Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun Oleh :
Akmal Milang, S.Pd.I
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya

dengan impahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas

penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ( PTK ) dengan judul “ Meningkatkan

Minat Belajar Dan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Budi

Pekerti Materi Hikmah Beriman Kepada Hari Akhir Melalui Media Pembelajaran

Interkatif Pada Siswa Kelas VI SDN 002 Merapun”.

Proposal penelitian tindakan kelas ini kami susun untuk memenuhi salah satu

tugas PPG PAI 2021 di IAIN Samarinda.

Dalam penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ini penulis banyak

mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih

dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu

sehingga penulisan ini selesai.

Penulis menyadari bahwa penyusunan proposal penelitian tindakan kelas ini

jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari

semua pihak selalu penulis harapkan.

Penulis,

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................ i

Daftar Isi ......................................................................................................................... ii

Bab I : Pendahuluan ................................................................................................... 3

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 3

B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 5

C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5

D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 5

Bab II : Kajian Pustaka ............................................................................................... 7

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ................................................... 7

B. Media Pembelajaran................................................................................ 10

C. Kerangka Berpikir ................................................................................... 15

D. Hipotesis ................................................................................................. 15

Bab III : Metedologi Penelitian .................................................................................. 16

A. Setting Penelitian .................................................................................... 16

B. Subjek Penelitian .................................................................................... 16

C. Data dan Sumber Data ............................................................................ 16

D. Teknik Pengumpulan Data...................................................................... 16

E. Validitas Data.......................................................................................... 17

F. Teknik Analisis Data............................................................................... 18

G. Prosedur Penelitian ................................................................................. 19

Daftar Pustaka .............................................................................................................. 20

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional

Pendidikan dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Standar kelulusan (SKL)

dan pelaksanaannya memberikan amanat kepada kita untuk selalu mewujudkan

peningkatan kualitas pendidikan. Guru sebagai pelaku pendidikan yang langsung

menangani proses belajar mengajar di sekolah berupaya mengembangkan strategi

pembelajaran untuk mencetak lulusan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Guru

berperan sebagai perencana, pelaksana, dan penilai dalam proses pembelajaran.

Selain itu guru juga berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam tugasnya

sebagai pengajar, pendidik / pembimbing, dan pelatih bagi siswanya untuk

menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari semua pelajaran yang

diajarkan.

Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara

yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian melalui pendidikan

diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun masyarakat,

serta mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional.

Untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional tersebut, telah ditempuh

berbagai upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir mencakup seluruh

komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan kualitas

3
guru, proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, serta usaha lainnya yang

berkaitan dengan kualitas pendidikan.

Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar yaitu dari guru

yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses

pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus

menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran harus

menantang, mendorong eksplorasi memberi pengalaman sukses, dan

mengembangkan kecakapan berpikir siswa (Dimyati, 2006:116).

Penggunaan media dan metode pembelajaran yang dipilih guru merupakan

salah satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik (2001:32) juga

menyatakan bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara

guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran, di sekolah perlu

digunakan metode dan teknik pembelajaran yang tepat”.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas

pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi belajar yang

aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan siswa dengan

media pembelajaran yang tepat.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan media belum

sepenuhnya diterapkan secara optimal. Akibatnya keaktifan, partisipasi, dan

prestasi belajar siswa menjadi rendah.

Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran dalam mata pelajaran PAI Kelas VI

SDN 002 Merapun Kecamatan Kelay Kabupaten Berau pada Materi “Hikmah

Beriman Kepada Hari Akhir” menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan

4
selama ini belum mencapai hasil yang maksimal. Hasil prestasi siswa melalui

penugasan masih di bawah KKM.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan

suatu masalah sebagai berikut :

- Apakah pembelajaran melalui media pembelajaran interaktif dapat

meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar pada siswa kelas VI SDN 002

Merapun dalam Mata pelajaran PAI Materi “Hikmah Beriman Kepada hari

Akhir”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk :

1. Tujuan Umum

Untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan minat serta prestasi belajar siswa

melalui penggunaan Materi Pembelajaran Interaktif dalam penyajian materi

pembelajaran.

D. Manfaat Penelitian

a. Siswa

5
1. Membangkitkan minat belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Budi Pekerti;

2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi Hikmah

Beriman Kepada Hari Akhir;

3. Meningkatkan prestasi hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Budi Pekerti.

b. Guru

1. Memperbaiki kekurangan atau kelemahan guru dalam kegiatan

pembelajaran;

2. Memperoleh alternatif pemecahan masalah dalam suatu pembelajaran;

3. Membantu guru dalam melakukan perbaikan pembelajaran pada mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

c. Sekolah

1. Prestasi hasil belajar siswa yang lebih meningkat,

2. Menambah referensi tentang PTK di perpustakaan sekolah.

6
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pengertian pembelajaran berbeda dengan istilah pengajaran, perbedaannya

terletak pada orientasi subjek yang difokuskan, dalam istilah pengajaran guru

merupakan subjek yang lebih berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar,

sedangkan pembelajaran memfokuskan pada peserta didik.

Untuk memahami hakikat pembelajaran dapat dilihat dari dua segi, yaitu

dari segi bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis). Secara bahasa, kata

pembelajaran merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, instruction yang

bermakna sederhana “upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang,

melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke

arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan”. 1

Secara terminologis, Assocation for educational Communication and

Technology (AECT) mengemukakan bahwa pembelajaran (instructional)

merupakan suatu sistem yang didalamnya terdiri dari komponen-komponen sistem

instruksional, yaitu komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar atau

lingkungan.2 Dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan sebuah sistem,

yaitu suatu totalitas yang melibatkan berbagai komponen yang saling berinteraksi.

Untuk mencapai interaksi pembelajaran, sudah tentu perlu adanya komunikasi yang

jelas antara guru dan siswa, sehingga akan terpadu dua kegiatan, yaitu tindakan

penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar (usaha guru) dan


1
Abdul Majid, “Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, (Bandung:
Rosdakarya, 2012), 270.
2
Ibid, 269.

7
tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar (usaha siswa) yang

berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru

secara terpadu dalam desain instruksional (instructional design) untuk membuat

siswa atau peserta didik belajar secara aktif (student active learning), yang

menekankan pada penyediaan pada sumber belajar.3 Beberapa ahli merumuskan

pengertian pembelajaran sebagai berikut;

1) Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran adalah membelajarkan siswa

menggunakan azas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu

utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi

dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan

belajar dilakukan oleh peserta didik.4

2) Menurut Corey, pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang

secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi

khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.5

3) Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun

meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur

yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang

terlibat dalam sistem pembelajaran terdiri atas siswa, guru dan tenaga lainnya,

misalnya tenaga laboratorium. Materil meliputi buku-buku, papan tulis,

fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri

dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi

3
Heri Gunawan, “Pendidikan Islam, Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh”, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2014), 116.
4
Ramayulis, “Ilmu Pendidikan Islam” , (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), 338.
5
Ibid, 339.

8
jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan

sebagainya.6

Dari asumsi para ahli mengenai pengertian pembelajaran, Syaiful Sagala

dan Oemar Hamalik lebih mengartikan pembelajaran sebagai aktivitas yang tidak

hanya didominasi oleh pendidik saja, ataupun sebaliknya, namun keduanya

memiliki peran yang sama pentingnya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sedangkan Corey lebih memandang pembelajaran sebagai proses penyampaian

pengetahuan (transfer of knowledge) sehingga mengutamakan pengelolaan

lingkungan agar peserta didik dapat menghasilkan respons yang baik berupa

penerimaan informasi secara maksimal.

Menurut Dzakiyah Darajat, pendidikan agama Islam adalah suatu usaha

untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami

kandungan ajaran Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada

akhirnya dapat mengamalkan dan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.7

Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan

agama Islam adalah upaya untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada peserta

didik melalui bimbingan dan pelatihan yang telah direncanakan agar peserta didik

dapat menggunakannya baik sebagai pola pikirnya maupun landasan hidupnya

dengan menjadikan Ibadah sebagai orientasi tujuannya.

Sedangkan makna pembelajaran Pendidikan Agama Islam menurut

Muhaimin adalah suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar,

terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus-menerus mempelajari agama

Islam, baik untuk mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun

6
Ibid.
7
Majid, op.cit., 12.

9
mempelajari Islam sebagai pengetahuan.8 Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

dapat mengaktualisasikan apa yang terdapat dalam kurikulum agama Islam sebagai

kebutuhan peserta didik secara menyeluruh yang mengakibatkan beberapa

perubahan tingkah laku peserta didik baik dalam ranah kognitif, afektif maupun

psikomotor.

Dari penjelasan mengenai pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam

penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat

diartikan sebagai usaha yang terencana untuk menciptakan suasana belajar bagi

peserta didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, yang dengan

pengembangan pengetahuan itu maka mereka akan mengalami perubahan tingkah

laku menuju arah yang lebih baik sesuai tuntunan Al Qur‟an dan sunnah untuk

dapat bermuamalah dengan masyarakat maupun dengan Khalik (habl min Allah wa

habl min al-Nas).

B. Media Pembelajaran

1. Pengertian

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak kata

medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah

perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. (Arif S.

Sadiman, dkk., 1990: 6). Umar Suwito (Suharsimi Arikunto, 1993: 45)

memberi batasan media pembelajaran sebagai berikut: media pembelajaran

adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk mencapai

tujuan. Azhar Arsyad (2002: 4) menyatakan bahwa media pembelajaran

8
Muhaimin, “Paradigma Pendidikan Islam”, (Bandung: Rosdakarya, 2002), 183.

10
meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi

pengajaran. R. Angkowo dan A. Kosasih (2007: 10) menyatakan bahwa media

adalah segala sesuatu yang dapat di gunakan untuk menyalurkan pesan,

merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat

terdorong terlibat dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media

pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk membangun

komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dan proses belajar mengajar.

2. Jenis-jenis

Nana Sujana dan Ahmad Rivai (2002: 3-4) mengemukakan ada beberapa

jenis media pengajaran yang biasa digunakan dalam proses belajar mengajar,

yaitu:

a. Media Grafis

Media grafis termasuk media visual sebagaimana halnya media yang lain

media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima

pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan dan pesan yang

akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.

Contoh media grafis adalah gambar, foto dan grafik.9

b. Media Tiga Dimensi

Media tiga dimensi adalah media dalam bentuk model seperti: Model

penampang dan model susun.

c. Model proyeksi seperti: slide, film strips dan penggunaan OHP.

d. Penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.

9
Arif S. Sadiman, dkk, “Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannaya”,
(Jakarta: CV. Rajawali.1990),28

11
3. Kriteria Pemilihan Media

Media pembelajaran merupakan salah satu sarana untuk membantu

meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Kriteria pemilihan media

harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan

keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya

(karakteristik) media yang bersangkutan. Dalam hubungan ini Dick dan Carey

menyebutkan bahwa di samping kesesuaian dengan tujuan perilaku

dipertimbangkan dalam pemilihan media, yaitu:10

a. Ketersediaan sumber setempat, artinya bila media yang bersangkutan tidak

terdapat pada sumber-sumber yang ada, maka harus dibeli atau dibuat

sendiri.

b. Ketersediaan dana, tenaga dan fasilitasnya.

c. Faktor yang menyangkut keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media

yang bersangkutan untuk waktu yang lama.

d. Efektivitas biayanya dalam jangka waktu yang panjang.

Adapun menurut Azhar Arsyad (2002: 8) kriteria pemilihan media

adalah:

a. Sesuai dengan tujuan yang dicapai media dipilih berdasarkan tujuan

instruksional yang telah ditetapkan dan secara umum mengacu kepada salah

satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

b. Tempat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip

atau generalisasi.

c. Praktis, luwes, dan bertahan lama

10
Arif S. Sadiman, dkk, “Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatannaya”, (Jakarta: CV. Rajawali.1990),86

12
d. Guru terampil menggunakannya.

e. Pengelompokan sasaran, kesesuaian dengan sarana belajar yaitu

karakteristik atau kondisi anak dan tujuan pembelajaran.

f. Mutu teknis yaitu kesesuaian antara situasi dan kondisi anak.

Menurut Nana Sujana dan Rivai (2002: 4-5) dalam memilih media

pembelajaran harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Ketepatan dengan tujuan pengajaran artinya media pengajaran dipilih atas

dasar tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

b. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran artinya bahan pelajaran yang

sifatnya fakta, prinsip konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan

media agar mudah dipahami anak.

c. Kemudahan memperoleh media artinya media yang diperlukan mudah

diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.

d. Ketrampilan guru dalam menggunakannya artinya apa pun jenis media yang

diperlukan, syarat utama guru harus dapat menggunakannya dalam proses

pengajaran. Nilai dan manfaat bukan pada medianya tetapi dampak

penggunaannya oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa

dengan lingkungannya.

e. Tersedia waktu untuk menggunakannya artinya media tersebut dapat

bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

f. Sesuai dengan taraf berpikir siswa artinya makna yang terkandung

didalamnya dapat dipahami oleh siswa.

4. Manfaat Media Pembelajaran

13
Manfaat media adalah sebagai alat bantu mengajar yang ditata oleh guru

dan dapat mempengaruhi untuk kemudahan anak dalam menerima pelajaran

(Azhar Arsyad, 1996: 15). Dengan demikian media adalah suatu alat untuk

memudahkan anak dalam mengikuti pelajaran supaya lebih jelas dan memahami

apa yang dipelajari.

5. Media Pembelajaran Interaktif

Media interaktif adalah metode komunikasi di mana output dari media

berasal dari masukan dari pengguna. Media interaktif yang bekerja dengan

pengguna partisipasi. Media masih memiliki tujuan yang sama tapi masukan

pengguna menambahkan interaksi dan membawa fitur-fitur menarik untuk

sistem untuk kenikmatan yang lebih baik. Berdasarkan penjelasan pada jenis-

jenis media pembelajaran, bahwa Seels & Glasgow (dalam Arsyad,2002:33)

mengelompokkan media interaktif merupakan kelompok pilihan media

teknologi mutakhir. Media teknologi mutakhir sendiri dibedakan menjadi (1)

media berbasis telekomunikasi, misalkan teleconference, kuliah jarak jauh, dan

(2) media berbasis mikroprosesor, misalkan computer-assistted instruction,

permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia, dan compact

(video) disc.

14
C. Kerangka Pikir

D. Hipotesis

Berdasarkan teori-teori dan kerangka berpikir sebagaimana telah diuraikan

di atas maka berikut ini dapat dijadikan hipotesis dirumuskan sebagai berikut

“Melalui media pembelajaran interaktif, kemampuan menguasai materi Hikmah

Beriman Kepada Hari Akhir Siswa Kelas VI SDN 002 Merapun tahun pelajaran

2021/2022 dapat meningkat".

15
BAB III

METEDOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SDN 002 Merapun Kecamatan Kelay

Kabupaten Berau. Adapun alasan penulis memilih lokasi ini karena penulis

bekerja di sekolah ini sehingga memudahkan penulis dalam mencari data,

waktu lebih efisien dan subjek penelitian yang sesuai dengan profesi penulis.

2. Waktu Penelitian

Penelitian akan menggunakan waktu selama 4 minggu atau 1 bulan Yaitu

pada bulan Agustus 2021. Waktu ini adalah dari proses perencanaan sampai

penulisan laporan pada tahun pelajaran 2021/2022.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN 002 Merapun Kecamatan

Kelay Kabupaten Berau.

C. Data dan Sumber Data

Sumber data dari informan atau nara sumber, Asip, Hasil pengamatan,

dan Hasil tes.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi (Pengamatan)

16
Menurut Widoyoko (2014:46) observasi merupakan “pengamatan dan

pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu

gejala pada objek penelitian”.

Pada tahapan ini, pengamatan dilakukan terhadap perubahan yang

dialami subjek baik sebelum dan sesudah pembelajaran.

2. Metode Tes

Dalam penelitian ini metode tes digunakan sebagai alat untuk

memperoleh data dengan menguji kemampuan siswa sebelum diberi tindakan

pembelajaran. Melalui metode tes tersebut digunakan untuk menguji sejauh

mana perbandingan siswa mengalami perubahan tingkah laku serta prestasi

sebelum diberi tindakan dan sesudah diberi tindakan pembelajaran

E. Validitas Data

a. Triangulasi data (sumber)

b. Triangulasi metode

Analisis data hubungan interaksi antara unsur-unsur kerja analisis

tersebut dapat divisualisasikan dalam bentuk diagram sebagai berikut :

17
F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, analisis data dimulai sejak awal sampai akhir

pengumpulan data. Data yang diperoleh dari perhitungan presentasi dari hasil

penilaian observasi pada saat tindakan dilakukan. Hasil observasi tersebut

kemudian dianalisis terhadap indikator penggunaan peningkatan prestasi belajar

siswa.

Data dalam penelitian ini diperoleh mulai observasi langsung pada objek

penelitian untuk mengungkapkan sejauh mana peningkatan minat dan prestasi

belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Observasi langsung dilaksanakan

pada kondisi awal pembelajaran di dalam kelas dan pada saat digunakan tindakan

kelas. Tujuan analisis dalam penelitian tindakan kelas untuk memperoleh data

kepastian apakah terjadi perbaikan, peningkatan sebagaimana diharapkan. Analisis

18
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif teknik

persentase.

Analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif. Perhitungan dalam proses

analisis data menghasilkan persentase pencapaian yang selanjutnya.

G. Prosedur Penelitian

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran PAI di kelas VI dalam tiga siklus yang

masing-masing melalui empat tahapan yaitu, (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)

observasi, (4) refleksi. Adapun skema siklus tersebut digambarkan sebagai berikut:

DAFTAR PUSTAKA

19
Ahmadi, dkk. (2011). Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publiaher.

Achmad. Sugandi. (2000). Teori Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Alwi, Syafaruddin. (2001), Manajemen Sumber Daya Manusia, Strategi


Keunggulan Kompetitif, Badan Penerbit Fakultas Ekonomi,

Yogyakarta. Arikunto, (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Bumi

Asih.

BNSP. (2006). Kurikulum Keputusan Menteri Tentang Standar Kompetensi


Dasar. Jakarta, Depdiknas.

Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Dimyanti. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati & Mudjiono, (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah & Zain. (2006). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah. (2002). Rahasia Sukses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.


Hamdani, (2011). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pustaka Setia.
Ibrahim, Muslimin, dkk. (2002). ”Pembelajaran Kooperatif”. Surabaya :
University Press.

Iskandar. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Referensi.

Istarani, (2011). Model Pembelajaran Inovatif (Referensi Guru

Dalam
Menentukan Model Pembelajaran). Medan: Media Persada.

Joyce, Bruce and Weil, Marsha. (1980). Models of Teaching (Second Edition).
Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2005). Jakarta:

Depdiknas.

Komalasari, Kokom. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi

20