Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PANCASILA

Pancasila Sebagai Dasar Negara: Tantangan Pancasila Sebagai


Ideologi Negara Dalam Menghadapi Persoalan-persoalan
Ektrimisme, SARA, dan Ideologi Transnasional

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pancasila


Dosen pengampu: Ust. Faizun Najah

Oleh:
Achmad Nur Mawalid
Royhan Azizy
Akhmad Daniel Hidayatullah Pratama

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT DIROSAT AL-ISLAMIYAH
AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP MADURA
TAHUN AKADEMIK 2021-2022 M.

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami panjatkan puja dan puji sykur atas kehadiratnya. Yang telah
melimpahkan rahmat, nikmat, serta hidayah dan ma’unahnya kepada kita,
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Pancasila Sebagai
Dasar Negara: Tantangan Pancasila Sebagai Ideologi Negara Dalam
Menghadapi Persoalan-persoalan Ektrimisme, SARA, dan Ideologi
Transnasional

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita


baginda Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat dan seluruh umat manusia
“Diinul Islam” yang kita harapkan syafa’atnya di dunia maupun di akhirat.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan yang disebabkan karena keterbatasan penulis sebagai manusia.
Namun rasa optimis terhadap segala sesuatu yang dikerjakan akan sangat
bermanfaat. Untuk itu, dengan rasa takdim, penulis dengan tangan terbuka
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ilmiah ini.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Pancasila Sebagai


Dasar Negara: Tantangan Pancasila Sebagai Ideologi Negara Dalam
Menghadapi Persoalan-persoalan Ektrimisme, SARA, dan Ideologi
Transnasional ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

2
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kedudukan dan posisi Pancasila, bagi Negara Republik Indonesia
merupakan Dasar Negara, ideologi, pandangan dan falsafah hidup berbangsa.
Hal ini menjadi pedoman dalam proses penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam rangka mewujudkan cita-cita
yang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kebenaran nlai-nilai Pancasila yang
diyakini selama ini, merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya
bangsa dan memiliki nilai dasar yang diakui secara universal, serta tidak akan
berubah sesuai dengan dinamika jaman.
Sampai saat ini kehidupan Bangsa Indonesia diwarnai dengan nilai-nilai
keagamaan yang kuat sebagai landasan moral, dan sangat menjunjung nilai-
nilai kemanusiaan dan keadilan sesuai dengan keragaman budaya yang
dimiliki. Fitrah manusia sangat dihormati dan ditempatkan sebagai Mahluk
Ciptaan Tuhan YME. Dengan kemajemukan yang dimiliki, bangsa Indonesia
memiliki kekayaan budaya yang sangat heterogen. Winataputra (2012)
mengemukakan bahwa nilai-nilai dalam Pancasila selayaknya menjadi
pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau mengemukakan
bahwa sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, memuat pengakuan eksplisit
akan eksistensi Tuhan sebagai sumber Pencipta sekaligus memperlihatkan
relasi esensial antara yang mencipta dan dicipta. Dalam hubungan dan relasi
sosial, terbangun ikhtiar untuk saling menghormati dan mau bekerja sama
antar pemeluk agama dan kepercayaan, serta kebebasan memeluk agama,
tidak memaksakan agama dan kepercayaan kepada orang lain. Sila Kedua,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, memiliki makna bahwa sikap dan
perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan
dan susila nilai. Dengan demikian setiap manusia dan warga Indonesia
selayaknya mengakui atas persamaan hak dan kewajiban, saling mencintai,
tenggangrasa, tidak semena-mena terhadap orang lain. Sila ketiga, Persatuan
Indonesia, merupakan perwujudan dari paham kebangsaan Indonesia yang

3
dijiwai oleh Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan
Beradab. Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, berarti bahwa warga
Negara Indonesia diharapkan aktif berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan-keputusan. Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, mengandung arti bahwa keadilan berlaku dalam masyarakat di
segala bidang kehidupan baik materil maupun spiritual.1

1
Asep Mahpudz, “Meneguhkan Pancasila sebagai Ideologi Negara, Membumikan
Pancasila untuk Kelangsungan Hidup Bangsa Indonesia” (Yogyakarta: Universitas Tadulako,
2017) h. 427

4
PEMBAHASAN

A. EKSTRIMISME
Dari sudut pandang etimologi, istilah violent extremism merupakan
sebuah kode pada “Islamic terrorism”, yakni aksi terorisme yang dilakukan
oleh orang-orang Islam. Kausalitas istilah ekstremisme dan terorisme secara
tidak disadari melahirkan keadaan “moral panic” dan Islamphobia di
masyarakat. Narasi sekaligus teori-teori tentang terorisme berkembang
melalui ingatan bersama (collective memory) atas berbagai peristiwa bom
bunuh diri.Walaupun demikian, penggunaan istilah violent extremism sering
kita pakai belakangan ini dalam mendefinisikan kelompok-kelompok
ideology tertentu. Dampak dari istilah tersebut salah satunya adalah
stereotyping yang berujung pada prasangka. Di sisi lain bentuk prasangka
mengakibatkan kekerasan verbal dan bermula dari penggunaan bahasa yang
kurang tepat. Meminjam istilah Chomsky (1928) bahwa bahasa adalah hal
penting karena sangat membantu kehidupan dan memiliki peran dominan
dalam aktivitas sosial, kebudayaan, sekaligus keagamaan. Bahasa mewakili
serta menentukan ketiga komponen tersebut. 2
Sampai saat ini tidak ada definisi universal tentang ekstremisme
kekerasan (violent extremism). Konsep ini dijabarkan sebagai “pilihan sadar
untuk menggunakan kekerasan, atau untuk mendukung penggunaan
kekerasan, demi meraih keuntungan politik, agama, dan ideologi.”2 USAID
mendefinisikan ekstremisme kekerasan sebagai “sokongan, pelibatan diri,
penyiapan, atau paling tidak, dukungan terhadap kekerasan yang dimotivasi
dan dibenarkan secara ideologis untuk meraih tujuan-tujuan sosial, ekonomi,
dan politik.” Sementara itu, pemerintah Australia mendefinisikan
ekstremisme kekerasan sebagai “keyakinan dan tindakan orang yang
mendukung atau menggunakan kekerasan untuk meraih tujuan-tujuan

2
Amanah Nurish, “Dari Fanatisme Ke Ekstrimisme: Ilusi, kecemasan, dan tindakan kekerasan”,
Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 21 No. 1 Tahun 2019, h. 35

5
ideologi, agama, dan politik. Hal ini mencakup terorisme dan bentuk-bentuk
kekerasan lain yang bermotivasi politik dan kekerasan bersifat komunal.”3
Bahasa atau istilah yang mudah dipahami berimplikasi pada nilai,
budaya, dan tindakan pada suatu masyarakat. Clifford Geertz, mengenai
“diskursus nilai” dari sudut pandang antropologi, menjelaskan bahwa
tindakan masyarakat selain dipengaruhi oleh simbol-simbol kebudayaan juga
dipengaruhi oleh sistem nilai. Bahasa dan istilah yang memiliki nilai (value)
menentukan manusia untuk berkehendak. Sebuah tindakan akan terus berjalan
berdasarkan nilai-nilai yang sudah dipercaya sebagai “makna” yang memiliki
konteks. Analogi ini mendeskripsikan sebagian besar orang melakukan
sesuatu tindakan karena meyakini muatan “nilai” dan “makna” yang ada di
dalam bahasa. Begitu juga dalam menanggulangi persoalan “radikalisme,
ekstremisme, dan terorisme.” Ketiga istilah tersebut menurut saya cenderung
menimbulkan dan menciptakan masalah baru yang lebih kompleks dan sarat
neo violent dalam bentuk yang berbeda.4
B. SARA
Indonesia yang saat ini sedang membangun, tidak hanya membutuhkan
para designer atau orang yang ahli dalam bidang pembangunan gedung
bertingkat pencakar langit, jalan tol atau jembatan layang, bendungan kokoh,
ahli pertambangan dan sumber daya alam lainnya. Tetapi juga membutuhkan
faktor non-struktural yaitu agama, berupa motivasi dan dorongan dari
masyarakat agama. Sehingga segala macam bentuk hasil pembangunan dapat
dinikmati dan tidak dirusak oleh berbagai kerusuhan antar umat beragama.
Hal ini sering terjadi di Indonesia, bahwa ketika terjadi kerusuhan yang
bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) terlebih lagi
kerusuhan atas nama agama maka segala macam fasilitas umum yang
dibangun untuk kepentingan masyarakat turut pula menjadi “korban”5

3
Amin Mudzakkir, “Menghalau Ekstrimisme” (Jakarta: Wahid Fondation, 2018), h. 1-2
4
Amanah Nurish, “Dari Fanatisme Ke Ekstrimisme: Ilusi, kecemasan, dan tindakan kekerasan”,
Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 21 No. 1 Tahun 2019, h. 35
5
Idrus Ruslan, “Membangun Nasionalisme Sebagai Solusi Untuk Mengatasi Konfilik SARA di
Indonesia”, Jurnal TAPIs Vol.10 No.1 Januari-Juni 2014, h. 6

6
Oleh karenanya dapat dipahami bahwa dalam pembangunan suatu bangsa
yang dibutuhkan bukan hanya modal ekonomi, tetapi juga modal modal sosial
dan spiritual yaitu support atau dukungan secara moral dari masyarakat yang
notabene adalah masyarakat yang beragama. Dukungan ini hanya mungkin
diperoleh jika masyarakat itu hidup dalam keadaan aman, tentram, damai dan
rukun tanpa ada konflik yang bernuansa SARA.
Pada konteks ke-Indonesia-an pluralitas agama menyiratkan sebagai
keberhasilan yang tertopang oleh landasan Idiil yaitu Pancasila dengan
mottonya “Bhinneka Tunggal Ika” yang secara sederhana dapat diartikan
“bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan”, serta landasan
konstitusionil yaitu Undang-Undang Dasar 1945 khususnya pasal 29.
Indonesia dalam bahasa sederhana bukanlah negara yang berdasarkan agama
(teokrasi), juga bukan negara yang sekular, tetapi Indonesia tepat berada di
tengah-tengah yaitu negara Pancasila dengan segenap nilai-nilainya. Hal ini
karena Pancasila mengandung nilai-nilai berbagai agama di Indonesia, begitu
juga demokrasi dan kemanusiaan.6
C. IDEOLOGI TRANSNASIONAL
Ideologi adalah sebuah istilah yang lahir pada akhir abad ke-18 atau
tahun 1796 yang dikemukakan oleh filsuf Perancis bernama Destutt de Tracy
dan kemudian dipakai Napoleon. Istilah itu berasal dari dua kata ideos yang
berarti gagasan, dan logos yang artinya ilmu. Dengan demikian, ideologi
adalah sebuah ilmu tentang gagasan. Adapun gagasan yang dimaksud adalah
gagasan tentang masa depan, sehingga bias disimpulkan bahwa ideologi
adalah sebuah ilmu tentang masa depan. Suatu ideologi tidak sekedar
gagasan, melainkan gagasan yang diikuti dan dianut sekelompok besar
manusia atau bangsa, sehingga karena itu ideologi bersifat mengerakkan
manusia untuk merealisasikan gagasan tersebut. Meskipun gagasan
seseorang, betapapun ilmiah, rasional atau luhurnya, belum bisa disebut

6
Idrus Ruslan, “Membangun Nasionalisme Sebagai Solusi Untuk Mengatasi Konfilik SARA di
Indonesia”, Jurnal TAPIs Vol.10 No.1 Januari-Juni 2014, h. 7

7
ideologi, apabila belum dianut oleh banyak orang dan diperjuangkan serta
diwujudkan, dengan aksi-aksi yang berkesinambungan.
Istilah Transnasional adalah kosakata yang belakangan ini semakin
popular dan diperbincangkan dengan serius, bukan saja di Indonesia,
melainkan juga di belahan dunia yang lain. Secara literal, kata berbahasa
Inggris ini berarti lintas nasional, atau lintas kebangsaan. Istilah ini
sesungguhnya identik dengan istilah lain yang populer lebih awal, yakni
Globalisasi.7
Dalam konteks sejarah Indonesia, ada tiga ideologi yang secara dominan
berperan membentuk tatanan pengetahuan, yaitu liberalisme, nasionalisme,
dan sosialisme. Ketiga hal ini berasal dari luar negeri namun dipahami
sebagai cerminan atas kondisi di Indonesia. Pada masa Perang Dingin, ketiga
ideologi tersebut makin mengemuka berbasis massa di Indonesia. Liberalisme
cenderung berbasis pada manusia dengan sisi individualitas, kebebasan, dan
otonominya. Manusia dipandang mampu mengatur dirinya sendiri tanpa
adanya intervensi pihak lain. Pada sisi sosial budaya, konsep ini bertumpu
pada kebebasan manusia yang hakiki dan tidak dapat diganggu gugat. Hal ini
nantinya turut membentuk konteks Hak Asasi Manusia dan penghargaan lebih
jauh terhadap kualitas-kualitas individu. Secara ekonomi, pandangan ini
bertumpu pada kondisi pasar bebas yang sebagai sistem ekonomi di kemudian
hari disebut dengan neoliberalisme dengan menekan peran Negara seminimal
mungkin dan mengupayakan penguasaan swasta dalam ekonomi. Hal ini
membentuk apa yang dinamakan sebagai pasar saham, industrialisasi, dan
swastanisasi di Indonesia. Liberalisme ekonomi menjadi tumpuan sejak
pemerintahan Soeharto dan kecenderungannya kepada neoliberalisme
semakin terasa hingga pemerintahan Presiden Joko Widodo. 8

7
M. Afif Hasbullah, “Penanggulangan Ancaman Radikalisme Ideologi Transnasional Terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia Melalui Nilai-nilai Aswaja” (Lamongan: Fakultas Hukum
Universitas Darul Ulum, 2017), h. 5
8
Syarifuddin, “Pancasila Dalam Kearifan Lokal dan Ideologi Transnasional”, Jurnal Inovasi
Ilmu Sosial dan Politik, Vol. 1 No. 2 Tahun 2019, h. 121

8
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pancasila yang merupakan dasar Negara tentunya memiliki beberapa
tantangan di era modernisasi ini. Pancasila memiliki nilai-nilai luhur yang
dapat dijadikan pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara, penanaman
dan penerapan nilai-nilai pancasila sangat penting dan diperlukan untuk
membentuk kepribadian generasi mudabangsa yang berkarakter dan bermoral
serta mampu bersaing dalam segala bidang dan pemahaman yang luas.
Pendidikan pancasila sangat dibutuhkan dalam berbagai kalangan untuk
mewujudkan suatu bangsa dan negara yang mampu membanggakan pancasila
sebagai landasan utama dalam kehidupan berbangsa bernegara pada
khususnya. Oleh karena itu pancasila dapat sebagai langkah awal proses
pembelajaran dalam menjawab segala tantangan yang ada.
B. Saran
Semoga generasi muda di era millenial ini tidak hanya berproses dalam
pemberdayaan dan pembekalan di segala bidang pengetahuan. Akan tetapi,
juga ikut berkontribusi lebih sesama warga negara yang
mengimplementasikan nilai-nilai dasar pancasila. Kemudian berlomba-lomba
untuk membangun kepribadian serta menyebarluaskan kebermanfaatan di
masa-masa yang akan datang.

9
DAFTAR PUSTAKA

Mahpudz Asep., “Meneguhkan Pancasila sebagai Ideologi Negara,


Membumikan Pancasila untuk Kelangsungan Hidup Bangsa Indonesia”.,
(Yogyakarta: Universitas Tadulako, 2017).

Nurish, Amanah., “Dari Fanatisme Ke Ekstrimisme: Ilusi, kecemasan, dan


tindakan kekerasan”., Jurnal Masyarakat dan Budaya, Vol. 21 No. 1 Tahun 2019.

Mudzakkir, Amin., “Menghalau Ekstrimisme”., (Jakarta: Wahid Fondation,


2018).

Ruslan, Idrus., “Membangun Nasionalisme Sebagai Solusi Untuk Mengatasi


Konfilik SARA di Indonesia”., Jurnal TAPIs Vol.10 No.1 Januari-Juni 2014.

Hasbullah, Afif Muhammad., “Penanggulangan Ancaman Radikalisme


Ideologi Transnasional Terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia Melalui
Nilai-nilai Aswaja”., (Lamongan: Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum, 2017).

Syarifuddin., “Pancasila Dalam Kearifan Lokal dan Ideologi Transnasional”.,


Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik, Vol. 1 No. 2 Tahun 2019.

10