Anda di halaman 1dari 6

Pokok Bahasan: Risiko Likuiditas pada Bank Syariah.

1. Pengertian Likuiditas
Menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/25/2009, pengertian risiko likuiditas
adalah risiko bank akibat ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban bank yang telah jatuh
tempo dari pendanaan arus kas dan atau aset yang likuid tanpa menggangu aktivas bank
sehari-hari.
Pengertian Risiko Likuiditas lainnya:
1. Risiko likuiditas adalah risiko yang diakibatkan ketidakmampuan bank untuk
memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari
aset likuid yang berkualitas tinggi yang dapat diagunkan tanpa mengganggu akktivitas
dan kondisi keuangan bank. (Zaini, 2016, hal. 345)
2. Menurut Adiwarman A. Karim, risiko liabilitas adalah risiko yang antar lain disebabkan
oleh ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh
tempo. (Karim, 2010, hal. 275)
3. Dari literatur yang lain, risiko Likuiditas, adalah risiko yang timbul akibat
ketidakmampuan bank untuk membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo (funding
liquidity risk) atau karena suatu transaksi tidak dapat dilaksanakan pada harga pasar
yang terjadi (asset liquidity risk). (Ramadiyah, 2014, hal. 230).

Jadi dapat disimpulkan bahwa risiko likuiditas adalah risiko yang timbul akibat
ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban baik kewajiban jangka pendek
maupun kewajiban jangka panjang pada waktu yang telah di tentukan tanpa
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam likuiditas terdapat dua resiko yaitu resiko ketika bank kelebihan dana dimana
dana yang ada dalam bank banyak yang idle, hal ini akan menimbulkan pengorbanan tingkat
bunga yang tinggi. Kedua, resiko ketika bank kekurangan dana, akibatnya dana yang tersedia
untuk mencukupi kebutuhan kewajiban jangka pendek tidak ada.
Bank dapat dikatakan likuid apabila bank memiliki sejumlah likuiditas dan/atau
memegang alat-alat likuid, cash assets (uang kas, rekening pada bank sentral dan bank
lainnya) sama dengan jumlah kebutuhan likuiditas yang diperkirakan, memiliki likuiditas
kurang dari kebutuhan, dan memiliki kemampuan untuk memperoleh likuiditas dengan cara
menciptakan uang.
Risiko likuiditas dapat melekat pada aktivitas fungsional perkreditan (penyediaan
dana), aktivitas treasury dan investasi dan kegiatan hubungan koresponden dengan bank lain.
Adapun beberapa contoh dari risiko likuiditas antara lain:
(1) Bank tidak mampu memenuhi penarikan kredit oleh nasabah karena dana yang tersedia
tidak mencukupi, hal ini terjadi karena umumnya sumber pendanaan pada sisi liabilties
berjangka waktu lebih pendek daripada pembiayaan pada sisi asset.
(2) Bank mengalami kalah kliring dan tidak dapat memenuhi kekurangan dana di Bank
Indonesia,
(3) Bank tidak dapat memenuhi permintaan penarikan dana masyarakat yang terjadi secara
tiba-tiba,
(4) Bank tidak dapat memperoleh pinjaman dari bank lain pada saat bank memerlukan
likuiditas.
2. Tujuan Manajemen Risiko Likuiditas
Tujuan dari manajemen resiko likuiditas adalah memelihara kecukupan likuiditas
bank sehingga setiap waktu mampu memenuhi kewajiban bank yang jatuh tempo, menjaga
tingkat kepercayaan nasabah terhadap sistem perbankan, menjaga kecukupan likuiditas bank
untuk mendukung aset bank berkelanjutan (Rianto, 2013: 250) dan menjaga likuiditas bank
pada tingkat yang optimal sehingga biaya atas pengelolaan likuiditas berada dalam batas yang
dapat ditoleransi.
Likuiditas yang tersedia harus cukup, tidak boleh terlalu kecil sehingga mengganggu
kebutuhan operasional sehari-hari, tapi juga tidak boleh terlalu besar karena akan
menurunkan efisiensi dan berdampak rendahnya tingkat profitabilitas. Dalam rangka
melaksanakan fungsi pengendalian resiko likuiditas bank harus menerapkan fungsi Assets
and Liability Management (ALMA) (Arifin, 2013:245)
Beberapa faktor yang menyebabkan bank syariah juga menghadapi resiko likuiditas,
baik faktor internal maupun eksternal antara lain:
1.      Turunnya kepercayaan nasabah terhadap sistem perbankan, khususnya perbankan
syariah.
2.      Kebergantungan pada sekelompok deposan.
3.      Keterbatasan instrumen keuangan untuk solusi likuiditas.
4.      Mismatching antara dana jangka pendek dengan pembiayaan jangka panjang.
5.     Bagi hasil antar bank kurang menarik karena financial settlement nya harus menunggu
selesai perhitungan cash basis pendapatan bank yang biasanya baru terlaksana pada
akhir bulan.
6.       Pasar keuangan dan deposan yang sensitif.
7. Guncangan ekonomi eksternal dan insternal.
8. Kinerja ekonomi rendah atau lambat
9. Faktor nonekonomi (kerusuhan politik dan lain-lain).
Sistem bunga yang digunakan bank konvensional berbeda dengan sistem bagi hasil
yang digunakan bank syariah. Pada bank konvensional bunga harus dibayarkan meskipun
bank mengalami kerugian akibat kegiatan bisnisnya dan apa bila kelangkaan likuiditas yang
terjadi pada perbankan memaksa bank untuk menghimpun dana dari masyarakat melalui
peningkatan suku bunga deposit. Akan tetapi, dengan naiknya suku bunga, hal ini
menyebabkan naiknya suku bunga pinjaman. Akibatnya kredit bermasalah pun muncul akibat
kreditor tidak sanggup membayar hutang dan bank mengalami kerugian akibat hal ini.
Berbeda dengan sistem bagi hasil dimana setiap memperoleh keuntungan dari usaha yang
dilakukan, dan juga saat memperoleh kerugian, maka anatara nasabah dan bank sama-sama
saling berbagi baik keuntungan maupun kerugian. Hal ini menyebabkan bank konvensional
lebih berisiko dari pada bank syariah.
Bank indonesia sampai saat ini telah pula menyediakan beberapa instrument
managemen likuiditas yang dapat dipilih oleh lembaga perbankan syariah untuk mengelola
risiko likuiditas, diantaranya sertifikat bank indonesia syariah (sbis), deposito antar bank
syariah, sertifikat mudhorobah antar bank syariah (sima), fasilitas bank indonesia syariah
(fasbis), fasilitas pembiayaan jangka pendek bagi bank syariah (fpjps), dan fasilitas likuiditas
intrahari bagi bank umum berdasarkan prinsip syariah (flis).
Resiko kredit dan resiko likuiditas merupakan resiko yang paling fundamental dalam
industri perbankan. Disebut fundamental karena pemicu utama kebangkrutan yang dialami
oleh bank. Oleh karena itu jika suatu bank tidak bisa mengatasi masalah fundamental
tersebut. Sudah dipastikan bank tersebut akan kehilangan nasabahnya

3. Identifikasi Risiko Likuiditas


Risiko likuiditas dapat dideteksi melalui proyeksi arus kas dimasa mendatang. Dengan
pendekatan ini, sumber likuiditas bukan posisi aset atau kewajiban itu sendiri, tetapi arus kas
yang ditimbulkan dari posisi aset dan kewajiban, misalnya pembayaran atau pelunasan kredit
sebagai proyeksi arus kas masuk, dan penarikan kredit atau pembayaran pinjaman apada bank
lain sebagai proyeksi arus kas keluar. Dengan menetapkan proyeksi arus kas pada periode
waktu tertentu, maka akan diperoleh proyeksi arus kas masuk dan keluar, yang dapat
menggambarkan sumber risiko likuiditas bank metode ini disebut dengan liquidity gab yang
dapat digunakan untuk mengukur risiko likuiditas.  (Hayati, 2017, p. 42-43)
4. Pengukuran Risiko Likuiditas
Secara umum, pengukuran risiko likuiditas dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Metode pengukuran berdasarkan Ukuran Nominal (Stock Based) ; yaitu
menggunakan berbagai macam rasio keuangan sebagai indikator tingkat risiko likuiditas.
BankIndonesia, melalui Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei
2004 tentang “Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum” telah memberikan
acuan kepada industri perbankan Indonesia dalam melakukan pengukuran risiko
likuiditas dengan menggunakan metode Stock Based.

Metode pengukuran stock based menggunakan berbagai macam rasio keuangan sebagai
indikator tingkat risiko likuiditas, antara lain :
a. Aset likuid primer dan aset likuid sekunder : total aset

 Aset likuid primer adalah aset yang sangat likuid yang terdiri dari kas, surat berharga
Bank Indonesia, obligasi pemerintah jangka pendek dan likuid.
 Aset likuid sekunder adalah aset yang kurang likuid seperti :
 Obligasi pemerintah kategori AFS jangka panjang 1 – 5 tahun dan likuid, atau
kategori HTM (Hold to Maturity ) jangka pendek dibawah satu tahun.
 Obligasi pemerintah kategori trading dengan jangka waktu lebih dari 5 tahun,
dengan haircut 25%.
b. Aset likuid primer dan aset likuid sekunder : Pendanaan jangka pendek
Rasio ini mengukur jumlah aset likuid dibandingkan dengan sumber dana jangka pendek.
Rasio di atas 100% dinilai memadai. Pendanaan jangka pendek adalah DPK jangka
waktu di bawah setahun, giro, dan tabungan
c. Aset likuid primer dan aset likuid sekunder : Pendanaan non inti
Pendanaan non inti adalah pendanaan yang dinilai tidak stabil seperti : dana relatif besar
di atas Rp2 miliar, transaksi antarbank, dan pinjaman dari bank lain.

d. Aset likuid primer : Pendanaan non inti jangka pendek


Pendanaan non inti jangka pendek adalah yang mempunyai jangka waktu dibawah satu
tahun.
e. Pendanaan non inti : Total pendanaan
Total pendanaan adalah seluruh dana pihak ketiga dan pinjaman dari pihak lain.
f. Pendanaan non inti-aset likuid : (Total aset produktif – aset likuid)
Digunakan untuk menilai ketergantungan bank dari dana non – inti.

2. Metode Flow based: Pengukuran risiko likuiditas berdasarkan pada neraca bank pada
tanggal tertentu menurut maturity profile pos-pos on dan off balance sheet ditambah
dengan perkiraan arus kas akibat adanya berbagai rencana kegiatan usaha berdasarkan
proyeksi dari unit bisnis. Metode pengukuran flow based menggunakan (liquidity gap
analysis). Gap atau kesenjangan yang dimaksud selisih antara posisi aset dan kewajiban
pada posisi jangka waktu tertentu. Contoh analisa liquidity gap dengan
menggunakan maturity bucket adalah pada tabel berikut ( dalam miliar rupiah).

Dari tabel di atas terlihat terjadi risiko likuditas yang besar pada periode 0-3 bulan kedepan ,
sebesar 350 miliar.
5. Pengendalian Risiko Likuiditas
Dalam pengelolaan likuiditas, bank harus memastikan memiliki kecukupan likuiditas
untuk memenuhi penarikan yang terjadwal maupun tidak terjadwal dalam kondisi normal dan
tidak normal. Untuk mengelola likuiditas, bank melakukan proses identifikasi, pengukuran,
monitoring dan control.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan risiko likuiditas:
1. Menetapkan corporate governance secara efektif melalui pengawasan aktif direksi dalam
melakukan control terhadap risiko likuiditas.
2. Menetapkan strategi, kebijakan, prosedur, dan limit untuk mengelola serta melakukan
mitigasi risiko likuiditas.
3. Memiliki pengukuran risiko likuiditas yang komprehensif dan sistem monitoring (termasuk
penilaian atas arus kas saat ini dan di masa depan, termasuk analisis sumber dan
penggunaan dana, sesuai dengan kompleksitas usaha bank.
4. Pengelolaan likuiditas intra-day secara aktif.
5. Mengupayakan diversifikasi sumeber pendanaan.
6. Memelihara sejumlah marketable securities yang likuid.
7. Memiliki Contingency Funding Plans yang diperlukan pada saat kondisi krisis.
8. Memiliki internal control dan internal audit yang memadai untuk menentukan kecukupan
proses pengelolaan risiko likuiditas.
Bank harus memiliki pengendalian internal yang memadai atas proses manajemen
risiko likuiditas yang harus menjadi bagian dari keseluruhan sistem pengendalian internal.
Sebuah sistem yang efektif akan menciptakan lingkungan pengendalian yang kuat dan
memiliki proses yang memadai untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko likuiditas.
Seharusnya sistem informasi yang memadai yang dapat menghasilkan laporan yang
independen dan evaluasi berkala untuk meninjau kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur.
Fungsi audi internal juga harus secara berkala meninjau proses manajemen likuiditas untuk
mengidentifikasi masalah atau kelemahan untuk tindakan yang tepat oleh manajemen. 
Untuk melakukan pengendalian dan mitigasi risiko likuiditas yang terdapat beberapa
hal yang seharusnya dilakukan bank islam diantaranya bank islam melakukan diversifikasi
atas sumber pendanaan yang digunakan untuk mendanai berbagai pembiayaan yang
disalurkan kepada masyarakat. Diversifikasi tersebut mencakup berbagai jenis produk
simpanan dana pihak ketiga dengan jangka waktu bervariasi. Sebaliknya, kosentrasi
pendanaan yang hanya pada satu produk simpanan saja sebaiknya dihindari karena akan
meningkatkan risiko likuiditas bagi sebuah bank.  Untuk memenuhi kabutuhan likuiditas
jangka pendek, bank islam dapat menggunakan beberapa skema pendanaan jangka pendek.
Misalnya dengan kontrak skema mudharabah jangka pendek antar bank islam. Kekurangan
likuiditas dapat ditutupi dengan cara mencari dana likuid dari bank islan lainnya diaman
keduanya bertransaksi dengan akad mudharabah jangka pendek. Dengan demikian bank
islam dapat segera menutupi kekurangan likuiditas yang terjadi.
Terima kasih,wasssalam