Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN, KESADARAN, SIKAP DAN PERAN


NAKES YANG MEMPENGARUHI KEJADIANYA STUNTING PADA BALITA USI
A 0-59 BULAN DI DESA PABUARAN, KECAMATAN SUKAMAKMUR

Pembimbing :
dr. Linda Lia

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS SUKAMAKMUR
BOGOR
2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stunting seringkali tidak dianggap sebagai masalah yang serius. Bahkan, menurut
Departemen Kesehatan dalam Sabaruddin tahun 2012 tubuh anak yang kecil dan pendek
dianggap atau dilihat sebagai suatu hal yang biasa, takdir atau memang karena keturunan
keluarga. Padahal stunting merupakan dampak dari keadaan kurang gizi yang terakumula
si dalam waktu yang cukup lama dan menjadi indikasi masalah kesehatan masyarakat. In
i berhubungan dengan meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas, mengurangi kapas
itas fisik, terhambatnya perkembangan dan fungsi motorik serta mental.

Berdasarkan median WHO Child Growth Standard, stunting didefinisikan sebaga


i tinggi badan menurut umur (TB/U) dibawah minus dua standar deviasi (< -2 SD) atau p
endek dan dibawah minus tiga standar deviasi (<-3 SD) atau sangat pendek (UNICEF, 20
13).

Anak yang stunting tidak hanya memiliki tingkat intelegensi lebih rendah, tetapi j
uga memiliki penilaian lebih rendah pada fungsi motorik, koordinasi tangan dan mata, pe
ndengaran, berbicara, maupun kinerja jika dibandingkan dengan anak normal (Chang et a
l., 2010). Stunting juga sering mengakibatkan terhambatnya perkembangan mental, menu
runnya prestasi sekolah, dan mengurangi kapasitas intelektual pada amak. Hal ini akan m
empengaruhi produktivitas ekonomi suatu negara. Anak-anak yang terhambat pertumbuh
annya sebagai akibat asupan yang kurang atau infeksi berulang berisiko lebih besar untuk
mengalami penyakit bahkan kematian (World Health Organization, 2015).

Salah satu cara untuk mencegah terjadinya stunting adalah me


ningkatkan pengetahuan tentang stunting. Pengetahuan adalah proses yang berlangsung
dalam menguji informasi, mengevaluasi informasi dan membuat sebuah diagnosis dalam
rangka memecahkan suatu masalah.2 Pendidikan memegang peranan penting dalam peng
etahuan karena pendidikan merupakan hal mendasar dalam mengembangkan ilmu penget
ahuan dan pengalaman dalam mengasah pengetahuan. Oleh karena itu saya tertarik meli
hat sejauh mana pengetahuan i b u tentang Stunting.
B. Rumusan Masalah
Faktor yang dapat mempengaruhi stunting salah satunya adalah pengetahuan. Maka
dari itu peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan, kesadaran, sikap dan
edukasi ibu yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita usia 0-59 bulan di Desa Pa
buaran Kecamatan Sukamakmur Tahun 2021.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui tingkat pengetahuan, kesadaran, sikap dan edukasi ibu terhadap
kejadian stunting pada balita usia 0-59 bulan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukama
kmur Tahun 2021.

2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu terhadap stunting
b. Mengidentifikasi kesadaran ibu terhadap stunting
c. Mengidentifikasi sikap ibu terhadap stunting
d. Mengidentifikasi edukasi terhadap stunting

D. Manfaat
1. Manfaat bagi puskesmas
Sebagai suatu bahan masukan dan evaluasi dalam melakukan upaya penanggul
angan stunting dan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, sikap dan edukasi ibu
mengenai stunting di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor
2. Manfaat bagi masyarakat
Sebagai bahan referensi bagi masyarakat untuk upaya pencegahan stunting
serta meningkatkan pengetahuan, kesadaran, sikap dan edukasi tentang stunting
3. Manfaat bagi peneliti
Untuk memenuhi salah satu tugas penelitian dalam menjalani program internsi
p dokter Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting
2.1.1. Definisi
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB

/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil

pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -

3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted) (Kemenkes

RI, 2011).

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gi

zi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak ses

uai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandun

gan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Millennium Challenge Account

2021).

Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan catch-up growth (tu

mbuh kejar) mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah stunting merupak

an masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko

kesakitan, kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun menta

l. Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growth yang tidak memad

ai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan optimal, ha

l tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang lahir dengan berat badan n

ormal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan selanjutnya tidak terpe

nuhi dengan baik (Kusharisupeni, 2008).

2.1.2. Diagnosis dan Klasifikasi


Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan cara

penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan berbagai

macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umu

r dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asup


an protein dan energi (Siagian, 2010). Beberapa indeks antropometri yang sering d

igunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (T

B/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar

deviasi unit z (Z- score) (Kemenkes RI, 2011).

Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah ditimbang berat badanny

a dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan

hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandi

ngkan balita seumurnya. Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WH

O (Hastono dan Sutanto, 2006).

Normal, pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pad

a indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur

(TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sa

ngat pendek) (Kemenkes RI, 2011).

Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan


per umur (TB/U) (Balitbangkes Kemenkes RI, 2016).

I. Sangat pendek : Zscore < -3,0

II. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0

III. Normal : Zscore ≥ -2,0

2.1.3 Pemeriksaan Antropometri Stunting


Antropometri berasal dari kata “anthropos” (tubuh) dan “metros” (ukuran) seh

ingga antropometri secara umum artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudu

t pandang gizi, maka antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai maca

m pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan

gizi (Supariasa et al, 2002). Dimensi tubuh yang diukur, antara lain: umur, berat ba

dan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggu

l dan tebal lemak di bawah kulit (Supariasa et al, 2002; CDC, 2021). Perubahan di

mensi tubuh dapat menggambarkan keadaan kesehatan dan kesejahteraan secara u


mum individu maupun populasi (Indah, 2014). Dimensi tubuh yang dibutuhkan pa

da penelitian ini yaitu umur dan tinggi badan, guna memperoleh indeks antropome

tri tinggi badan berdasar umur (TB/U).

 Umur
Umur adalah suatu angka yang mewakili lamanya kehidupan seseorang. U

sia dihitung saat pengumpulan data, berdasarkan tanggal kelahiran. Apabila leb

ih hingga 14 hari maka dibulatkan ke bawah, sebaliknya jika lebih 15 hari mak

a dibulatkan ke atas. Informasi terkait umur didapatkan melalui pengisian kuesi

oner.

 Tinggi Badan
Tinggi atau panjang badan ialah indikator umum dalam mengukur tubuh d

an panjang tulang. Alat yang biasa ada dua, yaitu stature meter dan stadiometer

Stature meter memiliki kisaran pengukuran 0-2000 mm, dan alat ini harus dilet

akkan pada ketinggian tepat 2 meter di atas permukaan datar (lantai ubin/tanah)

agar dapat mengukur tinggi badan dengan lebih akurat. Untuk alat ukur bernam

a stadiometer, terdiri atas dua macam yaitu: ‘stadiometer portabel’ yang memili

ki kisaran pengukur 840-2060 mm dan ‘harpenden stadiometer digital’ yang m

emiliki kisaran pengukur 600-2100 mm.

Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki dan

aksesoris kepala, kedua tangan tergantung rileks di samping badan, tumit dan p

antat menempel di dinding, pandangan mata mengarah ke depan sehingga mem

bentuk posisi kepala Frankfurt Plane (garis imaginasi dari bagian inferior orbit

a horisontal terhadap meatus acusticus eksterna bagian dalam). Bagian alat yan

g dapat digeser diturunkan hingga menyentuh kepala (bagian verteks). Sentuha

n diperkuat jika anak yang diperiksa berambut tebal. Pasien inspirasi maksimu

m pada saat diukur untuk meluruskan tulang belakang.


Pada bayi yang diukur bukan tinggi melainkan panjang badan. Biasanya pa

njang badan diukur jika anak belum mencapai ukuran linier 85 cm atau berusia

kurang dari 2 tahun. Ukuran panjang badan lebih besar 0,5-1,5 cm daripada tin

ggi. Oleh sebab itu, bila anak diatas 2 tahun diukur dalam keadaan berbaring m

aka hasilnya dikurangi 1 cm sebelum diplot pada grafik pertumbuhan.

Anak dengan keterbatasan fisik seperti kontraktur dan tidak memungkinka

n dilakukan pengukuran tinggi seperti di atas, terdapat cara pengukuran alternat

if. Indeks lain yang dapat dipercaya dan sahih untuk mengukur tinggi badan ial

ah: rentang lengan (arm span), panjang lengan atas (upper arm length), dan pan

jang tungkai bawah (knee height). Semua pengukuran di atas dilakukan sampai

ketelitian 0,1 cm (Supariasa et al, 2002; Arisman, 2009; Sjarif et al, 2011; Haer

ani, 2015).

2.1.4 Faktor risiko stunting


Faktor-faktor risiko stunting erat hubungannya dengan kondisi-kondisi yang m

endasari kejadian tersebut, kondisi-kondisi yang mempengaruhi faktor penyebab s

tunting terdiri atas: (1) kondisi politik ekonomi wilayah setempat, (2) status pendid

ikan, (3) budaya masyarakat, (4) agrikultur dan sistem pangan, (5) kondisi air, sani

tasi, dan lingkungan. Kondisi-kondisi tersebut dapat mempengaruhi munculnya fa

ktor penyebab sebagai berikut (WHO, 2012).

 Faktor Keluarga dan Rumah Tangga


Faktor maternal, dapat dikarenakan nutrisi yang buruk selama pra-kon

sepsi, kehamilan, dan laktasi. Faktor maternal selama masa kehamilan dapat

meliputi kunjungan Ante Natal Care (ANC) yang di dalamnya termasuk peme

riksaan kehamilan, konseling, dan suplementasi kehamilan berupa Tablet Besi

Elemental dan Tablet Kalsium. Kunjungan ANC secara berkala dapat menuru

nkan risiko terjadinya stunting pada bayi di dalam kandungan (Ramire, 2012).

Suplementasi kehamilan, baik Tablet Besi Elemental atau Tablet Kalsium, jug

a mampu menurunkan risiko anemia ibu hamil yang bila berkelanjutan dapat
menyebabkan bayi lahir dengan panjang badan pendek dan meningkatkan risi

ko stunting (Susilowati, 2018).

Selain itu, faktor maternal lainnya yang juga dapat berpengaruh adalah

perawakan ibu yang pendek, infeksi, kehamilan muda, kesehatan jiwa, IUGR

dan persalinan prematur, persalinan dengan Berat Bayi Lahir Rendah

(BBLR), jarak persalinan yang dekat, dan hipertensi. Lingkungan rumah, dap

at dikarenakan oleh stimulasi dan aktivitas yang tidak adekuat, penerapan asu

han yang buruk, ketidakamanan pangan, alokasi pangan yang tidak tepat, rend

ahnya edukasi pengasuh (WHO, 2012).

Faktor lain terkait keluarga dan rumah tangga adalah pengetahuan ora

ngtua mengenai pola asuh anak. Pola asuh, terutama pola asuh ibu, adalah per

ilaku ibu dalam mengasuh balita mereka. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi

oleh sikap dan pengetahuan. Pengetahuan yang baik dapat menciptakan sikap

yang baik, yang apabila sikap tersebut dinilai sesuai, maka akan muncul perila

ku yang baik pula. Pengetahuan sendiri didapatkan dari pendidikan formal ma

upun non formal, seperti media massa (Ni’mah dan Munaroh, 2015). Pengeta

huan ibu tentang gizi sendiri memiliki hubungan erat dengan risiko terjadinya

stunting (Hapsari, 2018).

 Faktor Makanan
Kualitas makanan yang buruk meliputi kualitas micronutrient yang bur

uk, kurangnya keragaman dan asupan pangan yang bersumber dari pangan he

wani, kandungan tidak bergizi, dan rendahnya kandungan energi pada makana

n pelengkap atau complementary foods. Praktik pemberian makanan yang tida

k memadai, meliputi pemberian makan yang jarang, pemberian makan yang ti

dak adekuat selama dan setelah sakit, konsistensi pangan yang terlalu ringan,

kuantitas pangan yang tidak mencukupi, pemberian makan yang tidak berespo

n (WHO, 2012). Bukti menunjukkan keragaman diet yang lebih bervariasi da

n konsumsi makanan dari sumber hewani terkait dengan perbaikan pertumbuh


an linear. Analisis terbaru menunjukkan bahwa rumah tangga yang menerapk

an diet yang beragam, termasuk diet yang diperkaya nutrisi pelengkap, akan

meningkatkan asupan gizi dan mengurangi risiko stunting (WHO, 2012).

 Faktor Pemberian ASI


Masalah-masalah terkait praktik pemberian ASI meliputi Delayed Initi
ation, tidak menerapkan ASI eksklusif, dan penghentian dini konsumsi ASI
(WHO, 2012). Sebuah penelitian membuktikan bahwa menunda inisiasi meny
usu (Delayed initiation) akan meningkatkan kematian bayi (Edmond et al, 20
06). ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi m
akanan maupun minuman lain, baik berupa air putih, jus, ataupun susu selain
ASI. IDAI merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan perta
ma untuk mencapai tumbuh kembang optimal. Setelah enam bulan, bayi men
dapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang adekuat, sedangkan ASI dila
njutkan sampai usia 24 bulan (IDAI, 2010). Menyusui yang berkelanjutan sel
ama dua tahun memberikan kontribusi signifikan terhadap asupan nutrisi pent
ing pada bayi (IDAI, 2010).

 Posyandu

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menjadi garda terdepan untuk memant


au pertumbuhan dan perkembangan Balita secara berkala. Kehadiran balita di
posyandu secara berkala terbukti berhubungan erat dengan risiko stunting yan
g lebih rendah (Welasasih dan Wirjaatmadi, 2012; Destiadi et al, 2015).

 Infeksi

Beberapa contoh infeksi yang sering dialami yaitu infeksi enterik seperti d
iare, enteropati, dan cacing, dapat juga disebabkan oleh infeksi pernafasan (IS
PA), malaria, berkurangnya nafsu makan akibat serangan infeksi, dan inflama
si (WHO, 2012).

 Imunisasi

Imunisasi dasar dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi statu
s gizi pada balita (Aridiyah et al, 2015). Imunisasi dasar yang lengkap, melipu
ti imunisasi Hepatitis B, BCG, DPT, Polio, dan Campak dinilai mampu untuk
mengintervensi kejadian stunting pada balita (Kemenkes, 2016).

 Higienitas dan Air Bersih


Higienitas, dalam hal ini mencakup cuci tangan yang baik dan benar sebel
um makan serta sesudah buang air kecil dan besar, memiliki keterkaitan erat d
engan kejadian infeksi saluran pencernaan yang dapat meningkatkan risiko ter
jadinya stunting (Yuniarti et al, 2019).

Air bersih, dalam hal ini air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari d
an dapat diminum setelah dimasak, punya pengaruh terhadap risiko terjadinya
stunting (Rafita et al, 2020). Simanjuntak dan Sinurat (2018) dalam penelitian
nya juga menunjukkan bahwa akses, jarak, dan keamanan sumber air tiap rum
ah tangga memiliki korelasi erat dengan kejadian stunting.

2.1.5 Intervensi Penanganan Stunting


a. Intervensi Gizi Spesifik

Intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan

(HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Intervensi spesifik

bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek, pelaksan

aan Intervensi Gizi Spesifik sebagai berikut:

1) Pada Ibu Hamil


 Pemberian makanan tambahan untuk mengatasi kekurangan energi dan p
rotein kronis.
 Pemberian suplementasi zat besi dan asam folat .
 Mengatasi kekurangan iodium .
 Penanggulangan infeksi kecacingan.
 Pencegahan dan penatalaksanaan klinis malaria .
 Pembatasan konsumsi kafein selama hamil .
 Pemberian konseling/edukasi gizi .
 Pencegahan, deteksi, tatalaksana klinis dan dukungan gizi bagi ibu denga
n HIV
 Suplementasi kalsium bagi ibu hamil.
1) Sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 bulan
 Promosi dan edukasi inisiasi menyusu dini disertai dengan pemberian AS
I jolong/colostrum .
 Promosi dan edukasi pemberian ASI eksklusif .
 Pemberian konseling/edukasi gizi selama menyusui .
 Pencegahan, deteksi, tatalaksana klinis dan dukungan gizi bagi ibu dan a
nak dengan HIV.
2) Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan
 Promosi dan edukasi pemberian ASI lanjut disertai MP-ASI yang sesuai.
 Penanggulangan infeksi kecacingan pada ibu dan anak.
 Pemberian suplementasi zink pada anak.
 Fortifikasi zat besi ke dalam makanan / suplementasi zat gizi mikro e.g. z
at besi.
 Pencegahan dan penatalaksanaan klinis malaria pada ibu dan anak .
 Pemberian imunisasi lengkap pada anak.
 Pencegahan dan pengobatan diare pada anak.
 Implementasi prinsip rumah sakit ramah anak .
 Implementasi prinsip manajemen terpadu balita sakit/MTBS .
 Suplementasi vitamin A pada anak usia 6-59 bulan .
 Penatalaksanaan malnutrisi akut parah pada anak.
 Pemantauan tumbuh kembang anak .

b. Pelaksanaan Intervensi Gizi Sensitif


Intervensi Gizi Sensitif, Intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegia
tan pembangunan diluar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umu
m, tidak khusus untuk 1.000 HPK seperti:

 Penyediaan akses pada air bersih.


 Penyediaan akses pada sarana sanitasi dan kebersihan pribadi.
 Fortifikasi bahan pangan misalnya dengan Vitamin A,D, yodium.
 Penyediaan akses kepada layanan kesehatan dan keluarga berencana (K
B).
 Pemberian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
 Pendidikan pengasuhan anak pada orang tua.
 Program Pendidikan Anak Usia Dini Universal.
 Program pendidikan gizi masyarakat.
 Edukasi kesehatan seksual, reproduksi, dan gizi pada
remaja (Kemenkeu, 2018)
2.1.6 Konsekuensi

Stunting memiliki dampak pada kehidupan balita, WHO mengklasifikas


ikan menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang (WHO, 2012).

a) Concurrent problems & short-term consequences atau dampak jangka pen


dek
• Sisi kesehatan : angka kesakitan dan angka kematian meningkat
• Sisi perkembangan : penurunan fungsi kognitif, motorik, dan perke
mbangan bahasa
• Sisi ekonomi : peningkatan health expenditure, peningkatan pembia
yaan perawatan anak yang sakit

b) Long-term consequences atau dampak jangka panjang

• Sisi kesehatan : perawakan dewasa yang pendek, peningkatan obesi


tas dan komorbid yang berhubungan, penurunan kesehatan reprodu
ksi
• Sisi perkembangan : penurunan prestasi belajar, penurunan learnin
g capacity unachieved potensial
• Sisi ekonomi : penurunan kapasitas kerja dan produktifitas kerja

2.2 Pengetahuan

2.2.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) merupakan hasil dari tahu

dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebelum orang

menghadapi perilaku baru, didalam diri seseorang terjadi proses berurutan

yakni : Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus. Interest (merasa tertarik)

terhadap objek atau stimulus tersebut bagi dirinya. Trail yaitu subjek mulai

mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan

sikapnya terhadap stimulus. Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

2.2.2 Jenis pengetahuan

Pengetahuan masyarakat beraneka ragam pemahamannya. Jenis-

jenis pengetahuan (Sulaeman 2011 dan Budiman dan Riyanto 2013)

dibedakan atas pengetahuan implicit dan pengetahuan eksplisit.

A. Pengetahuan implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam

dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang

tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.

Pengetahuan seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain

baik secara tertulis maupun lisan. Kemampuan berbahasa, mendesain,

atau mengoperasikan mesin atau alat yang rumit membutuhkan

pengetahuan yang tidak selalu bias tampak secara eksplisit.

B. Pengetahuan eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata berupa media

atau semacamnya. Pengetahuan nyata dideskripsikan ke dalam

tindakan-tindakan.

2.2.3 Tingkatan pengetahuan

A. Tahu (know)

Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari,

dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Cara

kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari

antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi dan

mengatakan.

B. Memahami (Comprehension)
Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

C. Aplikasi (Aplication)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi dapat diartikan

pengguna hukum-hukum, rumus-rumus, metode, prinsip-prinsip dan

sebagainya.

D. Analisis (Analysis)

Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam

suatu komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi

dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa dapat

dilihat dari penggunaan kata kerja seperti kata kerja mengelompokkan

dan lain-lain.

E. Sintesis (Sinthesis)

Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk

keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesa adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi lama.

F. Evaluasi (Evaluation)

Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi

atau objek berdasarkan berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan

sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada (Notoadmojo 2005

dalam Sulaeman 2011).

2.2.4 Pengukuran pengetahuan


Notoadmodjo (2005) dalam Sulaeman (2011) menyatakan bahwa
pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan.
Adapun tingkatan pengukuran pengetahuan adalah :
 Tingkat pengetahuan baik bila skor >75%-100%
 Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-75%
 Tingkat pengetahuan kurang bila skor <60%
2.3 Sikap

Sikap adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun

perasaan tidak mendukung (unfavorable) pada suatu objek. Sikap bersifat

evaluatif dan berakhir pada nilai yang dianut dan terbentuk kaitannya dengan

suatu objek. Sikap merupakan perasaan positif atau negatif atau keadaan mental

yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang

memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap objek, orang dan

keadaan. Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau obyek. Newcomb menyatakan bahwa sikap merupakan

kesiapan atau kesediaan bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan

atau aktivitas , akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan suatu

perilaku. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi

merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan reaksi atau

respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Sikap merupakan suatu kesiapan bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu

sebagai suatu penghayatan terhadap obyek. Allport (cit Notoatmodjo, 2003)

membagi sikap dalam tiga komponen yaitu kepercayaan (keyakinan) terhadap

suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek,


kecenderungan untuk bertindak (Notoatmodjo, 2003).

2.4 Perilaku (Behavior)

Menurut Notoatmodjo (2003) pengaruh pengetahuan terhadap perilaku

dapat bersifat langsung maupun melalui perantara sikap. Suatu sikap belum

otomatis terwujud dalam bentuk praktek. Untuk terwujudnya sikap agar

menjadi suatu perbuatan yang nyata (praktek) diperlukan faktor pendukung

atau kondisi yang memungkinkan. Perilaku kesehatan merupakan respon

seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem

seseorang terhadap sakit atau penyakit adalah cara manusia merespon baik

secara pasif (mengetahui, bersikap dan, mempersepsi tentang suatu penyakit

yang ada pada dirinya dan diluar dirinya) maupun secara aktif (praktik) yang

dilakukan sehubungan dengan penyakit tersebut.

Perilaku kesehatan di bidang kesehatan menurut Azwar (1995)

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a) Latar belakang: latar belakang

seseorang yang meliputi norma - norma yang ada, kebiasaan, nilai budaya dan

keadaan sosial ekonomi yang berlaku dalam masyarakat, b) Kepercayaan:

dalam bidang kesehatan, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh

kepercayaan orang tersebut terhadap kesehatan. Kepercayaan yang dimaksud

meliputi manfaat yang akan didapat, hambatan yang ada, kerugian dan

kepercayaan bahwa seseorang dapat terserang penyakit, c) Sarana : tersedia

atau tidaknya fasilitas kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan

d) Cetusan seseorang yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang baik

dan bertempat tinggal dekat dengan sarana kesehatan, bisa saja belum pernah

memanfaatkan sarana kesahatan tersebut. Suatu ketika orang tersebut terpaksa

minta bantuan dokter karena mengalami perdarahan ketika melahirkan bayi


kejadiaan itu dapat memperkuat perilaku orang tersebut untuk memanfaatkan

sarana kesehatan yang sudah ada.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif analisis
sederhana. Desain penelitian ini tidak melakukan intervensi dari peneliti. Penelitian u
ntuk melihat, mendeskripsikan dan menggambarkan suatu fenomena kesehatan yang t
erjadi di masyarakat (Notoatmojo, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
tingkat pengetahuan, kesadaran, sikap dan edukasi ibu yang mempengaruhi kejadian s
tunting pada balita usia 0-59 bulan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur Tahun
2021.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian ini dilakukan di desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur dan
Puskesmas Sukamakmur. Penelitian ini dilakukan pada bulan 8 dan 12April 2021.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi penelitian
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka populasi dalam penelitian ini ad
alah pasien stunting yang berusia kurang dari 59 bulan pada bulan April 2021.
Penelitian ini mengadopsi teknik pengambilan sampling dengan menggunaka
n purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara menentukan
orang yang akan diteliti dengan kriteria inklusi sampel yang akan diambil adalah p
asien stunting dengan tingkat pengetahuan ibunya yang rendah berusia kurang dari
59 bulan pada bulan April 2021
D. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data diperoleh dari wawancara dari kuesioner yang telah disiapkan oleh peneliti
dan tidak melakukan intervensi terhadap lingkungan rumah responden.

E. Teknik Pengolahan Data


1. Teknik pengolahan data
a) Pengolahan Data (editing)
Meneliti kembali apakah lembar kuesioner sudah cukup baik sehin
gga dapat di proses lebih lanjut. Editing dapat dilakukan di tempat pen
gumpulan data sehingga jika terjadi kesalahan maka upaya perbaikan d
apat segera dilaksanakan.
b) Pengkodean (Coding)
Usaha mengklarifikasi jawaban-jawaban yang ada menurut macam
nya, menjadi bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.
c) Pemasukan Data (Entry)
Memasukan data ke dalam perangkat komputer sesuai dengan krite
ria.
d) Pembersihan Data (Cleaning data)
Data yang telah di masukan kedalam komputer diperiksa kembali untuk mengk

oreksi kemungkinan kesalahan.


BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2021 di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur.
Jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 33 responden. Data yang telah
terkumpul berupa data pengetahuan, kesadaran, sikap, edukasi ibu terhadap stunting.
A. Pengetahuan
Data tingkat pengetahuan dianalisis dengan menggunakan uji deskriptif statistik untuk
melihat sebaran dan proporsinya.

Tabel 4.1 Distribusi Persebaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Stunting pada
Balita Usia 0-59 Bulan di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur

Pengetahuan Jumlah Persentase


Berdasark Benar 22 67
Salah 11 33
an tabel 4.1 te Total 33 100
rlihat bahwa d
ari 33 responden sebagian besar menjawab dengan benar sebanyak 22 responden (67
%) dan yang salah sebanyak 11 responden (33%).
B. Kesadaran Ibu
Data dari kesadaran ibu dianalisis dengan menggunakan uji deskriptif statistik untuk m
elihat sebaran dan proporsinya.

Tabel 4.2 Distribusi Persebaran Kesadaan Ibu Tentang Stunting pada Balita Usia 0-59
Bulan di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur.

Kesadaran Ibu Jumlah Persentase


Sadar 20 59
Tidak Sadar 13 41
Total 33 100

Berdasarkan tabel 4.2 terlihat bahwa dari 33 responden sebagian besar tingkat
kesadaran ibu bahwa anaknya stunting sebanyak 20 responden (59%). Sedangkan ibu
yang tidak sadar anaknya stunting sebanyak 13 responden (41%).
C. Sikap Ibu
Data dari sikap ibu dianalisis dengan menggunakan uji deskriptif statistik untuk melihat
sebaran dan proporsinya.

Tabel 4.3 Distribusi Persebaran Sikap Ibu Tentang Stunting pada Balita Usia 0-59
Bulan di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur.

Sikap Ibu Jumlah Persentase


Positif 25 76
Negatif 8 24
Total 33 100

Berdasarkan tabel 4.3 terlihat bahwa dari 33 responden sebagian besar sikap ibu
yang positif terhadap anak stunting sebanyak 25 responden (76%). Sedangkan sikap i
bu yang negatif terhadap anak stunting sebanyak 8 responden (24%).
D. Peran Nakes
Data dari peran nakes dianalisis dengan menggunakan uji deskriptif statistik untuk meli
hat sebaran dan proporsinya.

Tabel 4.4 Distribusi Persebaran Peran Nakes Tentang Stunting pada Balita Usia 0-59
Bulan di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur.

Kesadaran Ibu Jumlah Persentase


Baik
Kurang Baik
Total 33 100

Berdasarkan tabel 4.4 terlihat bahwa dari 33 responden sebagian besar tingkat
kesadaran ibu bahwa anaknya stunting sebanyak 20 responden (59%). Sedangkan ibu
yang tidak sadar anaknya stunting sebanyak 13 responden (41%).
BAB V
PEMBAHASAN

A. Interpretasi dan Hasil Penelitian


1. Interpretasi dan hasil penelitian berdasarkan tingkat pengetahuan
Pada penelitian yang dilakukan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur,
Kabupaten Bogor, didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan ibu yang baik yaitu
sebanyak 22 responden (67%) dan yang tidak baik sebanyak 11 responden (33%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erni dan Novia
(2019), yang menyatakan responden yang berpengetahuan yang kurang baik 40.8 %
menderita stunting lebih rendah dibandingkan dengan responden yang berpengetahu
an baik (59.2%). Berdasarkkan hasil uji statistik didapatkan nilai p > 0.05 maka dapa
t disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan
dengan kejadian stunting.
Masalah stunting banyak terdapat pada ibu balita yang memiliki pengetahuan
yang baik (59.2%). Dan begitu juga dengan ibu yang memiliki pengetahuan yang kur
ang baik juga memiliki masalah stunting pada balitanya. Hasil penelitian ini juga ses
uai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni’mah dan Muniroh (2015), yang menya
tkan bahwa tidak hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian stun
ting pada balita
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian penelitian Ramdaniati (2018) te
ntang Hubungan Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang G
izi Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-59 Bulan di Desa Paerang, Kecam
atan Mekarjaya Kabupaten Pandeglang Tahun 2018, didapatkan Ibu yang berpengeta
huan tinggi 9 Ibu (60%) sedangkan Ibu yang berpengetahuan rendah 6 Ibu (40%) da
n Ibu yang bersikap positif 7 Ibu (46,7%) sedangkan Ibu yang bersikap negatif 8 Ibu
(53,3%).

2. Interpretasi dan hasil penelitian berdasarkan kesadaran ibu


Pada penelitian yang dilakukan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur, Kabupate
n Bogor, didapatkan hasil bahwa kesadaran ibu bahwan anaknya stunting yaitu
sebanyak 20 responden (59%) dan ibu yang tidak sadar anaknya stunting sebanyak
13 responden (41%).
3. Interpretasi dan hasil penelitian berdasarkan sikap ibu
Pada penelitian yang dilakukan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur, K
abupaten Bogor, didapatkan hasil bahwa sikap ibu yang baik yaitu sebanyak 25
responden (76%) dan sikap ibu yang tidak baik yaitu sebanyak 8 responden (24%). Ha
sil penelitian ini sejalan dengan penelitian Olsa, Edwin, dkk (2017). Hubungan sikap i
bu terhadap kejadian stunting pada anak di Kecamatan Nanggalo, hasil penelitian men
unjukkan bahwa sikap ibu sebagian besar pada kategori yang positif sebesar 55.2%, se
dangkan sikap ibu dengan kategori yang negatif sebesar 44.8%.Hasil penelitian ini sej
alan dengan peneltian yang dilakukan oleh Talitha di Kelurahan Utan Kayu Utara Jak
arta Timur yang menemukan bahwa sikap ibu paling banyak pada kategori positif 81,
1%, sedangkan 18,9% pada ibu dengan sikap yang di kategorikan negatif.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Wilujeng et al pada anak usia 1-3 tahun di
Desa Puton Kecamatan Diwek Kabupaten Jomban menunjukkan hal yang hampir seru
pa. Dalam penelitian tersebut, didapatkan bahwa sebagian besar ibu memiliki sikap ya
ng di kategorikan positif yaitu sebesar 52% sedangkan ibu yang memiliki sikap denga
n kategori negatif sebesar 48%.
Hal ini disesuaikan dengan teori yang dikemukakan Lawrence Green (1980) d
alam Notoatmodjo (2014) bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu f
aktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, ke
percayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya, faktor pendukung (enabling factors)
yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat- obatan, jamban dan sebagain
ya, dan faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilak
u petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perila
ku masyarakat. Sikap ibu termasuk dalam pemberian makanan pada anak penting dala
m pencehagan stunting. Menurut Angriani dkk, 2019 Ibu yang mempunyai sikap posit
if, memberikan ASI Eksklusif dan ASI sampai usia 2 tahun, dapat mencegah stunting
pada anak.
4. Interpretasi dan hasil penelitian berdasarkan peran nakes
Pada penelitian yang dilakukan di Desa Pabuaran Kecamatan Sukamakmur, Kabupate
n Bogor, didapatkan hasil bahwa sikap ibu yang baik yaitu sebanyak 25 responden (76
%) dan sikap ibu yang tidak baik yaitu sebanyak 8 responden (24%).

B. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna dan ter
dapat banyak kekurangan, antara lain:
1. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini hanya berupa kuesioner dimana perny
ataan-pernyataan dikembangkan dari penelitian sebelumnya dan dari konsep yang ad
a. Sehingga kemungkinan ketidakjujuran dan bias informasi tetap ada.
2. Masih banyak faktor yang berpengaruh terhadap kejadian stunting di Desa Pabuaran
Kecamatan Sukamakmur yang belum di teliti yang mungkin berpengaruh pada
kejadian stunting.
3. Pertanyaan pada kuesioner hanya sebatas pertanyaan kuantitatif bukan kualitatif
sehingga kemungkinan bias informasi tetap ada.
4. Jumlah responden yang sedikit karena jangka waktu penelitian yang terbatas.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian tentang gambaran tingkat pengetahuan tentang hipertensi pad
a pasien rawat jalan di UPTD Puskesmas DTP Wanakerta, Kabupaten Karawang yang di
lakukan pada bulan September-Oktober 2020 didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Responden terbanyak pada riwayat kontrol kehamilan adalah pasien yang rutin
kontrol kehamilan yaitu sebanyak 30 pasien
2. Responden terbanyak pada riwayat minum tablet besi adalah pasien yang teratur
meminum tablet besi yaitu sebanyak 24 orang
3. Responden terbanyak pada berat badan lahir yaitu pasien dengan berat badan lahir
>2500 gr yaitu 23 orang
4. Responden terbanyak pada riwayat infeksi yaitu pasien dengan riwayat infeksi yitu
36 orang
5. Riwayat imunisasi terbanyak pada riwayat imunisasi yaitu pasien dengan riwyat
imunisasi tidak lengkap yaitu 33 orang
6. Responden terbanyak pada riwayat ASI Ekslusif yaitu pasien dengan riwayat ASI
Ekslusif yaitu sebanyak 23 orang
7. Responden terbanyak pada riwayat MP ASI yaitu pasien dengan riwayat MP ASI
lebih dari >6bulan yaitu sebanyak 22 responden
8. Responden terbanyak pada riwayat lama pemberian ASI yaitu pasien dengan riwayat
riwayat pemberian ASI >24 bulan yaitu sebanyak 32 responden
9. Responden terbanyak pada riwayat pemberian makan yaitu pasien dengan riwayat
pemberian makan 1-2x sehari yaitu sebanyak 27 responden
10. Responden terbanyak pada asupan protein tiap makan yaitu pasien dengan riwayat
asupan protein tiap makan tercukupi yaitu sebanyak 35 responden
11. Responden terbanyak pada riwayat rutin diperiksakan ke posyandu yaitu pasien
dengan riwayat rutin diperiksakan ke posyandu yaitu sebanyak 35 responden
12. Responden terbanyak pada pengetahuan ibu tentang stunting yaitu pasien yang tidak
mempunyai pengetahuan tentang stunting yaitu sebanyak 33 responden
13. Responden terbanyak pada riwayat higientias yaitu pasien dengan riwayat higienitas
baik yaitu sebanyak 35 responden
14. Responden terbanyak pada akses air bersih yaitu pasien dengan akses air bersih yaitu
sebanyak 35 responden
15. Hasil di atas dapat disimpulkan bahwa pada pasien stunting di Desa Pabuaran
Kecematan Sukamakmur, Kabupaten Bogor terdapat hubungan yang dengan teori ant
ara riwayat imunisasi, pengetahuan ibu tentang stunting dan frekuensi makan dengan
kejadian stunting, namun tidak ada hubungan dengan teori antara.riwayat kontrol
kehamilan, riwayat konsumsi tablet besi, riwayat berat badan lahir, riwayat infeksi,
riwayat pemberian ASI Ekslusif, lama pemberian ASI, pemberian MP ASI, asupan
protein, riwayat ke posyandu, higieniotas dan akses air besih dan sanitasi
16. Responden terbanyak pada pengetahuan tentang stunting untuk tenaga kesehatan di
Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang memiliki pengetahuan tentang
stunting yaitu 8 responden dari 8 responden
17. Responden terbanyak pada penyuluhan tentang stunting untuk tenaga kesehatan di
Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang memiliki pengalaman penyuluihan
tentang stunting yaitu 6 responden dari 8 responden
18. Responden terbanyak pada penyuluhan tentang stunting untuk tenaga kesehatan di
Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang memiliki pengalaman penyuluihan
tentang stunting yaitu 6 responden dari 8 responden
19. Responden terbanyak pada pengethuan alur rujukan stunting untuk tenaga kesehatan
di Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang tidak memiliki pengalaman
penyuluihan tentang alur rujukan stunting yaitu 6 responden dari 8 responden
20. Responden terbanyak pada pengalaman skrining stunting untuk tenaga kesehatan di
Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang pernah memiliki pengalaman
skrining stunting yaitu 6 responden dari 8 responden puskesmas.
21. Responden terbanyak pada presepsi pembentukan tim stunting untuk tenaga
kesehatan di PUSKESMAS Sukamakmur yaitu tenaga medis yang setuju pada
presepsi pembentukan tim stunting yaitu 8 responden dari 8 responden
22. Responden terbanyak pada presepsi perlunya bantuan dana untuk pasien stunting
untuk tenaga kesehatan di Puskesmas Sukamakmur yaitu tenaga medis yang setuju
pada presepsi perlunya bantuan dana untuk pasien stunting yaitu 8 responden dari 8
responden

B. SARAN
1. Bagi penelitian selanjutnya, hasil dari penelitian ini dapat menjadi pedoman dan men
ginspirasi penelitian berikutnya sehingga dapat mengetahui lebih dalam mengenai ga
mbaran faktor resiko stunting dan hubungan stunting di Desa Pabuaran, Kecamatan
Sukamakmur. Dapat dilakukan penelitian lanjutan menggunakan kuesioner yang
bersifat kualitatif, dengan jumlah responden yang lebih besar dan cakupan area yang
lebih besar.
2. Bagi puskesmas, dapat melakukan upaya pencegahan dam penatalaksanaan stunting
terintegrasi guna percepatan penanggulangan stunting di Desa Pabuaran Kecamatan
Sukamakmur dengan pembentukan tim stunting sehingga dapat menerapkan alur
rujukan stunting dari bidan desa, puskesmas, dan rumah sakit rujukan yang optimal
dan prima.