Anda di halaman 1dari 9

Askan dengan penyakit penyerta

190721
Bapak ghofur

Askan pasien dengan co morbid anestesi regional (gangguan jantung/hemodinamik tidak sabil)

Pertemuan 1 : kuliah, tindakan yang diperlukan dalam pasien dg co morbid jantung, seminar tentang
masalah gangguan jantung dibagi 6 kelompok, askan jangan lupa disertakan tindakan dan
pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan. Misal kel ada 6, masing2 1 topik diabagi dua
kelompok. Dicari video juga di yt jika tidak bisa ke lab

 Co morbid itu penyakit penyerta pada penyakit penyakit jantung, bisa juga hipertensi, dan
lainnya dg kondisi yg menyebebabkan gangguan
 Faktor resikio
Akibat operasi dari yg lama dan proses anestesi yg menyebabkan gangguan hemodinamik
perdarahan banyak, waktu operasi lama
Dasar anestesi regional (tunggal / anestesi umum)
-mengurangii respon stress : cemas berawal dari stress hormon kortisol(naik tkd naik 
hemodinamik terganggu
-simpatektomi jantung : stimulan melihat org meninggal....?
-eksubasi lebih awal : hati2 ketika memutuskan untuk ekstubasi. Jika terlalu lama maka reflek
vagal akan keluar.
-lama rawat di rs lebih pendek : lansia efek anestesi memanjang, sadar bisa lebih dri yang
seharusnya
-analgesia pascaoperasi yang baik :
Rasional : saraf simpatis : saraf diluar kesadaran diblok.
1. Karakteristik pasien : usia, anak2 berbeda dg dewasa dan lansia. Pasien obesitas dekat dg
penyakit jantung, jenis kelamin regional pada laki2 sangat jarang, kebanyakan perempuan
2, jenis operasi : faktor resiko paling aman untuk pasien. Misal ibu hamil riwayat penyakit
jantung maka menggunakan teknik anestesi tergantung dg kondisi ibu. Jika cemas berlebih maka
ga. Jika ibu tidak cemas maka regional anestesi / anestesi lumbal. Oleh karena itu, assesment
sangat penting. Yg memutuskan dokter anestesi. Gold period pasien di ok sangat terbatas.
3. Potensi risiko anestesi
Faktor resiko lainnya : infark miokard (riwayat ekg. Harus bisa membaca ekg.) , gagal jantung
kongestif (sumbatan aliran darah ke jantung, terutama vena paru. Sehingga menyebabkan
gangguan sirkulasi dalam darah. Gejalanya adalah oedema), penyakit pembuluh darah perifer
(dic / gangguan bekuan darah. Cth : kalau luka gamau berhenti perdarahannya. Walaupun sudah
diberi tekanan tidak akan berhenti. Jika terbentur pada org normal biru itu ga lama. Pada
perokok aktif ujung perifer membusuk karena tidak dapat aliran arteri ujung kuku pucat gelap
dan membusuk), angina pectoris, dm (karena menyebabkan komplikasi), hiperkolesterolemia
(beresiko thd perubahan status hemodinamik), usia, disfungsi ginjal, obesitas, gaya hidup
merokok
 Tujuan anestesi pada peny jantung
1. Pemcegahan : mencegah supaya tidak memperburuk kondisi pasien
2. Deteksi : mengetahui resiko terbutuk. Sebagai antisipasi tindakan untuk mencegah komplikasi.
Ada plan a,b,c
3. Treatment untuk menghindari cedera miokard pascaoperasi : lebih baik obat dripada fisik
 Pra anestesi :
1. Obat ant pisang
Meningkatkan kalium
 Manajemen praoperasi
Tiga terapi sebelum operasi elektif non kardiak.syok cairan infus harus cepat
1) optimalisasi manajemen obat
2) revascularisasi dengan pcl : terapi vaskularisasi. Ada sumbatan di pembuluh darah primer
/jantung dilakukan tindakan dengan memasangkan cincin/menembak trombus. Upaya
melancarkan aliran di pembuluh darah.
3) revascularisasi dengan operasi (cabg) di vena kaki.
 Pemantauan intraoperasi
1. Insiden ischemia
2. Pemantauan intraoperasi
-pantau ekg pada mode diagnostic
Menggigil kehilangan panas tubuh berlebih larutaan yg memiliki elektrolit tinggi dalam sel darah
Urine : jika output lebih sedikit maka cairaannya tidak keluar dalam tubuh maka akan
memberatkan kerja jantung (odema)
Hindari ketamin jantung iskemik
 Overhidrasi
 Lost signal jelek
190721
Ibu ns. Harmilah. S.pd, s.kep, m.kep, sp.mb

 Pasien akan dilakukan tetapi mengidap infeksi (pneumonia) maka harus disembuhkan terlebih
dahulu, kec infeksi covid-19
 Operasi elektif/bisa ditunda (memancungkan hidung / fraktur tulang maka infeksinya harus
disembuhkan ) dan cito/emergency (sc maka harus cepat dilakukan tindakan walaupun terdapat
infeksi covid-19)
 Ca tumor, ca nasofaring, paru
 Hidung-bronkioli (saluran) disebut pipa / zona ruang rugi atas. Karena secara anatomis tidak
terjadi pertukaran gas
 Pertukaran gas : alveoli
 Co2 : biru, o2 : merah
 Alveoli dilapisi cairan surfaktan(lipoprotein) sehingga licin mengakibatkan tidak terjadi
perlengketan dan pergesekan
 Di hidung terjadi penyaringan udara oleh rambut2 halus/silia. Terjadi penghangatan oleh
pembuluh darah dan kelembaban suhu oleh selaput lendir
 Pada saat memberikan o2 ttp diperhatikan kelembabannya dg humidifier terisi air
 Nilai normal :
O2 dari atmosfir ada 21% = 150-160 mmhg
1 atm = 760 mmhg / 76 cmhg
Pao2 di paru-paru : 104-105 (apex) , 80-100 mmhg (pembuluh darah)
Pac02 : 35-45 mmhg
Pasao2 : >95%
 Pernapasan : asidosis respiratork
 Pusat pengatur pernapasan : medula oblongata, perubahan kimia darah, perubahan pco2
 Penurunan po2 dan pco2  menggunakan rebreathing mask
 Penurunan po2 tidak disertai pco2  nrm (non rebreathing mask) ada katupnya
 Terapi oksigen sistem aliran rendah > pasien bernafas spontan dan masih memungkinkan
bernafas > sifatnya menambah o2 > konsentrasi rendah > kanul nasal maks 5lt/mnt. Biasanya
karena kecapean
 Volume udara pernapasan dalam normal masih bisa meningkatkan semua
 Gangguan respirasi : volume residu bertambah banyak
 Paru kronis, bronchitis kronis, tbc kronis, emphisema, asma kronis : ppok / copd termasuk
gangguan obstruksi dan konstriksi
 Obstruksi : penyempitan/sumbatan terjadi karena tumor, sekret, kemasukan makanan
 Konstriksi : gangguan di salurannya, terjadi karena proses infeksi mengakibatkan jaringan tidak
sembuh (terjadi di membrannya)
 Kalau ada sekret media untuk berkembangnya kuman.
 Infeksi bisa menghasilkan sekret.
 Hidrasi cukup  sekret mudah keluar dan silia bisa bekerja optimal
 97% o2 diedarkan ke seluruh tubuh diikat oleh hb
 Hb rendah maka oksigen rendah
 Jika hb tinggi tidak akan mengikat o2 karena ada batas daya ikatnya
 Respirasi bayi – dewasa tua  kurva normal (kurang optimal – optimal – menurun)
 Semakin banyak latihan / olahraga maka proses respirasi semakin baik
 Tempat panas  vasodilatasi > pembuluh darah melebar > kebutuhan o2 meningkat karena
terjadi vaskularisasi

190721
Ibu yustiana olfah
Askan luka bakar
 Operasi sesuai dengan derajat luka bakar
 Bisa juga dilakukan operasi karena suatu kondisi tetapi memiliki luka bakar
210721
Bapak ghofur
Askan dengan penyakit hematologi
 Darah yang dibawa ke seluruh tubuh. Proses bekuan darah
 Kasus ini(proses bekuan darah) menyebabkan kematian, diketahui pada saat proses operasi
berlangsung  emergency
 Harus jeli terhadap riwayat penyakit lalu.
 Gangguan hematologi berkaitan dengan karakteristik sel darah. Diantara protein darah ada yang
berfungsi untuk membekukan darah.
 Hematolgi disorder : bagian co morbid yang paling berbahaya
 Luka sayatan operasi menyebabkan perdarahan  respom tubuh menghentikan kehilangan
darah dan menstabilkan luka
 Hemostatis tidak terdiagnosa dengan baik  masalah besar jika diketahui di meja operasi. Jadi
harus ditanyakan sebelumnya, pernah kebentur biru2? Lama sembuhnya
 Assesment sangat penting saat pra operasi
 Gangguan perdarahan : tidak adanya / tidak efektifnya protein darah esensial / faktor yang
menyebabkan tubuh membentuk gumpalan darah yang tidak stabil yg memungkinkan
perdarahan berlanjut untuk jangka waku yang lebih lama dari biasanya
 Implikasi klinisi (bergantung pada tingkat keparahan)
- Kondisinya dapat berkisar dari luka yang terus mengalir
- Ketidaknyamanan pasien untuk jangka waktu yang lama
- Berkurangnya volume darah yang mengancam jiwa
 Hemostatis : proses yang dilakukan tubuh untuk mencegah kehilangan darah setelah cedera
yang terjadi pada jaringan
 2,3% dari 1500
 Kalau ketemu pasien bekuan darah sikap kita harus waspada karena pasien dg bekuan darah
akan menyebabkan masalah yang berat. Jadi harus teliti sebelum operasi dimulai

260721
Bapak ghofur
Askan : co morbid hiv/aids

 Infeksi hiv  replikasi sel cd4. Cd4 makin kecil, maka makin parah
 Masa inkubasi terdeteksi pemeriksaan lab 3 bulan sejak tertular windows period“
 Penyakit multiorgan : infeksi opportuistis (berulang dan berurutan.. Kadang diare, kadang
sariawan, kadang pneumonia), tumor / obat-obatan arv  berdampak pada anestesi
 Gejala klinis  setelah beberapa bulan dengan kriteria 2 gejala mayor, 1 gejala minor
 Gejala mayor (umum, besar) : bb turun >10% dalam 1 bulan, diare kronik >1bulan, demam
berkepanjangan >1bulan, penurunan kesadaran, demensia/hiv eselopati
 Gejala minor : batuk menetap >1bulan, dermatitis generalisata, herpes zoster
multisegmetal&berulang, kandidiasis orofarigeal, herpes simpleks kronik progresif, limfa
denopati generalisata, infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita, retinitis
cystomegalovirus
 Stadium gejala klinis hiv/aids who
 Interaksi obat :
Obat arv (protesase inhibitor & ntris) 
(efek farmakodinamik) mencegah penggunaan agen anestesi seperti halothane /
methoxylfluarane  menyebabkan disfungsi hepar dan renal, toksisitas mitokondrial dan
asidosis laktat
(efek farmakokinetik)
- Efek pada absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi obat anestesi
- Inhibisi/interaksi enzyme khususnya cyp450 &3aa enzyme  efektifitas anestesi spt :
- Opioid  efek fentanyl dipengaruhi oleh.....
- Benzodyapines : saquinavir dpt menghambat metabolis midazolam
- Calcium channel blockers, efek hipotensi akibat inhibisi enzyme
- Anesesi lokal spt lignocaine : meningkatkan level plasma akibat inhibisi enzim
- Efek neuromuskular : memanjang > dosis tunggal vecoronium untuk instance
 Pertimbangan anestesi
- penyalahgunaan obat (iv) penyakit menular seksual spt hepatitis B dan sifilis
- Pemeriksaan fisik  rinci dan dokumentasikan defisir neurologus
- dimensia  mempengaruhi pemilihan untuk melaksanakan pembedahan / anestesi
 Pre operative
- Status imun, kondisi klinis, jenis anestesi, dan operasi yang dipilih
- infeksi opportunitis dan keganasan
- pemeriksaan menyeluruh kardiovaskuler (kardiomiopasti sub klinis) dan renal (nefropati)
serta pemeriksaan hematolik (neutopenia, trombositopenia)  jarang terjadi 
menentukan pilihan operasi
- trombositopenia (<50rb)
risiko perdarahan dan hemaom epidural meningkat  teknik anestesi menyesuaikan >
neuroaksial, tidak ada infeksi
 Anamnesa
Evaluasi pengobatan ARF atau obat antiopportunistik
Pemeriksaan lab : darah rutin, faal koagulasi, kadar gula darah, fungsi hati
Imunologi : CD4+ dan jumlah virus  3 bulan terakhir
Foto CXR dan EKG dikonfirmasi
Riwayat gangguan jantung > pemeriksaan tambahan
Kaitan dg obat ARV : Kardiotoksis > hiperkoagulasi dan mempercepat
 Regional Anestesi
- Klinis : penyebaran infeksi ke SSP / seksual neurologik  penggunaan jarum spinal
- Hati-hati. (Infeksi terjadi pada pasien dg myelophaty, vertebral / spinal neoplasms. CNS
Infection, coagulaphaty/pasien tidak memiliki cukup waktu untuk darah membeku dg
sendirinya)
- Perhatian : penyakit penyerta
Kardiovaskular dan hemodinamik lebih efektif
Neurologi : pertimbangkan penilaian resiko dan manfaatnya
Muskuloskeletal : analgesia epidural / kontinue > tidak menyebabkan nyeri punggung
Batas trombosit min >80rb/dl aman, blok
 General anestesi
- bjbnm
- bnbb
- hjnjk
- mnjnkop
- piuplknmnjjnmjn
-
Bu Harmilah 260721
ASKAN dg penyakit penyerta ginjal
 Pada saat mengukur td yang perlu diperhatikan sistol, diastole, MAP (Mean Arteri Pressure :
indikator perfusi le organ adekuat tidak, hasil min 75 mmHg) s +2d : 3
 cth : sistol 100, d = 70, yg mengindikasi perfusi adekuat apabila lebih dari 70 mmHg
 Monitor tekanan darah 90/40, 90/55, maka kurang dari 70 MAPnya  meningkatkan td dg
asupan cairan,
 Fungsi utama : ekresi, mengatur keseimbangan volume cairan/asam basa. sistem yg mengatur
asam basa : sistem pernafasan dan sistem perkemihan
 pernafasan co2 darah asam, kelebihan o2 maka akan dikeluarkan melalui pernafasan berupa
co2, perkemihan hco3
 seorang pasien pd saat dilakukan agd, pco2 47, ph 7, 33  asidosis respiratory
 ph 7,47 pco2 33  alkalosis respiratory
 perlu diperhatikan elektrolit darah, natrium, kalium,
 pernnafasan pco2, po2
 suhu panas, banyak minum tidak banyak pipis
 cairan ekstrasel : intravaskuler, interstiil
 kelebihan pco2, maka tubuh akan berupaaya mengeluarkan asam melalui pernafasan.
pernafasan cepet  hiperventilasi
 ureum kreatinin (kreatinin : 0,5-1,30) 20%xharga kreatinin normal. Jadi ureum normal 10-20..
 apabila ada gangguan eksresi urin, penupukan cairan > bengkak
 natrium normal..?
 Penumpukan elektrolit maka akan dikeluarkan
 kebutuhan cairan normal 30-40cc/kgbb/24jam
 urin output selama 24 jam = 2500cc
 urine output + iwl = bb 50 maka 1200-1500cc
 gagl ginjal : kemampuan ginjal mengalami penurunan fungsi , IWF = 125ml/mnt
 alat non eksresi  renin  angiontensin 1 > angiiotensin 2 (vasokontriksi pembuluh
darah>peningkatan td, dan volume cairan)
 97% o2 diikat hemoglobin,
 metabolisme vit d,
 kalium : kontraktilitas efek jantung
 rprgrk : rendah protein rendah garam rendah kalium untuk gagal ginjal
 hemodialisa, capd : cuci darah
 ginjal kronis > asidosis
 hemodinamik : perubahan nadi, darah
 adh : memin pengeluaran cairan
 ureum tinggi > darah > masuk otak > koma uremikum
 kelebihan kalium > henti jantung
 dm : maltosa, hipoglikemi : dextrosa