Anda di halaman 1dari 6

MATERI SANLAT RAMADHAN 1437 H SMKN 1 KATAPANG

AKHLAQ KEPADA ORANG TUA

Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah SAW. : “Al Birr adalah baiknya akhlaq“. (HR.
Muslim)

Birrul Walidain ‫ بِ & ِّر ا ْل َوالِ & َد ْي ِن‬merupakan kebaikan-kebaikan yang dipersembahkan oleh seorang anak
kepada  kedua orang tuanya, kebaikan tersebut mencakup dzahiran wa batinan dan hal tersebut didorong
oleh nilai-nilai fitrah manusia meskipun mereka tidak beriman. Manakala wajibatul walid (kewajiban orang
tua) adalah untuk mempersiapkan anak-anaknya agar dapat berbakti kepadanya seperti sabda Nabi SAW.,
“Allah merahmati orang tua yang menolong (mengajarkan) anaknya untuk dapat berbakti kepadanya”.

Sedangkan ‘Uquuqul Walidain ‫ق ا ْل َوالِ & َد ْي ِن‬ ْ &ُ‫ ُعق‬yaitu durhaka terhadap mereka dan tidak berbuat baik
ُ ‫&و‬
kepadanya.

Berkata Imam Al Qurtubi – mudah-mudahan Allah merahmatinya -: “Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada
orang tua adalah membantah/menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang
mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan
mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau
mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan
perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah
perkara yang mandub (disukai/disunnahkan).”[i]

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah – mudah-mudahan Allah merahmatinya -: Berkata Abu Bakr di
dalam kitab Zaadul Musaafir “Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis,
maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali“.[ii]

Hukum Birrul Walidain

Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua adalah wajib
(fardhu ‘ain) kecuali terhadap perkara yang haram.

Syari’at Islam meletakkan kewajipan birrul walidain menempati ranking ke-dua setelah beribadah kepada
Allah SWT. dengan mengesakan-Nya. Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) banyak sekali, diantaranya
terdapat tiga ayat yang menunjukkan kewajipan yang khusus untuk berbuat baik kepada kedua orang tua:

‫وا بِ ِهۦ َش ۡي ۬ـًٔ ۖا‌ َوبِ ۡٱل َوٲلِد َۡي ِن إِ ۡح َس ٰـ ۬نًا‬


ْ ‫وا ٱهَّلل َ َواَل تُ ۡش ِر ُك‬
ْ ‫ٱعبُ ُد‬
ۡ ‫َو‬
“Dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu
pun dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak“. (QS. An Nisa’ : 36).

‫ك ۡٱلڪِبَ َر أَ َح ُدهُ َمآ أَ ۡو ِكاَل هُ َما فَاَل‬


َ ‫ت َۡعبُ ُد ٓو ْا إِآَّل إِيَّاهُ َوبِ ۡٱل َوٲلِد َۡي ِن إِ ۡح َس ٰـنً ۚا‌ إِ َّما يَ ۡبلُغ ََّن ِعن َد‬ ‫ك أَاَّل‬
َ ُّ‫ض ٰى َرب‬ َ َ‫َوق‬
‫ڪَري ۬ ًما‬
ِ ً‫ت َۡنہَ ۡرهُ َما َوقُل لَّهُ َما قَ ۡو ۬ال‬ ‫ف َواَل‬ ٍّ ۬ ُ‫تَقُل لَّهُ َمآ أ‬
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia.“. (QS. Al Isra’: 23).
َ ‫ٱشڪ ُۡر لِى َولِ َوٲلِد َۡي‬
‫ك‬ َ ِ‫َو َوص َّۡينَا ٱإۡل ِ ن َسـٰنَ بِ َوٲلِد َۡي ِه َح َملَ ۡتهُ أُ ُّمهُ ۥ َو ۡهنًا َعلَ ٰى َو ۡه ۬ ٍن َوف‬
ۡ ‫ص ٰـلُهُ ۥ ِفى عَا َم ۡي ِن أَ ِن‬
‫صي ُر‬ ِ ‫ى ۡٱل َم‬ َّ َ‫إِل‬
1
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS.
Luqman : 14).

Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoinya, “Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling
berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya
firman Allah SWT.: “bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu“, Berkata beliau. “Maka,
barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua ibubapanya, tidak
akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.”[iii].

Berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW. bersabda: “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua
dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi)[iv].

‫ث َح َّدثَنَا ُش ْعبَةُ أَ ْخبَ َرنَا ُعبَ ْي ُد هَّللا ِ ب ُْن‬ ِ ‫ارثِ ُّي َح َّدثَنَا خَ الِ ٌد َوهُ َو اب ُْن ْال َح‬
ِ ‫ار‬ ِ ‫ب ْال َح‬ ٍ ‫و َح َّدثَنِي يَحْ يَى ب ُْن َحبِي‬
‫ق ْال َوالِ َدي ِْن َوقَ ْت ُل‬ ُ ‫ك بِاهَّلل ِ َو ُعقُو‬ ُ ْ‫ال ال ِّشر‬َ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم فِي ْال َكبَائِ ِر ق‬َ ‫س ع َْن النَّبِ ِّي‬ٍ َ‫أَبِي بَ ْك ٍر ع َْن أَن‬
‫ور‬ ُّ ‫س َوقَوْ ُل‬
ِ ‫الز‬ ِ ‫النَّ ْف‬
Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib al-Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid
-yaitu Ibnu al-Harits- telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah mengabarkan kepada kami
Ubaidullah bin Abu Bakar dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang dosa besar, beliau
bersabda: "Syirik kepada Allah, durhaka terhadap orang tua, membunuh jiwa dan berkata dengan kata-
kata palsu." (HR Muslim)

Keutamaan Birrul Walidain

1.      ‫صالَ ِة‬ ِ ‫أَ َحبُّ ْاألَ ْع َم‬


َّ ‫ال إِلَى هللاِ بَ ْع َد ال‬ (amal yang paling dicintai disisi Allah SWT selepas Solat) 

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdir Rahman Abdillah Ibni Mas’ud ra “Aku pernah
bertanya kepada Nabi SAW amal apa yang paling di cintai disisi Allah ?” Rasulullah bersabda “Solat tepat
pada waktunya”. Kemudian aku tanya lagi “Apa lagi selain itu ?” bersabda Rasulullah “Berbakti kepada
kedua orang tua” Aku tanya lagi “ Apa lagi ?”. Jawab Rasulullah “Jihad dijalan Allah”. (HR. Bukhari dan
Muslim)

Ini tidak berarti jika melakukan Solat tepat waktu dan jihad fisabilillah menafikan kewajipan birrul
walidain karena Rasulullah SAW. pernah menolak permohonan salah seorang sahabat untuk jihad
fisabilillah disebabkan masalah hubungan dengan kedua ibu bapaknya. Kemudian Rasulullah SAW.
memerintahkan beliau segera pulang menyelesaikan permasalahan tersebut dahulu.

2.     ‫ُم ْست ََجابُ ال َّد ْع َو ِة‬ (doa mereka mustajab)

Di antara buktinya adalah kisah ulama besar hadits yang sudah terkenal di tengah-tengah kaum muslimin,
Imam Bukhari rahimahullah. Beliau buta sewaktu kecil lalu ibunya seringkali berdoa agar Allah SWT.
memulihkan penglihatan beliau.

Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah, al-Khalil, Ibrahim ‘alaihis salam yang berkata
kepadanya, ‘Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya
kamu berdoa.”

Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah mengembalikan penglihatannya.[v]

Hal di atas menunjukkan benarnya sabda Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam akan manjurnya do’a
orang tua pada anaknya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

2
‫ َو َد ْع َوةُ الصَّائِ ِم َو َد ْع َوةُ ْال ُم َسافِ ِـر‬، ‫ت الَ تُ َر ُّد َد ْع َوةُ ْال َوالِ ِد‬ ُ َ‫ثَال‬
ٍ ‫ث َد َع َوا‬
“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.”
(HR. Al Baihaqi[vi])

3.   ‫َسبَبُ نُ ُزوْ ِل الرَّحْ َم ِة‬ (sebab turunnya rahmat)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezekinya diperluas, dan agar


usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

4.      Bukan berarti membalas budi karena jasa mereka tidak mungkin terbalas

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Seorang anak tidak akan dapat membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya
sebagai hamba, lalu dia merdekakan.” (HR. Muslim)

5.      Al ummu hiya ahaqqu suhbah (prioritas untuk mendapat perlakuan yang lebih dekat dari kedua
orang tua ialah ibu)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah SAW. dan berkata,
’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ? Nabi SAW. menjawab, ’Ibumu!
Orang tersebut kembali bertanya, ’Kemudian siapa lagi ? Nabi SAW. menjawab, ’Ibumu! Ia bertanya lagi,
’Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW. menjawab, ’Ibumu!, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian
siapa lagi, ’Nabi SAW. menjawab, Bapakmu ” (HR. Bukhari dan Muslim)

6.      Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Syurga.

Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang


sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat
bertemu dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka
sudah tua, namun tidak dapat membuatnya masuk Surga.” (HR. Muslim)

7.      Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.

Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Maukah kalian kuberitahu dosa besar
yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.”
Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil
bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang
sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (HR Bukhari dan Muslim)

Melaksanakan Birrul Walidain

Ketika Mereka Masih Hidup          

1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah

Sa’ad bin Abi Waqas – semoga Allah merahmatinya –  menerapkan bagaiman konteks Birrul Walidain
mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Sa’ad
memeluk agama Islam, ibunya mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Sa’ad terkenal sebagai
anak muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam kalau Sa’ad tidak keluar
dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai mati. Dengan kata-kata yang lembut Sa’ad merayu
ibunya “ Jangan kau lakukan hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau
apapun gantinya atau risikonya”.

3
Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Tidak bosan-bosannya Sa’ad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya serta menegaskan hal
yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya menyerah dan menghentikan mogok
makannya.

2. Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:


“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapanya…” (QS. Al-
Ahqaaf: 15)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah
kepada kedua orang tua…” (QS. An-Nisaa’: 36)

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga keadaan
mereka melemah dan sangat memerlukan bantuan dan perhatian dari anaknya.

Abu Bakar As Siddiq ra. adalah shahabat Rasulullah SAW yang patut diteladani dalam berbaktinya
terhadap orang tua. Disaat orang tuanya telah memasuki usia yang sangat udzur, beliau masih melayani
bapanya dengan lemah lembut dan tidak pernah putus asa untuk mengajak ayahnya beriman kepada Allah.
Penantian beliau yang cukup lama berakhir ketika ayahnya menerima tawaran untuk beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya.

Allah berfirman dalam QS. 14 : 40–41, tentang do’a agar anak, cucu dan seluruh anggota keluarganya
menjadi orang-orang yang muqiimas Sholat (mendirikan Sholat) dan diampuni dosa-dosanya. Ayat ini
merupakan suatu kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada kelurga Abu Bakar Ash Shiddiq ra.

3. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Israa’: 23-24)

4. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka

Nabi Ibrahim ‘alaihiisalam mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya menyalahi dengan Nabi
Ibrahim ‘alaihiisalam tetapi tetap menunjukan birrul walidain yang dilakukan seorang anak kepada
bapaknya. Dalam menegur ayahnya beliau menggunakan kata-kata yang mulia dan ketika mengajak
ayahnya agar kejalan yang lurus dengan kata-kata yang lembut sebagaimana dikisahkan Allah pada QS.
19 : 41-45.

5. Menyediakan Makanan Untuk Mereka

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air
minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata si Ibu sudah tidur.

4
Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang bekas berisi air tersebut hingga
pagi. (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

6. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?”
Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab:
“Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004,
5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

7. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata:
“Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu
milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan
keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.

8. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka

Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib
kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali
silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti
beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

9. Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua

Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak
terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu
termasuk hak mereka.

10. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya,
Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang
lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu
membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila Mereka Telah Meninggal Dunia (‫)بَ ْع َد َوفَاتِ ِه َما‬

1. Menyalatkan/Berdo’a terhadap Keduanya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila manusia sudah meninggal,
maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih
yang mendo’akan dirinya.” (HR. Muslim)

2. Beristighfar Untuk Mereka Berdua

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Al-Qur’an:


“Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” (QS. Ibrahim: 41)

5
3. Menunaikan Janji/Wasiat Kedua Orang Tua

4. Memuliakan Teman/Kerabat Kedua Orang Tua

Ibnu Umar berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan
keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” (HR. Muslim)

5. Menyambung Tali Silaturahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

“Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali
silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah SAW. yang telah ditinggal ayahnya Abdullah kerana meninggal dunia saat Rasulullah SAW.
masih dalam kandungan ibunya Aminah. Dalam pendidikan birrul walidain ibunya mengajak Rasulullah
ketika berusia enam (6) tahun untuk berziarah ke makam ayahnya dengan perjalanan yang cukup jauh.
Dalam perjalanan pulang ibunda beliau jatuh sakit tepatnya didaerah Abwa hingga akhirnya meninggal
dunia. Setelah itu Rasulullah diasuh oleh pamannya Abu Thalib, beliau menunjukkan sikap yang mulia
kepada pamannya walaupun aqidah pamannya berbeda dengan Rasulullah. Dan Rasulullah SAW. berbakti
pula kepada pengasuhnya yang bernama Sofiyah binti Abdil Mutthalib.

‫وهللا أعل ُم بالـصـواب‬

[i] Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238

[ii] Ghadzaul Al Baab 1/382

[iii] Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40

[iv] Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah
No. 516

[v] Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradhkarya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy sebagai yang dinukilnya dari
kitab Hadyu as-Saary Fi Muqaddimah Shahih al-Buukhary karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany

[vi] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana
dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797