Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan karunia Allah S.W.T. yang mempunyai amanah untuk

kita jaga dan perlu kita lindungi mengenai martabatnya dan hak-haknya,

karena anak merupakan generasi penerus untuk mencapai cita-cita bangsa,

sehingga setiap anak berhak untuk mendapatkan kelangsungan hidup yang

layak, berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, berhak untuk tumbuh

dan berkembang serta berhak dalam mendapatkan perlindungan hukum.

Perlindungan hukum yang diberikan kepada anak perlu peran serta dari

banyak pihak misalnya keluarga, masyarakat, lembaga perlindungan anak,

serta lembaga peradilan.

Dalam hukum anak dipandang sebagai subjek khusus, maka dalam

peraturan perundang-undangan tersebut memuat berbagai kekhususan tentang

anak, baik anak ketika sebagai korban maupun anak ketika sebagai pelaku

dalam proses pengadilannya maupun dalam proses penjatuhan sanksi.

Memberikan perlindungan kepada anak sesuai dengan kewajiban dalam

menerbitkan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak menegaskan bahwa

pertanggung jawaban orang tua, keluarga masyarakat, pemerintah dan negara

1
merupakan kegiatan terus menerus dan terarah demi demi terlindungnya hak-

hak anak1. Pasal 26 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak menegaskan bahwa orang tua berkewajiban dan

bertanggung jawab sebagai berikut 2:

a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak;

b. Menumbuhkan anak sesuai dengan kemampuan bakat dan minatnya;

c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak;

d. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pada anak;

Indonesia yang merupakan negara hukum, aturan dan larangan yang dibuat

oleh negara bisa mencangkup semua bidang, tak terkecuali dalam bidang

kesehatan. Berkaitan dengan kesehatan, kesehatan reproduksi merupakan

salah satu bagian penting yang harus dijaga oleh setiap insan. Menjaga

kesehatan reproduksi tidak hanya secara fisik saja namun juga keadaan sehat

secara mental dan sosial, tidak hanya berkaitan dengan fungsi dan sistem

pada reproduksi laki-laki dan perempuan.

Mardi Candra, Aspek Perlindungan Anak Indonesia analisis tentang perkawinan di


1

bawah umumr (Jakarta Timur: Prenadamedia Group, 2018), hlm.202.

2
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

2
Pasal 71 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
3
Kesehatan disebutkan bahwa :

“Kesehatan reproduksi meliputi :

a. Saat sebelum hamil, hamil, melahirkan, dn sesudah melahirkan;

b. Pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, dan kesehatan seksual; dan

c. Kesehatan sistem reproduksi.”

Dari bunyi pasal diatas mempunyai tafsiran bahwa pemerintah berperan

penting dalam upaya pemberian hak dalam Pasal 71 Ayat (2) Undang-

Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dengan demikian maka

perbuatan yang melanggar dan bertentangan dengan pasal tersebut dengan

upaya dilarang oleh hukum, termasuk didalamnya adalah aborsi.

Aborsi merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat karena

memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana

diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah

pendarahan, dan infeksi.

Maka dari itu penting bagi kita sebagai masyarakat turut serta dalam

mencapai tujuan dari Undang-Undang Perlindungan Anak, serta untuk

mengetahui bagaimana permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam

masyarakat dan kasus aborsi yang ada keterkaitannya dengan anak.

1.2. Permasalahan Hukum


3
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

3
Dari uraian diatas terdapat rumusan masalah diantaranya yaitu :

1. Apakah putusan hakim sudah tepat dengan isi dari fakta dalam perkara

tersebut?

2. Bagaimana aspek perlindungan anak yang diberikan untuk anak?

1.3. Fakta dan Kronologi

Dalam putusan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018/ON Mbn dengan Perkara

Anak dengan acara pemeriksaan biasa dalam tingkat pertama perkara

terdakwa :

Nama Lengkap : Anak;

Tempat Lahir : Desa Pulau (Muara Tambesi);

Jenis Kelamin : Perempuan;

Kebangsaan : Indonesisa;

Tempat Tinggal : Rt. 04 Dusun Ilir Desa Pulau Kecamatan Muara

Tambesi, Kabupaten Tambanghari;

Agama : Islam;

Pekerjaan : Pelajar;

Bahwa terdakwa dituntut oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya

adalah sebagai berikut :

4
1. Menyatakan anak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan

tindak pidana Aborsi secara bersama-sama dengan saksi Asmara Dewi binti

Sulaiman sebagaimana diatur dalam Pasal 77 A ayat (1) Jo Pasal 45A

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang

Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahum 2002

tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana, sesuai

dalam dakwaan tunggal;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Anak berupa pidana penjara selama 1(satu)

tahun pidana penjara dan denda Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta

rupiah) Subsidair pelatihan kerja selama 3 (tiga) bulan dengan dikurangi

selama anak berada dalam tahanan sementara dan dengan perintah anak tetap

ditahan;

3. Menetapkan agar membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu

rupiah);

Adapun mengenai kronologi lengkap terjadinya peristiwa dalam putusan ini

adalah sebagai berikut:

Bahwa anak Anak bersama-sama atau bertindak sendiri-sendiri dengan

ASMARA DEWI Binti SULAIMAN (dalam berkas perkara terpisah), pada hari

Selasa tanggal 22 Mei 2018 sekitar pukul 18.00 WIB atau setidak-tidaknya pada

suatu waktu dalam Bulan Mei Tahun 2018 atau pada waktu lain dalam Tahun

2018 bertempat di dalam rumah Rt.04 Dusun Ilir Desa Pulau Kecamatan Muara

Tembesi Kabupaten Batanghari atau setidak-tidaknya pada tempat lain yang

memeriksa dan mengadili perkara ini.

5
Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

 Anak yang dihadirkan dalam persidangan ini karena telah

menggugurkan kandungan anak dan anak membuang bayi tersebut

hingga akhirnya mayat bayi tersebut ditemukan warga pada hari rabu

tanggal 30 Mei 2018 di RT/04 Desa Pulau, Kecamatan Muara Tembesi,

Kabupaten Batang Hari. Anak menggurkan kandungannya pada hari

selasa tanggal 22 Mei 2018 pukul 18.00 WIB di rumah anak sendiri

tepatnya didalam kamar, di RT/04 Dusun Ilir Desa Pulau, Kecamatan

Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari.

 Anak melakukan perbuatan tersebut karena takut diusir dari rumah jika

ibu anak yaitu Asmara Dewi mengetahui bahwa anak hamil. Ayah dari

bayi tersebut adalah kakak kandung anak yaitu anak saksi, anak saksi

melakukan persetubuhan dengan anak pertama kalinya pada bulan

september tahun 2017 di rumah anak saksi yang juga merupakan rumah

anak tepatnya di RT/04 Dusun Ilir Desa Pulau, Kecamatan Muara

Tembesi, Kabupaten Batang Hari. Anak saksi menyetubuhi anak sudah

sebanyak 9 (sembilan) kali, ia juga melakukan ancaman pada anak

setiap hendak menyetubuhi anak dengan mengancam apabila anak tidak

mau bersetubuh dengan anak saksi maka anak saksi akan memukul

anak.

 Asmara Dewi tidak ikut membantu menggugurkan kandungan tersebut,

Asmara dewi memberikan ramuan sari pati kunyit yang dicampuri

garam tetapi tujuannya bukan untuk menggugurkan kandungan

6
melainkan untuk memperlancar halangan (datang bulan). Pada hari

selasa tanggal 22 Mei 2018 sekira sore hari saat saksi Asmara Dewi

baru pulang dari memotong karet, anak berkata pada saksi Asmara

Dewi bahwa perut anak sakit karena sedang halangan, lalu saksi

Asmara Dewi menyuruh anak mengoleskan minyak angin agar sakitnya

hilang. Beberapa saat setelah anak mengoleskan minyak angin ke perut

anak, anak kembali berkata pada saksi Asmara Dewi bhwa perut anak

masih sakit walau sudah diolesi minyak angin. Lalu saksi Asmara Dewi

pergi mencari sari pati kunyit dan kemudian memberi anak sari pati

kunyit yang dicampur garam untuk anak minum, setelah anak minum

sari pati kunyit tersebut, anak mengoles minyak angin ke perut anak

serta mengurut-urut perut anak.

 Sekitar pukul 18.00 WIB bayi tersebut keluar lalu anak melihat bayi

tersebut masih bernafas tetapi saat lahir bayi tersebut tidak menangis,

selanjutnya anak memotong tali pusar bayi tersebut dan setelah anak

memotong tali pusarnya ternyata bayi tersebut tidak bernyawa lagi.

Anak membalut bayi tersebut dengan jilbab warna putih dan taplak

meja warna coklat kemudian anak letakkan bayi tersebut dibawah kasur

lalu anak pergi ke dapur untuk makan. Keesokan harinya saat saksi

Asmara Dewi pergi bekerja anak membawa mayat bayi tersebut ke

kebun sawit didekat rumah, lalu anak menggali tanah tersebut tidak

terlalu dalam dan anak timbun mayat bayi tersebut ke dalam lubang

tersebut tersebut kemudian anak pulang kerumah.

7
 Anak mengurut-urut perut saat itu dan saksi Asmara Dewi ada didapur,

Asmara Dewi pernah membujuk anak untuk pergi ke dokter karena

curiga anaka sedang hamil, ia pernah mengancam anak akan

mengusirnya apabila terbukti bahwa anak hamil. Asmara Dewi tidak

pernah mengajak dan membantu anak untuk menggugurkan

kandungannya. Dalam BAP penyidik yang anak tandatangani tertulis

bahwa saksi Asmara Dewi turt membantu anak menggugurkan

kandungan dengan cara memberi ramuan sari pati kunyit lalu saksi

Asmara Dewi mengurut perut anak hingga bayi tersebut keluar,

tanggapan anak terhadap keterangan saudara tersebut adalah tidak benar

karena anak dipaksa untuk mengakui bahwa ibu Asmara Dewi turut

membantu anak menggugurkan bayi tersebut.

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap Anak ini Penuntut Umum telah

mengajukan bebrapa saksi dibawah sumpah dalam persidangan diantaranya yaitu :

1. ASMARA DEWI Binti SULAIMAN

2. ANSORI Bin YUSUP

3. M. SYUKRI Bin Sa’i

4. ZAINUL FAHRI, S.Pd.Sd Bin M. Ali Daud

5. EFENDI Bin KADIR

6. ANAK SAKSI

Dalam persidangan telah dibacakan alat bukti surat berupa :

1. Laporan Hasil Kemasyarakatan Nomor l.B/ 45/VI/2018 atas nama Anak;

8
2. Fotokopi Kutipan Akta Kelahiran Anak yang lahir di Desa Pulau pada

tanggal 6 September 2002, anak ke dua, jenis kelamin perempuan dari

suami-isteri Efendi-Asmara Dewi;

3. Visum Et Repertum atas nama Anak dengan kesimpulan telah diperiksa

seorang anak wanita akil balik dengan dugaan telah pernah melahirkan

melalui jalan normal;

4. Visum Et Repetum atas nama Bayi dari Anak dengan kesimpulan

penyebab kematian tidak dapat diketahui karena tidak dilakukan bedah

mayat (otopsi);

5. Visum Et Repertum Psikiatrikum No. Ket. 2328/RSJ-2.1.1/VI/2018,

tanggal 25 Juni 2018 yang dilakukan dan ditandatangani oleh dr. Victor

Eliezer, Sp.KJ, Dokter yang memeriksa Anak pada Rumah Sakit Jiwa

Daerah Provinsi Jambi, dengan hasil pemeriksaan;

Kesimpulan :

1. Pada saat ini tidak dijumpai adanya gejala-gejala gangguan jiwa;

2. Terperiksa dianggap mampu mempertanggungjawabkan

perbuatannya;

Penuntut Umum juga mengajukan barang bukti di persidangan yaitu

berupa :

- 1 (satu) buah jilbab segi empat warna putih;

9
- 1 (satu) buah taplak meja warna coklat;

10
BAB II

DASAR HUKUM

Dalam perkara tersebut anak didakwa oleh penuntut umum dengan

dakwaan tunggal yaitu melanggar Pasal 77 Ayat (1) Jo Pasal 45 A Undang-

Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab UNDANG-Undang Hukum Pidana, yang

unsur-unsurnya yaitu diantaranya :

1. Unsur setiap orang;

2. Dengan sengaja melakukan aborsi terhadap anak yang masih

dalam kandungan;

3. Dengan alasan dan tata cara yang tidak dibenarkan oleh

ketentuan peraturan perundang-undangan;

4. Mereka yang melakukan dan turut serta melakukan

perbuatan.

1. Setiap orang;

Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan setiap orang adalah

manusia atau siapa saja sebagai subjek hukum yang mengemban hak dan

kewajiban serta mampu mempertanggung jawabkan segala perbuatannya;

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 1 ayat (3) UU RI Nomor 11

Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) disebutkan

bahwa anak yang berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak

11
adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur

18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

Menimbang, bahwa dalam perkara ini Penuntut Umum telah

menghadirkan Anak sebagai Anak yang berkonflik dengan hukum di dalam

persidangan yang identitasnya telah sesuai dengan Surat Dakwaan dan

berdasarkan bukti surat berupa Akta Kelahiran atas nama Anak, yang

dikeluarkan oleh Kantor Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Batang Hari, yang lahir di Desa Pulau pada tanggal 6 September 2002, anak

ke dua, jenis kelamin perempuan, dari suami-isteri Efendi-Asmara Dewi

dikategorikan sebagai Anak dan Anak di persidangan dapat menjawab

setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya maka dipandang sebagai pihak

yang diminta untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya,

dimana tujuan unsur ini adalah untuk menghindari kekeliruan atas diri

orang/pelaku (error in person);

Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut,

Majelis Hakim berkeyakinan unsur ini telah terpenuhi; Ad

2. Dengan melakukan aborsi terhadap anak yang masih dalam

kandungan;

Menimbang bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap

dalam persidangan hasil pemeriksaan dan persesuaian keterangan para

Saksi, Anak dan barang bukti, ditemukan fakta bahwa pada hari Selasa

tanggal 22 Mei 2018 sekira sore hari saat Saksi Asmara Dewi baru pulang

dari memotong/menyadap karet, Anak berkata pada Saksi Asmara Dewi

12
bahwa perut Anak sakit karena sedang halangan lalu Saksi Asmara Dewi

menyuruh Anak mengoleskan minyak angin agar sakitnya reda, beberapa

saat setelah Anak mengoleskan minyak angin agar sakitnya reda beberapa

saat setelah Anak mengoleskan minyak angin ke perut Anak, Anak kembali

berkata pada Saksi Anak kembali berkata pada Saksi Asmara Dewi bahwa

perut Anak masih sakit walau sudah dioles minyak angin lalu Saksi Asmara

Dewi pergi mencari sari pati kunyit dan kemudian memberi Anak sari pati

kunyit yang dicampur garam untuk Anak minum, setelah Anak minum sari

pati kunyit tersebut, Anak mengoles minyak angin ke perut Anak serta

mengurut-urut perut Anak, kemudian sekira pukul 18.00 WIB bayi yang ada

dalam kandungan Anak keluar lalu Anak melihat bayi tersebut masih

bernafas tetapi saat lahir bayi tersebut memang tidak menangis, selanjutnya

Anak memotong tali pusar bayi tersebut dan setelah Anak potong tali

pusarnya ternyata bayi tersebut sudah tidak bernyawa lagi, lalu Anak

membalut bayi tersebut dengan jilbab warna putih dan taplak meja warna

coklat kemudian Anak letakkan di bawah kasur lalu Anak pergi ke dapur

untuk makan, keesokan harinya saat Saksi Asmara Dewi pergi bekerja,

Anak membawa mayat bayi tersebut ke kebun sawit di dekat rumah lalu

Anak menggali tanah tidak terlalu dalam dan Anak timbun mayat bayi

tersebut ke dalam lubang tersebut kemudian Anak pulang ke rumah;

Menimbang, bahwa dari fakta hukum tersebut terlihat adanya

perbuatan Anak dengan sengaja ingin menyembunyikan keadaan atau

kondisi kehamilan Anak, adanya perbuatan Anak yang sengaja mengurut-

13
urut perutnya sampai keluarnya bayi dan Anak juga dengan sengaja

menyembunyikan kondisi pada saat dan setelah Anak melahirkan bayi

sampai dengan bayi tersebut meninggal dunia, sehingga Majelis Hakim

berpendapat perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagaimana yang

dimaksud dalam pengertian aborsi atau pengguguran kandungan yaitu

berakhirnya kehamilan dengan dikeluarkannya janin (fetus) atau embrio

sebelum memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di luar rahim, sehingga

mengakibatkan kematian bayi tersebut, meskipun sebenarnya Anak masih

memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa bayi tersebut yaitu pada

saat Ibu si Anak (Saksi Asrama Dewi) curiga akan kehamilan Anak dan

membujuk Anak untuk memeriksakan kesehatan Anak ke dokter akan tetapi

Anak menolak bahkan sampai bayi lahir pun Anak masih memiliki

kesempatan untuk menyelamatkan bayinya, sehingga keadaan tersebut telah

memenuhi keadaan yang dimaksud dalam unsur ini;

Menimbang, bahwa berdasarkan uraian dan pertimbangan tersebut,

Majelis Hakim berkeyakinan unsur ini telah terpenuhi; Ad

3. Dengan alasan dan tata cara yang tidak dibenarkan oleh ketentuan

peraturan perundang-undangan;

Menimbang bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan,

Anak telah disetubuhi oleh Anak Saksi sekira bulan September tahun 2017

dan Anak melakukan perbuatan sebagaimana yang didakwakan pada bulan

Mei tahun 2018 sehingga Majelis Hakim berpendapat usia kehamilan Anak

sudah melewati usia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid

14
terakhir dan dalam persidangan juga tidak ditemukan fakta pendukung

adanya kedaruratan medis sebagaimana telah diuraikan di atas sehingga

Majelis Hakim berpendapat perbuatan Anak dilakukan dengan alasan dan

tata cara yang tidak dibenarkan oleh ketentuan peraturan perundang-

undangan sehingga keadaan tersebut telah memenuhi keadaan yang

dimaksud dalam unsur ini;

Menimbang, bahwa berdasarkan uraian dan pertimbangan di atas,

Majelis Hakim berkeyakinan unsur ini telah terpenuhi;

4. Mereka yang melakukan dan turut serta melakukan perbuatan;

Menimbang bahwa sebagaimana pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dalam

dakwaan Penuntut Umum maupun dalam tuntutannya bahwa Saksi Asmara

Dewi (Ibu Kandung dari Anak) berperan sebagai orang yang ikut membantu

perbuatan aborsi dengan cara memberi sari pati kunyit dan mengurut perut

Anak sehingga janin keluar dari rahim Anak namun dalam fakta di

persidangan Saksi Asmara Dewi membantah keterangannya di dalam Berita

Acara Penyidikan yang menyatakan bahwa Saksi Asmara Dewi ikut

melakukan aborsi namun ternyata pengakuan Saksi Asmara Dewi

memberikan sari pati kunyit kepada Anak adalah untuk menghilangkan rasa

sakit perut yang dialami oleh Anak dan Saksi Asmara Dewi tidak pernah

mengurut perut Anak, keterangan Saksi Asmara Dewi tersebut dibenarkan

oleh Anak yang menyatakan bahwa Anak meminum sari pati kunyit adalah

untuk menghilangkan rasa sakit perut dan Anak sendirilah yang mengurut-

urut perutnya tanpa dibantu oleh Saksi Asmara Dewi;

15
Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut,

terungkap bahwa tidak adanya perbuatan Saksi Asmara Dewi dalam

perbuatan menggugurkan kandungan Anak, dengan demikian Majelis

Hakim berkeyakinan unsur ini tidak terpenuhi;

Dari Ke-4 (empat) unsur diatas yang terpenuhi menurut keyakinan Majelis

Hakim hanya 3 (tiga) unsur saja, yaitu unsur ke- 1 (satu), unsur ke-2 (dua), unsur

ke-3 (tiga) dan unsur yang ke-4 (empat) tidak terpenuhi karena menurut Majelis

Hakim unsur ke-4 terungkap bahwa dalam fakta persidangan tidak adanya

perbuatan saksi Asmara Dewi dalam perbuatan menggugurkan kandungan anak.

Dasar hukum Majelis Hakim menjatuhkan sanksi pidana yaitu

memperhatikan Pasal 77 Ayat (1) Jo Pasal 45 A Undang-Undang Nomor 35

Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23

Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan

Reproduksi, Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 3 Tahun 2017 tentang

Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum, Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

16
BAB III

PEMBAHASAN

Upaya memberikan perlindungan terhadap anak sebenarnya sudah di jamin

dalam konstitusi yaitu melalui Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 pasal 28B

ayat (2) yang menyebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,

tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan

diskriminasi”. Hal ini sejalan dengan semangat yang diusung dalam Convention

on the Rights of the Child atau Konvensi Hak Anak selanjutnya dimana melalui

Pasal 2 Ayat (1) disebutkan bahwa setiap anak berhak hidup sejahtera,

perlindungan hukum untuk mencapai kesejahteraan anak wajib dijamin oleh

sebuah negara.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di dalam Pasal 76 D

disebutkan “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman

Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang

lain”. Padahal banyak kasus-kasus yang terjadi seorang anak melakukan

persetubuhan tetapi tidak dengan ancaman ataupun kekerasan, tetapi dengan

melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk

Anak , sehingga seorang anak dengan segala posisi dan keterbatasnnya tidak dapat

mengelak. Oleh sebab itu perlu adanya perumusan baru atau penjelasan lebih

lanjut yang tertuang secara tegas terhadap ketentuan di atas.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana

Anak dalam Pasal 60 Ayat (2) pengaturan mengenai pendapat anak ditemukan

17
dalam beberapa Pasal yaitu Pasal 60 ayat (2) dan Pasal 68 ayat (1). Kedua pasal

tersebut belum mengakomodir secara jelas bentuk saluran terhadap “pendapat

anak” ketentuan tersebut juga masih terdapat pembatasan yakni “dalam hal

tertentu” yang terdapat pada Pasal 60 ayat (2) tetapi tidak ada pengaturan atau

syarat yang menerangkan kondisi “dalam hal tertentu” yang dimaksud.Kemudian

terhadap pendapat anak yang ada pada Pasal 60 ayat (2) hanya terbatas pada anak

sebagai korban, sedangkan anak yang berhadapan dengan hukum juga seharusnya

memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya.

Upaya memberikan perlindungan terhadap anak sebenarnya sudah di jamin

dalam konstitusi yaitu melalui Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 pasal 28B

ayat (2) yang menyebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,

tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan

diskriminasi”. Hal ini sejalan dengan semangat yang diusung dalam Convention

on the Rights of the Child atau Konvensi Hak Anak selanjutnya dimana melalui

Pasal 2 Ayat (1) disebutkan bahwa setiap anak berhak hidup sejahtera,

perlindungan hukum untuk mencapai kesejahteraan anak wajib dijamin oleh

sebuah negara.

Sebelum majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap diri Anak, ada

beberapa hal yang menjadi pertimbangan keadaan yang memberatkan dan

meringankan terhadap majelis hakim untuk Anak dalam menjatuhkan pidana

dalam perkara Anak ini, diantaranya yaitu :

Keadaan yang memberatkan :

1. Perbuatan Anak berpotensi terhadap degradasi moral generasi muda;

18
2. Perbuatan Anak berpotensi membahayakan keselamatan dirinya sendiri;

Keadaan yang meringankan ;

1. Anak belum pernnah dihukum;

2. Anak masih bisa dididik dan dibina menjadi lebih baik lagi agar masih

dapat meraih cita-cita;

3. Anak mengaku menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan

pidana di kemudian hari;

Menimbang, bahwa oleh karena Anak dijatuhi pidana maka haruslah

dibebani pula untuk membayar biaya perkara; Memperhatikan, Pasal 77A ayat

(1) jo. Pasal 45A Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan

Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Undang-

undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan

Reproduksi, Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 3 tahun 2017 tentang

Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum, Undang-

undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. MENGADILI

menyatakan Anak tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah

melakukan tindak pidana Aborsi, Menjatuhkan pidana kepada Anak oleh karena

itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan pelatihan kerja selama 3

(tiga) bulan.

19
Pendapat Hukum

Berbagai faktor memungkinkan bagi anak untuk melakukan kenakalan dan

kegiatan kriminal yang dapat membuat mereka terpaksa berhadapan dengan

hukum dan sistem peradilan. Anak yang melakukan tindak pidana ini bisa disebut

pula dengan anak yang berhadapan dengan hukum.

Berdasarkan pasal 1 ayat 3 UU no 11 tahun 2012 tentang Sistim

Peradilan Pidana Anak juga menjelaskan anak yang berkonflik dengan hukum

yaitu “Anak yang berkonflik dengan hukum selanjutnya disebut sebagai nak

adalah anak yang telah berumur 12 ( dua belas ) tahun,tetapi belum berumur 18

(delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.”

Terkait upaya memberikan perlindungan terhadap anak yang berhadapan

dengan hukum, sistem peradilan pidana anak harus dimaknai secara luas, ia tidak

hanya dimaknai hanya sekedar penanganan anak yang berhadapan dengan hukum

semata. Namun sistem peradilan pidana anak harus juga dimaknai mencakup akar

permasalahan mengapa anak melakukan perbuatan pidana dan upaya

pencegahannya. Lebih jauh, ruang lingkup sistem peradilan pidana anak

mencakup banyak ragam dan kompleksitas isu mulai dari anak melakukan kontak

pertama dengan polisi, proses peradilan, kondisi tahanan, dan reintegrasi sosial,

termasuk pelaku-pelaku dalam proses tersebut.

Perlindungan terhadap anak ini juga mencakup kepentingan yang

berhubungan dengan kesejahteraan anak. Perlindungan anak-anak yang

berhadapan dengan hukum (ABH), merupakan tanggung jawab bersama aparat

penegak hukum. Tidak hanya anak sebagai pelaku, namun mencakup juga anak

20
yang sebagai korban dan saksi. Aparat penegak hukum yang terlibat dalam

penanganan ABH agar tidak hanya mengacu pada Undang- Undang Nomor 11

Tahun 2012 tentang Sistem Sistem Peradilan Pidana Anak atau peraturan

perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penanganan ABH, namun

lebih mengutamakan perdamaian daripada proses hukum formal.

21
BAB IV

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Anak di dalam kandungan termasuk dalam domain perlindungan anak.

Hal ini menjadi landasan dari dilarangnya praktik aborsi ilegal. UU

Kesehatan dan UU Perlindungan Anak telah memberikan ancaman kepada

siapa pun yang mempraktikkan pengguguran kandungan di luar aturan yang

telah ditetapkan.

Kekerasan sering terjadi pada anak. Bentuk kekerasan yang dialami

anak dapat berupa tindakan-tindakan kekerasan, baik secara fisik, psikis,

maupun seksual. Dalam hukum pidana, kerugian yang dialami anak sebagai

korban tindak kekerasan belum secara konkrit diatur. Dalam kasus ini anak

yang melakukan pengguguran juga sebagai korban kekerasan seksual yang di

lakukan oleh kakak kandung anak. Hal ini juga menganggu psikis dari anak

itu sendiri, dimana seorang anak dalam perkara ini bersetubuh dengan kakak

anak (anak saksi) karena paksaan dan ancaman dari saksi anak yang

merupakan kakak kandung Anak, hingga berujung pada kehamilan yang tidak

diinginkan dan membuat anak melakukan aborsi.

Meskipun dalam Pasal 31 Peraturan Pemerintah ini menyebutkan

bahwa salah satu pengecualian untuk dapat dilakukannya aborsi adalah

terhadap kehamilan akibat perkosaan. Tindakan aborsi akibat perkosaan

hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat

puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir, namun dalam kasus ini

22
tidak dilakukan karena kehamilan anak diluar sepengetahuan dari orang tua

Anak, karena anak takut akan ancaman dari anak saksi dan juga Asmara Dewi

yang sebagai ibunya akan mengusir anak dari rumah jika dia hamil. Kasus

seperti ini kerap terjadi kepada anak, entah itu anak sebagai korban, atau anak

sebagai pelaku tentunya hal ini akan menghambat tubuh kembang anak dan

juga gangguan psikis pada anak yang tersangkut kasus seperti diatas

mengingat anak sebagai generasi muda yang masih mebutuhkan pendidikan

dan pembimbingan dari orang tua atau wali, dan juga masyarakat sekitar.

5.2. Saran

Pada prinsipnya anak tidak dapat berjuang sendiri, anak dengan segala

keterbatasannya yang melekat pada dirinya belum mampu melindungi hak-

hak pada diriya oleh karena itu, orang tua, masyarakat, dan negara harus

berperan serta dalam melindungi hak-hak tersebut. Undang-Undang

Perlindungan Anak menegaskan bahwa pertanggungjawaban orang tua,

keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara merupakan rangkaian kegiatan

yang dilakukan secra terus menerus dan terarah demi terlindungnya hak-hak

anak.

Dalam melakukan pembimbingan dan pendidikan terhadap Anak

Perlunya pengawasan penuh dari semua kalangan baik itu aparat penegak

hukum, masyarakat, serta orang tua yang lebih kuat antara ikatan

emosionalnya dengan anak. Seorang anak masih belum bisa secara penuh

membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kedekatan emosional

23
perlu dibangun dengan anak agar tidak ada hal yang yang disembunyikan

oleh anak dan Adanya peran dalam pengawasan tumbuh kembang anak,

karena ketika hukum sudah menjamin hak dan perlindungan terhadap anak

maka seyogyanya kita semua juga saling mendukung dan meminimalisisr

sedini mungkin kasus anak terutama yang berkaitan dengan kekerasan seksual

karena akan berpengaruh sekali bagi tumbuh kembang anak.

24
DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Mardi Candra, Aspek Perlindungan Anak Indonesia analisis tentang perkawinan

di bawah umumr (Jakarta Timur: Prenadamedia Group, 2018), hlm.202.

UNDANG-UNDANG

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara

Pidana.

25