Anda di halaman 1dari 28

I.

Anatomi dan Fisiologi Abdomen

         Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas dari atas dari diafragma sampai pelvis di bawah. Rongga abdomen
dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar dari pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih
kecil. Batas-batas rongga abdomen adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah pintu masuk panggul dari panggul besar, di depan dan di kedua sisi otot-
otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas dan quadratus lumborum. Bagian dari
rongga abdomen dan pelvis beserta daerah-daerah (Pearce, 1999).
Pemeriksaan abdomen diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1)      FPA / BNO / KUB / Plain Abdomen

Pemeriksaan abdomen ini dilakukan dengan persiapan khusus. Persiapannya yaitu pasien sebelumnya puasa berapa jam sesuai instruksi dari dokter,
makan makanan yang halus seperti bubur kecap (agar proses pengosongan feses cepat). Foto ini umumnya digunakan untuk pemeriksaan awal sebelum
pemasukan media kontras. Hal ini bertujuan untuk melihat persiapan pasien, melihat kesesuaian faktor eksposi dan untuk melihat kondisi secara umum dari
organ-organ dari kavum abdomen.
2)      Abdomen Akut

Pemeriksaan ini tanpa dilakukan dengan persiapan khusus. Jadi, pasien datang ke rumah sakit langsung difoto. Kondisi dari pasien ini bisa diakibatkan
adanya obstruksi, perforasi, udara bebas pada intraperitoneal atau massa pada abdomen. Kondisi akut ini sering disebut acute abdominal serie  atau two
way(AP supine dan LLD) atau three way abdomen serie(AP supine, LLD dan AP setengah duduk) (Bontrager, 2001).

II. Otot Penyusun Abdomen (Bontrager, 2001).


Abdomen disusun oleh banyak otot. Tiga otot yang sangat penting:
a)      Diafragma

  Merupakan otot yang berbentuk seperti payung yang memisahkan rongga dada dengan rogga perut

b)      Psoas mayor kanan dan kiri

  Kedua otot ini terletak di sebelah kolumna vertebra lumbalis


a. Sistem Organ Abdomen
Isi dari rongga abdomen adalah sebagian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus dan usus besar (Pearce, 1999). 
Sistem organ pada abdomen terdiri dari tractus digestivus, tractus urinarius dan organ aksesoris digestivus.
         TRACTUS DIGESTIVUS

Tractus digestivus berisi system pencernaan dan organ aksesoris degestivus  yang dikontribusikan untuk proses pencernaan. Cavum abdominal pelvic
digariskan oleh double-wall, seromembranosa yang dinamakan peritoneum. Bagian terluar yang dinamakan parietal dekat dengan dinding pelvis dan
dibawah diafragma. Sedangkan bagian luar bernama visceral. (Merril, 1975)
Organ dari system digestivus terdiri dari:
a)      Mulut

b)      Faring

c)      Oesophagus

d)     Gaster

e)      Intestinum Tenue

f)       Intestinum Crassum
Mulut
Mulut adalah rongga lonjong pada permulaan saluran pencernaan. Bagian luar yang sempit (vestibula) yaitu ruang diantara gusi serta gigi dengan bibir dan
pipi, dan bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi oleh tulang maksila dan semua gigi. (Pearce, 2002)
Faring
Terletak di belekang hidung, mulut dan laring. Berupa saluran berbentuk kerucut dari muskulo membranosa. Faring terdiri dari nasofaring, orofaring dan
laringofaring. (Pearce, 2002)
Esofagus
Terletak di mediastinum pada cavum thorax. (Bontrager, 2001)
Gaster
Gaster mempunyai dua permukaan anterior dan posterior dan dua sisi yang dinamakan kurvatura. Gaster dibagi kardiak dan pyloric yang melewati insisura
angularis dari kurvatura minor dan dilatasi kurvatura mayor. (Merril, 1975)
Intestinum Tenue
Merupakan tabung yang kira-kira dua setengah meter. Intestinum tenue ini terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum. (Pearce, 2002)
Intestinum Crassum
Intestinum crassum ini terdiri dari katup ileosekal, appendik vermiformis, colon ascenden, fleksura coli dextra, colon transversarium, fleksura coli
sinestra, colon descenden, sigmoid, rectum dan anal canal.
         TRACTUS URINARIUS

Sistem urinari terdiri dari:


a)      Ginjal, yang mengeluarkan secret urine

b)      Ureter, yang menyalurkan urine dari ginjal ke vesica urinaria

c)      Vesica Urinaria, yang bekerja sebagai penampung

d)     Uretra, yang mengeluarkan urine dari vesica urinaria

Ginjal
Terletak di dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, disebelah kanan dan kiri tulang belakang. Dibungkus lapisan lemak yang tebal,
dibelakang peritoneum, dan karena itu diluar rongga peritoneum. Kedudukannya kira-kira pada ketinggian vertebrae torakalis terakhir sampai lumbal
ketiga. Fungsi ginjal terdiri dari filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubula dan sekresi tubula.
Ureter
Kira-kira setebal bulu angsa yang panjangnya 35-40 cm.
Vesica Urinaria
Dindingnya terdiri atas lapisan serus sebelah luar, lapisan berotot, lapisan submukosa, lapisan mukosa dari epithelium transisional.
Uretra
Terdiri atas serabut otot lingkar yang membentuk sfingter uretra. Panjang uretra perempuan 2,5-3,5 cm sedangkan pria 17-22,5 cm. (Pearce, 2002)
         ORGAN AKSESORIS DIGESTIVUS
 

Hepar
Kelenjar terbesar dalam tubuh, yang terletak dibagian teratas dalam rongga abdomen sebelah kanan dibawah daifragma. Secara luas dilindungi iga-iga.
Vesica Vellea
Sebuah kantong berbentuk terong dan ,merupakan membrane berotot. Letaknya di dalam sebuah lekukan di sebelah bawah permukaan bawah hati, sampai
di pinggiran depan.
Pancreas
Kelenjar majemuk bertandan, strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah. Panjangnya lima 15 cm, mulai dari duodenum sampai limpa. Bagian dari
pancreas adalah caput, corpus, colum dan cauda. (Pearce, 2002)

b. Cavum Abdomen (Bontrager, 2001).


Ada 4 ketentuan penting yang menjelaskan anatomi cavum abdomen :
1. Peritoneum
Merupakan lapisan serosa ganda yang membungkus struktur, organ dan dinding dalam abdomen. Terdapat  dua jenis peritoneum, yaitu peritoneum
parietalis dan visceralis. Peritoneum paritealis merupakan lapisan ganda peritoneum yang melapisi dinding dalam abdomen. Sedangkan, peritoneum
visceralis merupakan peritoneum yang membungkus organ-organ pada abdomen.
2. Mesenterium
Merupakan lapisan ganda peritoneum, yang berbentuk seperti kipas dan menghubungkan usus halus ke dinding posterior  abdomen. Pada mesenterium ini
terdapat banyak pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf.
3. Omentum
Jenis khusus lapisan ganda peritoneum yang menggantumg dari lambung menuju organ lainnya disebut omentum. Terdapat dua macam omentum, yaitu
omentum mayus dan minus. Omentum mayus menghubungkan kuvatura mayor lambung dengan kolon transversum. Sedangkan omentum minus berada
di atas kurvatura minor  dan memanjang sampai  ke hati.
4. Mesocolon
Merupakan lapisan peritoneum yang mengikat  kolon ke dinding posterior abdomen. Terdapat empat jenis mesocolon, yaitu ascendens, transversum,
descendense, dan sigmoid (pelvis).

c. Batas Cavum Abdomen


a)      Cranial : diaphragma

b)      Caudal : diphragma pelvis

c)      Anterior : m. rectus anatomi, m. pyramidalis, bagian anterior dr aponeurosis m. Obliqus abdominis eksternus, m. obliquus abdominis internus, dan
m. transverses abdominis.

d)     Posterior : corpus dan discus intervertebralis Vertebrae Lumbal I-V, crus diaphragm, m. psoas major, m. psoas minor, m. iliacus, m. quadratus
lumborum, ala ossis ilii.

e)      Lateral : m. obliquus abdominis eksternus, m. obliquus abdominis internus, m. transverses abdominis, m. iliacus, os. coxae

d. Kuadran Pada Abdomen


Abdomen dibagi menjadi 4 kuadran. Perpotongan tersebut terpusat melalui umbilicalis.
Kuadran-kuadran yng terbentuk meliputi:
a)      RUQ (Right upper Quadrant)

b)      LUQ (Left Upper Quadrant)

c)      RLQ (Right Lower Quadrant)

d)    LLQ (Left Lower Quadrant)

III. Patologi
1. Trauma
  Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera (Sjamsuhidayat, 1997). Trauma diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu trauma dinding abdomen dan trauma pada organ cavum abdomen.
a.  Trauma pada dinding abdomen terdiri kontusio dan laserasi.
 Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi ekimosis atau penimbunan darah dalam jaringan lunak
dan masa darah dapat menyerupai tumor.
 Laserasi, jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen harus dieksplorasi (Sjamsuhidayat, 1997). Atau terjadi
karena trauma penetrasi.
b. Trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Sjamsuhidayat (1997) terdiri dari:
 Perforasi organ visceral intraperitonium. Cedera pada isi abdomen mungkin disertai oleh bukti adanya cedera pada dinding abdomen.
 Luka tusuk (trauma penetrasi)
 Cedera thorax abdomen
2. Peritonitis
               Peritonitis adalah inflamasi peritoneum ( lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera) merupakan penyakit  berbahaya
yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans
muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi.
             Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara
perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila
infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus.Peradangan menimbulkan
akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat
menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa
ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit
oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.
Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah
kapiler organ-organ tersebut meninggi.
                Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding
abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak
ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha
pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.
               Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan
perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan
elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-
lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.
               Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi
peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai
terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi
iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen
sehingga dapat terjadi peritonitis.
  Peritonitis sering disebabkan oleh infeksi bakteri yaitu:

1.       Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal


2.       Appendisitis yang meradang dan perforasi
3.       Tukak peptik (lambung/dudenum)
4.       Tukak thypoid
5.       Tukan disentri amuba/colitis
6.       Tukak pada tumor
7.       Salpingitis
8.       Divertikulitis

              Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus alpha dan beta hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling
berbahaya adalah clostridium wechii.

1.       Secara langsung dari luar.


2.       Operasi yang tidak steril
Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa
sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.Trauma pada kecelakaan
seperti rupturs limpa, ruptur hati. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis
granulomatosa. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis
media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. Berdasarkan patogenesis peritonitis
dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Peritonitis bakterial primer
Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam
abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi
menjadi dua, yaitu:
a)   Spesifik : misalnya Tuberculosis
b)   Non spesifik : misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis.
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi.
Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis
dengan asites.
Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organisme
tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini.
Bakteri anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.Selain itu luas
dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Kuman dapat berasal dari:
 Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal.
 Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia, perforasi usus sehingga feces
keluar dari usus.
 Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis.
 Peritonitis tersier
Peritonitis tersier, misalnya:
Peritonitis yang disebabkan oleh jamur.
Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii
misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine.
Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:
 Aseptik/steril peritonitis
 Granulomatous peritonitis
 Hiperlipidemik peritonitis
 Talkum peritonitis.
3. Obstruksi Usus
Penyumbatan usus yang terjadi karena adanya daya mekanik dan mempengaruhi dinding usus sehingga mengakibatkan penyempitan
atau penyumbatan lumen usus.
4. Preumo Peritoneum
Merupakan adanya udara di dalam rongga peritoneum, (Bontrager, 2001) 
5. Editis Ulseratif
Merupakan penyakit dimana daerah yang luas dari usus besar meradang dan mengalami ulserasi. (Bontrager, 2001) 
6. Volvulus
Disebut juga torsi merupakan pemutaran usus dengan mesenterium sehingga poros. (Bontrager, 2001) 
7. Tumor / neoplasma
Kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan
jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh
8. Ulkus atau tukak
Terjadi apabila sebagian permukaan tulang jaringan hilang sedang sekitarnya meradang. Bisa terjadi di kulit atau alat dalam seperti
lambung dan usus
IV. Teknik Pemeriksaan Abdomen Akut (Tanpa Persiapan)
1. Persiapan Pasien
Pada pemeriksaan foto abdomen akut ini, tidak ada persiapan khusus seperti persiapan untuk menjalani pemeriksaan kontras. Jadi, pasien datang ke
ruang radiologi langsung difoto. Selanjutnya, pasien harus meninggalkan aksesoris seperti ikat pinggang ataupun logam-logam (uang koin) lain di saku
celana yang bisa mengganggu radiograf.
Teknik eksposi :
  Pemeriksaan tanpa media kontras, hal ini sangat diperlukan untuk memperoleh perbedaan gambaran soft tissue yang maksimal dalam keseluruhan
perbedaan tiap bagian abdomen . Dikarenakan cakupan ketebalan pada abdomen  dan perbedaan yang jelas terhadap densitas fisik antara tiap isi
visera .ini dibutuhkan untuk penggunaan teknik eksposi yang lebih, untuk mempertunjukan perbedaan suatu organ dengan organ lain di dekatnya .

Proteksi Radiasi :
a)      Gunakan gonad shield bila tidak menutup obyek yang dilihat

b)      Tutup gonad pada pasien bereproduksi aktif

c)      Tidak pakai gonad apabila dilihat tidak memungkinkan untuk ditutup

2. Persiapan Alat dan Bahan

a)      Pesawat sinar-X GE 500 mA


b)      Kaset ukuran 35x 43cm
c)      Marker R/L
d)     Solatip
e)      Grid
f)       Control table
g)      Manual processing, otomatic processing atau CR

3. Proyeksi Pemeriksaan
A. Proyeksi Anteroposterior (AP) Supine
 Patologi :
obstruksi organ-organ dalam perut, neoplasma, kalsifikasi dan ascites
 Posisi pasien :                        
 Supine
 MSP tubuh segaris dengan pertengahan IR atau mid-line meja pemeriksaaN
 Lengan diletakkan disamping tubuh dan agak jauh dari tubuh pasien
 Kedua bahu simetris
 Kaki diekstensikan, beri pengganjal pada knee untuk kenyamanan pasien
 Posisi obyek :          
 Pertengahan kaset berada setinggi krista iliaka, dengan batas bawah kaset pada simpisis pubis, dan batas atas kaset pada diafragma atau
xipoideus
 Tidak ada rotasi pada pelvis
 Kedua SIAS berjarak sama terhadap permukaan meja pemeriksaan
 Arah sinar (CR)        :
Vertikal tegak lurus kaset
 Titik bidik (CP)        :
Pertengahan kaset (setinggi krista  iliaka)
 Respirasi                   :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi
 Faktor eksposi          :
kV     = 80                 FFD     = 100 cm
       mAS   = 22           Kaset   = 35 X 43 cm

 
 Kriteria Radiograf: (Ballinger, 2003)
 Tampak daerah abdomen sampai batas simpisis pubis
 Tampak garis luar hati, limpa, ginjal dan lambung yang dipenuhi udara
 Menunjukan gambaran soft-tissue
 Tidak ada rotasi pada pasien, prosesus spinosus tampak ditengah dari vertebrae lumbal, kedua spina ischiadica pada pelvis tampak simetris
dan kedua ala ilium tampak simetris
 Kedua SIAS dan os. Illiac simetris
B. Proyeksi Left Lateral Decubitus
 Patologi :
Tumor, air fluid level, akumulasi udara intraperitoneal
 Posisi pasien :                        
 Pasien tidur miring pada meja pemeriksaan
 Knee agak difleksikan
 Lengan difleksikan dan diletakkan di depan kepala
 Tidak ada rotasi pada bahu
 Posisi obyek :          
 Pertengahan kaset berada ± 2 inchi (5 cm di atas krista iliaka). Proksimal margin dari kaset kira-kira berada setinggi aksila
 Tidak ada rotasi pada pelvis dan shoulder
 Arah sinar (CR) :
horizontal,  tegak lurus pada pertengahan kaset
 Titik bidik (CP) :
Setinggi 2 inches (5 cm) di atas krista iliaka
 Respirasi :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi. Sebelum eksposi dianjurkan tidur miring selama 5 menit, 10-20 menit lebih direkomendasikan
 Faktor eksposi :
kV                       = 80     FFD     = 100 cm
      mAS                   = 30     Kaset   = 35 X 43 cm

 Kriteria Radiograf : (Bontrager, 2001)

 Tampak air-filled stomach dan loops of bowel


 Tampak air-fluid level
 Tampak diafragma bilateral dan sebagian besar abdomen bawah.
C. Proyeksi Anterosuperior Setengah duduk
 Patologi :
Tumor, air fluid level dan udara intraperitoneal di bawah diafragma.
 Posisi pasien :                        
 Erect
 Berat badan tertumpu pada kedua kaki
 Punggung menempel pada permukaan kaset
 Lengan berada di samping tubuh
 MSP berada pada pertengahan kaset
 Posisi obyek :          
 Pertengahan kaset berada ± 2 inchi (5 cm di atas krista iliaka). Untuk kebanyakan pasien bagian atas kaset  akan berada
setinggi aksila
 Tidak ada rotasi pada pelvis dan shoulder
 Arah sinar (CR) :
Vertikal tegak lurus pada pertengahan kaset
 Titik bidik (CP) :
Setinggi 2 inches (5 cm) di atas krista iliaka
 Respirasi :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi. Sebelum eksposi dianjurkan duduk selama 5 menit, 10-20 menit lebih direkomendasikan
 Faktor eksposi         :
kV                       = 80     FFD     = 100 cm
     mAS                     = 30     Kaset   = 35 X 43 cm

 Kriteria Radiograf: (Bontrager, 2001)


 Tampak gambaran abdomen yang terisi udara
 Tampak air-fluid level
 Tampak diafragma bilateral dan sebagian besar abdomen bawah

D. Proyeksi Posteroanterior Prone


 Patologi :
obstruksi, neoplasma, kalsifikasi, ascites
 Posisi pasien :                       
 Prone
 MSP tubuh segaris dengan pertegahan kaset atau mid-line meja pemeriksaan
 Kaki diekstensikan, berikan pengganjal di bawah ankle
 Lengan berada di samping kepala
 Tidak ada rotasi pada shoulder
 Posisi obyek :                      
 Pertengahan kaset berada setinggi krista iliaka, dengan batas bawah kaset pada simpisis pubis, dan batas atas kaset pada
diafragma atau xipoideus
 Tidak ada rotasi pada pelvis
 Arah sinar (CR) :
Vertikal tegak lurus pada pertengahan kaset
 Titik bidik (CP) :
Setinggi krista iliaka
 Respirasi :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi.
 Faktor eksposi :
kV = 80     FFD     = 100 cm
      mAs = 22     Kaset   = 35 X 43 cm
 Kriteria Radiograf: (Bontrager, 2001)
 Tampak daerah abdomen sampai batas simpisis pubis
 Tampak garis luar hati, limpa, ginjal dan lambung yang dipenuhi udara
 Menunjukan gambaran soft-tissue
 Kedua SIAS dan os. Illiac simetris

E. Proyeksi Dorsal Decubitus


 Patologi :
Massa abnormal pada abdomen, air fluid level, aneurisma, kalsifikasi aorta, umbilical hernia
 Posisi pasien :
 Pasien supine pada radiolucent pad
 Gunakan bantal sebagai pengganjal kepala
 Knee agak difleksikan
 Lengan  diletakkan di atas kepala
 Tidak ada rotasi pada bahu
 Posisi obyek :          
 Pasien supine pada radiolucent pad
 Gunakan bantal sebagai pengganjal kepala
 Knee agak difleksikan
 Lengan  diletakkan di atas kepala
 Tidak ada rotasi pada bahu
 Arah sinar (CR) :
Vertikal tegak lurus pada pertengahan kaset
 Titik bidik (CP) :
2 inchi diatas krista iliaka
 Respirasi :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi.
 Faktor eksposi :
kV = 80     FFD     = 100 cm
mAS = 30     Kaset   = 35 X 43 cm
 Kriteria Radiograf: (Bontrager, 2001)
 Tampak diafragma dan sebagian besar abdomen bagian bawah
 Airr-filled loops dari bowel pada abdomen dengan detail soft tissue tampak jelas pada prevertebral dan region anterior
abdomen
F. Proyeksi Lateral
 Patologi :
Aneurisma, kalsifikasi
 Posisi pasien :
 Pasien dalam posisi lateral recumben kanan atau kiri
 Gunakan bantal sebagai penahan kepala
 Elbow difleksikan lengan diangkat, knee dan hips sebagian difleksikan juga
 Letakkan bantal diantara knee dan hips sebagai alat fiksasi
 Posisi obyek :          
 Midcoronal plane sejajar dengan pertengahan meja pemeriksaan
 Usahakan pelvis dan thorax tidak ada rotasi sehingga berada dalam posisi true lateral
 Arah sinar (CR) :
Vertikal tegak lurus pada pertengahan kaset
 Titik bidik (CP) :
2 inchi diatas krista iliaka
 Respirasi :
Ekspose pada saat akhir ekspirasi.
 Faktor eksposi :
kV = 80     FFD     = 100 cm
 mAS = 60     Kaset   = 35 X 43 cm
 Kriteria Radiograf: (Bontrager, 2001)
 Tampak diafragma dan sebagian besar abdomen bagian bawah
 Airr-filled loops dari bowel pada abdomen dengan detail soft tissue tampak jelas pada prevertebral dan region anterior
abdomen
V. Teknik Pemeriksaan Abdomen Non Acut
Pemeriksaan abdomen non acut ini biasa disebut pemeriksaan abdomen persiapan. Dari nama itu berarti untuk teknik pemeriksaan ini membutuhkan
persiapan. Persiapan-persiapan untuk pemeriksaan ini meliputi :

 1-2 hari sebelum pemeriksaan pasien melekukan diet makanan berserat kasar. Oleh karena itu hanya boleh makan-makanan yang lunak dan tidak
mengandung serat kasar seperti bubur kecap.
 12. jam sebelum pemeriksaan meminum obat dulkolak dan dilanjutkan puasa sampai jalanya pemeriksaan.
 4 jam sebelum pemeriksaan pasien diberi dulkolak kembali untuk membersihkan sisa faes agar benar-benar bersih.
 Dalam puasa pasien dilarang berbicara dan merokok untuk mengurangi udara dalam usus.
 Pagi harinya pasien dilavenment untuk menuntaskan fases dalam usus.

Proyeksi-proyeksi yang ada di pemeriksaan abdomen non acut cukup sama dengan pemeriksaan abdomen acut. Macam-macam pemeriksaan abdomen
non acut :

a. Proyeksi AP (Anteroposterior)
 Persiapan pasien :
Lepas dan singkirkan benda-benda metal yang berada di daerah ekpose yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
 Kaset : 
ukuran 30×40 cm
 Posisi Pasien   :

Pasien tiduran / supine di meja pemeriksaan dengan MSP tubuh diatur agar berada pada garis tengah meja.

 Posisi Obyek :
Kedua kaki lurus dan beri pengganjal di bawah knee. Kedua tangan diletakkan di samping badan. Atur dan pastikan Abdomen true AP (tidak ada
rotasi pada abdomen). Atur batas atas kaset setinggi Processus xipoideus dan batas bawah kaset setinggi simpisis pubis.
 Central Ray   :
Sinar siarahkan tegak lurus kaset
 Central Point :
Atur titik bidik pada umbilikus atau setinggi vertebra lumbal 3-4.
 FFD               :
100 cm
 Ekspose          : 
Dilakukan disaat pasien ekspirasi dan tahan nafas
 Kriteria Radiograf    :
 Tampak kontur liver (hati), ginjal, dan keadaan dalam abdomen, tampak sedikit costae dan prosesus spinosus, columna vertebrae pada satu garis
lurus
 Jika pasien tidak mengalami rotasi maka tampak prosesus spinosus pada pertengahan vertebrae lumbal, kedua SIAS terlihat simetris, os
iliaca simetris. Selain itu, pada radiograf juga menunjukkan gambar soft tissue seperti lapisan “pro peritoneal fat”, muskulus psoas dan diafragma.
b. Proyeksi AP (Antroposterior) Setengah Duduk
 Persiapan pasien :
Lepas dan singkirkan benda-benda metal yang berada di daerah ekpose yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
 Kaset : 
Kaset yang digunakan adalah kaset ukuran 30×40 cm
 Posisi Pasien   :
Pasien diposisikan setengah duduk dengan memberi bantalan dibawah bahu pasien atau dengan mengatur kemiringan meja pemeriksaan. Atur MSP
tubuh berada pada pertengahan kaset.
 Posisi Obyek   :
Letakkan kedua lengan berada di samping tubuh dan usahakan tidak ada rotasi pada shoulder dan pelvis agar posisi abdomen tidak ada rotasi.
 Central Ray   :
Atur arah sinar agar tegak lurus terhadap kaset.
 Central Point :
Pusat sinar pada ± 2 inchi di atas krista iliaka. Usahakan diafragma tidak terpotong.
 FFD :
100 cm.
 Ekpose : 
Lakukan saat inspirasi penuh dan tahan napas.
 Kriteria Radiograf:
 Tampak kedua diafragma dan bagian bawah abdomen
 Tampak udara bebas di hemidiafragma kanan
 Gaster terisi udara dan terdapat air fluid level pada fundus
c. Proyeksi LLD (Left Lateral Decubitus)
 Kaset              :
Ukuran kaset yang digunakan adalah kaset dengan ukuran 30×40 cm
 Persiapan pasien:
Lepas dan singkirkan benda-benda metal yang berada di daerah ekpose yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
 Posisi Pasien   :
Posisikan pasien agar tidur miring (recumbent) pada sisi kiri, kepala diberi bantal untuk kenyamanan pasien. Atur MSP tubuh sejajar dengan kas

et.                                                       
 Posisi Obyek :
Atur kedua knee fleksi maksimal untuk fiksasi dan letakkan kedua lengan di atas adtau di samping kepala.pastikan tidak ada rotasi pada pelvis atau
shoulder. Letakkan kaset di belakang, menempel pada punggung pasien dan harus mencakup bagian atas abdomen (diafragma).
 Central Ray   :
Atur arah sinar horisontal tegak lurus terhadap kaset.
 Central Point :
Atur pusat sinar di tengah kaset pada ± 2 inchi di atas krista iliaka.
 FFD              : 
100 cm.
 Ekpose           : 
Lakukan saat inspirasi penuh dan tahan napas.
 NB     : 
Luas lapangan penyinaran tidak boleh memotong bagian atas abdomen.
 Kriteria Radiograf :
   
Tampak bayangan daerah abdomen (liver, ginjal, hati) dan air fluid level, tampak diafragma, tampak udara bebas pada abdomen.
d. Proyeksi Lateral
 Kaset              :
Ukuran kaset yang digunakan adalah kaset dengan ukuran 30×40 cm
 Persiapan pasien :
Lepas dan singkirkan benda-benda metal yang berada di daerah ekpose yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
 Posisi Pasien :
Posisikan pasien agar tidur miring (recumbent) ke salah satu sisi kanan atau kiri, berikan bantalan pada kepala untuk kenyamanan pasien.

 Posisi Obyek   :
Atur elbow flexi, lengan ditarik ke atas, knee dan hip flexi, berikan bantalan di antara kedua knee untuk mempertahankan posisi lateral. Sejajarkan
midcoronal plan (MCP) dengan meja pemeriksaan. Pastikan pelvis dan thorak tidak ada rotasi.
 Central Ray  :
Atur arah sinar tegak lurus terhadap kaset.
 Central Point :
Atur pusat sinar di tengah kaset pada ± 2 inchi di atas krista iliaka.
 FFD                : 
100 cm.
 Kriteria Radiograf:  

 Diafragma dan bagian bawah abdomen terlihat.


 Batas air dan udara (air-fluid level) di abdomen dengan detail soft tissue dan tampak di anterior abdomen
e. Proyeksi Dorsal Decubitus
 Kaset :
Ukuran kaset yang digunakan adalah kaset dengan ukuran 30×40 cm
 Persiapan pasien :
Lepas dan singkirkan benda-benda metal yang berada di daerah ekpose yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
 Posisi Pasien   :
Posisikan pasien agar tidur Supine di atas meja pemeriksaan. Lengan pasien di tarik ke atas sehingga terletak di samping kepala dan tekuk knee untuk
kenyamanan pasien.
 Posisi Obyek   :
Atur dan angkat pasien sehingga tepat pada pertengahan grid kemudian pastikan tidak ada rotasi pada pelvis ampai shoulder (jarak kedua sias ke meja
harus sama). Atur ketinggian grid sehingga midcoronal plan (MCP) sejajar dengan  pertengahan grid.
 Central Ray   :
Atur arah sinar horisontal tegak lurus terhadap kaset.Central Point :Atur pusat sinar 5 cm di atas krista iliaka
 FFD                : 
100 cm.
 Ekpose            : 
Lakukan saat inspirasi penuh dan tahan napas.
 Kriteria Radiograf:  

 Diafragma dan bagian bawah abdomen terlihat


 Batas air dan udara di abdomen dengan detail soft tissue dan tampak di anterior abdomen