Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Poligon Tertutup
IV.1.1 Hasil
Dari pengukuran poligon tertutup diperoleh data sudut, kemudian setelah
diperoleh data sudut, data tersebut kemudian diolah sehingga didapat koordint-
koordinat yang berguna untuk memetakan suatu lokasi yang diukur. Koordinat-
koordinat tersebut sebagai berikut :

Titik Koordinat X Koordinat Y


S1 0438417,646 9220765,285
GD04 0438434,054 9220802,421
S2 0438446,390 9220850,907
S3 0438437,924 9220890,018
S4 0438409,791 9220909,635
S5 0438345,345 9220921,042
S6 0438260,925 9220946,781
S7 0438218,000 9220950,000
GD12 0438179,921 9220858,275
GD18 0438184,638 9220855,213
AL7 0438173,763 9220812,993
AL6 0438163,438 9220772,211
AL5 0438152,877 9220759,855
GD06 0438264,808 9220733,674
C5 0438361,254 9220710,100
C4 0438405,240 9220682,411
GD08 0438418,188 9220717,089
Tabel IV.1. Koordinat hasil pengukuran poligon tertutup
(Kelompok VIII,2013)

Berdasarkan data yang diambil dari pengukuran dilapangan, ternyata


mendapatkan hasil sebagai berikut :
1. Mula-mula alat diletakkan di titik S1, kemudian bidik ke titik GD08. Setelah
itu alat diset 0°0′0″.
2. Kemudian alat membidik GD04, didapat sudut horizontal untuk arah biasa
158°52′40″.

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

3. Kemudian teropong diputar arah luar biasa, kemudian membidik GD04,


didapat sudut horizontal arah luar biasa 338°52′40″.
4. Kemudian alat membidik GD08, di dapat sudut horizontal arah luar biasa
180°0′10″.
5. Melakukan langkah 1-4 hingga titik GD08.
6. Setelah itu menghitung sudut biasa, sudut luar biasa, dan sudut rata-rata pada
titik S1.
7. Sudut biasa : 158°52′40″ = 158°52′40″
Sudut luar biasa : 338°52′40″- 180°0′10″ = 158°52′30″
Sudut rata-rata : 158°52′40″+ 158°52′30″ = 158°52′35″
2
8. Melakukan langkah di atas sampai pada titik GD08.
9. Sudut rata-rata yang sudah diperoleh kemudian dimasukkan ke form hitungan
poligon tertutup sebagai sudut ukuran (β).
10. Di dalam poligon tertutup terdapat koreksi, kemudian untuk mencari sudut
jurusan (α) terlebih dahulu menjumlahkan sudut ukuran (β).
Besarnya sudut
Syarat besarnya sudut adalah:
( n – 2 ) x 180 = ( 17– 2 ) x 180°
= 2700
Hasil pengukuran di lapangan ternyata jumlah sudut ukuran (∑β) sebesar
27002′40″, maka:

 = [ ( n – 2 ) x 180° ] + f 
27002′40″ = 2700 + f
f = 0° 2′ 40″
= 160″
Koreksi per sudut = -f / 17
= -160″ / 17
= -9″ untuk 10 sudut
-10″ untuk 7 sudut

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

11. Perhitungan azimuth


Berdasarkan data azimuth awal α GD 12−GD 18sebesar = 202° 29′ 47″
Untuk menghitung azimut titik selanjutnya yaitu  akhir =  awal   
180.
α GD 18− AL7 = α GD 12−GD 18+ β10 + 180°- 360°
= 202° 29′ 47″ + 100° 29′ 31″ - 180°
= 122° 59′ 47″
Perhitungan tersebut digunakan sampai αS7-GD12.
Hasil azimuth dapat dilihat di dalam form perhitungan poligon tertutup di
halaman lampiran.

12. Menjumlahkan jarak (d), diperoleh = 920,0 meter.


13. Perhitungan koreksi fx
Menghitung d sin α dengan cara
XS1-GD04 = dS1-GD04 sin αS1-GD04
= 48,2. Sin 359° 23′ 50″

= -0,507

Perhitungan tersebut digunakan sampai kX9-0.


Kemudian dijumlahkan, ternyata hasilnya ≠ 0, melainkan 0,674, maka harus
ada koreksi. Cara menghitung koreksi, yaitu :

d i

k Δ X/titik = Σd  kx

100
×8,912
kΔ x 12 = 688,8
= 1,294
Perhitungan tersebut digunakan sampai kX9-0.

Besarnya  d sin  = -8,912


Dimana syarat  d sin  = 0, maka besarnya koreksi d sin  = +8,912
Jumlah dari koreksi tiap titik (kX/titik) harus sama dengan koreksi (kX)

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

Masing-masing besarnya koreksi d sin  per titik dapat dilihat di form


poligon tertutup pada halaman lampiran.

14. Perhitungan koreksi fy


Menghitung d cos α dengan cara
Y0-1 = d0-1 cos α0-1
= 100 cos 325°58′0″
= 82,871
Perhitungan tersebut digunakan sampai Y9-0.
Kemudian dijumlahkan, ternyata hasilnya ≠ 0, melainkan – 4,224 , maka
harus ada koreksi. Cara menghitung koreksi, yaitu :

d i

k Δ Yi/titik = Σd ¿ky
100
kΔ y 0−1 = 688,8
×4,224

= 0,613
Perhitungan tersebut digunakan sampai kY9-0.
Besarnya  d cos  = -4,224
Dimana syarat  d cos  = 0, maka besarnya koreksi d cos  = 4,224
Jumlah dari koreksi tiap titik (kY/titik) harus sama dengan koreksi (kY)
Masing-masing besarnya koreksi d cos  per titik dapat dilihat di form
poligon tertutup pada halaman lampiran.

15. Perhitungan terakhir dari poligon tertutup, yaitu perhitungan koordinat.


Koordinat awal (P0) = (1000,000 ; 1000,000 ) sudah diketahui. Koordinat
awal berguna untuk menghitung koordinat selanjutnya.
Rumus yang digunakan adalah :
X1 = X0 + d0-1 sin α0-1 + kX0-1
= 1000,000 + (-55,968) + 1,294
= 945,326
Y1 = Y0 + d0-1 cos α0-1 + kY0-1

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

= 1000,000 + 82,871 + 0,613


= 1083,484
Perhitungan tersebut digunakan sampai kembali ke koordinat P0.
16. Ketelitian Linier
Rumus ketelitian linier adalah sebagai berikut :

√( fx ) +√( fy )
(2 2

d=
Kesalahan linier jarak
fx (d sin α ) = -8,912
fy (d cos α ) = -4,224
(2 2

d= √( fx ) +√( fy )
= √ (-8,912)2 + (-4,224)2
= √79,424+17,842)
= √97,266
= 9,862
∑ d = 688,8 meter
d9,862
Jadi, kesalahan linier = ∑ d = 688,8 = 14 x 10-3
Ketelitian Linier = 1 : 69,844

IV.1.2 Pembahasan
Setiap pengukuran poligon tertutup pasti terjadi kesalahan, faktor-faktor
yang menyebabkan kesalahan tersebut, antara lain:
1. Kesalahan pada alat ukur
Kesalahan ini biasanya disebabkan oleh alat ukur itu sendiri. Maksudnya
adalah kemungkinan bahwa alat ukur tersebut sedang rusak, ataupun pada
tanah tempat alat ukur ditempatkan landai.
2. Kesalahan personil
Kesalahan ini biasanya disebabkan oleh personil atau orang yang melakukan
pengukuran sendiri dalam melakukan pembacaan pada baak ukur yang

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

disebabkan oleh ketidak telitian pengukur dalam melakukan pengukuran


maupun ketidak telitian pengukur dalam mencatat hasil pengukuran.

3. Kesalahan alam
Selain kesalahan pada alat ukut maupun personal, kesalahan juga dapat
disebabkan oleh keadaan alam seperti faktor cuaca maupun tekanan udara.
Faktor cuaca yang dapat menghambat adalah cuaca hujan. Selain kesalahan
pada alat ukut maupun personal, kesalahan juga dapat disebabkan oleh
keadaan alam seperti faktor cuaca maupun tekanan udara. Faktor cuaca yang
dapat menghambat adalah cuaca pada saat hujan dan pada saat siang hari.
Mengapa pada saat siang hari dapat mempengaruhi pengukuran ? hal ini
disebabkan karena adanya undulasi / fatamorgana yang biasa terjadi pada saat
siang hari.

Waterpass Tertutup
IV.2.1 Hasil
Pengukuran waterpass tertutup dilakukan stand 1 dan stand 2 serta
pengukurannya harus kembali ke titik awal. Dari pengukuran waterpass didapat
bacaan BA, BT, BB yang dapat digunakan untuk menentukan beda tinggi dan
tinggi titik tiap patok / titik. Hasil dari pengukuran waterpass tertutup sebagai
berikut :

Tinggi Titik No Titik

200,000 P0

198,340 PB1

196,889 P1

194,959 P1

192,881 PB2

191,582 P2

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

190,979 PB3

191,283 P3

Tinggi Titik No Titik


191,561 PB4

191,497 PB5

189,871 PB6

188,322 PB7

186,999 P5

188,225 PB8

189,271 PB9

190,196 PB10

191,114 P6

191,114 P6

191,883 PB11

193,157 P7

195,268 PB12

196,759 PB13

198,624 P8

198,924 PB14

199,378 P9

200,000 P0
Tabel IV.2. Hasil pengukuran waterpass tertutup
(Kelompok III,2009)

Data hasil selengkapnya dapat dilihat dalam halaman L-14. Pengukuran


waterpass tertutup dilakukan dengan cara stand 1 dan stand 2, pengukurannya

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

harus kembali ke titik awal. Dari pengukuran waterpass diperoleh bacaan


BA,BT,BB yang digunakan untuk menentukan beda tinggi dan elevasi setiap titik.
Dari praktikum yang kami laksanakan diperoleh data, sebagai berikut
Tinggi titik di atas didapat dari pengukuran dan perhitungan yaitu dengan
cara sebagai berikut :
Alat didirikan diantara P0 dan Pb1, mendirikan rambu di P0 dan P1. P0
sebagai bacaan belakang dan Pb1 sebagai bacaan muka, kemudian baca dan catat
BA, BT, BB. Lakukan sampai waterpass berdiri diantara P9 dan P0 untuk
pengukuran waterpass stand 1 dan stand 2.
Untuk mencari beda tinggi dengan rumus ( BT belakang – BT muka)
Beda tinggi dari P0 ke Pb1, stand 1 : 0,441- 2,100 = - 1,659
Stand 2 : 0,458 - 2,116 = -1,658
Lakukan hal yang sama sampai semua titik diketahui beda tingginya.
2. Menghitung rata-rata beda tinggi dengan rumus :
beda tinggi stand 1 + beda tinggi stand 2
Rata-rata beda tinggi = 2 .
- 1,659+−1 , 658
Rata-rata beda tinggi P0 ke Pb1 = 2
= - 1,6585
Lakukan hal yang sama hingga ke P0 kembali.
3. Berdasarkan hasil diatas ternyata terdapat koreksi beda tinggi sebesar 0.032
dimana jumlah koreksi tersebut sama dengan jumlah beda tinggi rata-rata.
Dengan adanya kesamaan angka pada beda tinggi rata-rata dan koreksi
sehingga mengakibatkan jumlah beda tinggi setelah dikoreksi sebesar 0.
Setelah diketahui definitif masing-masing beda tinggi maka dapat dihitung
masing-masing beda tinggi dari beda tinggi awal yaitu dengan menambah
beda tinggi mula-mula dengan definitifnya.
Setelah dilakukan koreksi didapat koreksi sebagai berikut :
a. 2 titik ditambah (-0,001),
b. 12 titik ditambah (-0,0015),
c. 10 titik ditambah (-0,001).

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

4. Perhitungan selanjutnya menghitung beda tinggi definitif dan dalam


definitif ini ada syaratnya yaitu penjumlahan dari seluruh definitif hasilnya
harus nol.
Definitif = Beda tinggi + koreksi
Definitif dari P0 ke P1 = -1,6585 +(-0,0015)
= -1,660
Lakukan cara yang sama hingga diketahui definitif titik P9 ke P0
5. Perhitungan terakhir adalah mencari elevasi titik. Untuk elevasi awal
diketahui 200,000. Elevasi awal ini berguna untuk mencari elevasi titik
selanjutnya.

Elevasi titik P1 = elevasi titik P0 + Beda tinggi definitif P0 ke P1


= 200,000 + ( -1,660)
= 198,340
IV.2.2 Pembahasan
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kesalahan pada pengukuran
waterpass tertutup, antara lain :
1. Kesalahan pada alat ukur
Kesalahan ini biasanya disebabkan oleh alat ukur itu sendiri. Maksudnya
adalah kemungkinan bahwa alat ukur tersebut sedang rusak, ataupun pada
tanah tempat alat ukur ditempatkan landai.
2. Kesalahan personil
Kesalahan ini biasanya disebabkan oleh personil atau orang yang melakukan
pengukuran sendiri dalam melakukan pembacaan pada baak ukur yang
disebabkan oleh ketidak telitian pengukur dalam melakukan pengukuran
maupun ketidak telitian pengukur dalam mencatat hasil pengukuran.
3. Kesalahan alam
Selain kesalahan pada alat ukut maupun personal, kesalahan juga dapat
disebabkan oleh keadaan alam seperti faktor cuaca maupun tekanan udara.
Faktor cuaca yang dapat menghambat adalah cuaca hujan. Selain kesalahan

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

pada alat ukut maupun personal, kesalahan juga dapat disebabkan oleh
keadaan alam seperti faktor cuaca maupun tekanan udara. Faktor cuaca yang
dapat menghambat adalah cuaca pada saat hujan dan pada saat siang hari.
Mengapa pada saat siang hari dapat mempengaruhi pengukuran ? hal ini
disebabkan karena adanya undulasi / fatamorgana yang biasa terjadi pada saat
siang hari.

Cross Section ( Penampang Melintang )


IV.5.1 Hasil
Dalam pengukuran Cross Section kita mengukur beda tinggi dari detail-
detail jalan tiap titik dan kita peroleh BA,BT,dan BB tiap titik yang digunakan
untuk mencari tinggi masing-masing detail tiap titik yang diukur.
Dengan diketahuinya tinggi titik detail-detail pada titik P1 kita dapat
merencanakan pekerjaan selanjutnya seperti perbaikan jalan atau pembuatan jalan
baru. Misalnya pada titik P1, kelompok III mendapat tinggi titik detail-detail pada
P1.

Bacaan Rambu DH Tinggi


No Titik
BA BB BT
P1 1,599 1,457 1.537 0.000 254.577
1 1,483 1,387 1.435 0.102 254.679
2 1,484 1,388 1.436 0.101 254.678
3 2,230 2,134 2.182 -0.645 253.932
4 2,255 2,161 2.208 -0.671 253.906
5 1,479 1,387 1.433 0.104 254.681
6 1,478 1,386 1.432 0.105 254.682
7 1,233 1,139 1.186 0.351 254.928
8 1,172 1,082 1.127 0.410 254.987
P1 1,599 1,457 1.537 0.000 254.577
Bacaan Rambu DH Tinggi
No Titik
BA BB BT
10 1,482 1,364 1.423 0.114 254.691
11 1,220 1,100 1.160 0.377 254.954
12 1,242 1,118 1.180 0.357 254.934
13 1,337 1,293 1.315 0.222 254.799
14 1,470 1,290 1.380 0.157 254.734
15 1,248 1,062 1.155 0.382 254.959

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

16 1,250 1,064 1.157 0.380 254.957


17 1,346 1,166 1.256 0.281 254.858
18 1,444 1,242 1.343 0.194 254.771
19 1,682 1,488 1.585 -0.048 254.529
20 1,683 1,489 1.586 -0.049 254.528
21 2,369 2,163 2.266 -0.729 253.848
22 2,378 2,168 2.273 -0.736 253.841
23 1,725 1,519 1.622 -0.085 254.492
24 1,724 1,518 1.621 -0.084 254.493
Tabel IV.5. Hasil cross section
(Kelompok III,2009)
Tinggi tiap detail di atas diperoleh dari pengukuran dan
perhitungan sebagai berikut :
1. Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan menggunakan
pengukuran waterpass terbuka.
2. Menentukan detail-detail tiap titik yang akan diukur.
3. Ukur jarak tiap detail dengan pita ukur.
4 Membuat sketsa detail tiap detail titik angka untuk mempermudah
dalam pengukuran.
5. Mendirikan alat diantara jalan titik P1 dan P2, kemudian bidik rambu
ukur yang berdiri pada tiap detail lalu catat bacaan BA, BT dan BB.
Dan seterusnya sampai ke titik detail 24.
6. Menghitung muka tinggi tiap detail dengan cara mengurangi BT titik
P1 dan BT detail-detail pada titik P1.
Dst sampai ke titik detail 24.
7. Menghitung tinggi tiap detail dengan cara menjumlahkan tinggi titik
P1 beda tinggi detail-detail pada titik P1 tinggi titik P1 sudah diketahui
yaitu 254.577.

Tinggi titik d1 = Tinggi titik P1 + beda tinggi d1


= 254.577 + 0.102
= 254.679

Dst sampai diketahui tinggi titik detail 24 pada titik P1.


IV.5.2 Pembahasan

Kelompok VIII
Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah I

Dari pengukuran Cross Section yang telah dilakukan, kelompok III


mempunyai kesalahan dalam pengukuran dan perhitungan yaitu : kurang
panjangnya rambu ukur dan jjika kita mengukur beda tinggi selokan, rambu ukur
tidak terbaca oleh waterpass. Sehingga kita hanya memperkirakan bacaan BA, BT
dan BB nya dengan menggunakan hitungan.

Kelompok VIII