Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KONSEP PENGKAJIAN BUDAYA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikososial Dan Budaya

Dosen Pengajar : Nurul Iklima, M.Kep

Disusun oleh : Kelompok 5 (KP. 2A)

Muhamad Ade Priyanto 88201014

Tita Rohayati 88200209

Syalma Fujiyanti 88201012

Alfiyyah Nur Afifah 88200008

Tacia Putri Hareka 88200007


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ADHIRAJASA RESWARA SANJAYA

2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, hidayah serta inayahnya sehingga makalah
pengkajian budaya dapat terselesaikan guna memenuhi tugas kelompok mata
kuliah psikososian dan budaya.

Shalawat beserta salam sehingga tetap tercurah kepa Nabi Muhammad


SAW, yang senanriasa kita nantikan syafa’atnya baik didunia maupun diakhirat
kelak.

Terimakasih kami ucapkan kepada segenap pihak yang telah berpartisipasi


dalam proses penyelesaian makalah ini. Kami menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu penyusun menerima kritik dan
saran guna menyempurnakan makalah ini.

Akhirnya harapan dari kami semoga makalah ini dapat memberi banyak
manfaat baik bagi penyusum maupun pembaca.

Bandung, 05 Juni 2021

Penyusun

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................2
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang..........................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................5
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................5
BAB II......................................................................................................................6
2.1 Pengertian Budaya.....................................................................................6
2.2 Pengkajian Budaya....................................................................................6
2.2.1 Kebudayaan Dan Kesehatan..............................................................8
2.3 Konsep Dan Prinsip Pengkajian Budaya Dalam Asuhan Keperawatan....9
2.3.1 Prinsip Pengkajian Budaya..............................................................10
2.3.2 Konsep Pengkajian Budaya.............................................................11
2.3.3 Pengkajian Budaya Dalam Asuhan Keperawatan............................13
2.3.4 Instrumen pengkajian budaya..........................................................16
2.3.5 Cara Pengkajian Budaya..................................................................19
BAB III..................................................................................................................22
3.4 Kesimpulan..............................................................................................22
3.5 Saran........................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................23

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad
ke-21, termasuk pada asuhan keperawatan yang berkualitas akan akan
semakin bertambah. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan
penduduk antar negara dimungkinkan, menyebabkan adanya pergseran
terhadap tuntutan asuhah keperawatan.

Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body know lage yang


kuat dan dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam keperawatan.

Teori yang diungkapkan pada midle range theory yaitu Transcultural


Nursing Theory. Teori yang berasal dari antropologi lalu dikembangkan
dalam konteks keperawatan. Teori yang menjabarkan konsep keperawatan
yang didasari oleh pemahaman tentang perbedaan nilai-nilai kultural yang
melekat dalam masyarakat. Memperhatikan keanekaragaman budaya serta
nilai-nilai yang diterapkan dalam asuhan keperawatan terhadap pasien. Bila
diabaikan oleh perawat, maka akan terjadinya cultural shock.

Cultural shock ini akan dialami oleh pasien ketika perawat tidak
mampu beradaptasi dengan perbedaan budaya dan kepercayaan, maka hal ini
akan mengakibatkan ketidak nyamanan dan akan mengalami disorientasi,
Sehingga akan berakibat menurunya kualitas pelayanan keperawatan yang
diberikan.

5
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari budaya ?
2. Apa yang dimaksud dengan pengkajian budaya ?
3. Apasaja konsep dan prinsip pengkajian budaya dalam asuhan
keperawatan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Mendeskripsikan apa yang dimaksud pengkajian budaya dalam
asuhan keperawatan serta memaparkan konsep dan prinsipnya.

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Budaya


Pengertian secara umum kata “kebudayaan” berasal dari kata sansekerta
buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Dengan
demikian kebudayaan berarti hal-hal yang bersang bersangkutan dengan akal.
Pengertian kebudayaan yang sering dipakai di Indonesia adalah pengertian
kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (2002; 180)
kebudayaan adalah ‘’keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia belajar’’. Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa hampir
seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan karena hanya sedikit tindakan
manusia dalam kehidupannya yang tidak perlu dibiasakan melalui belajar.
Sedangakan A. L. Kroeber dan C.Kluckhon. A. L. dalam bukunya Culture, A
Critcal Review of Concepts and devinitions (1952) mengatakan bahwa
kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti
seluas luasnya. (Noorkasiani,2009)

Koentjaraningrat lebih jauh menguraikan kebudayaan dalam tiga


wujudnya yaitu: 1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; 2) Wujud
kebudayaan sebagi suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat; 3) Wujudkebudayaan sebagai benda-benda hasil
karya manusia.

Kebudayaan adalah hasil belajar dan bukan warisan biologi.


Kebudayaan dikaitkan dengan norma, nilai, dan tradisi yang diwariskan dari
generasi kegenerasi. Ini juga dianggap sama dengan etnik,ras, kebangsaan,
dan bahasa (Kleinman dan Benson, 2006).

7
2.2 Pengkajian Budaya
Globalisasi dan perkembangan teknologi modern berdampak pada
perubahan kebudayaan di seluruh dunia. Di nergara berkembang seperti
Indonesia, perkembangan teknologi kesehatan modern juga telah membawa
perubahan kebudayaan yang sangat luar biasa. Di satu pihak, kebudayaan
berubah sebagai akibat dari proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan,
sedangka di pihak lainnya terjadi perubahan kebudayaan karena beradaptasi
dengan perkembangan teknologi modern yang merupakan hasil dari
perkembangan peradaban manusia. Menurut Purnell dan Paulanka (2003),
pengaruh utama yang membentuk pandangan seseorang terhadap dunia dan
tingkatan mereka mengidentifikasi kelompok budaya asli mereka disebut
dengan karakteristik primer dan sekunder dari kebudayaan. Karakter primer
dari kebudayaan meliputi: kebangsaan, ras, warna kulit, jenis kelamin, usia
dan agama. Sedangkan karakteristik sekunder menurut Purnell dan Paulanka
(2003) meliputi status pendidikan, status sosial ekonomi, pekerjaan,
pengalaman dalam kemiliteran, tempat tinggal, status pernikahn, status
parental, status karakteristik fisik,orientasi seksual, status imigrasi, dan lam
tinggal di suatu aerah atau negara yang bukan daerah atau negara asalnya.
Karajteristik primer dan sekunder akan mempengaruhi pandangan budaya
seseorang yang ada didalam suatu masyarakat karena kebudyaan merupakan
serangkaian model kognitif yang dimiliki manusia dan digunakan secara
selektif untuk menghadapi lingkungan yang terwujud dalam tingkah laku dan
tindakannya.

Dalam dunia profesi keperawatan, maka wujud kebudayaan dalam


bentuk adat-istiadat yang terdiri dari nilai-nilai budaya, pandangan hidup,
cita-cita, norma-norma serta pengetahuan dan keyakinan serta dalam wujud
sistem sosial perlu dikaji secara lebih mendalam. Dalam menelaah
kebudayaan pasien, perawat akan menemukan bahwa pasien dapat memiliki
kebudayaan yang ideal yang secara khusus memiliki nilai-nilai budaya,
pandanagan hidup, cita-cita, norma serta pengetahuan dan keyakinan. Selain
itu, pasien juga memiliki suatu rangkaian aktivitas dan tindakan yang saling
berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain dalam melaksanakan segala

8
hal dalam suatu sistem sosial. Hal ini yang perlu mendpat perhatian dari para
perawat agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang kongruen secra
budaya (Novieastari, 2013).

2.2.1 Kebudayaan Dan Kesehatan


Kesehatan ada kaitannya dengan kebudayaan yang berlaku dalam suatu
masyarakat. Penyakit dapat merupakan hasil dari interaksi manusia terhadap
lingkungannya. Sebagai contoh karena lingkungan tempat hidup manusia itu
kotor maka manusia dapat terserang penyakit yang diakibatkan oleh
lingkungan yang kotor tersebut. Hubungan antara penyakit dan berbagai
kebudayaan bersifat kompleks dan banyak faktor yang harus
dipertimbangkan. Kebudayaan juga ada kaitannya dengan persepsi seseorang
terhadap kesehatannya. Seperti halnya dengan kebutuhan biologis manusia
yang lain, maka kebutuhan kesehatan juga dipengaruhi oleh kebudayaan.
Perilaku yang berhubungan dengan sehat dan sakit juga erat kaitannya dengan
perilaku budaya seseorang. Para ahli perilaku yang mempelajari penyakit,
menyadari bahwa kebudayaan berperan dalam membentuk tingkah laku orang
yang sakit. Sejumlah faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan
budaya sangat memengaruhi tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan
pasien (Foster & Anderson, 2006). Penyakit yang sama dapat menimbulkan
respons yang berbeda pada pasien yang berbeda tergantung pada faktor-faktor
tersebut. Sebagai contoh pasien yang menderita penyakit kronis yang sama
dapat berespons berbeda tergantung pada asal suku bangsanya. Orang Sunda
atau Jawa akan lebih menerima kondisi penyakit kronis dengan berespons
tenang dan menerima (nrimo), dibandingkan dengan orang Sumatera yang
lebih agresif dalam mencari bantuan kesehatan. Berdasarkan pengalaman
memberikan pelayanan keperawatan langsung, para peneliti juga mengamati
bahwa pasien yang berasal dari suku Batak lebih ekspresif dalam
mengungkapkan rasa sakit mereka dibandingkan dengan pasien dari suku lain
seperti suku Jawa. Seorang pasien yang tidak mengeluh sakit secara verbal
kepada perawat bukan berarti bahwa tidak ada rasa sakit yang diderita oleh
pasien. Begitu juga sebaliknya, seorang pasien yang selalu berteriak-teriak

9
kesakitan tidak selalu berarti mengalami rasa sakit yang lebih hebat
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengeluh sakit. (Novieastari, 2013).

Kebudayaan dapat memengaruhi persepsi pasien dan profesi kesehatan


tentang kondisi kesehatan dan penanganannya. Menurut Winkelman (2009),
kebudayaan memengaruhi perilaku terhadap penyakit dan alasan untuk
mencari bantuan perawatan, cara menangani gejala atau masalah kesehatan
dan ketaatan kita terhadap penanganan penyakit. Perilaku sakit dan cara
mengungkapkan rasa sakit dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki oleh
pasien. Perbedaan budaya antara tenaga kesehatan dan pasien mereka yang
beragam dapat menimbulkan adanya ketidak pahaman lintas budaya yang
tidak dapat dihindari dan dapat diprediksi. Oleh karena itulah pengetahuan
tentang kebudayaan dan kesadaran budaya menjadi sangat penting bagi
semua profesi kesehatan. Perkembangan teknologi bidang kesehatan juga
telah membawa perubahan kebudayaan di seluruh dunia. Sistem pengobatan
modern yang dikembangkan berdasarkan teknologi barat telah memengaruhi
sistem pengobatan tradisional suatu masyarakat. Namun demikian sistem
pengobatan modern tidak selalu menggantikan sistem pengobatan tradisional.
Dalambmasyarakat seringkali ditemui bahwa pengobatan tradisional tetap
dijalankan dan pengobatan modern ditempuh sebagai salah satu pilihan
alternatif bila cara tradisional tidak memberikan harapan. Di Negara-negara
Asia, kedua sistem pengobatan ini saling mengisi satu sama lain. Demikian
juga halnya di Indonesia, sistem pengobatan atau sistem kesehatan modern
dan pelayanan kesehatan tradisional merupakan sistem pengobatan yang
diakui dan berlaku serta telah diatur dalam Undang-undang RI nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan.

2.3 Konsep Dan Prinsip Pengkajian Budaya Dalam Asuhan Keperawatan


Salah seorang pelopor Teori perawatan budaya (Culture Care Theory)
adalah Madeliene Leininger. Beliau adalah perawat profesional pertama yang
memperoleh Ph. D di bidang antropoligi sosial budaya. Leininger telah
mengembangkan suatu model yang dikenal dengan Model sunrise. Model ini
memberikan panduan kognitif untuk memperjelas fenomena budaya
perawatan dari perspektif holistik beragam faktor yang mempengaruhi

10
perawatan dan kesejahteraan seseorang. Model sunrise memberikan
gambaran yang holistik dan komprehensif untuk merefleksikan totalitas
pengetahuan seseorang dalam kehidupan dunia atau budaya mereka.

2.3.1 Prinsip Pengkajian Budaya


Secara umum pengkajian budaya mempunya prinsip prinsip sebagai
berikut :

a) Jangan menggunakan asumsi.


b) Jangan membuat streotif bisa menjadi konflik misalnya:
orang Padang pelit, orang Jawa halus.
c) Menerima dan memahami metode komunikasi.
d) Menghargai perbedaan individual.
e) Tidak boleh membeda-bedakan keyakinan klien.
f) Menyediakan privacy terkait kebutuhan pribadi.
Sedangkan, menurut Leininger (Marriner-Tomey & Alligood, 2010)
ada empat prinsip utama yang dikonseptualisasi dan diformulasikan dalam
Theory Culture Care yaitu:
1. Ekspresi, pemaknaan, pola, dan praktik perawatan budaya beragam atau
bervariasi, namun demikian ada beberapa kesamaan (commonalities)
dalam pola dan kesamaan beberapa atribut yang sifatnya universal.
2. Pandangan dunia (worldviews) terdiri atas banyak faktor struktur sosial
seperti agama, ekonomi, nilai-nilai budaya, ethnohistory, konteks
lingkungan, bahasa, dan perawatan generik dan profesional, yang sangat
memengaruhi pola-pola perawatan budaya untuk memprediksi kesehatan,
kesejahteraan, penyakit, penyembuhan, dan cara-cara masyarakat
menghadapi ketidakmampuan dan kematian.
3. Generic emic (folk) dan professional etic care dalam konteks lingkungan
yang berbeda dapat sangat memengaruhi outcomes kesehatan dan
penyakit.
4. Tiga bentuk tindakan dan keputusan yang berbasis budaya untuk
memberikan perawatan yang kongruen, aman dan bermakna secara
budaya adalah (1) preservasi atau pemeliharaan budaya perawatan (2)
akomodasi atau negosiasi budaya perawatan; (3) pembuatan pola baru

11
atau restrukturisasi budaya perawatan. Bentuk Keputusan dan tindakan
berdasarkan pada keperawatan budaya diprediksi sebagai faktor kunci
untuk mencapai perawatan yang kongruen, aman dan bermakna.

Leininger (2002) mendefinisikan keperawatan transkultural sebagai


studi perbandingan budaya untuk memahami kesamaan mereka (budaya yang
universal) dan perbedaan di antara mereka (budaya yang khusus untuk
kelompok tertentu). Tujuan keperawatan transkultural adalah untuk
memberikan asuhan budaya yang sama, atau perawatan yang sesuai dengan
pola, nilai, dan sistem makna kehidupan seseorang. Pola dan makna dibuat
oleh orang-orang itu sendiri daripada dari kriteria yang telah ditentukan.
Misalnya, daripada menginstruksikan semua pasien untuk selalu meminum
obat mereka pada waktu yang sama selama sehari, Anda mempelajari pola
gaya hidup mereka, kebiasaan makan, kebiasaan tidur, dan keyakinan tentang
obat-obatan dan kemudian mencoba untuk merencanakan jadwal dosis yang
sesuai dengan kebutuhan setiap pasien. Perawatan yang sesuai dengan budaya
kadang-kadang berbeda dari nilai dan makna sistem perawatan kesehatan
profesional. Menemukan nilai-nilai budaya, keyakinan dan praktik-praktik
budaya yang berkaitan dengan keperawatan dan perawatan kesehatan
mengharuskan Anda untuk mengambil peran pelajar dan bermitra dengan
pasien dan keluarga mereka untuk menentukan apa yang dibutuhkan untuk
memberikan perawatan yang bermakna dan bermanfaat (Leininger dan
McFarland, 2002). Perawatan yang efektif mengintegrasikan nilai-nilai
budaya dan keyakinan individu, keluarga, dan masyarakat dengan perspektif
dari tim multidisiplin penyedia layanan kesehatan.

2.3.2 Konsep Pengkajian Budaya


Konsep dalam transcultural nursing adalah:
a. Budaya
Norma atau aturan tindakan dari kelompok yang dipelajari, dan
dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
menggambil keputusan.
b. Nilai Budaya

12
Keinginan individu yang diinginkan atau suatu tindakan yang
dipertahankan pada waktu tertentu.
c. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan
Bentuk optimal dalam pemberian asuhan keperawatan.
d. Etnosentris
Budaya yang dimiliki orang lain adalah persepsi yang dimiliki
individu menganggap budayanya adalah yang terbaik.
e. Etnis
Yang berkaitan dengan manusia rasa tau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim
f. Ras
Perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia. Jenis ras umumnya dikenal
kaukasoid, negroid, mongloid.
g. Etnografi/ Ilmu Budaya
Pendekatan metologi pada penelitian etnologi agar perawat bias
mengembangkan pada pemberdayaan budaya disetiap individu.
h. Care
Fenomena dengan bimbingan bantuan dan dukungan individu
maupun keluarga agar terpenuhinya kebutuhan actual ataupun
potensial demi meningkatnya kondisi dan kualitas pada kehidupan
manusia.
i. Caring
Tindakan untuk membimbing dan mendukung individu ataupun
kelompok pada kenyataan yang nyata, dan antisipasi kebutuhan
untuk meningkatkan kehidupan manusia.
j. Cultural care
Kemampuan mengetahu niali dan menduklung individu/kelompok
untuk mempertahankan kesehatan dan berkembangnya pertahanan
hidup dalam keterbatasan mencapai kematian dengan damai.
k. Cultural imposition

13
Kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan
kepercayaan,praktek dan nilai karena percaya bahwa ide yang
dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain.

Paradigma transcultural nursing (Leinenger 1985) adalah cara


pandang,keyakinan,konsep dan nilai dalam asuhan keperawatan, 4 konsep
sentral keperawatan yaitu :

a. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki
nilai-nilai dan norma- norma yang diyakini dan berguna untuk
menetapkan pilihan dan melakukan pilihan.
Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan untuk
mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada
(Geiger and Davidhizar, 1995).
b. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam
mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan
merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks
budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan
seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari.
Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin
mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang
adaptif (Andrew and Boyle, 1995).
c. Lingkungan
Lingkungan yaitu, fenomena yang mempengaruhi perkembangan,
kepercayaan dan prilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai
totalitas kehidupan klien dengan budayanya saling berinteraksi.
d. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah rangkaian kegiatan pada tindakan
keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar
budayanya.Strateginya yaitu dperlindungan atau mempertahankan
budaya klien( Leinenger,1991).

14
2.3.3 Pengkajian Budaya Dalam Asuhan Keperawatan
Peran perawat dalam transkultural nursing adalah menjembatani antara
sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan
melalui asuhan keperawatan.
Tindakan Keperawatan yang diberikan harus memperhatikan 3 prinsip
asuhan keperawatan, yaitu:
Cara I : Mempertahankan budaya
Dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaan dan implementasinya diberikan dan disesuaikan dengan
nilai yang telah dimiliki klien sehingga klien mampu meningkatkan
kesehatannya,missal budaya olahraga setiap pagi.
Cara II : Negosiasi Budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan dilakukan untuk membantu
klien beradaptasi pada budaya tertentu yang lebih menguntungkan
terhadap kesehatan. Misalnya pada klien yang sedang hamil mempunyai
pantangan terhadap makanan yang berbau amis dan dapat diganti dengan
sumber protein hewani yang lain.
Cara III : Restruksisasi budaya
Dilakukan bila budaya yang dimiliko klien merugikan terhadap status
kesehatan. Maka perawat berupaya merestruksi gaya hidup klien yang
biasanya merokok menjadi berhenti. Pola rencana hidupnya tergantung
kepercayaan yang dianut.

Model konseptual yang dikembangkan oleh leinenger dan menjelaskan


ashan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk
matahari terbit (sunrise model). Geisser (1991) menyatakan bahwa proses
keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berpikir dan
memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995).
Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengkajian
adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan
klien sesuai dengan latar belakang budaya klien ( Giger and Davidhizar,
1995).

15
Pengkajian dirancang berdasarkan tujuh komponen yang ada
pada”Sunrise Model” yaitu:

a. Faktor teknologi (technological factors)


Teknologi kesehatan pada individu memilh dan mendapatkan penawaran
untuk menyelsaikan masalah dalam pelayanan kesehatan, perwat perlu
mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat, cara mengatasi
masalah kesehatan, alasan-alasan mencari bantuan kesehatan dan
pengobatan alternative.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu symbol yang mengakibatkan pandangan yang
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat
kuat untuk mendapatkan kebenaran diatas segalanya. Faktor yang harus
dikaji adalah: agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinshop and Social factors)
Faktor-faktor yang harus dikaji oleh perawat adalah : nama lengkap,
nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status,
tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga dan hubungan
klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh
penganut budaya yang di anggap baik atau buruk. Norma –norma budaya
adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada
penganut budaya. Yang perlu di kaji pada factor ini adalah posisi dan
jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan,
kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsii
sakit berkaitan dengan aktivitas seharihari dan kebiasaan membersihkan
diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas

16
budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini
adalah: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung,
jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk
klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat dirumah sakit memanfaatkan sumber material yang
dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi
yang harus dikaji oleh perawat diantaranya: pekerjaan klien, sumber
biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari
sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau
patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan
klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti ilmiah
yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap
budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman
sedikitnya sehingga tidak terulang kembali.

2.3.4 Instrumen pengkajian budaya


Sejalan berjalannya waktu, Transkultural in Nursing mengalami
perkembangan oleh beberapa ahli, diantaranya:

a. Sunrise model (Leininger)


Yang terdiri dari komponen:
1) Faktor teknbologi (Technological Factors)
- Persepsi sehat-sakit
- Kebiassaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan
- Alasan mencari bantuan/pertolongan medis
- Alasan memilih pengobatan alternative
- Persepsi penggunaan dan pemanfaatan teknologi dalam mengatasi
masalah kesehatan

17
2) Faktor agama atau falsafah hidup (Religious & Philosophical
factors)
- Agama yang dianut
- Status pernikahan
- Cara pandang terhadap penyebab penyakit
- Cara pengobatan / kebiasaan agama yang positif terhadap
kesehatan
3) Faktor sosial dan keterikatan kelluarga (Kinship & Social Factors)
- Nama lengkap & nama panggilan
- Umur & tempat lahir,jenis kelamin
- Status,tipe keluarga,hubungan klien dengan keluarga
- Pengambilan keputusan dalam keluarga
4) Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (Cultural value and lifeways)
- Posisi / jabatan yang dipegang dalam keluarga dan komunitas
- Bahasa yang digunakan
- Kebiasaan yang berhubungan dengan makanan & pola makan
- Persepsi sakit dan kaitannya dengan aktifitas kebersihan diri dan
aktifitas sehari-hari
5) Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (Political & legal
Factors)
Kebijakan dan peraturan Rumah Sakit yang berlaku adalah sesuatu
yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan
lintas budaya, meliputi:
- Peraturan dan kebijakan jam berkunjung
- Jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu
- Cara pembayaran
6) Faktor ekonomi (Economical Factors)
- Pekerjaan
- Tabungan yang dimiliki oleh keluarga
- Sumber biaya pengobatan
- Sumber lain ; penggantian dari kantor,asuransi dll.
- Patungan antar anggota keluarga

18
7) Faktor Pendidikan ( Educational Factor)
-Tingkat Pendidikan klien
- Jenis Pendidikan
- Tingkat kemampuan untuk belajar aktif
- Pengetahuan tentang sehat sakit
b. Keperawatan transkultural model Giger & Davidhizar
Dalam model ini klien/individu dipandang sebagai hasil unik dari
suatu kebudayaan,pengkajian keperawatan transkultural model ini
meliputi:
1) Komunikasi (Communication) Bahasa yang
digunakan,intonasi dan kualitas suara,pengucapan
(pronounciation), penggunaan bahasa non verbal, penggunaan
‘diam’
2) Space (ruang gerak) Tingkat rasa nyaman,hubungan kedekatan
dengan orang lain,persepsi tentang ruang gerak dan pergerakan
tubuh.
3) Orientasi social (social orientastion) Budaya, etnisitas, tempat,
peran dan fungsi keluarga, pekerjaan, waktu luang,
persahabatan dan kegiatan social keagamaan.
4) Waktu (time) Penggunaan waktu, definisi dan pengukuran
waktu, waktu untuk bekerja dan menjalin hubungan social,
orientasi waktu saat ini, masa lalu dan yang akan datang.
5) Kontrol lingkungan (environmental control) Nilai-nilai budaya,
definisi tentang sehat-sakit, budaya yang berkaitan dengan
sehat-sakit.
6) Variasi biologis (Biological variation) Struktur tubuh, warna
kulit & rambut, dimensi fisik lainnya seperti; eksistensi enzim
dan genetik, penyakit yang spesifik pada populasi terntentu,
kerentanan terhadap penyakit tertentu, kecenderungan pola
makan dan karakteristik psikologis, koping dan dukungan
social.
c. Keperawatan transkultural model Andrew & Boyle

19
Komponen-komponenya meliputi:
1) Identitas budaya
2) Ethnohistory
3) Nilai-nilai budaya
4) Hubungan kekeluargaan
5) Kepercayaan agama dan spiritual
6) Kode etik dan moral
7) Pendidikan
8) Politik
9) Status ekonomi dan social
10) Kebiasaan dan gaya hidup
11) Faktor/sifat-sifat bawaan
12) Kecenderungan individu
13) Profesi dan organisasi budaya
Komponen-komponen diatas perlu dikaji pada diri perawat (self
assessment) dan pada klien, Kemudian perawat mengkomunikasikan
kompetensi transkulturalnya melalui media: verbal, non verbal &
teknologi, untuk tercapainya lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan dan kesejahteraan klien.

2.3.5 Cara Pengkajian Budaya


Sebagai perawat professional, melakukan semua pengkajian dengan
kompetensi  budaya adalah hal yang penting. Hal ini melibatkan melibatkan
pemahaman tentang budaya pasien sehingga dapat memberikan perawatan
yang lebih baik dalam system nilai yang berbeda, dan bertindak dengan
penghormatan dan pemahaman tanpa menghalangi perilaku dan kepercayaan
anda sendiri (Seidel et al., 2003).

Pengkajian tidak dapat dilakukan dengan lengkap dan akurat tanpa


mempertimbangkan latar belakang budaya pasien. Jika terdapat perbedaan
budaya antara  perawat dan pasien, maka kenalilah dengan segera. Anda
harus yakin bahwa anda telah menangkap apa yang pasien maksud, serta tau
pasti apa yang klien pikirkan mengenai anda dalam kata dan tindakan. Jika
anda tidak yakin pada apa yang dikatakan pasien, bertanyalah untuk

20
memperjelas memperjelas hal tersebut. Hal ini dapat menghindarkan
menghindarkan anda dari kesimpulan diagnosis yang salah. Jangan membuat
asusmsi mengenai nilai budaya dan  perilaku tanpa melakukan konfirmasi
pada klien (Seidel et al., 2003).

Teknik komunikasi yang baik merupakan hal yang penting saat anda
mengkaji pasien yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan
anda. Jika dilihat dari segi perasaan yang diungkapkan secara verbal maupun
nonverbal, maka komunikasi dan budaya saling berhubungan. berhubungan.
Jika anda dapat mempelajari mempelajari bagaimana bagaimana orang
dengan budaya yang berbea saling berkomunikasi, anda akan dapat
mengumpulkan informasi yang lebih akurat dari klien. Sebagai contoh,
bangsa spanyol dan perancis menggunakan kontak mata saat berkomunikasi.
Namun, hal ini merupakan sesuatu yang kasar dan tidak sopan bagi budaya
bangsa Asia dan Timur Tengah. Orang Amerika cendrung suka menggerakan
bola matanya (Seidel et al., 2003).

Menggunakan pendekatan yang tepat mengenai kontak mata akan


menunjukan  penghargaan kepada  penghargaan kepada klien anda sehingga
klien anda sehingga klien akan memberikan klien akan memberikan informasi
lebih banyak. informasi lebih banyak. Adalah hal yang mudah untuk
mengeksplorasi perbedaan budaya jika anda menyisihkan sedikit waktu untuk
memikirkan dengan cermat jawaban klien dan memberikan  pertanyaan
dengan nyaman.\ (Seidel et al., 2003).

Berikut ini adalah contoh (pada saat membicarakan penyakit klien) :

 Apa yang menurut Anda salah pada diri Anda?


 Orang-orang mengatakan pada saya bahwa ada beberapa penyakit
yang tidak diketahui oleh dokter dan perawat. Apakah Anda pernah
dengar hal ini sebelumnya? Penyakit apakah itu?
 Apakah Anda mengenal seseorang yang mengalami penyakit itu?
 Apakah Anda pernah menderita salah satu penyakit tersebut?
 Apakah Anda pikir Anda mengalaminya saat ini?

21
Saat anda berinteraksi untuk mengkaji klien khusus, ketahuilah budaya
anda terlebih dahulu. Anda harus menghindari bentuk perepsi terhadap klien
berdasarkan  pengetahuan  pengetahuan anda mengenai mengenai budaya
klien. Lebih baik ingat pengetahuan pengetahuan tersebut, tersebut, kemudian
ajukan pertanyaan dengan cara yang membangun agar anda dapat mengenal
klien lebih baik.

22
BAB III
PENUTUPAN

3.4 Kesimpulan
Pengkajian budaya adalah upaya untuk memperoleh informasi yang
akurat dari seorang pasien yang memungkinkan untuk merumuskan rencana
perawatan yang saling diterima dan relevan secara budaya untuk setiap
masalah kesehatan pasien. Perawat mebutuhkan keterampilan untuk
melakukan pengkajian budaya yang sistematis terhadap individu, kelompok,
dan masyarakat terkait dengan keyakinan , nilai,dan praktik budaya mereka.

3.5 Saran
Setelah memahami mengenai pengkajian budaya dalam keperawatan,
diharapkan mampu menerapkannya.dengan adanya teori Leininger tersebut
mampu memberikan sedikit arahan kepada para perawat bagaimana cara
menyikapi perbedaan budaya yang dimiliki setiap pasien dan perawat itu
sendiri, sehingga perbedaan budaya tidak akan berpengaruh terhadap proses
asuhan keperawatan yang akan dilakukan terhadap pasien.

23
DAFTAR PUSTAKA

Hari, Dwi. 2018. Modul Praktikum: Psikososial Budaya. Jombang: Icme Press.

Hermawan, Angga., dkk. 2018. Pengkajian Budaya Dalam Keperawatan.


Makalah. https://www.scribd.com/document/397579549/6-Pengkajian-
Budaya-Dalam-Keperawatan. 5 Juni 2021.

Octaviani, Shella., dkk. 2016. Pengkajian Budaya. Makalah.


https://www.scribd.com/document/361849177/MAKALAH-FON-4-
Pengkajian-Budaya. 5 Juni 2021.

Potter, Patricia A., dkk. 2020. Dasar-Dasar Keperawatan. Novieastari, Enie.,


dkk, editor. Indonesia (ID): ELSEVIER.

24