Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ASKEP KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

“MELAKUKAN SIMULASI ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PADA


GANGGUAN KONSEP DIRI “

Disusun oleh kelompok 1:

Elsi Oktavia NIM : 131911003

Muhammad Haritsah NIM: 1319110

Putri Aprilicia NIM : 131911009

Sondang Vincensia Nainggolan NIM : 131911020

Dosen pembimbing :

Safra Ria Kurniawati, S. Kep, NS, M. Kep

PRODI SARJANA ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH


TANJUNGPINANG

T.A.2021
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan
kita kesehatan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini dengan judul
“Melakukan Simulasi Asuhan Keperawatan Klien Pada Gangguan Konsep Diri”.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Kesehatan
Jiwa. Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyusun makalah ini. Penyusun juga berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan
dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan makalah pada tugas
yang lain dan pada waktu mendatang.

Tanjungpinang, 11 Juli 2021

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang....................................................................................................
B. Rumusan Masalah...............................................................................................
C. Tujuan.................................................................................................................

BAB II. PEMBAHASAN

A. .............................................................................................................................
B. .............................................................................................................................
C. .............................................................................................................................
D. .............................................................................................................................
E. .............................................................................................................................
F. .............................................................................................................................

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian...........................................................................................................
B. Diagnosa keperawatan........................................................................................
C. Intervensi keperawatan.......................................................................................

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan.........................................................................................................
B. Saran...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Konsep diri adalah konseptualisasi individu terhadap dirinya sendiri. Konsep diri secara
langsung mempengaruhi harga diri dan perasaan seseorang tentang dirinya sendiri.
Konsep diri dibangun pada saat seseorang dapat berpikir dan mengenali hal-hal yang
dapat mempengaruhinya, dimulai pada saat remaja hingga usia tua. Data menunjukkan
bahwa cara berpikir secara negatif sangat mempengaruhi pada masa usia lanjut karena
intensitas emosional dan perubahan fisik berhubungan dengan penuaan. (Potter & Perry,
2010).

Individu dengan konsep diri yang positif mampu lebih baik membentuk,
mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan diri sendiri (interpersonal),
melawan penyakit psikologis dan fisik. Individu yang memiliki konsep diri yang kuat
mempunyai kemampuan sangat baik untuk menerima sesuatu atau beradaptasi dengan
perubahan yang terjadi selama hidupnya baik itu menyangkut dirinya sendiri atau dengan
orang lain. Namun apabila terjadi ketidakseimbangan diantara hal tersebut maka akan
terjadi gangguan konsep diri.

Gangguan konsep diri merupakan suatu kondisi dimana individu mengalami atau berisiko
mengalami kondisi perubahan perasaan pikiran atau pandangan dirinya sendiri yang
negatif (Carpenito, 2001). Gangguan konsep diri merupakan salah satu bentuk masalah
kejiwaan yang sering terjadi. Gangguan konsep diri meliputi gangguan pada: gambaran
diri, ideal diri, penampilan peran, identitas diri dan harga diri.

Menurut WHO melaporkan bahwa angka kejadian gangguan konsep diri mencapai 0,1-
0,5 setiap tahun sedangkan di indonesia sendiri mencapai 1 % atau sekitar 2 juta jiwa
(Noris dan Connel, 1985). Gangguan konsep diri banyak ditemukan pada saat sudah
masuk ketahap yang lebih lanjut seperti prilaku kekerasan akibat menarik dirinya dan
berbagai masalah lainnya. Gangguan konsep diri terbanyak yang disebabkan karena
tindakan criminal seperti pemerkosaan dan yang lainnya karena dukungan keluarga yang
kurang, kehilangan seseorang kecacatan anggota tubuh.

Menurut World Health Organitation (WHO) 2009, prevalensi masalah kesehatan jiwa
saat ini cukup tinggi, 25% dari penduduk dunia pernah menderita masalah kesehatan
jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan jiwa berat, potensi seseorang mudah terserang
gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang di seluruh dunia terkena
dampak permasalahan jiwa, saraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat
Menurut sekretaris jendral departemen kesehatan (Sekjen Depkes), H. Syafii Ahmad,
kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara
termasuk indonesia.

Menurut data dari departemen kesehatan orang yang mengalami gangguan masalah
kejiwaan yang didalamnya termaksud orang-orang yang mengalami gangguan konsep
diri yaitu sebesar 2,5 juta jiwa, yang diambil dari data rsj se-indonesia (Diktorat Bina
Pelayanan Keperawatan dan Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, 2007).
Acuhkan namun perlu intervensi yang tepat dalam menunjang kesembuhannya. Individu
yang mempunyai konsep diri yang buruk mungkin mengekspresikan perasaan tidak
berharga, tidak menyukai dirinya sendiri atau bahkan membenci dirinya sendiri yang
mungkin diarahkan pada orang lain. Dalam hal ini diperlukan dukungan sosial keluarga
yang adekuat agar klien memiliki kepercayaan diri yang utuh kembali.

Dengan demikian perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dalam menghadapi klien
dengan gangguan konsep diri mampu memberikan fungsi suportif berupa dukungan
informasional, dukungan penilaian, dukungan fisik dan dukungan emosional termasuk
psikis kepada klien dan dapat menyertakan keluarga dalam rencana perawatan klien,
membantu keluarga berprilaku terupetik yang dapat menolong pemecahan masalah klien,
dan memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan masalah kesehatan
jiwa, sehingga masalah kesehatan jiwa khususnya gangguan konsep diri dapat teratasi
dan dicegah.

B. Rumusan permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan definisi konsep diri?
2. Apa yang dimaksud dengan dimensi konsep diri?
3. Apa yang dimaksud dengan perkembangan konsep diri?
4. Apa saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep diri?
5. Bagaimanakah rentang respon konsep diri?
6. Apa saja penyebab gangguan konsep diri?
7. Apa saja pembagian dari konsep diri?
C. Tujuan
1. Menjelaskan definisi konsep diri.
2. Menjelaskan dimensi konsep diri.
3. Menjelaskan perkembangan konsep diri.
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri.
5. Menjelaskan rentang respon konsep diri.
6. Menjelaskan penyebab gangguan konsep diri.
7. Menjelaskan pembagian konsep diri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi konsep diri


Konsep diri adalah pengetahuan individu tentang diri. Konsep diri adalah citra
subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi
bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memerikan kita kerangka acuan yang
mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain.
(Potter & Perry, 2005)

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain. (Stuart and Sudeen, 1998).

Konsep diri adalah merefleksikan pengalaman interaksi sosial, sensasinya juga


didasarkan bagaimana orang lain memandangnya. Konsep diri sebagai cara
memandang individu terhadap diri secara utuh baik fisik, emosi, intelektual, sosial
dan spiritual. Penting diingat bahwa konsep diri ini bukan pandangan orang lain pada
kita melainkan pandangan kita sendiri atas diri kita yang diukur dengan standar
penilaian orang lain. (Muhith, 2015)

Dalam menggambarkan kepribadian tentunya kepekaan setiap individu bisa berbeda


dalam menangkap pandangan orang lain. Adanya perbedaan tingkat stabilitas dalam
mempertahankan suatu jenis perasaan diri tertentu dalam menghadapi reaksi orang
lain yang bertentangan. Perbedaan dalam intensitas dan seringnya dukungan sosial
yang dibutuhkan untuk mempertahankan perasaan diri, berbeda dalam campuran
perasaan tertentu yang bersifat positif dan yang negatif yang dihubungkan dengan
konsep diri. Hal ini juga berbeda dimana aspek kehidupan sangat erat hubungannya
dengan perasaan diri.

B. Dimensi Konsep Diri


Secara umum menurut pendapat para ahli ada 3 dimensi konsep diri, Calhom dan
Acocella (1995) misalnya menyebutkan ke 3 dimensi tersebut, yakni:
1. Dimensi Pengetahuan
Dimensi pengetahuan (kognitif) mencakup segala sesuatu yang kita pikirkan
tentang diri kita sendiri sebagai pribadi, seperti saya pintar, saya cantik, saya
anak baika dan seterusnya.
2. Dimensi Pengharapan
Dimensi pengharapan yakni pengharapan bagi diri kita sendiri. Pengharapan
ini merupakan self-ideal atau diri yang dicita-citakan. Cita-cita diri meliputi
dambaan, aspirasi, harapan, keinginan bagi diri kita, atau menjadi manusia
seperti apa yang kita inginkan.
3. Dimensi Penilaian
Dimensi ketiga yakni penilaian kita terhadap diri sendiri. Penilaian diri sendiri
merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi.

C. Perkembangan Konsep Diri


Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan
faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya
menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan
melalui proses interaksi secara berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa
konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu,
perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara
bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan
individu akan mulai dapat membedakan keduanya. Lebih lanjut Cooley (dalam
Partosuwido, 1992) menyatakan bahwa konsep diri terbentuk berdasarkan proses
belajar tentang nilai-nilai, sikap, peran, dan identitas dalam hubungan interaksi
simbolis antara dirinya dan berbagai kelompok primer, misalnya keluarga. Hubungan
tatap muka dalam kelompok primer tersebut mampu memberikan umpan balik kepada
individu tentang bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Dan dalam proses
perkembangannya, konsep diri individu dipengaruhi dan sekaligus terdistorsi oleh
penilaian dari orang lain (Sarason, 1972). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa
proses pertumbuhan dan perkembangan individu menuju kedewasaan sangat
dipengaruhi oleh lingkungan asuhnya karena seseorang belajar dari lingkungannya
Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah:
1. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai
rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi
masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap
masalah pasti ada jalan keluarnya.
2. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong,
mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa
menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia
tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan
serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka
terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain
meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
5. Mampu memperbaiki karena dia sanggup mengungkapkan aspek-aspek
kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Dia mampu untuk
mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain dan
mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di
lingkungannya.

Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah
kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang
yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri
yang positif. Ciri-ciri konsep diri pada anak dan remaja yang memiliki konsep diri
negatif adalah:
8. Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan
mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang
mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya,
sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi
sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam
berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari
dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan
berbagai logika yang keliru.
9. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun dia mungkin berpura-pura
menghindari pujian, dia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu
menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang
menjunjung harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan
kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
10. Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan
apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan
penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
11. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan,
karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat
melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut
merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan
membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi
(bermusuhan).
12. Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya
untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Dia akan menganggap
tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Menurut Stuart dan Sudeen (1991) ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan,
Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception
(persepsi diri sendiri), untuk lebih jelasnya mari kita baca lebih lanjut tentang “Faktor
yang mempengaruhi Konsep Diri” berikut ini:
1. Teori perkembangan.
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak
lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam
melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan
berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman
atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan
interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau
masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

2. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)


Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain,
belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri
merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat
dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat
dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup,
pengaruh budaya dan sosialisasi.

3. Self Perception (persepsi diri sendiri)


Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi
individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat
dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep
merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan
konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih
efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari
hubungan individu dan sosial yang terganggu.

E. Rentang Respon Konsep Diri


Dari rentang respon adaptif sampai respon maladaptif, terdapat lima rentang respons
konsep diri yaitu aktualisasi diri, konsep diri positif, harga diri rendah, kekacauan
identitas, dan depersonalisasi. Seorang ahli, Abraham Maslow mengartikan aktualisasi
diri sebagai individu yang telah mencapai seluruh kebutuhan hirarki dan mengembangkan
potensinya secara keseluruhan:

1. Aktualisasi diri merupakan pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan
melatarbelakangi pengalaman nyata yang suskes dan diterima, ditandai dengan
citra tubuh yang positif dan sesuai, ideal diri yang realitas, konsep diri yang
positif, harga diri tinggi, penampilan peran yang memuaskan, hubungan
interpersonal yang dalam dan rasa identitas yang jelas.
2. Konsep diri positif merupakan individu yang mempunyai pengalaman positif
dalam beraktivitas diri, tanda dan gejala yang diungkapkan dengan
mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya dan mengungkapkan keinginan
yang tinggi. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah:
Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Seseorang ini mempunyai rasa
percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang
dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada
jalan keluarnya. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak
sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa
menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak
membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain. Menyadari bahwa setiap
orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak
seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain
sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak disetujui
oleh masyarakat. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-
aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk
mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu
untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.

3. Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri.
Harga diri rendah adalah transisi antara respon konsep diri yang adaptif dengan
konsep diri yang maladaptif. Tanda dan gejala yang ditunjukkan sperti perasaan
malu terhadap diri sendiri, akibat tindakan penyakit, rasa bersalah terhadap diri
sendiri, dan merendahkan martabat. Tanda dan gejala yang lain dari harga diri
rendah diantaranya rasa bersalah pada diri sendiri, mengkritik diri sendiri atau
orang lain, menarik diri dari realitas, pandangan diri yang pesimis, perasaan tidak
mampu, perasaan negative pada dirinya sendiri, percaya diri kurang, mudah
tersinggung dan marah berlebihan.

4. Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek.


Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan, dan konsistensi
dari seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Pencapaian identitas
diperlukan untuk hubungan yang intim karena identitas seseorang diekspresikan
dalam berhubungan dengan orang lain. Seksualitas juga merupakan salah satu
identitas. Rasa identitas ini secara kontinu timbul dan dipengaruhi oleh situasi
sepanjang hidup. Kekacauan identitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang dapat dikenal dengan stressor identitas. Biasanya pada masa remaja,
identitas banyak mengalami perubahan, yang meyebabkan ketidakamanan dan
ansietas. Remaja mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan fisik,
emosional, dan mental akibat peningkatan kematangan. Stressor identitas
diantaranya kehilangan pekerjaan, perkosaan, perceraian, kelalaian, konflik
dengan orang lain, dan masih banyak lagi. Identitas masa kanak-kanak dalam
kematangan aspek psikososial, merupakan ciri-ciri masa dewasa yang harmonis.

5. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan asing terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat
membedakan dirinya dengan orang lain. Tanda dan gejala yang ditunjukkan yaitu
dengan tidak adanya rasa percaya diri, ketergantungan, sukar membuat keputusan,
masalah daalam hubungan interpersonal, ragu dan proyeksi. Jika seseorang
memiliki perilaku dengan depersonalisasi, berarti orang tersebut telah mengalami
gangguan dalam konsep dirinya. Orang dengan gangguan depersonalisasi
mengalami persepsi yang menyimpang pada identitas, tubuh, dan hidup mereka
yang membuat mereka tidan nyaman, gejala-gejala kemungkinan sementara atau
lama atau berulang untuk beberapa tahun. Orang dengan gangguan tersebut
seringkali mempunyai kesulitan yang sangat besar untuk menggambarkan gejala-
gejala mereka dan bisa merasa takut atau yakin bahwa mereka akan gila.
Gangguan depersonalisasi seringkali hilang tanpa pengobatan. Pengobatan
dijamin hanya jika gangguan tersebut lama, berulang, atau menyebabkan
gangguan. Psikoterapi psikodinamis, terapi perilaku, dan hipnotis telah efektif
untuk beberapa orang. Obat-obat penenang dan antidepresan membantu seseorang
dengan gangguan tersebut.

F. Penyebab gangguan konsep diri


Menurut “Stuart & sundeen, 1995”. Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan gangguan
konsep diri antara lain :
1. Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua menjadi faktor yang signifikan dalam mempengaruhi konsep
diri yang telah terbentuk sejak lahir. Sikap positif yang ditunjukkan oleh orang
tua, maka akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positf. Sedangkan
sikap negative yang ditunjukkan oleh orang tua, akan menimbulkan asumsi bahwa
dirinya tidak cukup berhargauntuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai.

2. Kegagalan
Kegagalan yang terus-menerus dialami seringkali akan menimbulkan pertanyaan
kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebab
terletak pada kelemahan diri sendiri. Kegagalan sering membuat seseorang
merasa dirinya tidak berguna.
3. Depresi
Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang
cenderung lebih negative dalam memandang dan merespon segala sesuatu
termasuk dalam menilai diri sendiri.

4. Kritik internal
Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan
seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik diri sendiri sering
berfungsi sebagai regulator atau rambu-rambu dalam bertindak atau berprilaku.
Agar keberadaan kita dapat diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi diri
dengan baik.

5. Merubah diri
Terkadang diri kita sendiri yang menyebabkan persoalan akan bertambah rumit
dengan berfikir yang tidak-tidak (negative) terhadap suatu keadaan atau terhadap
diri kita sendiri. Namun dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat
mengalami perubahan kearah yang lebih positif.

G. Pembagian Konsep Diri


Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di
kemukakan oleh Stuart and Sundeen (2006), yang terdiri dari :

1. Citra Tubuh ( Body Image )


Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak
sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi
penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara
berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart
and Sundeen , 2006). Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya,
menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan
mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat , 2005 ).

Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu


memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya.
Citra tubuh adalah sikap, presepsi keyakinan, dan pengetahuan individu terhadap
tubuhnya baik sadar maupun tak sadar. Pandangan yang realistis terhadap dirinya
menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga
terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 2005). Individu
yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan
memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu
sukses dalam kehidupan. Banyak faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri
seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran
diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa:
a) Operasi.
Seperti: mastektomi, amputsi, luka operasi yang semuanya mengubah
gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik,
protesa dan lain-lain.
b) Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu
tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan
fungsi saraf.
c) Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh.
Seperti sering terjadi pada klien gangguan jiwa, klien mempersiapkan
penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
d) Tergantung pada mesin.
Seperti: klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai
tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan
penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.
e) Perubahan tubuh.
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan
merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia.
Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan
positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati
perubahan tubuh yang tidak ideal.
f) Umpan balik interpersonal yang negatif.
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan,
makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
g) Standard sosial budaya
Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada
setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya
tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti
adanya perasaan minder.

2. Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku
berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and
Sundeen, 2006). Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan di
inginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai. Ideal diri
akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan
mewujudkan cita– cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga
budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada
masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang
memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk
melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman (Keliat, 2005).

Menurut Ana Keliat (2005) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri
yaitu :
a) Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
b) Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
c) Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang
realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas
dan rendah diri.
d) Kebutuhan yang realistis.
e) Keinginan untuk menghindari kegagalan.
f) Perasaan cemas dan rendah diri.

Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara


persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi,
tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan
masih dapat dicapai (Keliat, 2005).

3. Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisinya di masyarakat (Keliat, 2005). Peran yang ditetapkan adalah
peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima
adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh
individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari
peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di
masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang
menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan
(Keliat, 2005). Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran
yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang


harus di lakukan menurut Stuart and sundeen, 2006 adalah :
a) Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
b) Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan.
c) Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
d) Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
e) Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran.
Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap perannya di pengaruhi
oleh beberapan faktor, yaitu:
a) Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang
spesifik tentang peran yang diharapkan.
b) Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.
c) Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya.
d) Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan.

Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran,


baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional.
Hal ini, biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut dapat
dikategorikan menjadi beberapa bagian, seperti:
a) Transisi Perkembangan.
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap
perkembangan harus dilalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan
yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.

b) Transisi Situasi.
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang
yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi
berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran
yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas
atau peran berlebihan.
c) Transisi Sehat Sakit.
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri
dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi
semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga
diri. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau
fisiologi, namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman.

4. Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan
penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai
satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991). Seseorang yang mempunyai
perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan
orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri),
kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan
menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak
bersamaan dengan perkembangan konsep diri.
Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat, 2005). Identitas
jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-
laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat
terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut.

Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai
dengan:
a) Memandang dirinya secara unik.
b) Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain.
c) Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri,
menerima diri dan dapat mengontrol diri.
d) Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri

Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan


seseorang, seperti:
a) Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda
dengan orang lain.
b) Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya.
Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran,
nilai dan prilaku secara harmonis.
c) Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan
lingkungan sosialnya.
d) Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan
dating.
e) Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler
dikutip Stuart and Sudeen, 1991)

5. Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen,
2006). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah
atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri
rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah
di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 2005). Biasanya
harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut.

Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga
diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam
kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait
dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan
skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri
rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self evaluasi
yang telah berlangsung lama) dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak
langsung (nyata atau tidak nyata).

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Asuhan Keperawatan Pada Konsep Diri


1. Pengkajian konsep diri
a. Faktor predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi perilaku yang objektif dan
teramati serta bersifatsubjektif dan dunia dalam pasien sendiri. Perilaku
berhubungan dengan harga diri yang rendah, keracuan identitas, dan
deporsonalisasi.
2) Faktor yang mempengaruhi peran adalah streotipik peran seks, tuntutan
peran kerja, dan harapan peran kultural.
3) Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan
orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dalam struktur
sosial.

b. Stresor pencetus
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
kejadian mengancam kehidupan.
2) Ketegangan peran hubugnan dengan peran atau posisi yang diharapkan
dimana individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada tiga jenis transisi
peran :
a) Transisi peran perkembangan
b) Transisi peran situasi
c) Transisi peran sehat /sakit

c. Sumber-sumber koping
Setiap orang mempunyai kelebihan personal sebagai sumber koping,
meliputi :
1) Aktifitas olahraga dan aktifitas lain diluar rumah
2) Hobby dan kerajinan tangan
3) Seni yang ekspresif
4) Kesehatan dan perawatan diri
5) Pekerjaan atau posisi
6) Bakat tertentu
7) Kecerdasan
8) Imajinasi dan kreativitas
9) Hubungan interpersonal

d. Mekanisme koping
1) Pertahanan koping dalam jangka pendek
2) Pertahanan koping jangka panjang
3) Mekanisme pertahanan ego

Untuk mengetahui persepsi seseorang tentang dirinya, maka orang tersebut wajib
bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a) Persepsi psikologi:
1) Bagaimana watak saya sebenarnya?
2) Apa yang membuat saya bahagia atau sedih?
3) Apakah yang sangat mencemaskan saya?

b) Persepsi sosial:
1) Bagaimana orang lain memandang saya?
2) Apakah mereka menghargai saya bahagia atau sedih?
3) Apakah mereka membenci atau menyukai saya?

c) Persepsi fisik:
1) Bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?
2) Apakah saya orang yang cantik atau jelek?
3) Apakah tubuh saya kuat atau lemah?

Pendekatan dan pertanyaan dalam pengkajian sesuai dengan faktor yang dikaji:
a. Identitas: dapatkah anda menjelaskan siapa diri anda pada orang lain:
karakteristik dan kekuatan?
a) Body image:
a) Dapatkah anda menjelaskan keadaan tubuh anda kepada saya?
b) Apa yang paling anda sukai dari tubuh anda?
c) Apakah ada bagian dari tubuh anda yang ingin anda ubah?

b) Self esteem:
1) Dapatkah anda katakan apa yang membuat anda puas?
2) Ingin jadi siapakah anda?
3) Siapa dan apa yang menjadi harapan anda?
4) Apakah harapan itu realistis?
5) Signifikan apa respon anda, saat anda tidak merasa dicintai dan tidak
dihargai?
6) Siapakah yang paling penting bagi anda?
7) Kompetensi: apa perasaan anda mengenai kemampuan dalam
mengerjakan sesuatu untuk kepentingan hidup anda?
8) Virtue: pada tingkatan mana anda merasa nyaman terhadap jalan hidup
bila dihubungkan dengan standar moral yang dianut?
9) Power: pada tingkatan mana anda perlu harus mengontrol apa yang terjadi
dalam hidup anda? Apa yang anda rasakan?

c) Role performance:
1) Apa yang anda rasakan mengenai kemampuan anda untuk melakukan
segala sesuatu sesuai peran anda? Apakah peran saat ini membuat anda
puas?
2) Gangguan konsep diri.
3) Mekanisme koping jangka pendek (krisis identitas).
4) Kesempatan lari sementara dari krisis.
5) Kesempatan mengganti identitas.
6) Kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri (identitas yang
kabur).
7) Arti dari kehidupan.

B. Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian seluruh konsep diri, dapat disimpulkan masalah keperawatan
yaitu:
a) Gangguan harga diri : harga diri rendah situasional atau kronik
b) Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh
c) Keputusasaan berhubungan dengan harga diri rendah
d) Gangguan harga diri ; harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri
tidak realistis
e) Perubahan penampilan peran berhubungan dengan harga diri rendah.

C. Intervensi keperawatan
Fokus tindakan adalah pada tingkat penilaian kognitif pada kehidupan yang terdiri
dari persepsi, keyakinan, dan kepribadian. Kesadaran klien akan emosi dan
perasaan nya juga hal yang penting. Setelah mengevaluasi penilaian kognitif dan
kesadaran perasaan, lainnya dari masalah dan kemudian merubah perilaku.
Prinsip asuhan yang diberikan adalah pemecahan masalah yang terlihat dari
kemajuan klien meningkatkan tingkat berikutnya, meningkatkan keterbukaan dan
hubungan saling percaya, meluruh ancaman dari sikap perawat terhadap klien,
dan membantu klien memperluas dan menerima semua aspek kepribadiannya.
a) Tindakan penerimaan yang tidak kaku dengarkan klien
b) Dorong klien mendiskusikan pikiran dan perasaannya
c) Beri respon yang tidak menghakimi
d) Tunjukkan bahwa kalian adalah individu yang berharga yang
bertanggung jawab terhadap dirinya dan dapat membantu dirinya
sendiri.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA