Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH USHUL FIQIH

Pengertian Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam


Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahUshul Fiqh II Semester II
Dosen : Yayat Hidayat,Lc

Disusun oleh Kelompok II :

1. Ega Kusuma Dewi


2. Lina Hanifah
3. Melinda Sundari
4. Ulpah Pauijiah

SEKOLAH TINGGI ILMU SYARIAH HUSNUL KHOTIMAH


(STIS-HK)1439 H/2017 M
Jl. Raya Maniskidul Desa Maniskidul Kec. Jalaksana Kab. Kuningan, Jawa Barat - 45554
Telp. 0232-613808 Fax.0232-613809, HP.081324001600, 081313123710
Website :www.stishusnulkhotimah.ac.id
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah dalam setiap goresan tangan yang telah
dibuat. Dan dengan hati yang ikhlas kami panjatkan rasa syukur yang takkan
berhenti meski tidak ada nafas lagi yang terhembus, kepada sang Pemilik Cinta,
kepada sang Rajanya para raja, Kepada sang Pemilik seluruh Galaksi semesta
alam yang sangat luas, Kepada dzat yang esa yaitu tuhan kami Allah Subhanahu
wata’ala. Atas karunia-Nya, atas rahmat-Nya, Atas izin-Nya Penulis dapat
menyelesaikan menyelesaikan inci demi inci susunan makalah ini yang memiliki
salah satu topik sangat penting bagi ilmu-ilmu fiqih yaitu “Pengertian Zhahir,
Nash, Mufassar, dan Mahkum ”yang tidak lain adalah topik tersebut merupakan
salah satu materi yang dikaji dalam ilmu Ushul Fiqih.
Ilmu Ushul Fiqih sebenarnya merupakan suatu ilmu yang tidak bisa
diabaikan oleh seorang Mujtahid dalam upayanya memberi penjelasan mengenai
nash-nash syariat Islam, dan dalam menggali hukum yang tidak memiliki nash. Ia
merupakan suatu ilmu yang diperlukan dalam seorang hakim dalam memahami
materi undang undang secara sempurna, dan dalam menerapkan undang-undang
itu dalam praktik yang dapat menyatakan keadilan,serta sesuai dengan makna
materi yang dimaksud okeh pembuat hukum syar’i. Ia juaga suatu ilmu yang
diperlukan oleh ulama fiqih dalam melakukan pembahasan, pengkajian,
penganalisaan dan membandingkan antara beberapa madzhab dan pendapat.
Semoga makalah ini tidak hanya menjadi tulisan belaka dan dapat
bermanfaat bagi para pembaca dimanapun dan kapanpun berada. Pnulis juga
menyampaikan beribu-ribu terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibt dalam
proses penulisan makalah ini, semoga kebaikan kalian semua menjadi jalan
menuju jannah-Nya. Aamiin .

Kamis, 01Februari 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.............................................................................4
B. Rumusan Masalah.......................................................................................4
C. Tujuan Penulisan.........................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam.....................................6
B. Kegunaan dan Pengaruh Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam...............12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................15
B. Saran..........................................................................................................16
Daftar Pustaka

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Untuk menggali hukum terutama hukum syariah, tidak terlepas dari
pembahasan kebahasaan karena hampir delapan puluh persen penggalian hukum
syariah menyangkut lafazh. Sebenarnya, lafazh-lafazh yang menunjukkan hukum
harus jelas dan tegas supaya tidak membingungkan para pelaku hukum. Namun
dalam kenyataannya, petunjuk (dilalah) lafazh-lafazh yang terdapat dalam nash
syara’ itu beraneka ragam. Bahkan, ada yang kurang jelas.

Secara garis besar dalam ilmu ushul fiqh Lafadz dari segi kejelasan artinya
terbagi ke dalam dua macanm, yaitu lafadz yang terang artinya dan lafadz yang
tidak jelas artinya. Dimaksud dengan lafadz yang terang artinya ini adalah yang
jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud tanpa memerlukan
penjelasan dari luar. Jenis ini terbagi dalam empat tingkatan, yaitu zahir, nash,
mufassar, dan muhkam. Sedangkan yang dimaksud lafadz tidak terang artinya
adalah yang belum jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud kecuali
dengan penjelasan dari luar lafadz itu. Jenis inipun terbagi dalam empat tingkatan,
yaitu khafi, musykil, mujmal, dan mutasyabih.

Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan tingkatan-tingkatanyang


terkait dengan lafadz yang terang artinya, yakni zahir, nash, Mufassar, dan
Muhkam.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa Pengertian Zahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam?
2. Kegunaan dan Pengaruh Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam ?

4
C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan yang ingin
dicapai pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengetahui Pengertian Zahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam.
2. Mahasiswa mengetahui Kegunaan dan Pengaruh Zhahir, Nash, Mufassar,
dan Muhkam.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Zahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam


Para ulama berbeda pendapat dalam mengatasi tingkatan dilalah lafdz dari segi
kejelasan. Dalam hal ini, dapat dibagi dua kelompok. Golongan pertama, yaitu golongan
Hanafiyah yang memabagi lafadz dari segi kejelasan terhadap makna dalam empat
bagian, yaitu : Zhahir , nash, mufassar, dan muhkam. Golongan kedua dari kalangan
mutakallimin , dipelopori oleh Asy’ Syafi’i yang membagi lafadz dari segi kejelasannya
menjadi dua yaitu zhahir dan nash.
Sebagian telah dijelaskan dimuka, golongan membagi lafadz dari kejelasannya
menjadi empat macam. Disini akan dijelaskan secara terperinci dan disertai dengan
contoh macam-macam lafadz tersebut. Secara garis besarnya, pembagian lafadz menurut
golongan Hanafiyah dilihat dari peringkat kejelasan dari lafadz itu, dimulai yang jelasnya
bersifat sederhana(zhahir), cukup jelas (nash) sangat jelas(mufassar) dan super jelas
(muhkam).
a. Zhahir
Az-zhahir menurut istilah ahli ushul fikih adalah sesuatu yang maksudnya
ditunjukan oleh bentuk nash itu sendiri tanpa membutuhkan faktor luar, bukan tujuan asal
dai susunan katanya dan mungkin untuk ditakwil.(Abdul Wahab Khallaf,1424 H : 232)
Makna yang dipaham dari suatu ucapan tanpa membutuhkan bantuan lain dan ia
bukan maksud asal dari susunan katanya, maka ucapan itu dianggapp zhahir.
Al-Bazdawi memberikan definisi zahir sebagai berikut :
ِ ِ‫اِ ْس ٌم لِ ُك ِّل َكالَ ٍم ظَه ِْر ْال ُم َرا ِدبِ ِه لِسَّا ِم ِع ب‬
‫ص ْي َغتِ ِه‬
Artinya:
“Suatu nama bagi seluruh pekataan yang jelas maksudnya bagi pendengar melalui
bentuk lafadz itu sendiri” (Bazdawi, 1370 H.I:46)
Definisi yang lebih jelas dikemukakan oleh Al- Sarakhsi :
‫س السَّا ِم ِع ِم ْن َغي ِْرتَأ َ ُّم ٍل‬
ِ ‫ْرفُ ْال ُم َرا ُد ِم ْنهُ بِنَ ْف‬
ِ ‫َمايُع‬
Artinya:
“Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa harus
dipikirkan lebih dahulu. (Al- Sarakhsi , 1372,I:164)
Dari definisi tersebut tampak jelas bahwa untuk memahami zhahir itu tidak
bergantung pada petunjuk lain, tetapi bisa diambil langsung dari lafadz itu sendiri.
Akan tetapi lafadz itu tetap mempunyai kemungkinan lain.

6
Atas dasar definisi-defini tersebut, Muhammad Adib Shalih menyimpulkan bahwa
Zhahir :
ْ ِ ‫ال التَّ ْخ‬ ٍ ُ‫اَللَّ ْفظُ الَّ ِذيْ يَدُلُّ َعلَ ْيهَا َم ْعنَاهُ ِم ْن َغي ِْرتَوْ ق‬
ِ ‫ْص َوالتَّأ ِو ْي ِل َوقَبُوْ ل النَّس‬
‫ْخ‬ ِ ‫صي‬ ِ َ‫ف عَلى قَ ِر ْينَ ٍةخ‬
ِ ‫ار َج ٍة َم َع احْ تِ َم‬

Artinya :
“suatu lafadz yang menunujukan suatu makna dengan rumusa lafadz itu sendiri tanpa
menunggu Qorinah yang berada diluar lafadz itu sendiri, namun mempunyai
kemungkinan ditakhsis, ditakwil, dan dinasakh. (Muhammad Adib Shalih, 1984,I:143)
Contohnya adalah yang artinya :
‫َواَ َح َّل هَّللا ُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم ال ِّربَا‬
“dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Ayat tersebut petunjuknya jelas, yaitu mengenai halalnya jual beli dan haramnya
riba’. Petunjuk teebut diambil dari lafadz itu sendiri tanpa memerlukan qorinah lain.
Masing-masing dari lafadz al-bai’ dan Ar-Ariba’ merupakan lafadz ‘Am yang
mempunyai kemungkinan ditaksis. Kedua lafadz zhahir adalah wajib diamalkannya
sesuai petunjuk lafadz itu sendiri sepanjang tidak ada dlail yang metaksisinya,
mentakwilnya atau menasakhnnya.
Hukum Az-zhahir wajib diamalkan sesuai dengan makna zhahirnya selama tidak
ada dalil yang menuntut untuk diamalkan dengan selain yang zhahir. Karena pada
dasarnya tidak ada pembelokan kata dari makna zhahir kecuali ada dalil yang
menuntut hal itu. Bahwasanya Az-zhahir mungkin untuk ditakwil, artinya
membelokan kata itu dari lahirnya dan menghendaki makna yang lain. Jika lafal itu
umum maka mungkin untuk dibatasi, jika kata itu bermakna hakiki mungkin untuk
diberi makna majaz dan diberi bentuk takwil yang lain.(Abdul wahab Khallaf , 1424
H:234)
Az-zhahor mungkin untuk disalin, artinya bahwa hukum az-zhahir pada masa
Rasulullah SAW dan masa penetapan syari’at dapat dihapus kemudian diundangkan
hukum penggantinya, selama hukum itu termasuk bagian dari hukum cabang yang
dapat berubah demi kemaslahatan dan dapat disalin.(Abdul wahab Khallaf , 1424
H:234)

7
b. Nash
Nash,menurut istilah ulama ushul fikih adalah suatu yang dengan bentuknya
sendiri menunujukan makna asal yang dimaksud dari susunan katany dan mungkin
untuk ditakiwil. Jika makna itu langsung dipaham dari lafal, pemahamannya tidak
butuh faktor luar dan ia adalah makna asal yang dimaksud dari susunan kata itu, maka
ia dianggap nash.(Abdul wahab Khallaf,1424 H:234)
Menurut bahasa , nash adalah Raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang
tamp ak. Oleh sebab itu, dalam mimbar nash ini sering disebut manashahad,
sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan disini, menurut :
1. Ad-Dabusi
‫ال َّزائِ ُد َعلَى الظَّا ِه ِربَيَانًااِ َذاقُوْ بِ َل بِ ِه‬
Artinya :
“suatu lafadz yang maknanya lebih jelas daripada zhahir bila ia dibandingkan dengan
lafadz zhahir.
2. Al-Bazdawwi
‫ص ْي َغ ِة‬
ِّ ‫س ال‬ ِ ‫اازدَا َد ُوضُوْ حًاعَل َى الظَّا ِه ِربِ َم ْعنَى ْال ُمتَ َكلِّ ِم‬
ِ ‫ف نَ ْف‬ ْ ‫َم‬
Artinya:
“lafadz yang lebih jelas maknanya daripada makna lafadz zhahir yang diambil dar si
pembicaranya bukan rumusan bahasa itu sendiri.”
Dari definisi-defiini tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai
tambahan kejelasan. Tambahna kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan
bahasanya, melainkan tibula dari pembicar sendiri yang bia diketahui dengan qorinah.
Atas dasar uraian dasar tersebut Muhammad Adib Shalih berkesimpulan bahwa yang
dimaksud nash itu adalah :
‫ْص َوالتَّأْ ِوي َْل اِحْ تِ َما اًل‬ ِ ‫ق اِل َجْ لِ ِه ْال َكالَ ِم ِداَل لَةَ َوا‬
ِ ‫ض َحةً تَحْ تَ ِم ُل التَّ ْخ‬
َ ‫صي‬ َ ‫اَللَّ ْفظُ الَّ ِذ يْ يَدُلُّ َعلَى ْال ُح ْك ِم اَلَّ ِذيْ ِس ْي‬
‫ف َع ْه ِد ال ِّر َسا لَ ِة‬ ِ ‫ْخ‬ ِ ‫اضْ َعفُ ِم ْن اِحْ تِ َما ِل الظَّا ِه ِر َم َع قَبُوْ ِل النَّس‬
Aritinya:
“ Nash adalah suatu lafadz yangmenujukan hukum dengan jelas yang diambil
menurut alur pembicaraan , namun ia mempunyai kemungkinan ditaksis dan ditakwil
yang kemungkinannay lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapt dari lafadz
zhahir. Selain itu, ia dapat dinasakh pada zaman risalah atau zaman rasul.”

Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an, seperti yang dijdikan contoh dari lafadz zhahir.
‫َواَ َح َّل هَّللا ُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم ال ِّربَا‬

8
Dilalah nash dari ayat-ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara
jual beli dan riba’.Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan
hukum. Disini nash lebih memberi kejelasan daripada zahahir (halalnya jual beli dan
haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan
bahasa
Hukum lafazh nash sama dengan hukum lafazh zhahir, yaitu wajib diamalkan
petunjuknya atau dilalah-nya sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan, mentakhsis
atau menasakhnya. Perbedaanya antara zhahir dan nash adalah kemungkinan takwil,
takhsis, atau nasakh pada lafazh nash lebih jauh dari kemungkinan yang terdapat pada
lafazh zhahir. Oleh sebab itu, apabila terjadi pertentangan anatara lafazh zhahir
dengan lafazh nash, maka lafazh nash lebih didahulukan pemakaiaanya dan wajib
membawa lafazh zhahir pada lafazh nash.
Nash itu mungkin ditakwil, artinya, yang dikehendaki dapat selain pada nash.
Dan ia juga dapat menerima naskh. Zhahir dan Nash adalah jelas petunjuk
maknannya. Artinya dalam pemahamannya tidak membutuhkan faktor luar dan wajib
mengamalkan makna yang jelas pada petunjuk keduanya. Keduanya juga mungkin
untuk ditakwil, misalnya yang dikehendaki adalah selain petunjuk yang jelas pada
kalimatnya, jika ada sesuatu yang menunutut ada nya takwil itu. (Abdul wahab
Khallaf,1424 H:235)
Takwil menurut bahasa adalah menjelaskan sesuatu yang ditakwilkan kepadanya.
Allah Swt Berfirman :

َ‫ك َخ ْي ٌر َواَحْ َس ُن تأْ ِو ْيال‬


َ ِ‫َذل‬
“yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya”(Q.S An-Nisa :59)
dan diantarany berarti “al-maal” (tempat kembali)
Sedangkan menurut istilah ulama ushul adalah memalingkan makna dari lahirnya
karena ada dalil. Termasuk ketetapan para ulama bahwa pada dasarnya tidak benar
memalingkan lafal dari lahirnya. Sedangkan takwil itu , dalam arti memalingkan
lafal dari lahirnya, tidak dibenarkan kecuali atas dalil syara’ , baik nash atau kias,
jiwa pembentukan hukum dan prinsip-prinsip umum. Jika takwil tidak didasarkan
dalil syara’ ynag shahih , bahkan didasarkan atas hawa nafsu, tujuan tertentu, dan
mendukung suatu pendapat , maka takwil itu tidak benar dan main-main terhadap
undang-undang dan nash hukum. Begitu juga apabila takwil itu bertentangan dengan
nash yang sharih (jelas) atau mentakwil kalimat kepada makna yang tidak dikandung
oleh lafal.

9
Menutup semua pintu takwil dan selalu mengambil yang zhahir , sebagaimana
madzhab Zhahiri, kadang dapat menyebabkan jauh dari jiwa pembentukan hukum dan
keluar dari kaidah umum dan melahirkan nash secara bertentangan. Sedangkan
membuka kedua daun pintu takwil tanpa ketelitian dan kehati-hatian , terkadang
menyebabkan tergelincir dan mempermainkan nash dan serta menuruti hawa nafsu.
Yang benar adalah memungkinkan penggunaan takwil yang shahih . yakni, makna
yang ditunjukan oleh petunjuk dari nash, kias atau kaidah umum. Makna itu tidak
diingkari oleh lafal bahkan lafal itu mengandung makna dengan teori hakikat atau
majaz dan tidak bertentangan dengan nash yang jelas. (Abdul wahab Khallaf,1424
H:239)

c. Mufassar
Menurut istilah ahli ushul fikih al-mufassar adalah nash yang dengan sendirinya
menunjukan makna secara rinci yang tidak memungkinkan adanya takwil. Antara
lain karena bentuk nash itu dengan sendirinya telah menunjukkan makna secara jelas
dan rinci yang didalamnya tidak ada lagi kemungkinan diberi makna lain.
Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang
tegas dan jelas, sehingga petunjukknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis,
namun pada masa Rasulullah masih bisa dinasakh.
As-Sarakhsi memberikan definisi mufassar dengan ungkapan sebagai berikut: (As-
Sarakhsi, 1372 H.I : 165).

Artinya:
“ suatu nama untuk sesuatu yang tebuka dan dapat diketahui maksudnya dengan
jelas seta tidak ada kemungkinan ditakwil.”
Atas dasar definisi tersebut maka kejelasan petunjuk mufassar lebih tinggi
daripada petunjuk zhahir dan nash. Hal ini karena pada petunjuk zhahir dan nash
masih terdapat kemungkinan tersebut sama sekali tidak ada. Sebagai contoh firman
Allah SWT :
ً‫ف الَّ ِذ يْ يُع َْرفُ ْال ُم َرا ُدبِ ِه َم ْك ُشوْ فًاعَل َى َوجْ ٍه الَيَبْق َى َم َعهُ اِحْ تِ َما ال‬
ِ ْ‫اِ ْس ٌم لِ ْل َم ْك ُشو‬

Artinya:
”dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi
kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertawakal.” (QS.At-Taubah : 36)

10
Lafazah musyrikin pada ayat tersebut pada mukanya dapat ditaksis, namun
dengan adanya lafazh keafaan kemungkinan itu menjadi tidak ada.
Dilalah mufassar wajib diamalkan secara qath’i, sepanjang tidak ada dalil yang
me-nasakh-nya. Lafazh mufassar tidak mungkin dipalingkan artinya dari zhahi-nya,
karena tidak mungkin di-takwil dan di-takhsis, melainkan hanya bisa di-nasakh atau
diubah apabila ada dalil yang mengubahnya.
Dengan demikian, dilalah mufassar lebih kuat daaripada dilalah zhahir dan
dilalah nash. Oleh sebab itu apabila terjadi pertentangan antara dilalah mufassar
dengan dilalah mash dan zhahir maka dilalah mufassar harus didahulukan.
Hukum mufassar harus diamalkan sebagaimana penjelasan terhadapnya, ia
tidakmungkin dipalingkan dari makna lahirnya. Hukumnya bisa menerima nasakh
(disalin) jika termasuk kedalam hukum cabang yang mengalami perubahan. Jadi, tafsir
yang meniadakanvkemungkinan takwil adalah tafsir yang diambil langsung daari
bentuk kalimatnya, atau yang diambil dari penjekasan (tafsir)nya yang pasti ,
disamakan dalam bentukanya, dan keluar dari yang disyariatkan itu sendiri, karena
penjelasan ini termasuk undang-undang . sedangkan tafsir dari para peneliti dan para
mujtahid tidak dianggap bagian yanfg menyempurnkan undang-undang, tidak dapat
menghilangkan kemungkinan takwil, dan selain syari’ sendiri mengenai nash yang
mungkin ditakwil tidak berhak untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hal
ini, bukan lainnya (Abdul wahab Khallaf,1424 H:241)
Dari perbandingan antara takwil dan tafsir , jelaslah bahwa keduanya menjelaskan
maksud dari nash; hanya saja tafsir menjelaskan maksud dengan dalil yang pasti dari
syari’ sendiri. Oleh karena itu ia tidak bisa diberi makna yang lain. Sedangkan takwil
adalah menjelaskan nash dengan dalil yang bersifat dugaan dengan ijtihad, ia tidak
pasti dalam menentukan maksud nask, sehingga masih mungkin diberi makna lain.

d. Muhkam
Muhkam menurut istilah ulama ushuk fikih adalah sesuatu yang menunjukan
kepada maknayang dengan sendirinya tidak menerima pembatalan dan penggantian
berdsarkan petunjuk yang jelas, dan sama sekali tidak mengandung takwil. Ia tidak
menerima takwil, yakni diberi makna lan selain lahirnya., karena ia bersifat rinci dan
jelas, dan sama sekali tidak mengandung takwil. Ia tidak menerima nasakh , baik pada
masa kerasulan, masa kekosongan turunnya wahyu dan atau masa sesudahnya. Karena
hukum ayang diambil daripadanya mungkin berupa hukum dasar dari kaidah agama
yang tidak mungkin dirubah, seperti menyembah Allah Yang Maha Esa dan Iman

11
kepada Rasul dan Kitab-Kitab-Nya. Atau diambil dari prinsip keutamaan yang tidak
berubah oleh perubahan keadaan, seperti berbuat baik kepada kedua orang tua dan
adil. Atau dari hukum cabang yang juz’i (anak cabang) tetapi terdapat bukti bahwa
syari’ menguatkan syariatnya. (Abdul wahab Khallaf,1424 H:242)

Mukam adalah suatu lafazh yang menunjukkan makna dengan dilalah tegas dan
jelas secara qath’i, dan tidak mempunyai kemungkinan di-takwil, di-takhsis, dan di
nasakh meskipun pada masa Nabi, lebih-lebih pada masa setelah Nabi.
Misalnya firman Allah SWT:
‫َوهللاُ بِ ُك ِّل َشي ٍْئ َعلِ ْي ٌم‬

Artinya:
”dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.”
Pengertian ayat tersebut sangat jelas dan tegas dan tidak mungkin diubah.
Muhkam menurut bahasa diambil dari kata ahkama, yang berarti atqana, yaitu
pasti dan tegas. Sdangkan menurut istilah adalah sebagaimana yang dikemukakan
As-Suraksi :
‫النّ ْس ُخ َعلَ ْي ِه يَ ُر َّد اَ ْن ِم ْن َو ْي ِل ِوالتَّا اَحْ تِ َما َل ِم ْن ُم ْمتَ ِم ٌع فَ ْال ُمحْ َك ُم‬
Artinya :
”Muhkam itu menolak adanya penakwilan dan adanya nasakh.”
Dialalah muhkam wajib diamalkan secara qath’i, tidak boleh dipalinkan dari
maksuda aslalnya dan tidak boleh dihapus. Oelh sebab itu, dilalah muhkam lebih kuat
daripada seluruh macam dilalah yang lainnya. Dengan sendirinya, apabila terjadi
pertentangan dengan macam dalil diatas maka yang harus didahulukan adalah dilalah
muhkam.

B. Kegunaan dan Pengaruh Zhahir, Nash, Mufassar, dan Muhkam terhadap


Penetapan Hadits

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa lafazh memurut kejelasan adalah
bertingkat-tingka. Macam-macam tingkatan lafazh ini mempunyai faedah dan
pengaruh dalam menggali dan menetapkan hukum. Kegunaan dan pengaruh tersebut
dapat dirasakan apabila terjadi pertentangan antara petunjuk macam-macam lafazh
tersebut.

12
a. Pertentangan antara Zhahir dan Nash
Misalnya tentang halalnya menikahi wanita tanpa dibatasi jumlahnya yan
bertentangan dengan halalnya menikahi wanita itu dengan dibatasi empat
orangsaja.
Coontohnya firman Allah SWT surat An-Nisa:24
Artinya:
” dan dihalalkan bagi kamu apa yang dibelakang(selain) demikiana itu bahwa
kamu mencari dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina...”
Bertentangan dengan An-Nisa:3
Artinya:
” dan jika kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak
yatim(perempuan), maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi
dua, tiga, empat. Maka jika kamu tidak akan dapat berlaku adil maka(hendaklah
cukup satu saja,atau kawinilah budak-budak yang kamu miliki...”
Ayat pertama menunjukkan halalnya menikahi wanita yang halal tanpa
dibatasi jumlahnya. Dilalah tersebut termasuk zhahir. Berdasarkan dilalah ini,
seorang laki-laki boleh mengawini lebih dari empat. Sedangkan ayat yang kedua
dilalah nash. Ayat kedua ini menunjukkkan halalnya menikahih wanita itu
dibatasi empat, sehingga menikahi wanita lebih dari empat itu adalah haaram.
Dengan demikian terjadi pertentangan antara ayat pertama dan kedua.
Dalam hal ini dilalah yang diambil adalah dilalah yang kedua, karena dilalah nash
lebih kuat dari dilalah zhahir.
b. Pertentangan antara Nash dan Muhkam
Contoh yang bisa dikemukakan disini adalah surat an-nisa:3 , Bertentangan
dengan surat al-ahjab: 53
Artinya:
” dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak pula mengawini
istri-istrinya sesudah ia wafat selama-lamanya...”
Ayat pertama menunjukkan dilalah nash, secara dilalah nash ayat ini
menunjukkan dibolehkannya mengawini wanita mana saja termasuk janda
Rasulullah dengan syarat tidak melebihi empat. Ayat kedua dilalahnya mukam,
ayat ini mengharamkan mengawini janda Rasulullah. Dengan demikian, ada
pertengan antara dua ayat tersebut, maka harus diambil dilalah ayat yang kedua,
karena dilalah ayat ini muhkam.

13
c. Pertentangan antara Nash dan Mufassar
Sebagian ushuliyyin memberikan contoh tentang dua hadits mengenai
wudunya orang yang sdang mustahadah(keluar darah haid karena penyakit), hadits
pertama yang diriwayatkan Aisyah, ia berkata “Fatimah binti Abu Hubaisy datang
kepada Rasulullah dan ia berkata’sesungguhnya aku ini dalam keadaan
mustahadah, sehingga aku tidak bisa bersuci, apakah aku haru smeninggalkan
sholat?’ Rasulullah menjawab.’tidak.karena mustahadah bukan darah haid.
Jauhilah sholat pada masa haidmu, kemudan mandilah dan berwudulah untuk
setiap sholat, dan sholatla sekalipun dalam keadaan mustahadah.”(As-Syaukani.
I:299)
Dalam riwayat lain memakai ungkapan,’berwudu;ah tiap waktu sholat” *Az-
Zayla’i, I, t.t :125)
Hadis riwayat pertama menunjukkan bahwa seorang wanita mustahadah
wajib berwudhu untk setiap sholat. Dengan demikian tidak sah shalatnya lebih
dari satu sholat dengan satu wudhu pun sungguhpun pada waktu yang sama.
Sedangkan HR kedua menunjukkan bahwa wajibnya berwudu itu untuk seluruh
shalat. Atas dasar ini, boleh shlat untuk beberapa kali, dengansatu wudhu selama
waktu melakuka sholat itu masih ada.
H.R pertama berbetuk Nash , sedangkan HR kedua berbentuk Mufassar.
Oleh karen itu kita harus mendahulukan hR yang kedua.
d. Pertentangan anatara Mufassar dan Muhkam
Pertentang tersebut seperti surat Al-Thalaq:2
Artinya :
”...dan persaksikanlah dengan duaorang saksi yang adil diantara kamu.”
Bertentangan dengan surat An-Nur: 4
Artinya :
”...dan janganlah kamu terima persaksian mereka buaelama-lamanya.
Ayat pertama termasuk Mufassar. Ayat ini menunjukkan diterimanya kesaksian
yang adil daru siapa saja. Ayat yang kedua temasuk muhkam, ayat ini
menunjukkan tidak bisa diterima kesaksian orang yang menuduh zina,
sungguhpun ia bertobat. Dalam hal ini menurut sebagian ulama menggunakan
petunjuk ayat yang kedua.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Az-zhahir menurut istilah ahli ushul fikih adalah sesuatu yang maksudnya
ditunjukan oleh bentuk nash itu sendiri tanpa membutuhkan faktor luar, bukan
tujuan asal dai susunan katanya dan mungkin untuk ditakwil.(Abdul Wahab
Khallaf,1424 H : 232)
Nash,menurut istilah ulama ushul fikih adalah suatu yang dengan
bentuknya sendiri menunujukan makna asal yang dimaksud dari susunan katany
dan mungkin untuk ditakiwil
Menurut istilah ahli ushul fikih al-mufassar adalah nash yang dengan sendirinya
menunjukan makna secara rinci yang tidak memungkinkan adanya takwil.
Muhkam menurut istilah ulama ushuk fikih adalah sesuatu yang
menunjukan kepada maknayang dengan sendirinya tidak menerima pembatalan
dan penggantian berdsarkan petunjuk yang jelas, dan sama sekali tidak
mengandung takwil
Menurut istilah ahli ushul fikih al-mufassar adalah nash yang dengan
sendirinya menunjukan makna secara rinci yang tidak memungkinkan adanya
takwil
2. Jika terjai pertentangan ayat pertama dan kedua. Dalam hal ini dilalah yang
diambil adalah dilalah yang kedua, karena dilalah nash lebih kuat dari dilalah
zhahir.
Pertentangan antara Nash dan Muhkam : ada pertengan antara dua ayat
tersebut, maka harus diambil dilalah ayat yang kedua, karena dilalah ayat ini
muhkam.
Pertentangan antara Nash dan Mufassar : Maka jika terjadi pertentangan
mufassar didahulukan.
Pertentangan antara Mufassar dan Muhkam :Ayat pertama termasuk
Mufassar. Ayat ini menunjukkan diterimanya kesaksian yang adil daru siapa saja.
Ayat yang kedua temasuk muhkam, ayat ini menunjukkan tidak bisa diterima
kesaksian orang yang menuduh zina, sungguhpun ia bertobat. Dalam hal ini
menurut sebagian ulama menggunakan petunjuk ayat yang kedua.

15
B. Saran
Sebagai penyusun yang masih memiliki banyak kekurangan dalam
membuat makalah ini, kami berharap kritik dan saran yang dapat membangun
dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada menjadi satu kelebihan-
kelebihan kecil,halaman ini untuk dapat diisi dengan kritik saran bagi para
pembaca, teman-teman khususnya dosen pengampu:

16
Daftar Pustaka
Syafe’i Rahmat, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2010
Wahab Abdul Khallaf, Ilmu Ushul Fikih,Jakarta:Pustaka Amani,2003

17