Anda di halaman 1dari 4

TUGAS INDIVIDU

CERMIN INTEGRITAS

Nama : Husnawati, A.Md.Kep


NIP : 19941001 202012 2 015
Angkatan : XIX Kelompok 01
Pengampu : Chairul Mahsul, S.H, M.M

Setiap individu memiliki nilai-nilai yang dianutnya dalam menjalankan kehidupan


bermasyarakat. Nilai-nilai yang dianut tentu berhubungan erat dengan sikap
pemberantasan korupsi, yang disebut juga sebagai faktor internal anti korupsi. Faktor
internal sangat ditentukan oleh kuat tidaknya nilai-nilai anti korupsi yang diyakini dalam
diri setiap individu, termasuk diri saya pribadi. Nilai-nilai anti korupsi yang saya yakini
tersebut antara lain meliputi kejujuran, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab,
sederhana. Nilai-nilai anti korupsi perlu diterapkan oleh setiap individu untuk dapat
mengatasi faktor eksternal agar korupsi tidak terjadi. Untuk mencegah terjadinya faktor
eksternal, selain memiliki nilai-nilai anti korupsi, setiap individu perlu memahami dengan
mendalam prinsip-prinsip anti korupsi yaitu akuntabilitas, transparansi, kewajaran,
kebijakan, dan kontrol kebijakan dalam suatu organisasi/institusi/masyarakat. Oleh
karena itu hubungan antara prinsip-prinsip dan nilai-nilai anti korupsi merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Adapun penerapan nilai-nilai tersebut dalam aktivitas sehari-hari, pekerjaan dan
organisasi dijabarkan sebagai berikut;
1. Kejujuran
Sifat jujur merupakan salah satu bagian dari sifat positif manusia yang
menjadi harga diri seseorang. Ketika saya pribadi sudah berperilaku jujur maka
tentunya saya akan mendapatkan kepercayaan dari banyak orang, baik dengan
perkataan, perbuatan, maupun pekerjaan. Ketika kejujuran sudah ditanamkan
dalam diri seseorang, ia akan susah berbuat kecurangan, walau tak tertangkap
kamera atau terlihat oleh sepasang mata.
Nilai kejujuran di lingkungan pekerjaan maupun organisasi diantaranya
mengerjakan tugas yang diberikan atasan dengan sebaik mungkin, menjaga
uang yang dititipkan instansi, tidak menceritakan rahasia instansi, masuk sesuai
jadwal yang ditentukan, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, tidak
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, menyampaikan pesan atau titipan atasan,
mengembalikan sisa anggaran yang tidak terpakai, memberikan laporan
keuangan sesuai keadaan sebenarnya, memberitahukan alasan sebenarnya
ketika berhalangan hadir, mengakui kesalahan kepada atasan, serta tidak
memposting kejelekan instansi di media sosial.
2. Kemandirian
Kemandirian dapat diartikan sikap mendewasakan diri yaitu dengan tidak
bergantung pada orang lain untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab. Hal
ini sangat penting saat bekerja dan berorganisasi, dimana kita harus mengatur
orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.

3. Kedisiplinan
Salah satu penerapan kedisiplinan yaitu dapat mengatur dan mengelola
waktu yang ada untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya dalam
menyelesaikan tugas baik dalam lingkup pekerjaan maupun lingkup
berorganisasi. Manfaat dari hidup yang disiplin adalah seseorang dapat
mencapai tujuan hidupnya dengan waktu yang lebih efisien.
4. Tanggung jawab
Saat rasa tanggung jawab sudah tertanam dalam diri, kita akan
mengerjakan tugas dengan sepenuh hati karena berpikir bahwa jika suatu tugas
tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat merusak citra sendiri di depan orang
lain. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi mudah untuk
dipercaya orang lain dalam masyarakat misalkan dalam memimpin suatu
organisasi.

5. Sederhana
Gaya hidup merupakan hal yang penting dalam interaksi dengan
masyarakat di sekitar. Dengan gaya hidup sederhana, setiap orang dibiasakan
untuk tidak hidup boros, hidup sesuai dengan kemampuannya dan dapat
memenuhi semua kebutuhannya.
Dengan menerapkan prinsip hidup sederhana, kita dibina untuk
memprioritaskan kebutuhan di atas keingin. Prinsip hidup sederhana ini
merupakan parameter penting dalam menjalin hubungan dengan teman kerja
karena prinsip ini akan mengatasi permasalahan kesenjangan sosial, iri, dengki,
tamak, egois, dan sikap-sikap negatif lainnya. Prinsip hidup sederhana juga
menghindari seseorang dari keinginan yang berlebihan sehingga menjadi cikal
bakal munculnya kecurangan.
Setiap instansi ataupun organisasi pasti memiliki kode etik. Adapun pada
organisasi profesi saya yaitu PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) memiliki
kode etik profesi, beberapa diantaranya; perawat berpedoman kepada tanggung jawab
dalam memberikan asuhan keperawatan individu, keluarga dan masyaraka, perawat
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat-istiadat, dan
kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga, dan masyarakat, perawat
senantiasa dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur
keperawatan. Begitupun dalam institusi tempat saya bekerja, pastinya kami dituntut
untuk memelihara mutu pelayanan disertai kejujuran profesional dalam menerapkan
pengetahuan serta ketrampilan sesuai dengan profesi masing-masing. Kode etik dari
organisasi profesi maupun tempat kerja tersebut tentunya sejalan dengan
pemberantasan korupsi
Sebagai manusia, tentunya saya tidak lepas dari sikap yang mengarah pada
pelanggaran terhadap nilai-nilai integritas yang diyakini. Kesalahan yang masih saya
sesali sampai saat ini adalah saat berada pada kondisi terdesak beberapa bulan lalu.
Saat itu saya sedang bertugas di pelayanan, lalu suara HP berbunyi menandakan
panggilan masuk. Ternyata telepon dari salah satu RS yang mengabarkan bahwa
suami saya yang sebelumnya dijadwalkan untuk operasi dalam waktu dekat, sudah
mendapatkan kamar dan boleh masuk ruang rawat inap pagi itu juga dan diberi batas
waktu sebelum jam 12. Dalam keadaan pandemi seperti sekarang ini, salah satu syarat
rawat inap adalah dengan menyerahkan hasil rapid antigen negatif. Pilihannya bisa
melakukan rapid test di RS setempat atau diluar RS. karena saat itu waktu persiapan
kurang lebih satu jam, saya meminta izin kepada salah satu dokter di tempat saya
bekerja agar mengizinkan suami untuk melakukan rapid antigen disana. Padahal
sebenarnya rapid test terbatas diperuntukkan untuk masyarakat yang bergejala covid
19 atau yang kontak erat dengan pasien covid 19.
Saya mengakui bahwa yang saya lakukan saat itu adalah melanggar nilai
integritas yang saya yakini karena mengambil hak orang yang semestinya berindikasi
dilakukan rapid test. Saya menceritakan penyesalan saya kepada suami dan sepakat
untuk tidak melakukannya lagi di lain waktu.
Selang satu bulan dari kejadian tersebut,tibalah jadwal operasi kedua suami
saya. Pihak Rumah Sakit menelpon, lagi-lagi saat saya sedang berada di pelayanan
dan dengan waktu persiapan yang tidak lama. Namun, saya tidak ingin melakukan
kesalahan yang sama. Saat itu kami sepakat agar suami saya melakukan rapid test di
RS setempat.
Di dalam dunia kerja, tentu saya pernah menjumpai perilaku seseorang yang
tidak sesuai dengan nilai integritas, apalagi perilakunya tersebut sering terulang dan
belum ada upaya pencegahan darinya. Sebagai contoh, saat rekan kerja satu ruangan
datang ke kantor sering terlambat, dan sering izin saat jam kerja. Hal tersebut
merupakan pelanggaran terhadap nilai kedisiplinan yang dapat menghambat jalannya
operasional pelayanan. Tentu saja meningkatkan beban kerja orang lain. Meskipun
sebagai orang baru di tempat kerja, saya tak segan untuk memperingatinya agar
memperbaiki kinerja sebisa mungkin. Tentunya dengan bahasa yang sopan.
Saat peringatan itu belum juga memperbaiki kedisiplinan orang tersebut, saya
mencoba berdiskusi dengan senior satu ruangan, berharap akan menemukan titik
terang secara internal dengan kendala yang mengganggu kami tersebut.
Saya belum pernah mengatakan langsung kepada atasan perihal perilakunya
tersebut karena tidak ingin dinilai menjadi orang yang sibuk mencari kesalahan orang
lain. Menegurnya secara langsung dan mendiskusikan dengan teman satu ruangan
menjadi pilihan utama saya pada kasus tersebut.
Selama enam bulan berada di tempat kerja saat ini, saya belum pernah
menentang atasan karena menegur hal-hal yang tidak benar. Namun saat saya
menjumpai atasan memberikan penilaian buruk kepada teman yang lain, sementara
saya mengetahui hal tersebut tidaklah benar, maka saya mencoba mengklarifikasi
kebenaran dari kasus tersebut.
Saya pernah berada pada kondisi dilimpahkan pekerjaan yang sebenarnya
bukan tanggung jawab saya. Saat itu saya hendak protes karena secara mendadak
mendapat tugas yang belum pernah saya kerjakan, seorang diri, dan dengan deadline
satu jam. Sementara Tupoksi saya di ruangan masih belum selesai. Saya merasa kesal
karena tugas yang seharusnya dikerjakan bertim dan bisa rampung dengan cepat jika
dicicil setiap hari malah terbengkalai, sementara mereka angkat tangan dengan tugas
tersebut.
Namun setelah mendengar pengakuan dari atasan bahwa tugas tersebut
memang datangnya mendadak dan saat itu orang-orang yang tergabung dalam tim
sudah pulang, jadi tidak ada yang bisa dimintai tolong, saya mengurungkan sikap ingin
protes tadi.
Berbeda pendapat tentu sering terjadi saat berada di lingkungan kerja, termasuk
perbedaan dalam pelayanan. Senior saya berpendapat bahwa setiap orang dilayani
sesuai antrian tanpa memprioritaskan lansia, sementara saya merasa lansia
membutuhkan prioritas pelayanan, tentunya dengan mengikuti ketentuan antrian juga.
Saya mencoba menyampaikan pendapat tersebut yang memang mendukung program
“santun lansia”.
Senior saya saat itu mendukung program tersebut, namun saat bukan saya yang
dipelayanan, hal itu tidak diterapkan kembali. Menurut saya hal tersebut dapat
menurunkan citra pelayanan di masyarakat karena aturan yang berubah-ubah dan
banyaknya penunggu lansia yang complain kepada saya karena tidak diprioritaskan di
tengah pandemi saat ini, terutama pada lansia yang menggunakan alat bantu jalan.

Anda mungkin juga menyukai