Anda di halaman 1dari 8

Memahami dan menguasai ketentuan khiyar dalam pandangan

hukum Islam

1. Menganalisis pengertian, rukun, dan syarat khiyar


2. Menganalisis cara menggugurkan dan sebab-sebab
berakhirnya khiyar
3. Menganalisis manfaat dan hikmah khiyar
4. Menganalisis hak khiyar dalam jual beli online

1. Pengertian, rukun, dan syarat khiyar


2. Cara menggugurkan dan sebab-sebab berakhirnya
khiyar
3. Manfaat dan hikmah khiyar
4. Hak khiyar dalam jual beli online

1
URAIAN MATERI

A. Khiyar dalam Jual Beli


1. Pengertian Khiyar
Khiyar, menurut bahasa artinya “memilih yang terbaik”. Sedangkan pengertian
khiyar menurut istilah syara’ adalah penjual dan pembeli boleh memilih antara
meneruskan atau mengurungkan jual belinya. Dalam pengertian lain, khiyar adalah
hak yang dimiliki oleh orang yang melakukan transaksi untuk meneruskan atau
membatalkannya sesuai kondisi orang yang bertransaksi masing-masing.
Dalam bisnis, khiyar merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dan juga
dipahami, baik oleh penjual maupun pembeli. Khiyar dalam konteks jual beli bisa
memiliki beberapa maksud. Hal ini di antaranya adalah hak memilih yang diberikan
kepada dua belah pihak (penjual dan pembeli). Penjual dan pembeli memiliki hak yang
sama untuk melangsungkan jual beli serta mengikuti syarat-syarat jual beli.
Tujuan adanya khiyar adalah agar kedua belah pihak (penjual ataupun pembeli)
tidak akan mengalami kerugian atau penyesalan setelah transaksi yang diakibatkan
dari sebab-sebab tertentu dari proses jual beli yang dilakukan. Atau hal yang terkait
mengenai barang ataupun harga. Berikut adalah penjelasan mengenai khiyar dalam
jual beli.
Setiap aturan Islam pasti ada hikmah dan orientasi pemecahan masalah yang
dapat diselesaikan. Begitu pula dengan adanya aturan khiyar dalam proses transaksi
jual beli. Dengan adanya aturan khiyar, dapat diambil beberapa hikmah yang luas, di
antaranya sebagai berikut:
a. Dengan adanya khiyar dapat dipertegas adanya akad yang terdapat dalam jual beli;
b. Membuat kenyamanan dan akan muncul kepuasan dari masing-masing belah pihak;
c. Dengan adanya khiyar, maka penipuan dalam transaksi akan juga terhindarkan,
karena adanya kejelasan dan hak yang sudah jelas;
d. Masing-masing penjual dan pembeli dapat secara jujur dan transparan
melakukan proses transaksi;
e. Menghindarkan adanya perselisihan dalam proses jual beli.
Adanya khiyar tentu sangat menjaga proses transaksi jual beli itu terlaksana
dengan baik. Umat Islam yang baik dan taat terhadap aturan agama hendaknya mem-
perhatikan masalah khiyar ini agar dapat terlaksana dengan lancar segala macam
transaksi bisnis yang dilakukannya. Masalah-masalah dalam transaksi jual beli biasa-
nya terjadi karena tidak ada kejujuran, keterbukaan, dan transparansi dari tiap-
tiap pihak. Khiyar ini juga sekaligus mengajarkan pada manusia bahwa dalam sektor
apapun juga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang sesuai ajaran agama Islam.

2
2. Dasar Hukum Khiyar
Allah swt. berfirman dalam QS al-Baqarah/2: 275
ِّ‫اّللُ الْبَ ْي َع َو َحَّرَم ه‬
-٢٧٥- ‫الرََب‬ ‫َح َّل ه‬
َ ‫َوأ‬
Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan telah mengharamkan riba. (QS al-
Baqarah/2: 275).
Lafal jual beli dalam ayat ini adalah umum meliputi akad jual beli. Dengan begitu, ia
menjadi mubah (boleh) untuk semua termasuk khiyar.
Sedangkan dari hadis Rasulullah saw. bersabda:
‫ قال النيب صلى هللا عليه و سلم ( البيعان َبخليار ما مل يتفرقا أو‬:‫عن ابن عمر رضي هللا عنهما قال‬
) ‫ ورمبا قال ( أو يكون بيع خيار‬. ) ‫يقول أحدمها لصاحبه اخرت‬
Telah bersabda Nabi: “Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selagi
keduanya belum berpisah, atau salah seorang mengatakan kepada temanya:
pilihlah dan kadang-kadang beliau bersabda atau terjadi jual beli khiyar.” (HR.
Al-Bukhari).
Pada hadis yang lain, Nabi bersabda:
‫عن عبد هللا بن احلارث رفعه إىل حكيم بن حزام رضي هللا عنه قال قال رسول هللا صلى هللا عليه و‬
‫سلم ( البيعان َبخليار ما مل يتفرقا أو قال حىت يتفرقا فإن صدقا وبينا بورك هلما يف بيعهما وإن كتما‬
) ‫وكذَب حمقت بركة بيعهما‬
Dari Abdullah bin Al-Harits ia berkata: Saya mendengar Hakim bin Hizam dari
Nabi, beliau bersabda: “Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selama
mereka berdua belum berpisah. Apabila mereka berdua benar-benar dan jelas,
maka mereka berdua diberi keberkahan di dalam jual beli mereka, dan apabila
mereka berdua berbohong dan merahasiakan maka dihapuslah keberkahan jual
beli mereka berdua.” (HR. Al-Bukhari).
Dua hadis di atas menunjukkan adanya hak khiyar bagi orang yang sedang
melakukan transaksi jual beli.
3. Macam-macam Khiyar
Macam-macam khiyar dapat dilihat dari berbagai aspek. Dalam aspek ada
tidaknya perjanjian, khiyar terbagi kepada:

a. Khiyar Hukmiyah
Khiyar hukmiyah yaitu khiyar yang melekat dalam akad. Setiap kali ada akad
untuk menjaga maslahat pihak akad, maka khiyar ini ada tanpa membutuhkan
persetujuan pihak-pihak akad. Khiyar yang termasuk adalah macam ini adalah khiyar
ru’yah dan khiyar ‘aib.
b. Khiyar Iradiyah

3
Khiyar iradiyah yaitu khiyar yang timbul karena ada kesepakatan antar pihak
akad. Khiyar yang termasuk adalah dalam macam ini adalah khiyar syarat dan khiyar
ta’yin.
Secara umum, khiyar dibagi kepada:
a. Khiyar Majlis
Khiyar majlis sah menjadi milik si penjual dan si pembeli semenjak dilangsung-
kannya akad jual beli hingga mereka berpisah, selama mereka berdua tidak mengada-
kan kesepakatan untuk tidak ada khiyar, atau kesepakatan untuk menggugurkan hak
khiyar setelah dilangsungkannya akad jual beli atau seorang di antara keduanya
menggugurkan hak khiyarnya, sehingga hanya seorang yang memiliki hak khiyar.
Dari Ibnu Umar r.a. dari Rasulullah saw. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Apabila ada dua orang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari
mereka (mempunyai) hak khiyar, selama mereka belum berpisah dan mereka masih
berkumpul atau salah satu pihak memberikan hak khiyarnya kepada pihak yang lain.
Namun jika salah satu pihak memberikan hak khiyar kepada yang lain lalu terjadi jual
beli, maka jadilah jual beli itu, dan jika mereka telah berpisah sesudah terjadi jual beli
itu, sedang salah seorang di antara mereka tidak (meninggalkan) jual belinya, maka
jual beli telah terjadi (juga).”
Penjual dan pembeli yang khawatir membatalkan bila meninggalkan majlis,
maka hendaknya tidak meninggalkan majlis. Hal ini sesuai dengan hadis dari Amr bin
Syu’aib dari bapaknya dari datuknya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Pembeli dan
penjual (mempunyai) hak khiyar selama mereka belum berpisah, kecuali jual beli
dengan akad khiyar, maka seorang di antara mereka tidak boleh meninggalkan
rekannya karena khawatir dibatalkan.
b. Khiyar Syarat
Khiyar syarat yaitu kedua orang yang sedang melakukan jual beli mengadakan
kesepakatan menentukan syarat, atau salah satu di antara keduanya menentukan hak
khiyar sampai waktu tertentu, maka ini dibolehkan meskipun rentang waktu berlaku-
nya hak khiyar tersebut cukup lama. Hadis dari Ibnu Umar ra, dari Nabi saw Beliau
bersabda, “Sesungguhnya dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar
dalam jual belinya selama mereka belum berpisah, atau jual belinya dengan akad
khiyar.
c. Khiyar Aib
Jika seseorang membeli barang yang mengandung aib atau cacat dan ia tidak
mengetahuinya hingga si penjual dan si pembeli berpisah, maka pihak pembeli berhak
mengembalikan barang dagangan tersebut kepada si penjualnya.
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda “Barangsiapa membeli
seekor kambing yang diikat teteknya, kemudian memerahnya, maka jika ia suka ia
boleh menahannya, dan jika ia tidak suka (ia kembalikan) sebagai ganti perahannya
adalah (memberi) satu sha’ tamar.

4
B. Cara Menggugurkan dan Sebab Gugurnya Khiyar
1. Cara Menggugurkan Khiyar
Cara mengugurkan Khiyar ada tiga:
a. Pengguguran Jelas (Sharih)
Penguguran sharih ialah penguguran oleh orang yang berkhiyar, seperti
menyatakan,”Saya batalkan khiyar dan saya rida.”Dengan demikian, akad menjadi
lazim (sahih). Sebaliknya, akad gugur dengan pernyataan,”Saya batalkan atau saya
gugurkan akad.”
b. Pengguguran dengan Dilalah
Pengguguran dengan dilalah adalah adanya tasharuf (beraktivitas dengan barang
tersebut) dari perilaku khiyar yang menunjukkan bahwa jual beli jadi dilakukan,
seperti pembeli menghibahkan barang tersebut kepada orang lain, atau sebaliknya,
pembeli mengembalikan kepemilikan kepada penjual.
c. Pengguran Khiyar dengan Kemadharatan
2. Sebab-sebab Gugurnya Khiyar
a. Habis Waktu
Khiyar menjadi gugur setelah habis waktu yang telah ditetapkan walaupun tidak
ada pembatalan dari yang berkhiyar. Dengan demikian, akad menjadi lazim. Hal ini
sesuai dengtan pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanbaliyah. Menurut ulama Malikiyah,
akad tidak lazim dengan berakirnya waktu, tetapi harus ada ketetapan dari yang
berkhiyar sebab khiyar bukan kewajiban. Oleh karena itu, akad tidak gugur karena
berakhirnya waktu. Contohnya, janji seorang tuan terhadap budak untuk dimerdekakan
pada waktu tertentu. Budak tersebut tidak merdeka karena berkhirnya waktu.
b. Kematian Orang yang Memberikan Syarat
Jika orang yang memberikan syarat meninggal dunia, maka khiyar menjadi
gugur, baik yang meninggal itu sebagai pembeli maupun penjual, lalu akad pun
menjadi lazim, sebab tidak mungkin membatalkannya. Namun, tetang kewarisan
syarat para ulama berbeda pendapat, antara lain:
1) Menurut ulama Hanafiyah, khiyar syarat tidak dapat diwariskan, tetapi gugur
dengan meninggalnya orang yang memberikan syarat;
2) Ulama Hanbaliyah berpendapat bahwa bahwa khiyar menjadi batal dengan
meninggalnya orang yang memberikan syarat, kecuali jika ia mengamanatkan
untuk membatalkannya. Dalam hal ini, khiyar menjadi kewajiban ahli waris;
3) Ulama syafi’iyah dan Malikiyah berpendapat bahwa khiyar menjadi haknya ahli
waris. Dengan demikian, tidak gugur dengan meninggalnya orang yang
memberikan syarat.
c. Adanya Hal-hal yang Semakna dengan Mati
Khiyar gugur dengan adanya hal-hal yang serupa dengan mati, seperti gila,
mabuk, dan lain-lain. Dengan demikian, jika akal seseorang hilang karena gila, mabuk,
tidur, akadnya menjadi batal.

5
d. Barang Rusak Ketika Masa Khiyar
Tentang rusaknya barang ketika khiyar terdapat beberapa masalah, apakah
rusaknya setelah diserahkan kepada pembeli atau masih dipegang penjual dan lain-
lain, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini:
1) Jika barang masih di tangan pembeli batallah jual beli dan khiyar pun gugur;
2) Jika barang sudah pada tangan pembeli, jual beli batal jika khiyar berasal dari
penjual, tetapi pembeli harus menggantinya.
3) Jika barang suadah ada di tangan pembeli dan khiyar dari pembeli, jual-beli
menjadi lazim dan khiyar pun gugur.
e. Adanya Cacat pada Barang
Dalam masalah ini terdapat beberapa penjelasan. Jika khiyar berasal dari penjual
dan cacat terjadi dengan sendirinya, khiyar gugur dan jual-beli batal. Akan tetapi, jika
cacat karena perbuatan pembeli atau orang lain, tidak gugur dan pembeli berhak khiyar
dan bertanggung jawab atas kerusakannya. Begitu juga dengan orang lain. Jika khiyar
berasal dari pembeli dan ada cacat, khiyar gugur, tetapi jual beli tidak gugur, sebab
barang menjadi tanggung jawab pembeli.

C. Manfaat dan Hikmah Khiyar


1. Manfaat Khiyar
Khiyar tidak saja diperlukan dalam kehidupan umat manusia, melainkan sangat
memberikan manfaat untuk melangsungkan akad jual beli yang saling menguntungkan
satu sama lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari kegiatan jual beli
karena jual beli sudah merupakan kebutuhan kita yang tidak dapat kita tinggalkan.
Islam sangat memperhatikan persoalan yang mengutamakan sisi harmonitas dalam
kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar kegiatan jual beli
mendapatkan rida Allah swt. dan membawa kemashlahatan, diperlukan khiyar atau
memilih satu di antara dua. Karena dengan memilih akan membawa manfaat bagi kita,
antara lain:
a. Kedua belah pihak tidak saling dirugikan;
b. Menghindari salah pilih, sehingga tidak menyesal di kemudian hari;
c. Menghindari perselisihan dan permusuhan sesama kita;
d. Menghindari kecurangan dan kebohongan jual beli;
e. Agar kedua belah pihak berlapang dada (ridha sama ridha).
2. Hikmah Khiyar
a. Khiyar dapat membuat akad jual beli berlnagsung menurut prinsip-prinsip Islam,
yaitu suka sama suka antara penjual dan pembali;
b. Mendidik masyarakat agar hati-hati dalam melakukan akad jual beli, sehingga
pembeli mendapatkan barang yang baik atau benar-benar disukainya;
c. Penjual tidak semena-mena menjual barangnya kepada pembeli dan mendidiknya
agar besikap jujur dalam menjelaskan keadaan barang;
d. Terhindar dari unsur-unsur penipuan, baik dari pihak penjual maupun pembeli,
karena ada kehati-hatian dalam proses jual beli;

6
e. Khiyar dapat memelihara hubungan baik dan terjalin cinta kasih antra sesama.
Adapun ketidakjujuran atau kecuarangan pada akhirnya akan berakibat dengan
penyesalan yang mengarah pada kemarahan, kedengkian.

D. Khiyar dalam Jual Beli Online


1. Pengertian Jual Beli Online (Oline Shop) dan Hukumnya
Pengertian online shop adalah suatu proses pembelian barang atau jasa dari
mereka yang menjual melalui internet. Istilah lain untuk bisnis onlinem adalah e-
commerce. Tetapi yang pasti, setiap kali orang berbicara tentang e- commerce, mereka
memahaminya sebagai bisnis yang berhubungan dengan internet. Dari definisi di atas,
bisa diketahui karakteristik bisnis online, yaitu:
a. Terjadinya transaksi antara dua belah pihak;
b. Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi;
c. Internet merupakan media utama dalam proses atau mekanisme akad tersebut.
Jadi, intinya yang membedakan antara bisnis online dan bisnis offline yaitu proses
transaksi (akad) dan media utama dalam proses tersebut.
Bentuk baru kegiatan jual beli ini tentu mempunyai banyak nilai positif, di
antaranya kemudahan dalam melakukan transaksi (karena penjual dan pembeli tidak
perlu repot bertemu untuk melakukan transaksi). Online shop biasanya menawarkan
barangnya dengan menyebutkan spesifikasi barang, harga, dan gambar. Dari situ
pembeli memilih dan kemudian memesan barang yang biasanya akan dikirim setelah
pembeli mentransfer uang.
Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Risalah mengatakan bahwa semua persoalan
yang terjadi dalam kehidupan seorang muslim itu tentu ada hukum jelas dan mengikat
atau sekurang-kurangnya ketentuan hukum harus dicari dengan cara ijtihad. Secara
konvensional jual beli dalam Islam diatur dalam fikih muamalah yang mensyaratkan
adanya empat hal, yaitu: sighat al-’aqd (ijab qabul), mahallul ‘aqd (obyek perjanjian
/barang), al’aqidaian (para pihak yang melaksanakan isi perjanjian) dan maudhu’
ul’aqd (tujuan perjanjian).
Dalam transaksi mengunakan internet, penyediaan aplikasi permohonan barang
oleh pihak penjual di website merupakan ijab dan pengisian serta pengiriman aplikasi
yang telah diisi oleh pembeli merupakan qabul. Adapun barang hanya dapat dilihat
gambarnya serta dijelaskan spesifikasinya dengan gamblang dan lengkap, dengan
penjelasan yang dapat memengaruhi harga jual barang. Setelah ijab qabul, pihak
penjual meminta pembeli melakukan tranfer uang ke rekening bank milik penjual.
Setelah uang diterima, si penjual baru mengirim barangnya melalui kurir atau jasa
pengiriman barang. Jadi, Transaksi seperti ini (jual beli online) mayoritas para ulama
menghalalkannya selama tidak ada unsur gharar atau ketidakjelasan, dengan
memberikan spesifikasi baik berupa gambar, jenis, warna, bentuk, model dan yang
memengaruhi harga barang.
Dalam Islam sendiri sesungguhnya telah mengatur akad jual beli dengan sistem
pemesanan sebagaimana akad salam. Sebagaimana ungkapan Abdullah bin Mas’ud

7
juga menegaskan: bahwa apa yang telah dipandang baik oleh muslim maka baiklah
dihadapan Allah, dan begitu juga sebaliknya.
2. Hak Khiyar dalam Jual Beli Online (Online Shop)
Perkembangan teknologi saat ini bisa memudahkan transaksi melalui jarak jauh,
dimana manusia bisa dapat berinteraksi secara singkat walaupun tanp face to face,
akan tetapi di dalam bisnis adalah yang terpenting memberikan informasi dan mencari
keuntungan. Oleh sebab itu, jual beli online dalam Islam diperbolehkan dengan syarat
harus diterangkan sifat-sifatnya dan ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan
keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi, jika tidak sesuai maka pembeli
mempunyai hak khiyar, artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya.
Dalam UU RI No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 7 huruf E
yang berbunyi “memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau
mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas
barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan”. UU tersebut kiranya penting
karena pada umumnya konsumen sering berada pada posisi yang dirugikan dalam
transaksi jual beli online, seperti barang yang tidak sesuai dengan pemesanan,
penipuan, dan sebagainya. Dalam hukum jual beli online, perlu ada ketentuan khiyar
agar hak-hak konsumen bisa terlindungi. Yang paling penting adalah kejujuran,
keadilan, dan kejelasan dengan memberikan data secara lengkap dan tidak ada niat
untuk menipu atau merugikan orang lain sebagaimana firman Allah dalam QS al-
Baqarah2/: 275 dan 282 harus ada dalam transaksi jual beli online.