Anda di halaman 1dari 2

RSCO Legal Brief: No. 008/RS.

Co/LB/VI/2021
Hukum Perjanjian 28 Juni 2021

PERJANJIAN YANG DAPAT DIBATALKAN DAN PERJANJIAN YANG BATAL DEMI HUKUM,
APA BEDANYA?

I. Dasar Hukum.

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek).

II. Ringkasan.

Perjanjian merupakan suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan
dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Keabsahan perjanjian ditentukan oleh
syarat sah suatu perjanjian yang telah ditentukan dalam Pasal 1320 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata (KUHPer). Akibat dari tidak dipenuhinya ketentuan syarat sah
suatu perjanjian adalah menjadi tidak sah, dan perjanjian tersebut dapat dibatalkan
atau batal demi hukum.

Apabila perjanjian batal demi hukum (Null and Void Nietig), artinya dari semula tidak
pernah dilahirkan suatu perjanjian, dan dengan demikian tidak pernah ada suatu
perikatan. Tujuan para pihak yang membuat perjanjian semacam itu, yakni melahirkan
perikatan hukum, telah gagal. Sehingga tidak ada dasar untuk saling menuntut di
muka hakim. Sedangkan Perjanjian yang dapat dibatalkan (Voidable atau
Vernietigbaar) secara teoritik, terdapat perbedaan antara perjanjian yang batal demi
hukum dengan perjanjian yang dapat dibatalkan. Hal ini terjadi apabila perjanjian
tersebut tidak memenuhi unsur subjektif untuk syarat sahnya perjanjian sebagaimana
diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu kesepakatan para pihak dan kecakapan
para pihak untuk melakukan perbuatan hukum, maka perjanjian yang demikian
konsekuensinya dapat dibatalkan di muka hakim pengadilan.

Menurut Pasal 1320 KUH Perdata syarat sahnya perjanjian itu ada 4 (empat), antara
lain:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan diri;
2. Kecakapan untuk membuat perjanjian;
3. Suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.

Pada syarat No. 1 dan 2 di atas, dinamakan syarat subjektif, karena berkenaan
dengan para subjek yang membuat perjanjian. Sedangkan, pada syarat No. 3 dan 4 di
atas dinamakan syarat objektif karena berkenaan dengan objek dalam perjanjian.

Masing-masing syarat (syarat subjektif maupun objektif) di atas memiliki konsekuensi


kebatalan jika tidak terpenuhi salah satu unsur di dalamnya, yaitu:

Halaman | 1
1. Voidable; jika syarat pertama dan kedua, atau salah satunya tidak terpenuhi,
maka salah satu pihak dapat memintakan kebatalan atas perjanjian itu melalui
pengadilan. Selama tidak dibatalkan oleh hakim, maka perjanjian itu masih
tetap dianggap sah dan mengikat kedua belah pihak.
2. Null and Void; jika syarat ketiga dan keempat, atau salah satunya tidak
terpenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum. Yang berarti perjanjian itu
dianggap tidak pernah ada.

Berikut unsur-unsur tentang alasan mengapa perjanjian batal demi hukum dan
perjanjian yang dapat dibatalkan :

a. Perjanjian Batal Demi Hukum


- Karena syarat perjanjian formil tidak terpenuhi;
- Karena syarat objektif sahnya perjanjian tidak terpenuhi;
- Karena dibuat oleh orang yang tidak berwenang melakukan perbauatan
hukum;
- Karena ada syarat batal yang terpenuhi.

b. Perjanjian yang dapat dibatalkan


- Karena ada cacat pada kehendak pihak yang membuatnya;
- Karena dibuat oleh orang yang tidak cakap melakukan tindakan hukum.

Akibat hukum yang timbul terhadap perjanjian yang dapat dibatalkan adalah salah
satu pihak dapat memintakan pembatalan perjanjian. Sedangkan akibat hukum
terhadap perjanjian yang batal demi hukum adalah perjanjian dianggap batal atau
bahkan suatu perjanjian dianggap tidak pernah ada dilahirkan atau tidak pernah ada
suatu perikatan.

Untuk informasi lebih lanjut terkait Hukum Perjanjian dan Kebatalan Perjanjian, silahkan
menghubungi:

Regginaldo Sultan, S.H. M.M. Advocate – Managing Partner.


regginaldosultan@gmail.com

Aguslan Daulay, S.H. Advocate - Associate Lawyer.


daulayaguslan@gmail.com

_________________________________________
Epicentrum Walk, 5th Floor, Office Suite A-529
Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan 12940, Indonesia
P. (+6221) 5682703 | H/P: 081380821818 |
E. regginaldosultanlawfirm@gmail.com | W: www.regginaldosultanlawfirm.com

Halaman | 2