Anda di halaman 1dari 8

http://syeilendrapramuditya.wordpress.

com

Pengobatan Nuklir & Fisika Radiasi (Q&A)


Syeilendra Pramuditya
Juni 2006

Soal 1
Dalam suatu terapi dengan menggunakan BNCT, digunakan seberkas neutron termal dengan
fluks 6,5 x1012 n/cm2.s. Boron 10 yang dimasukan kedalam tubuh terkumpul didalam sel
tumor sebanyak 50 ppm dan sebanyak 10 ppm tersebar pada jaringan sehat yang terletak di
sekitar sel tumor tersebut. Jika berat sel tumor adalah 20 gram dan berat jaringan sehat yang
terkontaminasi oleh boron 10 gram serta tebal jaringan sehat yang tidak terkontaminasi oleh
boron adalah 1 g/cm2. Tentukan :
a. dosis serap pada jaringan sehat yang tidak terkontaminasi oleh Boron-10
b. dosis serap pada jaringan sehat yang terkontaminasi oleh Boron-10
c. dosis serap pada sel tumor

asumsi :
1. kesetimbangan partikel bermuatan terpenuhi
2. tidak terjadi kontaminasi radiasi diantara ketiga jaringan tersebut

Jawaban Nomor 1 a
Karena jumlah atom Boron-10 yang dimasukan ke dalam tubuh tidak diketahui, maka
pertama-tama harus dibuat asumsi bahwa jumlah atom Boron-10 memiliki orde yang sama
dengan fluks neutron termal, sehingga untuk keperluan perhitungan akan digunakan kuantitas
fluks neutron termal, yang memang diketahui.

Dosis serap dirumuskan sebagai berikut :


 E
D
m

pada daerah yang tidak terkontaminasi oleh Boron-10, berarti   0 (akibat asumsi nomor 2),
dengan demikian dosis serap juga bernilai nol.

Jawaban Nomor 1 b

1
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Konsentrasi atom boron : 10 ppm


berat jaringan : 10 gr
kemudian dihitung nilai fluks :
  (10 ppm)(6,5 1012 )  (10 106 )(6,5  1012 )  6,5 107 n / cm 2 .s

Untuk perhitungan dosis serap, yang diperhatikan hanya partikel bermuatan (7Li dan 4He),
sedangkan foton (gamma) dan partikel tak bermuatan (neutron) tidak diperhitungkan.

Energi kinetik 7Li dan 4He : 2,31 MeV = 3,696x10-13 J


(sumber data : http://web.mit.edu/nrl/www/bnct/info/description/intro_fn.html)

 E 6,5  107 n / cm 2 .s  3,696 10 13 J


D 
m 10  103 kg
D  2,4024  103 J / kg.cm 2 .s  0,24024 cGy / cm 2 .s

Dosis serap pada jaringan sehat yang terkontaminasi : 0,24024 cGy/cm2.s

Jawaban Nomor 1 c
Konsentrasi atom boron : 50 ppm
berat tumor : 20 gr

kemudian dihitung nilai fluks :


  (50 ppm)(6,5  1012 )  (10 10 6 )(6,5  1012 )  3,25 108 n / cm 2 .s

Energi kinetik 7Li dan 4He : 2,31 MeV = 3,696x10-13 J


(sumber data : http://web.mit.edu/nrl/www/bnct/info/description/intro_fn.html)

 E 3,25  108 n / cm 2 .s  3,696  10 13 J


D 
m 20  103 kg
D  6,006  10 3 J / kg.cm 2 .s  0,6006 cGy / cm 2 .s

Dosis serap pada tumor : 0,6006 cGy/cm2.s

Soal 2

2
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

a. Jelaskan faktor yang menyebabkan kualitas pencitraan dengan menggunakan PET


kurang baik dibanding CT-scan. Serta jelaskan keunggulan pencitraan dengan PET
dibanding CT-scan.
b. Sketsalah bentuk sinogram dari geometri berikut :

Jawaban Nomor 2 a
Perhatikan gambar dibawah ini :

Compton

Fotolistrik

100 keV ~511 keV

Pada CT-scan, berkas foton yang digunakan adalah sinar-X energi rendah, yaitu sinar-X
sampai dengan energi sekitar 100 keV, dimana pada range energi tersebut (pada jaringan
tubuh) interaksi yang berperan adalah compton dan fotolistrik (lihat gambar diatas).
Interaksi fotolistrik sangat dipengaruhi oleh nomor atom medium yang dilewati berkas foton,
yaitu besarnya kira-kira sebanding dengan pangkat tiga dari nomor atom medium (Z 3). Karena

3
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

tiap-tiap jenis jaringan dan organ tubuh memiliki perbedaan nomor atom efektif yang cukup
signifikan (sekitar Z=5 sampai Z=14), maka CT-scan dapat memberikan informasi mengenai
anatomi dan struktur fisik jaringan dan organ tubuh secara cukup rinci (resolusi yang cukup
tinggi).

Sedangkan pada PET, berkas foton yang digunakan adalah sinar gamma dengan energi 511
keV, dimana pada energi tersebut (pada jaringan tubuh) interaksi fotolistrik sudah tidak
berperan lagi, yang berperan hanyalah interaksi compton (lihat gambar diatas). Interaksi
compton tidak dipengaruhi oleh nomor atom efektif medium, tetapi dipengaruhi oleh
kerapatan elektron medium. Karena kerapatan elektron pada jaringan dan organ tubuh tidak
terlalu berbeda jauh (sekitar 3 - 3,5x1023) maka PET kurang baik untuk memperoleh informasi
mengenai anatomi dan struktur fisik jaringan dan organ dengan cukup rinci.

Pada CT-scan memang didapat informasi struktur dan anatomi fisik jaringan/organ secara
rinci, tapi tidak didapat informasi tentang proses metabolisme, perubahan biokimia, fisiologi,
fungsional, dan aktifitas sel-sel pada jaringan/organ; semua informasi tersebut bisa didapat
dengan PET. PET bekerja dengan menggunakan isotop radioaktif (pada molekul) yang
berasosiasi dengan metabolisme jaringan/organ tertentu, contohnya :
 isotop 15O pada molekul CO2 : aliran darah pada otak
 isotop 15O pada molekul O2 : myocardial oxygen, fraksi ekstraksi oksigen
 isotop 13N pada molekul NH3 : aliran darah, metabolisme glukosa
 isotop 11C pada molekul asetat : metabolisme jantung
 isotop 11C pada molekul kokain : distribusi dan farmokinetik dari kafein pada otak
 isotop 18F dalam bentuk ion fluor : metabolisme tulang
 isotop 18F pada molekul Fluorodeoxyglucose (FDG) : metabolisme glukosa

Jadi pada PET kita memilih isotop radioaktif yang akan digunakan berdasarkan jenis
metabolisme/perubahan biokimia yang akan dipantau.

Kesimpulannya :

4
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

 CT-scan : didapat informasi tentang anatomi dan struktur fisik jaringan/organ


 PET : didapat informasi tentang proses metabolisme, perubahan biokimia, fisiologi,
fungsional, dan aktifitas sel-sel pada jaringan/organ

Jawaban Nomor 2 b

5
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Soal 3
Tentukan aktifitas dari sumber radioaktif pada setiap kompartemen untuk 3 buah
kompartemen tersusun seperti pada gambar dibawah ini :

12
 23
N1 N2 N3

 21

Jawab
dN1
 12 N1  21 N 2
dt
dN 2
 12 N1  (21  23 ) N 2
dt
dN 3
  23 N 2
dt

6
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

Persaman diferensial diatas relatif sulit untuk dicari solusinya secara analitik, karena
persamaan pertama dan kedua saling coupled, maka solusi akan dicari secara numerik dengan
menggunakan metode Forth Order Runge-Kutta.

Berikut ini adalah beberapa contoh hasilnya :

N10 100
N20 0
N30 0
 1
 3
 7

N10 100
N20 0
N30 0
 3
 1
 7

7
http://syeilendrapramuditya.wordpress.com

N10 100
N20 0
N30 0
 7
 1
 3

N10 0
N20 100
N30 0
 1
 7
 3

N10 0
N20 100
N30 0
 1
 3
 7

Anda mungkin juga menyukai