Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

MATAKULIAH E-COMERCE

“DAMPAK E-COMERCE DIMASA PANDEMI”

OLEH
SANTA HOT MARIA BERUTU
NIM. 17530181

JURUSAN MANAJEMEN
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI RIAU
PEKANBARU
2021
DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP BISNIS E-COMMERCE

PENDAHULUAN

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) diumumkan WHO (World Health

Organization) pada tanggal 11 Maret 2020. Kejadian Covid-19 yang dilaporkan kepada publik

pertama kali tanggal 31 Januari 2020 di Wuhan, Propinsi Hubei, RRC. Memasuki Minggu ketiga

April 2020 terdapat 170.000 lebih korban yang meninggal, yang sembuh sebanyak 640.000 dari

total yang terkonfirmasi positif sebanyak lebih dari 1,4 juta orang (www.corona.help.com, April

2020).

Alok Bhargavaa dan kawan-kawan (2001) menemukan bahwa angka kelangsungan hidup

yang tinggi akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain Covid-

19 telah mengakibatkan angka kematian (mortality) yang tinggi. Covid-19 telah menimbulkan

economic shock, yang mempengaruhi ekonomi secara perorangan, rumah tangga, perusahaan

mikro, kecil, menengah maupun besar, bahkan mempengaruhi ekonomi negara dengan skala

cakupan dari lokal, nasional, dan bahkan global. Pada awal kebijakan lockdown kota Wuhan dan

pembatasan akses wilayah lainnya di RRC, berdampak pada berkurangnya perayaan Imlek di

Tiongkok, karena penutupan akses transportasi dan kegiatan bisnis yang berdampak pada supply

chain aktivitas bisnis pabrikan, perdagangan dan bahkan jasa di wilayah terdampak dan wilayah

sekitar.

Pada awal penyebarannya, Indeks pasar modal bisa menjadi cerminan merosotnya

aktivitas ekonomi di Tiongkok. Teguh Santoso (2020) menjelaskan bahwa bursa saham Shanghai

Index, TWSE, dan Hangseng menunjukkan nilai negatif dengan indeks yang menurun masing-

masing sebesar minus 7.72%, minus 5,72%, dan minus 2,82%. Merosotnya indeks bursa saham
Tiongkok tersebut lebih rendah dibandingkan pada saat serangan virus SARS pada 2003, yang

mana Shanghai Index dan Hangseng merosot sebesar -3,4% dan -2,58%.

Potensi dampak penyebaran virus corona terhadap industri perbankan pada pertumbuhan

kredit, pendapatan non bunga dan non bunga bank-bank di kawasan Asia Tenggara diperkirakan

bakal melambat Efek lanjutan berupa melambatnya produksi dan konsumsi di RRC sebagai

negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, turut mempengaruhi supply chain dan

perdagangan di belahan dunia lain terutama yang bermitra dalam aktivitas ekspor impor dan

bisnis lainnya.

Indonesia diumumkan terdampak virus oleh Presiden Joko Widodo tanggal 2 Maret 2020,

sekaligus menyebutnya sebagai bencana (disaster). Badan Nasional Penanggulangan Bencana

(BNPB) secara khusus menyebut Covid-19 sebagai bencana non alam (non natural disaster)

dengan skala cakupan nasional. Meski telah terjadi lebih dari satu tahun, namun pandemi Covid-

19 ini belum tampak akan berhenti malah semakin bertambah buruk dimana dibuktikan semakin

bertambahnya jumlah korban jiwa dan penduduk yang terinfeksi virus tersebut dimana total

kasus meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 70.192 kasus.(

https://www.pikiran-rakyat.com)

Hal ini memicu dikeluarkannya keputusan pemerintah menghimbau masyarakat untuk

membatasi kegiatan di luar ruangan, berkerumun, dan menjaga jarak baik dalam bentuk

karantina wilayah, PSBB (Pembatasan Sosial berskala besar) hingga PPKM (Pemberlakuan

Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Berdasarkan pembatasan Pada masa Pandemi Covid-19 saat

ini, masyarakat banyak yang melakukan pembelian melalui situs e-commerce. Asosiasi

Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa terjadi peningkatan signifikan
penggunaan Internet di kalangan masyarakat Indonesia selama masa Pembatasan Sosial Berskala

Besar (PSBB).

Tabel 1.2.

Perilaku Pengguna Internet Indonesia Berdasarkan Konten Komersial yang Sering

Dikunjungi pada masa Pandemi Covid-19

No Jenis Konten Jumlah Pengguna Presentase Total Pengguna

Internet
1 Online shop 82,2 Juta 62,0%
2 Bisnis personal 45,3 Juta 34,2%
3 lainnya 5 juta 3,8%
Sumber: Suvei APJII, 2020

Berdasarkan data pada tabel di atas menunjukkan bahwa konten komersial yang paling

sering dikunjungi pengguna internet pada masa Pandemi Covid-19 adalah online shop (toko

online). Hal ini yang telah menarik berbagai pihak untuk memasarkan produknya melalui e-

commerce. Berkembangnya e-commerce di Indonesia telah merubah beberapa perilaku

konsumen. Contohnya yaitu kebiasaan berbelanja di pusat perbelanjaan atau toko sekarang mulai

beralih dengan menggunakan media online (Harahap dan Amanah, 2018). Selama terkoneksi

dengan internet, konsumen tidak harus mendatangi toko atau tempat perbelanjaan untuk

mendapatkan barang atau jasa yang diinginkannya. Banyaknya perusahaan e-commerce yang ada

di Indonesia, serta beragam jenis layanan yang di tawarkan membuat para konsumen lebih

leluasa dalam memilih toko online mana yang ingin mereka kunjungi.

PEMBAHASAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan perubahan yang

demikian cepat pada bidang sosial, ekonomi dan budaya. Salah satu contoh perkembangan

teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini adalah Internet. Kemudahan memanfaatkan

internet memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup manusia

yang menjadi semakin praktis (Sujana dan Suprapti, 2015). Penggunaan internet tidak hanya

untuk mencari informasi saja, tetapi juga untuk transaksi ekonomi yang disebut dengan e-

commerce. E-commerce adalah kegiatan jual beli barang atau jasa melalui jaringan internet

(Limpo, 2015).

Berkembangnya e-commerce di Indonesia telah merubah beberapa perilaku konsumen.

Contohnya yaitu kebiasaan berbelanja di pusat perbelanjaan atau toko sekarang mulai beralih

dengan menggunakan media online (Harahap dan Amanah, 2018). Selama terkoneksi dengan

internet, konsumen tidak harus mendatangi toko atau tempat perbelanjaan untuk mendapatkan

barang atau jasa yang diinginkannya. Banyaknya perusahaan e-commerce yang ada di Indonesia,

serta beragam jenis layanan yang di tawarkan membuat para konsumen lebih leluasa dalam

memilih toko online mana yang ingin mereka kunjungi.

Jumlah transaksi digital masyarakat Indonesia di masa pandemi COVID-19 meningkat

cukup signifikan. Pandemi COVID-19 telah mendorong percepatan adopsi sistem digital dalam

aktivitas berbelanja. Orang-orang yang sebelumnya telah bertransaksi lewat aplikasi digital

meningkatkan intensitas penggunaannya, sedangkan orang yang sebelumnya belum

menggunakan kini mulai memanfaatkan aplikasi digital untuk memenuhi kebutuhannya.

Pihaknya juga merekam adanya perubahan tren perilaku belanja online. Di masa pandemi,

semakin banyak konsumen yang berbelanja kebutuhan pokok, seperti sembako dan terjadi

lonjakan pembelian peralatan olahraga maupun hobi yang dapat dilakukan di rumah.
Fenomena ini tentu saja menjadi peluang bisnis bagi beberapa pihak yang kemudian

menangkap peluang tersebut dengan menyediakan atau membuat toko online sebagai bagian e-

commerce. Menurut Surawiguna (2010) mendiskripsikan e-commerce sebagai salah satu jenis

dari mekanisme bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai media pertukaran

barang atau jasa. Salah satu jenis e-commerce yang saat ini ini berkembang pesat di Indonesia

adalah ecommerce jenis marketplace. Secara sederhana, marketplace dapat diartikan sebagai

suatu tempat di mana penjual dapat membuat akun dan menjajakan berbagai macam barang yang

akan dijual. Fasilitas yang mendukung jual-beli online juga disediakan secara cuma-cuma oleh

pelaku marketplace. Salah satu keuntungan yang didapat dari berjualan di marketplace yaitu

penjual tidak perlu membuat situs yang memerlukan biaya lebih. E-commerce jenis Marketplace

yang ada di Indonesia antara lain tokopedia.com, bukalapak.com, blibli.com, zalora, lazada,dan

sebagainya.

Tabel 1.1
Data situs e-commerce dengan pengunjung bulanan terbanyak

Sumber : www.iprice.co.id

Pandemi Covid-19 mempengaruhi usaha e-commerce di Indonesia baik dari sisi

pendapatan, voume transaksi, hingga kelancaran pendistribusian barang. Kendati demikian, nilai
total transaksi barang dari situs atau aplikasi digital di Indonesia meningkat. Pertumbuhan

pemesanan e-commerce yang semakin pesat pun terjadi pada bulan Maret 2020, tepatnya setelah

wabah Virus Corona (Covid-19) menyebar di Indonesia. Virus Corona menyebabkan dampak

yang signifikan tehadap perekonomian di negara-negara yang terdampak virus tersebut, termasuk

Indonesia.

Peningkatan belanja digital tersebut terjadi karena masyarakat lebih memilih untuk

membeli kebutuhannya secara online, hal tersebut sejalan dengan pemberlakuan kebijakan

pemerintah yaitu bekerja dari rumah atau work from home (WFH) serta perpanjangan masa

belajar di rumah. Pertumbuhan e-commerce pada kondisi seperti sekarang ini membuka peluang

besar bagi jasa ekspedisi pengiriman barang antar daerah, baik domestik maupun luar negeri

untuk dapat berkontribusi dalam proses pengiriman. Jasa kurir juga berperan penting dalam

menunjang kelancaran bisnis suatu perusahaan yang memerlukan layanan pengiriman secara

cepat dan aman.

Perbandingan Pemesanan E-commerce Setelah Wabah Virus Corona

Pada situasi terkait penyebaran Virus Corona seperti sekarang ini, sejumlah pemerintah

daerah membuat kebijakan untuk meminimalisasi kegiatan yang melibatkan orang banyak, salah

satunya adalah imbauan bagi para pengusaha untuk menutup kegiatan perkantoran dan

memberlakukan WFH.

Perusahaan perusahaan e-commerce di Indonesia membukukan kenaikan volume

penjualan dengan semakin banyaknya masyarakat yang menerapkan physical distancing di

tengah wabah Covid-19. Sebelum toko-toko yang menjual barang non-pokok ditutup, sudah

banyak masyarakat yang lebih memilih untuk belanja online seiring dengan peningkatan jumlah
kasus Covid-19. Berikut beberapa kinerja dan transaksi yang dibukukan ecommerce selama masa

pandemic

E-commerce sebenarnya sudah mampu menarik banyak konsumen di Indonesia bahkan

sebelum terjadinya wabah Covid-19. E-commerce juga merupakan salah satu pendorong utama

yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia

Tenggara mencapai $40 miliar pada tahun 2019 dan dipresiksi meningkat hingga $130 miliar

pada tahun 2025. Dengan semakin banyaknya toko retail dan konsumen yang terpaksa beralih ke

e-commerce, pertumbuhannya dapat ditingkatkan lebih jauh. “Sebelum Covid-19, e-commerce

hanyalah sebuah pilihan. Namun untuk sekarang, penting sekali bagi toko retail dan produsen

untuk menjual produk melalui platform e-commerce agar mampu mempertahankan bisnis

mereka. Hal ini akan memberikan dampak jangka panjang yang positif karena konsumen akan

semakin terbiasa berbelanja secara online,

Walaupun saat ini kegiatan jual beli online dinilai menjadi solusi terbaik yang dapat

dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran konsumen dan juga mencegah risiko

penularan antar manusia, tentu ada peraturan khusus dan tindakan preventif yang

diberlakukan oleh perusahaan-perusahaan pengiriman barang dalam kondisi pandemi

seperti ini.

Tindakan preventif itu dilakukan sebagai upaya agar pengiriman barang dari transaksi

jual beli online tidak terganggu dengan adanya pandemi. Beberapa langkah preventif

tersebut di antaranya adalah dengan mewajibkan para karyawan untuk menggunakan

masker dan sarung tangan baik saat menyortir barang, pengambilan barang, hingga

pengantaran serta selalu melakukan pengecekan suhu tubuh seluruh karyawan.


Daftar Pustaka

https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-012224832/covid-19-makin-menggila-jumlah-

korban-tewas-di-indonesia-tembus-70000-orang)