Anda di halaman 1dari 39

Dian Ayu Antika

KALENDER

MATAHARI BULAN

JULIAN GREGORIAN HIJRIYAH


Apa pengertian dari waktu
dan zona waktu dalam sistem
kalender atau penanggalan?
• konsep kalender atau
penanggalan adalah selang
lamanya dua kejadian
Waktu berlangsung dibandingkan
terhadap satuan-satuan waktu
yang telah disepakati secara
universal.

Zona • selisih suatu bujur mengalami


tengah hari dibandingkan
waktu dengan bujur Greenwich.
Satuan waktu merupakan
dasar dari penentuan selang
waktu.

Agar perhitungan
menjadi mudah satuan
peristiwa-peristiwa kosmis
didasarkan pada

ROTASI DAN REVOLUSI


BUMI DAN BULAN
Mengakibatkan bergesernya posisi bintang tiap
menitnya

Mengukur periode dari suatu bintang berada di


zenit sampai kembali ke zenit lagi, maka akan
didapatkan periodenya sekitar 23 jam 56 menit
4,1 detik (satu hari bintang /sideral time).

Namun jika yang kita amati adalah Matahari,


periode semu harian Matahari adalah 24 jam.
Perbedaan ini diakibatkan periode sinodis antara
rotasi Bumi dan revolusi Bumi terhadap Matahari
yang searah, sehingga periode semu harian Matahari
menjadi lebih lambat sekitar 4 menit.

Periode ini disebut hari Surya Benar. Namun panjang


satu hari surya ini tidak sama dari hari ke hari akibat
orbit Bumi yang elips.
Lebih singkat saat perihelium (22 Des) di banding
aphelium (21 juni)
Rata-rata panjang hari Surya dalam satu tahun
disebut waktu surya rerata. Nah, dari dua macam
periode harian ini didapatkan dua definisi hari yakni

Satu mean second didefinisikan sebagai satu hari


surya rerata dibagi 3600×24,
satu sideral second didefinisikan sebagai satu hari
bintang dibagi 3600×24,
satu sideral second = 0,997269565972 mean second.
Perhitungan waktu astronomis menggunakan
standar waktu mean second, dan jika satu
hari surya rerata dinyatakan dalam sideral
second didapatkan
Mengakibatkan posisi Matahari cenderung tetap dari hari
ke hari, sedangkan posisi bintang berubah hampir satu
derajat per hari.

Kesepakatan periode rotasi Bumi sama dengan satu hari


Surya rerata sama dengan 24 sideral hour.

Dengan membandingkan periode revolusi Bumi


dengan periode rotasinya, satu kali periode gerak
tahunan bintang atau satu tahun bintang (sideral
year) = 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik mean second.
Perhitungan satu tahun dalam kalender tidak
mengikuti periode semu tahunan bintang,
melainkan periode semu tahunan Matahari,
yaitu periode Matahari dari titik Aries kembali
ke titik Aries.
Sehingga satu tahun menurut sistem ini sama
dengan 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik mean
second akibat presesi orbit Bumi sebesar 50“,2 per
tahun

Perhitungan berdasarkan gerak Matahari dari


titik Aries ke titik Aries ini disebut tahun
tropik yang kemudian dijadikan patokan
kalender Surya modern. Contoh dari kelender
Surya adalah kalender Masehi.
Telah diketahui penentuan kalender Masehi didasarkan
pada tahun tropik.

Kalender Masehi awalnya, yaitu kalender Julian, panjang


tahun dihitung 365,25 hari,

Sehingga panjang hari dalam satu tahun adalah 365 hari


dan dalam empat tahun ada tahun dengan jumlah hari 366
(penambahan 1 hari pada bulan Februari), tahun ini
disebut tahun kabisat, yang disepakati terjadi tiap tahun
yang habis dibagi empat.
Namun, karena siklus tahun tropik tidak
tepat 365,25 hari melainkan 365 hari 5 jam
48 menit 46 detik, maka terdapat ketidak
cocokan sebesar
Selisih dalam 100 tahun adalah
1.100 menit 1.400 detik atau 18
jam 43 menit dan dalam 128 tahun
selisih itu menjadi 23,96 jam atau
mendekati 1 hari.

Akibat kesalahan satu hari itu,


penanggalan menjadi tidak sesuai
lagi
1. Pada tahun 625 M Concili di Nicea mengadakan
perbaikan 3 hari, angka itu diperoleh berdasarkan
perhitungan dari 46 SM sampai 325 M lamanya 371
tahun, yaitu dari 371/128 = 2,8 atau hampir 3 hari.
2. Pada tahun 1582 M dilakukan perbaikan lagi oleh
Paus Gregorius XIII sebanyak 10 hari. Pada tanggal 4
Oktober 1582 diumumkan, bahwa besok bukan
tanggal 5, melainkan tanggal 15 Oktober. Sepuluh hari
itu berasal dari (1582 – 325)/128 = 9,8 hari.
Sejak tahun 1582
berlakulah tarikh baru
yaitu tarikh Gregorian.
Misalkan tahun abad
1700, 1800, 1900, dan
2000, maka yang jumlah
Karena tiap 128 harinya 366 hanyalah
tahun terdapat tahun 2000.
kelebihan 1 hari,
maka tiap 400
tahun terdapat
kelebihan sekitar 3 Jadi tiap empat abad harus ada
hari. tiga hari yang dihilangkan, dan
hari-hari itu adalah tanggal 29
Februari pada tahun abad yang
tidak habis dibagi 400.
Tahun 1700, 1800 dan 1900 bukan merupakan
tahun kabisat meskipun habis dibagi 4, namun tidak
habis dibagi 400. Adapun tahun-tahun yang bukan
tahun abad tetap mengikuti ketentuan kalender
Julian.
 Selain penentuan berdasarkan
Matahari, kalender dapat pula
didasarkan pada pergerakan Bulan.
Kalender/tarikh ini dinamakan
kalender Bulan (Lunar calendar),
contohnya kalender Hijriyah, Imlek
dan Saka. Jika kalender Surya
menghitung satu bulan dengan
membagi tahun menjadi dua belas,
maka sebaliknya kalender Bulan
menentukan panjang tahun dengan
menjumlah dua belas bulan (bulan
dengan huruf awal kecil = month).
Jadi kalender Bulan lebih berpatokan
pada panjang bulan, tidak seperti
kalender Surya yang lebih
berpatokan pada panjang tahun.
• Waktu satu tahun = dua belas kali
lamanya bulan mengelilingi bumi,
yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 3
detik atau 29,5306 hari. Dikalikan
12 menjadi 354 hari 8 jam 48
menit 34 detik atau 354,3672 hari.
• Pergantian hari pada saat matahari
tenggelam (sunset)
• Awal bulan (tanggal 1) saat
munculnya hilal
1. Rotasi bulan terhadap
sumbunya
2. Gerak bulan mengitari bumi
3. Gerak bulan mengitari
matahari
 Satu kali putaran memakan waktu
27,321582 hari = 27 hari 7 jam 43,1
menit.
 Ketika bulan bergerak mengitari
bumi, bumi juga bergerak
mengitari matahari. Akibatnya
dibutuhkan tambahan waktu,
agar bulan tepat satu kali
putaran mengitari bumi dengan
kerangka acuan (pengamat)
matahari. Satu kali putaran
mengitari bumi dengan kerangka
acuan (pengamat) matahari yang
disebut satu bulan sinodik
memakan waktu 29,530589 hari
= 29 hari 12 jam 44 menit 3
detik.
Bumi mengitari matahari dalam
lintasan elips, demikian juga
lintasan bulan mengitari bumi
berbentuk elips. Jarak bumi -
matahari jauh lebih besar daripada
jarak bulan – bumi. Dengan
menggabungkan keduanya, bulan
mengitari matahari dalam lintasan
yang berbentuk elips yang
bermodulasi/berpresisi.
Karena gaya gravitasi
antara bulan–matahari
jauh lebih besar
daripada gravitasi
antara bulan–bumi,
dengan kata lain,
sebenarnya bulan
bergerak mengitari
matahari karena
gravitasi antara bulan–
matahari, sedangkan
lintasan bulan yang
bermodulasi
disebabkan oleh
gravitasi bulan–bumi.
 Kalender Islam disusun
berdasarkan lama rata–
rata satu bulan sinodik,
yaitu 29,530589 hari atau
29 hari 12 jam 44 menit
2,9 detik. Rata–rata ini
sedikit lebih besar
daripada 29,5 hari. Angka
29,5 hari adalah nilai
tengah dari 29 dan 30.
Jadi kalender Islam secara
aritmetik disusun dengan
cara menetapkan jumlah
hari dalam satu bulan
Islam sebesar 30 dan 29
hari secara bergantian.
Bulan 1: Muharram 30 hari
Bulan 2: Shafar 29 hari
Bulan 3: Rabi’ul Awwal 30 hari
Bulan 4: Rabi’ul Akhir 29 hari
Bulan 5: Jumadil Awwal 30 hari
Bulan 6: Jumadil Akhir 29 hari
Bulan 7: Rajab 30 hari
Bulan 8: Sya’ban 29 hari
Bulan 9: Ramadhan 30 hari
Bulan 10: Syawwal 29 hari
Bulan 11: Dzulqa’dah 30 hari
Bulan 12: Dzulhijjah 29 (30) hari
Khusus untuk bulan Dzulhijjah, jumlah hari bisa
berjumlah 29 atau 30, sebagai kompensasi rata–
rata lama satu bulan sinodik yang sedikit lebih
besar dari 29,5 hari. Jika Dzulhijjah 29 hari, maka
tahun itu bukan tahun kabisat, mengandung 354 hari.
 Jika bulan Dzulhijjah berisi 30 hari, maka tahun itu
disebut tahun kabisat yang mengandung 355 hari.
Dalam rentang 30 tahun Islam, terdapat 11 tahun
kabisat yaitu pada tahun 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21,
24, 26, 29. Berarti dalam rentang 30 tahun (atau
360 bulan), banyaknya hari adalah 30 X 354 + 11 =
10631 hari.
Rata–rata satu bulan adalah
sama dengan 10631/360 =
29,530556 hari. Angka ini
sangat dekat dengan rata–
rata bulan sinodik yaitu
29,530589 hari. Selisih
dalam satu bulan adalah
0,000033 hari, atau
menjadi sama dengan 1
hari dalam sekitar 30.000
bulan (2500 tahun). Selisih
ini sangat kecil. Hingga saat
ini, tahun Islam masih
sekitar 1400–an, sehingga
belum perlu untuk
dilakukan koreksi.
 Untuk menentukan apakah suatu tahun
Islam termasuk tahun kabisat Islam
tidaklah sulit. Bagilah suatu tahun Islam
dengan 30, lalu ambil sisanya. Jika sisanya
sama dengan angka 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21,
24, 26 atau 29, maka termasuk tahun kabisat
Islam. Contohnya tahun 1431 H. Angka
1431 dibagi 30 adalah 47 bersisa 21.
Karena bersisa 21, berarti 1431 H tahun
kabisat. Contoh lain, tahun 914 H bukan tahun
kabisat.
 Perputaran Bumi pada porosnya mengakibatkan peristiwa
siang dan malam, dan tentunya jika suatu daerah
mengalami siang, maka daerah lain mengalami malam.
Karena rotasi Bumi adalah 24 jam, maka di Bumi ini
terdapat 24 daerah waktu. Standar daerah waktu di Bumi
ialah bujur yang melalui kota Greenwich, Inggris, yang
ditetapkan sebagai bujur (longitude) 0°. Karena keliling
Bumi 360°, maka tiap selisih 15° terjadi selisih waktu 1
jam. Perbedaan waktu antara suatu daerah terhadap
Greenwich dinyatakan dalam selisihnya dengan
Greenwich MeanTime atau GMT, misalkan zona waktu
Makassar adalah WITA tidak lain ialah GMT+8.
Zona waktu GMT+8 berpatokan pada bujur 8 ´ 15
= 120° BT. Jadi dari bujur 112,5 BT sampai
dengan 127,5 BT merupakan zona waktu GMT+8.
Namun rumus ini hanya dapat digunakan
secara teori, karena secara hukum, garis-garis
waktu dapat saja dibelokkan dengan alasan-
alasan tertentu, misalkan agar suatu negara
memiliki zona waktu sesedikit mungkin.
Zona waktu GMT+8 berpatokan pada bujur 8 ´ 15
= 120° BT. Jadi dari bujur 112,5 BT sampai dengan
127,5 BT merupakan zona waktu GMT+8. Namun
rumus ini hanya dapat digunakan secara teori,
karena secara hukum, garis-garis waktu dapat
saja dibelokkan dengan alasan-alasan tertentu,
misalkan agar suatu negara memiliki zona waktu
sesedikit mungkin
 Karena tahun 615 masih dijalani, jumlah tahun yang telah
utuh dilalui sejak epoch adalah 614 tahun.
 614 tahun/30 tahun = 20, sisa 14 tahun. Karena 30 tahun = 10631
hari, maka 20 kali 30 tahun = 20 X 10631 = 212620 hari. Selama
sisa 14 tahun, terjadi 5 kali tahun kabisat (yaitu tahun 2, 5, 7, 10,
13). Jadi 14 tahun = 14 X 354 + 5 = 4961 hari.
 Karena bulan 9 masih dijalani, maka jumlah bulan yang telah
utuh dilalui di tahun 615 H adalah 8 bulan. Dengan mengingat
selang seling 30, 29, 30, 29 dan seterusnya, 8 bulan = 236 hari.
 Dengan ditambah
tanggal 17, maka total
hari = 212620 + 4961 +
236 + 17 = 217834 hari.
 Jadi JD 17 Ramadhan 615
H = 1948438,5 + 217834 =
2166272,5
 Dikonversi ke tanggal
Masehi, diperoleh Jumat,
7 Desember 1218 M.