Anda di halaman 1dari 3

RSCO Legal Brief: No. 013/RS.

Co/LB/VII/2021
Hukum Ketenagakerjaan 30 Juli 2021

PERUBAHAN ATURAN OUTSOURCING PASCA UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2020


TENTANG CIPTA KERJA

I. Dasar Hukum.

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.


2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja).
3. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 Tentang Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan
Kerja (PP No. 35 Tahun 2021).

II. Ringkasan.

UU Cipta Kerja telah mengubah sebagian ketentuan pasal di dalam UU Nomor 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan, salah satunya terkait ketentuan outsourcing. Istilah
outsourcing dalam UU Ketenagakerjaan diartikan sebagai penyerahan sebagian
pekerjaan kepada perusahaan lain. Penyerahan sebagian pekerjaan itu dilakukan melalui
2 (dua) mekanisme, yaitu perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa
pekerja/buruh.

Dalam UU Cipta Kerja, istilah “Outsourcing” atau penyerahan sebagian pelaksanaan


pekerjaan kepada perusahaan lain telah diubah, yaitu tidak ada lagi batasan terhadap
jenis pekerjaan yang bisa di-outsourcing kan.

Beberapa pasal yang sebelumnya diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, mengalami perubahan. Ada beberapa pasal yang diubah dan dihapus
terkait pekerjaan outsourcing atau alih daya, sebagai berikut:

UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan UU Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja

Pasal 64 :
“Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan “Pasal 64 dihapus”
pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui
perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyedia jasa
pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis”

Halaman | 1
Pasal 65:
(1) Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui
perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat
secara tertulis. “Pasal 65 dihapus”
(2) Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada
perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) harus memenuhi syarat… dst.
(3) …… Dst.

Pasal 66 : Pasal 66 diubah menjadi :


(1) Pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa 1) Hubungan kerja antara perusahaan alih
pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh daya dengan pekerja/buruh yang
pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok dipekerjakannya didasarkan pada
atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis
proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa baik perjanjian kerja waktu tertentu
penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan maupun perjanjian kerja waktu tidak
langsung dengan proses produksi. tertentu.
(2) Penyedia jasa pekerja/buruh untuk kegiatan jasa 2) Perlindungan pekerja/buruh, upah dan
penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan kesejahteraan, syarat-syarat kerja serta
langsung dengan proses produksi harus memenuhi perselisihan yang timbul dilaksanakan
syarat sebagai berikut: (a) adanya hubungan kerja sekurang-kurangnya sesuai dengan
antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia ketentuan peraturan perundang-undangan
jasa pekerja/buruh; (b) perjanjian kerja yang dan menjadi tanggung jawab perusahaan
berlaku dalam hubungan kerja sebagaimana alih daya.
dimaksud pada huruf a adalah perjanjian kerja 3) Dalam hal perusahaan alih daya
untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan mempekerjakan pekerja/buruh
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dan/atau berdasarkan perjanjian kerja waktu
perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua (1), maka perjanjian kerja tersebut harus
belah pihak; (c) perlindungan upah dan mensyaratkan pengalihan perlindungan
kesejahteraan, syarat-syarat kerja, serta hak-hak bagi pekerja/buruh apabila terjadi
perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab pergantian perusahaan alih daya dan
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh; dan (d) sepanjang objek pekerjaannya tetap ada.
perjanjian antara perusahaan pengguna jasa 4) Perusahaan alih daya sebagaimana
pekerja/buruh dan perusahaan lain yang bertindak dimaksud pada ayat (2) berbentuk badan
Halaman | 2
sebagai perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh hukum dan wajib memenuhi Perizinan
dibuat secara tertulis dan wajib memuat pasal- Berusaha yang diterbitkan oleh Pemerintah
pasal sebagaimana dimaksud dalam undang- Pusat.
undang ini. 5) Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud
(3) Penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk pada ayat (3) harus memenuhi norma,
usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari standar, prosedur, dan kriteria yang
instansi yang bertanggung jawab di bidang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
ketenagakerjaan. 6) Ketentuan lebih lanjut mengenai
(4) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud perlindungan pekerja/buruh sebagaimana
dalam ayat (1), ayat (2) huruf a, huruf b, dan huruf dimaksud pada ayat (2) dan Perizinan
d serta ayat (3) tidak terpenuhi, maka demi hukum Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat
status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih
menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan
perusahaan pemberi pekerjaan.

Pasal 66 ayat (1) di dalam UU Cipta Kerja dihapus, ayat yang dihapus berisi tentang
pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan untuk
melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses
produksi. Kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan
langsung dengan proses produksi.

Dalam PP No. 35 Tahun 2021, Pemerintah mewajibkan bagi perusahaan outsourcing untuk
merekrut pekerja alih daya lewat salah satu dari dua kontrak kerja, antara lain: kontrak kerja
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).
Berbeda halnya dalam UU ketenagakerjaan yang mana kontrak kerja hanya menggunakan
PKWT. Selain itu, kontrak kerja tersebut juga harus dibuat secara tertulis.

Untuk informasi lebih lanjut terkait Hukum Ketenagakerjaan silahkan menghubungi:

Regginaldo Sultan, S.H. M.M. Advocate – Managing Partner.


regginaldosultan@gmail.com

Aguslan Daulay, S.H. Advocate - Associate Lawyer.


daulayaguslan@gmail.com

_______________________________________
Epicentrum Walk, 5th Floor, Office Suite A-529
Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan 12940, Indonesia
P. (+6221) 5682703 | H/P: 081380821818 |
E. regginaldosultanlawfirm@gmail.com | W: www.regginaldosultanlawfirm.com

Halaman | 3