Anda di halaman 1dari 12

EVALUASI AKADEMIK

A. Nama Peserta : drg. Bagus Kurniawan


B. NDH :3
C. Kelompok :1
D. Angkatan : CXI
E. Unit Kerja : Puskesmas Krebet Madiun
F. Jabatan : Dokter Gigi Ahli Pertama
G. Rumusan Kasus : Revolusi Industri 4.0 : Tantangan dan Peluang untuk
Optimalisasi Pelayanan Publik

Revolusi Industri 4.0 :


Tantangan dan Peluang untuk Optimalisasi Pelayanan Publik

Revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan
penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. Misalnya
di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk
tekstil. Sedangkan pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an dan
ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik.

Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, ditenggarai oleh perkembangan
semikonduktor dan proses otomatisasi industri pada tahun 1970 atau 1900-an. Dengan kata
lain, dunia sedang bergerak memasuki era digitalisasi. Industri Manufaktur, Industri
Kesehatan, Industri Pertanian dan sebagainya. Hingga saat ini sebagian negara masih
menerapkan industri ini.

Pada revolusi industri keempat atau 4.0, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai
terkonektivitas dengan internet of things. Ragam diantaranya Artificial Intelligence (AI),
Internet of Things (IOT), Unmanned Vehicles (UAV), Mobile Technology (5G), Shared
Platform, Block Chain, Robotics dan Bio-Technology.

Saat ini perkembangan teknologi begitu pesat dan tidak bisa terbendung lagi.
Digitalisasi sudah mulai memasuki celah-celah kehidupan kita sehari-hari. Kemajuan
Teknologi tersebut kemudian banyak dimanfaatkan oleh sektor privat/ swasta. Banyak
perusahaan bahkan industri kecil kreatif yang menggunakan teknologi digital dalam
mengembangkan usaha mereka. Sebut saja Gojek, Uber dan Grab perusahaan yang konsen
dalam penyediaan jasa transportasi melalui system online.

Beberapa waktu lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meluncurkan peta
jalan (road map) "Making Indonesia 4.0" yang merupakan strategi nasional dalam
menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Dengan diluncurkannya peta jalan tersebut pemerintah
kini berpacu mempersiapkan diri untuk menghadapi gelombang disrupsi. Namun, apakah
Pemerintah mampu memanfaatkan era serba digital tersebut dalam hal penyelenggaraan
pelayanan publik?

Pelayanan publik dan perkembangan teknologi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,


Pelayanan Publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa dan/ atau pelayanan administrasi yang diselenggarakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.

Kemudian keterkaitan dengan pelayanan publik dan era revolusi Industri 4.0 saat ini,
sebetulnya telah jelas terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik ada Pasal yang mengatur bahwa Pelayanan Publik harus memilki sistem
yang dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Merujuk pada Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik, disebutkan bahwa "Dalam rangka memberikan dukungan informasi
terhadap penyelenggaraan pelayanan publik perlu diselenggarakan Sistem Informasi yang
bersifat nasional" sementara di Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik Penyelenggara berkewajiban mengelola Sistem Informasi yang
terdiri atas Sistem Informasi Elektronik atau Non elektronik yang sekurang-kurangnya
meliputi; profil penyelenggara, profil pelaksana, standar pelayanan, maklumat pelayanan,
pengelola pengaduan dan penilaian kinerja.

Maka dari itu sudah cukup jelas bahwa setiap penyelenggara diwajibkan untuk
menyediakan sistem informasi secara nasional. Dengan begitu tidak lain teknologi informasi
berperan besar dalam rangka pemenuhan sistem tersebut untuk skala nasional.
Hal tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk dapat
menyesuaikan penyelenggaraan pelayanannya kepada masyarakat dalam menghadapi
Revolusi Industri 4.0 saat ini, yaitu dengan menerapkan pelayanan publik yang berbasis
Teknologi (digital).

Sebab, dengan teknologi, transparansi, kecepatan, kemudahan yang menjadi kunci


pada suatu pelayanan akan terwujud, maka tidak heran pelayanan di sektor privat/ swasta
biasanya akan lebih baik karena pemanfaatan teknologi yang semakin canggih dalam proses
pemberi pelayanannya untuk menjaga kepercayaan pelanggan sehingga usaha yang
dijalankan akan terus produktif.

Mestinya hal itu juga diterapkan oleh Pemerintah sebagai penyelenggera pelayanan
publik, terlebih jumlah "pelanggan" yang mengakses pelayanan di sektor publik lebih besar
dibandingkan disektor private/ swasta. Maka apabila Pemerintah ingin mendapatkan
kepercayaan dari "pelanggan" dalam hal ini masyarakat yaitu seharusnya Pemerintah mulai
serius untuk memanfaatkan teknologi digital diera Revolusi Industri 4.0. dalam
penyelenggaraan pelayanan publik. Sehingga bukan hanya sektor privat/swasta saja yang
dapat mengambil keuntungan dari sebuah kemajuan teknologi saat ini tetapi juga disektor
publik.

Sebetulnya saat ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi


Birokrasi sebagai Kementrian yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan
pemerintahan yang memiliki fungsi merumuskan dan menetapkan kebijakan terkait
pelayanan publik sudah mulai memanfaatkan Teknologi Informasi untuk mengaplikasikan
UndangUndang dalam menyediakan informasi secara nasional tersebut yaitu dengan
diundangkannya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Informasi Pelayanan Publik Nasional (SIPPN).

Di dalam Peraturan tersebut pada Pasal 3 disebutkan bahwa Menteri, Pimpinan


Lembaga, Gubernur, Bupati, Walikota, Direktur Utama BUMN, Direktur Utama BUMD
wajib memastikan penyediaan informasi pelayanan publik ke dalam SIPPN setelah
berlakunya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sehingga Menpan RB meluncurkan aplikasi SIPPN yang dapat diakses melalui
http://sipp.menpan.go.id/ sebagai wadah informasi pelayanan publik semua instansi
penyelenggara pelayanan publik secara nasional mulai dari pemerintah daerah, kementrian/
lembaga, lembaga non struktural dan BUMN/BUMD. Namun, SIPPN yang sedang
dikembangkan oleh MenpanRB tersebut masih belum sempurna dikarenakan belum semua
pemerintah daerah maupun kementrian/lembaga menginput data infromasi pelayanan publik
dimasing-masing instansinya ke aplikasi SIPPN tersebut.

Lemahnya kewenangan Menpan RB untuk mendorong instansi tersebut untuk


mengintegrasikan data pelayanan publik tiap instansi ke aplikasi SIPPN menjadi salah satu
kendala belum efektifknya aplikasi tersebut.

Padahal, dengan SIPPN tersebut pelayanan publik di Indonesia akan saling


terintegrasi. Maka semua informasi terkait pelayanan publik dapat diakses melalui aplikasi
SIPPN tersebut, selain itu SIPPN merupakan wujud pengawasan dan partisipasi masyarakat
yang efektif sehingga tercegahnya penyalahgunaan kewenangan dalam penyelenggaraan
pelayanan publik.

Tata Kelola Pemerintah

Sistem E-Government yang merupakan upaya pemerintah dalam


mengimplementasikan pemanfaatan komputer, jaringan komputer dan teknologi informasi
untuk menjalankan pemerintahan terutama pelayanan publik masih sangat minim. Masih
sedikit Kementrian/Lembaga maupun pemerintah daerah yang memanfaatkan teknologi
dalam proses pelayanan publik. Padahal jika E-Government sendiri diterapkan disetiap
pemerintahan maka hal tersebut sejalan dengan Revolusi Industri 4.0.

E-Government memiliki banyak manfaat dalam sistem berdemokrasi yang saat ini
kita terapkan diantaranya meningkatkan kecepatan komunikasi antara pemerintah,
masyarakat, swasta, maupun koordinasi antar instansi yang berbasis internet.

Selain itu untuk mewujudkan pelayanan yang transparan, meningkatkan akuntabilitas


dari proses penyelengaraan pemerintahan, menghemat anggaran pemerintah, serta
memudahkan alur informasi yang dapat diakses secara terbuka guna mewujudkan cita-cita
good governance dan open government pada penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.
Sehingga sudah saatnya pemerintah dengan serius memperhatikan dan mengayomi
masyarakat yang masih belum melek teknologi agar tetap bertahan dan terus berkembang
mengikuti tuntunan zaman.

Soal : Mendeskripsikan rumusan kasus dan/ atau masalah pokok, aktor yang terlibat dan peran
setiap aktornya berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Deskripsi Rumusan Kasus

Revolusi Industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi siber


dan teknologi otomatisasi. Revolusi Industri 4.0 dikenal juga dengan istilah “cyber physical
system”. Konsep penerapannya berpusat pada otomatisasi. Dibantu teknologi informasi
dalam proses pengaplikasiannya, keterlibatan tenaga manusia dalam prosesnya dapat
berkurang. Dengan demikian, efektivitas dan efisiensi pada suatu lingkungan kerja dengan
sendirinya bertambah. Saat ini perkembangan teknologi begitu pesat dan tidak bisa
terbendung lagi. Digitalisasi sudah mulai memasuki celah-celah kehidupan kita sehari-hari.

Beberapa waktu lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meluncurkan peta
jalan (road map) "Making Indonesia 4.0" yang merupakan strategi nasional dalam
menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Dengan diluncurkannya peta jalan tersebut pemerintah
kini berpacu mempersiapkan diri untuk menghadapi gelombang disrupsi.

Era reformasi memberikan harapan besar bagi terjadinya perubahan menuju


penyelenggaraan yang lebih demokratis, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi serta
akan terwujudnya good governance dengan adanya kebebasan berpendapat (Undang-undang
dasar, 1945). Reformasi birokrasi merupakan perubahan signifikan (mind-set dan culture-set)
elemen-elemen birokrasi, yaitu kelembagaan, sumber daya manusia aparatur,
ketatalaksanaan, akuntabilitas, pengawasan, dan pelayanan publik. Reformasi birokrasi
merupakan kehendak rakyat yang tertuang dalam TAP MPR-RI Nomor VI/2001 yang
mengamanatkan kepada presiden agar membangun kultur birokrasi Indonesia yang
transparan, akuntabel, bersih dan bertanggung jawab, serta dapat menjadi pelayanan
masyarakat, abdi negara, dan contoh teladan masyarakat.
Secara umum, revolusi industri ke-4 ditandai dengan full automation, proses
digitalisasi, dan penggunaan alat elektronik dengan sistem informatika. Menurut Sommer,
perubahan akibat inovasi tersebut akan berdampak pada industri manufaktur, sektor
pelayanan dan jasa, serta kebijakan pemerintah. Dan menurut Jones (1996) mengemukakan
bahwa tahapan-tahapan dalam perumusan kebijakan publik terdapat perception/definition
mendefinisikan masalah adalah tahap awal dari proses kebijakan publik. Aggregation yaitu
tahap mengumpulkan orang-orang yang mempunyai pikiran sama dengan pembuat kebijakan
atau mempengaruhi orang-orang agar berpikiran sama terhadap suatu masalah. Dan
Organization, Representatio, Formulation serta Legitimation merupakan proses pengesahan
dari alternatif yang terpilih. Keseluruhan proses perumusan kebijakan sampai dengan
penetapan kebijakan selalu melibatkan partisipasi masyarakat

Dalam UU 25/2009 tentang pelayanan publik menegaskan bahwa pelayanan publik


adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga Negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik. Program peningkatan kualitas pelayanan publik (secara makro) bertujuan
meningkatakan kualitas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Target
yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat
(transparan, cepat, tepat, sederhana, aman terjangkau, dan memiliki kepastian), meningkatnya
jumlah unit pelayanan yang memperoleh standardisasi pelayanan internasional, dan
meningkatnya indeks kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik

Dan ini mengenai permasalahan kesiapan di era 4.0 dalam Implementasi kebijakan
pelayanan publik. Bahwasanya hal tersebut membutuhkan proses dalam menjalankannya,
serta di era reformasi ini juga banyak sekali perubahan terutama kemajuan pada suatu
teknologi yang membuat suatu perubahan pada setiap aspek maupun bidang. Hal tersebut
merupakan sebuah tantangan pada sebuah individu maupun kelompok dalam
menjalankannya. Dan kemajuan terhadap teknologi juga membutuhkan sebuah adaptasi serta
kemampuan Sumber Daya Manusia yang menjalankannya. Perkembangan sebuah teknologi
semakin berkembang dengan pesatnya untuk itu harus adanya keseimbangan, dikarenakan
Hal tersebut dapat dimanfaatkan dalam membantu masyarakat untuk menyebarkan informasi,
memproduksi dan mengolah data.

Pada Agenda 1 Isu Kontemporer dan Agenda 4 Habituasi, isu atau masalah yang
terjadi pada kasus ini yaitu tantangan dan peluang optimalisasi pelayanan Publik dalam
penggunaan e-government di era digitalisasi. Selain itu masih sedikit Kementrian/Lembaga
maupun pemerintah daerah yang memanfaatkan teknologi dalam proses pelayanan publik.
Kita mengenal istilah Revolusi Industri 4.0 yang memacu pada inovasi-inovasi
teknologi dan pelayanan yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental
terhadap kehidupan masyarakat. Hal tersebut memberi tantangan baru tak terkecuali layanan
birokrasi publik di sektor pemerintahan. Oleh karena itu, manajemen layanan publik di
pemerintahan didorong terus untuk melakukan perubahan-perubahan serta inovasi-inovasi di
segala bidang untuk merespons tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Digitalisasi Pelayanan publik dan era Revolusi Industri 4.0 saat ini, sebetulnya telah
jelas tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 25/2009 yang mengatur pada aspek
pelayanan publik harus memilki sistem yang dapat memberikan kemudahan kepada
masyarakat.  

Kasus tersebut mendeskripsikan tentang program Pemerintah melalui Kementerian


Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah meluncurkan aplikasi
SIPPN melalui http://sipp.menpan.go.id/ sebagai wadah informasi pelayanan publik semua
instansi penyelenggara pelayanan publik nasional dan daerah, namun pada pelaksanaannya
belum semua instansi menyelesaikan input data informasi pelayanan publik mereka pada
aplikasi tersebut karena lemahnya kewenangan dari Menpan RB.

Sistem E-government dalam pelayanan publik pun kurang dimanfaatkan dengan baik
sehingga pemerintahan belum dapat sejalan sepenuhnya dengan Revolusi Industri 4.0 yang
memanfaatkan teknologi dan jaringan internet dalam aplikasinya. Dalam hal ini sektor publik
pemerintahan sudah tertinggal dibandingkan dengan sektor publik/swasta dalam pemanfaatan
teknologi informasi tersebut.

Aktor yang terlibat yaitu:


1. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai
Kementrian yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan yang
memiliki fungsi merumuskan dan menetapkan kebijakan terkait pelayanan publik
2. Menteri, Pimpinan Lembaga, Gubernur, Bupati, Walikota, Direktur Utama BUMN,
Direktur Utama BUMD wajib memastikan penyediaan informasi pelayanan publik ke
dalam SIPPN
3. Sektor privat/swasta: sebagai pengguna sistem informasi Revolusi Industri 4.0 diluar
pemerintahan (non pelayanan publik).
4. Masyarakat: sebagai pengawas dan pengguna pelayanan.
Soal : Melakukan analisis terhadap : A. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap
nilai-nilai dasar PNS, dan Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dan NKRI
oleh setiap aktor yang terlibat berdasarkan konteks deskripsi kasus. B. Dampak tidak
diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang kedudukan dan peran
PNS dalam NKRI berdasarkan konteks deskripsi kasus.

A. 1. Penerapan Nilai-Nilai Dasar PNS

Aparatur Sipil Negara harus memahami dan mengamalkan Wawasan Kebangsaan,


Sikap Bela Negara, Memahami Isu-isu Kontemporer, menjunjung tinggi Akuntabilitas,
Memiliki sikap Nasionalisme, memegang teguh Etika Publik, menjaga Komitmen Mutu,
Anti Korupsi, memahami Manajemen ASN, mengaplikasukan Whole of Government serta
melaksanakan Pelayanan Publik yang prima.
Permasalahan-permasalahan terkait dengan efektifitas pelayanan publik tentu tidak
sesuai dengan nilai-nilai dasar ASN. Buruknya kualitas pelayanan publik menggambarkan
aktor pemberi layanan tersebut tidak memahami dan mengamalkan Wawasan Kebangsaan.
Wawasan Kebangsaan merupakan dasar bagi seluruh penyelenggara pemerintah agar
memiliki cara pandang atau pemahaman yang baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara
dengan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka
Tunggal Ika sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Sebagai ASN/PNS
memberikan pelayanan publik yang prima dengan menjaga kualitas layanan, merupakan
amalan dari Wawasan Kebangsaan.
Digitalisasi Pelayanan publik dan era Revolusi Industri 4.0 saat ini, sebetulnya telah
jelas tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 25/2009 yang mengatur pada aspek
pelayanan publik harus memilki sistem yang dapat memberikan kemudahan kepada
masyarakat.  Namun kenyataannya, masih ada pemerintah daerah, kementrian/ lembaga,
lembaga non struktural dan BUMN/BUMD yang belum melakukan input data informasi
pelayanan publik pada website SIPPN menunjukkan kurangnya kesadaran dari penerapan
konsep akuntabilitas dalam pelaksanaan sistem pemerintahan terutama di sisi akuntabilitas
PNS dalam konteks transparansi dari akses informasi.
Hal lain yang dibahas pada artikel tersebut adalah bahwa tidak efektifnya proses
penginputan data dalam website SIPPN adalah karena rendahnya kewenangan Menpan untuk
mendorong optimalisasi kebijakan tersebut. Tampaknya pemerintah belum mempersiapkan
manajeman ASN yang cukup baik . perilaku Lembaga yang tidak melaksanakan input data
menunjukkan rendahnya tanggung jawab ASN dalam memenuhi tanggung jawabnya dalam
bela negara, tidak sesuai dengan penerapan etika publik dan gagalnya pemenuhan
komitmen mutu.
Dengan menerapkan nilai Pelayanan Publik, Kemenpan RB menghadirkan
penggunaan aplikasi SIPPN sebagai wadah informasi pelayanan publik semua instansi
penyelanggara pelayanan publik secara nasional. Sesuai dengan nilai Whole of Goverment
pada Agenda 3 berupa pemberian pelayanan yang terintegrasi. Adapun penerapannya dengan
memperhatikan nilai-nilai dasar PNS yaitu profesional, cepat, efektif sesuai dengan nilai
Komitmen Mutu. Selain itu adaptif untuk menjawab kebutuhan masyarakat sesuai dengan
nilai Akuntabilitas. Serta mengelaborasi pendekatan pelayanan negara dengan meningkatkan
kepercayaan publik sesuai dengan nilai Etika Publik.

2. Pelanggaran Nilai-Nilai Dasar PNS :


1. Akuntabilitas
Kurangnya pertanggung jawaban atau hasil yang dilaporkan tentang kinerja ASN
sebagai pelayan publik. Hal ini bisa dilihat dari masih sedikitnya yang menginput informasi
tentang pelayanan publik melalui aplikasi SIPPN.
2. Nasionalisme
Kurang memperhatikan dan melaksanakan tentang UU pelayanan publik yang
dikeluarkan oleh Kemenpan-RB. Tentang pedoman penyelenggaraan sistem informasi
pelayanan publik nasional (SIPPN)
3. Etika Publik
Kurangnya penerapan etika publik dalam pelayanan publik
4. Komitmen mutu
ASN sebagai pelayan publik belum sepenuhnya memberikan mutu pelayanan yang
optimal. Hal ini bisa dilihat dari pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya menggunakan
teknologi informasi. Masih sedikit menginput informasi melalui aplikasi SIPPN.
5. Anti Korupsi
Masih tidak adanya kejujuran dalam pelayanan publik. Dengan tidak sepenuhnya
menerapkan pelayanan publik dengan mengunakan SIPPN. Data informasi belum
sepenuhnya diinput di aplikasi tersebut.
B. Dampak Tidak Diterapkannya Nilai Dasar PNS
Apabila tidak terapkannya nilai, pengetahuan, peran PNS dalam pelayanan publik
akan memberikan pelayanan yang sangat buruk. Akan terbentuk birokrasi yang rumit,
lama dan mahal. Sehingga pelayanan publik tidak akan berjalan secara optimal.
Dampak dari tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang
manajemen PNS, antara lain:
1. Lunturnya wawasan kebangsaan dalam diri PNS berakibat pada tidak terwujudnya
cita-cita bangsa ini sesuai amanat Pembukaan dan isi UU 1945. Karena luasnya
wilayah NKRI ibarat pisau bermata dua, baik atau buruk, kelemahan atau kelebihan,
kesimpulannya tergantung dari keberhasilan Pemerintahan dalam mewijudkan cita-
cita bangsa.
2. Kurangnya akuntabilitas dalam konteks transparansi akses informasi mengakibatkan
keterbatasan informas yang dapat diperoleh publik mengenai proses birokrasi. Hal ini
memicu terjadinya penyalahgunaan wewenang, red tape, praktek KKN, sulitnya
pengawasan dari pemerintah pusat ke setiap lembaga dan berbagai patologi birokrasi
lainnya.
3. Rendahnya etika publik dan komitmen mutu menimbulkan sulitnya pemerintahan
berkembang mengikuti zaman yang semakin modern dengan Revolusi Industri 4.0,
karena itulah negara kita hingga saat ini masih disebut sebagai negara berkembang.
Dan entah sampai generasi ke berapa lagi predikat ini tetap kita sandang atau bahkan
akan menurun menjadi negara tertinggal nantinya jika kita tidak mampu
menyesuaikan.
4. Ketidakpahaman akan manajemen ASN dan kurangnya kesadaran bela negara
berdampak pada lalainya ASN dalam memenuhi tupoksi sesuai UU dan secara lebih
lanjut memperngaruhi target dari agenda Nasional “Road Map: Making Indonesia
4.0”.
5. Rendahnya Whole of Government dalam sistem pemerntahan berakibat pada
buruknya sinergi dalam lingkup pertangungjawaban secara vertikal maupun
horizontal.

Soal : Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah berdasarkan


konteks deskripsi kasus.
Gagasan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan penerapan Manajemen ASN
pada Agenda 3 yaitu dalam konteks yaitu Menpan RB meluncurkan aplikasi SIPPN. Aplikasi
SIPPN dapat diakses melalui http://sipp.menpan.go.id/ sebagai wadah informasi pelayanan
publik semua instansi penyelenggara pelayanan publik secara nasional mulai dari
pemerintah daerah, kementrian/lembaga, lembaga non struktural dan BUMN/BUMD. Selain
itu, gagasan yang dapat kita lakukan untuk masalah pelayanan publik kita bisa menggunakan
E-Goverment. E-Government yang merupakan upaya pemerintah dalam
mengimplementasikan pemanfaatan komputer, jaringan komputer dan teknologi informasi
untuk menjalankan pemerintahan terutama pelayanan publik masih sangat minim. Masih
sedikit Kementrian/Lembaga maupun pemerintah daerah yang memanfaatkan teknologi
dalam proses pelayanan publik.
E-Government dapat diterapkan disemua sektor intansi pemerintahan seperti sekolah.
Apabila ASN dalam instansi mengalami kendala seperti kurangnya informasi terhadap
teknologi yang digunakan maka dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan dalam
penggunaan sistem teknologi dan informasi. Sebagai ASN kita harus siap dalam era
digitalisasi. Penerapan pelayanan publik yang prima dapat ditunjang dengan memanfaatkan
teknologi. Teknologi dapat membantu ASN dalam mempercepat pelayanan terhadap
masyarakat. Dengan melakukan inovasi melalui pemanfaatan teknologi diharapkan dapat
mengoptimalkan pelayanan publik kepada masyarakat.

Soal : Mendeskripsikan konsekuensi penerapan dari setiap alternatif gagasan


pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Berdasarkan konsep Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara pada Agenda 1 berupa
sistem administrasi NKRI, dengan Menpan RB meluncurkan aplikasi SIPPN konsekuensinya
adalah dengan SIPPN tersebut pelayanan publik di Indonesia akan saling terintegrasi. Maka
semua informasi terkait pelayanan publik dapat diakses melalui aplikasi SIPPN tersebut,
selain itu SIPPN merupakan wujud pengawasan dan partisipasi masyarakat yang efektif
sehingga tercegahnya penyalahgunaan kewenangan dalam penyelenggaraan pelayanan
publik. untuk mengintegrasikan data pelayanan publik tiap instansi ke aplikasi SIPPN
menjadi salah satu kendala belum efektifnya aplikasi tersebut. Sehingga perlu dilakukan
tambahan peraturan terkait pihak Menpan RB untuk mendorong dan mengingatkan instansi
lain agar pemerintah daerah maupun kementrian/lembaga menginput data informasi
pelayanan publik dimasing-masing instansinya ke aplikasi SIPPN tersebut. Jika semua
lembaga/kementrian sudah melakukan penginputan ke sistem alangkah baiknya untuk
melakukan pemeliharaan sistem atau upgrade kapasitas akses SIPPN agar terhindar dari
masalah kesulitan akses jaringan oleh masyarakat luas.
E-Government memiliki banyak manfaat dalam sistem berdemokrasi yang saat ini
kita terapkan diantaranya meningkatkan kecepatan komunikasi antara pemerintah,
masyarakat, swasta, maupun koordinasi antar instansi yang berbasis internet. Selain itu untuk
mewujudkan pelayanan yang transparan, meningkatkan akuntabilitas dari proses
penyelengaraan pemerintahan, menghemat anggaran pemerintah, serta memudahkan alur
informasi yang dapat diakses secara terbuka guna mewujudkan cita-cita good governance
dan open government pada penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai