Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TEKNIK RADIOGRAFI

“ LABIOPALATOSCHIZIS ”
Dosen Pengampu : Sriyatun, SKM, MKM

Disusun Oleh :

KELOMPOK 11, D-IV TRO 2A

Alif Nur Irvansyah (P21130219005)

Cindi Anissa Kusuma (P21130219021)

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN

TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Teknik Radiografi Digestivus dan Urinari mengenai Teknik Radiografi
Labiopalatochizis sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Radiografi
Pediatrik pada Semester III mengenai Teknik Radiografi Labiopalatochizis, Jurusan
Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Jakarta II.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak kekurangan serta keterbatasan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat pada
khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Kami sampaikan terima kasih
sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala
usaha kita.

Jakarta, 8 September 2020

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I 1

A. LATAR BELAKANG 17

B. TUJUAN 17

BAB II 1

1.1 DEFINISI 1

1.2 ETIOLOGI 1

1.3 KLASIFIKASI 1

2. PEMERIKSAAN RADIOLOGI 2

2.1 PEMERIKSAAN SEBELUM LAHIR 2

2.2 PEMERIKSAAN SETELAH LAHIR 3

BAB III 17

C. KESIMPULAN 17

D. SARAN 17

DAFTAR PUSTAKA 18
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Labiopalatoschizis atau yang lebih dikenal sebagai bibir sumbing atau celah
bibir/langit-langit merupakan malformasi kongenital yang paling umum.
Labiopalatoskisis dengan angka kejadian sebesar 45%, labioskisis 25%, dan palatoskisis
sebesar 35 %. Labiopalatoskisis dan labioskisis lebih sering pada anak laki-laki dengan
perbandingan 2:1, sedangkan palatoskisis lebih sering pada anak perempuan dengan
perbandingan 2:1. Palatoschisis paling sering ditemukan pada ras Asia dibandingkan
rasAfrika. Insiden palatoschisis padaras Asia sekitar 2,1/1000, 1/1000
pada ras kulit putih,  dan 0,41/1000  pada  ras kulit hitam. Menurut data tahun 2004, di
Indonesia ditemukan sekitar 5.009 kasus cleft palate dari total seluruh penduduk.

B. Tujuan

1. Mengetahui tentang Labiopalatoschizis


2. Mengetahui teknik Radiografi dan kriteria Radiografi dari pemeriksaan
Labiopalatoschizis
BAB II

PEMBAHASAN

I. LABIOPALATOSCHIZIS

1.1 Definisi

Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa
celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit Labio palatoshcizis
merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato shcizis
(sumbing palatum) labio shcizis (sumbing  pada bibir) yang terjadi akibat
gagalnya perkembangan embrio. Labiopalatoschizis adalah merupakan
congenital anomali yang berupa adanya kelainan bentuk pada wajah. Arti schisis
sendiri adalah robekan belahan di medial paramedical, yang biasanya sering
didapat di paramedical, mulai dari ringan sampai berat. Kelainan ini dapat
dilihat ketika bayi berada di dalam kandungan, melalui alat yang disebut USG
atau Ultrasonografi. Setelah bayi lahir kelainan ini tampak jelas pada bibir dan
langit –langitnya.

1.2 Etiologi

Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan


Labiopalatoschizis, antara lain:

A. Faktor Genetik

Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat


ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua.
Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 – 30 % penderita labio
palatoscizhis terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan dan resesif
dalam gen merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya
labio palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan
palatum merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan
beberapa bagian kontak.

B. Pengaruh obat teratogenik. Yang termasuk obat teratogenik adalah:


1) Jamu. Akan tetapi jenis jamu apa yang menyebabkan kelainan
kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian lebih lanjut
2) Kontrasepsi hormonal. Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi
kontrasepsi hormonal, terutama untuk hormon estrogen yang
berlebihan akan menyebabkan terjadinya hipertensi sehingga
berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan sirkulasi
fotomaternal.

Obat – obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio


palatoschizis karena pada ibu hamil konsumsi obat- obatan harus
dibawah pengawasan dokter. Obat – obatan itu antara lain :

1) Talidomid, diazepam (obat – obat penenang)


2) Aspirin (Obat – obat analgetika)
3) Kosmetika yang mengandung merkuri & timah   hitam (cream pemutih)

C. Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan


Labio palatoschizis, yaitu:
1) Zat kimia (rokok dan alkohol).
2) Gangguan metabolik (DM). Untuk ibu hamil yang mempunyai
penyakit diabetessangat rentan terjadi kelainan kongenital, karena
dapat menyebabkan gangguan sirkulasi fetomaternal. Kadar gula
dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh padatumbuh
kembang organ selama masa embrional.h
3) Penyinaran radioaktif. Untuk ibu hamil pada trimester pertama
tidak dianjurkan terapi penyinaran radioaktif
4) Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil
yang terinfeksi virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin
sehingga dapat berpengaruh terjadinya kelainan kongenital
terutama labio palatoschizis.

1.3 Klasifikasi

a) Berdasarkan organ yang terlibat


1) Celah bibir ( labioscizis ) : celah terdapat pada bibir bagian atas
2) Celah gusi ( gnatoscizis ) : celah terdapat pada gusi gigi bagian atas
3) Celah palatum ( palatoscizis ) : celah terdapat pada palatum

b) Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk


1) Komplit : jika celah melebar sampai ke dasar hidung
2) Inkomplit : jika celah tidak melebar sampai ke dasar hidung

c) Berdasarkan letak celah


1) Unilateral : celah terjadi hanya pada satu sisi bibir
2) Bilateral : celah terjadi pada kedua sisi bibir
3) Midline : celah terjadi pada tengah bibir
Gambar 1. (A) Celah bibir unilateral tidak komplit,
(B) Celah bibir unilateral,
(C) Celah bibir bilateral dengan celah langit-langit dan tulang
alveolar,
(D) Celah langit-langit

Gambar 2. Perbedaan antara keadaan normal, cleft lip, dan bilateral


cleft lip

II. PEMERIKSAAN RADIOLOGI


2.1 SEBELUM LAHIR

labiopalatoschizis termasuk cacat lahir dimana membentuk pada saat


perkembangan janin dalam kandungan. Proses terjadinya labio palatoshcizis
yaitu ketika kehamilan trimester I dimana terjadinya gangguan oleh karena
beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I terjadi proses perkembangan
pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu terjadi kegagalan dalam
penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang selama fase embrio.

Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan


maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses
penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi
kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12 minggu,
maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).

Karna kelainan ini sudah ada sebelum bayi lahir, pemeriksaan dilakukan melalui
USG. Perhatikan gambar dibawah ini :

Gambar 3. Cleft lip pada trimester ke-2 yang dilihat melalu 3D USG
Gambar 4. Cleft lip pada trimester ke-3 dilihat melalui USG 3D

2.2 SESUDAH LAHIR

Saat bayi lahir, tidak bisa langsung diakukan operasi, melainkan harus
menunggu samapai minimal berumur 3 bulan. Pemeriksaan genetic adalah jalan
yang tepat untuk mnentukan langkah pengobatan selanjutnya. Pemeriksaan
rongga mulut mulai dengan inspeksi seluruh muka dan sering memberikan
gambaran kesehatan menyeluruh penderita.

Karenanya, kondisi mental anak dan ibu sangat penting. Dikarenakan fisiologi
wajah yang tidak normal, mengakibatkan saat memberikas ASI harus
diperatikan beberapa hal. Seperti posisi kepala bayi agar ASI tidak masuk
kedalam hidung. Keadaan ini juga menganggu proses menelan, menghisap dan
berbicara.

Untuk dilakukan operasi, harus disertakan pemeriksaan penunjang seperti


pemeriksaan radiologi. Seperti :

1) Foto Thorax
2) Foto rontgen kepala /panoramic
Pada bayi, hanya bisa dilakukan dengan foto rontgen kepala. jika anak belum
bisa bekerjasama dengan baik, dapat menggunakaln alat imobilisasi, seperti
head clamp, ikatan- ikatan, dan compressor band.jika dibutuhkan, berikan
juga premidikasi.

a) Teknik pemeriksaan kepala AP


 Persiapan pasien : mengenakan apron/ gonad shield dan thyroid
shield
 Persiapan pasien : mengenakan apron/ gonad shield dan thyroid
shield
 Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan atau erect
 Posisi objek :
1. MSP tepat pada pertengahan meja pemeriksaan
2. OML tegak lurus dengan bidang film
3. Pastikan tidak ada rotasi
 Central Ray : tegak lurus kaset atau 15⸰ cranially
 Central Point : nassion/ glabella
 FFD : 100 cm
 Kriteria Gambar:
1. Seluruh kepala tampak, batas atas vertex dan batas bawah
simphysis menti
2. Kedua sisi lateral tidak terpotong
3. Kepala simetris
4. Pada penderita dapat ditemukan celah processus maxilla dan
processus nasalis media.
5. Terdapat marker R/L

Gambar
5. Posisioning pada anak pemeriksaan kepala

Gambar 6. Cranium
proyeksi AP

b) Teknik pemeriksaan panoramic


 Persiapan pasien : mengenakan apron/ gonad shield dan thyroid
shield
 Posisi pasien : erect
 Posisi objek :
1. Posisikan blok gigitan pada mesin atau dagu ditempelkan.
2. Kepala pasien dimiringkansehingga
3. EOML sejajar terhadap lantai
4. Pasien menggigit blok gigitan
5. Pastikan tidak ada rotasi
6. Sesuaikan tinggi mesin dengan tinggi pasien
 Central Ray : horizontal tegak lurus kaset
 Central Point : pertengahan garis oclusal line

Gambar 7. Posisioning pada anak pemeriksaan panoramic

 Kriteria Gambar:
1. Terlihat seluruh dental dengan jelas
2. Tampak mandibula dan maxilla
3. Tampak temporomandibular joint
4. Kepala simetris
5. Pada penderita dapat ditemukan celah processus maxilla dan
processus nasalis media.
6. Terdapat marker R/L
Gambar 8. panoramic
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Teknik pemeriksaan Labiopalatosizhis adalah keadaan dimana bayi lahir dengan


cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit Labio
palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato
shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing  pada bibir) yang terjadi akibat
gagalnya perkembangan embrio.

Hal yang pertama dilakukan setelah bayi lahiraadalah dengan melakukan uji
genetic. Karna belum dilakukan operasi, ibu haru memperhatikan cara pemberian
ASI agar tidak terjadi kesalahan. pada pemeriksaan ini dilakukan dengan foto
rontgen kepala/ panoramic

B. SARAN

Sebagai calon tenaga kesehatan terutama sebagai radiografer, sebaiknya kita


harus berhati – hati dalam menjalankan segala tugas yang kita dapat agar menghasilkan
hasil yang optimal juga. Dan sebelum melakukan pemeriksaan, sebaiknya persiapkan
semuanya dengan baik. Mulai dari memberitahu pasien tentang apa yang harus
dilakukan sebelum pemeriksaan (persiapan pasien), maupun memastikan alat dan bahan
yang akan digunakan untuk pemeriksaan (persiapan alat dan bahan).
DAFTAR PUSTAKA

1. A. Stewart Whitley, Charles Sloane, Graham Hoadley, Adrian D. Moore, Chirissie W. Alsop.
Clark’s Posotioning In Radiography. 12th ed. 2005
2. Philip W. Balilinger, Eugene D. Frank. Merrill’s Atlas of Radiographic Positions Radiologic
Procedures (volume two). 10th ed. 2003
3. Mary E. Morton, Leslie M. Scoutt, Vickie A. Feldstein. Callens’s Ultrasonography In Obstetrics
and Gynecology. 6th ed. 2017
4. Jessica Nadia Tobing. Identifikasi Faktor Resiko Eksogen Maternal Orofacial Cleft Non-
sindromik. 2017: CDK-257/ vol. 44 no. 10 th. 2017
5. Karakteristik Pasien Labiopalatochizis Pada Anak Di RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG PERIODE 2015-2017. Available from:
https://repository.unsri.ac.id/1816/1/RAMA_11201_04011181520026_%200014035402_
%200014108404_%2001_front_ref.pdf
6. Labiopalatoschiz dan penanganannya. Available from :
http://herryyudha.blogspot.com/2012/06/labiopalatoschizis-dan-
penanganannya.html#:~:text=LABIOPALATOSCHIZIS%20DAN%20PENANGANANNYA,-
LABIOPALATOSCHISIS&text=Bibir%20sumbing%20(labioschizis)%20biasanya
%20timbul,atas%20dan%20tak%20terlihat%20jelas
7. Palatochizis. Available from : https://blezstyuhuu.wordpress.com/2012/03/19/palatoshcizis/
8. Siti Khoirun Nisa. Labio- Palatoschizis. Available from : https://slideplayer.info/slide/12083179/
9. M. Sjaifuddin Noer. Cleft Lip and palate. Available from :
http://spesialis1.bpre.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/01.-CLP-MSN-Kuliah-
Klasikal.pdf