Anda di halaman 1dari 31

TUJUAN SAUM RAMADHAN

Bismillahirahmanirahim,

Sahabatku, Insya Allah dalam beberapa minggu lagi kita akan menjalani
puasa di bulan Ramadhan.  Marilah kita bersama menyambutnya dengan penuh
kegembiraan dan suka cita tentunya dengan keikhlasan menjalani ibadah
wajib dan sunnah untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT.

Tentu segala perencanaan dan persiapan perlu kita lakukan agar banyak amal
kebaikan yang kita bisa peroleh di bulan Ramadhan nanti.

Sebelum kita menyusun rencana atas apa yang akan kita lakukan, lebih baik
kita memahami terlebih dahulu tujuan Saum Ramadhan itu sendiri yang
tertera di dalam Al Qur'an, Surah Al Baqarah ayat 183-186 yaitu:

1. untuk mencapai ketakwaan (183-184)

?Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana


diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa?.

?(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.  Maka barang siapa diantara
kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain.  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya
(jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan
seorang miskin.  Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.  Dan berpuasa lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui.?

2. agar menjadi orang yang bersyukur dan (185)

?Beberapa hari yang ditentukan itu ialah Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur?an sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil).  Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir
(dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.  Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.  Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan
Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.?

3. tetap di jalan yang lurus (dalam kebenaran) (186)


?Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat.  Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdo?a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran".

Terdapat beberapa amalan ibadah yang dapat kita lakukan dan  Insya Allah
apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan
keridhaan Allah SWT, kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
Semoga amal ibadah kita dibulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari
tahun-tahun sebelumnya.

Pilihlah dalil yang benar mengenai amalan dalam menyambut Ramadhan, jangan
menjadikan tradisi kebudayaan sebagai kewajiban dan menganggap benar-benar
amalan yang diwajibkan seperti yang dituliskan dalam Al Qur'an dan Hadist;
Gembirakan hati dalam menyambut bulan Ramadhan, lakukan persiapan dengan
membuat rencana atas amalan apa yang akan dilakukan setiap harinya selama
bulan Ramadhan.  Jangan terpengaruh dengan keadaan lingkungan yang sudah
meributkan kenaikan harga barang-barang dalam menyambut persiapan Ramadhan
apalagi lebaran;
Maximalkan kegiatan rutin dibulan Ramadhan.  Jadikan ibadah-ibadah sunah
menjadi kewajiban apalagi yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat
muslim.  Perbanyak amalan sunnah antara lain shalat dhuha, shalat qiyamul
lail, shalat tarawih, beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan
Ramadhan;
Ramadhan merupakan bulan berkah karena Al Qur'an diturunkan di bulan
Ramadhan, oleh sebab itu lakukan amalan meng-khatam-kan Al Qur'an.
Perihalah terus disetiap kesempatan untuk berdzikir, dzikir pagi dan sore,
dzikir pada keadaan-keadaan tertentu dan dzikir untuk mengagungkan nama
Allah atas kebesaran dan keidahan ciptaanNya;
Maximalkan kegiatan rutin kita di bulan Ramadhan, jangan jadikan alasan di
bulan puasa ini atas kekurangan dan kemunduran kita beraktifitas
sehari-hari baik di kantor, di rumah, maupun disekolah;
Ringankan tugas-tugas pembantu rumah tangga kita di bulan Ramadhan ini,
hal ini yang biasa dilakukan oleh Nabi semasa ia hidup;
Jangan ragu untuk mengeluarkan zakat, infak dan sadaqah.  Adapun didalam
Al Qur'an sendiri ditetapkan tempat-tempat penyaluran rizki kita dibulan
Ramadhan nanti, yaitu terhadap:

?(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan


Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu
menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta.  Kamu
kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada
orang secara mendesak.  Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan
(di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.? (Surat Al
Baqarah ayat 273)
Berinfaklah kepada:
Orang yang tidak meminta padahal sebenarnya dia kekurangan dan
membutuhkan.  Hal ini dilakukan karena ia ingin menjaga citranya sebagai
seorang muslim.
Orang yang tidak bisa berusaha dalam hidupnya karena sedang menjalankan
dakwahnya dimuka bumi di Jalan Allah, contohnya orang yang sedang menjaga
kehafishan Al Qurán, orang yang sedang berjihad.

?Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,


orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak.  Orang-orang yang berhutang, untuk
jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu
ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.? (Surat At Taubah ayat 60)
Yang berhak menerima zakat:
Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan
tenaga untuk memenuhi kehidupannya.
Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan
kekurangan.
Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan
harta zakat.
Muállaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru
masuk Islam yang imannya masih lemah.
Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan orang muslim yang
ditawan oleh orang-orang kafir.
Orang yang sedang berjalan di jalan Allah.

Selain itu juga kepada:


Orang yang sedang menuntut ilmu tetapi kekurangan
Orang yang sedang mengalami goncangan hebat dalam hidupnya, baik fisik
maupun mentalnya.

___

Samsung Enterprise Portal mySingleTAFSIRAN AYAT-AYAT TENTANG PUASA

Allah Ta'ala berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kama agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang
teutentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka) maka (wajiblah baginya bevpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka
tidak beupuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa
yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui "(Al-Baqarah: 183-184)

Allah berfirman yang ditujukan kepada orang-orang beriman dari umat ini, seraya
menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama
dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan
pembersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak
yang rendah.

Allah menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah
diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat
teladan. Maka, hendaknya mereka berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih
sempurna dibanding dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Tafsir Ibn Katsir, 11313.)

Lalu, Dia memberikan alasan diwajibkannya puasa tersebut dengan menjelaskan


manfaatnya yang besar dan hikmahnya yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa
mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, Yakni dengan meninggalkan nafsu
dan kesenangan yang dibolehkan, semata-mata untuk mentaati perintah Allah dan
mengharapkan pahala di sisi-Nya. Agar orang beriman termasuk mereka yang bertaqwa
kepada Allah, taat kepada semua perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan dan
segala yang diharamkan-Nya. (Tafsir Ayaatul Ahkaam, oleh Ash Shabuni, I/192.)

Ketika Allah menyebutkan bahwa Dia mewajibkan puasa atas mereka, maka Dia
memberitahukan bahwa puasa tersebut pada hari-hari tertentu atau dalam jumlah yang
relatif sedikit dan mudah. Di antara kemudahannya yaitu puasa tersebut pada bulan
tertentu, di mana seluruh umat Islam melakukannya.

Lalu Allah memberi kemudahan lain, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. " (Al-Baqarah: 184)

Karena biasanya berat, maka Allah memberikan keringanan kepada mereka berdua untuk
tidak berpuasa. Dan agar hamba mendapatkan kemaslahatan puasa, maka Allah
memerintahkan mereka berdua agar menggantinya pada hari-hari lain. Yakni ketika ia
sembuh dari sakit atau tak iagi melakukan perjalanan, dan sedang dalam keadaan luang.
(Lihat kitab Tafsiirul Lat'nifil Mannaan fi Khulaashati Tafsiiril Qur'an, oleh Ibnu Sa'di,
hlm. 56.)

Dan firman Allah Ta 'ala :

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari lain." (Al-Baqarah : 184)
Maksudnya, seseorang boleh tidak berpuasa ketika sedang sakit atau dalam keadaan
bepergian, karena hal itu berat baginya. Maka ia dibolehkan berbuka dan mengqadha'nya
sesuai dengan bilangan hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari lain.

Adapun orang sehat dan mukim (tidak bepergian) tetapi berat (tidak kuat) menjalankan
puasa, maka ia boleh memilih antara berpuasa atau memberi makan orang miskin. Ia
boleh berpuasa, boleh pula berbuka dengan syarat memberi makan kepada satu orang
miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika ia memberi makan lebih dari seorang
miskin untuk setiap harinya, tentu akan lebih baik. Dan bila ia berpuasa, maka puasa
lebih utama daripada memberi makanan. Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radhiallahu
'anhum berkata: "Karena itulah Allah berfirman :

"Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. " (Tafsir Ibnu Katsir; 1/214)

Firman Allah Ta 'ala :

"(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa
pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka) maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan
Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Al-
Baqarah: 185).

Allah memberitahukan bahwa bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa bagi mereka itu
adalah bulan Ramadhan. Bulan di mana Al-Qur'an –yang dengannya Allah memuliakan
umat Muhammad-diturunkan untuk pertama kalinya. Allah menjadikan Al-Qur'an
sebagai undang-undang serta peraturan yang mereka pegang teguh dalam kehidupan. Di
dalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Dan itulah jalan kebahagiaan bagi orang yang
ingin menitinya. Di dalamnya terdapat pembeda antara yang hak dengan yang batil,
antara petunjuk dengan kesesatan dan antara yang halal dengan yang haram.

Allah menekankan puasa pada bulan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan
diturunkannya rahmat kepada segenap hamba, Dan Allah tidak menghendaki kepada
segenap hamba-Nya kecuaii kemudahan. Karena itu Dia membolehkan orang sakit dan
musafir berbuka puasa pada hari-hari bulan Ramadhan (Tqfsir Ayarul Ahkam oleh Ash
Shabuni, I/192), dan memerintahkan mereka menggantinya, sehingga sempurna bilangan
satu bulan. Selain itu, Dia juga memerintahkan memperbanyak dzikir dan takbir ketika
selesai melaksanakan ibadah puasa, yakni pada saat sempurnanya' bulan Ramadhan.
Karena itu Allah berfirman :

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kama bersyukur. " (Al- Baqarah: 185).

Maksudnya, bila Anda telah menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya
dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan
serta menjaga batasan-batasan (hukum)-Nya, maka hendaklah kamu termasuk orang-
orang yang bersyukur karenanya. ')" (Tafsir Ibnu Karsir, 1/218)

Lalu Allah berfirman :

"Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah)
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo 'a
apabila ia memohon Kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-
Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran." (Al-Baqarah:186)

Sebab Turunnya ayat :

Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan
kita dekat sehingga kita berbisik atau jauh sehingga kita berteriak (memanggil-Nya ketika
berdo'a)?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hanya terdiam, sampai Allah menurunkan
ayat di atas. ' (Tafsir Ibnu Katsir; I/219.)

Tafsiran ayat:

Allah menjelaskan bahwa Diri-Nya adalah dekat. Ia mengabulkan do'a orang-orang yang
memohon, serta memenuhi kebutuhan orang-orang yang meminta. Tidak ada tirai
pembatas antara Diri-Nya dengan salah seorang hamba-Nya. Karena itu, seyogyanya
mereka menghadap hanya kepada-Nya dalam berdo'a dan merendahkan diri, lurus dan
memurnikan ketaatan pada-Nya semata. (Tafsir Ibnu Katsir, I/218.)

Adapun hikmah penyebutan'Allah akan ayat ini yang memotivasi memperbanyak do'a
berangkaian dengan hukum-hukum puasa adalah bimbingan kepada kesungguhan dalam
berdo'a, ketika bilangan puasa telah sempurna, bahkan setiap kali berbuka.

Anjuran dan Keutamaan Do'a:

Banyak sekali nash-nash yang memotivasi untuk berdo'a, menerangkan fadhilah


(keutamaan)nya dan mendorong agar suka melakukannya. Di antaranya adalah sebagai
berikut :

1. Firman Allah Ta 'ala :

"Dan Tuhanmu berfirman: Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."


(Ghaafir: 60). Di dalamnya Allah memerintahkan berdo'a dan Dia menjamin akan
mengabulkannya.

2. Firman Allah Ta'ala :

"Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. " (Al-A'raaf:
55).

Maksudnya, berdo'alah kepada Allah dengan menghinakan diri dan secara rahasia, penuh
khusyu' dan merendahkan diri. "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas." Yakni tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, baik dalam
berdo'a atau lainnya, orang-orang yang melampaui batas dalam setiap perkara. Termasuk
melampaui batas dalam berdo'a adalah permintaan hamba akan berbagai hal yang tidak
sesuai untuk dirinya atau dengan meninggikan dan mengeraskan suaranya dalam berdo'a.

Dalam Shahihain, Abu Musa Al-Asy'ari berkata: "Orang-orang meninggikan suaranya


ketika berdo'a, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai sekalian manusia, kasihanilah dirimu, sesungguhnya kamu tidak berdo'a kepada
Dzat yang tuli, tidak pula ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kama berdo'a pada-Nya itu
Maha Mendengar lagi Maha Dekat. "

3. Firman Allah Ta 'ala : "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam
kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (An
Naml: 62).

Maksudnya, apakah ada yang bisa mengabulkan do'a orang yang kesulitan, yang
diguncang oleh berbagai kesempitan, yang sulit mendapatkan apa yang ia minta,
sehingga tak ada jalan lain ia baru keluar dari keadaan yang mengungkunginya, selain
Allah semata? Siapa pula yang menghilangkan keburukan (malapetaka), kejahatan dan
murka, selain Allah semata?

4. Dari An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
beliau bersabda:

"Do'a adalah ibadah." (HR, Abu Daud dan At-TiYmidzi, At-Tirmidzi berkata, hadits
hasan shahih).

Dari Ubadah bin Asb-Shamit radhiallahu 'anhu ia berkata, sesungguhnya Rasulullah


shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah di dunia dengan suatu
permohonan kecuali Dia mengabulkannya, atau menghilangkan daripadanya keburukan
yang semisalnya, selama ia tidak meminta suatu dosa atau pemutusan kerabat. " Maka
berkatalah seouang laki-laki dari kaum: "Kalau begitu, kita memperbanyak (do'a). "

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah memberikan kebaikan-Nya lebih


banyak daripada yang kalian minta" (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih),
(Lihat kitab Riyaadhus Shaalihiin, hlm. 612 dan 622)

Lalu Allah Ta'ala berfirman :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu;
mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahrvasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah
mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
dan cavilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga
terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi)janganlah kamu campuri mereka itu, sedang
kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu
mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya
mereka bertaqwa." (Al-Baqarah:187)

Sebab turunnya ayat :

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra' bin 'Azib, bahwasanya ia berkata :

"Dahulu, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika seseorang (dari mereka)
berpuasa, dan telah datang (waktu) berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, ia tidak
makan pada malam dan siang harinya hingga sore. Suatu ketika Qais bin Sharmah Al-
Anshari dalam keadaan puasa, sedang pada siang harinya bekerja di kebun kurma. Ketika
datang waktu berbuka, ia mendatangi isterinya seraya berkata padanya: "Apakah engkau
memiliki makanan ?" Ia menjawab: "Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu."
Padahal siang harinya ia sibuk bekerja, karena itu ia tertidur. Kemudian datanglah
isterinya. Tatkala ia melihat suaminya (tertidur) ia berkata: "Celaka kamu." Ketika
sampai tengah hari, ia menggauli (isterinya). Maka hal itu diberitahukan kepada Nabi
shallallahu alaihi wasallam, sehingga turunlah ayat ini :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu. "

Maka mereka sangat bersuka cita karenanya, kemudian turunlah ayat berikut :

"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu
fajar. (Lihat kitab Ash Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzuul, hlm. 9.)

Tafsiran ayat :

Allah Ta'ala berfirman untuk memudahkan para hamba-Nya sekaligus untuk


membolehkan mereka bersenang-senang (bersetubuh) dengan isterinya pada malam-
malam bulan Ramadhan, sebagaimana mereka dibolehkan pula ketika malam hari makan
dan minum :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa melakukam "rafats" dengan isteri-
isterimu."

Rafats adalah bersetubuh dan hal-hal yang menyebabkan terjadinya. Dahulu, mereka
dilarang melakukan hal tersebut (pada malam hari), tetapi kemudian Allah membolehkan
mereka makan minum dan melampiaskan kebutuhan biologis, dengan bersenang-senang
bersama isteri-isteri mereka. Hal itu untuk menampakkan anugerah dan rahmat Allah
pada mereka.

Allah menyerupakan wanita dengan pakaian yang menutupi badan. Maka ia adalah
penutup bagi laki-laki dan pemberi ketenangan padanya, begitupun sebaliknya.

Ibnu Abbas berkata: "Maksudnya para isteri itu merupakan ketenangan bagimu dan kamu
pun merupakan ketenangan bagi mereka."

Dan Allah membolehkan menggauli para isteri hingga terbit fajar. Lalu Dia
mengecualikan keumuman dibolehkannya menggauli isteri (malam hari bulan puasa)
pada saat i'tikaf. Karena ia adalah waktu meninggalkan segala urusan dunia untuk
sepenuhnya konsentrasi beribadah. Pada akhirnya Allah menutup ayat-ayat yang mulia
ini dengan memperingatkan agar mereka tidak melanggar perintah-perintah-Nya dan
melakukan hal-hal yang diharamkan serta berbagai maksiat, yang semua itu merupakan
batasan-batasan-Nya. Hal-hal itu telah Dia jelaskan kepada para hamba-Nya agar mereka
menjauhinya, serta taat berpegang teguh dengan syari'at Allah sehingga mereka menjadi
orang-orang yang bertaqwa. (Tafsir Ayaatil Ahkaam, oleh Ash-Shabuni, I/93.)

(back to Menu)

PELAJARAN DARI AYAT-AYAT TENTANG PUASA

  a.. Umat Islam wajib melakukan puasa Ramadhan.

  a.. Kewajiban bertaqwa kepada Allah dengan melakukan segala perintah-Nya dan
menjauhi semua larangan-Nya.

  a.. Boleh berbuka di bulan Ramadhan bagi orang sakit dan musafir. Keduanya wajib
mengganti puasa sebanyak bilangan hari mereka berbuka, pada hari-hari lain.

Firman Allah Ta 'ala :

"Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-
haui lain, "adalah dalil wajibnya mengqadha' bagi orang yang berbuka pada bulan
Ramadhan karena udzur, baik sebulan penuh atau kurang, juga merupakan dalil
dibolehkannya mengganti hari-hari yang panjang dan panas dengan hari-hari yang
pendek dan dingin atau sebaliknya.

Tidak diwajibkan berturut-turut dalam mengqadha' puasa Ramadhan, karena Allah Ta 'ala
berfirman :"Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari lain, " tanpa mensyaratkan puasa secara berturut-turut. Maka, dibolehkan
berpuasa secara berturut-turut atau secara terpisah- pisah. Dan yang demikian itu lebih
memudahkan manusia.

  a.. Orang yang tidak kuat puasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh,
wajib baginya membayar fidyah; untuk setiap harinya memberi makan satu orang miskin.

Firman Allah Ta 'ala :"Dan berpuasa lebih baik bagimu"

menunjukkan bahwa melakukan puasa bagi orang yang boleh berbuka adalah lebih
utama, selama tidak memberatkan dirinya.

  a.. Di antara keutamaan Ramadhan adalah, Allah mengistimewakannya dengan


menurunkan Al-Qur'an pada bulan tersebut, sebagai petunjuk bagi segenap hamba dan
untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

  a.. Bahwa kesulitan menyebabkan datangnya kemudahan. Karena itu Allah


membolehkan berbuka bagi orang sakit dan musafir.

  a.. Kemudahan dan kelapangan Islam, yang mana ia tidak membebani seseorang di luar
kemampuannya.

  a.. Disyari'atkan mengumandangkan takbir pada malam 'Idul Fitri. Firman Allah Ta
'ala :

"Dan hendaklah kama mengagungkan Allah (mengumandangkan takbir) atas petunjuk-


Nya yang diberikan kepadamu. "

  a.. Wajib bersyukur kepada Allah atas berbagai karunia dan taufik-Nya, sehingga bisa
menjalankan puasa, shalat dan membaca Al-Qur'anul Karim, dan hal itu dengan mentaati-
Nya dan meninggalkan maksiat terhadap-Nya.

  a.. Anjuran berdo'a, karena Allah memerintahkannya dan menjamin akan


mengabulkannya.

Kedekatan Allah dari orang yang berdo'a pada-Nya berupa dikabulkannya do'a, dan dari
orang yang menyembah-Nya berupa pemberian pahala.

Wajib memenuhi seruan Allah dengan beriman kepada-Nya dan tunduk mentaati-Nya.
Dan yang demikian itu adalah syarat dikabulkannya do'a.

  a.. Boleh makan dan minum serta melakukan hubungan suami isteri pada malam-malan
bulan Ramadhan, sampai terbit fajar, dan haram melakukannya pada siang hari. Waktu
puasa adalah dari terbitnya fajar yang kedua, hingga terbenamnya matahari.

  a.. Disyari'atkan i'tikaf di masjid-masjid. Yakni diam di masjid untuk melakukan


ketaatan kepada Allah dan totalitas ibadah di dalamnya. Ia tidak sah, kecuali dilakukan di
dalam masjid yang di situ diselenggarakan shalat lima waktu.

Diharamkan bagi orang yang beri'tikaf mencumbu isterinya. Bersenggama merupakan


salah satu yang membatalkan i'tikaf.

  a.. Wajib konsisten dengan mentaati perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-


Nya. Allah Ta'ala berfirman :"ltulah larangan-larangan Allah maka kamujangan
mendekatinya."

Hikmah dari penjelasan ini adalah terealisasinya taqwa setelah mengetahui dari apa ia
harus bertaqwa (menjaga diri).

  a.. Orang yang makan dalam keadaan ragu-ragu tentang telah terbitnya fajar atau belum
adalah sah puasanya, karena pada asalnya waktu malam masih berlangsung.

  a.. Disunnahkan makan sahur, sebagaimana disunnahkan mengakhirkan waktunya.

  a.. Boleh mengakhirkan mandi jinabat hingga terbitnya fajar.

  a.. Puasa adalah madrasah rohaniyah, untuk melatih dan membiasakan jiwa berlaku
sabar. (Lihat kitab Al Ikliil Istinbaathit Tanziil, oleh As-Suyuthi, hlm. 24-28; dan Taisirul
Lathifill Mannaan, oleh Ibn Sa'di, hlm. 56-58.)

Balas

Akhir dari pesan

______________________________

Dirangkum dan dituliskan kembali, dan mohon maaf apabila terdapat


kesalahan dan kekurangannya.

*nt*

SOEMADIPRADJA & TAHER


Advocates
Wisma GKBI, Level 9
Jl. Jendral Sudirman No.28
Jakarta 10210 - Indonesia
Phone No. (62-21) 574 0088
Fax No. (62-21) 574 0068

Wali Allah Dan Wali Syetan

  Pengertian Wali

Wali dalam konteks sebagai pelaku (fa’il) memiliki makna an-Nashir/Penolong ( fathul
bayan fi maqasidil Qur’an, 2/101, Abu Thayib al-Bukhari). al-wali juga memiliki arti al
muhibb (yang mencintai), ash-shadiq (teman/rekan), serta an-nashiir
(pembela/pendukung) (Tartib qamus al-muhith IV/685, ath-Thahir Ali az-Zawi).
Seseorang dikatakan sebagai wali terhadap yang lainnya dikarenakan kedekatannya,
keta’atannya dan karena selalu mengikutinya.

Dengan demikian, wali Allah adalah orang yang selalu menurut dan mengikuti segala
yang dicintai dan diridhai Allah, menjauhi dan membenci serta melarang dari apa yang
telah dilarang oleh-Nya (al furqan baina auliya’ ar-Rahman wa auliya’ asy-syaithan 53-
54, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah). Mereka mendapatkan petunjuk berupa dalil yang
jelas dari Allah, tunduk kepada-nya serta menegakkan yang haq yaitu beribadah,
berda’wah dan menolong agama Allah.

Setiap hamba yang bertakwa kepada Allah, setia, menaati-Nya, melaksanakan perintah-
Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya, maka dia adalah wali Allah. Mereka tidak
merasakan takut di saat menusia merasa takut dan mereka tidak gentar di kala manusia
merasa gentar nanti pada Hari Kiamat (al-qaul al jalil hal 36, Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad Abdus Salam Khudlar)

Tanda-Tanda dan Sifat Wali Allah

   Beriman dan Bertakwa


Allah Subhannaahu wa Ta'ala telah berfirman menjelas tentang wali-Nya,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertaqwa” (10 :62-63)  
   Mencintai Sesuatu yang Dicintai Allah dan Membenci Sesuatu yang Dibenci Allah
Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam telah bersabda,
“Ikatan iman yang paling kokoh adalah menyintai karena Allah dan membenci karena
Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)  
   Memihak Kepada Sesama Mukmin dan Memusuhi Orang Kafir.
“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu
menjadi teman-teman setia”. (QS. 60 :1)  
   Senantiasa Mengikuti Syari’at yang Dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi
wa Sallam , Lahir dan Batin.
Katakanlah: ”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. 3:31)

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-nya), jika kamu benar-
benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama
(bagi-mu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Wali Allah memiliki tingkat yang berbeda antara satu dengan yang lain-nya, puncaknya
adalah Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam kemudian disusul para Nabi dan lebih
khusus mereka yang mendapat predikat ulul azmi. Kemudian para shahabat terutama
khulafaur rasyidin, selanjut-nya para pengikutnya menurut derajat ketakwaan masing-
masing.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Maha
Mengenal” (QS. 49:13)

Di antara mereka ada yang sabiqun bil khairat (bersegera dan berlomba dalam kebaikan)
dan ada pula yang muqtashid (orang yang hanya melaksanakan kewajiban dan
meninggalkan yang haram ). Dan yang ma’shum atau terjaga dari kesalahan hanyalah
para nabi dan rasul saja. Allah Subhannaahu wa Ta'ala telah berfirman mengabarkan
ucapan para shahabat Nabi Shallallaahu Alaihi wa Sallam,

(Mereka berdo’a), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang
berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami”.
(QS.2:286)
Dengan demikian untuk menentukan standar kebenaran, maka acuannya adalah
Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam, karena beliau adalah ma’shum.  
   Berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Firman Allah Subhannaahu wa Ta'ala,
“Sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-
malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan
pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendi-rikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 2:177)

Katakanlah, ”Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling,
maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya,
kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepada-mu.Dan jika kamu ta’at kepadanya,
niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan
(amanat Allah) dengan terang”. (QS. 24:54)  
   Selalu Bertaubat, Memohon Ampun dan Mengingat Allah
Dia menyadari, bahwa Allah adalah Maha Mengawasi dan Maha Menolong, sehingga
hal ini akan mendorongnya untuk selalu melakukan kebaikan.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan”. (QS.16:128)
“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.” (QS.24:31)  
   Selalu Menyadari akan Kelemahan, Kekurangan dan Kekhilafannya.
Sehingga hal itu mendorong untuk terus berlindung kepada Allah dari buruknya jiwa
serta memohon curahan rahmat-Nya.
Sebagaimana tercermin di dalam do’a berikut ini.

“Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan kezhaliman yang
amat banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka
ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, sesungguhnya
Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Bakar
Radhiallaahu Anhu)

Dia juga menyadari, bahwa setiap kebaikan yang ada pada dirinya adalah semata-mata
berasal dari rahmat Allah, sedangkan yang selain itu adalah berasal dari diri sendiri.
“Barang siapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah, dan
barang siapa mendapati selain yang demikian, maka janganlah mencela kecuali terhadap
dirinya sendiri.”  
   Sabar, Berserah diri kepada Allah, Ridha dan Bersyukur Kepada-Nya.
Allah Subhannaahu wa Ta'ala berfirman,
“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah
ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan
petang”. (QS. 40:55)
Firman-Nya yang lain,
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah;
Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk
kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 64:11)  
   Memahami Hakikat Segala Sesuatu.
Yaitu mengetahui, bahwa alam semesta ini diatur oleh Allah atas kehendak-Nya,
kemudian hakikat tentang agama diatur oleh Allah berdasarkan keridhaan dan cinta-
Nya.Maka tidak dibenarkan seseorang menjalankan agama berdasarkan perasaan atau
kemauan pribadi masing-masing. Syariat bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang
harus selalu menjadi bingkai amal ibadah seluruh umat, karena Nabi Muhammad
Shallallaahu Alaihi wa Sallam membawa risalah Islam untuk seluruh bangsa jin dan
manusia.
  Wali Syetan

Wali syetan adalah orang yang berpaling dari Al-Qur’an, mengingkari dan kufur
kepadanya sehingga mereka dikeluarkan oleh syetan dari kebenaran menuju kebodohan,
kesesatan dan kekafiran.
Allah Subhannaahu wa Ta'ala berfirman,
“Barangsiapa yang berpaling dari pe-ngajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an),
Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi
teman yang selalu menyertainya.” (QS. 43:36)
Dalam ayat yang lain disebutkan,
“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang menge-luarkan
mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2:257)
Bahkan mereka semua terus dihasung oleh syetan untuk bermaksiat kepada Allah, dan
apa yang mereka perbuat itu dihiasai oleh syaitan sehingga mereka merasa dalam
kebenaran dan petunjuk.
Firman Allah Subhannaahu wa Ta'ala,
“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka meman-dang
bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka
keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia;
sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. 41:25)
“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan
mereka mengira, bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. 7:30)

Penutup

Umat manusia digolongkan menja-di dua golongan yaitu hizbullah (kelompok Allah)
dan hizbusy syaithan (kelompok syetan).Dan ukuran seseorang disebut sebagai wali
Allah atau bukan adalah berdasar pada keta’atan-nya kepada Allah, al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam seutuhnya, lahir dan batin. Semakin
taat seseorang berarti semakin dekat tingkat kewaliannya, dan semakin durhaka kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka ia semakin dekat dengan syetan yang menipunya. Kesaktian
dan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan
karamah dari kewalian. Tetapi harus dilihat keta’atan dan kesesuaiannya dengan ajaran
Islam.
Imam Asy-Syafi’i berkata, “... Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas permukaan
air atau melayang di udara, maka janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan
keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah”.
(Tafsir Ibnu Katsir I hal :116. QS.2:34 Cet. Darus Salam 1994. Lihat Syarah Aqidah Ath-
Thahawiyah. hal:769)
(Waznin Mahfud)

TAUBAT DAN ISTIGHFAR


====================
A. Ayat-ayat tentang taubat :
Allah Ta'ala berfirman :
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. " (Az-Zumar: 53),
"Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri,
kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. "(An-Nisa': 110).
"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan
kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. "(AsySyuura: 25).
"Orang-orang yang mengevjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan
beriman, sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman
itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang "(Al-A'raaf: 153),
"Dan bertaubatlah Kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung. "(An- Nuur: 31).
"Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Al-lah dan memohon ampun
kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (A1-Maa'idah: 74).
"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari
hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang?" (At- Taubah: 104).
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan
taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kama ke dalam Surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai. (At-Tahriim:8).
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman,
beramal shalih, kemudian tetap dijalan yang benar. (Thaaha: 82).
'Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain
daripada Allah?
Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Mereka itu Balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan Surga yang
mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan
itulah sebaik-baik pahala orang-orangyang beramal. "(Ali Imraan: 135-136).
Firman Allah Ta 'ala:'Mereka ingatAllah, maksudnya mereka ingat keagungan
Allah, ingat akan perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya, pahala
dan siksa-Nya sehingga mereka segera memohon ampun kepada Allah dan mereka
mengetahui bahwasanya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain
daripada Allah.
Dan firman Allah Ta'ala:"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu."
Yakni mereka tidak tetap melakukannya padahal mereka mengetahui hal itu
dilarang dan bahwa ampunan Allah bagi orang yang bertaubat daripadanya.
Dalam hadits disebutkan :
"Tidaklah (dianggap) melanjutkan (perbuatan keji) orang yang memohon ampun,
meskipun dalam sehari ia ulangi sebanyak 70 kali. " (HR. Abu Ya'la
Al-Maushuli, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Bazzaar dalam Musnadnya, Ibnu
Katsiir mengatakan, ia hadits hasan; TafsiY Ibnu Katsir, 1/408).
B. Hadits-hadits tentang taubat :
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun
kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali " (HR.
Muslim).
Demikianlah keadaan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, padahal beliau telah
diampuni dosa-dosanya, baik yang lain maupun yang akan datang. Tetapi Rasul
shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba yang pandai bersyukur, pendidik
yang bijaksana, pengasih dan penyayang. Semoga shalawat dan salam yang
sempurna dilimpahkan Allah kepada beliau.
Abu Musa radhiallahu 'anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam :
"Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar beutaubat
orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan Tangan-Nya pada
siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam hari, sehingga
matahari terbit dari Barat (Kiamat). "(HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalkam bersabda:
"Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, niscaya Allah
menerima taubatnya. " (HR.Muslim)
Sebab jika matahari telah terbit dari Barat maka pintu taubat serta merta
ditutup.
Demikian pula tidak ada gunanya taubat seseorang ketika dia hendak meninggal
dunia. Allah berfirman :
"Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengeriakan
kejahatan (yang) hingga apabila datang ajar kepada seseorang di antara
mereka, (barulah) ia mengatakan: 'Sesungguhnya aku bertaubat sekarang .'
(An- Nisaa': 18)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (nyawanya) belum
sampai di kerongkongan. " (HR· At-Tirmidzi, dan ia menghasan-kannya).
Karena itu setiap muslim wajib bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan
maksiat di setiap waktu dan kesempatan sebelum ajal mendadak menjemputnya
sehingga ia tak lagi memiliki kesempatan, lalu baru menyesal, meratapi atas
kelengahannya. Dan sungguh, tak seorang pun meninggal kecuali ia menyesal.
Jika dia orang baik, maka ia menyesal mengapa dia tidak memperbanyak
kebaikannya, dan jika ia orang jahat maka ia menyesal mengapa ia tidak
bertaubat, memohon ampun dan kembali kepada Allah.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap
kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan
akan diberi-Nya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. " (HR. Abu Daud)
(Lihat kitab Lathaa'iful Ma'arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 172-178 )
Imam Al-Auza'i ditanya: "Bagaimana cara beristighfar? Beliau menjawab:
"Hendaknya mengatakan : "Astaghfirullah, astaghfirullah. " Artinya, aku
memohon ampunan kepada Allah.
Anas radhiallahu 'anhu meriwayatkan, aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, Allah berfirman :
"Allah Ta'ala berfirman:"Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon
dan mengharap kepadaKu, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan Aku
tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit,
kemudian engkau memohon ampun kepadaku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku
tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepadaku
dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemuiKu dalam keadaan tidak
menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan
sepenuh bumi (pula). " (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan),
Dalam hadits di atas disebutkan tiga sebab mendapatkan ampunan :
Berdo'a dengan penuh harap.
Beristighfar, yaitu memohon ampu"an kepadaAllah.
Merealisasikan tauhid, dan memurnikannya dari berbagai bentuk syirik, bid'ah
dan kemaksiatan. Hadits di atas juga menunjukkan luasnya rahmat Allah,
ampunan, kebaikan dan anugerah-Nya yang banyak.

Perbedaan Islam dan Tasawwuf (4/4)

Wali Allah menurut Al-Quran

Wali  Allah  menurut Al-Quran tidak seperti  yang  digambarkan oleh  orang tasawwuf.
Tetapi wali Allah yaitu  orang-orang yang beriman  dan  bertaqwa, seperti yang
ditegaskan Allah  SWT  dalam firmanNya:

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada  kekhawatiran  terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka  bersedih  hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertaqwa. Bagi mereka  berita  gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam
kehidupan) di akherat." (QS Yunus/ 10: 62, 63, 64).

Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah orang-orang  mukmin dan
mereka selalu bertaqwa,  sebagai  sebutan bagi  orang-orang yang membela agama Allah,
dan orang-orang  yang menegakkan hukum-hukumNya di tengah-tengah masyarakat,
dan  sebagai lawan kata dari orang-orang yang memusuhi agamaNya,  seperti orang-
orang musyrikin dan orang kafir.

Dikatakan  tidak ada kekhawatiran bagi mereka,  karena  mereka yakin  bahwa janji Allah
pasti akan datang,  dan  pertolonganNya tentu  akan  tiba, serta petunjukNya tentu
membimbing  mereka  ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa mereka,
mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh ketabahan dan
tawakkal kepada Allah.

Dan  tidak pula gundah hati, karena mereka telah meyakini  dan rela  bahwa segala
sesuatu yang bersangkut paut dengan  alam  dan seluruh  isinya tunduk dan patuh di
bawah hukum-hukum  Allah  dan berada  dalam  genggamanNya. Mereka tidak gundah
hati  lantaran berpisah  dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima  di akherat
adalah kenikmatan yang lebih besar. Dan mereka takut akan menerima adzab Allah di
hari pembalasan, karena mereka dan  seluruh  hatinya telah dibaktikan kepada agama
menurut  petunjukNya. Mereka  tidak  merasa kehilangan sesuatu  apapun,  karena  telah
mendapatkan petunjuk yang tak ternilai besarnya.
Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan siapa yang  dimaksud dengan wali-wali
Allah yang berbahagia itu, dan apakah sebabnya  mereka itu demikian. Penjelasan yang
didapat di  dalam  ayat ini; wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa.
Dimaksud  beriman di sini ialah orang yang beriman kepada  Allah, kepada
malaikatNya, kepada kitab-kitabNya,  kepada  Rasul-rasul-Nya, dan kepada hari
qiyamat, dan segala kepastian yang baik  dan yang  buruk semuanya  dari Allah, serta
melaksanakan  apa  yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang
yang dimaksud dengan bertaqwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang
bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik  hukum-hukum Allah yang mengatur tata
alam semesta, ataupun hukum syara'  yang mengatur tata hidup manusia di dunia.

Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa mereka mendapat khabar gembira, yang
mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan  kehidupan  mereka di akherat.
Khabar  gembira  yang  mereka dapati  ini,  ialah khabar gembira yang telah  dijanjikan
Allah melalui  Rasul-Nya. Khabar gembira yang mereka dapatkan di  dunia seperti
kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan  kalimat Allah, kesuksesan
hidup lantaran menempuh jalan yang  benar, harapan  yang diperoleh sebagai khalifah di
dunia, selama  mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela  kebenaran
agama Allah  akan mendapat husnul khatimah. Adapun khabar gembira  yang akan
mereka  dapati di akherat yaitu selamat  dari kubur,  dari sentuhan api neraka dan
kekalnya mereka di surga 'Adn.  (Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 11,
halaman 418-419).

Ada orang yang mengatakan, bahwa wali Allah itu orang keramat, dapat mengerjakan
perkara-perkara yang ajaib dan  aneh,  seperti berjalan  di  atas air, dapat menerka yang
dalam hati  orang  dan sebagainya. Maka yang demikian itu, bukanlah menurut istilah
Al-Quran,  melainkan menurut istilah orang tasauf. Bahkan  ada  juga yang  disebut wali
Allah, orang yang kurang akalnya,  dan  ganjil perbuatannya.  (Prof  Dr H Mahmud
Yunus, Tafsir Quran  Karim,  PT Hidakarya Agung  Jakarta, cetakan ke-27, 1988M/
1409H,  halaman 300).

Jelaslah bedanya, antara wali Allah menurut Al-Quran, dan wali Allah menurut orang
tasawwuf atau shufi. Orang yang kurang  akalnya  dan ganjil perbuatannya pun disebut
wali, itu jelas di  luar ajaran Al-Quran.

Mafhum  mukhalafahnya (pengertian tersiratnya), ketika  orang-orang  justru


mengangkat-angkat orang model terakhir itu  sebagai wali  dan  dihormati, bahkan
dijadikan pemimpin  yang  menentukan urusan  orang  banyak, boleh diduga keras bahwa
orang-orang  itu memang  telah lari dari Al-Quran. Dan itulah  sebenarnya bencana bagi
ummat Islam. Namun anehnya, di khutbah-khutbah Jum'at  atau di pengajian pun
diserukan oleh para khatib --yang  model  itu-- untuk bersyukur kepada Allah SWT atas
telah dipilihnya orang yang mereka anggap wali --padahal sebenarnya sama sekali
bukan-- itu.

Ya Allah, tunjukilah hamba-hambaMu yang lemah ini, agar tidak terseret oleh ocehan
mereka yang sangat jauh dari ajaranMu itu.
4. Aqidah Shufi Mengenai Surga dan Neraka:

Mayoritas  orang  shufi (menurut Abdur  Rahman  Abdul  Khaliq, semuanya)


berkeyakinan bahwa menuntut surga merupakan suatu  aib besar.  Seorang wali tidak
boleh menuntutnya (mencari surga)  dan barangsiapa menuntutnya, dia telah berbuat aib.

Menurut  mereka, yang patut dituntut adalah al-fana' (menghancurkan  diri  dalam proses
untuk menyatu dengan Allah  SWT)  yang mereka  klaim (dakwakan) terhadap Allah,
dan  melihat  keghaiban, dan mengatur alam... Inilah surga orang shufi yang mereka
klaim.

Adapun  mengenai neraka, orang-orang shufi  berkeyakinan  juga bahwa lari darinya itu
tidak layak bagi orang shufi yang  sempurna. Karena takut terhadap neraka itu watak
budak dan bukan orang-orang  merdeka.  Di antara mereka ada yang berbangga  diri
bahwa seandainya ia meludah ke neraka pasti memadamkan neraka,  seperti kata  Abu
Yazid al-Busthami (Parsi, w. 261H/ 874M).   Dan   orang
shufi yang berkeyakina dengan Wahdatul  Wujud (menyatu  dengan Tuhan),  di antara
mereka ada yang mempercayai bahwa  orang-orang yang memasuki neraka akan
merasakan kesegaran dan  keni'matannya, tidak kurang dari keni'matan surga, bahkan
lebih. Inilah pendapat Ibnu Arabi dan aqidahnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 46).  Seperti
disebutkan dalam buku Ibnu Arabi, Fushushul Hukm.

Orang  jahil  di  masa kita sekarang  kadang  menyangka  bahwa aqidah mengenai surga
(model shufi) ini adalah aqidah yang  tinggi,  yaitu manusia menyembah Allah tidak
mengharapkan  surga  dan tidak takut neraka. Ini tidak diragukan lagi (jelas)  menyelisihi
aqidah kita yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah telah mensifati
keadaan para nabi dalam ibadah mereka bahwa:

Mereka  berdo'a  kepada Kami dengan harap  (roghoban)  dan  takut (rohaban). Dan
mereka adalah orang-orang yang khusyu'." (QS  Al-Anbiyaa': 90).

Ar-roghob  yaitu  mengharapkan surga Allah  dan  keutamaanNya, sedang ar-rohab yaitu
takut dari siksaNya, padahal para nabi  itu mereka  adalah sesempurna-sempurnanya
manusia  (segi)  aqidahnya, keimanannya, dan keadaannya.            

Dan  (landasan) dari As-Sunnah: Perkataan seorang  Arab  Badui kepada Nabi SAW:

"Wallahi, sungguh aku tidak bisa mencontoh dengan baik  bacaan lirihmu (dandanik  --
suara  tak terdengarmu)  dan  bacaan  lirih Mu'adz.  Namun  hanya aku katakan, "Ya
Allah,  aku  mohon  surga kepadaMu,  dan berlindung kepadaMu dari neraka." Lalu
Rasulullah saw berkata: "Sekitar itu juga bacaan lirih kami." Hadits Riwayat Ibnu
Majah).

Keadaan yang diupayakan oleh orang-orang shufi untuk  diwujudkan  yaitu beribadah
kepada Allah tanpa mengharapkan (surga)  dan tanpa merasa takut (neraka), maka
menyeret mereka kepada bencana. Mereka berusaha kepada tujuan yang lain dengan
ibadah yaitu  yang disebut fana' (meleburkan diri) dengan Tuhan, dan  ini  menyeret
mereka kepada  al-jadzdzab (merasa melekat dengan Tuhan), kemudian  menyeret
mereka pula kepada al-hulul (inkarnasi/penjelmaan Tuhan dalam  diri manusia),
kemudian menyeret mereka pula pada puncaknya  kepada wihdatul wujud (menyatunya
Tuhan dengan  hamba/manunggaling  kawula Gusti). (As-Shufiyyah aqidah wa  ahdaf,
hal 26-27).

5. Aqidah Shufi Mengenai Iblis dan Fir'aun

Mengenai iblis, kebanyakan orang shufi, khususnya para penganut kepercayaan wihdatul
wujud, berkeyakinan bahwa iblis adalah hamba yang paling sempurna dan makhluk yang
paling utama  tauhidnya. Karena menurut anggapan mereka, iblis tidak mau sujud kecuali
kepada Allah. Dan mereka mengklaim bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa iblis
dan akan memasukkannya ke surga. Demikian pula anggapan  mereka,  Fir'aun  adalah
seutama-utamanya  orang  yang mentauhidkan (mengesakan)  Allah (muwahhidien).
Karena  Fir'aun berkata: "Saya adalah Tuhanmu yang tertinggi" maka ia  mengetahui
hakekat, karena setiap yang wujud itu adalah Allah, kemudian  dia (Fir'aun)  menurut
klaim mereka, telah beriman dan masuk  surga. (lihat  Syarh Fushushul Hukm, halaman
418, Fadhoihus Shufiyyah,
hal 47, As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 27-28, Al-Fikrus shufi, hal 60).

PUASA YANG SEMPURNA


===================
Saudaraku kaum muslimin, agar sempurna puasamu, sesuai dengan tujuannya,
ikutilah langkah-langkah berikut ini :
Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa;
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
"Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah. "
HR.'Al-Bukhari dan Muslim)
"Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan
sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang " (HR. Ibnu Khuzaimah dalam
Shahihnya)
Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga
mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati, untuk itu
hendaknya Anda telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum
terbit fajar, agar Anda tidak ragu-ragu.
Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan
mengakhirkan sahur . " (HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz)
Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan
ibadah dalam keadaan suci.
Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan
didalamnya, yakni membaca Al-Qur'anul Karim. Sesungguhnya Jibril 'alaihis
salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu
'alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur'an baginya. (HR. AL-Bukhari dan
Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu).Dan pada diri Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.
Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok
serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda:
"Barangsiapa tidak meninggalkan pevkataan dan perbuatan dusta maka Allah
tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al-Bukhari)
Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah
dan emosi hanya karena sebab sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa.
Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika
Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan Anda hadapi dia
dengan perbuatan serupa. Nasihati dan tolaklah dengan cara yang lebih baik.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kama beupuasa,
hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang
menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata 'Sesungguhnya aku sedang
puasa" (HR. Al- Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)
Ucapan itu dimaksudkanagar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang
mengumpatnya Di samping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan
penghinaan dan caci-maki.
Hendaknya Anda selesai dari puasa dengan membawa taqwa kepada Allah, takut
dan bersyukur pada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya.
Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi Anda sepanjang tahun. Dan buah
paling utama dari puasa adalah taqwa, sebab Allah berfirman : "Agar kamu
bertaqwa. "(Al-Baqarah: 183)
Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal
bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari
keinginan. Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu berkata :
"Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu
dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan
hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kama beupuasa jangan
pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."
Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram
pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak
ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang
haram.
Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik
dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain
bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang
paring dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika bulan Ramadhan.
Ucapkanlah bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo'a :"Ya Allah,
karena-Mu aku berpuasa, dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah
daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ".

RAHASIA PUASA
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia
pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa
tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan
kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.
Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa
sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada
lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan
kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

     1.. Menguatkan Jiwa.

     Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh
hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya
meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta
merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk
memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan
membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu
yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami
kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam
perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah
Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan
manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini
dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).

     Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa


nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia
akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan
ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga
segala do'anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang
artinya: Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do'a mereka: orang yang
berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do'a orang yang dizalimi
(HR. Tirmidzi).

     2.. Mendidik Kemauan.

     Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh


dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh
berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus
mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang
begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah
dari kesabaran.
     Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang
muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang
tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan
duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang
muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat
sulit.

     3.. Menyehatkan Badan.

     Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga
akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak
hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh
para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu
meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu,
perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk
sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi
perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

     4.. Mengenal Nilai Kenikmatan.

     Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah
berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai
mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua,
dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah
seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang
diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak
orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah
dari apa yang kita peroleh.

     Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan


merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh
merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan
kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan
minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita
berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya
berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah
puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah
berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak
mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang
sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah
banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah
berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih (QS 14:7).
     5.. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana
beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan
haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam,
sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini,
semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita
kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini
masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon
atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang
terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo,
Irak, dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan
berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian
setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang
menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin
dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan
demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti
gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu
(menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui (QS 9:103).

SAMBUT DENGAN GEMBIRA.

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka
sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun
ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat
kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun
sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.

Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan


dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai
momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah
pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat
kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita
yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita
tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis,
krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi
malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu
pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan
keberkahan dari Allah Swt.
Oleh karena itu, tepat apabila tema Ramadhan tahun ini adalah: JALIN
UKHUWAH, SATUKAN LANGKAH. Semoga hikmah Ramadhan tahun ini dapat
memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara kearah yang
diridhai Allah Swt. Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1420 H.

Drs. H. Ahmad Yani (email: a...@indosat.net.id)

*)Terima kasih bila anda ikut menyebarluaskan artikel ini - (Selasa, 23


November 1999).

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

1.  Bersyukur apabila mendapat nikmat;

2.  Sabar apabila mendapat kesulitan;

3.  Tawakal apabila mempunyai rencana/program;

4.  Ikhlas dalam segala amal perbuatan;

5.  Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;

6.  Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;

7.  Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;

8.  Jangan usil dengan kekayaan orang;

9.  Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;

10.  Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;

11.  Jangan tamak kepada harta;

12.  Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;

13.  Jangan hancur karena kezaliman;

14.  Jangan goyah karena fitnah;

15.  Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi


kemampuan diri;

16.  Jangan campuri harta dengan harta yang haram;

17.  Jangan sakiti ayah dan ibu;


18.  jangan usir orang yang meminta-minta;

19.  Jangan sakiti anak yatim;

20.  Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;

21.  Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;

22.  Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);

23.  Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;

24.  Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan


di masjid;

25.  Biasakan shalat malam;

26.  Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;

27.  Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;

28.  Sayangi dan santuni fakir miskin;

29.  Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;

30.  Jangan marah berlebih-lebihan;

31.  Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;

32.  Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena


Allah;

33.  Berlatihlah konsentrasi pikiran;

34.  Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah


maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat
dipenuhi;

35.  Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan


iblis/syetan;

36.  Jangan percaya ramalan manusia;

37.  Jangan terlampau takut miskin;

38.  Hormatilah setiap orang;


39.  Jangan terlampau takut kepada manusia;

40.  Jangan sombong, takabur dan besar kepala;

41.  Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;

42.  Berlakulah adil dalam segala urusan;

43.  Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;

44.  Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;

45.  Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;

46.  Perbanyak silaturahmi;

47.  Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;

48.  Bicaralah secukupnya;

49.  Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;

50.  Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;

51.  Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;

52.  Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;

53.  Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;

54.  Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak


berlebihan;

55.  Hormatilah kepada guru dan ulama;

56.  Sering-sering bershalawat kepada nabi;

57.  Cintai keluarga Nabi saw;

58.  Jangan terlalu banyak hutang;

59.  Jangan terlampau mudah berjanji;

60.  Selalu ingat akann saat kematian dan sadar bahwa


kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61.  Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak
bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;

62.  Bergaullah dengan orang-orang shaleh;

63.  Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan


beristighfar;

64.  Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;

65.  Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;

66.  Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas


kejahatan dengan kejahatan lagi;

67.  Jangan membenci seseorang karena paham dan


pendirian;

68.  Jangan benci kepada orang yang membenci kita;

69.  Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan


sesuai pilihan;

70.  Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka


yang mendapatkan kesulitan;

71.  Jangan melukai hati orang lain;

72.  Jangan membiasakan berkata dusta;

73.  Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan


mendapatkan kerugian;

74.  Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;

75.  Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan


dan kesungguhan;

76.  Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;

77.  Jangan membuka aib orang lain;

78.  Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita,


lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79.  Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang
arif dan bijaksana;

80.  Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah


dilakukan;

81.  Jangan minder karena miskin dan jangan sombong


karena kaya;

82.  Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk


agama, bangsa dan negara;

83.  Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan


orang lain;

84.  jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;

85.  Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata


apa-apa;

86.  Hargai prestasi dan pemberian orang;

87.  Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan


kesenangan;

88.  Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang


bersangkutan tidak menyenangkan;

89.  Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai


dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;

90.  Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau


mental kita menjadi terganggu;

91.  Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan


bijaksana;

92.  Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang


dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;

93.  Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain


terganggu,dan jangan berkata sesuatu yang dapat
menyebabkan orang lain terhina;

94.  Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang


menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95.  Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan
kewajiban;

96.  Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh


keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;

97.  Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang


di luar kemampuan diri;

98.  Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan


tantangan.  Jangan lari dari kenyataan kehidupan;

99.  Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan


melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan
melahirkan kerusakan;

100.  Jangan sukses di atas penderitaan orang dan


jangan kaya dengan memiskinkan orang;