penyakit ginjal yang sering terjadi, paling sering
bermanifestasi protenuria. Perubahan mesangial dan glomerulokslerosis fokal telah
diindentifikasi sebagai patologi yang paling sering terjadi pada anak dengan AIDS. Kelainan
jantung dapat diperhatikan pada separuh anak semua usia penyakit HIV, meskipun insiden
kardiomiopati simtomatik hanya 12 sampai 20%; efusi pericardial dan gangguan fungsi
ventrikel merupakan kelainan. ekokardiografi yang paling sering ditemukan. Meskipun
frekuensi penyakit paru kronik pada pasien ini, terkenanya vertikel kiri beberapa kali lebih
sering daripada yang kanan. Tekanan HIV langsung, autoimunitas, malnutrisi dan infeksi
bersama dengan virus miotropik semuanya telah dihipotesis sebagai etiologi. Fenomena
autoimun mencakup anemia hemolitik positif-coombs dan trombositopenia. Sarcoma Kaposi
dan kanker sekunder lain jarang pada anak yang terinfeksi HIV.

Diagnosis
Diagnosis awal bayi yang terinfeksi sangat diinginkan, tetapi pengenalan awal bayi yang
beresiko HIV lebih penting. Hanya jika infeksi HIV pada perempuan hamil teridentifikasi,
terhadap kesempatan untuk mengubah ibu dan bayi secara cepat dengan terapi antiviral
atau preventif. Oleh karena itu uji dan konseling HIV harus menjadi bagian rutin pada
perawatan kehamilan. Menetapnya antibody terhadap HIV yang didapat secara

82
transplasenta pada bayi merupakan komplikasi pemakaian uji antibody konversional dalam
mendignosis infeksi HIV pada masa bayi. Karena antibodi seperti ini dapat menetap dalam
sirkulasi bayi yang tidak terinfeksi selama 18 bulan, diagnosis infeksi pada bayi beresiko
memerlukan biakan virus dari bayi (biakan HIV), atau adanya antigen HIV (antigen p24) atau
asam nuclear viral-[reaksi rantai polymerase HIV (PCR)]. Uji virolegi dengan PCR atau
biakan HIV darah perifer dapat diharapkan menegakkan atau menyingkirkan (95% dapat
dipercaya) diagnosis infeksi HIV pada usia 3 sampai 6 bulan. Uji-uji ini jika dilakukan dengan
tepat mempunyai angka positivitas palsu rendah yang dapat diterima dan dapt diandalkan
untuk menegaskan infeksi pada semua usia.
Sensitivitas pada tiap-tiap tes lebih rendah pada priode parinatal, membuat
diperlukannya tes serial. Untuk memonitor secara prospektif bayi yang beresiko, uji firologi
diagnostic dianjurkan sekurang-kurangnya 2 kali dalam 6 bulan pertama. Sebagai orang tua
diberitahukan bahwa anaknya terinfeksi, konfirmasi dan tinjauan semua uji laboratorium
dianjurkan. Bila bayi atau anak tanpa factor resiko yang dikenali untuk infeksi HIV tampak
dengan gambaran atau tanda yang cocok dengan defisiensi imun, diagnosis HIV harus
dijalankan bersama defisiensi imun lain. Kenyataan bahwa infeksi HIV akhir-akhir ini
merupakan penyebab utama defisiensi imun pada anak yang lebih mudah membantu saat
membersihkan konseling orang tua berkenang dengan uji serologi. Pada anak berusia 18
bulan sampai masa remaja, tes serologi yang positif yang dikonfirmasi untuk antibody
terhadap HIV (ELISA dan bekuan Western atau tes konfirmasi

Penatalaksanaan HIV/AIDS
Penatalaksanaan untuk kasus HIV (human immunodeficiency virus) adalah dengan
memberikan terapi antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah sistem imun
semakin berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi oportunistik. Hingga kini,
belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif untuk menangani infeksi HIV. Walau
demikian, terdapat penatalaksanaan HIV yang diberikan seumur hidup dan bertujuan untuk
mengurangi aktivitas HIV dalam tubuh penderita sehingga memberi kesempatan bagi
sistem imun, terutama CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal. Pengobatan
kuratif dan vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Terapi Antiretroviral (ARV)
Prinsip pemberian ARV menggunakan 3 jenis obat dengan dosis terapeutik. Jenis golongan
ARV yang rutin digunakan :

83
TOPIK 10
ASKEP PADA KLIEN DENGAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 10 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
Askep Pada Klien dengan Penyalahgunaan Napza
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 10, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Konsep napza
b. Askep pada klien dengan penyalahgunaan napza,

A. Konsep Napza
Pengertian
Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai
setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan
sering dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku
psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi
karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat
untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan
tanda ketergantungan fisik.
Respon adaptif Respon Maladaptif

Eksperimental Situasional Ketergantungan


Rekreasional Penyalahgunaan
(Sumber: Yosep, 2007)

Keterangan :
Eksperimental:
Kondisi pengguna taraf awal, yang disebabkan rasa ingin tahu dari remaja. Sesuai
kebutuan pada masa tumbuh kembangnya, klien biasanya ingin mencari
pengalaman yang baru atau sering dikatakan taraf coba-coba.
Rekreasional:
Penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman sebaya, misalnya pada
waktu pertemuan malam mingguan, acara ulang tahun. Penggunaan ini mempunyai
tujuan rekreasi bersama temantemannya.
Situasional:

84
Mempunyai tujuan secara individual, sudah merupakan kebutuhan bagi dirinya
sendiri. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri atau
mengatasi masalah yang dihadapi. Misalnya individu menggunakan zat pada saat
sedang mempunyai masalah, stres, dan frustasi.
Penyalahgunaan:
Penggunaan zat yang sudah cukup patologis, sudah mulai digunakan secara rutin,
minimal selama 1 bulan, sudah terjadi penyimpangan perilaku, mengganggu fungsi
dalam peran di lingkungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
Ketergantungan:
Penggunaan zat yang sudah cukup berat, telah terjadi ketergantungan fisik dan
psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya toleransi dan sindroma
putus zat (suatu kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara
rutin pada dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti
memakai, sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang
digunakan). Sedangkan toleransi adalah suatu kondisi dari individu yang mengalami
peningkatan dosis (jumlah zat), untuk mencapai tujuan yang biasa diinginkannya

Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA


Harboenangin (dikutip dari Yatim, 1986) beberapa faktor yang menyebabkan
seseorang menjadi pecandu narkoba yaitu
1. Faktor Internal
a. Faktor Kepribadian Kepribadian seseorang turut berperan dalam perilaku ini
→ cenderung usia remaja. Remaja yang menjadi pecandu memiliki konsep
diri yang negatif dan harga diri yang rendah.Ditandai ketidakmampuan
mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas,pasif, agresif, dan
cenderung depresi, juga turut mempengaruhi.
b. Inteligensia Hasil penelitian menunjukkan bhw inteligensia pecandu yang
datang untuk melakukan konseling di klinik rehabilitasi pada umumnya
berada pada taraf di bawah rata-rata dari kelompok usianya.
d. Usia Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasan remaja
menggunakan narkoba karena kondisi sosial, psikologis yang membutuhkan
pengakuan, dan identitas dan kelabilan emosi; sementara pada usia yang
lebih tua, narkoba digunakan sebagai obat penenang. d. Dorongan
Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu - Narkoba dapat memberikan
kenikmatan yang unik dan tersendiri. - Mulanya merasa enak yang diperoleh
dari coba-coba dan ingin tahu atau ingin merasakan seperti yang diceritakan

85
oleh teman- teman sebayanya. - Lama kelamaan akan menjadi satu
kebutuhan yang utama.
e. Pemecahan Masalah Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan
narkoba untuk menyelesaikan persoalan. Hal ini disebabkan karena
pengaruh narkoba dapat menurunkan tingkat kesadaran dan membuatnya
lupa pada permasalahan yang ada.
2. Faktor Eksternal
 Keluarga Beberapa tipe keluarga yang berisiko tinggi anggota
keluarganya terlibat penyalahgunaan narkoba, yaitu:
1) Keluarga yang memiliki riwayat (termasuk orang tua) mengalami
ketergantungan narkoba.
2) Keluarga dengan manajemen yang kacau, yang terlihat dari
pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan
ibu (misalnya ayah bilang ya, ibu bilang tidak).
3) Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya
penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik.
4) Keluarga dengan orang tua yang otoriter
5) Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut
anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang
harus dicapai dalam banyak hal.
6) Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan
dengan alasan yang kurang kuat, mudah cemas dan curiga, sering
berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

3. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)


Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara
teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar
berperilaku seperti kelompok itu. Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA
pada remaja adalah teman sebaya (78,1%). Hal ini menunjukkan betapa
besarnya pengaruh teman kelompoknya sehingga remaja menggunakan
narkoba.
4. Faktor Kesempatan Ketersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga
dapat disebut sebagai pemicu seseorang menjadi pecandu. Indonesia yang
sudah menjadi tujuan pasar narkoba internasional, menyebabkan obat-obatan ini
mudah diperoleh.

Jenis-jenias Napza dapat dibagi ke dalam beberapa golongan yaitu :

86
Narkotika
Narkotika adalah suatu obat atau zat alami, sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan turunnya kesadaran, menghilangkan atau mengurangi rasa atau nyeri
dan perubahan kesadaran yang menimbulkan ketergantungan akan zat tersebut
secara terus menerus. Contoh narkotika: ganja, heroin, kokain, morfin, amfetamin,
dll.
Narkotika menurut UU No. 22 tahun 1997 adalah zat atau obat berbahaya yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang
dapat menyebabkan penurunan maupun perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan (Wresniwiro dkk. 1999).
Golongan narkotika berdasarkan bahan pembuatannya adalah:
Narkotika alami yaitu zat dan obat yang langsung dapat dipakai sebagai narkotik
tanpa perlu adanya proses fermentasi, isolasi dan proses lainnya terlebih dahulu
karena bisa langsung dipakai dengan sedikit proses sederhana. Bahan alami
tersebut umumnya tidak boleh digunakan untuk terapi pengobatan secara langsung
karena terlalu berisiko. Contoh narkotika alami yaitu seperti ganja dan daun koka.
Narkotika sintetis adalah jenis narkotika yang memerlukan proses yang bersifat
sintesis untuk keperluan medis dan penelitian sebagai penghilang rasa
sakit/analgesik. Contohnya yaitu seperti amfetamin, metadon, dekstropropakasifen,
deksamfetamin, dan sebagainya. Narkotika sintetis dapat menimbulkan dampak
sebagai berikut: a. Depresan = membuat pemakai tertidur atau tidak sadarkan diri. b.
Stimulan = membuat pemakai bersemangat dalam beraktivitas kerja dan merasa
badan lebih segar. c. Halusinogen = dapat membuat si pemakai jadi berhalusinasi
yang mengubah perasaan serta pikiran.
Narkotika semi sintetis yaitu zat/obat yang diproduksi dengan cara isolasi, ekstraksi,
dan lain sebagainya seperti heroin, morfin, kodein, dan lain-lain.
Psikotropika
Kepmenkes RI No 996/MENKES/SK/VIII/2002, psikotropika adalah zat atau obat,
baik sintesis maupun semi sintesis yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku. Zat yang tergolong dalam psikotropika (Hawari, 2006) adalah:
stimulansia yang membuat pusat syaraf menjadi sangat aktif karena merangsang
syaraf simpatis.
Termasuk dalam golongan stimulan adalah amphetamine, ektasy (metamfetamin),
dan fenfluramin. Amphetamine sering disebut dengan speed, shabu-shabu, whiz,
dan sulph. Golongan stimulan lainnya adalah halusinogen yang dapat mengubah

87
perasaan dan pikiran sehingga perasaan dapat terganggu. Sedative dan hipnotika
seperti barbiturat dan benzodiazepine merupakan golongan stimulan yang dapat
mengakibatkan rusaknya daya ingat dan kesadaran, ketergantungan secara fisik dan
psikologis bila digunakan.
Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat, bahan kimia, dan biologi dalam bentuk tunggal maupun
campuran yang dapat membahayakan kesehatan lingkungan hidup secara langsung
dan tidak langsung yang mempunyai sifat karsinogenik, teratogenik, mutagenik,
korosif, dan iritasi Bahan-bahan berbahaya ini adalah zat adiktif yang bukan
termasuk ke dalam narkotika dan psikoropika, tetapi mempunyai pengaruh dan efek
merusak fisik seseorang jika disalahgunakan (Wresniwiro dkk. 1999).
Adapun yang termasuk zat adiktif ini antara lain: minuman keras (minuman
beralkohol) yang meliputi: a. minuman keras golongan A (kadar ethanol 1% - 5%)
seperti bir, green sand b. minuman keras golongan B (kadar ethanol lebih dari 5% -
20%) seperti anggur malaga c. Minuman keras golongan C (kadar ethanol lebih dari
20% - 55%) seperti brandy, wine, whisky. Zat dalam alkohol dapat mengganggu
aktivitas sehari-hari bila kadarnya dalam darah mencapai 0,5% dan hampir semua
akan mengalami gangguan koordinasi bila kadarnya dalam darah 0,10% (Marviana
dkk. 2000).  Zat adiktif lainnya adalah nikotin, votaile, dan solvent/inhalasia

Faktor Penyebab Penggunaan NAPZA


Faktor penyebab pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA
meliputi:
1) Faktor biologic Kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan alcohol.
Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon fisiologik yang
tidak nyaman.
2) Faktor psikologik, Tipe kepribadian ketergantungan ; Harga diri rendah biasanya
sering berhub. dengan penganiayaan waktu masa kanak kanak; Perilaku
maladaptif yang diperlajari secara berlebihan: Mencari kesenangan dan
menghindari rasa sakit keluarga, termasuk tidak stabil, tidak ada contoh peran
yang positif, kurang percaya diri, tidak mampu memperlakukan anak sebagai
individu, dan orang tua yang adiksi
3) Faktor sosiokultural : Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap pengguna
obat; Ambivalens sosial tentang penggunaan dan penyalahgunaan berbagai zat
seperti tembakau, alkohol dan mariyuana, Sikap, nilai, norma dan sanksi
cultural, Kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan
kesempatan

88
Gejala klinis penggunaan NAPZA
Perubahan Fisik : Pada saat menggunakan NAPZA :
- Jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel ),
- Apatis ( acuh tak acuh ),
- Mengantuk,
- Agresif.
- Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan
nadi lambat, kulit teraba dingin, bahkan meninggal.
- Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus,
diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
- Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap
kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan. 2.
Perubahan sikap dan perilaku :
- Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering
membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
- Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas
atau tempat kerja.
- Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin. –
- Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghidar bertemu
dengan anggota keluarga yang lain.
- Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota
keluarga yang lain.
- Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas
penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau
keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi. –
- Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan
pencurigaan, tertutup dan penuh rahasia.

Dampak penggunaan NAPZA


NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya, Komplikasi
Medik, biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama.
Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat : ·gangguan daya ingat gangguan perhatian /
konsentrasi, gangguan bertindak rasional, gagguan perserpsi sehingga
menimbulkan halusinasi ·, gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau

89
bekerja, gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik /
buruk.
b. Saluran napas dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia),
pembengkakan paru (Oedema Paru).
c. Pada jantung dapat terjadi peradangan otot jantung serta penyempitan
pembuluh darah jantung.
d. Pada hati dapat terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik
dan hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV/AIDS. Para pengguna NAPZA
dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan
hubungan seksual demi mendapatkan uanguntuk membeli zat. Penyakit
Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah (GO), raja singa
(Siphilis) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik
secara bersama-sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin
meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan
seksual, selain itu juga dapat melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu
ke janin.
f. Pada sistem Reproduksi sering mengakibatkan kemandulan. .
g. Pada kulit sering terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang
menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju
lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan : ·Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS,
Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati, Janin :
pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah

Dampak sosial
a. Di Lingkungan Keluarga : ·
- Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi
pertengkaran, mudah tersinggung. ·
- Orang tua resah karena barang berharga sering hilang. ·
- Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib,
hidup bebas) dan menjadi aib keluarga. ·
- Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau
pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan. ·
- Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk
biaya pengobatan dan rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah : ·

90
- Merusak disiplin dan motivasi belajar. ·
- Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
- Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman
sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat : ·
- Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari
pengguna / mangsanya. ·
- Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang
telah menjadi ketergantungan. ·
- Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian,
pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah. ·
- Meningkatnya kecelakaan.

Dampak Pemakaian Napza


Semua obat dapat menyebabkan akibat yang tidak baik, tergantung dari jumlah
yang digunakan, jumlah pemakaian, lamanya pemakaian dan keadaan ketika obat
digunakan. Kematian yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan ini cukup
tinggi. Dampak pemakaian Narkoba yang ditimbulkan tidak sama untuk semua
orang akan tetapi tergantung pada hal-hal di bawah ini, yaitu:
Ketergantungan (dependency)
Tak ada obat yang menjadikan ketergantungan fisik atau psikis secara langsung.
Bagaimanapun obat-obatan (narkoba) akan memberi dampak/akibat, yang dapat
terjadi di semua tahap pemakaian, mulai dari coba-coba sampai ketergantungan.
Semua obat dapat menjadi masalah bila dipakai berlebihan atau tidak menurut
aturannya. Kenyataannya semua obat akan menjadi “adiksi” oleh karena seseorang
akan menjadi tergantung secara fisik maupun psikis terhadap obat tersebut. Sulit
memisahkan antara keduanya karena saling berhubungan. Obat dapat menjadikan
sehat dan dapat pula menjadikan masalah pada seseorang oleh karena itu perlu
perhatian terhadapnya. Ketergantungan pada seseorang dapat terjadi secara psikis
dan fisik atau keduanya:
Gejala Putus Obat
Gejala putus obat akan terjadi pada seseorang yang sudah tergantung pada obat
tertentu kemudian dihentikan atau dikurangi dosis pemakaianya. Seseorang bila
mengalami gejala putus obat ini akan merasa sakit, perasaan tidak enak, rasa nyeri
di tubuh dan perasaan ketagihan.
Pengaruh Narkoba

91
Sulit untuk memprediksi bagaimana obat mempengaruhi seseorang. Efeknya selalu
berhubungan dengan jenis/klasifikasi narkoba, berapa banyak dosis obat yang
digunakan, kualitas dari narkoba, seberapa sering menggunakannya, seberapa
tinggi konsentrasi obat, bagaimana cara menggunakannya, sifat/mood dari
pengguna, efek yang diharapkan oleh pengguna, suasana hati seseorang ketika
menggunakan.
Cara penggunaan obat
Ada bermacam-macam cara atau metoda pemakaian obat ini meliputi : ditelan,
dimakan, dihisap, disuntik, dihirup melalui hidung (untuk obat yang berupa bubuk),
disedot melalui hidung (untuk obat yang berupa gas), ditempel dikulit, dioles pada
kulit. Penggunaan melalui penyuntikan dan penghirupan berpengaruh sangat cepat
sesuai dengan aliran darah ke otak. Pengguna biasanya memilih cara/metoda yang
tercepat meskipun kadang-kadang cara yang digunakannya sendiri tidak tepat atau
berbahaya. Cara penyuntikan mempunyai risiko yang berbahaya, terutama pada
pemakaian jarum yang dipakai bergantian. Penyakit yang penyebarannya melalui
darah seperti Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV/AIDS menular dengan cepat oleh
karena perilaku “pengguna” yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.
Karakteristik fisik pengguna
Proporsi lemak tubuh, metabolisme basal dan siklus haid semuanya berpengaruh
pada kekuatan obat dan lamanya efek obat pada tubuh. Tinggi badan, berat badan
dan jenis kelamin juga mempengaruhi kekuatan obat serta efek obatSuasana hati
(mood) pengguna Perasaan si pengguna ketika memakai obat-obatan akan
mempengaruhi efek obat-obatan (narkoba). Di bawah pengaruh alkohol seseorang
dapat merasa gembira, dapat menjadi gelisah, pada orang lain ada yang
mengalami kesedihan yang sangat. Sebagian besar efeknya tergantung perasaan
semula atau sebelum menggunakan obat.

Bagaimana Penularan HIv melalui Penggunaan Obat dan Suntikan


Penyebaran HIV dan AIDS melalui jarum suntik yang terkontaminasi dengan
HIV diantara pengguna narkoba/heroin dapat berkembang sangat cepat. Darah dari
seorang pengguna narkoba yang terinfeksi HIV dapat tertular kepada pengguna
narkoba yang belum terinfeksi HIV melalui suntikan. Jarum dan tabung suntikan
merupakan alat suntik utama bagi pengguna narkoba dalam penularan HIV
diantara para penyuntik narkoba. Penggunaan jarum suntik bergantian menjadi
penyebab tertularnya darah yang terinfeksi HIV. Walaupun darah yang terinfeksi
HIV yang sangat sedikit masih tertinggal dalam jarum suntik dapat ditularkan
kepada pemakai berikutnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, populasi terbesar

92
yang terkena HIV adalah remaja Mereka yang menggunakan narkoba dengan
alat suntik yang bergantian berisikoi tinggi terkena HIV.
Penularan HIV diantara IDU terhadap pasangan seks, penggunaan jarum
suntik bergantian merupakan faktor terbesar penyebab penyebaran HIV. Darah
yang telah terinfeksi dapat dihisap ke dalam tabung suntikan kemudian disuntikkan
kembali bersama narkoba oleh pemakai jarum suntik berikutnya. Ini adalah cara
penularan HIV yang paling mudah, karena darah yang terinfeksi akan pindah
langsung ke dalam aliran darah orang lain. Pemakaian jarum suntik yang silih
berganti menyebabkan infeksi HIV diantara IDU terus berlangsung. Penularan
HIV diantara IDU paling banyak disebut di negara-negara produsen obat/narkoba
dan negara-negara transit/persinggahan di wilayah Asia Tenggara. Angka kasus
HIV diantara para IDU telah mencapai 60 – 90 persen dari cara penularan lainnya
dalam kurun waktu antara satu tahun sejak pemunculan kasus pertama. Karena
penularan HIV diantara pada IDU dapat menjadi sangat cepat, pendekatan untuk
interfensi dan menghalangi penyebaran infeksi HIV perlu dikembangkan di berbagai
negara. Semua program tersebut bertujuan untuk mengubah perilaku dan karena
itu akan mengurangi risikoi infeksi HIV diantara para IDU

Penanggulangan Masalah NAPZA


Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan mulai dari pencegahan, pengobatan
sampai pemulihan (rehabilitasi).
Pencegahan
a) Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA
b) Deteksi dini perubahan perilaku
c) Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau “Katakan tidak
pada narkoba”.
Pengobatan Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan
detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan
gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a) Detoksifikasi tanpa subsitusi : Klien ketergantungan putau (heroin) yang
berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut; Klien hanya dibiarkan saja
sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
b) Detoksifikasi dengan substitusi: Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan
memberikan jenisopiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon.
- Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis
anti ansietas, misalnya diazepam.

93
- Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara
bertahap sampai berhenti sama sekali. \
- Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang
menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri,
rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan
akibat putus zat tersebut.
Rehabilitasi – Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan
terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna
NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan
fungsional seoptimal mungkin. – Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien
baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. – Sarana rehabilitasi yang disediakan harus
memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes, 2001). – Sesudah
klien penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA menjalani program terapi
(detoksifikasi) dan konsultasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan
program pemantapan (pascadetoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang
bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari,
2003).
Dengan rehabilitasi diharapkan penggunaNAPZA dapat:
1. Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi
2. Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA
3. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya
4. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik
5. Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
6. Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan
dengan lingkungannya.

Jenis Rehabilitasi:
a) Rehabilitasi psikososial → merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat
(reentry program).
b) Rehabilitasi kejiwaan → klien yang berperilaku maladaptif berubah menjadi
adaptif yang penting adalah psikoterapi baik secara individual maupun secara
kelompok. Yang termasuk rehabilitasi kejiwaan ini adalah psikoterapi/konsultasi
keluarga terutama keluarga broken home.
c) Rehabilitasi komunitas → berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka
yang tinggal dalam satu tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang
dinyatakan memenuhi syarat sebagai konselor, setelah mengikuti pendidikan
dan pelatihan. Di sini klien dilatih keterampilan mengelola waktu dan

94
perilakunya secara efektif dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat
mengatasi keinginan mengunakan narkoba lagi atau nagih (craving) dan
mencegah relaps..
d) Rehabilitasi keagamaan → rehabilitasi keagamaan dapat menumbuhkan
kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang apabila taat dan rajin
menjalankan ibadah, risiko kekambuhan hanya 6,83%; bila kadang-kadang
beribadah risiko kekambuhan 21,50%, dan apabila tidak sama sekali
menjalankan ibadah agama risiko kekambuhan mencapai 71,6%.

B. Askep pada pasien dengan penyalahgunaan Napza


Pengkajian
Prinsip pengkajian yang dilakukan dapat menggunakan format pengkajian di ruang
psikiatri atau sesuai dengan pedoman yang ada di masing-masing ruangan
tergantung pada kebijaksanaan rumah sakit dan format pengkajian yang tersedia.
Adapun pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Perilaku
b. Faktor penyebab dan faktor pencetus
c. Mekanisme koping yang digunakan oleh penyalahguna zat meliputi:
penyangkalan (denial) terhadap masalah, rasionalisasi memproyeksikan
tanggung jawab terhadap perilakunya, mengurangi jumlah alkohol atau obat
yang dipakainya ·Sumber-sumber koping (support system) yang digunakan
oleh klien.

Diagnose Keperawatan
Diagnosa keperawatan di ruang detoksifikasi bisa berulang di ruang rehabilitasi
karena timbul masalah yang sama saat dirawat di ruang rehabilitasi. Salah satu
penyebab muncul masalah yang sama adalah kurangnya motivasi klien untuk tidak
melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hal lain yang juga berperan
timbulnya masalah pada klien adalah kurangnya dukungan keluarga dalam
membantu mengurangi penyalahgunaan dan penggunaan zat. Masalah
keperawatan yang sering terjadi di ruang detoksifikasi adalah selain masalah
keperawatan yang berkaitan dengan fisik juga masalah keperawatan seperti: Risiko
terjadinya perubahan proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam merawat anggota keluarga pengguna NAPZA
Intervensi Keperawatan

95
Risiko terjadinya perubahan proses keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam merawat anggota keluarga terutama anggota keluarga pengguna
NAPZA
Tujuan khusus
Keluarga mampu mengenal dengan baik anggota keluarga pengguna NAPZA.
Intervensi :
- Bersama keluarga diskusikan tentang criteria remaja pengguna NAPZA.
- Latih keluarga mengenali remaja pengguna NAPZA.
- Motivasi keluarga untuk selalu mengenali remaja pengguna NAPZA.
- Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.
- Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.
- Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi. Keluarga mampu
mengambil keputusan terhadap remaja pengguna NAPZA.
Intervensi :
1. Bersama keluarga diskusikan tentang akibat dari remaja pengguna NAPZA
2. Latih keluarga mengenali akibat dari remaja pengguna NAPZA.
3. Motivasi keluarga untuk selalu mengenali akibat remaja pengguna NAPZA.
4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.
5. Evaluasi kembali hal-halyang sudah didiskusikan.
6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi. Keluarga mampu
merawat keluarga dengan remaja pengguna NAPZA.
Intervensi :
1. Bersama keluarga diskusikan tentang cara mencegah dan merawat remaja
pengguna NAPZA.
2. Latih keluarga cara mencegah dan merawat remaja pengguna NAPZA.
3. Motivasi keluarga untuk selalu mencegah dan merawat remaja pengguna
NAPZA.
4. Berikan kesempatan bertanya hal yang belum mengerti.
5. Evaluasi kembali hal-hal yang sudah didiskusikan.
6. Berikan pujian atas keberhasilan keluarga selama interaksi. Keluarga mampu
memodifikasi remaja pengguna NAPZA.

Evalusai
Evaluasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat tergantung pada penanganan
yang dilakukan perawat terhadap klien dengan mengacu kepada tujuan khusus yang
ingin dicapai. Sebaiknya perawat dan klien bersama-sama melakukan evaluasi
terhadap keberhasilan yang telah dicapai dan tindak lanjut yang diharapkan untuk

96
dilakukan selanjutnya. Jika penanganan yang dilakukan tidak berhasil maka perlu
dilakukan evaluasi kembali terhadap tujuan yang dicapai dan prioritas penyelesaian
masalah apakah sudah sesuai dengan kebutuhan klien. Klien relaps tidak bisa
disamakan dengan klien yang mengalami kegagalan pada sistem tubuh. Tujuan
penanganan pada klien relaps adalah meningkatkan kemampuan untuk hidup lebih
lama bebas dari penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Perlunya evaluasi yang
dilakukan disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, akan lebih baik perawat
bersama-sama klien dalam menentukan tujuan ke arah perencanaan pencegahan
relaps.

97
TOPIK 11
PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, TERSIER KLIEN DENGAN HIV/AIDS DAN
PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, TERSIER KLINE DENGAN PENYALAHGUNAAN
NAPZA

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 11 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
pencegahan primer, sekunder dan tertier.
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 11, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Pencegahan primer, sekunder dan tertier.

HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh
seseorang dan menyebabkan tubuh menjadi lemah. Seseorang yang menderita HIV tidak
selalu berarti dia juga menderita Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Perlu
bertahun-tahun untuk pengidap virus ini dapat berkembang menjadi AIDS. HIV/AIDS tidak
bisa disembuhkan. Namun, dengan obat yang tersedia saat ini seperti obat antiretroviral,
sangat mungkin untuk seseorang yang mengidap penyakit ini memiliki hidup normal dengan
kualitas hidup optimal.

Cara Penularan HIV/AIDS


1. Lewat cairan darah
Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian jarum
suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, melalui
pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya: penyuntikan
obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato,
dan alat facial wajah.
2. Lewat cairan sperma dan cairan vagina
Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa
menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan
cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) atau tercampurnya cairan sperma
dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.
3. Lewat air susu ibu

98
Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan
lewat vagina kemudian menyusui bayinya dengan ASI.

Pencegahan HIV/AIDS
1) Primer
Pencegahan primer dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal ini diberikan
pada seseorang yang sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini tidak bersifat
terapeutik, tidak menggunakan tindakan yang terapeutik dan tidak menggunakan
identifikasi gejala penyakit. Pencegahan ini meliputi dua hal, yaitu: Peningkatan
kesehatan, misalnya: dengan pendidikan kesehatan reproduksi tentang HIV/AIDS,
standarisasi nutrisi, menghindari seks bebas screening, dan sebagainya.
Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi, kebersihan pribadi, atau pemakaian
kondom.
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau
mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang
paling penting, terutama dalam merubah perilaku.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah upaya pencegahan AIDS
adalah dengan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi), yaitu memberikan informasi
kepada kelompok risiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS (HIV),
sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya. Ada 3 pola penyebaran
virus HIV, yakni :
1. Melalui hubungan seksual.
HIV dapat menyebar melalui hubungan seks pria ke wanita, wanita ke pria
maupun pria ke pria. Hubungan melalui seks ini dapat tertular melalui cairan tubuh
penderita HIV yakni cairan mani, cairan vagina dan darah. Upaya pencegahannya
adalah dengan cara, tidak melakukan hubungan seksual bagi orang yang belum
menikah, dan melakukan hubungan seks hanya dengan satu pasangan saja yang
setia dan tidak terinfeksi HIV atau tidak berganti-ganti pasangan. Juga
mengurangi jumlah pasangan seks sesedikit mungkin. Hindari hubungan seksual
dengan kelompok resiko tinggi menular AIDS serta menggunakan kondom pada
saat melakukan hubungan seksual dengan kelompok risiko tinggi tertular AIDS
dan pengidap HIV.
2. Melalui darah.
Penularan AIDS melalui darah terjadi dengan cara transfusi yang mengandung
HIV, penggunaan jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, tindik)

99
bekas digunakan orang yang mengidap HIV tanpa disterilkan dengan baik. Juga
penggunaan pisau cukur, gunting kuku, atau sikat gigi bekas pakai orang yang
mengidap virus HIV.Upaya pencegahannya dengan cara, darah yang digunakan
untuk transfusi diusahakan terbebas dari HIV dengan memeriksa darah donor.
Pencegahan penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan
skrining adanya antibodi HIV, demikian pula semua organ yang akan didonorkan,
serta menghindari transfusi, suntikan, jahitan dan tindakan invasif lainnya yang
kurang perlu. Upaya lainnya adalah mensterilisasikan alat-alat (jarum suntik,
maupun alat tusuk lainnya) yang telah digunakan, serta mensterilisasikan alat-alat
yang tercemar oleh cairan tubuh penderita AIDS. Kelompok penyalahgunaan
narkotika harus menghentikan kebiasaan penyuntikan obat ke dalam badannya
serta menghentikan kebiasaan menggunakan jarum suntik bersamaan. Gunakan
jarum suntik sekali pakai (disposable).
3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.
Penularan dapat terjadi pada waktu bayi masih berada dalam kandungan, pada
waktu persalinan dan sesudah bayi dilahirkan serta pada saat menyusui. ASI juga
dapat menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah terinfeksi pada saat mengandung
maka ada kemungkinan bayi yang dilahirkan sudah terinfeksi HIV. Maka
dianjurkan agar seorang ibu tetap menyusui anaknya sekalipun HIV. Bayi yang
tidak diberikan ASI berisiko lebih besar tertular penyakit lain atau menjadi kurang
gizi. Bila ibu yang menderita HIV tersebut mendapat pengobatan selama hamil
maka dapat mengurangi penularan kepada bayinya sebesar 2/3 daripada yang
tidak mendapat pengobatan. WHO mencanangkan empat strategi untuk
mencegah penularan vertikal dari ibu kepada anak yaitu dengan cara mencegah
jangan sampai wanita terinfeksi HIV/AIDS, apabila sudah terinfeksi HIV/AIDS
mengusahakan supaya tidak terjadi kehamilan, bila sudah hamil dilakukan
pencegahan supaya tidak menular dari ibu kepada bayinya dan bila sudah
terinfeksi diberikan dukungan serta perawatan bagi ODHA dan keluarganya.

2) Sekunder
Pencegahan sekunder berfokus pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) agar tidak
mengalami komplikasi atau kondisi yang lebih buruk. Pencegahan ini dilakukan
melalui pembuatan diagnosa dan pemberian intervensi yang tepat sehingga dapat
mengurangi keparahan kondisi dan memungkinkan ODHA tetap bertahan melawan
penyakitnya. Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan
penyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukan dengan menghindarkan atau menunda

100
keparahan akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit atau meminimalkan
potensi tertularnya penyakit lain.

Pencegahan Sekunder
Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga
muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yang efektif.
sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam tiga kelompok sebagai berikut :
1. Pengobatan suportif yaitu pengobatan untuk meningkatkan keadaan umum
penderita. Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat
simptomatik dan pemberian vitamin.
2. Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi
berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. 28
Jenis-jenis mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder adalah protozoa
(Pneumocystis carinii, Toxoplasma, dan Cryptotosporidium), jamur
(Kandidiasis), virus (Herpes, cytomegalovirus/CMV, Papovirus) dan bakteri
(Mycobacterium TBC, Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus, dll).
Penanganan terhadap infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis
mikroorganisme penyebabnya dan diberikan terus-menerus.
3. Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV bekerja langsung menghambat enzim
reverse transcriptase atau menghambat kinerja enzim protease. Pengobatan
ARV terbukti bermanfaat memperbaiki kualitas hidup, menjadikan infeksi
opurtunistik Universitas Sumatera Utara menjadi jarang dan lebih mudah
diatasi sehingga menekan morbiditas dan mortalitas dini, tetapi ARV belum
dapat menyembuhkan pasien HIV/AIDS ataupun membunuh HIV

3) Tersier
Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi HIV/AIDS
dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan.
Pencegahan ini terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan
melalui intervensi yang bertujuan mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan.
Kegiatan pencegahan tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada
pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan
untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan
keterbatasan yang ada akibat HIV/AIDS. Tingkat perawatan ini bisa disebut juga
perawatan preventive, karena di dalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap
kerusakan atau penurunan fungsi lebih jauh. Misalnya, dalam merawat seseorang

101
yang terkena HIV/AIDS, disamping memaksimalkan aktivitas ODHA dalam aktivitas
sehari-hari di masyarakat, juga mencegah terjadinya penularan penyakit lain ke
dalam penderita HIV/AIDS. Mengingat seseorang yang terkena HIV/AIDS mengalami
penurunan imunitas dan sangat rentan tertular penyakit lain.
Selain hal-hal tersebut, pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan
penularan infeksi HIV/AIDS adalah penyuluhan untuk mempertahankan perilaku
tidak beresiko. Hal ini bisa dengan menggunakan prinsip ABCDE yang telah
dibakukan secara internasional sebagai cara efektif mencegah infeksi HIV/AIDS
lewat hubungan seksual. ABCDE ini meliputi:
- A = abstinensia, tidak melakukan hubungan seks terutama seks berisiko
tinggi dan seks pranikah.
- B = be faithful, bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan atau
hubungan tetap.
- C = condom, cegah penularan HIV dengan memakai kondom secara benar
dan konsisten untuk para penjaja seksual.
- D = drugs, hindari pemakaian narkoba suntik.
- E = equipment , jangan memakai alat suntik bergantian.

Upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS dapat dilakukan dengan menyediakan


Rumah Sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasien penderita HIV/AIDS dan
dijaga sedemikian rupa sehingga penularan kepada yang sehat dapat dicegah serta
melakukan pemantauan secara terus menerus untuk melihat perkembangan
masalah AIDS agar masalah AIDS ini dapat ditangani dengan baik.
ada dasarnya upaya pencegahan AIDS dapat dilakukan oleh semua pihak asal
mengetahui cara-cara penyebaran AIDS. Terdapat 3 cara pencegahan HIV AIDS
yaitu :
Pencegahan Tersier
ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat
melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin. Misalnya :
1. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan
mengungkapkan perasaannya.
2. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau
mengenang masa lalu yang indah.
3. Menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya.
4. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat
mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.

102
5. Selain itu perlu diberikan perawatan paliatif (bagi pasien yang tidak dapat
disembuhkan atau sedang dalam tahap terminal) yang mencakup,
pemberian kenyamanan (seperti relaksasi dan distraksi, menjaga pasien
tetap bersih dan kering, memberi toleransi maksimal terhadap permintaan
pasien atau keluarga), pengelolaan nyeri (bisa dilakukan dengan teknik
relaksasi, pemijatan, distraksi, meditasi, maupun pengobatan antinyeri),
persiapan menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai tentang
keadaan penderita, dan bantuan mempersiapkan pemakaman.

103
TOPIK 12
TELAAH JURNAL, TREND DAN ISSUE HIV/AIDS, FAMILY CENTERED PADA ODHA
DAN PENYALAHGUNANN NAPZA

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Karawang mengungkap bahwa ada ada tren baru untuk
kasus HIV/AIDS pada tahun 2017 jika dilihat dari pekerjaannya.

Yakni, mereka yang terjangit virus ini mayoritas berasal dari ibu rumah tangga. Total, ada 18
kasus. Sementara di tahun sebelumnya, pekerjaan yang rentan terkena penyakit menular itu
adalah karyawan.

“Kasus HIV/AIDS bukan hanya menjadi permasalahan pada ranah kesehatan saja, hal ini
sudah menjadi permasalahan sosial karena hampir disemua wilayah berpotensi sebagai
penyebaran virus berbahaya itu,” kata Staf KPA Karawang, Awan Gunawan, dilansir RMol
Jabar (Jawa Pos Grup), kemarin (16/8).

Dikatakan juga, dari temuan – temuan tersebut jika tidak segera dilakukan upaya
penanggulangan dan pencegahan terhadap perkembangan HIV/AIDS, maka kedepannya
diperkirakan akan mempercepat proses penyebaran dengan perbandingan 1:100 orang.

Artinya dari 727 orang yang terinfeksi maka akan berkembang menjadi 72.700 orang
berpotensi untuk terinfeksi.

“Jika dikaitkan dengan para WPS maka 1 orang WPS dalam 1 malam rata-rata melayani
tamunya 5 orang dikali 30 hari sama dengan 150 orang dan 50 persen nya pria beristri (75
Orang). Dari 75 orang pria beristri ini 25 orang istrinya hamil dapat dibayangkan berapa
jumlah percepatan pertambahan penyebaran virus HIV/AIDS ini di Kabupaten Karawang,”
tandasnya

104
TOPIK 13
MANAJEMEN KASUS PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS MANAJEMEN KASUS
PADA KLIEN DENGAN PENYALAHGUNAAN NAPZA

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari materi topik 13 ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
manajemen kasus HIV/AIDS dan penyalahgunaan Napza
2. Tujuan khsusus
Untuk mencapai kompetensi umum seperti yang diuraikan pada topik 13, mahasiswa
diharapkan dapat :
a. Manajemen kasus pada klien HIV/AIDS
b. Manajemen kasus pada penyalahgunaan Napza

Manajemen Kasus
Pengertian
Manajemen kasus adalah pelayanan yang diberikan pada klien yang rentan agar mereka
memperoleh bantuan yang dibutuhkan dalam sistem pemberian pelayanan yang
terfragmentasi di Amerika. Frankel dan Gelnan (1988) mengatakan bahwa “ tujuannya
adalah akses pelayanan dan koordinasi”, yang berkaitan dengan bantuan berbasis
masyarakat untuk memampukan orang-orang menjalani kehidupannya dalam ingkungan
biasa dan bukan Lembaga. Klien-klien renatn ini, termasuk yang menderita gangguan
kejiwaan, orang lanjut usia terlantar, dan penyandang cacat mempunyai kebutuhan yang
beraneka ragam yang terus membutuhkan perawatan. Dalam mencapai tujuannya,
manajemen kasus menggabungkan aspek-aspek praktik individu dan komunitas.

Manajemen kasus HIV/AIDS


Adalah suatu layanan yang mengaitkan dan mengkoordinasikan bantuan dari institusi dan
Lembaga yang memberikan dukungan medis, psikososial dan praktis bagi individu ysng
membutuhkan.
Definisi lain menyebutkan bahwa manajemen kasus adalah proses pengelolaan Tindakan
kasus yang meliputi assessment, perencanaan, pelaksanaan pelayanan, pemantauan atau
monitoring dan evaluasi untuk menangani masalah secara sistematis dengan berkoordinasi
dan melibatkan sumber-sumber yang dibutuhkan.
Manajemen kasus merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang
ditujukan untuk menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat
memperoleh sermua pelayanan yang dibtuhkannya secara tepat. Manajemen kasus

105
merupakan kegiatan yang memiliki prosedur untuk mengkoordinasi seluruh aktivitas
pertolongan yang diberikan kepada klien secara perorangan maupun kelompok. Koordinasi
disini dilakukan secara professional teamwork yaitu antara pekerja sosial satu dengan yang
lainnya atau dengan profesi lain. Sehingga upayanya dapat diperluas terhadap peningkatan
pelayanan sesuai kebutuhan klien.

Barker menjelaskan manajemen kasus adalah :


A process to plan, seek, advocate for, and monitor services from different social services or
health care organizations and staff in behalf of a client. The process organizations, to
coordinate their efforts to serve a given client through professional teamwok, thus expanding
the range of needed services offered. Case management limits problems arising from
fragmentation of services, staff turnover, and inadequate coordination among providers.
Case management can occur within a single. Large organization or within a community

Sebuah proses untuk merencanakan mencari, advokasi, dan memonitor layanan dari
layanan sosial yang berbeda atau organisasi perawatan Kesehatan dan staff atas nama
klien. Proses ini memungkinkan pekerja sosial dalam sebuah organisasi atau dalam
organisasi-organisasi yang berbeda, untuk mengkoordinasikan usaha-usaha mereka untuk
melayani klien yang diberikan melalui kerja sam tim prod=fesional, sehingga memperluas
cakupan layanan-layanan yang diperlukan. Manjemen kasus membatasi permasalahan-
permasalahan yang timbul dari fragmentasi layanan, pergantian staf, dan koordinasi yang
tidak memadai antar penyedia.. manajemen kasus dapat terjadi dalam satu organisasi
besar atau dalam program komunitas yang mengkoordinasikan layanan-layanan antar latar
pelayanan.

Dari beberap pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa manajeemen kasus adalah
orang atau tim yang dirancang utnuk mengorganisasi, melakukan koordinasi dan membuat
suatu jaringan kerja yang berkelanjutan dari diukungan yang bersifat formal dan informal
dan merancang kegiatan utnuk mengoptimalkan fungsi dan kesejahteraan dari orang-orang
dengan kebutuhan yang beragam.

106
TOPIK 14
PRINSIP KOMUNIKASI KONSELING PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS DAN
PENYALAHGUNAAN NAPZA

Tujuan Pembelajaran dan Pokok Materi Pembelajaran


1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari topik 14 ini diharapkan dapat menjelaskan materi tentang prinsip
komunikasi konselling pada klien dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan Napza
2. Tujuan Khusus
Untuk mencapai materi yang diuraikan toik 14 ini diharapkan mahasiswa dapat :
a. Prinsip Komunikasi pada klien HIV/AIDS
b. Prinsip komunikasi pada penyalahgunaan Napza

A. Prinsip Komunikasi Konselling pada Klien dengan HIV/AIDS


Konseling dan tes HIV harus mengikuti prinsip yang telah disepakati secara global
yaitu 5 komponen dasar yang disebut 5C (informed consent; confidentiality;
counseling; correct test results; connections to care, treatment and prevention
services). Prinsip 5C tersebut harus diterapkan pada semua model layanan
Konseling dan Tes HIV.
f) Informed Consent, adalah persetujuan akan suatu tindakan pemeriksaan
laboratorium HIV yang diberikan oleh pasien/klien atau wali/pengampu setelah
mendapatkan dan memahami penjelasan yang diberikan secara lengkap oleh
petugas kesehatan tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien/klien tersebut.
g) Confidentiality, adalah Semua isi informasi atau konseling antara klien dan
petugas pemeriksa atau konselor dan hasil tes laboratoriumnya tidak akan
diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan pasien/klien. Konfidensialitas
dapat dibagikan kepada pemberi layanan kesehatan yang akan menangani
pasien untuk kepentingan layanan kesehatan sesuai indikasi penyakit pasien.
h) Counselling, yaitu proses dialog antara konselor dengan klien bertujuan untuk
memberikan informasi yang jelas dan dapat dimengerti klien atau pasien.
Konselor memberikan informasi, waktu, perhatian dan keahliannya, untuk
membantu klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan melakukan
pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan. Layanan
konseling HIV harus dilengkapi dengan informasi HIV dan AIDS, konseling pra-
Konseling dan Tes pascates yang berkualitas baik.

107
i) Correct test results. Hasil tes harus akurat. Layanan tes HIV harus mengikuti
standar pemeriksaan HIV nasional yang berlaku. Hasil tes harus dikomunikasikan
sesegera mungkin kepada pasien/klien secara pribadi oleh tenaga kesehatan
yang memeriksa.
j) Connections to, care, treatment andprevention services. Pasien/klien harus
dihubungkan atau dirujuk ke layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan
pengobatan HIV yang didukung dengan sistem rujukan yang baik dan terpantau.

B. Konseling pada Klien dengan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza


Konseling dilakukan pada saat pra test dan post test HIV dimana dilakukan
dialog antara klien dan konselor yang bertujuan menyiapkan klien menjalani tes HIV
dan membantu klien memutuskan akan tes atau tidak (Kemenkes RI, 2013).
Konseling ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada individu terkait dengan
teknis tes tersebut dan implikasi dari hasil tes baik hasil positif maupun negatif.
Konseling Pra-tes dilaksanakan pada klien/pasien yang belum mantap atau
pasien yang menolak untuk menjalani tes HIV setelah diberikan informasi pra-tes
yang cukup. Dalam konseling pra-tes harus seimbang antara pemberian informasi,
penilaian risiko dan merespon kebutuhan emosi klien. Masalah emosi yang menonjol
adalah rasa takut melakukan tes HIV karena berbagai alasan termasuk
ketidaksiapan menerima hasil tes, perlakuan diskriminasi,stigmatisasi masyarakat
dan keluarga.
Saat memberikan konseling, informasi mengenai penyebaran dan
pencegahan HIV harus diberikan secara akurat, up to date dan mudah dipahami.
Sebaiknya jargon/bahasa medis tidak digunakan saat memberikan konseling.
Pemberian konseling yang berkualitas akan mempengaruhi penerimaan individu
terhadap hasil tes dan treatment yang dilakukan. Pemberian informasi dasar terkait
HIV bertujuan agar klien: Memahami cara pencegahan, penularan HIV, perilaku
berisiko,; Memahami pentingnya tes HIV; dan Mengurangi rasa khawatir dalam tes
HIV

Macam-macam Konseling Pra test HIV


Konseling pra test HIV terdiri dari:
c. Konseling dan tes HIV atas insiatif klien atau konseling dan tes HIV sukarela
(KTS)
adalah layanan tes HIV secara pasif. Pada layanan tersebut klien datang sendiri
untuk meminta dilakukan tes HIV atas berbagai alasan baik ke fasilitas kesehatan
atau layanan tes HIV berbasis komunitas. Layanan ini menekankan penilaian dan

108
pengelolaan risiko infeksi HIV dari klien yang dilakukan oleh seorang konselor,
membahas perihal keinginan klien untuk menjalani tes HIV dan strategi untuk
mengurangi risiko tertular HIV. KTS dilaksanakan di berbagai macam tatanan
seperti fasilitas layanan kesehatan, layanan KTS mandiri di luar institusi
kesehatan, layanan di komunitas, atau lainnya
d. Ruang lingkup konseling pra-tes pada KTS adalah:
 Alasan kunjungan, informasi dasar tentang HIV dan klarifikasi tentang fakta
dan mitos tentang HIV.
 Penilaian risiko untuk membantu klien memahami faktor risiko.
 Menyiapkan klien untuk pemeriksaan HIV.
 Memberikan pengetahuan tentang implikasi terinfeksi HIV dan memfasilitasi
diskusi cara menyesuaikan diri dengan status HIV.
 Melakukan penilaian sistem dukungan termasuk penilaian kondisi kejiwaan jika
diperlukan.
 Meminta informed consent sebelum dilakukan tes HIV.
 Menjelaskan pentingnya menyingkap status untuk kepentingan pencegahan,
pengobatan dan perawatan.

1. Tes HIV atas inisiatif pemberi layanan kesehatan dan konseling (TIPK)
yaitu tes HIV yang dianjurkan atau ditawarkan oleh petugas kesehatan kepada
pasien pengguna layanan kesehatan sebagai komponen standar layanan
kesehatan di fasilitas tersebut. Tujuan umum dari TIPK tersebut adalah untuk
melakukan diagnosis HIV secara lebih dini dan memfasilitasi pasien untuk
mendapatkan pengobatan lebih dini pula, juga untuk memfasilitasi
pengambilan keputusan klinis atau medis terkait pengobatan yang dibutuhkan
dan yang tidak mungkin diambil tanpa mengetahui status HIV nya. Konselor
perlu mengetahui latar belakang kedatangan klien untuk mengikuti konseling
HIV dan memfasilitasi kebutuhan agar proses tes HIV dapat memberikan
penguatan untuk menjalani hidup lebih sehat dan produktif.

2. Komponen-komponen konseling Pra Test HIV


Ada dua komponen utama pada konseling pra tes HIV, yaitu:
3) Pengkajian faktor resiko terhadap HIV:
- Frekuensi dan perilaku seksual (vaginal dan anal)
- Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom, atau
berhubungan seks

109
- tidak aman dengan PSK
- Beresiko tinggi terinfeksi HIV (pengguna obat intravena, PSK pria dan
- wanita serta pelanggannya, narapidana, pengungsi, pekerja migran,
pria
- homoseksual dan biseksual, pekerja kesehatan dimana universal
precaution
- tidak dikerjakan).
- Pernah menerima transfusi darah, dan transplantasi organ.
- Pernah terpapar prosedur invasive tidak steril seperti pembuatan tato
dan
- sirkumsisi
4) Pengkajian pemahaman
Beberapa pertanyaan berikut sebaiknya ditanyakan saat mengkaji
kenapa tes HIV perlu dilakukan.

3. Keuntungan dilakukan test konseling Pra test HIV


Konseling pra tes HIV membantu individu untuk dapat membuat pilihan.
Namun,
perlu diperhatikan bahwa individu yang tidak mau mendapatkan konseling pra
tes HIV
- Mengapa perlu dilakukan tes?
- Apakah ada perilaku tertentu sehingga perlu dilakukan tes?
- Apakah ada gejala tertentu yang muncul?
- Apakah individu tersebut mengetahui tes HIV dan kegunaannya?
- Bagaimana keyakinan dan pengetahuan individu tentang penyebaran
HIV dan hubungannya dengan
- perilaku beresiko?
- Adakah support emosional dan social, misalnya dari keluarga atau
sahabat?
- Bagaimana reaksi individu jika hasil tes positif atau negative?
Test HIV tidak boleh dipaksa. Keputusan untuk melalukan tes haruslah
merupakan keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang tepat, karena
itu seorang perawat harus dapat mampu menjelaskan keterbatasan dan
konsekuensi dari tes yang dilakukan. Konseling ini akan memberikan manfaat
sebagai berikut jika ternya hasil tes adalah positif HIV:

4. Persiapan Konseling test HIV

110
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan konseling pra tes
HIV, adalah sebagai berikut:
- Diskusikan tentang kerahasiaan dan informed consent untuk tes HIV
- Berikan pemahaman terhadap kebijakan pemerintah
- Jelaskan implikasi saat mengetahui seseorang terbukti positif HIV
- Eksplorasi implikasi pernikahan, kehamilan, keuangan, bekerja dan
stigma masyarakat
- Fasilitasi untuk berdiskusi mengenai koping saat mengetahui hasil tes
HIV
- Diskusikan tentang seksualitas
- Diskusikan dengan tepat tentang perilaku seksual dan penggunaan
obat-obatan yang beresiko
- Eksplorasi mekanisme koping emosional dan ketersediaan suport social
- Jelaskan bagaimana mencegah penyebaran HIV
- Koreksi mitos, misinformasi dan kesalahpahaman tentang HIV/AIDS

111
DAFTAR PUSTAKA
Nasronudin, HIV dan AIDS Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial, Airlangga
University Press, 1-9

Departemen Kesehatan RI, Ditjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan


Kemenkes RI, 2012

Kumar P, Clark M, HIV and AIDS in Clinical Medicine 7th Edt London, Elsevier, 2009, 184-
206

Fauzi et al, Harrison’ Principles of Internal Medicine, 17 edition, Mc Graw Hill Medical,
1079;1137-63

Abbas K Abul, Lictman H Andrew, Pillai Shiv, Cellular and Molecular Immunology, 457-85

Arif M, Triyanti K, Kapita selekta kedokteran, media aesculapius, 2001, 573-66

Sudoyo AW, Djoerban Z, Djauzi S, HIV/AIDS di Indonesia, Buku ajar Ilmu Penyakit dalam,
edisi V, 2009, 2861-4

Ratu G, Pakasi RDN, Hardjoeno, Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), Kumpulan


Penyakit Infeksi Dan Tes Kultur Sensitifitas Kuman Serta Upaya Pengendalian,
2007,79-99.

Efstathiou G, Papastavrou E, Raftopolos, V, Merkouris A. Factors influencing nurses’


compliance with Standard Precautions in order to avoid occupational exposure to
microorganisms: A focus group study. BMC Nurs.pdf/10.1186/1472-6955-10.

Chippindale,S & French, L, 2001, ABC of AIDS: HIV counselling and the psychosocial
management of patients with HIV or AIDS, British Medical Journal, vol. 322,no. 23, pp.
1533-1535.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman Nasional Tes dan Konseling
HIV dan AIDS

112
Sawitri, AA, Sumantera, GM, Wirawan, DN, Ford, K, & Lehman, E, 2006, “HIV testing
experience of drug users in Bali, Indonesia”, AIDS Care, vol. 18, no. 6: pp. 577-588

113
114