Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Lembaga Keuangan tentang
studi kasus 2.621 BPR Terancam Gulung Tikar”.

Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah manajemen lembaga keuangan di STIESIA Surabaya.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

1. Bapak Arsyad Selaku Kepala dosen mata kuliah manajemen lembaga keuangan di
STIESIA serta segenap jajarannya yang telah memberikan kemudahan-kemudahan
baik berupa moril maupun materiil selama mengikuti pendidikan di STIESIA.
2. Rekan-rekan semua di Kelas 4SMX-1 STIESIA.
3. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah
memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis, baik
selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan makalah ini
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka
yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah,
Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

7
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................1

DAFTAR ISI .....................................................................................................................2

PENDAHULUAN .............................................................................................................3

PEMBAHASAN.................................................................................................................4

2.1 Pengertian BPR ...........................................................................4

2.2 Asas BPR .....................................................................................4

2.3 Fungsi BPR ..................................................................................5

2.4 Tujuan Pendirian BPR ..................................................................5

2.5 Keunggulanan dan Kelemahan BPR ............................................5

2.6 Studi Kasus ................................................................................6

PENUTUP

3.1 Kesimpulan .................................................................................9

3.2 Saran...........................................................................................9

7
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lembaga keuangan bank di Indonesia dibagi menjadi 2 jenis, yaitu


Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Banyak munculnya
keberadaan Bank Umum yang secara tidak langsung semakin
memperkecil kesempatan berkembangnya BPR. Peran Bank
Perkreditan Rakyat (BPR) di dalam sistem perbankan nasional relatif
kecil, karena pangsa pasarnya juga menjadi sasaran bank umum.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa pengertian dari BPR?

b. Apa fungsi dan tujuan BPR?

c. Siapa saja sasaran dari BPR?

d. Apa kelebihan dan kekurangan BPR?

e. Mengapa keberadaaan BPR semakin terancam?

f. Bagaimana solusi untuk mempertahankan BPR?

1.3 Tujuan

a. Memberikan informasi mengenai pengertian BPR.

b. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan BPR.

c. Memberikan solusi untuk mempertahankan keberadaan BPR.

7
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian BPR

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah lembaga keuangan bank yang


menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan,
dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan
dana sebagai usaha BPR.

Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) merupakan salah satu jenis bank yang
dikenal melayani golongan pengusaha mikro, kecil dan menengah.
Dengan lokasi yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat
yang membutuhkan. BPR sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan
yang dikenal dengan sebutan Lumbung Desa, Bank Desa, Bank Tani dan
Bank Dagang Desa atau Bank Pasar.

BPR merupakan lembaga perbankan resmi yang diatur berdasarkan


Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dan sebagaimana
telah diubah dengan Undang-undang No. 10 tahun 1998. Dalam undang-
undang tersebut secara jelas disebutkan bahwa ada dua jenis bank, yaitu
BANK UMUM dan BPR.

Fungsi BPR tidak hanya sekedar menyalurkan kredit kepada para


pengusaha mikro, kecil dan menengah, tetapi juga menerima simpanan
dari masyarakat. Dalam penyaluran kredit kepada masyarakat

7
menggunakan prinsip 3T, yaitu Tepat Waktu, Tepat Jumlah, Tepat Sasaran,
karena proses kreditnya yang relatif cepat, persyaratan lebih sede rhana,
dan sangat mengerti akan kebutuhan Nasabah.

2.2 Asas BPR

Dalam melaksanakan usahanya BPR berasaskan demokrasi ekonomi


dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Demokrasi ekonomi
adalah sistem ekonomi Indonesia yang dijalankan sesuai dengan pasal
33 UUD 1945 yang memiliki 8 ciri positif sebagai pendukung dan 3 ciri
negatif yang harus dihindari (free fight liberalism, etatisme, dan
monopoli).

2.3 Fungsi BPR

Adapun fungsi BPR adalah sebagai berikut : (Manurung dan


Raharja,2004)

a. Memberi pelayanan perbankan kepada masyarakat yang sulit atau


tidak memiliki akses ke bank umum.

b. Membantu pemerintah mendidik masyarakat dalam memahami pola


nasional agar ekselarasi pembangunan di sektor pedesaan dapat
lebih dipercepat.

c. Mencipakan pemerataan kesempatan berusaha terutama bagi


masyarakat pedesaan.

d. Mendidik dan mempercepat pemahaman masyarakat terhadap


pemanfaatan lembaga keuangan formal sehingga tehindar dari
jeratan rentenir.

2.4 Tujuan Pendirian BPR

Pendirian BPR memiliki tujuan, yaitu : (Irmayanto,dkk,2004)

7
a. Diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasa pelayanan perbankan
bagi masyarakat pedesaan.

b. Menunjang pertumbuhan dan modernisasi ekonomi pedesaan


sehingga para petani, nelayan dan para pedagang kecil di desa
dapat terhindar dari lintah darat, pengijon dan pelepas uang.

c. Melayani kebutuhan modal dengan prosedur pemberian kredit yang


mudah dan sesederhana mungkin sebab yang dilayani adalah orang-
orang relatif rendah pendidikannya.

d. Ikut serta memobilisasi modal untuk keperluan pembangunan dan


turut membantu rakyat dalam berhemat dan menabung dengan
menyediakan tempat yang dekat, aman, dan mudah untuk
menyimpan uang bagi penabung kecil.

2.5 Keunggulanan dan Kelemahan BPR

a. Keunggulan

- Proses pemberian kredit mudah dan cepat.

- Mampu memberikan bunga lebih tinggi, antara 2-3 % dibanding


Bank Umum.

- Mudah dijangkau oleh mayarakat pedesaan.

b. Kelemahan

- Keterbatasan wilayah kerja, diwilayah Provinsi yang sama dengan


kantor pusatnya (Pasal 31, ayat 1, PBI No. 8/2006).
- Pengumpulan DPK maksimal (10 kali) dari modal kerja.
- Nilai maksimal pemberian kredit tidak besar, karena
keterbatasan modal yang dimiliki

2.6 Studi Kasus

2.621 BPR Terancam Gulung Tikar

7
Sebanyak 2.627 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang beroperasi di seluruh
Indonesia terancam gulung tikar akibat persaingan yang tidak seimbang
antara BPR dengan bank-bank umum dan asing. Hadirnya bank-bank
umum yang terus menerus ekspansi dan “mengambil” nasabah yang telah
dibina BPR selama bertahun-tahun. Atas kondisi itu, otoritas perbankan
yakni Bank Indonesia (BI) lebih peduli melakukan berbagai bentuk
perlindungan pada BPR agar keberlanjutan dan keberadaan bank kecil ini
dapat dipertahankan.

Yang dihadapi BPR dengan bank umum saat ini, tidak saja persaingan
dalam mencari nasabah, namun juga persaingan dalam hal pendanaan.
Secara umum BPR terkonsentrasi pada sebagian kecil nasabah yang
punya hubungan bisnis atau sosial, sekarang juga menjadi sasaran bank
umum. BPR untuk pendanaanya juga sangat terbatas.

Persaingan paling serius sekarang ini adalah masuknya bank umum ke


pasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tanpa melakukan
pengembangan, artinya bank umum melakukan ekspansi, tetapi tidak
pernah mengembangkan pasar UMKM.

Dari pertemuan Perbarindo se-Indonesia dihasilkan beberapa kesepakatan


di antaranya adalah meminta Menteri Negara BUMN memberikan akses
kepada BPR untuk menerima dana program kemitraan dan bina
lingkungan (PKBL) yang berasal dari laba BUMN.

Selain itu Perbarindo juga minta agar Kementrian Perumahan Rakyat


menjadikan BPR sebagai bank penyalur kredit lunak bantuan perumahan
dari pemerintah, Departemen Keuangan mengizinkan BPR menyalurkan
kredit usaha rakyat (KUR) serta merelaksasi PP No 39 tahun 2007 tentang
pengelolaan uang negara/daerah.

Jumlah BPR di Indonesia yang terdata per 30 Juni 2009 sebanyak 2.627
dengan total aset sebesar Rp 22,7 triliun dengan rincian dari tabungan
sebesar Rp 7,35 triliun dan deposito sebesar Rp 15,36 triliun.

7
Sedangkan jumlah nasabah lebih dari 10 juta dengan rincian tabungan
sebanyak 7.020.403 nasabah, deposito 398.646 nasabah dan kredit
2.780.491 nasabah. Total kredit yang telah disalurkan pada masyarakat
sebesar Rp 26,39 triliun.

2.7 Solusi Permasalahan

Eksistensi BPR jelas sangat dibutuhkan, khususnya oleh UMKM (Usaha


Mikro Kecil dan Menengah) yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah
Tanah Air. Namun demikian, dengan kemampuan BPR yang relatif masih
sangat kecil di tengah industri perbankan nasional, maka perlu
diupayakan berbagai langkah untuk meningkatkan kemampuan BPR
dalam megembangkan bisnisnya melalui perluasan jangkauan dan
peningkatan permodalan.

Sampai saat ini, distribusi jaringan kantor BPR masih terkonsentrasi di


enam Propinsi yaitu Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung,
dan Bali. Sementara jumlah kantor BPR di propinsi DKI Jakarta masih
sangat kurang, padahal di propinsi inilah lebih dari 50% perputaran uang
di Indonesia terjadi. Oleh karena itu, agar BPR tidak semakin tertinggal
dibandingkan dengan industri perbankan secara umum, maka perluasan
jaringan BPR di Propinsi DKI perlu menjadi pertimbangan.

Selanjutnya, untuk meningkatkan profitabilitas BPR, maka sumber dana


BPR seyogianya mulai digeser ke Tabungan yang berbiaya lebih murah.
Memang tidak mudah untuk meningkatkan daya saing Tabungan BPR di
tengah maraknya penawaran produk tabungan dengan beragam fitur oleh
Bank Umum. Namun demikian, ada usulan menarik dari Pengurus
Perbarindo, bahwa untuk meningkatkan daya saing BPR ke depan agar
segera dibentuk APEX Bank (Bank Induk) bagi BPR, sehingga APEX Bank
ini dapat menjadi pusat inovasi bagi BPR, termasuk menciptakan produk

7
tabungan standar bagi BPR agar dapat bersaing dengan produk Tabungan
Bank Umum.

Akhirnya, untuk dapat segera mengimbangi kecepatan ekspansi kredit


BPR, untuk jangka menengah seyogianya BPR segera meningkatkan
kinerjanya agar dapat menarik Bank Umum guna melakukan program
kemitraan (linkage program) untuk memperkuat sumber pendanaan yang
saat ini menjadi kendala utama BPR.

BAB 3

PENUTUP

7
3.1 Kesimpulan

a. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah lembaga keuangan bank yang


menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka,
tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu
dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR.

b. Dalam melaksanakan usahanya BPR berasaskan demokrasi ekonomi


dengan menggunakan prinsip kehati-hatian.

c. Keberadan BPR semakin terdesak akibat menjamurnya bank-bank


umum.

d. Yang dihadapi BPR dengan bank umum saat ini, tidak saja
persaingan dalam mencari nasabah, namun juga persaingan dalam
hal pendanaan.

3.2 Saran

a. Perlu diupayakan berbagai langkah untuk meningkatkan


kemampuan BPR dalam mengembangkan bisnisnya melalui
perluasan jangkauan dan peningkatan permodalan.

b. Bank Indonesia (BI) harus lebih peduli melakukan berbagai bentuk


perlindungan pada BPR agar keberlanjutan dan keberadaan bank
kecil ini dapat dipertahankan.
c. Perlu adanya regulasi jumlah minimal kredit yang dapat diberikan
bank umum.
d. BI harus menertibkan bank umum yang memberikan suku bunga
lebih tinggi dari suku bunga BPR serta pengaturan persaingan kredit
UMKM.