Anda di halaman 1dari 11

Karakteristik Idiom Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia

Yang Menggunakan Bagian Tubuh1


Agus Suherman Suryadimulya2
ABSTRACT
This dissertation is aimed to discuss the characteristic of idioms using
parts of human body both in Japanese and Indonesian Languages,
compare the similarities and also identify factors influencing the
differences.

1. PENDAHULUAN
Bahasa merupakan alat komunikasi untuk menyampaikan ide, gagasan, pendapat
serta perasaan kepada orang lain. Seringkali penyampaian sesuatu maksud tertentu
secara taklangsung dan bersifat simbolik. Banyak pertimbangan yang menyebabkan
penyampaian maksud secara taklangsung, di antaranya menghindari ketersinggungan
seseorang dengan adanya ujaran tertentu, ada pula yang berpendapat bahwa ungkapan
tersebut lebih tepat dan terarah. Secara pokok, dapat dikatakan bahwa hal ini sangat
terkait dengan cara masyarakat penutur bahasa tersebut mengungkapkan sesuatu.
Bangsa Jepang terkenal dengan sopan santun serta kecenderungan berbasa-basi.
Bahasa Jepang pun mengikuti pula pola tingkah orang Jepang yang cenderung
menggunakan ungkapan yang taklangsung dan bermakna mendalam. Idiom sering
menjadi alternatif yang sering dipakai sebagai alat menyampaikan maksud secara
taklangsung dalam bahasa Jepang.
Sapir & Whorf (1964) mengatakan, bahwa perbedaan pola pikir disebabkan oleh
adanya perbedaan bahasa akan menyebabkan orang Indonesia menggunakan kata
arang untuk makna keaiban, sementara orang Jepang memakai kata lumpur. Hal ini
karena adanya latar belakang filosofis yang sangat mendasar.
Latar belakang sosiologis tidak terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga
berdasarkan faktor sejarahnya, kaitannya dengan sistem linguistik lain, dan pewarisan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam bahasa Jepang terdapat idiom
katatataki ni au dengan makna di-PHK (sinkronik), sementara dalam bahasa Indonesia
kita jumpai idiom penyambung lidah rakyat (diakronik).

1
Disampaikan pada Seminar Ilmu Sastra di Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya
2
Staf pengajar Fakultas Sastra Unpad

1
2. LATAR BELAKANG
Idiom atau ungkapan sering kita jumpai dalam pelbagai bahasa di dunia. Dan
kehadiran idiom dalam suatu bahasa sangat dipengaruhi oleh pola pikir penutur bahasa
itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia terdapat ungkapan mencoreng arang di muka
(membuat aib), sementara dalam bahasa Jepang untuk arti tersebut digunakan lumpur
yaitu kao ni doro wo nuru (mengoleskan lumpur pada muka). Kedua frase ini memiliki
lexical meaning dan Idiomatical meaning. Dalam bahasa Inggris, dikenal frase
cannnot keep ones mouth shut, dalam bahasa China terdapat kata/frase tsuichien
(bahasa Jepang : kuchi ga karui), bahasa Thailand menggunakan paa’kbao, dan bahasa
Prancis dikenal dengan frase avoir langue bien longue. Ungkapan di atas memiliki
makna idiomatikal yang sama (tidak bisa menyimpan rahasia) tetapi dibentuk oleh
kosa kata yang berbeda (mulut dan lidah).
Dalam bahasa Indonesia sendiri kita dapati ungkapan bocor mulur (Badudu,
1978 : 54). Sementara itu ringan mulut dalam bahasa Indonesia memiliki makna
idiomatikal yang berbeda dengan bahasa Jepang.

3. TUJUAN
Seringkali pembelajar bahasa Jepang yang sudah menguasai bahasa Jepang dengan
baik, mendapat kesulitan untuk berbicara dengan nuansa yang alami atau ingin
mengungkapkan sesuatu dengan tepat. Hal ini dikarenakan penguasaan idiom yang
dirasakan sangat terbatas, sehingga apa yang ingin diungkapkan tidak tepat pada
sasaran yang dimaksud. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sbb:
1. Mencari karakteristik idiom bahasa Jepang dan padanannya dalam bahasa
Indonesia.
2. Dalam proses pembelajaran, idiom apa yang mudah dicerna serta dihafalkan dan
idiom apa yang sulit dipahami maupun diingat.
3. Mengamati idiom satu persatu dengan melihatnya dalam wacana sehingga dapat
diketahui cara penggunaannya.

4. DIFINISI IDIOM
Dalam bab ini dikupas beberapa teori tentang makna idiom sekaligus
merangkumnya dan penulis mencoba mengemukakan pendapat tentang peranan idiom
dalam kehidupan berbahasa.
Idiom merupakan bentuk ungkapan yang sudah tidak mengikuti aturan tata bahasa
yang berlaku pada bahasa yang bersangkutan. Kunihiro.T,(1985:4) menyebutkan
keterangan tentang idiom secara lengkap seperti berikut ini.

2
“…

!"#$&%(')*+-,
"#$.,/0.12342 5 6.(7&8, .,9 :;, <&=>?&@+
A ,>B2.
DCE ,F,<G 5>H+I
Penjelasan tersebut memberikan batasan mengenai karakteristik idiom dalam
bahasa Jepang. Idiom merupakan bentuk ungkapan yang dipermasalahkan terkait
dengan karakteristik idiom tersebut yang tidak bisa diduga seperti makna kata pada
umumnya dengan aturan tata bahasa dan teori semantik bahasa yang bersangkutan.
Bentuk ungkapan ini memiliki makna yang sudah ditetapkan secara konvensional oleh
masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan dan biasanya tidak bisa ditelusuri
makna idiom yang dihasilkan berdasarkan pada makna gabungan kata pembentuk
idiom tersebut menurut aturan tata bahasa.
Seperti apa yang sering kita ketahui bahwa makna idiom adalah makna dari
gabungan dua kata atau lebih yang sudah ditetapkan, dan makna idiom yang dihasilkan
tidak bisa dicerna dari makna leksikal maupun makna gramatikal gabungan kata
pembentuk idiom (Momiyama.Y,1996:29). Walaupun dikatakan makna idiom tidak
bisa ‘ditarik’ menurut kaidah umum gramatikal yang berlaku atau tidak dapat
diramalkan dari makna unsur-unsurnya, namun untuk idiom jenis tertentu masih bisa
diprediksikan makna idiom yang ditimbulkan secara historis komparatif dan etimologis
serta asosiasi terhadap lambang yang dipakai, karena masih terlihat adanya
“hubungan” antara makna keseluruhan (makna idiomatik) dengan makna leksikal
unsur kata pembentuk idiom. Pernyataan tersebut selaras dengan pendapat Kunihiro
(1996:26) yang menyebutkan ihwal pemerian makna idiom dalam bahasa Jepang, pada
salah satu poinnya menunjukkan bahwa makna idiomatik terjadi dari makna kata unsur
pembentuknya menunjukkan makna perbandingan dan makna kata masih terlihat.
Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan penelitian Momiyama (1997) yang
membuat pemerian idiom bahasa Jepang terbaru ditinjau dari sudut ada tidaknya
hubungan antara makna leksikal gabungan kata pembentuk idiom dengan makna idiom
yang dihasilkan.
Peneliti sependapat dengan pernyataan tersebut di atas. Hal ini sangatlah terkait
dengan ihwal manusia menciptakan kata tertentu pasti disertai pula konsep kata
tersebut. Sesuatu barang dinamakan meja, dengan ciri-ciri terbuat dari kayu maupun
besi berbentuk persegi empat atau bulat, memiliki kaki yang selanjutnya disebut
dengan kaki meja, fungsinya bisa dipakai untuk menaruh sesuatu, tempat makan,
tempat belajar dlsb. Mengapa barang tersebut dinamakan meja, mengapa tidak

3
dinamakan kursi atau yang lainnya. Karakteristik bahasa seperti ini, disebut dengan ciri
bahasa yang bersifat arbitrer (manasuka). Artinya tidak ada hubungan yang mengikat
dan wajib antara lambang dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang
tersebut. Namun seperti diungkapkan Nurhadi D (2003) bahwa, sebuah konsep yang
dilukiskan oleh suatu lambang tertentu telah disepakati oleh penutur bahasa tersebut
sehingga bersifat tetap dan konstan. Artinya, sesuatu benda yang memiliki ciri-ciri
tertentu dinamakan meja, dan jika ada benda yang sama atau hampir sama bentuk
maupun fungsinya akan tetap disebut dengan meja. Terkait dengan fungsi bahasa
seperti ini, Chaer.A (1994:47) menyebutnya dengan istilah bahasa itu konvensional.
Maksudnya bahwa masyarakat bahasa mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu
digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya (keajegan makna). Pemikiran ini
peneliti pergunakan dalam menjelaskan makna idiom jenis metafora dalam
hubungannya dengan konsep dari unsur kata pembentuk idiom tersebut. Penelitian ini
berusaha menguak keterkaitan hubungan antara makna idiom jenis metafora melalui
penjelasan dari makna gabungan unsur pembentuk idiom tersebut yang menghasilkan
makna kiasan atau makna tambahan.

5. PENELITIAN TERDAHULU
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya yang
penulis lakukan semasa menyelesaikan tesis master. Sehingga ditemukan beberapa
karakter dan cara pemakaiannya dalam wacana.
Makna idiom sudah diakui dan digunakan masyarakat penutur bahasa tersebut
untuk berkomunikasi dengan lawan bicara untuk menyampaikan suatu pendapat atau
gagasan-gagasan tertentu. Karena makna idiom ini merupakan makna yang sudah di
tetapkan, maka tidak ada cara lain selain menghafal semua makna-makna idiom
tersebut tanpa kecuali. Sehingga bagi pembelajar bahasa merasa kesulitan dalam
menghafal beribu-ribu idiom yang ada, apalagi jika sebagai pembelajar bahasa asing,
Hal ini merupakan suatu kendala yang sangat penting. Faktor ini mendorong peneliti
untuk meneliti idiom dalam bahasa Jepang. Fenomena ini sesuai dengan hasil kajian
Suryadimulya,A (1998) melakukan penelitian tentang kemampuan pemahaman idiom
bahasa Jepang terhadap dua sampel penelitian yang berbeda, yakni penutur asli bahasa
Jepang, dan pembelajar bahasa Jepang dari Indonesia. Simpulan yang dihasilkan dari
penelitian tersebut secara pokok ada dua hal, yakni:
1. Derajat pemahaman makna idiom pembelajar bahasa Jepang dari Indonesia
terutama yang tidak/belum pernah belajar di Jepang, masih rendah.
2. Diperlukannya penjelasan tentang latar belakang keberadaan idiom tersebut

4
diciptakan guna pemahaman makna idiom.
Penelitian-penelitian yang membahas mengenai idiom dan majas perbandingan
dalam bahasa Jepang tidaklah sedikit jumlahnya. Namun, peneliti merasakan adanya
sesuatu yang kurang jelas dari hasil penelitian yang ada. Penelitian Momiyama (1997)
membuat deskripsi tentang klasifikasi idiom yang menghasilkan makna kiasan (Miyaji
menyebut idiom jenis ini sebagai Hiyutekikanyouku) dengan cara mendeteksi ada
tidaknya hubungan antara makna leksikal gabungan kata pembentuk idiom dengan
makna idiomatiknya. Dari hasil penelitian tersebut, peneliti memperoleh pemikiran
bahwa idiom jenis majas metafora antara makna leksikal gabungan kata pembentuknya
dengan makna idiomatik yang dihasilkan memiliki hubungan dalam hal persamaan
‘ruijisei’. Persamaan yang dimaksud Momiyama dalam penelitiannya tidak disertai
dengan penjelasan yang memadai sehingga mendorong peneliti untuk menyambung
konsep yang dikemukakan beliau. Dalam ungkapan lain, persamaan yang dihasilkan
dari hubungan kedua makna tersebut menunjukkan kesamaan dalam hal apa, atau
dengan apa hal tersebut dipersamakan, masih belum dibahas. Penelitian yang berusaha
menjelaskan permasalahan tersebut terkait dengan idiom jenis majas metafora belum
banyak jumlahnya. Hal ini menjadi faktor pendorong untuk meneliti permasalahan
tersebut.
Pemahaman mendalam terhadap bagaimana orang Jepang mengungkapkan
sesuatu maksud dengan ungkapan-ungkapan taklangsung dan bersifat simbolik,
tidaklah sedikit yang berkaitan dengan perilaku, pemikiran, kondisi sosial dan budaya
masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, melalui pemahaman idiom akan
sedikit banyak berkontribusi dalam pemahaman budaya bangsa Jepang.

6. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif/analitik dengan
mengadakan studi literatus dari berbagai sumber. Hal ini disebabkan oleh penelitian ini
berusaha untuk mencerahkan permasalahan makna idiom dalam bahasa Jepang serta
pemerian yang dapat dilakukan ditinjau dari relasi makna idiom dengan makna leksikal
gabungan kata pembentuk idiom tersebut. Penelitian ini menghasilkan bukan berupa
angka-angka.
1. Objek penelitian
Data yang diambil dari berbagai kamus sebagai objek penelitian ini adalah seluruh
idiom kedua bahasa yang memakai anggota badan bagian luar dan dianggap masih
banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Data tersebut terhimpun sebagai
berikut :

5
Tabel 1
No. Bagian tubuh B.Jepang B.Ind No. Bagian tubuh B.Jepang B.Ind
1. J (kepala) 59 27 13. K (dahi) 11 10
2. L (muka) 55 63 14. M (bibir) 6 14
3. N (mata) 103 103 15. O (gigi) 22 6
4. P (mulut) 67 82 16. Q (dagu) 15 2
5. R (telinga) 44 26 17. S (bahu) 24 2
6. T (hidung) 42 21 18. U (lengan) 29 4
7. V (lidah) 26 70 19. W (jari) 6 3
8. X (leher) 33 13 20. Y (kuku) 7 7
9. Z (dada) 101 24 21. [ (pinggang) 27 6
10. \ (perut) 100 28 22. ] (pantat) 61 6
11. ^ (tangan) 228 128 23. _ (lutut) 21 7
12. ` (kaki) 74 28
Jumlah 1161 678
2. Menentukan Standar Pemilihan Data

aKamus Bahasa Jepang yang dipakai sebagai objek pemilihan data adalah sbb:
Nihonkokugo Daijiten (Kamus Besar Bahasa Nasional Jepang)
b Kojien (CD-ROM) (Kamus Besar Bahasa Jepang)
c Kokugo Kanyoku Jiten (Kamus Idiom bahasa Nasional Jepang)
d e
Kotowaza Kanyoku Jiten (Kamus Idiom dan Peribahasa)
Sementara itu idiom bahasa Indonesia, diambil dari kamus sebagai berikut :
aKamus Idiom Bahasa Indonesia
bKamus Ungkapan Bahasa Indonesia
cKamus Besar Bahasa Indonesia
d Kamus Ungkapan dan Peribahasa Indonesia
Idiom yang terkumpul diamati penggunaannya dengan disertai pemakaiannya dalam
kalimat. Selanjutnya diperiksa, diseminarkan beberapa kali di hadapan para ahli bahasa
Indonesia dan bahasa Jepang untuk menentukan layak tidaknya dipakai sebagai data
objek penelitian. Didapati beberapa idiom pada kedua bahasa itu yang kini sudah
dianggap idiom mati (shigo).

3. Permasalahan
Beberapa permasalah yang muncul saat pengumpulan data adalah sulitnya menemukan
ahli linguistik bahasa Indonesia di Jepang yang berbahasa ibu Bahasa Indonesia
sehingga penulis mendiskusikannya di Indonesia.

7. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS


Pada bagian ini penulis mencoba membuat 3 klasifikasi idiom-idiom sebagai berikut :

6
1. Idiom sekata semakna
fhgji k lm!n o pq rs
tvu w xzy|{!}~€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹ŠŒŽŒ† ‘ œžŸ¡ £¢¥¤!¦¨§ }ª©!«
’ “•”—– Š™˜Žš‚‡› ‚ƒ˜ ¬ ”—­•® † Š‡Ž
½u w x¯¡°!±¥²¡³x¯|´¡µ·¶ ¾ž¿!À ²£©D«
~ €•‚v„v…‡†¹¸hŒ˜ Œ‰º»† – ‚‹¼™€•‚v„v…‡†¹¸hŒ˜ ‚vˆ‚‡Žš‚ƒ‘ “•”—– ® † Š‡Ž ® † – †
’ ˜ ‚•˜ ‚ ¬ Žz‚™› ‚•˜
Ãu w x¯¡Á|Â~€ƒ‚v„v…‡†¹¸hŒz…‡† – Š€•‚•‘ ĞŠ£Æ ¿ ÇÈ }·ÉËʞyžÌ  ÎÍ(Ï ²
’ “ ‚‹€‰ŠšŽš‚™› ‚•˜ Žš‚™› Š† “•”—– “ † „ƒŠ – ŠÐ ” ˜ ” › Š… “v”—– ® † Š‹Ž ® † – †
ÒÓu w xzy¡Ñ(}~€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹Šz€‰Š – ‚™† ‘ Ø(ÇÈ|Ù }¡Ú § }|۞ܣ¯·³ À µÌ   È
’ – † ­ ˆ‹Š ­ Žš‚‡› ‚ƒ˜  ÝßÞ ˜ † ® Š‹€ “ † ÐvŠàŽ ”­•á † Ž ¬ Š ­
› † ˜ Š…Žš‚‡› ‚ƒ˜ÔÕxÖyžÑ}-× –
ä—u w xšâ }~€ã‚™„v…™† ˆ—† ˜ Š ­ Š† ‘ æ芏…vç Š‡ÐvØ † Š }éžyèê|ë Æ|œ ²¡³íì(} ØËî Æ
’ €Œ‡˜ Œ – Žz‚™› ‚•˜åÔÕxÖy·â }-× æ ¯ Ø Þ Ž ”­ ˆŠv˜ Š—€ïŠ ­ Ð ” Й‚™Šv˜‚
ñu w ò(¯¨óèô À õ ò(¯¨óèô|ö·²÷Õòèy·ø Þ ~€ã‚™„v…™†¸hŒ ®‡Ô픗û|­ ˆüŠ ­ ×ý€‰ø Š™˜ Š‡Þ ð»€ãŠ™˜ Š á Š ­ ˆÖ€ïŒ‡˜ Œ –
Šƒ“•¸ù”—– Šv˜ ” ЇŽz‚‹¼™‚€•Žš‚•„™‚‹…‡€ï†¹Šª¸úÔ팚ò芕¸ùy·ŠvøÐ ”Þ– ‚‡¼‡× €ƒ‚v„™…™†‰ˆ‹ŠÎŠ‚v‘ “•”—– ˜ ” Žz‚ùÐ ” „ƒŠ – Šš€ ”“™” ˜ ‚‡› Š ­
’
þ—u w ÿ·òè~€ïŒ—‚vˆ‡Š ­ ‘ ÿ   }˳ ¦
’ ˜ ”“ Š›ƒŽš‚™€ãŠ ˜ † ® Š‹€ ˜ Š…‡‚ŽŠ› ‚
u w ò|y ! §
² ò( ¯ ! À ² ~ €‰Š™ŒÎˆ‹ŠÎŠ€ãŠ‹€•‚ ­ Š – ‚‡¼ ÇÈ
Ç Ü À ²|³    yè²Ë©!«
ŽŠ‹› ‚
’ Ž€ïŠ‡”‹ŒÕ– Š¸h…ŒÎŽšŠ—‚™€ïŠ—€ãŠ €•‚ùЇ‚ – ‚•‘
!}ªò
u w !}ªò(¯ À ²·~ Š‹ŽŠ‹†•€ãŠvŒ¸úŒÎЙ‚ – ‚v‘  Æ  À ³  § 
 ¯èܨ²¡³   
’ “•”—– Žz‚‡€ãŠÎŽŠ ­ † Ð }   ¯ ö² ¼£Ž ” Ž ¬ ”‹– › † …•Š™˜ €‰Š ­
t —u w !£#y "(}~ ˜ ” ˆŠ ­ Š‡ˆ‡Š† ‘ Ðv( † €‰) Š ¬ – Š‹ŽŠ…
’ ¬ Š ­ º Š ­ ˆ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ Ô ¬ Š ­ º Š ­ % ˆ $&"}˳.˜ Š ­ ˆ‹Š ­ $'!× ¬ ”—­ „v‚ – †
~ ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ ¬ Š ­ ºŠ ­ ˆ‡‘
t™tvu w *+!#,#-£~ Œ‡˜ ” Š™ˆ ” ‘ 021+3  Ç É 4 
¯ 5Á À #² 6!y §
’ Š ­ ˆ—€‰Šv˜‹˜ Š ­ ˆ‹Š ­ ÔjŠ ­ ˆ—€‰Š™. ˜ $/,#-ž²¡³ ˜ Š ­ ˆŠ ­ $ Â˔‹8³ ­ƒá™7 ”–#Þ 9+·§D¦Ë§ }¥©D«¡
³ :<;
! Ž Š‹…΀㊏› Š…
t½ u w !|¯|× ´ § µ~ ˜ ” ¸ ŒÎ˜ Ї‚ ­ Š™ˆ—‚v‘ @A    C³ BD} 9D#E ¥œ¡Þ ³ D
E À
’ “•”—– ˆŠ ­v®‹”—­ ˆŠ ­ ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ =Ô !|?¯ >(µ × ²·~ “•” € ”—– º Š™ÐvŠ‡ŽŠ—¼•Ð•Š› † ­ ˆšŽ ” Ž “ Š ­ ˜‚•‘
“•”—– ¬ ” ˆŠ ­ ˆ‡Š ­ ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ =Ô !|?¯ >(µ ×
tÃu w F 9HG öž² I Ÿ æ 9 I ¦Ë§ } Æ ³ J } È 0 ? KLF
’ Ð ” ¬ ” Ž “ Š•¸hŠz€‰Š€ƒ† <¯ M <Ÿ 9 0   ɞN³ F ç E Hç O  P
Ÿ J Â˳ Ù!Ç 1 Ÿ¡  É 0Q ·§ £³ 
É·³R 98SHT#U(Ï£§ } Æ J ÂK œ È
tÒÓu w Fžy|{!} 0 £§ W§ V Ú žÅ  Y 9 §J ¦·1 §  } ôžZ!#² y K/œ F ² #ç çX 9Â
’ “•”—– Š™˜—€ãŠ‹€ƒ† V¡ž
y[ 9 J + 1 ³ § ôž² § 8\ X Ú § } ] Þ
?§ ^_ 4  ¯è} Þ K`V¡
y [ ·§ ?} Ka
ʯ+b Å ²#V 9|§ § § Å § }c
ó § 7 9d }Ë
² K

7
2. Idiom sekata beda makna
fhgji klm!n o pq rs
tvu w xÖyeè} ØÇ¥ÈèÙ }|Ú § }¡Û¡Ü Ù ³<fg 9 Ø ô § }
~€ƒ‚™„v…™†ãˆ‡ŠÖ€ïŠ™˜ Š‹† ‘ ® Š ¬ Šv˜—Ž ” Ž ” ˆ‹Š ­ ˆ – Š…™ŠvЙ† Š
’ € ”– ŠvАŽš‚‡› ‚ƒ˜ h
i § 7 Æ À µHj Ú£ÉèÜ Ø
k § }
Š ­ ˜ Š ­ ˆšŽ ”—­ãᙔ– Š‹… ® Š› Š‡ŽÐ ” ˜ † Š ”—– ®”“ Šv˜ Š ­
½u w x¨¯ž°(±ª² ¾¡¬ ¿DÀ ²Ë©!« “v”‹– ® † Š‹Ž ® † – † ¬Î¬
€ƒ‚v„v…‡†¹¸hŒ˜ Œ‰º»† – ‚
’ Ž ”­ ‚•˜ ‚ ¬ Žz‚™› ‚•˜ l#mD<¯ nD²|+³ o+p À ²¡¼vŽ ”­ãá ‚vŠ ¬
Ãu w xÖyžì} Ê 9Hq( Å ² ] Þ˧ ۞ܣ?¯ r+V Æ Ø Þ ÂËö£y œ ²
KèÉ 
€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹Šù¸ùŠ – ‚™†
ŽÉ ”  ŽšØ † › † €ƒÞ †•€ ç ”‹“ Æ † ŠvÙ ÐvŠ‡§ Š ­ £Ž ³ ”Ä ­ ˆÞ Šv˜ Š—} €‰<ފ ­ s
Ð tè” Ð‡Æè‚vŠvœ ˜‚ ² ®”­ ˆ‡Š ­
’ “ ‚ – ‚‡€hŽš‚™› ‚•˜ €‰æDŠ™˜ç Š‡ð»Ø €ãŠ™}¥˜ ŠÖ顀y|˜ Œ êè– ÷ Ž ë ”Æè­ƒá œ Š—€ƒ²|† ˜ €‰³ËŠ ­ùì® } Š ­ Ø£˜ î† ® Š—Æ € æ® † Ї¯ ‚‡€‰Ø Š‹†‰Þ Œ – Š ­ ˆ u
Ž ”‹­ ˆ‡Š™˜ Š€ãŠ ­ Ð ” Й‚™Šv˜ ‚ ®”‹­ ˆ‹Š ­ €‰Šv˜ Š‡ð»€ãŠv˜ Š á Š ­ ˆ˜ † ® Š‹€ “ Š† €
ÒÓu w ò¯
u À v ¯ w À Ž ”­ ˆ …™† › Š ­ ˆ
€‰Š™Œ¸úŒÖ€‰Š€•‚ƒÐ‡‚
’ Ž ”­ ‚•˜ ‚ Žz‚™€ãŠ  ¦¨§ } y Ÿ ¯ À ²|³ V 9( Ö§ }£³ z#{ À ²
ò¯&Ô=! ¬ Æ ×xu À ¬ ‚ – Š™ð ¬ ‚ – Š˜ † ® Š‹€ ˜ Š…‡‚‡¼•˜ Š—€ ¬ ”™® ‚™› †
ä—u w ò¯?( À ² Ç¥#È (Ç Ü À ²¡³     y|²£©D«
’ Žš‚‡€‰ŠÎŽ ”—– Š—… | ²
òèy#(} ~ €‰Š™ŒÎˆ‹Š ŽÎŠ – Š…
ñu w òŠ€‰Š¯† ‘ }è² ~ €‰Š™ŒÕ¸hŒÖ‚ – ‚•‘  ~ ç Ê 9€‚ ç ƒ ?¯  Ç¥È |¦žÞ É
Ï 9  À ²
Ž ” › Š€ƒ‚‡€ãŠ ­ Ð ” Й‚™Šv˜ ‚Š™ˆ‹Š –‹® † € ” ˜ Š‹…‹‚™† ÷ ® † € ” › Š ­ Œ – Š ­ ˆ‹‘
’ Ž ”­ º»‚™Š‹›ƒŽš‚‡€ãŠ Ž ” Ž ¬ ”– ŠvˆŠ€‰Š ­Õ® † – †
ò¯}è² „ ?¯ …† À ²
þ—u w ò|óèô|ö ‡·øD?³ g‡ “•”– …vŠ ® Š ¬ Š ­ ÷ ¬ ”– € ”­ Š‹› Š ­
’ ˜ ” Žz‚Žš‚‡€‰Š ø¡óD³ ˆ·ø ¬ ”– ˜ ” ŽÖ‚•Š ­
u w !y‰,&y ² ˜ ” ˆ‡Š Š#‹ y ,?Œ À ²|?³ ŽËy ,
! 9˧ ² =Ô ,
! ×
¬ Š ­v® Š†ƒŽ ”‹­ ‚™› † Ѝ…‡‚ – ‚
’ ˜Š™Š ˆ‹­ Š ˆ‹– Š ‚ ­Î­ Š‹† € Ð ” › Š‹› ‚Ž ”­ Š ­ ˆ ® Š› Š‡Ž ¬ ”– º»‚ ® † Š ­
}ž´ ‘ ´&/Ô ’WÚ “ Æ •× ”—Ô – ‘ ×
u w !· y ˜D} ™ “ž y ˜è}£³ æ “ Hç š#› y È 1 Y 1 Ü   +È œ  Æ|œ ²¡³
˜ ” ˆŠš…vŠ á Š‹† ”‹­ ”—– ­ ” ®”­ ­ ”
Й!‚‹˜è€ïŠš}.Ž ”/Ô ­ ž „㌠¬ ” ט ÔxŽ ]èÂHˆ Ÿ!º ¶·Š—€‰³
Š !?Ð  |Ðvyž‚™Šv영‚ } ×•Ô ˆ‹( Š ) „ × ¬ Šv˜

’ ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ „ ” ¬ Šv˜
t —u w !·y ¡! ˜ ” ˆ‡ŠšŠ‹€•‚ ™ “ ç 1 Å ÏËÆ ³  É¡³ ™ “¡ y ¢<£¤ Ü   È ¥ # 9£§ ² K
¸h—Ô Š¦&€˜‚× › ‚™Š ­ ˆ
’ § ˜ Š ­ ˆŠ ­ …vŠ‹Ž ¬ xŠ ¨ § ˜ † ® Š€úŽ ” Ž “ Šƒ¸ùŠÎŠ ¬ Š‡ðŠ ¬ Š
Ô  ¬ É § }¥©D« ו­Ô !
® ¦ ×
© ˜ Š ­ ˆŠ ­ …vŠ‹Ž ¬ «Š ª © ˜ † ® Š€úŽ ”­•® Š ¬ Šv˜ €ãŠ ­ Š ¬ Š™ðŠ ¬ Š
Ô  ¯ ²(ÛžÜ § Â.ו/Ô z#° ×
t™tvu w ! ‰ ¯ ± À ˜ ” ¸úŒ ¬ Ç¥È }¨²  ç ¯ „ ç !  ¦ ± À +³ ! ± À
’ …v§ Š ­ Šv› Ї” ‚¬ Š™Ðh˜ Š ­ ˆ‹Š ­ ¨ ˜Ž † ® ”‹Š‹­ƒ€ áv“v”—”—– Š– ˜ …‡Š €ã­ Š ˆ™­Îˆ “‚ Š­ ˆ– Š º­ Š•ˆz¸úŽšŠ “ † › † z€ Ð ² ”­•G ® † – †•€ ” ¬ Š ® ŠŒ – Š ­ ˆz› Š† ­
© › ” ¬ Š™Ðh˜ Š ­ ˆ‹Š ­ ª ˜ † ® Š‹€ù† €ƒ‚•˜‹„•Š‹Ž ¬ ‚ – z€³´
t½ u w !·Ñ ˜ ” ˆ‹Š – ‚ µ¶ Æ +É · À }|۞ÜË+³ ! ¸¡y
¦¨§ }¡Û¡Ü¨³ µ¹|³ËÑ
’ – † ­ ˆŠ ­ ˜ Š ­ ˆŠ ­ Йº ‚‹?³€ïŠ »
“v”¼ € ”—ç – º ½ ŠªÔxœ ]è§ ÂWÛ¡¾ ÜÝÂ-~ ®‡×•”—¾ ­ ˆ1+Š ­¿ ‘ÓŽš‚ ® Š—…‡¼ – † 1 ­ ˆ‡Š ­
Й‚‹€ïŠšŽ ”­ Œ› Œ ­ ˆ¥xÔ ]èH À¡ÌD¯ À ² •× À¡+Ì Á

8
tà w F#Âà À ² œ !² ۡܪy § § [ · § ¥} ©D«
’ Ž ” ­ —ˆ † ­ º Š—€ƒ€‰Š ­ €ãŠ‹€ƒ† Ž ”‹­ ˆ‚™ŠvÐvŠ‹† ¼™Ž ”­ ºŠïº Š…
F!¯ Â!¶ Ä
Å Æ ¯ ¬ ´£³?Ç ÆÉÈ ¯ ¬ Ç È }˲¡³ Ä+Å À ²

3. Idiom semakna beda kata


fhgji klm!n o pq r s

tvu w xÖyžÑ} ØÇ¥ÈèÙ }|Ú § }¡Û¡Ü˯ž³ À µ¥Ì   È  ª|Þ
€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹Šz€‰Š – ‚™† ˜ † ® Š‹€ ¬ Š ­•® Š‹†ƒŽ ”­ƒá † Ž ¬ Š ­Î– Š…™ŠvЇ† Š
’ “ Œ‹„ƒŒ – Žš‚™› ‚•˜
Ԑxz
y Ê Å ²×
½u w Hx ¦ Q 9ËD Å ² ]è  £¢¥¤ ²
’ “v” ÐvŠ – Žš‚™› ‚•˜ Й‚‹€ïŠ “v”—– “ ‚vŠ› ¼ƒÐ™‚‡€ãŠ “™”– “ † „ƒŠ – Š
Ԑxzy  1 }-×
Ãu w xÖy À ¤ ² Ø ÇÈDÙ }èÚ § }èÛ¡Ü ·¡³ Ø ô § Â È  }|}|Û|Ü£¯¡³è´
’ Žš‚‡› ‚ƒ˜ á Š ­ ˆ˜ ”– ® Œ – Œ ­ ˆ
Žz} ‚  Ë® Š‹¢…¤ Ž ²£” Ž ©D“ « † „ƒŠ – Š€‰Š ­ Ð ” Й‚vŠ™˜ ‚ á Š ­ ˆ ® † Š ­ ˆ‹ˆ‹Š ¬ – Š—…vŠ™Ð™† Š
ÒÓu w xÖ­Ô yÌÍÞ ²#Å ÍDÉ(}x× } Ðè } ÐDÜ Þ ô ÍË Ì ·ÑÒè?³ Ó
Ô(¯ À ²
K  É
Í
ÍD} §
€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹Šz‚ – ‚•Ð•Š†
’ ˆ‹Š ¬ † ›ãŽz‚™› ‚•˜ Йۡ‚‹€ïÜ ŠšÆ Ž
} ”­ Õ¡ˆ€
} – † ˜ Õ† €•¼™Ö Ž Ø ”­ ¯ ˆ—…‡Ø † ­ Þ Š
x¨¯ ÎÏ À ²
ä—u w xzâ} ~€ƒ‚•„™…™† ˆ—† ˜ Š ­ Š‹† ‘ æDç Ø }¥é¡y|êèë Æèœ ²|³Ëì} Ø£î Æ æ ¯ Ø Þ
’ “ ‚•Ð‡‚™€hŽš‚‡› ‚ƒ˜ Ž ‹” ­ ˆ‡Š™˜ Š€ãŠ ­ Ð ” Й‚™Šv˜ ‚ ®”‹­ ˆ‹Š ­ €‰Šv˜ Š‡ð»€ãŠv˜ Š á Š ­ ˆz€‰Œ‡˜ Œ –
Ԑxz
y ×è² ×
ñu w xÖyD+Á § } æ y Ø#k § }
€ƒ‚v„v…‡†‰ˆ‹Šz…‡† – Š—€ïŠ ­ Š† Ð ”—­ ˆ‹ŠºŠ “™”– ® † Š‹Ž ® † – †
’ Ž ”­ ˆ—‚ ­ „v†ãŽz‚™› ‚•˜
Ԑx 9<Ø +¯ !Ú¨²×
þ—u w ò 9 ( +¯ ٞ² ÛÝÜ8Þ2Þà߀á
€‰Š™Œ ­ † ® Œ – Œ¸úŒ ­ ‚ – ‚ âWã/â<äæåèçèé/çNê ä
’ Ž ”­ „ƒŒ – ”­ ˆšŠ – Š ­ ˆ ® †
Žš‚‡€‰ŠƒÔíò 9HÚDÆ 1 §
u w òèµË+y²ë × } ~ €‰Š™ŒÎˆ‹Š ì 1 ó } ç íî y 1 Â+]| ¦ Å È }¨²
’ …‡¬ ‚† – Œ—­•á† ‘ ŠšŽš‚‡€ãŠ Ôíò(¯ ¬ “ Š ­•á Š€ ® † € ”­ Š‹›‰Œ – Š ­ ˆ ¼vŽš‚ ® Š—…Ž ” › Š‹€•‚‡€‰Š ­ Ð ” Ї‚™Šv˜ ‚
€‰Š – ”—­ Š ® † € ”‹­ Š‹› “ Š ­ãá Š€ Œ – Š ­ ˆ u
u w òÇȯ¡?´}Ë®²À × ƒ
ð <¯ ñ´èÚ²|³<¯ #¡öž²
€‰Š™Œ¸úŒÎ˜ Ї‚ “ ‚•Ð™‚ Ž ”‹­v® Š ¬ Š™˜ŽŠ› ‚
’ € ” …‡† › Š ­ ˆ‹Š ­ Žš‚‡€ãŠ
ò ¯ ï Þ
t —u w ò ¯ y! ¦· À | ¡² ³ 1 -
ô£y¡ì(}£³ õ+ö Æèœ ²£©D«¡³è} · § V ¬ Õ£¯
€‰Š™Œ¸úCŒ  ‚‹€ƒ‚ – Š‡ŽŠ‡Ð™‚ ÷ ”ô – Š™Ð•À Š‹³ Š ­ õ ˜ † ® ½#Šø€ Ð ù ”—­ Š ­ ˆ ¼ƒ˜ † ® Š€ ‚vŠ™Ð
’ §ž“v”– Žz‚‡€ãŠŠ™ÐvŠ‹Ž ¬ ¬
ÀDÇ ò }ªò(¯ À ²
© Žš‚™€‰Š ­ƒá Š ºŠ™˜ ‚‹…€ ”
˜ Ä Š ­ ç Š—…ò|y#ó#‡ 9 ¤ÉÕ
²

9
t™tvu w § ò8 ?¦ ú yÉ\¨²     }¥©D«
€‰Š™ŒÖ€‰Š – Šz…™†‰ˆ‹Š Ž ”‹­v® Š ¬ Š™˜ŽŠ› ‚
®‹© ”– ‚ ò 9Wû î ¯?ü À ‰€ Š™Œ ­ †•€‰Œ—‚ á Œ ‚ú¸úŒ
ý ò„v…™†X – ŠvڥЇ‚ y Æ 1 § }
€‰Š™ŒŽš‚‹€ ” …vŠ
þ®‹” €ƒ† ­ óDŠ† ô¡öž²¨òèy § }
Š•¸hŠ™Ð ”– ‚΀‰Š™ŒÎˆ‹Š
’ Žš­ Š‹‚‡† €‰ŠÎŽ ”—– Š—…
òè#y (} €ïŠ™ŒˆŠŠ—€ïŠ†
t½ u w !· y ˜D} ÿ À µ 9+s€9 !è¯\ À ³  Ü À µ 9 
O ¯
˜ ” ˆŠš…vŠ á Š‹† ®|­v® ³ +s ”‹– ÜHá  Ÿ ó ­v® Ç¥È ³ ”­ À µ –   –‹®
O ¯ ®
’ “v”– ŽÎŠ‹† ­ ¬ Š ­ ºŠ ­ ˆ ¬ Ô«Š Á Š†ƒŽ× Š ‚‹¼ ¬ Š Š†ãŽ „ƒŠ †ãŠ—€ïŠ›ƒŠvˆŠ Š ¬ Šv˜
Ԙ Š ­ "(ˆ‹Š ?} ­ ! Æ  ®×
• ŽÀ ”‹µ ­v®‡§ ” €ïµ¨Š™²˜ † ¬ § ”– 7 ” Ž ç ¬  ‚™Š E ­ ¯+yž² Þ
tÃu w !·y˜D} ‹˜ ” ˆ‹Šz…™Š á Š‹†
’ – † ­ ˆŠ ­ ˜ Š ­ ˆŠ ­ Й‚‹€ïŠšŽ ” ŽÖ‚™€•‚™›
=Ô !£y¡Ñ(} ×
tÒÓu w !è¯ è² ˜ ” ¸úŒ ­ † ˆ—† – ‚ ! ¯  Ÿ ó ÇÈ D E À ² K  ” € ”– º ŠЕŠ‹ŽŠ—¼|Ї‚™€ãŠ
’ Ž ”­ ˆ—‚™› ‚ – €ãŠ ­ ˜ Š ­ ˆ‹Š ­
=Ô !|¯  Y À × @Ž ”  Ž Ÿ “v”À – † €ã² Š ­“ Š ­ ˜ ‚vŠ ­
t‰ä—u w !è¯ \ À ˜ ” ¸úŒ ® Š‡Ð™‚ Ä ç “ 9 
O À ²¡
³
¡ô Ÿ ó Þ ­Ô !8\  
’ „ƒŠ‡Ž ¬ ‚ – ˜ Š ­ ˆ‹Š ­ †À €ƒ‚•²˜‹„•×Š‡Ž ¬ ‚ – ‚ – ‚ƒÐvŠ ­ › Š‹† ­
=Ô !|¯ è²×
tñu w *
!
,- Œ™˜ ” Švˆ ” 0813  Ç <É 4  ?¯ 5DÁ À +² 6žy § £ ³ 7
Þ 9
£§!¦¨§
’ Ž ”­ „v† ‚™Ž˜ ” › Š ¬ Š€
˜F¡Š ­ y ˆ‹Š X ­  —Ô ! ç ¥
¦ 9 Ž }¥”‹©D­ƒáv«¡”—–
³ Š…‡:<¼ ;“v”—– ˜ ” €ã‚‹€ › ‚•˜ ‚•˜
t‰þ—u w  ¦   ?¦  ç Þ Õ 9 ³ œ ²·é X J } È }ž? K?z
’ Ð  ” À¬ ” ² Ž “ × Šv¸úŠÖ€ïŠ—€ƒ† ç Þ Õ 9 Ä ç é X 0 Â
F 9WG ö·²
Selanjutnya dianalisis untuk menemukan karakteristiknya hingga muncul
perbedaan dan kesamaan makna. Di sini pula penulis mencoba membahas hal-hal yang
harus diperhatikan dalam melakukan pengajaran idiom yang maknanya hampir mirip
untuk menghindari kesalahpahaman dalam penggunaannya.

8. SIMPULAN
Pada bagian ini penulis memaparkan karakteristik setiap idiom terutama pada
idiom-idiom yang maknanya mirip, seperti misalnya : te wo kumu, te wo musubu, te wo
tsunagu. Dalam bahasa Indonesia didapati padanan katanya, yaitu “bergandengan
tangan”, tetapi setelah mengamati setiap kalimat yang menggunakan idiom itu, bahasa
Jepang tersebut di atas, ternyata nusansa maknanya berbeda. Walaupun idiom tersebut
bermakna “bekerja sama”, namun untuk “te wo kumu” mengandung nuansa yang
negatif dan hanya dipakai oleh sekelompok tertentu (dunia mafia) yang melakukan
kegiatan negatif.
Selanjutnya, diambil simpulan, bahwa “te wo nigiru” (menggenggam tangan)
yang dalam bahwa Jepang bermakna “memberikan bantuan”, dalam bahasa Indonesia

10
bermakna “pelit”. Simpulan yang dapat diambil adalah bahwa imajinasi “te” (tangan)
dalam “te wo nigiru” adalah tangan orang lain, sementara “menggenggam tangan”
dalam bahasa Indonesia adalah tangan sendiri.
Dari pengamatan terhadap setiap idiom ini, ditemukan adanya budaya yang
melatarbelakangi lahirnya idiom-idiom tersebut. Sehingga para pengajar dapat
sekaligus mengetahui dan memaparkan budaya Jepang melalui pengajaran idiom.

DAFTAR PUSTAKA
!#"%$ &('*),+.-/-103254/6#798*:%; !#<>=@?>A ,CBD#EGF- =+"# ,(IH—KJMLIN
EGF#O#PRQ- S @+UTV+XWY+.Z1T LGN[ = [ =]\_^a` #b
c#B d@  f gVh/i/i/ikj JXl%m A on@pGq|"#>r>s%OÓ#tu]v
D e]
w@xzy|{ g +}-/-30 j JX~@r%€qP%‚]OK)„ƒ†…‡W‰ˆ‹ŠŒ‚#ã2 #Ž]K
‘@’K“•” qo–o—%˜ eG™ )‰+}-/-MTš2›J @I œ ž]Ÿ +• #¡¢BD I;¤£|¥¦¢§| q #¨@
Ÿ •©]
ª 2
g¬« q ’o­ j O ®¯EaF y ‚
"°#± # ²ž³ g +.-3-/Z j J G.5<@r>s%O ´ <#µ
¶>·¹¸ g +.-3-/0 j ‹J -G 5> º =(+ "##r>s]O »BD@ >¼ y ‚ µ
` ~%½%¾¿),+}-30/À32Á‡4 "#IH•J‹B D  = O oTÃÂÄ+†-S TšWÅ+UTÆ @ǕÈ% \
ÉKÊ Ë ),+}-30 h 2k‹J "#.,(-.è"%—O @ǕÈ] \
Ì NoÍ>Î g +.-3-/Ï j 4 "#&,_Ð% Ñ 1#Ò#Ó>ԀÕKÖzq×IÖzqØ]& Ö žÙÚ!Û ".1--,•ÜÝ

㠑ä•å Þ ),+}’-301ß Tš2 ÔGJXHÙ@J æç ` BD` ¢  =èO #KéKà@ê]áKâ] [ =


ë*ìîí ïMðòñð ' ôó 'M)‰+.-/-3Ï32 hši/i +ôõ ð÷öMð÷øîù/ú.ùÃðòøMûkü¬øMýÿþ í ú û÷í òñú gVhši/i +•BD"#€qa6
ó ù  ì  ð ÷ø #úü û îð „í ÷øMð÷þ   !ø  '
¬ ð/
û 1 "û  j  õš ' &('M)‰+.-3-3À3$2 # ð÷%
 ñ 1' ú &(øîý÷ìXðòöMð÷' ø  (ð îðšú. ð  øMû ÷øMù/ú3í ð Gg 6#798ô:%; ! "#>r>s j
)*1+ú ðòìU,ð )- í ñð '
ƒ¬ð÷îðøîš"û ù š  øîë ý '  ),+.-3-MTš. 2 # ðò' ñ 1/ ú  û÷í ò0ñ ¬(ð îð/ú. ð  øMû ÷øMù3ú1í ð  g 6>7R8*:%; ! "##r>s  j1
ó 1ú} ð  øMû/(ð '
ƒ2ÿþ îð"ÿ ù/ø ú í ðš 3ý   óô' ë '/),+.-3-3032 # ðš/ ñ 14 ú & øMýòìXðòöMðÿøû3ð÷, ø ) ù  í 5î(ð 1ð/ú}6 ð  øM3û ÷øîù/ú3í ð g 6>7¢8ô:%; !  A 
##r@s j   ðòøM"û šøMý  )$M7ú ðšì}ð & ù í ð '
ón%pG 8îð¡q/û÷"í …K) hši/3i 9 2ç4 B D  =(+;:% Ö 1"# ,(-&6K798ô:]; ! >-,(=<=
H %6#798ô:%; ! EGFK[ = [ =%\
)* ,>1:ú}ð ? @)¬ùò/ñ 5/í øMð/ð÷ø•û/ð÷= ø ) ù÷øMý/ùò/ ñ 5MðòøMý/ðò ø ¬"ð Mð/ú}ð )‰+.-/-/Ï1%2 # ðò/ ñ 1A ú ¬ù/ú}ð ¬"ð Mð3ú.B
ð  øM3û ÷øîù/ú1í ð
][Kr>s j  õ ðšìXð C ð  ¬ð÷þ ð÷+í )*1+ú ðòìUð '
g 6>7R8*:%; !

11