Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN KLIMAKTERIUM

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Ajar Keperawatan Maternitas II

Dosen Pembimbing:

Tri Nur Jayanti, S. Kep., Ners., M. Kep

Disusun oleh :

Sinta Juliani (191FK03016) Rianty Damayanti R (191FK03024)


Tyan Lassanova F N (191FK03017) Dewi Asmara (191FK03026)
Regi Bayu A (191FK03018) Maya permatasari (191FK03027)
Ellysa Amanda I (191FK03019) Sari Damayanti (191FK03029)
Aldy Rifaldy P (191FK03020) Ariani Sukmadiwanti (191FK03030)
Mutia Kansha (191FK03021) Tika Sari Santika (191FK03031)
Sinta Anggraeni (191FK03022) Nisa Rahmawati (191FK03123)
Farah Nabila N (191FK03023)

Kelas 2A (B Kecil)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG

JUNI 2021
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan kesempatan kepada kami
untuk menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta yakni nabi Muhammad SAW.

Makalah ini memuat tentang Asuhan Keperawatn Klimakterium. Walaupun


makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas
bagi pembaca.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon
untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Bandung, Juni 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................2
1.3 Tujuan......................................................................................................................2
1.4 Manfaat....................................................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI..................................................................................................4
2.1 Definisi Klimakterium..............................................................................................4
2.2 Patofisiologi Klimakterium......................................................................................5
2.3 Manifestasi Klinis Klimakterium.............................................................................5
2.4 Etiologi Klimakterium..............................................................................................8
2.6 Pemeriksaan Penunjang..........................................................................................10
2.7 Penatalaksanaan.....................................................................................................11
2.8 Komplikasi Klimakterius.......................................................................................14
2.9 Asuhan Keperawatan berdasarkan Kasus...............................................................15
BAB III PENUTUP..............................................................................................................26
3.1 Kesimpulan............................................................................................................26
3.2 Saran......................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi,
berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita umur 40-65 tahun. Masa
ini ditandai dengan berbagai macam keluhan. Klimakterium bukan suatu
keadaan yang patologis, melainkan suatu masa peralihan yang normal yang
berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah menopause.
Klimakterium merupakan akhir proses biologis dari siklus
menstruasi,yang dikarenakan karena perubahan hormon yaitu
penurunanproduksi hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium.
Penurunan hormon estrogen menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak
teratur. Menopouse juga dapat diartikan sebagai haid terakhir. Terjadinya
menopouse ada hubungannya dengan menarche (pertama haid), makin dini
menarche terjadi maka makin lambat atau lama menopouse timbul.
Seiring dengan peningkatan usia, banyak terjadi perkembangan dan
pertumbuhan manusia. Namun pada suatu saat perkembangan dan
pertumbuhan itu akan terhenti pada suatu tahapan, sehingga berikutnya akan
terjadi banyak perubahan seperti fungsi tubuh pada manusia. Perubahan
tersebut biasanya terjadi pada proses menua, karena pada proses ini banyak
terjadi perubahan fisik maupun psikologis. Perubahan tersebut paling banyak
terjadi pada wanita karena pada proses menua terjadi fase menopouse yaitu
berakhirnya haid pada wanita.
Sesuatu yang berlebihan atau kurang, akan mengakibatkan timbulnya
suatu reaksi. Pada masa menopouse reaksi nyata adalah berkurangnya hormon
estrogen. Meskipun perubahan terjadi pada hormon progesteron, tetapi yang
berpengaruh langsung adalah hormon estrogen. Gejala psikologis yang

1
dialami wanita menjelang menopouse meliputi mudah tersinggung, depresi,
cemas, suasana hati (mood) tidak menentu, sering lupa, susah berkonsentrasi,
keringat pada malam hari. Gejala fisik yang timbul pada masa menopouse
adalah keriput, sakit kepala, insomnia, rasa panas (hot flushes), vagina terasa
kering, ketidaknyamanan dalam buang air kecil dan ketidakmampuan untuk
mengendalikan buang air kecil.
Akibat tidak haid lagi, otomatis terjadi perubahan pada organ
reproduksi wanita dan muncul berbagai keluhan fisik maupun psikologi, ada
baiknya jika seorang wanita sudah mempersiapkan diri menghadapi
menopouse dengan pengetahuan yang memadai. Menopouse tidak bisa
dihindari, namun terjadinya resiko keluhan bisa menurun jika mempersiapkan
diri secara fisik maupun psikis sejak jauhjauh hari. Dengan demikian masa
menopouse dapat dijalani dengan lebih baik, secara fisik maupun psikis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan klimakterium?
2. Bagaimana patofisiologi klimakterium?
3. Apa saja manifestasi klinis klimakterium?
4. Apa saja etiologi terjadinya klimakterium?
5. Apa saja klasifikasi klimakterium?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang klimakterium?
7. Bagaimana penatalaksanaan klimakterium?
8. Apa saja komplikasi klimakterium?
9. Bagaimana asuhan keperawatan berdasarkan kasus pada klimakterium?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi Klimakterium
2. Untuk mengetahui Patofisiologi Klimakterium
3. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Klimakterium

2
4. Untuk mengetahui Etiologi Klimakterium
5. Untuk mengetahui Klasifikasi Klimakterium
6. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang Klimakterium
7. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Klimakterium
8. Untuk mengetahui Komplikasi Klimakterium
9. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada kasus Klimakterium

1.4 Manfaat
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat
memahami materi mengenai Klimakterium dan dapat menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien Klimakterium dengan benar dan tepat.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Klimakterium


Klimakterium dalam bahasa Yunani berarti tangga, merupakan masa peralihan
antara tahap akhir masa reproduksi dengan tahap awal masa senium. Masa
klimakterium adalah masa dimana wanita menyesuaikan diri dengan menurunnya
produksi hormon-hormon ovarium yang membuat seorang wanita tidak dapat
bereproduksi. Klimakterium adalah fase proses penuaan yang wanita lewati dari
masa subur ke masa tidak subur. Usia klimakterium juga diartikan sebagai usia
maturitas, dimana seseorang menjadi lebih matang dan bijaksana, baik secara
intelektual maupun emosional. Setelah seorang wanita memasuki masa
klimakterium, maka mereka akan memasuki masa menopause. Klimakterium
adalah suatu masa seorang perempuan lewati dari masa reproduksi ke transisi
menopause hingga tahun-tahun masa menopause, terjadi pada umur rata-rata 45-
65 tahun. Klimakterium adalah keadaan wanita dengan perubahan dari kehidupan
reproduksi aktif menjadi reproduksi tidak aktif,menstruasi mengalami perubahan
tidak teratur, dan terjadi penurunan reproduksi estrogen yang dapat menimbulkan
gejala klinis. Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa
peralihan yang normal yang berlangsung beberapa tahun sebelum dan beberapa
tahun sesudah menopause. Masa klimakterium dimulai kira-kira 6 tahun sebelum
menopause dan berakhir kira-kira 6- 7 tahun setelah menopause. Dengan
demikian lamanya masa klimakterium lebih kurang 13 tahun. Menuru. Usia
pertengahan pada seorang wanita adalah usia 40 tahun hingga 60 tahun. Pada
masa ini seorang wanita akan mengalami menopause yang berarti berhentinya
menstruasi. Kehidupan merupakan suatu proses perubahan yang kontinyu dari
lahir sampai mati, yang mengandung pengertian adanya suatu proses menuju pada

4
suatu kematangan yang meliputi aspek jasmaniah, rohaniah, dan sosialnya.
(Novitasari, 2018)

2.2 Patofisiologi Klimakterium


Klimakterium terjadi karena penurunan aktivitas ovarium yang diikuti dengan
penurunan produksi hormon reproduksi, ini terjadi secara alamiah. Seorang
wanita memiliki folikel atau indung telur dari sejak lahir, folikel– folikel matang
ini bekerja untuk menghasilkan sel telur pada saat memasuki usia pubertas yang
ditandai dengan proses menstruasi. Granulose secara otomatis menghasilkan
estrogen yang merupakan salah satu hormon reproduksi wanita. Estrogen tadi
akan memaksa folikel untuk mengeluarkan sel telur, keluarnya sel telur dari
korpus luteum ini akan meningkatkan produksi estrogen dan progesteron.
Progesteron sendiri menyiapkan tempat pembuahan dengan menebalkan dinding
endometrium. Jika setiap bulan sel telur tidak terjadi pembuahan, maka membuat
dinding endometrium yang menebal tadi luruh. Luruhnya dinding endometrium
dibuktikan dengan keluarnya darah melalui lubang vagina dan inilah yang disebut
menstruasi. Ketika ovarium tidak lagi produktif, folikel yang dihasilkan
berkurang maka rangsangan produksi hormon estrogen dan progesteron
berangsur– angsur menurun. Kondisi ini yang semakin lama mencapai titik pada
masa klimakterium dengan keadaan menopause. (Fauzia et al., 2018)

2.3 Manifestasi Klinis Klimakterium


1. Gejala Vasomotor
a. Hot flashes
Hot flashes yaitu perasaan panas, gerah bahkan rasa seperti terbakar pada
area wajah, lengan, leher, dan tubuh bagian atas serta munculnya keringat
berlebih khususnya pada malam hari. Perubahan fisiologis yang dapat
terlihat adalah peningkatan temperatur tubuh, denyut, nadi dan nafas.

5
Hot flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh
darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat
disertai keringat yang berlebihan.
b. Kesulitan Tidur
Secara normal kebutuhan tidur orang dewasa pertengahan adalah tidur
sekitar 7 jam sehari, 20% tidur Rapist Eye Movement (REM), mungkin
mengalami Insomnia dan sulit untuk dapat tidur. Sedangkan kebutuhan
tidur dewasa tua adalah sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, mungkin
mengalami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur di malam hari.
Gangguan tidur atau dapat diistilahkan insomnia sering menjadi keluhan
pada wanita menopause.
c. Keringat Berlebih
Keringat berlebih atau disebut juga hiperhidrosis nocturnal sering terjadi
pada malam hari meskipun kondisi tubuh sedang rileks dan cuaca tidak
panas. Penurunan hormon noradrenalin menimbulkan vasodilitasi
pembuluh darah kulit, temperatur kulit sedikit meningkat dan menimbulan
perasaan panas selain itu pada malam hari akan keluar keringat yang
berlebih. Vasodilatasi dan pengeluaran keringat tersebut menyebakan
pengelauarn panas tubuh sehingga kadang-kadang beberapa wanita
menopause mengalami kedinginan.
d. Palpitasi
Palpitasi adalah suatu kondisi ketika jantung berdetak cepat berulang kali
tanpa ada tanda-tanda berhenti. Kontraksi prematur menyebabkan jantung
berdenyut dua kali dengan sangat cepat sehingga mengakibatkan lebih
banyak darah yang memasuki jantung pada denyutan ketiga. peningkatan
jumlah darah ini mengakibatkan jantung lebih banyak berkontraksi dan
memiliki denyutan yang kuat. Palpitasi pada masa menopause dapat
disebabkan karean adanya penrunan hormon estrogen yang memengaruhi
saraf simpatis dan parasimpatis.

6
e. Gangguan punggung dan tulang
Rendahnya kadar estrogen menjadi salah satu penyebab proses
osteoporosis pada wanita menopause. Kadar estrogen yang berkurang
pada saat menopause, akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium
yang terdapat pada makanan. Tubuh mengatasi masalah ini dengan
menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang. Akibatnya,
tulang menjadi keropos dan rapuh. Linu dan nyeri yang dialami wanita
menopause berkaitan dengan pembahasan kurangnya penyerapan kalsium.
Berdasarkan literatur yang ada diketahui bahwa kita kehilangan sekitar 1%
tulang dalam setahun akibat proses penuaan. Tetapi setelah menopause,
terkadang wanita akan kehilangan 2% tulang dalam setahun.
2. Gejala Psikologis
Selain gejala fisik seperti yang dikemukakan diatas, terdapat pula gejala psikis
yang menonjol pada wanita menopause seperti mudah tersinggung, susah
tidur, kecemasan, gangguan daya ingat, stress, depresi, tertekan, gugup dan
kesepian. Ada juga wanita yang kehilangan harga diri karena menurunnya
daya tarik fisik dan seksual, merasa tidak dibutuhkan.
3. Gejala Urogenital
a. Vagina Kering
Vagina kering akibatnya sakit saat melakukan hubungan seks. Keringnya
vagina dapat terjadi karena penurunan produksi hormon estrogen yang
secara berangsur–angsur meminimalkan pengeluaran cairan vagina. Selain
itu otot– otot vagina juga semakin kendur dan daya kontraksinya lebih
rendah. Hal ini secara tidak langsung nantinya berdampak pada
menurunnya libido. Penurunan kadar estrogen menyebabkan vagina
menjadi kering dan kurang elastis. Oleh karena itu sebagian wanita
menopause akan merasakan sakit saat berhubungan seksual. Biasanya
wanita menopause juga akan merasakan gatal pada daerah vagina. Kondisi
tersebut menyebabkan wanita menopause rentan terhadap infeksi vagina.

7
b. Masalah pada Kandung dan Saluran Kemih
Kadar estrogen yang rendah akan menimbulkan penipisan pada jaringan
kandung kemih dan saluran kemih. Menurunnya kadar estrogen juga akan
menyebabkan terjadinya penurunan kontrol dari kandung kemih sehingga
sulit untuk menahan untuk buang air kecil. Adanya gejala lemahnya otot
disekitar kandung kemih, akan meningkatkan resiko terkena infeksi
saluran kemih. (Fauzia et al., 2018)

2.4 Etiologi Klimakterium


1. Usia saat haid pertama sekali
Semakin muda seorang mengalami haid pertama sekali, semakin tua atau lama
ia memasuki masa menopause artinya wanita yang mendapatkan menstruasi
pada usia 16 atau 17 tahun akan mengalami menopase lebih dini.
2. Faktor Psikis
Wanita yang tidak menikah dan bekerja diduga mempengaruhi perkembangan
psikis seorang wanita. Menurut beberapa penelitian mereka akan mengalami
masa menopause lebih muda, dibandingkan mereka yang menikah dan
bekerja.
3. Jumlah anak
Beberapa penelitian menemukan bahwa makin sering seorang wanita
melahirkan, maka makin tua mereka memasuki menopause. Hal ini
dikarenakan kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ
reproduksi wanita dan juga memperlambat penuaan tubuh.
4. Usia melahirkan
Semakin tua seseorang melahirkan anak, semakin tua ia memulai memasuki
usia menopause. Hal ini terjadi karena kehamilan dan persalinan akan
memperlambat sistem kerja organ reproduksi. Bahkan memperlambat proses
penuaan tubuh.

8
5. Pemakaian kontrasepsi
Pemakaian kontrasepsi, khususnya kontrasepsi hormonal, pada wanita yang
menggunakannya akan lebih lama atau lebih tua memasuki usia menopause.
Hal ini dapat terjadi karena cara kerja kontrasepsi yang menekan fungsi
indung telur sehingga tidak memproduksi sel telur.
6. Merokok
Diduga, wanita perokok akan lebih cepat memasuki masa menopause dini
dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok.
7. Genetik
Menopause dikarenakan adanya Terapi Kanker seperti radiasi dan kemoterapi
8. Infeksi seperti TB, gondok
9. Menopause akibat Pembedahan seperti pembedahan karena endometriosis,
kanker ovarium, kanker rahim, polip
10. Sosial Ekonomi
Tingkat ekonomi wanita yang dipengaruhi oleh suami yang bekerja atau tidak
bekerja juga tingkat pendidikan yang mempengaruhi tingkat ekonomi diduga
berpengaruh terhadap usia menopause.
11. Budaya dan lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi
wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase
klimakterium dini.
12. Body Mass Index (BMI)
Tingkat BMI yang rendah berhubungan dengan usia menopause yang lebih
muda. Hubungan antara tinggi badan dan berat badan wanita diduga dapat
mempengaruhi usia menopause. Jaringan adipose merupakan tempat
diproduksinya hormon estrogen dan banyak didapatkan pada wanita yang
obesitas. Sehingga pada wanita yang obesitas, menopause akan terjadi lebih
lambat.

9
2.5 Klasifikasi Klimakterium
1. Menopaus Prematur
Menopaus prematur adalah menopause yang terjadi di bawah usia 40 tahun.
Menopause prematur ditandai apabila terjadi penghentian masa menstruasi
sebelumnya tepat pada waktunya disertai dengan tanda hot flushes serta
peningkatan kadar hormon gonadotropin. Jika tidak mengalami tandatanda
yang seperti disebutkan, perlu tindak lanjut kembali penyebab lain terganggu
ovarium. Adapun penyebab menopause prematur adalah herediter, gangguan
gizi yang cukup berat, penyakit menahun yang menyebabkan kerusakan kedua
ovarium.
2. Menopause Normal
Menopause yang alami dan apabila terjadi pada usia di akhir 40 tahun atau di
awal 50 tahun.
3. Menopause Terlambat
Umumnya batas usia terjadi menopause adalah usia 52 tahun, namun apabila
ada seorang wanita yang masih memiliki siklus menstruasi atau dalam arti
masih mengalami menstruasi di usia 52 tahun.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


a. Uji penapisan rutin, pemeriksaan awal, atau tahunan.
1. Urinalisis/dipstik urine.
2. Pap smear dengan indeks maturasi.
3. Mamografi: setiap 1 dan 2 tahun di usia antara 40 dan 49 tahun;
4. setiap tahun dari usia 50 tahun.
5. Feses untuk melihat adanya darah samar.
6. Kolesterol plasma puasa, trigiserida, dan profil lemak: setiap 3 sampai 5
tahun jika normal.

10
7. TSH (Terapi Sulih Hormon) pada usia 45 tahun dan selanjutnya setiap
tahun. Terdapat peningkatan insiden hipotiroidisme (Tiroiditis Hashimoto)
seiring dengan proses penuaan.
b. Uji lain (menggunakan variasi berdasarkan profil klinis dan faktor risiko
individu).
1. Gonadotropin hipofisis: digunakan untuk menentukan status menopause.
2. Estrogen: digunakan untuk mengevaluasi status menopause dan efek
terapi
3. Kadar glukosa puasa dan posprandial dua jam: berguna jika faktor risiko
menunjukan adanya diabetes.
4. Uji fungsi hati: dilakukan sebelum meresepkan terapi hormon jika
penyakit hati ada atau diduga (misal karena alkoholisme).
5. Biopsi endometrium: tepat untuk menyingkirkan dugaan hiperplasia dan
kanker endometrium pada wanita pascamenopause yang mengalami
perdarahan uterus setelah lebih dari setahun mengalami amenorea.
6. Ultrasonografi transvagina: digunakan untuk mengevaluasi massa panggul
dan perdarahan tidak terjadwal untuk menyingkirkan dugaan patologi
endometrium.
7. DXA (Dual energy X-Ray Absorptiometry): berguna jika wanita belum
memutuskan rencana terapeutik mana yang harus diikuti (terapi sulih
hormon, biofosfonat, olahraga, atau suplemen kalsium), dan data lain akan
membantu keputusan klinis terhadap pilihan ini.ormon pada kadar
estradiol sirkulasi.

2.7 Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Terapi sulih hormon (TSH)
TSH atau HRT (Hormon Replacement Terapy) merupakan pilihan untuk
mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan atau sindroma

11
menopause dalam masa premenopause dan postmenopause. Selain itu,
TSH juga berguna untuk menjaga berbagai keluhan yang muncul akibat
menopause, seperti keluhan vasomotor, vagina yang kering, dan gangguan
pada saluran kandung kemih. Penggunaan TSH juga dapat mencegah
perkembangan penyakit akibat dari kehilangan hormon estrogen, seperti
osteoporosis dan jantung koroner. Jadi, tujuan pemberian TSH adalah
sebagai suatu usaha untuk mengganti hormon yang ada pada keadaan
normal untuk mempertahankan kesehatan wanita yang bertambah tua
b. Pengobatan Alternatif
 Vitamin B6 dalam dosis kurang dari 200 mg dapat meredakan
beberapa gejala yang menegangkan.
 Vitamin E efektif mengurangi rasa panas.
 Androgen digunakan bersama estrogen pada beberapa wanita untuk
meningkatkan libido, mengurangi nyeri payudara, dan mengurangi
migrain.
2. Non Farmakologi
a. Olahraga
Olahraga akan meningkatkan kebugaran dan kesehatan seseorang,
biasanya ini juga membawa dampak positif, seperti :
 Menguatkan tulang
 Meningkatkan kebugaran
 Menstabilkan berat badan
 Mengurangi keluhan menopause
 Mengurangi stres akibat menopause
Olahraga bagi wanita yang mengalami menopause tentu saja berbeda
dengan wanita yang masih dalam usia reproduktif karena biasanya
beberapa organ tubuhnya sudah tidak berfungsi sempurna, selain itu
beberapa penyakit sudah dideritanya.

12
b. Nutrisi (Diet)
Bertambahnya usia menyebabkan beberapa organ tidak melakukan proses
perbaikan (remodelling) diri lagi, misalnya masa tulang tidak melakukan
pembentukan kembali. Selain itu, semakin tua aktivitas gerak yang
dilakukan juga tidak sekuat dulu sehingga kalori yang dikeluarkan juga
berkurang sehingga kalori yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh juga
menurun dengan demikian, asupan makanan yang dibutuhkan juga
berkurang. Sehingga setiap orang tetap membutuhkan makanan bergizi
seimbang yang berfungsi untuk memenuhi zat – zat gizi seperti
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral (Kasdu, 2002).
c. Kalsium
Kebutuhan kalsium pada wanita yang mengalami klimakterium rata-rata
1200mg/hari. Dapat diperoleh pada: susu,keju,daun pepaya,bayam, teri,
tahu, singkong, daun melinjo,kedelai, apel, kangkung, kacang ijo dan
pepaya,kacang tanah kupas, ikan segar, beras giling, roti putih, ayam, dan
daging sapi.
d. Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang menentukan kesehatannya di masa yang akan
mendatang. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah masalah makanan
dan olahraga, pola makanan yang baik, disesuaikan dengan kebutuhan
gizi usia tersebut serta aktivitas.
e. Pemberian Konseling
Masalah utama yang dialami wanita pada masa klimakterium adalah
faktor psikis, wanita biasanya mempunyai rasa takut, gelisah, tegang,
tidak percaya diri dan khawatir bahwa dirinya tidak semenarik dan
seprima dulu lagi. Alasan bahwa badan lemah dan tidak bergairah
hanyalah alasan untuk menutupi ketakutan dan kekhawatiran tersebut.
Banyak wanita yang mengalami gejala-gejala akibat perubahan tersebut
dan biasanya menghilang perlahan dan tidak mengakibatkan kematian.

13
Namun tak jarang mengakibatkan rasa tidak nyaman dan terkadang
menyebabkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari. Konseling yang
diberikan pada wanita yang memasuki masa klimakterium meliputi
penjelasan dan pemahaman kesehatan reproduksi wanita yang mencakup
perubahanperubahan fisik dan psikologis serta berbagai permasalahan
yang terjadi dalam berbagai masa kehidupan wanita. Perubahan itu
dimulai dari masa bayi, masa kanak-kanak, pubertas, masa reproduksi,
masa klimakterium dan masa senium. Masing-masing masa mempunyai
kekhususan yang memerlukan pemahaman dan perawatan keadaan
tubuhnya dalam menghadapi masa tersebut. Perubahan-perubahan
tersebut adalah hal yang wajar dan pasti terjadi dalam siklus kehidupan
wanita. Pada masa sekarang ini tanggung jawab kesehatan reproduksi
wanita bukan saja berada pada istri, namun melibatkan peran suami. Oleh
karena itu maslah kesehatan reproduksi wanita sudah merupakan
tanggung jawab bersama antara suami dan istri.

2.8 Komplikasi Klimakterius


1. Atrofi vagina dan mukosa uretra
Menyebabkan penurunan keasaman vagina, yang meningkatkan resiko
infeksi, kekeringan vagina dan dispareunia, serta gejala perkemihan, seperti
desakan untuk berkemih, sering berkemih dan sistitis.
2. Prolaps uteri vagina
Menyebabkan atrofi dan perubahan otot dasar panggul dan ligamen
penopangnya.
3. Osteoporosis
Penurunan masa tulang menyebabkan wanita lebih rentan mengalami fraktur.
4. Penyakit kardiovaskular
Terdapat peningkatan insidens penyakit jantung koroner dan stroke secara
bermakna pada wanita setelah mengalami menopause.

14
5. Perubahan rambut dan kulit, dan atrofi payudara.
6. Defek kognitif, dimensia, dan cedera sistem saraf pusat
Mekanisme yang diajukan meliputi disregulasi berbagai neurotransmiter,
penurunan faktor pertumbuhan neuron, penurunan aliran darah otak,
peningkatan kejadian iskemia serebral secara laten, dan perubahan pola tidur
(misal : tidur yang berhubungan dengan gangguan pernapasan, insomnia).
(Sari et al., 2021)

2.9 Asuhan Keperawatan berdasarkan Kasus

Kasus

Ny,T 47 tahun, ibu rumah tangga, datang ke poliklinik dengan keluhan


menstruasi tidak teratur, hasil pemeriksaan : TD 140/90mmhg, frekuensi nadi
88x/menit frekuensi nafas napas 24x/menit, suhu 37,5℃ hasil anamnesis :
klien mengatkan sering berkeringat, merasa panas yang membuatnya tidak
nyaman bahkan pada malam hari sehingga menyebabkan klien sulit tidur dan
sering terjaga di malam hari , selainitu klien juga menjadi sering lupa, sulit
berkonsentrasi, emosi tidak stabilsering marah, tersinggung dan gelisah klien
juga mengeluh sering gatal pda area genetalia dan nyeri saat bersenggama,
dahulu klien biasanya berhubungan seks 2-3x/menit, namun sekarang menjadi
1-2x/bulan karna klien merasa tidak lagi bergairah di tambah di tambah
dengan prasaan takut akan nyeri yang di rasaakanya, klien khawatir bila
kondisinya menyebabkan ia tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual
suaminya. Saat ini, klien hanya tinggal berdua dengan suaminyakedua
anaknya suadah menikah dan menetap di luar kota. Klien merasa kesepian dan
merasa kedua anaknya tidak memperhatikan dirinya karena sudah mulai
jarang berkunjung menanyakan kabar/ telepon menurut sumber informasi
yang klien baca, keluhan yang klien alami umum terjadi saat permepuan

15
menua bahkan tubuh juga akan mengalami sakit sakitan karena proses
penuaan klien menjadi sadar bahwa dirinya sudah tua tenaganya sudah
berkurang kulitnya sudah berkeriput, rambutnya sudah rontok dan beruban.
Perubahan perubahan tersebut membuat klien merasa tidak cantik lagi. Klien
semakin kwatir bila suaminya tidak lagi menyukainya seperti dahulu. Klien
menanyakan bagaimana cara mengatasi permasalahanya tersebutdan
bagiamana cara agar tetap sehat pda usia tua.

a. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Ny,T
Umur : 47 tahun
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Jenis klamin : perempuan
Diagnose medis : klimakterium
2. Keluhan utama
Klien mengeluh mentruasi tidak teratur
3. Riwayat Kesehatan sekarang :
klien mengatkan sering berkeringat, merasa panas yang membuatnya tidak
nyaman bahkan pada malam hari sehingga menyebabkan klien sulit tidur
dan sering terjaga di malam hari , selainitu klien juga menjadi sering lupa,
sulit berkonsentrasi, emosi tidak stabilsering marah, tersinggung dan
gelisah klien juga mengeluh sering gatal pda area genetalia dan nyeri saat
bersenggama,
4. Riawayat Kesehatan masalalu
dahulu klien biasanya berhubungan seks 2-3x/menit, namun sekarang
menjadi 1-2x/bulan karna klien merasa tidak lagi bergairah di tambah di
tambah dengan prasaan takut akan nyeri yang di rasaakanya, klien

16
khawatir bila kondisinya menyebabkan ia tidak dapat memenuhi
kebutuhan seksual suaminya.
5. Riwayat Kesehatan kluarga
Tidak di kaji
6. Riwayat lingkungan
Tidak di kaji
7. Riwayat pengobatan
Tidak di kaji
8. Riwat bio psiko sosial spiritual
Biologis : -
Psikososial :
selainitu klien juga menjadi sering lupa, sulit berkonsentrasi, emosi tidak
stabilsering marah, tersinggung dan gelisah, Klien merasa kesepian dan
merasa kedua anaknya tidak memperhatikan dirinya karena sudah mulai
jarang berkunjung menanyakan kabar/ telepon
sosial : -
spiritual : -
9. Kebutuhan dasar
Pola makan :-
Pola nafas :-
Pola eliminasi :-
Aktivitas :-
Pola tidur : sulit tidur sering terjaga di malam hari
Pola seksual : nyeri saat bersenggama
10. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum :-
2) Kesadaran :-
3) Antropometri
- BB :-

17
- TB :-
11. TTV
- RR : 24x/menit
- TD : 140/90 mmhg
- ND : 88x/menit
- S : 37,5℃
12. Pemeriksaan persistem
- System respirasi : -
- System reproduksi: menstruasi tidak teratur, nyeri saat
bersenggama, gatal pda vagina
- System kardiovaskuler: -
- System neurobehavior:-
- System imun dan hematologi:-
- System integumen : kulit mulai keriput, gatal pada vagina
13. Pemeriksaan focus
- Inspeksi :-
- Palpasi :-
- Perkusi :-
- Auskultasi :-
14. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan laboratorium :-
- Pengobatan :-

b. Analisa Data

No Data Penunjang Etiologi Masalah

1. DO : Estradiol Stress fisik


- Klien mengatakan

18
sering berkeringat, dan psikologis
merasa panas dan
sulit untuk tidur SSP/Vasamotor
- Klien merasa gelisah
dan emosi tidak
terkontrol Neropinephrine
- Klien takut tidak
mampu memenuhi
kebutuhan seksual Hot flushes (keringat
suaminya dimalam hari)
DS :
- TD : 140/90 mmHg
- Frekuensi nadi Stress psikologis
88x/m
- Frekuensi nafas
24x/menit Gangguan pola
- Suhu 37,5°C tidur

2. DO : Tulang Fisik dan


- Klien mengatakan psikologi
nyeri saat Apoptosis Osteolacts
berhubungan
- Klien menjadi
jarang berhubungan Maturasi osteoclast
dari 2-3x/minggu
menjadi 1-2x/bulan Resopsi tulang :
- Klien mengatakan pembentukan

19
sering merasa gatal
didaerah genetalia
Osteoporosis
DS : Fisik / psikologis
-

Nyeri

3. DO : Penipisan dini pada Perubahan


- Klien merasa tidak folikel feminitas
cantik lagi
- Klien menyadari Fase folikel pendek
bahwa dirinya sudah saat menstruasi
tua
- Klien khawatir Ovulasi
suaminya tidak
menyuakinya lagi Feedback (-)
DS :
- Rambut klien sudah Kadar gonadotrium
rontok dan beruban meningkat
- Kulit klien sudah
keriput FSH meningkat

Feminitas

Gangguan harga
diri

20
c. Diagnosa
1. Gangguan pola tidur b.d stress fisik dan psikologis (D.0055)
2. Nyeri b.d fisik/psikologi berkaitan dengan usia (D.0078)
3. Gangguan harga diri b.d perubahan feminitas (D.0102)

d. Intervensi

No Diagnosa Tujuan Intervensi


Gangguan pola tidur
1. Setelah Observasi :
b.d stress fisik dan
Dilakukannya 1. Identifikasi pola
psikologis (D.0055)
perawatan, pola aktivitas dan
tidur klien dapat tidur
teratasi. 2. Identifikasi faktor
Kriteria hasil : gangguan tidur
1. Pola tidur 3. Identifikasi
berubah makanan dan
2. Tidur terjaga minuman yang
3. Istirahat mengganggu
cukup tidur
4. Identifikasi obat
(L.05045)
tidur yang
dikonsumi

Terapeutik :

1. Modifikasi
lingkungan
2. Fasilitasi

21
menghilangkan
stress sebelum
tidur
3. Tetapkan
jadwal tidur
rutin
4. Lakukan
prosedur
meningkatkan
kenyamanan

Edukasi :
1. Jelakan
pentingnya tidur
yang cukup
2. Anjurkan faktor
yang
berkontribusi
terhadap
gangguan pola
tidur

(1.05174)
Nyeri b.d
2. Setelah dilakukan Observasi :
fisik/psikologi
perawatan, nyeri
berkaitan dengan Identifikasi kesiapan
dapat berkurang
usia (D.0078) dan kemampuan
Kriteria hasil :
menerima informasi
1. Keluhan nyeri

22
Terapeutik :
menurun
2. Gelisah 1. Sediakan materi
menuru dan media
3. Meringis pendidikan
menurun kesehatan
2. Jadwalkan
(L.08066)
pendidikan
kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan
kesempatan
untuk bertanya

Edukasi :

1. Jelaskan
penyebab,
periode dan
strategi
meredakan nyeri
2. Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
3. Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat
4. Ajarkan teknik

23
nonfarmakologis
untuk
mengurangi rasa
nyeri

(I.12391)
Gangguan harga diri
3. Setelah Observasi :
b.d perubahan
dilakukannya 1. Identifikasi
feminitas (D.0102)
perawatan, klien budaya, ras,
dapat menerima agama, jenis
dirinya sendiri kelamin dan
Kriteria hasil : usia terhadap
1. Penilaian diri harga diri
positif 2. Monitor
2. Perasaan verbalisasi yang
memiliki merendahkan
kelebihan atau diri sendiri
kemampuan 3. Monitor tingkat
positif harga diri setiap
3. Penerimaan waktu
penilaian
positif
Terapeutik :
terhadap diri
sendiri 1. Motivasi terlibat
4. Postur tubuh dalam
menampakan verbalisasi
wajah positif untuk diri
sendiri
(L.09069)

24
2. Diskusikan
pernyataan
tentang harga
diri
3. Diskusikan
persepsi negatif
diri
4. Berikan umpan
balik postif atas
peningkatan
mencapai tujuan

Edukasi :

1. Jelaskan pada
keluarga
pentingnya
dukungan dalam
perkembangan
konsep diri
2. Anjurkan
mengidentifikasi
kekuatan yang
dimiliki
3. Anjurkan
kontak mata saat

25
berkomunikasi

(I.09308)

26
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Klimakterium dalam bahasa Yunani berarti tangga, merupakan masa
peralihan antara tahap akhir masa reproduksi dengan tahap awal masa senium.
Masa klimakterium adalah masa dimana wanita menyesuaikan diri dengan
menurunnya produksi hormon-hormon ovarium yang membuat seorang
wanita tidak dapat bereproduksi.
Klimakterium adalah suatu masa seorang perempuan lewati dari masa
reproduksi ke transisi menopause hingga tahun-tahun masa menopause, terjadi
pada umur rata-rata 45- 65 tahun
Selain gejala fisik, terdapat pula gejala psikis yang menonjol pada
wanita menopause seperti mudah tersinggung, susah tidur, kecemasan,
gangguan daya ingat, stress, depresi, tertekan, gugup dan kesepian. Ada juga
wanita yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan
seksual, merasa tidak dibutuhkan.
Adapun klasifikasi dari klimakterium itu sendiri yaitu, Menopaus
Prematur ini biasanya terjadi di bawah usia 40 tahun, Menopause Normal
yaitu menopause yang alami dan apabila terjadi pada usia di akhir 40 tahun
atau di awal 50 tahun, dan Menopause Terlambat dimana masih mengalami
siklus manstruasi pada usia 52 tahun

3.2 Saran
Diharapkan kepada para ibu terutama pada usia klimakterium untuk dapat
meningkatkan penerimaan diri dengan mencari dan memperluas pengetahuan
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan sindrom klimakterium terutama
gejala-gejala yang timbul pada masa ini.

27
DAFTAR PUSTAKA

Fauzia, N., Syamsianah, A., Kusuma, H., & Semarang, U. (2018). Hubungan
Konsumsi Bahan Makanan Sumber Isoflavon Dan Serat Dengan Keluhan
Menopause Pada Wanita Menopause Di Kelurahan Kedungmundu Kecamatan
Tembalang Kota Semarang. Universitas Muhammadiyah Semarang, 76–77.
Novitasari. (2018). Hubungan Aktivitas Fisik Dan Upaya Pengobatan Dengan
Tingkat Keluhan Klimakterium Pada Wanita Usia 40-65 Tahun Di Kelurahan
Sikeli Tahun 2017. Hubungan Perilaku Pemberian Makanan Pendamping Asi
(Mp-Asi) Dengan Status Gizi Bayi 6-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Poasia Kota Kendari Tahun 2018.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: DPP PPNI

PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan


Kreteria Hasil Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Sari, D. P., Sawitri, E., & Putri, Z. E. (2021). Hubungan Lama Penggunaan
Kontrasepsi Hormonal Dengan Gejala Klimakterik Pada Wanita Usia
Menopause di Desa Gumul. Journal of Holistic Nursing Science, 8(1), 39–45.
https://doi.org/10.31603/nursing.v8i1.3938

28

Anda mungkin juga menyukai